• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Analisa Tabel Tunggal

4.2.1 Karakteristik Responden

Karakteristik responden perlu disajikan untuk lebih mengetahui latar belakang responden. Adapun karakteristik umum yang dianggap relevan dengan penelitian ini meliputi jenis kelamin, kelas, agama, dan etnis. Hasil data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.1 sampai dengan tabel 4.4.

No. Jenis Kelamin Frekuensi %

1 Laki-laki 37 45,12%

2 Perempuan 45 54,88%

Jumlah 82 100%

Sumber : K. 1/FC. 3

Pada tabel Jenis Kelamin Responden di atas, diperoleh 37 orang yang berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 45,12% dari jumlah sampel secara keseluruhan, sedangkan responden dengan jenis kelamin perempuan berjumlah 45 orang atau 54,88% dari jumlah sampel secara keseluruhan. Tabel ini menunjukkan bahwa dalam penelitian ini, selisih antara laki-laki dengan perempuan adalah 8 orang.

Sampel ini diambil secara acak pada awalnya, tanpa membedakan antara jumlah laki-laki dan perempuan. Jumlah sampel yang didapat ini adalah bukan merupakan suatu kesengajaan. Bila kita melihat jumlah siswa laki-laki dan perempuan secara keseluruhan, perbedaannya memang tidak terlalu besar. Jumlah wanitanya hanya lebih banyak sekitar ±24 orang dari jumlah laki-lakinya.

Tabel 4.2 Jenjang Kelas Responden

No. Kelas Frekuensi %

1 XI IPA 33 40,20% 2 XI IPS 13 15,90% 3 XII IPA 21 25,60% 4 XII IPS 15 18,30% Jumlah 82 100% Sumber : K. 2/FC. 4

Pada tabel 4.2 di atas, kita bisa melihat bahwa dalam penelitian ini sampel yang paling banyak diambil adalah dari kelas XI IPA yaitu sebanyak 33 orang atau 40,20% dari jumlah keseluruhan. Menyusul dibawahnya kelas XII IPA dengan 21 orang atau 25,60% dari jumlah keseluruhan. Kemudian dibawahnya kelas XII IPS dengan 15 orang atau 18,30% dari jumlah keseluruhan, dan yang paling sedikit diambil adalah siswa-siswa dari kelas XI IPS yaitu 13 orang atau 15,90%.

Sampel ini diambil dengan menggunakan rumus Stratifikasi Propotional Random Sampling dengan perbandingan semakin banyak jumlah siswa dalam satu kelas maka

semakin banyak pula sampel yang diambil dalam kelas tersebut. Kita bisa melihat pada tabel 3.1 yang memaparkan jumlah siswa perkelas, di sana jelas terlihat bahwa siswa-siswa dikelas IPA jauh lebih banyak dibandingkan dengan siswa-siswa-siswa-siswa dikelas IPS. Pada tabel 3.1 juga sudah dijabarkan siswa-siswa yang diambil sebagai sampel dalam tiap kelasnya.

Tabel 4.3 Agama Responden

No. Agama Frekuensi %

1. Islam 40 48,78% 2. Kristen Protestan 13 15,85% 3. Kristen Katolik 0 0% 4. Budha 28 34,15% 5. Hindu 1 1,22% 6. Aliran Kepercayaan 0 0% Jumlah 82 100% Sumber : K. 3/FC. 5

Agama dirasa perlu untuk dimasukkan dalam penelitian ini karena peneliti melihat walaupun kebanyakan masyarakat Tionghoa beragaman Budha ataupun Kong Hu Chu, tetapi ada juga masyarakat Tionghoa yang memeluk agama Kristen ataupun Islam. Seperti pada SMA Harapan Mandiri ini terdapat 2 orang siswa Tionghoa yang beragama Kristen Protestan dan 1 orang keturunan Jawa Tionghoa yang beragama Islam.

