ARAH DAN STRATEGI REVITALISASI PERTANIAN Nizwar Syafa’at
Ahli Peneliti Utama pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian
PENDAHULUAN
Program Revitalisasi Pertanian yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 merupakan perwujudan komitmen pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Jusuf Kalla pada saat kampanye Pemilu 2004 yang dituangkan dalam “Buku Putih Pemilu 2004 - Membangun Indonesia yang Aman, Adil dan Sejahtera”. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa ada dua agenda dan program untuk membangun Indonesia yaitu: (1) Program perbaikan ekonomi dan kesejahteraan, yang meliputi revitalisasi pertanian dan pedesaan; revitalisasi kelautan dan wilayah pesisir;
reforma agraria dan daya saing ekonomi pedesaan; dan (2) Program penghapusan kemiskinan, yang meliputi pemantapan ketahanan pangan; revitalisasi pertanian dan pedesaan; revitalisasi kelautan dan wilayah pesisir; dan pengembangan infrastruktur pedesaan dan daerah terpencil. Dengan demikian, program revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK) merupakan janji presiden kepada masyarakat Indonesia untuk direalisasikan.
Pertimbangan mendasar yang melatarbelakangi pentingnya program RPPK tersebut adalah adanya fakta empiris bahwa sektor pertanian, perikanan dan perkebunan masih tetap berperan vital dalam mewujudkan tujuan nasional untuk memajukan kesejahteraan umum, namun vitalitas kinerjanya kini cenderung mengalami degradasi, sehingga perlu segera direvitalisasi secara sungguh-sungguh. Revitalisasi pertanian merupakan pernyataan politik pemerintah untuk menjadikan sektor pertanian sebagai prioritas pembangunan nasional.
Komitmen Presiden terhadap RPPK diimplimentasikan ke dalam program pembangunan ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu yaitu : strategi tiga jalur (triple track strategy) yang berazas pro-pertumbuhan (pro-growth), pro-kesempatan kerja (pro- employment) dan pro-masyarakat miskin (pro-poor). Strategi tiga jalur tersebut diimplementasikan ke dalam: (1) Peningkatan pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 persen per tahun melalui percepatan investasi dan ekspor; (2) Pembenahan sektor riil untuk mampu menyerap tambahan angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja baru; dan (3) Revitalisasi sektor pertanian dan pedesaan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan.
Secara rinci, sasaran program pembangunan nasional tersebut untuk menurunkan jumlah penduduk miskin menjadi hanya 8,2 persen pada tahun 2009 dari sekitar 16,6 persen pada tahun 2004. Jumlah pengangguran terbuka juga akan diusahakan untuk diturunkan dari sekitar 9,5 persen pada tahun 2004 menjadi 5,1 persen pada tahun 2009. Untuk mencapai sasaran tersebut, pertumbuhan ekonomi diupayakan meningkat dari 5,5 persen pada tahun 2005 menjadi 7,6 persen pada tahun 2009 atau rata-rata tumbuh 6,6 persen per tahun.
Investasi masyarakat diupayakan meningkat dari 16,0 persen tahun 2004 menjadi 24,4 persen tahun 2009, ekspor meningkat dari 5,5 persen menjadi 8,7 persen dan sektor pertanian (termasuk di dalamnya pertanian, perikanan, dan kehutanan), industri pengolahan non-migas, dan sektor lain masing-masing tumbuh rata-rata sekitar 3,5 persen, 8,6 persen, dan 6,8 persen per tahun. Makalah ini menyajikan uraian arah dan strategi RPPK yang difokuskan pada Revitalisasi Pertanian.
ARAH DAN MASA DEPAN PERTANIAN A. Pengertian Revitalisasi Pertanian
Revitalisasi pertanian mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual dalam arti menyegarkan kembali vitalitas memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian dalam pembangunan nasional dengan tidak mengabaikan sektor lain.
Revitalisasi bukan dimaksudkan membangun pertanian at all cost dengan cara-cara yang top-dwon sentralistik; bukan pula orientasi proyek untuk menggalang dana; tetapi revitalisasi adalah menggalang komitmen dan kerja sama seluruh stakeholder dan mengubah paradigma pola pikir masyarakat melihat pertanian tidak hanya urusan bercocok tanam yang hanya sekedar menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi. Pertanian mempunyai multi- fungsi yang belum mendapat apresiasi yang memadai dari masyarakat. Pertanian merupakan way of life dan sumber kehidupan sebagian besar masyarakat kita. Pertanian merupakan pemasok sandang, pangan, dan pakan untuk kehidupan penduduk desa dan kota; juga sebagai pemelihara atau konservasi alam yang berkelanjutan dan keindahan lingkungan untuk dinikmati (wisata-agro), sebagai penghasil biofarmaka dan penghasil energi seperti bio-diesel.
B. Arah Masa Depan Kondisi Petani Indonesia
Sampai saat ini petani masih menghadapi masalah dan kendala yang berkaitan dengan: (a) Akses sepenuhnya terhadap layanan dan sumberdaya produktif; (b) Perlindungan usahatani; (c) Keberdayaan dalam mengembangkan kegiatan yang dilakukan; dan (d) Rendahnya tingkat pendidikan, status gizi dan ketahanan pangan serta kesetaraan gender.
Dalam tahun 1993-2003 jumlah petani gurem (dengan luas garapan kurang dari 0,5 ha) meningkat dari 10,8 juta KK menjadi 13,7 juta KK (meningkat 2,6% per tahun).
Sementara itu, luas lahan semakin berkurang dan perkembangan kesempatan kerja di luar pertanian terbatas. Jumlah rumah tangga petani (RTP) menurut Sensus Pertanian (SP) 2003 mencapai 25,58 juta RTP, dan sekitar 40 persen RTP tergolong tidak mampu.
