• Tidak ada hasil yang ditemukan

ebelum kita memulai pembahasan tentang karakter candle, ada beberapa hal yang harus kita pahami terlebih dahulu. Dalam pembentukan harga, candle bergerak dalam dua arah, yaitu Naik dan Turun. Dimana pergerakan ini mencerminkan pergerakan Beli dan Jual dari para pelaku pasar. Sehingga terbentuklah berbagai macam bentuk candle dari tiap timeframe (rentang waktu) yang digunakan untuk bertransaksi. Dari cerminan pergerakan pelaku pasar inilah terbentuk karakter-karakter yang dapat kita jadikan acuan dalam mengambil posisi untuk bertransaksi. Disini akan saya bahas dalam tiga tingkatan, yaitu dasar, menengah, dan lanjutan. Dimana tiga tingkatan ini akan memiliki pembahasan-pembahasan tersendiri, sehingga para pembaca dapat lebih mudah mengikuti dan memahami dengan baik.

STRUKTUR CANDLE STICK

Sebelum kita memulai mengenal dan memahami karakter candle stick, kita harus terlebih dahulu memahami bagaimana struktur sebuah candle chart dalam trading. Komponen – komponen penyusun dalam pembentukan sebuah candle adalah sebagai berikut :

1. Open Price 2. Close Price 3. High Price 4. Low Price

Hubungan antara komponen – komponen yang ada akan membentuk sebuah karakter candle. Dimana pada pembahasan ini saya akan mencoba membahas beberapa karakter candle yang memiliki efek signifikan di pergerakan selanjutnya.

Gambar 5. Struktur Candle Stick

Jika harga penutupan lebih tinggi dari harga pembukaan, maka akan membentuk candle naik (candle BIRU, Gambar 1) dan jika sebaliknya maka akan membentuk candle turun (candle MERAH, Gambar 2). Dimana kaki – kaki/ekor atas dan bawah yang terbentuk sering disebut sebagai “Shadow”.

ANALISA CANDLE STICK

Sebagian besar trader dunia menggunakan basic karakteristik dari suatu candle untuk pengambilan entry dan exit pointnya. Dimana tiap karakter candle memiliki efek pergerakan yang berbeda-beda. Dengan memahami karakter

suatu candle, kita dapat memahami bagaimana sentimen akan membawa pergerakan harga selanjutnya di tiap timeframe (kurun waktu) yang ada. Trader menggunakan ini untuk lebih memahami perilaku pasar dan mengkombinasikannya dengan beberapa indikator yang ada.

Berikut adalah beberapa jenis karakter candle yang digunakan para trader dan memiliki efek yang signifikan.

CANDLE CONTINUATION UPWARD GAP TASUKI Karakter:

a. Kenaikan dua candle yang berkelanjutan b. Terjadi gap up pada trend kenaikan yang

membentuk 1 candle naik

c. Candle kenaikan pertama setelah gap up diikuti oleh 1 candle turun yang dapat tutup dibawah harga pembukaan candle naiknya

DOWNWARD GAP TASUKI Karakter:

a. Penurunan dua candle yang berkelanjutan

b. Terjadi gap down pada trend kenaikan yang membentuk 1 candle turun

c. Candle penurunan pertama setelah gap down diikuti oleh 1 candle naik yang dapat tutup diatas harga pembukaan candle turunnya

Gambar 6.2 Downward Gap Tasuki RISING THREE

Karakter:

a. Kenaikan berkelanjutan

b. Terjadi candle naik yang panjang

c. Kemudian tercipta 2 atau lebih candle kecil turun yang berjejer kebawah

d. Tercipta candle naik yang panjang lagi dan dapat melebihi harga high candle naik panjang pertama

Gambar 6.3 Rising Three FALLING THREE

Karakter:

a. Penurunan berkelanjutan

b. Terjadi candle turun yang panjang

c. Kemudian tercipta 2 atau lebih candle kecil naik yang berjejer keatas

d. Tercipta candle turun yang panjang lagi dan dapat melebihi harga low candle turun panjang pertama

CANDLE REVERSAL

BULLISH DAN BEARISH BELT HOLD

Karakter jenis ini mengindikasikan pergerakan reversal dalam range yang lebih kecil sesuai dengan timeframe yang digunakan. Dimana karakter jenis bullish belt hold memiliki ciri-ciri harga open yang lebih rendah namun harga clossingnya lebih tinggi sekitar 80 poin pada timeframe 4 jam dan 150 poin pada timeframe harian. Begitu pula sebaliknya, bearish belt hold memiliki harga open yang lebih tinggi namun harga clossingnya lebih rendah dengan kisaran prosentase poin yang sama.