Pada tabel di atas dapat terlihat bahwa penganut agama Islam yang menjadi mayoritas yaitu sebanyak 40 orang atau 48,78% dari jumlah keseluruhan. Budha yang menjadi terbanyak kedua yaitu sebanyak 28 orang atau 34,10% dari jumlah keseluruhan. Pada SMA Harapan Mandiri ini tidak ada siswa yang beragama Kristen Katolik, sedangkan yang beragaman Kristen Protestan ada sebanyak 13 orang atau 15,85%. Pemeluk agama Hindu di sekolah ini ada sebanyak 1 orang saja, namun karena agama Hindu tidak masuk dalam mata pelajaran agama pada sekolah ini jadi siswa ini dibebaskan memilih pada mata pelajaran agama mau mengikuti pelajaran agama mana atau bila dia tidak ingin mengikuti pelajaran agama manapun, dia diizinkan untuk duduk diam di ruang kelas ataupun ruang guru.

Tabel 4.4 Etnis Responden

No. Agama Frekuensi %

1 Batak 20 24,40% 2 Jawa 15 18,30% 3 Padang 5 6,10% 4 Melayu 4 4,88% 5 Tionghoa 31 37,80% 6 Dan lain-lain 7 8,53% Jumlah 82 100% Sumber : K. 4/FC. 6

Keseluruhan jumlah etnis Tionghoa dari kelas XI sampai XII di SMA Harapan Mandiri ini sebenarnya ada 42 orang siswa. Namun penyebarannya disetiap kelas tidak merata, jadi peneliti tidak dapat mengambil keseluruhan siswa Tionghoa di SMA ini. Siswa Tionghoa yang menjadi sampel dalam penelitian ini hanya 31 orang atau 37,80% dari jumlah keseluruhan sampel.

Etnis pribumi dalam penelitian ini dibagi-bagi lagi berdasarkan sukunya. Suku yang dipilih di sini hanya suku yang mewakili saja, yang dirasa menjadi mayoritas di Medan ini, sehingga dipilihlah suku Batak, Jawa, Padang, dan Melayu. Suku yang lain yang tidak terdapat pada pilihan disediakan suku Dan lain-lain.

Persentasi suku ini dapat kita lihat pada tabel 4.4 di atas ini, yaitu suku Batak sebanyak 20 orang (24,40%), suku Jawa sebanyak 15 orang (18,30%), suku Padang sebanyak 5 orang (6,10%), dan suku Melayu sebanyak 4 orang (4,88%). Suku-suku lain yang menjadi minoritas disatukan dalam dan lain-lain sebanyak 7 orang (8,53%). Suku lain-lain ini terdiri dari suku Aceh 3 orang, Mandailing 2 orang, Bugis 1 orang, dan Jepang 1 orang.

4.2.2 Komunikasi Antarbudaya (Variabel X)

Pada bagian ini akan dipaparkan data-data yang disaring dari jawaban setiap pertanyaan kuesioner tentang komunikasi antarbudaya antara siswa Pribumi dan siswa

sesama etnis, namun itu hanya sebagai pembanding saja, tidak dibahas secara lebih mendalam.

Komunikasi antarbudaya yang akan dibahas di sini adalah dimensi berkomunikasinya dan bahasa yang digunakan. Kita bisa melihat pada tabel 2.1, di sana telah dijabarkan tentang dimensi yang digunakan dalam berkomunikasi, yaitu partisipasi siswa dalam berkomunikasi, konteks sosial, dan saluran yang digunakan. Sedangkan untuk bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris.

Masing-masing dimensinya tadi juga akan dijabarkan satu demi satu secara mendalam. Seperti pada partisipasi siswa dalam berkomunikasi, di sana dijelaskan lagi tentang frekuensi berkomunikasi, isi pesan, dan intensitas berkomunikasi. Frekuensi berkomunikasi di sini yang dimaksud adalah seberapa sering waktu siswa-siswa itu berkomunikasi, misalnya dalam sehari. Sedangkan intensitas berkomunikasi di sini yang dilihat adalah seberapa lama siswa itu berkomunikasi dengan teman yang berbeda etnis. Hitungannya bisa jam, menit, ataupun detik.