Kualitas SDM pertanian masih rendah. Menurut data BPS tahun 2002, tingkat pendidikan tenaga kerja pertanian yang tidak sekolah dan tidak tamat SD masih sekitar 35 persen, tamat SD 46 persen, dan tamat SLTP 13 persen. Dibandingkan dengan sektor non pertanian pada tahun yang sama, tingkat pendidikan tenaga kerja yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD 31 persen, tamat SLTP sekitar 20 persen, dan tamat SLTA 27 persen.
Status gizi penduduk Indonesia yang sebagian besar petani masih rendah, walaupun ada perbaikan dari waktu ke waktu. Kualitas konsumsi pada tahun 2002 baru mencapai skor 68,4 PPH (Pola Pangan Harapan). Namun demikian konsumsi energi sudah mencapai 90,3 persen dari AKG (Angka Kecukupan Gizi). Diskriminasi upah bagi wanita dan pria masih ditemui di sektor pertanian yang merugikan peran wanita dalam pembangunan pertanian.
Perlindungan usahatani juga rendah. Belum ada jaminan yang cukup memadai atas perlindungan usahatani mereka, keculai usahatani padi melalui pemberlakuan jamainan Harga Pembelian Pemerintah dan pengenaan tarif beras serta pemberian subsidi dan pengembangan teknologi.
Oleh karena itu, ke depan kondisi petani yang diharapkan adalah : (a) petani memilik akses sepenuhnya terhadap layanan dan sumberdaya produktif; (b) petani mendapat perlindungan usahatani; (c) petani memiliki keberdayaan dalam mengembangkan kegiatan yang dilakukan; dan (d) petani mempunyai tingkat pendidikan, status gizi dan ketahanan pangan serta kesetaraan gender yang cukup memadai sesuai dengan norma yang berlaku.
C. Arah Masa Depan Kondisi Sumberdaya Pertanian Indonesia
Sumberdaya lahan yang dipergunakan untuk produksi pertanian relatif terbatas.
Dalam dekade terakhir, luas lahan pertanian yang sudah diusahakan sekitar 17,19 persen dari total luas potensi lahan, yang terdiri dari 4,08 persen untuk areal perkebunan; 4,07 persen untuk lahan sawah; 2,83 persen untuk pertanian lahan kering dan 6,21 persen untuk ladang berpindah. Perkembangan luas lahan pertanian, terutama lahan sawah dan lahan kering (tegalan), sangat lambat, kecuali dibidang perkebunan (Gambar 1).
Gambar 1. Perkembangan Penggunaan Lahan Pertanian di Indonesia, 1996-2004 (BPS, Jakarta) Peningkatan jumlah penduduk tahun 2000-2003 sekitar 1,5 persen per tahun menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan terhadap sumberdaya lahan dan air. Luas rata- rata kepemilikan lahan sawah di Jawa dan Bali hanya 0,34 ha per rumah tangga petani.
Secara nasional jumlah petani gurem (petani dengan luas lahan garapan < 0,5 ha) meningkat dari 10,8 juta pada tahun 1993 menjadi 13,7 juta rumah tangga petani pada tahun 2003 dengan rata-rata peningkatan jumlah petani gurem sekitar 2,4 persen per tahun.
Konversi lahan pertanian terutama terjadi pada lahan sawah yang berproduktivitas tinggi, untuk dijadikan lahan permukiman dan industri. Hal ini disebabkan karena pada umumnya lahan sawah dengan produktivitas tinggi, seperti di jalur pantai utara Pulau Jawa dan di sekitar Bandung, mempunyai prasarana yang memadai untuk pembangunan sektor non pertanian. Konversi lahan sawah menjadi lahan non-pertanian dari tahun 1999-2002 mencapai 330.000 ha atau setara dengan 110.000 ha/tahun. Luas baku lahan sawah juga cenderung menurun. Antara tahun 1981-1999, neraca pertambahan lahan sawah seluas 1,6 juta ha. Namun antara tahun 1999 sampai 2002 terjadi penciutan luas lahan sawah seluas 0,4 juta ha karena tingginya angka konversi (Tabel 1).
Di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa terdapat sekitar 9 juta ha lahan terlantar yang dewasa ini ditutupi semak belukar dan alang-alang. Pemanfaatan lahan yang berpotensi ini secara bertahap akan dapat mengantarkan Indonesia tidak saja berswasembada produk pertanian, tetapi juga berpotensi untuk meningkatkan volume ekspor, apalagi jika insentif untuk petani dapat ditingkatkan. Di samping itu, sekitar 32 juta ha sumberdaya lahan, terutama di luar Pulau Jawa, sesuai dan berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.
Seperti halnya sumberdaya lahan, sumberdaya air juga semakin terbatas dan mengalami degradasi. Pertumbuhan penduduk dan industrialisasi telah menimbulkan kompetisi penggunaan sumberdaya air untuk pertanian dan non-pertanian. Pada kondisi demikian maka penggunanan air untuk pertanian biasanya selalu dikorbankan sebagai
prioritas terakhir. Selain itu, dalam dekade terakhir perhatian untuk memelihara jaringan irigasi juga menurun, yang berakibat pada penurunan intensitas tanam dan produktifitas pertanian. Untuk itu, peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi merupakan langkah penting dan utama bagi peningkatan produktifitas pertanian.
Berkaitan dengan revitalisasi pertanian, maka arah masa depan kondisi sumberdaya pertanian Indonesia adalah : (a) terciptanya akses petani terhadap lahan dan air serta meningkatkan rasio luas lahan per kapita melalui reformasi keagrariaan untuk, (b) terbentuknya pencadangan lahan abadi untuk pertanian sekitar 15 juta ha melalui pengendalian konversi, (c) terbentuknya fasilitasi terhadap pemanfaatan lahan (pembukaan lahan pertanian baru), serta (d) terciptanya suasana yang kondusif untuk pengembangan agroindustri di pedesaan sebagai sarana penyedia lapangan kerja dan peluang peningkatan pendapatan serta kesejahteraan keluarga petani.