Gambar 6. Bullish dan Bearish Belt Hold DOJI CANDLE STICK

Karakter ini merupakan jenis karakter candle jepang yang memiliki indikasi reversal/pembalikan arah perdagangan. Dimana karakter jenis ini memiliki karakter dimana harga penutupan sama dengan harga pembukaan. Atau memiliki selisih sekitar 2-5

poin antara harga pembukaan dan penutupannya. Karakter jenis ini dapat kita temui setelah terjadi pergerakan yang signifikan baik itu tekanan pembeli atau penjual. Jenis ini menkitakan bahwa tekanan pembeli dan penjual telah seimbang dan tekanan jual atau beli yang signifikan telah habis. Jika kita menemui karakter jenis ini, dimungkinkan akan terjadinya pergerakan koreksi. Seberapa besarkan pergerkan koreksi atau reversalnya? Pada jenis ini memiliki potensi koreksi yang bervariasi yaitu antara 20% - 60% dari total pergerakan sebelumnya, tergantung pada timeframe berapa yang sedang kita gunakan. Dalam penerapannya, kita dapat mengambil toleransi taking profit di dalam rentang 20% - 60% koreksinya. Semisal pergerakan awal terjadi kenaikan yang signifikan sebesar 200 poin, kemudian kita temui karakter DOJI pada candle selanjutnya.

Maka kita dapat menentukan taking profit kira – kira sebesar 40% dari potensi koreksi yang ada. Contoh aplikasi dan perhitungannya sebagai berikut :

 Telah terjadi pergerakan naik sebesar 200 poin dari harga $30.00 - $32.00. Dimana kita dapat menggunakan “pending order (sell limit)” pada harga $32.00 dengan penenetapan taking profit sebesar 40% dari 200 poin, yaitu 200 poin x 40% = 80 poin.

Sehingga kita dapat menetapkan level taking profit kita di angka;

$32.00 – 80 poin = $31.20 (level taking profit) dengan asumsi tanpa perhitungan spread.

PIERCING and DARK CLOUD COVER CANDLE Pola piercing dan dark clound cover merupakan jenis karakter candle reversal. Dimana karakter ini memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

1. Dapat bergerak melebihi 50% dari badan candle sebelumnya

2. Bergerak hampir indentik/sama dengan badan candle sebelumnya

Karakter yang valid kita temui jika memenuhi 2 syarat diatas. Semakin besar dari 50% badan candle sebelumnya yang tercipta maka daya reversalnya semakin kuat. Jadi bagaimana kita mengaplikasikannya dalam trading?

Gambar 9. Piercing dan Dark Cloud Cover Candle Berikut contoh kasus piercing dan dark cloud cover dalam chart minyak mentah dunia;

Gambar 10. Dark Cloud Cover Candle dalam chart

COLS10

Dimana dalam pengaplikasian entry dan exit point jika kita menemuai karakter jenis ini adalah dengan memberikan taking profit sebesar pergerakan candle piercing atau dark cloud cover yang tercipta. Misal,

Jika candle sebelumnya bergerak sebesar 100 poin, maka setidaknya karakter piercing dan dark cloud cover harus bergerak 50% dari candle sebelumnya, maka :

 Syarat : 50% dari 100 poin candle sebelumnya adalah 50 poin.

Sehingga kita tetapkan entry poin pada harga penutupan piercing atau dark cloud candle, dimana taking profitnya kita tetapkan sebesar 50 poin. Contoh kasus;

Candle pertama bergerak 100 poin dari harga $32.00 - $33.00. kemudian kita temui karakter dark cloud cover, dengan harga closenya di $32.50. Sehingga level entry kita adalah di $32.50 dengan taking profit sebesar 50 poin yaitu di level $32.00.