Konteks sosial dijabarkan dalam tempat, waktu, dan suasana. Semua ini berhubungan dengan pada saat terjadinya komunikasi antara siswa Pribumi dan siswa Tionghoa. Dan yang terakhir yaitu saluran dijelaskan dengan komunikasi antarbudaya maupun bermedia. Temuan data tersebut dapat dilihat pada tabel 4.5 sampai dengan tabel 4.30.

4.2.2.1 Dimensi Komunikasi

a) Partisipasi Siswa dalam Berkomunikasi -Frekuenis Berkomunikasi

No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi % 1 Sangat sering 49 59,76% 2 Sering 31 37,80% 3 Jarang 2 2,44% 4 Tidak pernah 0 0% Jumlah 82 100,00% Sumber : K. 5/FC. 7

Kita bisa melihat pada tabel di atas bahwa frekuensi siswa berkomunikasi dengan teman dari etnis yang sama dengannya sangat tinggi. Hal ini terlihat dari siswa yang memilih sangat sering yang paling besar yaitu sebanyak 49 orang (59,76%), disusul dibawahnya dengan sering sebanyak 31 orang (37,80%). Siswa yang memilih jarang hanya 2 orang (2,44%), sedangkan yang memilih tidak pernah sama sekali tidak ada.

Hal ini menunjukan bahwa siswa-siswa di SMA Harapan Mandiri adalah pribadi yang suka berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan beberapa siswa juga guru-gurunya, mereka juga mengakui bahwa siswa-siswa di SMA Harapan Mandiri ini memang dididik untuk menjadi manusia yang aktif, suka bertanya, kritis, dan mampu mengeluarkan ide-ide.

Siswa di SMA Harapan Mandiri ini diberikan banyak kegiatan dimana mereka diwajibkan untuk berinteraksi dengan teman mereka, baik dengan teman sesama kelas maupun berbeda kelas. Salah satu contok membentuk interaksi siswa yang diterapkan di SMA Harapan Mandiri ini adalah dengan memberikan banyak tugas kelompok kepada siswa. Contoh lainnya adalah dengan mewajibkan siswanya mengikuti dan aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler.

Tabel 4.6 Frekuensi siswa berkomunikasi dengan berbeda ernis No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 30 36,50% 2 Sering 36 41,90% 3 Jarang 16 19,51% 4 Tidak pernah 0 0% Jumlah 82 100,00% Sumber : K. 6/FC. 8

Bila kita membandingkan tabel 4.5 dan tabel 4.6, kita bisa melihat perbedaan frekuensi yang paling terlihat adalah pada pilihan jarang. Pada tabel 4.5, siswa-siswa yang memilih jarang hanya 2 orang, sedangkan pada tabel 4.6 siswa yang memilih jarang lebih banyak, yaitu sebanyak 16 orang (19,51%). Siswa yang memilih jarang berkomunikasi dengan siswa yang berbeda etnis ini ternyata berdasarkan hasil kuesioner adalah siswa Pribumi. Siswa Tionghoa yang memilih jarang berkomunikasi dengan siswa berbeda etnis hanya sebanyak 4 orang.

Hal ini membuktikan bahwa siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri ini secara keseluruhan pernah berinteraksi dengan etnis yang berbeda dengannya, dalam hal ini etnis Pribumi dan Tionghoa. Siswa Tionghoa yang menjadi minoritas di sini, pembagiannya pada tiap kelas tidak merata. Siswa Pribumi yang memilih jarang berkomunikasi dengan siswa Tionghoa mungkin disebabkan karena teman sekelasnya tidak ada siswa dari etnis Tionghoa. Tetapi mereka tidak menjawab tidak pernah karena mungkin ada waktu-waktu tertentu mereka berinteraksi dengan teman dari etnis Tionghoa ini, pada waktu ekstrakurikuler misalnya.