Tabel 1. Neraca Luas Lahan Sawah Menurut Wilayah di Indonesia, 1981-2002 (Ha)
Wilayah Konversi Penambahan Neraca
Tahun 1981-1999
Jawa 1.002.055 518.224 -483.831
Luar Jawa 625.459 2.702.939 +2.077.480
Indonesia 1.627.514 3.221.163 +1.593.649
Tahun 1999-2002
Jawa 167.150 18.024 -107.482
Luar Jawa 396.009 121.278 -274.732
Indonesia 563.159 139.302 -423.857
D. Arah Masa Depan Produk dan Bisnis Pertanian
Menyadari nilai tambah yang diperoleh dari pengembangan produk olahan (hilir) jauh lebih tinggi dari produk primer, maka pendekatan pembangunan pertanian ke depan diarahkan pada pengembangan produk (product development), dan tidak lagi difokuskan pada pengembangan komoditas. Pengembangan nilai tambah produk dilakukan melalui pengembangan industri yang mengolah hasil pertanian primer menjadi produk olahan, baik produk antara (intermediate product), produk semi akhir (semi finished product) dan yang utama produk akhir (final product) yang berdayasaing.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, pengembangan agroindustri perdesaan diarahkan untuk: (a) Mengembangkan kluster industri, yakni industri pengolahan yang terintegrasi dengan sentra-sentra produksi bahan baku serta sarana penunjangnya, (b) Mengembangkan industri pengolahan skala rumah tangga dan kecil yang didukung oleh industri pengolahan skala menengah dan besar, dan (c) Mengembangkan industri pengolahan yang punya dayasaing tinggi untuk meningkatkan ekspor dan memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Agenda utama pengembangan agroindustri perdesaan adalah penumbuhan agroindustri untuk membuka lapangan kerja di perdesaan, dengan kegiatan utama: (a) Fasilitasi penerapan teknologi dan sarana pengolahan hasil pertanian di sentra-sentra produksi; (b) Pengembangan infrastruktur penunjang di perdesaan, seperti listrik, jalan, dan komunikasi; (c) Pengembangan akses terhadap permodalan; dan (d) Peningkatan mutu, efisiensi produksi dan pemasaran.
Dengan demikian masa depan produk dan bisnis pertanian adalah berupa produk berbasis agroindustri yang memiliki daya saing dan agroservice dengan kandungan teknologi tinggi.
STRATEGI DAN KEBIJAKAN A. Strategi dan Kebijakan Umum Jangka Panjang
Revitalisasi pertanian diarahkan untuk mewujudkan sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian, dengan sasaran sebagai berikut:
1) Terwujudnya Sistem Pertanian Industrial Yang Berdayasaing. Sistem pertanian industrial dicirikan oleh usaha pertanian bernilai tambah tinggi dan terintegrasi dalam satu rantai pasok (supply chain) berdasarkan relasi kemitraan sinergis dan adil dengan bertumpu pada sumberdaya nasional, kearifan lokal serta ilmu pengetahuan dan teknologi berwawasan lingkungan. Sistem pertanian industrial adalah sosok pertanian ideal yang merupakan keharusan agar usaha pertanian dapat bertahan hidup dan tumbuh berkembang secara berkelanjutan dalam tatanan lingkungan persaingan global yang makin ketat.
2) Mantapnya Ketahanan Pangan Secara Mandiri. Mantapnya ketahanan pangan secara mandiri berarti terpenuhinya pasokan pangan dan terjaminnya akses pangan sesuai kebutuhan bagi seluruh masyarakat dengan mengandalkan produksi dalam negeri dan kemampuan daya beli masyarakat. Upaya pemantapan ketahanan pangan tidak boleh merugikan, malah harus didasarkan sebagai bagian integral dari upaya peningkatan kesejahteraan petani.
3) Terciptanya Kesempatan Kerja Penuh Bagi Masyarakat Pertanian. Dalam jangka panjang diharapkan seluruh angkatan kerja pertanian mendapatkan pekerjaan penuh sehingga pengangguran terbuka maupun terselubung tidak lagi terjadi secara permanen.
Faktor kunci untuk itu ialah meningkatkan kesempatan kerja di pedesaan dan mengurangi tekanan penyerapan tenaga kerja di pertanian.
4) Terhapusnya Masyarakat Pertanian dari Kemiskinan dan Tercapainya Pendapatan Petani US$ 4500/kapita/tahun. Berkurangnya jumlah masyarakat tani miskin dan meningkatnya pendapatan petani merupakan prasyarat terwujudnya kesejahteraan masyarakat tani yang menjadi sasaran akhir pembangunan pertanian. Ini hanya dapat diwujudkan melalui peningkatan skala usahatani, peningkatan produktivitas dan pengurangan tekanan penduduk pada usaha pertanian.
Adapun arah kebijakan yang akan ditempuh dalam pembangunan pertanian jangka panjang adalah: (a) Membangun basis bagi partisipasi petani; (b) Meningkatkan potensi basis produksi dan skala usaha pertanian; (c) Mewujudkan pemenuhan kebutuhan sumberdaya insani pertanian yang berkualitas; (d) Mewujudkan pemenuhan kebutuhan infrastruktur pertanian; (e) Mewujudkan sistem pembiayaan pertanian tepat guna; (f) Mewujudkan sistem inovasi pertanian; (g) Penyediaan sistem insentif dan perlindungan bagi petani; (h) Mewujudkan sistem usahatani bernilai tinggi melalui intensifikasi, diverdifikasi dan pewilayahan pengembangan komoditas unggulan; (i) Mewujudkan Agroindustri berbasis pertanian domestik di pedesaan; (j) Mewujudkan sistem rantai pasok terpadu berbasis kelembagaan pertanian yang kokoh; (k) Menerapkan praktek pertanian dan manufaktur yang baik; dan (l) Mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih dan berpihak kepada petani dan pertanian.
