Para pengamat yang tidak pernah melihat secara langsung kondisi awal dari kelompok-kelompok masyarakat miskin yang menjadi target group PROMIS NT barangkali tidak mudah menyakini adanya hasil-hasil maupun dampak yang berarti dari pendekatan padat karya serta pendampingan oleh motivator. Keberhasilan pendekatan tersebut tidak dapat hanya diukur dari penyelesaian bangunan-bangunan fisik atau pun memperbandingkan tingkat pendapatan target groups tersebut dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya tanpa memperhatikan persepsi (penilaian) oleh target groups itu sendiri. Pengamatan kami serta hasil-hasil monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara partisipatif menunjukkan bahwa mayoritas target groups mengalami dan mengakui perbaikan kehidupan yang berarti melalui peranserta mereka dalam progam padat karya.
Lebih jauh lagi, mitra kerja lokal GTZ PROMIS NT (lembaga-lembaga pemerintah daerah) juga mengakui kemamfaatan dari strategi yang diterapkan dan mulai menerapkan secara lebih luas (scale-up) elemen-elemen strategi sesuai kondisi dan kebutuhan. Sebagai contoh, Pemerintah Daerah di wilayah kerja PROMIS-NT telah sejak lama mengambil alih tanggungjawab pembayaran honor motivator. Bahkan di Kabupaten Alor dan Kabupaten Sumba Timur Propinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Daerah telah mengadopsi konsep motivator dengan menugaskan 1-2 orang motivator pada desa-desa yang belum memiliki motivator serta memperluas tugas dan fungsi motivator tersebut, dimana seorang motivator berperan sebagai “penasehat” Pemerintah Desa.
Gambar 1 memperlihatkan bahwa target group proyek menilai program padat karya telah memberikan kontribusi berarti terhadap perbaikan ekonomi mereka; wawancara lebih mendalam mengungkap bahwa makna “perbaikan ekonomi” tersebut tidak selalu berarti hanya peningkatan pendapatan tetapi juga keberhasilan memulai usaha baru yang produktif.
Temuan ini konsisten dengan data yang disajikan pada Tabel 1 dimana 15 persen dari responden mengemukakan bahwa padat karya telah memberikan tambahan pendapatan dan penciptaan usaha baru bagi mereka.
Gambar 1. Dukungan atau Elemen Strategi PNT yang Memberikan Manfaat Ekonomi Menurut Persepsi Responden (Sumber: Laporan Monitoring dan Evaluasi PROMIS-NT 2004 Gambar 1 memperlihatkan bahwa target group proyek menilai progran padat karya telah memberikan kontribusi berarti terhadap perbaikan ekonomi mereka; wawancara lebih mendalam mengungkap bahwa makna “perbaikan ekonomi” tersebut tidak selalu berarti hanya peningkatan pendapatan tetapi juga keberhasilan melalui usaha baru yang produktif.
Temuan ini konsisten dengan data yang disajikan pada Tabel 1 dimana 15 persen dari responden mengemukakan bahwa padat karya telah memberikan tambahan pendapatan dan penciptaan usaha baru bagi mereka.
Tabel 1. Manfaat dari Padat Karya Program GTZ PROMIS-NT di Lahan Marginal Nusa Tenggara, 2004.
Frekwensi % dari responden
Tambahan Modal/pendapatan 19 9
Tambah usaha 13 6
Kebutuhan hidup 67 31
Pengolahan Tanah 44 21
Transportasi lancar 53 25
Sumber : Laporan Monitoring dan Evaluasi PROMIS-NT Tahun 2
Untuk mengungkap lebih jauh pengalaman padat karya dan pendampingan masyarakat, termasuk keberhasilan dan kegagalan, kami melakukan beberapa studi kasus di Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu di Nusa Tenggara Barat serta Kabupaten Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur. Hasil-hasil studi kasus tersebut disajikan berturut-turut dalam selipan 1-4. Ternyata, program padat karya cukup berarti bagi masyarakat, tidak saja dalam hal membantu memecahkan masalah kekurangan pangan sesaat, tetapi juga memampukan keluarga miskin dalam memanfaatkan potensi sumberdaya alam maupun peluang-peluang usaha yang terbuka. Sebagai contoh adalah percetakan sawah baru di Kabupaten Sumba Timur. Meskipun barangkali pendapatan rumahtangga belum meningkat secara signifikan sampai saat ini, fundamen keswadayaan berupa kepercayaan diri, kapasitas teknis,
Total Jawaban: 908
infrastruktur penunjang, kapasitas kelembagaan dan modal social telah ditingkatkan melalui padat karya dan pendampingan masyarkat oleh motivator.