Siswa Tionghoa yang menjawab jarang di sini pastilah sebaliknya. Maksudnya di sini dalam kelas mereka pasti terdapat banyak siswa dari etnis yang sama dengan mereka (dalam hal ini etnis Tionghoa) sehingga mereka sudah membentuk suatu komunitas tersendiri sehingga lebih banyak menghabiskan waktu dengan etnis dari mereka sendiri saja. tetapi meskipun demikian, mereka tetap masih berkomunikasi dengan siswa dari etnis lain, walaupun kapasitasnya sangat kecil sekali.

Hal itu juga dibenarkan oleh Wakil Kepala Sekolah yang sempat peneliti wawancarai. Pada wawancara itu Wakil Kepala Sekolah yang juga bertindak mengurusi masalah-masalah siswanya berkata belum pernah terjadi masalah yang terlalu signifikan sehingga memicu perkelahian antaretnis di SMA Harapan Mandiri ini.

Masing-masing siswa dituntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungannya untuk menghindari timbulnya stereotip pada diri masing-masing siswa.

- Intensitas Komunikasi

Tabel 4.7 Frekuensi lamanya waktu berkomunikasi dengan sesama etnis No. Lamanya waktu berkomunikasi Frekuensi %

1 Lebih dari 1 jam 58 70,73%

2 1 jam - 30 menit 22 26,83%

3 30 menit- 15 menit 2 2,44%

4 Kurang dari 15 menit 0 0%

Jumlah 82 100,00%

Sumber : K. 7/FC. 9

Dari tabel di atas, kita bisa melihat bahwa yang menjawab lebih dari 1 jam lebih dari setengah dari jumlah keseluruhan sampel, yaitu 58 orang (70,73%), sedangkan yang menjawab 1 jam – 30 menit ada 22 orang (26,83%), dan yang menjawab 30 menit – 15 menit hanya 2 orang (2,44%). Bila kita bandingkan tabel 4,7 ini dengan tabel 4.5 yang juga membahas berkomunikasi dengan sesama etnis, kita akan melihat hasil kurang lebih sama. Dengan kata lain, kita bisa menyebut lebih dari 1 jam sebagai sangat sering, 1 jam – 30 menit sebagai sering, 30 menit – 15 menit dengan jarang, dan kurang dari 15 menit sama nilainya dengan tidak pernah. Kurang dari 15 menit sama nilainya dengan tidak pernah karena di sini 15 menit dianggap waktu yang terlalu singkat untuk berkomunikasi dengan sesama teman sehingga bisa dinyatakan tidak pernah.

Siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri tidak hanya diajarkan untuk belajar dari buku saja, tetapi juga diajarkan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Mereka diajarkan untuk berdiskusi dalam mencari pemecahan masalah, bekerjasama dalam melakukan suatu pekerjaan, dan menjadi pribadi yang aktif dalam suatu kelompok.

Pada tabel 4.7 ini kita mendapatkan ternyata ada 2 orang siswa yang menjawab jarang. Bila kita melihat kepada hasil kuesioner, 2 orang yang menjawab jarang ini adalah siswa dari etnis Tionghoa. Setelah peneliti melakukan sedikit wawancara dengan siswa yang bersangkutan, diketahuilah bahwa dia jarang berkomunikasi dengan siswa

etnisnya. Sehingga dia menjadi lebih sering berkomunikasi dengan etnis lain (Pribumi). Dia merasa senang dan nyaman bertukar pikiran dengan siswa dari etnis Pribumi. Sementara yang 1 orang siswa lagi juga merasa lebih nyaman bertukar pikiran dengan teman dari etnis Pribumi daripada dengan teman dari etnis yang sama dengannya. Jadi walau dikelasnya cukup banyak siswa dari etnis yang sama dengannya, tetapi dia lebih memilih etnis Pribumi sebagai teman dekatnya.