HANGING MAN and SHOOTING STAR CANDLE

Karekter jenis ini memiliki karakter reversal yang lebih kuat dibandingkan dua karakte yang telah kita bahas sebelumnya. Candle hanging man adalah candle yang kita temui setelah terjadi kenaikan yang tajam, sedangkan candle shooting star kita temui saat terjadi penurunan yang tajam. Ciri – ciri karakter ini adalah

1. Memiliki shadow/ekor yang lebih besar dari pada badan candlenya

2. Shadow/ekor memiliki prosentase lebih besar 75%-90% dari badan candlenya.

Semisal kita memiliki trend turun dengan pergerakan sebesar 100 poin dengan harga OPEN pada level $32.00, CLOSE pada level $32.20, High pada level $32.25, dan LOW pada level $31.25. Maka dapat kita proyeksikan seperti gambar dibawah ini :

Gambar 11. Aplikasi karakter shooting star pada chart ENGULFING CANDLE

Karakter jenis ini sama halnya dengan karakter candle dark cloud dan piercing. Dimana perbedaannya adalah pada karakter ini candle harus lebih besar pergerakannya berbalik arah dibanding dengan candle sebelumnya. Setidaknya lebih besar 20%-50% dari candle sebelumnya dan memiliki harga close lebih tinggi dari harga tertinggi candle sebelumnya. Persyaratan ini mutlak harus dipenuhi untuk terjadinya reversal perdagangan.

Gambar 12. Bearish dan Bullish Engulfing Candle Dalam penerapannya kita dapat melakukan entry poin setelah konfirmasi candle engulfing ini terjadi. Contoh kasus dalam chart dapat kita misalkan sebagai berikut :

 Harga penutupan candle sebelumnya berada pada level $32.00 dan total pergerakan candle sebelumnya adalah sebesar 50 poin. Maka jika candle sebelumnya memiliki harga sebagai berikut :

OPEN : $32.30 HIGH : $32.50 LOW : $32.00 CLOSE : $32.00

Maka candle bullish engulfing harus memiliki:

20%-50% dari total pergerakan candle sebelumnya, missal kita ambil 50% dari total pergerakan sebelumnya, yaitu 50 poin x 50% = 25 poin. Sehingga candle bullish engulfing harus memiliki

pergerakan high to low sebesar 50 poin + 25 poin = 75 poin dan harga penutupan harus diatas harga tertinggi candle sebelumnya.

OPEN : $32.00 HIGH : $32.70 LOW : $31.95 CLOSE : $32.65

Setelah kita temui candle bearish engulfing tersebut, kita dapat melakukan entry posisi di level harga close candle engulfing, yaitu pada level $32.65. Dengan target taking profit sebesar total pergerakan candle engulfing yaitu sebesar 75 poin dari level entry kita, yaitu pada level $33.40.

Dapat kita simulasikan seperti gambar di bawah ini :

Dimana dapat kita lihat pada chart bagaimana reversal yang terjadi setelah candle engulfing terjadi.

Gambar 13.2 Bullish dan Bearish Engulfing Candle B. KARAKTER CHART

engan mengetahui dan memahami pola pergerakan grafik, akan sangat membantu kita untuk memprediksi arah pergerakan harga suatu produk. Hal ini akan mempermudah kita mengenali karakter pergerakan dengan baik. Analisa teknikal merupakan panduan kita dalam memprediksi harga dan dalam menentukan kebijakan ekonomi secara khusus dan global.

Mengutip pribahasa Cina ~ “Belajar adalah seperti mendayung ke hulu: jika tidak Maju berarti

Mundur”.

Disini saya akan mencoba membahas tentang dengan karakter grafik yang membentuk Head and Shoulder, Symmetrical, Ascending, dan Descending Triangle. Dengan terbentuknya karakter pergerakan ini, kita akan mempelajari indikasi pergerakan reversal pembalikan arah harga. Dengan mempelajari beberapa karakter grafik diatas, kita akan lebih dini mengetahui titik awal perubahan dan pembentukan arah trend.

Pada pembahasan ini, saya akan mencoba menitik beratkan jenis-jenis karakter yang memiliki ketepatan analisa lebih dari 75% mengacu pada data-data yang telah diolah dengan autochartist. Baiklah, mari kita mulai pembahasan awal tentang karakter-karakter grafik tersebut.