B. Dukungan Kebijakan Lintas Sektoral
Beberapa dukungan kebijakan yang diperlukan untuk merevitalisasi sektor pertanian yaitu: (a) Kebijakan ekonomi makro yang kondusif, yaitu inflasi yang rendah, nilai tukar yang stabil dam suku bunga riil positif; (b) Pembangunan infrastruktur pertanian, meliputi pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, perluasan lahan pertanian, terutama di luar Jawa, pencegahan konversi lahan terutama di Jawa, pengembangan jalan usahatani dan jalan produksi serta infrastruktur lainnya; (c) Kebijakan pembiayaan untuk mengembangkan lembaga keuangan yang khusus melayani sektor pertanian, lembaga keuangan mikro, pembiayaan pola syaraiah, dan lainnya; (d) Kebijakan perdagangan yang memfasilitasi kelancaran pemasaran,
baik di pasar dalam negeri maupun ekspor. Selain itu, untuk melindungi sektor pertanian dari persaingan di pasar dunia, diperlukan: (i) memperjuangkan konsep Strategic Product (SP) dalam forum WTO; (ii) penerapan tarif dan hambatan non-tarif untuk komoditas-komoditas beras, kedelai, jagung, gula, beberapa produk hortikultura dan peternakan; (e) Kebijakan pengembangan industri yang lebih menekankan pada agroindustri skala kecil di perdesaan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan pendapatan petanai; (f) Kebijakan investasi yang kondusif untuk lebih mendorong minat investor dalam sektor pertanian; (g) Pembiayaan pembangunan yang lebih memprioritaskan anggaran untuk sektor pertanian dan sektor-sektor pendukungnya; (h) Perhatian pemerintah daerah pada pembangunan pertanian meliputi:
infrastuktur pertanian, pemberdayaan penyuluh pertanian, pengembangan instansi lingkup pertanian, menghilangkan berbagai pungutan yang mengurangi dayasaing pertanian, serta alokasi APBD yang memadai.
C. Strategi dan Kebijakan Khusus Jangka Panjang
1. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ketahanan Pangan
Pokok-pokok kebijakan ketahanan pangan yang harus mendapat prioritas dalam pembangunan jangka panjang yaitu; (a) Mengembangkan sistem pengaturan perdagangan pangan yang adil, (b) Melakukan pengendalian konversi lahan, (c) Meningkatkan produktivitas usaha pangan, (d) Peningkatan pengelolaan konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan berimbang, (e) Meningkatkan kutu dan keamanan pangan, (f) Melakukan antisipasi terhadap dinamika perubahan iklim dan sumberdaya air, (g) Meningkatkan pengelolaan pertumbuhan penduduk dan (h) Mengembangkan aliansi solidaritas masyarakat mengatasi masyarakat mengatasi kerawanan pangan.
Langkah-langkah kebijakan operasional pembangunan ketahanan pangan nasional dilakukan dengan: (a) Pengembangan produksi dan ketersediaan pangan, melalui pemeliharaan dan peningkatan kapasitas produksi pangan nasional, peningkatan produksi pangan domestik meliputi volume, kualitas dan keragamannya, serta pengembangan teknologi; (b) Distribusi dan akses pangan melalui pemanfaatan wahana perdagangan internasional, dilaksanakan dengan menfasilitasi dan mengatur ekspor, impor pangan, yang berorientasi pasar dan berpihak pada keseimbangan kepentingan produsen maupun konsumen; serta peningkatan efesiensi sistem distribusi pangan; (c) Pengelolaan terhadap permintaan dan konsumsi pangan melalui pengembangan konsumsi pangan beragam, bergizi dan berimbang serta; peningkatan penghasilan dan daya beli masyarakat terhadap pangan.
2. Strategi dan Kebijakan Pembiayaan Pertanian
Strategi yang ditempuh dalam rangka mengembangkan pembiayaan pertanian adalah sebagai berikut: (a) Menyempurnakan kebijaksanaan pembiayaan yang ada sehingga dapat meningkatkan aksesibilitas petani dan pelaku agribisnis terhadap sumber pembiayaan; (b) Mengembangkan pola subsidi bunga kredit agar kredit perbankan terjangkau oleh petani kecil di pedesaan; (c) Mengembangkan pola penjaminan kredit dan pola pendampingan bagi UMKM agribisnis; (d) Mengembangkan pembiayaan pola bagi hasil/syariah untuk pembiayaan sektor pertanian; (e) Mengembangkan lembaga keuangan khusus pertanian dan lembaga keuangan mikro (LKM) pedesaan untuk pembiayaan UMKM agribisnis; (f) Mengembangkan skim kredit yang tersedia menjadi skim kredit agribisnis yang mudah diakses oleh petani; (g) Mensosialisasikan sumber-sumber pembiayaan yang telah ada; (h) Meningkatkan kerja sama dengan lembaga keuangan dan negara donor di luar negeri untuk pengembangan pembiayaan agribisnis; dan (i) Meningkatkan partisipasi/memobilisasi dana masyarakat untuk pengembangan agribisnis.
3. Strategi dan Kebijakan Pengembangan Ekspor Produk Pertanian
Target ekspor komoditas pangan, perkebunan, dan peternakan tahun 2005 diharapkan dapat mencapai 7,8 miliar dollar AS. Nilai expor diharapkan tumbuh minimal 5 persen per tahun, sehingga tahun 2009 total ekspor dapat mencapai 12 miliar dollar AS.