[Selipan 1. Pokmas Oi Sumba desa Kowo: Peningkatan produktifitas dan akses pasar]
Lahan pertanian yang dimiliki oleh anggota pokmas sebagian besar adalah lahan tegalan dengan hamparan yang berbukit-bukit dan sawah tadah hujan sehingga kegiatan pertanian sangat tergantung dari curah hujan. Pada lokasi persawahan teknis dan setengah teknis pun, pada musim tanam ke tiga mulai terjadi kesulitan air irigasi, sehingga untuk mengatasinya dibantu dengan mesin air. Sementara pada musim hujan, air cukup melimpah yaitu selain limpahan air hujan juga muncul banyak mata air dan karena belum ada saluran irigasi pemanfaatanya kurang optimal.
Untuk mengangkut hasil pertanian dari ladang masang-masing, masyarakat harus memikul atau dengan membayar ongkos buruh Rp 3.500,- hingga Rp 5.000,- per karung.
Berdasarkan permasalahan yang ada, pokmas sepakat mengusulkan kegiatan padat karya yaitu membuka jalan ekonomi menuju lahan tegalan untuk mempermudah (waktu dan biaya) pengangkutan hasil dan membuat saluran irigasi. Tabungan padat karya yang diperoleh direncanakan untuk membeli mesin air.
Setelah dilakukan proses negosiasi antara Tim Pelaksana padat karya dengan kelompok kerja padat karya dan pemerintah desa, disepakati bahwa kelompok kerja padat karya akan mengerjakan kegiatan Pembuatan saluran irigasi dan pembuatan jalan ekonomi. Anggota pekerja tidak hanya dari anggota pokmas, tetapi melibatkan KK miskin diluar pokmas.
Jumlah anggota pekerja padat karya 118 KK terbagi dalam 4 sub kelompok kerja padat karya. Pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu 38 hari. Realisasi fisik padat karya adalah pembuatan jalan ekonomi sepanjang 1.600 m dan saluran irigasi sepanjang 2.625 m. Anggota pokja mendapatkan beras padat karya sebanyak 10.250 kg dan beras kelompok sebanyak 4.100 kg. Dari hasil penjualan beras kelompok, diperoleh dana Rp 9.225.00,- (Rp 2.250,- per kilogram). Dana tersebut kemudian dipakai untuk membeli 4 unit mesin pompa air yang digunakan oleh anggota dan masyarakat lainnya dengan cara disewakan.
Jalan ekonomi yang dibuat telah dilewati oleh truk untuk mengangkut hasil panen masyarakat dan saluran irigasi sebagian telah ditindaklanjuti oleh desa dengan membuat saluran permanen (pasangan batu) menggunakan dana subsidi desa yang pengerjaannya dilakukan secara gotong-royong].
[Selipan 2. Pokmas di desa Ntoke (10 Pokmas)
Pokmas yang direkomendasikan bekerja padat karya adalah pokmas yang memiliki kemauan untuk berkembang. Hal ini menyebabkan pada tahap awal pelaksanaan padat karya, hanya 7 pokmas yang bekerja padat karya, tetapi pada tahap selanjutnya 3 pokmas lainnya menunjukkan kemauan berkembang sehingga dapat dilibatkan. Selain anggota yang sudah tergabung dalam pokmas IDT, KK miskin diluar pokmas juga terlibat dalam kegiatan padat karya. Anggota perempuan juga dilibatkan dan mendapat hak yang sama dengan anggota laki-laki.