Head and Shoulder

Karakter jenis Head and Shoulder merupakan salah satu jenis karakter grafik yang sangat popular di dunia perdagangan berjangka. Karakter jenis ini memiliki peluang dan kekuatan reversal yang dapat di bilang sangat kuat. Karakter jenis ini memiliki dua jenis yaitu reverse head and shoulder (RHS) dan head and shoulder

(HS). Karakter RHS merupakan keterbalikan dari HS yang dapat kita temui dengan head berada di bagian bawah sedangkan karakter HS kita dapat temui dengan posisi kepala di atas.

Gambar 14.1 Head and Shoulder

Gambar 14.2 Reverse Head and Shoulder

Karakter jenis ini sering sekali dijadikan patokan oleh trader/pelaku pasar untuk melakukan entry

dan menentukan langsung level exit mereka dengan batasan support & resistance yang sudah terlihat jelas.

Jenis karakter ini terbentuk dengan pola awal left shoulder yang menanjak dari trend naik kemudian mengalami penurunan dimana kemudian menanjak kembali melebihi nilai tertinggi sebelumnya. Kemudian terjatuh kembali di posisi support yang sama dan kenaikan kembali yang tidak dapat melebihi nilai tertinggi sebelumnya (head) yang akan membentuk right shoulder. Pada level support yang sama yang menahan harga penurunannya membentuk sebuah garis yang kita sebut dengan neckline. Proses ini sama halnya dengan pembentukan reverse head and shoulder. Dua karakter ini memberikan indikasi kepada kita bahwa pelaku pasar telah melakukan penekanan arah trend. Sehingga kita dapat memprediksi arah perdagangan selanjutnya yaitu menuju pada level harga kenaikan yang membentuk left shoulder.

Kunci pada pola ini adalah pada level neckline yang menghubungkan dua level terendah yang tercipta setelah terjadi kenaikan. Pada level ini adalah level untuk kita melakukan entry posisi dengan target yang dapat kita tentukan dari titik awal kenaikan yang membentuk pola ini. Pola ini dikatakan sempurna saat level neckline dapat ditembus harga setelah pola right shoulder terbentuk.

Ada beberapa hal lain yang menjadi pertimbangan pada pola ini, yaitu volume perdagangan. Seberapa pentingkah volume perdagangan berpengaruh dan apakah kita dapat menentukan level entry dan exit dari jumlah volume untuk mengidikasikan karakter jenis ini?

Gambar 14.4 Karakter Head and Shoulder Pada Timeframe

Apakah volume perdagangan penting dalam mengindikasi pembentukan karakter ini?

Volume perdagangan menjadi faktor terpenting intuk pembentukan pola ini. Berikut volume perdagangan yang terjadi untuk pembentukan karakter ini :

1. Akan terjadi peningkatan volume perdagangan setelah left shoulder tercipta. Fakta yang terjadi adalah ketika terjadi kenaikan dan terjadi koreksi, pelaku pasar terus melakukan beli sehingga menaikkan volume hingga membentuk pola Headnya. 2. Volume perdagangan melemah saat

membentuk pola right shoulder. Para pakar mengatakan bahwa pada proses ini, para pelaku pasar telah melihat akan terjadinya reversal. Dengan indikasi reversal kuat ini pelaku pasar telah melepas semua posisi belinya.

3. Jika terjadi pengutan volume perdagangan yang dapat menembus level neckline menkitakan bahwa pola head and shoulder telah terbentuk secara sempurna. Hal ini menunjukkan penguatan reversal. Pada fase ini, tekanan jual menjadi meningkat tajam yang akan menjadi titik balik reversal setelah kenaikan sebelumnya.

Symmetrical Triangle

Symmetrical Triangle biasanya terbentuk selama pembentukan sebuah trend. Pola ini terdiri dari dua nilai High dan dua nilai Low. Ketika dua level ini dihubungkan, akan membentuk garis yang simetris dan membentuk sebuah segitiga.

