• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis B/Cratio

MATERI DAN METODOLOGI PENELITIAN

5) Analisis B/Cratio

k

i

Pyi DYi

1

. B/C =

n

i

Pxi DXi

1

. Dimana:

= Sigma (jumlah) П = Keuntungan

Yi = Produksi fisik sesudah pemakaian teknologi baru

DYi = Tambahan salah satu produksi fisik sesudah pemakaian teknologi baru Py = Harga salah satu produk persatuan fisik yang diterima oleh petani Xi = Macam input dalam satuan fisik

DXi = Penambahan salah satu macam input dalam satuan fisik Pxi = Harga salah satu satuan input x yang digunakan

i….n = Banyaknya jenis input yang ditambahkan penggunaannya i….k = Banyaknya jenis manfaat/keuntungan yang diperoleh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada umumnya, teknologi baru diciptakan untuk mengganti teknologi lama yang selama ini dilaksanakan petani. Dengan demikian teknologi baru itu harus menunjukkan potensi hasil yang lebih baik dibandingkan dengan teknologi lama. Potensi itu harus dapat diperlihatkan secara ekonomi menguntungkan, sebelum petani sendiri dapat menilainya menurut kondisi usahataninya. Apabila usahatani telah menggunakan teknologi baru, maka perhitungan biaya dan tambahan hasil diperoleh karena penggunaan pupuk tersebut menjadi pusat perhatian petani.

Penelitian pemupukan jagung di Desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur.

Propinsi Nusa Tenggara Barat, memperlihatkan bahwa pemberian pupuk kotoran sapi 1,5 t/ha + 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl dengan cara aplikasi setempat menutup lubang tanah memberi hasil yang tertinggi yakni 6,29 t/ha disusul pemberian pupuk 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl yakni 6,23 t/ha (Tabel 2 dan Gambar 1).

Gambar 1. Hubungan dosis pupuk dan hasil jagung di DesaSambelia, Kab. Lombok Timur. NTB.

5040

6230 5870

5590

6290

300 450

3225 3225

1725

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000

1 2 3 4 5

Hasil Pupuk

Tabel 2. Jenis, dosis, cara aplikasi pemupukan, rendemen tongkol, bobot 100 biji dan hasil pipilan kering di Desa Sambelia Kabupaten Lombok Timur, NTB, 2004.

Jenis dan Dosis Pupuk Aplikasi Pemupukan

NB : Faktor lain dianggap sama (Citeris paribus)

Dari Tabel 2, terlihat bahwa inovasi teknologi pupuk memberi peningkatan tidak saja pada hasil pipilan kering jagung tapi juga pada rendemen tongkol dan bobot 100 biji pada semua inovasi teknologi, terutama pada pemberian pupuk 1,5 t/ha kotoran sapi + 175 kg/ha urea + 25 kg/ha SP36 + 25 kg/ha KCl yang diaplikasikan setempat menutup lubang tanam, memberi peningkatan sebesar 4%, 1,7 gr dan 1,25 t/ha masing-masing untuk rendemen tongkol klobot/tongkol kupas, bobot 100 biji dan hasil pipilan kering terhadap pemupukan dengan cara petani. Yasin et al (1997) serta Erdiman dan Syafei (1994) mengemukakan bahwa pengaruh inkubasi TSP dengan bahan organik dan kapur dapat meningkatkan efisiensi penyerapan P dan hasil biji. Namun apakah dengan penambahan 1,5 t/ha pupuk kotoran sapi + 125 kg/ha urea + 25 kg/ha SP36 + 25 kg/ha KCl memberi keuntungan secara finansial kepada petani, dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 2.

Gambar 2. Hubungan dosis pupuk dengan biaya dan keuntungan pemupukan jagung di Desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. NTB. 2004

1725

Penambahan 1,5 t/ha pupuk kotoran sapi + 125 kg/ha urea + 25 kg/ha SP36 + 25 kg/ha KCl (Tabel 3) ternyata tidak memberi keuntungan tertinggi secara finansial. Secara finansial, keuntungan tertinggi diperoleh pada pemberian 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl sebesar Rp 3.410.500 yang diberikan secara tugal. Disusul dengan cara petani dengan pemberian 300 kg/ha urea yang diberikan secara tugal dengan jumlah biaya Rp 157.300/ha. Penambahan 50 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl dapat meningkatkan keuntungan sebesar Rp 229.800/ha dibanding dengan pemberian pupuk cara petani (300 kg/ha urea diberikan 2 kali secara tugal).

