Rata-rata umur responden adalah 45,88 tahun dengan kisaran 18 –70 tahun. Rataan umur tersebut masih lebih rendah dari rataan umur tenaga kerja yang mendominasi sektor pertanian yang mencapai lebih dari 50 tahun (Kasryno, 1997) namun sudah tidak tergolong muda. Hal ini mencerminkan bahwa usahatani padi pada umumnya dan Tabela pada khususnya masih belum diminati oleh tenaga kerja muda. Namun secara umum dapat dilihat bahwa 89,78% petani yang menerapkan teknologi Tabela adalah tergolong dalam usia produktif, yaitu mempunyai kisaran umur antara 15-64 tahun.
Tingkat pendidikan seseorang dapat merubah pola pikir, daya penalaran yang lebih baik, sehingga makin lama seseorang mengenyam pendidikan akan semakin rasional. Secara umum petani yang berpendidikan tinggi akan lebih baik cara berfikirrnya, sehingga memungkinkan mereka bertindak lebih rasional dalam mengelola usahataninya.
Sebagaimana yang dinyatakan Soekartawi (1988) bahwa mereka yang berpendidikan tinggi adalah relatif lebih cepat dalam melaksanakan adopsi inovasi. Begitu pula sebaliknya mereka yang berpendidikan rendah, mereka agak sulit untuk melaksanakan adopsi inovasi dengan cepat. Tingkat pendidikan petani responden di lokasi penelitian bervariasi mulai dari buta huruf sampai dengan tamat perguruan tinggi, namun sebagian besar yaitu 55 orang (40,15%) berpendidikan setingkat SD, 46 responden (57,57%) berpendidikan menengah dan 2 orang (1,46%) berpendidikan perguruan tinggi.
Tabel 1. Karakteristik Petani Responden di Tiga Kabupaten, Bali, 2001.
Karakteristik Tabanan (org)
Buleleng (org)
Klungkung (org)
Total (org)
Total (%) Umur (thn)
<15 0 0 0 0 0.00
15 – 64 47 40 38 123 89.78
>64 2 4 5 13 10.22
Pendidikan
Tidak sekolah 10 13 11 34 24.82
SD 24 15 16 55 40.15
SMP 6 5 13 24 17.52
SLTA 4 13 5 22 16.06
Perguruan Tinggi 1 0 1 2 1.46
Luas lahan (ha)
< 0,2 4 1 7 12 8.76
0,2 – 0,5 21 29 23 71 51.82
> 0,5 24 14 16 54 39.41
Pendapatan usahatani padi (Rp/thn)
< 1.500.000 4 2 4 10 7.29
1.500.000 – 3.500.000 31 39 48 98 71.53
> 3.500.000 11 5 13 29 21.16
Responden yang menerapkan teknologi Tabela seperti yang disajikan pada Tabel 1 mempunyai rataan luas lahan garapan 0,37 hektar dengan kisaran antara 0,10-2,60 hektar.
Responden dengan luas lahan garapan antara 0,20-0,50 hektar sebanyak 71 orang (51,82%), luas lahan garapan diatas 0,50 hektar sebanyaak 54 orang (39,41%) dan responden yang memiliki luas lahan garapan dibawah 0,20 hektar sebanyak 12 orang atau 8,76%. Teknologi Tabela akan lebih efisien bila digunakan pada areal pertanaman yang lebih luas, sehingga akan menghemat biaya produksi dari sisi penggunaan tenaga kerja.
Rata-rata pendapatan responden dari usahatani padi sebesar Rp. 2.008.573,- per tahun dengan kisaran Rp. 602.572,- hingga 5.666.869,-. Sebagian besar responden yaitu 98 orang (71,53%) berpenghasilan antara 1.500.000-3.500.000, sebanyak 21,6% berpenghasilan rata-rata lebih dari Rp.3.500.000,- per tahun dan hanya 7,29% yang berpenghasilan di bawah Rp.1.500.000,-. Soekartawi (1988) menyatakan bahwa pendapatan usahatani yang tinggi seringkali ada hubungannya dengan tingkat difusi inovasi pertanian. Kemauan untuk melakukan percobaan atau perubahan dalam difusi inovasi pertanian yang cepat sesuai kondisi pertanian yang dimiliki oleh petani, maka umumnya hal ini yang menyebabkan pendapatan petani yang lebih tinggi. Dengan demikian petani akan kembali investasi kapital untuk adopsi inovasi selanjutnya. Sebaliknya banyak kenyataan yang menunjukkan bahwa para petani yang berpenghasilan rendah adalah lambat dalam melakukan adopsi inovasi.