Jenis pekerjaan padat karya yang dilaksanakan di desa ini berupa padat karya beras dan non beras (gotong royong). Kegiatan padat karya beras adalah: Pembukaan jalan baru yang menghubungkan dengan salah satu dusun yang belum bisa dimasuki truck, pembuatan terasering, pemagaran hidup dan pembuatan saluran pengendali banjir. Sedangkan kegiatan padat karya non beras (gotong-royong) adalah pembuatan saluran irigasi permanen, pembuatan deuker dan Kebun Bibit Desa. Kegiatan tersebut merupakan usulan pokmas yang difasilitasi oleh Motivator desa / Petugas Lapangan Padat Karya dan dicek kelayakannya oleh Tim Teknis proyek. Kegiatan padat karya dilaksanakan tahun 1999 – 2002 dan selama pelaksanaan masyarakat didampingi oleh Motivator desa dan Petugas Lapangan Padat Karya.
Untuk mendukung pemanfaatan kegiatan padat karya tersebut, Proyek menyalurkan bantuan benih jagung hibrida, bibit mangga, kelapa, gamal dan gaharu. Bibit tanaman lain seperti jambu mete, nangka dan jati disediakan oleh Kebun Bibit Desa yang dikelola oleh salah satu pokmas. Setiap anggota yang mendapat bantuan bibit dari Proyek harus memberikan kontribusi yang besarnya sesuai kesepakatan pokmas dan dana tersebut menjadi milik pokmas.
Pada kegiatan padat karya beras, total jumlah beras yang diterima pekerja sebesar 3,5 kg dengan perincian 2,5 kg/HOK untuk pekerja dan 1 kg/HOK untuk dana tabungan pokmas. Atas
persetujuan semua pokmas, beras kelompok tersebut dijual secara kolektif dengan seluruh pokmas di desa lain yang difasilitasi oleh Proyek. Dari hasil penjualan beras kelompok, 10 pokmas tersebut mendapatkan dana sebesar Rp 36.284.275,- dimana setiap pokmas mendapatkan dana antara 2,3 juta – 5,6 juta rupiah. Dana tersebut kini dikelola dalam sebuah unit usaha bersama “Karawi Sama”
dengan pelayanan pada penyediaan sarana produksi seperti pupuk, benih, obat-obatan dan pemasaran hasil pertanian masyarakat].
[Selipan 3. Pembangunan Dam Sumpi di Desa Hidirasa Kecamatan Wera Kabupaten Bima
Desa Hidirasa kecamatan Wera merupakan desa yang matapencaharian utama masyarakatnya dari sektor pertanian, dengan komoditi unggulan bawang merah.
Untuk mengairi tanaman, para petani mengambil air dari aliran sungai yang cukup lebar dengan membuat dam tradisional. Karena terbuat dari batu, tanah dan ranting/dedaunan, maka setiap terjadi banjir, mereka harus selalu memperbaiki kembali. Sebenarnya dam permanen telah dibuat pada tahun 1987, namun dam tersebut telah hancur total oleh banjir. Sejak dam permanen hancur, 110 ha lahan yang sebelumnya terairi dengan baik hanya dapat dimanfaatkan secara optimal pada musim hujan. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat dan pemerintah desa selalu mengusulkan kepada pemerintah daerah melalui Diskusi UDKP agar dibangun Dam permanen.
Karena usulan tersebut belum terealisasi, maka kelompok masyarakat dan pemerintahan desa Hidirasa mengusulkan kegiatan pembuatan Dam Permanen melalui kegiatan Padat Karya.
Pada bulan September 1999, Tim teknis PNT Bima mulai melakukan survey teknis dan kemudian dilanjutkan membuat menghitung rancangan pembiayaan. Sementara itu Motivator desa dan Petugas Lapangan Padat Karya melakukan persiapan masyarakat.