Strategi pengembangan ekspor yang perlu ditempuh adalah:
a. Meningkatkan daya saing produksi dalam negeri melalui: (i) Pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian untuk mampu mengakses teknologi pengolahan hasil dan informasi pasar; (ii) Menumbuh kembangkan industri pengolahan hasil pertanian di perdesaan untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah hasil pertanian, menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat; (iii) Meningkatkan volume, nilai dan keragaman produk ekspor baik segar maupun olahan; (iv) Penumbuhan kawasan agroindustri melalui Pelayanan Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P3HP); (v) Pengembangan sarana dan prasarana pasar termasuk cold storage dan packing house; (vi) Harmonisasi tarif, pajak/pungutan ekspor & standardisasi mutu.
b. Peningkatkan pangsa pasar ekspor melalui: (i) Pengembangan informasi pasar &
market intelligence; (ii) Penguatan diplomasi, negosiasi dalam membuka pasar; (iii) Perluasan akses pasar melelui promosi dan pengembangan Free Trade Area (FTA); (iv) Peningkatan kerjasama internasional; (v) Peningkatan kemampuan negosiasi dan diplomasi (sekretariat WTO, training, magang), dan (vi) Sosialisasi hasil-hasil negosiasi
& diplomasi.
4. Strategi dan Kebijakan Pengembangan Produk Pertanian Baru
Untuk mempercepat peningkatan nilai tambah yang pada gilirannya akan berdampak kepada peningkatan kesejahteraan pelakunya, maka strategi pengembangan komoditi pertanian harus difokuskan kepada produk hilir agroindustri. Mengingat besarnya investasi untuk mengembangkan produk hilir, maka komoditi yang akan dikembangkan produk hilirnya harus dipilih yang mempunyai nilai tambah besar, investasinya tidak terlalu besar, pasar produknya cukup luas, penguasaan sumberdaya manusia mencukupi dan tersedianya berbagai prasyarat normatif lain yang mampu dipenuhi. Untuk itu pengembangan komoditi akan diprioritaskan kepada komoditi sebagai berikut: (1) Padi; (2) Jagung; (3) Kedelai; (4) Pisang; (5) Jeruk; (6) Bawang merah; (7) Anggrek; (8) Kelapa Sawit; (9) Karet; (10) Kakao;
(11) Kelapa; (12) Tebu; (13) Sapi; (14) Ayam
IMPLEMENTASI REVITALISASI PERTANIAN DALAM PROGRAM DEPARTEMEN PERTANIAN, 2004-2009
A. Sasaran Pembangunan 2005-2009
Sasaran pembangunan pertanian 2005-2009 dikelompokan menjadi tiga yaitu:
1. PDB, Investasi, dan Kesempatan Kerja
(1) Selama periode 2005-2009 target pertumbuhan PDB sektor pertanian dalam arti sempit meningkat dari 2,97 persen pada tahun 2005 menjadi 3,58 persen pada tahun 2009 atau rata-rata meningkat 3,29 persen. Target pertumbuhan tersebut di atas pertumbuhan tahun 2004 yang hanya mencapai sekitar 2 persen. Berdasarkan harga konstan tahun 2000, PDB sektor pertanian akan meningkat dari Rp 198 trilyun pada tahun 2005 menjadi Rp 226 trilyun pada tahun 2009. Rincin PDB menurut subsektor disajikan pada Tabel 1.
(2) Selama periode 2005-2009, dengan target PDB sektor pertanian seperti di atas, total investasi yang dibutuhkan sektor pertanian sebesar Rp 77,07 dengan rata-rata Rp 14,40 trilyun per tahun. Rincin kebutuhan investasi menurut subsektor disajikan pada Tabel 1.
(3) Selama periode 2005-2009, penyerapan tenaga kerja sektor pertanian diproyeksikan meningkat dari 41,3 juta orang pada`tahun 2005 menjadi 44,5 juta orang pada tahun 2009. Penyerapan tenaga kerja sektor pertanian pada tahun 2005 sedikit lebih besar dibanding tahun 2004 yang hanya mencapai 39 juta orang. Kesempatan kerja yang diciptakan sektor pertanian pada tahun 2009 sebesar 97,47 persen dari target kesempatan kerja sektor pertanian umum (pertanian, kehutanan dan perikanan) adalah 42,19 persen dari target kesempatan kerja nasional. Rincin penyerapan tenaga kerja menurut subsektor disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Perkiraan PDB, Kebutuhan Investasi, dan Penciptaan Kesempatan Kerja menurut Subsektor Pertanian di Indonesia, 2005-2009
Uraian Subsektor Sektor
Pertanian T. Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan
PDB (Rp trilyun)
2005 77 46 48 28 198
2009 79 53 61 33 226
Pertumb. PDB (%/th)
2005 0,43 2,86 6,01 4,11 2,97
2009 1,08 4,57 6,49 4,58 3,58
Rataan 0,89 3,38 6,27 4,37 3,29
Investasi (Rp trilyun)
2005-2009 30,05 9,92 20,52 16,12 77,07
Per th 5,08 1,98 4,10 3,22 14,40
Penyerapan TK (jt orang)
2005 27,2 3,4 6,3 4,3 41,3
2009 25,9 4,9 7,9 5,8 44,5
Relatif 1) (%) 58,18 11,05 17,74 13,02 97,473)
Relatif 2) (%) 56,70 10,77 17,29 12,69 42,194)
Keterangan: 1) Kesempatan kerja tahun 2009 relatif terhadap kesempatan kerja sektor pertanian
2) Kesempatan kerja tahun 2009 relatif terhadap kesempatan kerja sektor pertanian nasional
3) Kesempatan kerja tahun 2009 relatif terhadap kesempatan kerja pertanian umum
4) Kesempatan kerja tahun 2009 relatif terhadap kesempatan kerja nasional
2. Ketahanan Pangan
(1) Selama periode 2005-2009, pertumbuhan produksi tanaman pangan diproyeksikan mengalami peningkatan berkisar 0,35 – 6,50 persen per tahun. Pada periode yang sama pertumbuhan produksi tanaman hortikultura dan perkebunan diproyeksikan mengalami peningkatan masing-masing berkisar 2,94 – 8,41 persen dan 0,79 - 7,09 persen per tahun.