Terkadang pola ini menjadi indikasi pembalikan arah namun lebih sering pola ini menunjukkan kelanjutan arah trend yang telah terbentuk sebelumnya. Arah pergerakan harga dapat lebih jauh kita lihat setelah harga mengalami breakout. Mari kita bahas tiap-tiap karakter pergerakan pola ini.

1. Trend: Untuk mengetahui kelanjutan pada pola ini, kita harus melihat adanya penurunan volume perdagangan. Biasanya pada pembentukan pola ini memakan waktu yang lebih lama hingga terjadinya breakout saat volume perdagangan terkecil.

Gambar 15.2 Symmetrical Triangle Breakout

2. 4 point: setidaknya ada 2 poin yang dibutuhkan untuk membentuk pola ini, yaitu harga high dan low yang dimana pada harga high dan low kedua tidak dapat lebih tinggi dan rendah dari sebelumnya. Namun untuk dapat menemukan kekuatan arah perdagangan yang lebih kuat kita membutuhkan 4 poin penting yaitu 4 nilai high dan 4 nilai low.

3. Volume: seperti yang sudah kita bahas, pembentukan pola ini akan terlihat saat mulai berkurangnya volume perdagangan yang kian lama kian melemah.

4. Duration: durasi yang dibutuhkan untuk pola ini biasanya memakan waktu yang lebih lama, semisal kita ambil dari timeframe mingguan. Pola ini membutuhkan beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika pola terbentuk kurang dari 3 minggu, biasanya hanya akan membentuk pola pennant

(bendera terbalik).

5. Breakout Timeframe: jika terjadi breakout, idealnya akan memiliki volume ½ sampai ¾ dari jarak yang dibutuhkan untuk membentuk pola ini. Besar volume kelanjutan dapat kita ukut melali nilai tertinggi hingga nilai terendah dari garis trend yang tercipta. Gambar 15.3.

6. Breakout Direction: arah perdagangan selanjutnya dari breakout yang terjadi hanya dapat kita tentukan setelah break harga pada level tahanan terjadi. Mungkin terasa mudah untuk melihat arah breakout yang terjadi, namun jangan kita lupakan dalam perdagangan sering sekali terjadi false break. Karena jika terjadi kelanjutan setelah terjadi breakout akan memakan waktu yang lama untuk kembali lagi pada posisi awal terjadinya breakout.

Gambar 15.3 Breakout Time Frame

7. Breakout Confirmation: Berikut adalah poin penting, yaitu penentuan konfirmasi breakout. Apakah akan terjadi false break atau valid break. Kita harus menunggu penutupan harga saat terjadinya breakout. Untuk timeframe daily atau harian, kita dapat memvalidasi sebuah breakout kira-kira 3% dari volume perdagangan terbesar atau dengan menunggu konfirmasi 3 candle. Dalam artian ini kita menunggu 3 hari untuk mengkonfirmasi sebuah breakout.

8. Return to Apex: Setelah terjadinya breakout, dan jika terjadi reversal atau kelanjutan. Harga akan dapat kembali mengincar level support atau resisitancenya kembali. Harga biasanya akan konsolidasi pada level support/resistancenya sebelum melanjutkan pergerakannya. Jadi pada waktu ini kita bisa menentukan keputusan apakah kita akan menahan posisi kita yang salah atau

mengambil kerugian yang ada dan melakukan pembalikan arah.

Gambar 15.4 Target breakout

9. Price Target: ada dua metode untuk

memperkirakan target pergerakannya setelah terjadi breakout. Yang pertama, dengan mengukur rentang kenaikan atau penurunan hingga harga membentuk pola ini. Yang kedua adalah dengan membentuk garis parallel yang menghubungkan dua titik tertinggi dan terendahnya selama pembentukan pola. Gambar 15.4.

Ascending Triangle

Ascending triangle merupakan variasi dari pembentukan pola symmetrical triangle. secara umum karakter pola ini adalah pola kelanjutan

untuk trend naik dan akan kita temui pada saat harga mengalami trend naik. Pada bagian atas pola ini terlihat flat/datar sementara pada bagian bawahnya harga terlihat naik turun dengan nilai low tidak dapat melebihi nilai low pada candle sebelumnya. Setelah terjadi pola ini, harga akan mengalami kenaikan lanjutan dan akan terjadi fase jenuh beli atau overbought dan harga akan kembali turun.