Tabel 4.8 Frekuensi lamanya waktu berkomunikasi dengan berbeda etnis No. Lamanya waktu berkomunikasi Frekuensi %

1 Lebih dari 1 jam 34 41,46%

2 1 jam - 30 menit 31 37,81%

3 30 menit- 15 menit 17 20,73%

4 Kurang dari 15 menit 0 0%

Jumlah 82 100,00%

Sumber : K. 8/FC. 10

Dari tabel di atas, kita bisa melihat siswa-siswa yang memilih lebih dari 1 jam ada 34 orang (41,46%), sedangkan yang memilih 1 jam – 30 menit ada 31 orang (37,81%), dan yang memilih 30 menit – 15 menit ada 17 orang (20,73%). Pada tabel 4.6, kita melihat yang banyak memilih jarang adalah dari etnis Pribumi, tidak berbeda jauh dengan tabel 4.8 ini, di sini juga yang paling banyak memilih 30 menit – 15 menit adalah dari siswa Pribumi. Hanya 4 orang saja yang menjawab 30 menit – 15 menit ini berasal dari etnis Tionghoa.

Hal ini menunjukkan bahwa siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri ini sebenarnya senang berinteraksi dengan teman dari etnis yang berbeda dengan mereka. Namun hal ini tidak bisa sering mereka lakukan karena beberapa kendala dan situasi. Situasi yang dimaksud di sini adalah situasi kelas, situasi belajar, dan situasi-situasi lainnya yang membuat komunikasi antarbudaya dengan etnis lain menjadi sulit untuk dilakukan.

Hal ini juga dibenarkan oleh guru BP sekolah ini yang setiap harinya mengamati seluruh kegiatan mulai dari belajar mengajar, istirahat, sampai kegiatan sekolah berakhir. Siswa Tionghoa, yang menjadi minoritas di sini, ditempatkan dimasing-masing kelas secara merata. Namun siswa Tionghoa di SMA Harapan Mandiri ini saat memasuki pembagian jurusan, yaitu di kelas XI dan XII, lebih banyak memilih jurusan

IPS daripada jurusan IPA. Sehingga untuk penyebarannya sendiri disetiap kelas menjadi tidak merata. Seperti kita lihat pada kelas XI IPAnya, di sini berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan peneliti, siswa Tionghoa yang memilih jurusan IPA hanya 3 orang, dan keseluruhannya itu ditempatkan di kelas XI IPA 1, sehingga pada kelas-kelas XI IPA lainnya kita tidak akan menjumpai siswa Tionghoa.

Hal ini bila kita kaitkan dengan hasil kuesioner yang telah kita jabarkan pada tabel 4.8, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa siswa-siswa di SMA Harapan Mandiri ini, walaupun hanya bertegur sapa saat keluar main ataupun sepulang sekolah, mereka tetap melakukan interaksi dengan teman dari etnis lain.

- Pesan

Pesan adalah salah satu unsur dari dimensi komunikasi. Pesan termasuk dalam pembagian partisipasi siswa dalam berkomunikasi. Di sini akan diuraikan isi pesan yang sering dibahas siswa-siswa SMA Harapan Mandiri bila sedang melakukan komunikasi dengan teman yang berbeda etnis. Pesan akan diuraikan pada tabel 4.9 sampai 4.13. Tabel berikut berdasarkan pada kuesioner tertutup yang disebarkan kepada 82 sampel.

Tabel 4.9 Frekuensi membicarakan masalah pribadi dengan berbeda etnis No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 12 14,63% 2 Sering 34 41,46% 3 Jarang 30 36,59% 4 Tidak pernah 6 7,32% Jumlah 82 100,00% Sumber : K. 9/FC. 11

Pada tabel di atas, kita bisa melihat frekuensi siswa SMA Harapan Mandiri membicarakan masalah pribadinya dengan teman dari etnis yang berbeda dengannya yang paling banyak dipilih adalah sering, yaitu sebanyak 34 orang (41,46%). Jarang dipilih sebanyak 30 orang (36,59%), sangat sering dipilih 12 orang (14,63%), dan yang paling sedikit dipilih adalah tidak pernah sebanyak 6 orang (7,32%).

Masalah pribadi biasanya hanya diceritakan kepada sahabat, teman terdekat, ataupun keluarga.