Sementara pertumbuhan produksi peternakan diproyeksikan mengalami peningkatan berkisar 0,08–10,25 persen per tahun. Secara rinci proyeksi produksi menurut komoditas pada masing-masing subsektor disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Proyeksi Produksi menurut Komoditas pada masing-masing Subsektor Pertanian di Indonesia, 2005- 2009
Subsektor Tahun Pertumbuhan
(%/th)
2005 2009
A. Tanaman Pangan
1. Padi 55,03 57,71 1,21
2. Jagung 11,82 13,97 4,23
3. Kedelai 0,78 1,00 6,50
4. Kacang Tanah 0,83 0,85 0,48
5. Ubi Kayu 19,57 19,90 0,39
6. Ubi Jalar 1,88 1,91 0,35
B. Hortikultura
1. Kentang 1,05 1,21 3,68
2. Cabai 1,11 1,24 2,94
3. Bawang Merah 0,82 1,10 7,65
4. Kubis 1,40 1,61 7,65
5. Tomat 0,73 0,87 4,64
6. Wortel 0.38 0.44 4,17
7. Pisang 4,53 6,07 7,43
8. Mangga 1,68 2,23 7,35
9. Jeruk 1,62 1,84 3,37
10. Durian 0,82 1,15 8,41
11. Pepaya 0,67 0,85 6,12
12. Nenas 0,74 0,93 5,83
13. Alpukat 0,30 0,39 6,83
C. Perkebunan
1. Kelapa Sawit 13,15 16,74 6,21
2. Karet 1,95 2,34 4,79
3. Kakao 0,64 0,79 4,79
4. Kopi 0,75 0,89 5,30
5. Kelapa 3,29 3,39 0,79
6. Lada 0,10 0,13 6,48
7. Tembakau 0,23 0,31 7,03
8. Gula 2,16 2,85 7,09
D. Peternakan
1. Daging Sapi 0,39 0,44 3,01
2. Daging Kerbau 0,046 0,047 0,68
3. Daging Kuda 1,59 1,60 0,08
4. Kambing 0,07 0,08 2,00
5. Daging Domba 0,09 0,10 3,02
6. Daging Babi 0,19 0,21 2,40
7. Daging Unggas 1,52 2,01 7,61
8. Telur 1,14 1,60 8,74
9. Susu 0,66 0,98 10,25
(2) Selama periode 2005-2009 konsumsi bahan pangan utama (beras, jagung, kedelai dan gula) diproyeksikan mengalami peningkatan berkisar 1,21 – 3,57 persen per tahun.
Secara rinci perkembangan konsumsi menurut komoditas adalah sebagai berikut:
a. Konsumsi beras akan meningkat dari 36,08 juta ton pada tahun 2005 menjadi 37,96 juta ton pada tahun 2009 atau rata-rata meningkat 1,21 persen per tahun. Rata-rata peningkatan konsumsi tersebut sama dengan rata-rata peningkatan produksi. Neraca mengalami defisit yang cenderung meningkat selama 2005-2009 yaitu dari 313 ribu ton pada tahun 2005 menjadi 445 ribu ton pada tahun 2009. Defisit tersebut sangat tipis, yaitu sekitar 0,73 – 1,17 persen atau rata-rata 0,89 persen dari konsumsi.
b. Konsumsi jagung akan meningkat dari 12,14 juta ton pada tahun 2005 menjadi 13,72 juta ton pada tahun 2009 atau rata-rata meningkat 3,01 persen per tahun. Rata- rata peningkatan konsumsi terrsebut lebih lambat dibanding dengan rata-rata peningkatan produksi sebesar 4,23 persen per tahun. Neraca mengalami defisit yang cenderung menurun yaitu dari 320 ribu ton pada tahun 2005 menjadi 14 ribu ton pada tahun 2007 dan setelah itu mengalami surplus yang meningkat dari 116 ribu
ton pada tahun 2008 menjadi 254 ribu ton pada tahun 2009. Defisit dan surplus tersebut masih tipis yang masing-masing merupakan 0,11 – 2,64 persen dan 0,87 – 1,82 persen dari konsumsi.
c. Konsumsi kedelai akan meningkat dari 2,39 juta ton pada tahun 2005 menjadi 2,57 juta ton pada tahun 2009 atau rata-rata meningkat 1,74 persen per tahun. Rata-rata peningkatan konsumsi tersebut lebih lambat dibanding dengan rata-rata peningkatan produksi 6,50 persen per tahun. Neraca mengalami defisit yang cenderung menurun selama 2005-2009 yaitu dari 1,61 juta ton pada tahun 2005 menjadi 1,57 juta ton pada tahun 2009. Defisit tersebut masih sangat besar yang merupakan 61,06–67,45 persen atau rata-rata 64,27 persen dari konsumsi.
d. Konsumsi gula akan meningkat dari 3,30 juta ton pada tahun 2005 menjadi 3,82 juta ton pada tahun 2009 atau rata-rata meningkat 3,57 persen per tahun. Rata-rata peningkatan konsumsi tersebut lebih lambat dibanding dengan rata-rata peningkatan produksi 7,09 persen per tahun. Neraca mengalami defisit yang cenderung menurun selama 2005-2009 yaitu dari 1,13 juta ton pada tahun 2005 menjadi 0,97 juta ton pada tahun 2009. Defisit tersebut masih cukup besar yang merupakan 25,5–34,4 persen atau rata-rata 29,79 persen dari konsumsi.