Komponen Pengeluaran Tabela
P upuk 30%
Tenaga kerja 59%
B enih
7% P estisida/
Herbisida 4%
Komponen Pengeluaran Tapin
P upuk 29%
P estisida/
Herbisida 3%
B enih 7%
Tenaga kerja
61%
Gambar 1. Rataan Struktur Komponen Pengeluaran Teknologi Tabela dan Tapin di Tiga Kabupaten, Bali, 2001.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Adopsi Tabela
Perilaku petani dalam berusaha tani, diantaranya pemilihan sistem tanam padi, sangat dipengaruhi oleh kondisi individu petani, kondisi ,lingkungan produksi baik lingkungan fisik, biologis maupun sosial ekonomi. Beberapa peubah bebas, yang telah dicoba dalam model ini dan diduga dapat menjelaskan pilihan petani antara lain umur, pendidikan, pendapatan, luas lahan sawah garapan, sikap, pengetahuan dan norma sosial.
Dengan menggabungkan data-data tersebut ke dalam beberapa grup, maka 5 peubah bebas di bawah ini dianggap dapat menjelaskan pilihan petani karena mempunyai Adjusted R-Square yang tinggi, yaitu 91,8%. Yang berarti 91,8% dari faktor-faktor yang dipilih dalam model ini diperkirakan dapat menjelaskan alasan petani memilih teknologi Tabela. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) umur; (2) sikap; (3) pengetahuan; (4) luas lahan sawah garapan; dan (5) norma sosial.
Nilai dugaan koefisien fungsi logit dengan peubah bebas umur, sikap, pengetahuan, luas lahan sawah garapan dan norma sosial, dan peubah tidak bebas petani yang mengadopsi Tabela, disajikan dalam Tabel 2.
Tabel 2. Nilai Dugaan Koefisien Fungsi Logit terhadap Peluang Adopsi Tabela di Tiga Kabupaten, Bali, 2001.
Peubah bebas Koefisien Nilai t stat Nilai-P
Konstanta 6.7572 *** 8.48 0.003
X1 (umur) - 0,07862 *** -7,01 0.006
X2 (sikap) 0.18957 2.17 0.118
X3 (pengetahuan) 0.22617 ** 2.66 0.070
X4 (luas lahan) -1.0309 *** -5.87 0.010
X5 (norma sosial) 0.29213 * 3.03 0.057
Keterangan :
R2 = 96,9 % , Adjusted R-Square = 91,8%, t tabel ( 0,01 = 5,841 dan 0,10 = 2,353)
*** = sangat nyata , P <0,01
** = nyata , P < 0,10
Dari Tabel 2 terlihat bahwa nilai konstanta 6,7572 dan secara statistik sangat nyata (P < 0,01). Hai ini berarti bahwa tanpa memperhatikan umur, sikap, pengetahuan, luas lahan garapan dan norma sosial, maka peluang petani yang mengadopsi Tabela sebanyak 7 orang.
Dengan kata lain ada faktor-faktor di luar peubah bebas tersebut yang tidak masuk dalam model namun sangat berpengaruh dalam pilihan petani untuk mengadopsi tabela.
Dua peubah bebas yaitu umur, luas lahan bertanda negatif, sedangkan sikap, pengetahuan dan norma sosial bertanda positif. Hubungan negatif dari umur dengan peluang responden mengadopsi Tabela yang secara statistik sangat nyata (P < 0,01), dapat diartikan bahwa semakin tua umur responden cenderung semakin rendah peluang responden menerapkan teknologi Tabela. Kesimpulan ini dari segi teori (Lionberger, 1960) maupun intuitif dapat diterima. Hal ini juga dapat diartikan bahwa semakin muda umur responden, semakin tanggap terhadap inovasi baru, dan semakin tinggi peluang responden untuk menerapkan teknologi Tabela, sedangkan yang lebih tua pada umumnya bertahan pada sistem yang lama yang sudah biasa diterapkan oleh masyarakat. Sebagaimana pendapat Soekartawi (1988) bahwa makin muda petani biasanya mempunyai semangat untuk ingin tahu apa yang belum mereka ketahui, sehingga dengan demikian mereka berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi walaupun sebenarnya mereka masih belum berpengalaman dalam soal adopsi inovasi tersebut.
Luas lahan berhubungan negatif dengan peluang responden mengadopsi Tabela dan secara statistik sangat nyata (P < 0,01) yang berarti bahwa semakin luas lahan garapan seseorang semakin rendah peluang responden untuk mengadopsi Tabela. Kesimpulan ini dari segi teori maupun intuitif tidak konsisten, karena semakin luas usaha tani seseorang pada umumnya semakin cepat mengadopsi inovasi, karena memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik. Namun untuk mengadopsi teknologi Tabela kemungkinan teori ini tidak berlaku, karena masalah utama pada adopsi teknologi Tabela adalah pengendalian gulma.
Apabila pengendalian gulma ini belum bisa teratasi, maka semakin luas lahan seseorang semakin besar biaya yang dipergunakan untuk mengendalikan gulma, sehingga responden hanya menerapkan teknpologi Tabela pada luas lahan yang bisa dikelola.