Tabel 3. Jenis, dosis, cara aplikasi pemupukan, rendemen tongkol, bobot 100 biji dan hasil pipilan kering di Desa Sambelia Kabupaten Lombok Timur, NTB, 2004.

Jenis dan Dosis Pupuk Aplikasi Pemupukan

3.115.000 522.500 2.592.500 229.800 3 /ha kotoran sapi + 175 kg

2.935.000 861.250 2.073.750 -288.950 3 /ha kotoran sapi + 175 kg

2.795.000 861.250 1.933.750 -428.950 1,5 t/ha kotoran sapi + 175 kg

3.145.000 822.500 2.322.500 -40.200

Sumber: data primer, setelah diolah, 2004 Keterangan: 6) Faktor lain dianggap sama (Citeris paribus)

7) MRR = Marginal Rate Return

Dari hasil yang ditunjukkan Tabel 3, juga menunjukkan bahwa penggunaan pupuk kotoran sapi yang dikombinasikan dengan urea, SP36 dan KCl dalam berbagai dosis dan cara aplikasi belum diperlukan. Hal ini antara lain disebabkan karena kandungan N Total dalam tanah yang rendah dan kandungan p sedang (Tabel 4), dapat dipenuhi dengan memberikan 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl yang diaplikasikan secara tugal dan memberikan 300 kg/ha urea yang diberikan 2 kali secara tugal atau dengan kata lain pemberian pupuk an organik masih lebih menguntungkan dari pada pupuk organik. Hal ini sejalan dengan Nanny R et al (2002) dan Roslina et al (2001) yang menyatakan bahwa penambahan nitrogen berpengaruh positif dengan hasil biji. Namun apakah inovasi teknologi pupuk dengan pemberian 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl layak diadopsi petani, dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 4. Sifat fisik dan kimia tanah di Desa Sambelia Kabupaten Lombok Timur, NTB, 2004.

Sifat Fisik dan Kimia Nilai Kriteria

Tekstur - Lempung Berdebu

Kejenuhan Basa 84 Sangat Tinggi

Sumber. Laboratorium Tanah Balitsereal. 2004

Tabel 5. Analisis R/C, B/C dan Efisiensi teknis serta ekonomi terhadap jenis dan dosis serta aplikasi pemupukan jagung di Desa Sambelia Kabupaten Lombok Timur, NTB, 2004.

Jenis dan Dosis Pupuk Aplikasi Pemupukan

Sumber: data primer, setelah diolah, 2004 Keterangan: 6) Faktor lain dianggap sama (Citeris paribus)

Tabel 5 menunjukkan bahwa semua perlakuan pemupukan yang diteliti sudah efisen baik secara ekonomis maupun teknis. Hal ini ditunjukkan dari nilai R/Cratio >1 dan nilai efisensi > 100%, namun pemupukan jagung dengan cara petani yaitu pemberian 300 kg/ha urea yang diaplikasikan 2 kali secara tugal lebih efisien karena memiliki nilai R/Cratio yang lebih tinggi yakni 16,02 yang berarti bahwa setiap penambahan biaya Rp 1, akan meningkatkan keuntungan sebesar Rp 16,02 dan layak dipertahankan karena dari ke 4 inovasi teknologi pemupukan yang diuji tidak ada yang layak untuk disarankan pengadopsiannya pada petani sebab memiliki nilai B/Cratio < 1 bahkan ada yang negatif.

KESIMPULAN

1. Pemberian pupuk kotoran sapi 1,5 t/ha + 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl dengan cara aplikasi setempat menutup lubang tanah memberi hasil yang tertinggi yakni 6,29 t/ha disusul pemberian pupuk 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl yakni 6,23 t/ha tongkol segar.