Setelah melalui proses dialog / diskusi dengan masyarakat dan pemerintahan desa yang difasilitasi oleh motivator desa dan petugas lapangan padat karya, maka disepakati bahwa masyarakat bersedia untuk menyediakan material lokal seperti batu, pasir, kayu, dan lain-lain serta menyediakan ongkos tukang dan dikerjakan secara swadaya/gotong-royong. Sementara itu, Proyek Nusa Tenggara (PNT) GTZ mendukung penyediaan material non lokal seperti semen dan pintu air, desain teknis dan bimbingan teknis pembangunan dam. Pembangunan dam berukuran Panjang = 54 m, Lebar fondasi = 2,86 m dan Tinggi Pelimpah = 1,20 m mulai dikerjakan pada bulan Juli 2000 dan dapat diselesaikan pada bulan September 2000, dengan mendapat material dari Proyek Nusa Tenggara (PNT) sebesar Rp 30 juta.
Berdasarkan perhitungan Rencana Anggaran Belanja (RAB) oleh Tim Teknis PNT, biaya bendungan tersebut Rp 72.037.289,-. Jadi swadaya masyarakat sekitar Rp 42.037.289,-.
[Selipan 4: Peningkatan produktifitas sumber daya si miskin menuju pasar
Melalui pendekatan “pangan untuk kerja”, atau di Indonesia lebih dikenal dengan padat karya, yang dikombinasikan dengan pengembangan kelembagaan, petani miskin di pedesaan Sumba Timur, yang berada dalam zona iklim kering di Indonesia, mulai masuk pasar.
Di kabupaten sumba timur, komponen proyek Nusa Tenggara (PNT) dari GTZ PROMIS-NT mendukung beberapa kelompok yang terdiri dari petani miskin untuk menggali sumur sebagai sumber air irigasi pada lahan tadah hujan mereka. Proyek menerapkan pendekatan “padat karya” yang mengintegrasikan konsep “food-for-work” dan aktifitas simpan pinjam kelompok. Para petani yang ikut menggali sumur memperoleh dari proyek 3,5 kilogram beras. Dari jumlah tersebut, hanya 2,5 kilogram yang diserahkan langsung ke tangan masing-masing petani, sedangkan sisanya tinggal pada kelompok sebagai tabungan anggota pada kelompok. Dari tabungan tersebut, petani dapat membeli satu unit mesin pompa, guna memompa air ke permukaan dan menampungnya pada bak penampungan, dan dari bak tersebut air siap untuk didistribusikan ke masing-masing petak lahan petani anggota kelompok. Dengan pengairan tersebut, produksi jagung dan sayuran meningkat dan petani sekarang mulai dapat menjual surplusnya ke pasar. Meskipun skala kegiatan ini relatif kecil dari segi luas lahan yang dapat diairi dan jumlah keluarga tani yang menikmatinya, pelajaran dari pendekatan tersebut dan penerapannya di tempat lain yang serupa dapat diperluas setiap saat dalam skema program pembangunan yang pro-poor.
[Selipan 5. Pokmas Gelombang Merah Desa Kwangko – Lumpuhnya Modal Sosial?
Pokmas ini merupakan pokmas IDT yang terletak di pulau Bajo desa Kwangko Kecamatan Mangge Lewa Kab. Dompu. Sumber mata pencahariannya adalah dari hasil nelayan dan budi daya rumput laut.
Dana IDT pokmas ini tidak berjalan. Pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh motivator tidak banyak merubah kondisi pokmas, walaupun salah satu pokmas yang posisinya berdekatan dengannya yaitu pokmas Permata Bahari (telah berbadan hukum menjadi KSU Permata Bahari) telah mengarah pada kemandirian.
Kemauan anggotanya untuk mengembalikan pinjaman kepada kelompok sangat rendah. Hal ini disebabkan faktor keteladanan pengurus (pengalaman masa lalu yang kurang baik). Keterbatasan anggota yang mampu untuk membaca dan menulis menjadi kendala bagi motivator untuk mendorong perubahan pengurus. Kemacetan kegiatan simpan pinjam juga diperparah karena ada diantara anggota yang memiliki pinjaman dalam jumlah yang lebih besar dari anggota yang lain dan cukup disegani melontarkan pernyataan bahwa dia akan membayar jika anggota lain melunasi dulu. Hal ini menyebabkan terjadinya tarik ulur diantara anggota dalam pengembalian pinjaman walaupun aturan tentang pengembalian pinjaman telah disepakati.