Sikap responden berhubungan positif dengan peluang mengadopsi Tabela, yang berarti semakin positif sikap responden terhadap paket teknologi Tabela semakin tinggi peluang untuk mengadopsi teknologi tersebut. Kesimpulan ini secara teoritis dan intuitif, konsisten, namun secara statistik tidak nyata, sehingga faktor ini tidak berpengaruh terhadap peluang adopsi teknologi Tabela. Kebanyakan petani kecil agak lamban dalam mengubah sikapnya terhadap perubahan. Hal ini disebabkan karena sumberdaya yang mereka miliki, khususnya sumberdaya lahan, terbatas sekali. Sehingga mereka agak sulit untuk mengubah sikapnya untuk adopsi inovasi karena mereka khawatir kalau adopsi inovasi tersebut ternyata gagal. Sebab sekali adopsi inovasi itu gagal, mereka akan sulit untuk mendapatkan atau mencukupi makan anggota keluarganya.
Hubungan antara pengetahuan dan adopsi teknologi Tabela positif dan secara statistik nyata (P < 0,10). Hasil penelitian ini sesuai dengan yang diharapkan dalam menjelaskan karakteristik petani, sehingga pengetahuan petani tentang teknologi yang akan
diintroduksi seyogyanya ditingkatkan agar petani lebih mudah mencerna teknologi yang akan diadopsi. Pengetahuan paket teknologi tersebut meliputi cara persiapan lahan, persiapan benih, penanaman, pengaturan pengairan, pemupukan, pengendalian gulma, pengendalian hama dan penyakit dan panen serta pasca panen.
Norma sosial dalam tulisan ini adalah kegiatan upacara keagamaan yang dilakukan secara berkelompok dalam subak maupun perorangan di sawah berkaitan dengan usahatani padi antara lain ngawit nambah (mulai mengolah yanah), pangawit (menjelang persemaian), nandur (menjelang tanam padi), neduh (pada saat padi berumur satu bulan), biukukung (mulai berbulir), nyangket (menjelang panen) dan lain-lain. Kegiatan upacara pangawiwit dalam teknologi Tabela dilakukan pada saat perendaman benih, sedangkan. Koefisien norma sosial juga bertanda positif dan secara statistik sangat nyata (P < 0,10). Hal ini berarti bahwa semakin tinggi norma sosial responden semakin tinggi peluang adopsi Tabela. Di lapangan kenyataan ini dapat diterangkan bahwa norma sosial tidak mempengaruhi seseorang untuk menerapkan teknologi Tabela, karena semua norma sosial yang selama ini berlaku untuk penanaman padi tetap dilaksanakan oleh responden yang menerapkan teknologi Tabela. Hal ini juga ditunjang oleh hasil survei yang menyatakan bahwa norma sosial bagi responden yang menerapkan Tabela, yang dianalisa dengan skala Likert, masuk dalam kategori tinggi.
Berdasarkan hasil analisis tersebut diatas ternyata bahwa faktor-faktor yang diduga dapat menjelaskan pilihan petani dalam memilih teknologi Tabela adalah umur, luas lahan, pengetahuan, dan norma sosial. Faktor-faktor lain yang tidak masuk dalam model dan diperkirakan dapat menjelaskan pilihan petani mengadopsi Tabela dibahas dalam metode PRA yang menyangkut keuntungan petani mengadopsi Tabela.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi peluang tabela dan secara statistik nyata adalah umur, pengetahuan, luas lahan dan norma sosial. Umur dan luas lahan berkorelasi negatif sedangkan pengetahuan dan norma sosial mempunyai hubungan positif.
2. Teknolologi Tabela yang diintroduksi dengan pendekatan top down dan dengan target areal tertentu tidak memotivasi petani untuk menerapkan suatu teknologi secara berkelanjutan. Pendekatan partisipatif yang dilaksanakan pada awal pengkajian introduksi teknologi akan mempengaruhi partisipasi petani didalam melaksanakan pengkajian secara sukarela, sehinga tingkat adopsi teknologi maupun peluang melanjutkan teknologi introduksi diharapkan akan meningkat dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1997. Laporan Hasil Pengkajian Sistem Usahatani Padi Berbasis Padi dengan Wawasan Agribisnis (SUTPA) di Bali. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Denpasar.
De Datta S.K. 1990. Technology and Economics of Weed Control in Small Rice Farms in The Asian Tropics, 23-37 in Proceedings, 12th Asian-Pacific Weed Science Society Conference, 21-26 August 1989, Seoul, Korea.
Kasryno, F. 1997. Meningkatkan Pemanfaatan Sumberdaya Pertanian dan pengembangan Sistem Pertanian Menuju Era Globalisasi Ekonomi. Prosiding Agribisnis Dinamika Sumberdaya dan Sistem Usaha Pertanian. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Mardikanto, T. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian. Sebelas Maret University Press.
Solo.
Lionberger, H.F. 1960. Adoption of New Ideas and Practices. The Iowa State University Press.
Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian. Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press). Jakarta.
Suryana, A dan K Kariyasa. 1997. Efisiensi Usahatani padi Melalui Pengembangan SUTPA.
Forum Penelitian Agro Ekonomi. Vol.15 No.1 & 2, Desember 1997. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor. hal 67 –81.
ANALISIS KELAYAKAN USAHA RICE MILLING UNIT (RMU)