(3) Sasaran pembangunan pertanian 2005-2009 pada aspek diversifikasi konsumsi pangan perlu memperhatikan Pola Pangan Harapan (PPH) yaitu meningkatnya keanekaragaman konsumsi pangan dan menurunnya ketergantungan pada satu jenis pangan pokok tertentu. Sasaran PPH pada tahun 2009 adalah 96,6 persen dengan kontribusi padi- padian maksimal 51,6 persen, lemak dan minyak 10 persen, sedangkan kontribusi minimal untuk umbi-umbian adalah 5,7 persen, pangan hewani 11,2 persen, buah/biji berminyak 3 persen, kacang-kacangan 4,8 persen, gula 5 persen, sayur dan buah 5,7 persen dan sumber pangan lainnya 3 persen. Pencapaian sasaran PPH sebesar 100 persen akan dicapai pada tahun 2010 sesuai dengan sasaran Indonesia sehat 2010.
3. Nilai Tambah dan Dayasaing
(1) Selama periode 2005-2009 keragaman produk olahan komoditas pertanian diproyeksikan meningkat rata-rata 5 persen per tahun.
(2) Selama periode 2005-2009 nilai ekspor komoditas pertanian juga diproyeksikan meningkat dengan laju 11,34 persen per tahun, lebih tinggi dibanding laju nilai impor yang hanya mencapai 3,91 persen per tahun. Dengan kondisi demikian, neraca perdagangan diproyeksikan meningkat dari U$ 3,9 milyar pada tahun 2005 menjadi U$
7,7 milyar pada tahun 2009 atau meningkat rata-rata sebesar 17,11 persen per tahun.
Total devisa bruto yang mampu disumbangkan sektor pertanian diproyeksikan meningkat dari US 7,8 milyar pada tahun 2005 menjadi US$ 12,3 milyar pada tahun 2009.
(3) Selama periode 2005-2009 akan terjadi peningkatan efisiensi produksi yang dicerminkan oleh menurunnya biaya produksi per unit dengan laju 5 persen per tahun.
4. Kesejahteraan Petani
(1) Selama periode 2005-2009, produktivitas tenaga kerja sektor pertanian diperkirakan meningkat dari Rp 4,80 juta pada tahun 2005 menjadi Rp 5,08 juta per kapita per tahun atau rata-rata meningkat sebesar 1,40 persen per tahun.
(2) Selama periode 2005-2009 persentase penduduk miskin di perdesaan mengalami penurunan dari 18,90 persen pada tahun 2005 menjadi 15,02 persen pada tahun 2009.
B. Program
Program Pembangunan Pertanian Tahun 2005-2009 ada tiga yaitu; (1) Program Peningkatan Ketahanan Pangan, (2) Program Pengembangan Agribisnis; dan (3) Program Peningkatan Kesejahteraan Petani.
1. Program Peningkatan Ketahanan Pangan
Ketahanan pangan diartikan sebagai terpenuhinya pangan dengan ketersediaan yang cukup, tersedia setiap saat di semua daerah, mudah diperoleh rumah tangga, aman dikonsumsi dengan harga yang terjangkau. Ketahanan pangan mencakup komponen: (1) ketersediaan pangan, (2) distribusi dan konsumsi pangan, (3) penerimaan oleh masyarakat, (4) diversifikasi pangan, dan (5) keamanan pangan.
Program peningkatan ketahanan pangan merupakan fasilitasi bagi terjaminnya masyarakat untuk memperoleh pangan yang cukup setiap saat, sehat dan halal. Ketahanan pangan rumahtangga berkaitan dengan kemampuan rumahtangga untuk dapat akses terhadap pangan di pasar. Dengan demikian ketahanan pangan rumahtangga dipengaruhi oleh kemampuan daya beli rumahtangga. Sejalan dengan itu maka peningkatan pendapatan rumahtangga merupakan faktor kunci dari peningkatan ketahanan pangan rumahtangga.
Pangan dalam arti luas mencakup pangan yang berasal dari tanaman, ternak dan ikan untuk memenuhi kebutuhan atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral serta turunannya yang bermanfaat bagi pertumbuhan kesehatan.
Tujuan program ketahanan pangan adalah untuk memfasilitasi terjaminnya masyarakat untuk memperoleh pangan yang cukup setiap saat, sehat dan halal. Sasaran yang ingin dicapai adalah: (1) dicapainya ketersediaan pangan tingkat nasional, regional dan rumah tangga yang cukup, aman dan halal, (2) meningkatnya keragaman produksi dan konsumsi pangan masyarakat, dan (3) meningkatnya kemampuan masyarakat dalam mengatasi masalah kerawanan pangan. Khusus untuk beras, BAPPENAS menetapkan sasaran pemenuhan konsumsi beras dari produksi dalam negeri sebesar 90-95 persen. Selain itu diharapkan pula ada peningkatan dalam konsumsi pangan yang berasal dari produk ternak (daging, telur, susu).
Untuk mencapai tujuan dan sasaran di atas, Program Peningkatan Ketahanan Pangan dijabarkan lebih lanjut ke dalam beberapa subprogram, yaitu: (1) Peningkatan Produksi dan Ketersediaan Pangan, (2) Pengembangan Diversifikasi Produksi dan Konsumsi Pangan, (3) Penerapan Standar Kualitas dan Keamanan Pangan, (4) Penurunan Tingkat Kerawanan Pangan, (5) Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Pertanian Mendukung Ketahanan Pangan, dan (6) Pengembangan Manajemen Pembangunan Ketahanan Pangan.