Adalah triangle yang garis atasnya kurang lebih mendatar atau flat sedangkan garis bawahnya menanjak ke atas. Biasanya muncul dalam trend bullish sebagai pola chart bullish continuation. Kadang juga terjadi dimana ascending triangle muncul sebagai reversal, namun pada dasarnya ia adalah pola chart continuation/kelanjutan. Trading set up:

Ambil posisi buy saat harga break di atas triangle dengan stop loss di bawah triangle. Target dipasang 1 atau 2 kali jarak titik A dan titik B.

Descending Triangle

Gambar 17.1 Descending Triangle

Pada pembahasan kali ini saya ingin membahas tentang pembentukan pola segitiga Triangle pada grafik pergerakan harga. Pola ini dapat kita kategorikan sebagai pola penerusan atau pembalikan arah tergantung dari pola segitiga yang terbentuk. Ada tiga jenis pola triangle yang perlu kita ketahui:

1. Symmetrical Triangle 2. Ascending Triangle 3. Descending Triangle

Secara umum pola segitiga terbentuk akibat seimbangnya antara permintaan dan penawaran pada pasar. Pada fase ini, trader atau pelaku pasar tidak dapat menentukan arah sehingga harga bergerak dalam pola, saat menyentuh support atau resistance para pelaku pasar akan

trade IN & OUT. Dimana hal ini akan menyebabkan volume perdagangan akan mengecil. Dengan begitu akan membentuk pola triangle yang salah satunya akan kita bahas saat ini adalah pola Descending Triangle. Kenapa dikategorikan descending triangle?

Pada awalnya, pola yang terbentuk adalah pola Symetrical Triangle. Namun ternyata harga terendah pada sumetrical triangle yang terbentuk tejadi break low. Sehingga pola yang terbentuk menjadi lebih dominan kebawah dan posisi harga low memiliki level resistance yang sama. Namun harga high baru tidak pernah terbentuk.

Dengan adanya indikasi terbentukknya pola ini, kita dapat memanfaatkan peluang ini saat terjadi Market Selloff atau peningkatan volume jual yang akan menembus level terendah pada pola yang terbentuk. Mengacu dari gambar diatas, kita memiliki Key Level pada support $57.55. jika pada level support tersebut dapat “Break”, maka akan memicu pelaku pasar untuk melakukan selloff.

Dimana kita memiliki level support pada: 1. Support 1: $56.05

2. Support 2: $53.95 3. Support 3: $52.10

Dengan melihat potensi jika terjadi breakout, kita dapat mengatur strategi untuk exit point dengan entry point saat terjadi breakout pada key level di $57.55.

Trading set up:

Ambil posisi sell saat harga break di bawah triangle dengan stop loss di atas triangle. Target dipasang 1 atau 2 kali jarak titik A dan titik B.

Gambar 17.2 Trading setup untuk descending triangle Triple Top dan Bottom

Pada bagian ini saya akan mencoba membahas karakter candle yang memiliki efek reversal perdagangan yang cukup di minati oleh pelaku pasar, yaitu jenis Double/Triple Top dan Bottom. Dimana pada gambar diatas kita temui jenis karakter candle yang membentuk Triple Top. Berdasarkan Gambar diatas, kita mendapati indikasi pergerakan reversal pembalikan arah harga. Dimana target-target yang akan dicapai dapat kita lihat di area-area support & resistance

dari Fibonacci retracement nya, yaitu pada level support 103.47, 101.91, 99.91, 98.22, dan 96.57. Untuk indikator Fibonacci retracement akan saya bahas di sub bab selanjutnya.

Gambar 18.1 Triple Top

Pada bagian ini saya akan mencoba membahas karakter candle yang memiliki efek reversal perdagangan yang cukup di minati oleh pelaku pasar, yaitu jenis Double/Triple Top dan Bottom. Dimana pada gambar diatas kita temui jenis karakter candle yang membentuk Triple Top. Berdasarkan Gambar diatas, kita mendapati indikasi pergerakan reversal pembalikan arah harga. Dimana target-target yang akan dicapai dapat kita lihat di area-area support & resistance

Dokumen terkait