2. Pemberian pupuk 1,5 t/ha kotoran sapi + 350 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCL yang diaplikasikan setempat menutup lubang tanam, memberi peningkatan sebesar 4%, 1,7 gr dan 1,25 t/ha tongkol segar, masing-masing untuk rendemen tongkol klobot/tongkol kupas, bobot 100 biji dan hasil pipilan kering lebih tinggi dibanding cara petani.

3. Penambahan 50 kg/ha urea + 50 kg/ha SP36 + 50 kg/ha KCl dapat meningkatkan keuntungan sebesar Rp 229.800/ha dibanding dengan pemberian pupuk cara petani (300 kg/ha urea diberikan 2 kali secara tugal).

4. Penggunaan pupuk kotoran sapi yang dikombinasikan dengan urea, SP36 dan KCl dalam berbagai dosis dan cara aplikasi belum diperlukan. Hal ini antara lain disebabkan karena kandungan N Total dalam tanah yang rendah dan kandungan p sedang

5. Efisiensi pemupukan jagung dudah dicapai ke 5 perlakuan pemupukan yang diuji karena memiliki nilai R/Cratio > 1 dan nilai efisien > 100%, namun efisiensi tertinggi diperoleh dari pemupukan dengan cara petani yanitu pemberian pupuk urea 300 kg/ha yang diberikan 2 kali secara tugal.

6. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha (B/C ratio), ternyata cara petani dengan pemberian 300 kg/ha pupuk urea yang diberikan 2 kali layak dipertahankan penggunaannya sedang ke 4 inovasi teknologi yang diteliti tidak layak diadopsi karena memiliki nilai B/Cratio < 0 bahkan negatif

DAFTAR PUSTAKA

Cramer, G. L., and Jensen, G.W. 1979. Agricultural Economics and Agribusiness: an Introduction. John Wiley & Son. New York.

Erdiman dan Syafei. 1994. Pengaruh inkubasi pospat ( TSP ) dengan bahan organic dan kapur terhadap pertumbuhan dan produksi jagung ( Zea maize L ) Pada lahan tanah pmk Sitiung p. 67 – 76 dalam : Risalah seminar Balai Penelitian Tanaman pangan Sukaramai vol 5.

Nany Riani, Roslina Amir dan E.O. Mouat, 2001. Pengaruh berbagai takaran nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung hibrida bersari bebas. Risalah penelitian jagung dan serealia lain. Vol 5 : 21 – 26

Nusa Tenggara Agricultural Support Projrct. 1987. Latihan Penelitian Sosial Ekonomi Pola Usahatani. Nusa Tenggara Agricultural Support Project. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian bekerjasama dengan Agricultural Economics Departement.

International Rice Research Institute.

Roslina A, Ningsih w., A.F. Fadhly dan E.O. Mouat 2001. Pengaruh populasi tanaman dan berbagai pupuk nitrogen terhadap pertumbuhan dan hasil jagung. Risalah penelitian jagung dan serealia lain. Vol 5 : 26 – 29.

Lund, F. Z. And B.D. Doss. 1980. Residual effect of dairy cattle manurea on plant grouth and soil properties. Agron. J. 72 : 123 - 130

Mengel,K. And E.A. Kirkby.1979. Principles of Plant Nutrition. 2nd. Edition. International Potash Institute. Switzerland. P. 319 – 328.

Malherbe I., 1964 . Soil fertility, 5th Edition Oxford unior. Press. Ney York . 295 p.

Sanchez, P. A. 1976. Properties and management of soil in the tropics. John Wiley and Sons.

Ney York. 618 p.

Soeharjo dan Dahlan Patong, 1978. Dasar-dasar Analisis Usahatani. Lephas. Unhas. Ujung Pandang.

Yasin. S., Zulma Fatmawita dan N. Hakim. 1997. Teknologi inkubasi Tsp dengan pupuk kandang untuk meningkatkan efisiensi pemupukan jagung pada tanah masam.

Stigma vol. V No. 1 : 129 – 135.

RASIONALISASI PEMUPUKAN N, P, DAN K UNTUK TANAMAN JAGUNG PADA