Jadi bila kita melihat tabel 4.9 ini, perbandingan antara sering dan jarangnya tidak terlalu jauh, hanya selisih 4 orang saja. Masalah pribadi di sini tidak harus menceritakan masalah remaja saja, seperti percintaannya. Bercerita tentang mendapat nilai jelek dalam suatu mata pelajaran juga termasuk menceritakan masalah pribadi. Perbedaannya dengan membahas masalah pelajaran terlihat dari cara penyampaiannya. Penyampaiannya di sini dilihat apakah dia di sini menceritakan masalah itu untuk berkeluh kesah tentang nilainya yang kurang memuaskan, atau dia ingin membahas soal-soal yang telah diberikan oleh gurunya.

Biasanya orang lebih nyaman menceritakan masalah pribadinya dengan teman yang dia rasa akrab dengannya. Bila kita kembali melihat pada tabel 4.9, di sini 6 orang yang menjawab tidak pernah ini adalah siswa Pribumi. Siswa Pribumi di sini memang berpeluang besar untuk memilih tidak pernah, karena bila kita melihat pada situasi sekolahnya yang tadi sudah kita bahas, pembauran etnis Tionghoa di sekolah ini tidak merata. Tetapi tidak menceritakan hal pribadi belum tentu juga menciptakan suasana yang tidak akrab. Hal itu akan dibahas lebih mendalam pada tabel-tabel berikutnya.

Tabel 4.10 Frekuensi membicarakan soal pelajaran No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 17 20,73% 2 Sering 39 47,56% 3 Jarang 23 28,05% 4 Tidak pernah 3 3,66% Jumlah 82 100,00% Sumber : K. 9/FC. 12

Pada tabel 4.10 ini, frekuensi yang paling banyak dipilih oleh sampel adalah sering, sebanyak 39 orang (47,56%). Sedangkan 23 orang (28,05%) lainnya memilih jarang, 17 orang (20,73%) memilih sangat sering, dan 3 orang (3,66%) memilih tidak pernah. Tiga orang yang memilih tidak pernah di sini adalah siswa Pribumi.

Siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri ini, seperti yang telah diterangkan tadi, diajarkan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Banyak

tugas-tugas yang diberikan oleh guru mereka, dimana tugas itu harus dikerjakan secara berkelompok untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu guru Bahasa Indonesia di SMA Harapan Mandiri ini, ibu Liza, berpendapat bahwa siswa-siswa di SMA Harapan Mandiri ini sangat aktif dan kritis dalam menangkap semua pelajaran. Dia telah mengamati selama hampir 10 tahun mengajar disekolah ini, siswa-siswa di SMA Harapan Mandiri ini sangatlah beragam. Mulai dari siswa yang kutu buku, siswa yang hobbynya dandan, sampai kepada siswa yang sangat nakal.

Ibu Liza melihat bahwa siswa-siswanya ini adalah anak-anak yang masih belum menemukan jati diri mereka, jadi sebisa mungkin guru di sini berkewajiban untuk membimbing siswa-siswanya agar menemukan jati diri mereka. Ibu Liza sering memberikan tugas kelompok kepada siswa-siswanya, agar mereka mampu berinteraksi dengan teman mereka. Kemudian mereka disuruh mendiskusikan suatu masalah, yang mana masalah itu akan dipresentasikan di depan kelas. Hal ini sangat baik untuk menumbuhkan kepercayaan diri pada masing-masing siswa.

Dalam pembagian kelompok, ibu Liza tidak jarang membebaskan siswa-siswanya untuk mencari kelompoknya sendiri. Ibu liza melihat siswa-siswanya kebanyakan sudah mampu mencari kelompok dan menempatkan diri pada kelompoknya itu. Siswa-siswanya saling membaur, tidak membedakan antara Pribumi dan Tionghoa. Walau terkadang ada yang ingin sekelompok dengan yang pintar saja. Tapi di sini ibu Liza menambahkan bahwa pada dasarkan semua siswa-siswanya pintar-pintar, hanya dalam ruang lingkupnya masing-masing.

Hasil wawancara dengan ibu Liza ini memberikan kita kesimpulan bahwa siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri ini pada dasarnya berjiwa aktif dan suka berinteraksi, dengan bimbingan dari guru-guru disekolah mereka dituntut untuk berbaur dengan lingkungannya agar tidak ada lagi stereotip antara Pribumi dan Tionghoa.