Bahagian selanjutnya dari makalah ini memaparkan tentang kontribusi (dampak) program padat karya dan pendampingan keluarga miskin terhadap partisipasi dan pengaruh mereka dalam kelembagaan dan pengambilan keputusan di desa. Sebelum melihat dampak, terlebih dahulu kami tinjau kepuasan agregat keluarga miskin dan aparat pemerintahan desa terhadap pelayanan motivator (Gambar 2).
Gambar 2: Penilaian Pelayanan Motivator Secara Umum oleh Pokmas dan Pemdes (Sumber:
Laporan Monitoring dan Evaluasi PROMIS-NT Tahun 2004)
Kendatipun ada perbedaan berarti antar kategori kepuasaan antar daerah, secara umum dapat disimpulkan bahwa motivator telah berperan secara berarti dalam pembangunan masyarakat pedesaan. Untuk melihat dampak program terhadap partisipasi masyarakat miskin dampingan dalam kelembagaan dan pengambilan keputusan di desa, kami menggunakan dua variabel pokok yaitu: (i) jumlah anggota kelompok dampingan yang duduk dalam struktur pemerintah desa, dan (ii) persepsi masyarakat miskin dampingan tentang pengaruh mereka dalam pengambil keputusan di desa. Sebagai perbandingan, dipilih desa-desa berdekatan yang memiliki kharakteristik serupa dengan desa binaan. Tabel 2 dan 3 berturut-turut menggambarkan dampak tersebut.
Tabel 2. Jumlah Anggota Kelembagaan Pemerintah Desa yang berasal dari Pokmas Binaan dalam Program GTZ PROMIS-NT di Lahan Marginal Nusa Tenggara, 2004.
Kabupaten BPD LPM Pemdes
Lombok Timur 20 (18%) 26 (21%) 26 (22%)
Bima 41 (20%) 23 (7%) 71 (34%)
Dompu 55 (43%) 11 (6%) 88 (53%)
Sumba Timur 119 (61%) 84 (35) 125 (60%)
Ende 41 (34%) 17 (7%) 115 (60%)
Alor 102 (37%) 69 (14%) 344 (58%)
Total 276 161 425
Tabel 2. memperlihatkan keterlibatan anggota kelompok dampingan dalam struktur pemerintahan desa, meskipun bervariasi antar daerah, terutama sebagai anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) dan aparat Pemerintah Desa. Kendatipun dalam hal ini tidak ada desa pembanding, temuan pada Tabel 2 memberikan indikasi cukup kuat bahwa ada hubungan pemberdayaan masyarakat dengan partisipasi mereka dalam kelembagaan di desa.
Kami tidak melakukan pengkajian lebih dalam tentang fenomena ini untuk kepentingan scientific atau akademik; tetapi kami dapat memperkuat argumen adanya korelasi yang signifikan antara pemberdayaan masyarakat miskin dengan partisipasi mereka dalam pengambilan keputusan sebagaimana diperlihatkan pada tabel 3.
Tabel 3. Dampak Pemberdayaan Masyarakat Miskin terhadap Pengambilan Keputusan tentang kegiatan Pembangunan Desa dalam Program GTZ PROMIS-NT di Lahan Marginal Nusa Tenggara, 2004.
Desa binaan Desa kontrol
f % f %
Lombok Timur Ya 17 21 1 5
Tidak 60 75 19 95
Bima Ya 58 52 9 21
Tidak 47 42 28 65
Dompu Ya 39 39 7 14
Tidak 49 49 20 40
Sumba Timur Ya 29 25 28 47
Tidak 82 71 15 25
Ende Ya 47 52 11 24
Tidak 42 47 34 76
Alor Ya 60 60 18 36
Tidak 40 40 32 64
TOTAL 570 222
Total Ya 250 44 74 33
Tabel 3 mengindikasikan secara kontras bahwa masyarakat miskin di desa binaan (yang didampingi motivator) merasa lebih memiliki pengaruh yang berarti dalam menentukan keputusan-keputusan penting tentang kegiatan pembangunan desa dibanding desa-desa tetangga non-binaan (kontrol).