Tabel 4.11 Frekuensi membicarakan keadaan sekolah (gosip) No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 19 23,17%

2 Sering 35 42,68%

Jumlah 82 100,00%

Sumber : K. 9/FC. 13

Pada tabel 4.11 ini, kita masih menemukan bahwa yang paling banyak dipilih oleh sampel adalah sering, yaitu sebanyak 35 orang (42,68%). Sedangkan jarang dipilih 23 orang (28,05%), sangat sering dipilih 19 orang (23,17%), dan tidak pernah dipilih 5 orang (6,10%).

Gosip adalah pembicaraan yang biasa paling sering dilakukan. Karena menceritakan tentang hal yang belum pasti kebenaranannya, bisa dilakukan dengan siapa saja dan dimana saja. Di sini mengapa keadaan sekolah dikatakan sebagai gosip karena siswa menghabiskan waktunya hampir setengah hari berada di sekolah. situasi atau keadaan yang dialami siswa juga beragam. Keadaan-keadaan inilah yang biasanya suka diceritakan dengan teman mereka, yang mereka anggap menarik untuk diceritakan. Kadang mereka juga sering menceritakan keadaan yang sedang dialami oleh temannya.

Melihat dari hasil tabel 4.11 ini, wajar bila yang memilih tidak pernah hanya 5 orang, karena menceritakan keadaan sekolah kita, walaupun itu hanya sekedar gosip, sudah menunjukkan seberapa besar kepedulian dan kepekaan kita terhadap lingkuangan kita. Dan ke-5 orang yang memilih tidak pernah ini adalah siswa Pribumi. Hal ini dapat dimaklumi karena mungkin mereka memang lebih suka bercerita dengan teman dari etnis yang sama dengan mereka atau kembali kepada situasi tadi.

Tabel 4.12 Frekuensi membicarakan hal-hal kecil (basa-basi) No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 23 28,05%

2 Sering 38 46,34%

3 Jarang 17 20,73%

Jumlah 82 100,00%

Sumber : K. 9/FC. 14

Tabel 4.12 menunjukkan frekuensi siswa-siswa Pribumi dan Tionghoa di SMA Harapan Mandiri yang biasanya hanya berbicara basa-basi dengan teman yang berbeda etnis. Di sini yang menjawab sering masih menjadi yang paling banyak dipilih, yaitu sebanyak 38 orang (46,34%). Sedangkan sangat sering dipilih 23 orang (28,05%), jarang dipilih 17 orang (20,73%), dan tidak pernah dipilih 4 orang (4,88%).

Basa-basi di sini adalah seperti bertegur sapa saat jumpa, meminjam barang, sekedar memberitahu informasi, ataupun berbicara saat ada sesuatu keperluan saja. Pembicaraan-pembicaraan yang tidak sampai 15 menit. Basa-basi adalah membicarakan hal-hal yang tidak terlalu penting, hanya untuk sekedar memecah keheningan.

Pada tabel 4.12, 4 orang yang menjawab tidak pernah di sini adalah siswa Pribumi. Hal ini tidak mengherankan bila kita melihat tabel-tabel sebelumnya dimana di sana siswa Pribumi cukup sering juga menjawab tidak pernah. Setelah peneliti mewawancarai siswa bersangkutan, mereka mengakui memang keadaan dan situasi tadilah yang menjadi penghalang mereka untuk berkomunikasi. Tetapi mereka tetap berusaha untuk akrab dengan dengan dari etnis Tionghoa ini.

Tabel 4.13 Frekuensi bercanda (mengejek dan saling mencela) No. Tingkat Keseringan Berkomunikasi Frekuensi %

1 Sangat sering 7 8,54%

2 Sering 19 23,17%

3 Jarang 33 40,24%

Jumlah 82 100,00%

Sumber : K. 9/FC. 15

Pada tabel 4.13 ini, jarang dipilih paling banyak, yaitu sebanyak 33 orang

Dokumen terkait