Rencana tindak program peningkatan ketahanan pangan, antara lain: (1) Intensifikasi dan ekstensifikasi produksi komoditas pangan pokok, (2) Pengembangan sumber pangan alternatif lokal, (3) Pengembangan pola konsumsi pangan lokal non-beras (4) Pengembangan dan perbaikan jaringan irigasi, (5) Pengembangan jaringan usahatani, (6) Fasilitasi sistem penyediaan sarana produksi, (7) Pengembangan jaringan permodalan, (8) Pengembangan perbenihan, (9) Fasilitasi subsidi input produksi, (10) Pengembangan jasa alsin pertanian, (11) Perumusan dan penetapan kebijakan harga pangan, (12) Pengelolaan tata niaga pangan, (13) Pengamanan produksi pertanian dan perkarantinaan, (14) Penyusunan dan penerapan standar kualitas dan keamanan pangan, (15) Pengembangan sistem kewaspadaan pangan dan gizi, (16) Penguatan lembaga ketahanan pangan masyarakat, (17) Pengembangan teknologi pengurangan kehilangan hasil, (18) Pengembangan teknologi sumberdaya alam, (19) Pengembangan teknologi pengolahan pangan tradisional, (20) Pengembangan teknologi perbaikan mutu dan keamanan pangan, dan (21) Penyelarasan kebijakan dan program peningkatan ketahanan pangan.
2. Program Pengembangan Agribisnis
Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, maka arah yang perlu ditempuh adalah memperluas cakupan kegiatan ekonomi produktif petani serta peningkatan efisiensi dan dayasaing. Perluasan kegiatan ekonomi yang memungkinkan dilakukan adalah: (1) peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan perbaikan kualitas; dan (2) mendorong kegiatan usahatani secara terpadu mencakup beberapa komoditas (sistem integrasi tanaman- ternak atau sistem integrasi tanaman-ternak-ikan).
Peningkatan efisiensi dan dayasaing dilakukan dengan pendekatan agribisnis yang mencakup agribisnis hulu, kegiatan usahatani, agribisnis hilir dan jasa penunjang.
Berdasarkan komoditas, pengembangan agribisnis mencakup komoditas-komoditas unggulan lingkup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan maupun peternakan. Walaupun komoditas yang perlu dikembangkan akan bervariasi antar daerah sesuai potensinya, namun secara nasional prioritas pengembangan difokuskan pada komoditas yang memiliki kontribusi dan potensi yang cukup besar dilihat dari aspek pemenuhan ketahanan pangan, penyediaan bahan baku industri, peningkatan ekspor atau substitusi impor maupun perluasan kesempatan kerja dan pengentasan kemiskinan.
Dengan demikian, program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi: (1) berkembangnya usaha pertanian agar produktif dan efisien menghasilkan berbagai produk pertanian yang memiliki nilai tambah dan dayasaing yang tinggi baik di pasar domestik maupun internasional, dan (2) meningkatnya kontribusi sektor pertanian dalam perekonomian nasional, terutama melalui peningkatan devisa dan pertumbuhan PDB.
Sasaran dari program ini adalah: (1) berkembangnya usaha di sektor hulu, usahatani (on-farm), hilir (agroindustri) dan usaha jasa penunjang; (2) meningkatnya pertumbuhan PDB sektor pertanian; dan (3) meningkatnya ekspor produk pertanian segar dan olahan.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran di atas, Program Pengembangan Agribisnis dijabarkan lebih lanjut ke dalam beberapa subprogram, yaitu: (1) Peningkatan Produksi, Kualitas Produk Pertanian dan Efisiensi Usaha, (2) Pengembangan Agroindustri Perdesaan, (3) Pengembangan Pemasaran Produk Pertanian, (4) Pengembangan Sarana dan Prasarana Pertanian, (5) Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Pertanian untuk Mendorong Pengembangan Agribisnis, (6) Pengembangan Manajemen Pembangunan Agribisnis, dan (7) Sub Program Khusus Pengembangan Pertanian Komersial.
Rencana tindak program pengembangan agribisnis, antara lain: (1) Penyusunan peta pewilayahan komoditas, (2) Pengembangan sentra produksi komoditas unggulan, (3) Penyuluhan, pendampingan, pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, (4) Pengkajian aspek sosial ekonomi dan kebijakan komoditas pertanian komersial, (5) Pengembangan varietas/jenis ternak unggul, (6) Pengembangan teknologi perbaikan sistem produksi komoditas pertanian, (7) Pengembangan teknologi mekanisasi pertanian untuk peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta pemanfaatan sumberdaya energi terbarukan, (8) Pengembangan inovasi pertanian spesifik lokasi, (9) Pemanfaatan bioteknologi untuk perbaikan tanaman dan ternak, (10) Penerapan teknologi pasca panen, (11) Pengembangan agroindustri di kawasan sentra produksi, (12) Pengembangan komoditas komersial, (13) Pengembangan kelembagaan dan informasi pasar, (14) Bimbingan teknis sistem produksi pertanian (Good Agriculture Practices/GAP), (15) Pengamanan produksi pertanian dan perkarantinaan, (16) Penyesuaian kebijakan tarif impor dan subsidi ekspor, (17) Pengembangan kerjasama dan perdagangan internasional, (18) Sosialisasi dan penerapan peraturan perkarantinaan dan SPS (sanitary and phyto-sanitary), (19) Pengembangan lembaga sistem jaminan mutu, (20) Pengembangan pola kemitraan usaha di bidang pertanian, (21) Pengembangan pola contract farming, (22) Pengembangan promosi produk pertanian, (23) Pengembangan infrastruktur perdesaan, dan (24) Penyelarasan kebijakan dan program pengembangan agribisnis.
3. Program Peningkatan Kesejahteraan Petani
Kesejahteraan meliputi dimensi yang luas, namun untuk lebih menyederhanakan persoalan, definisi kesejahteraan dalam dokumen ini dibatasi pada kesejahteraan ekonomi atau lebih spesifik lagi pendapatan rumah tangga. Segala upaya yang dilakukan dalam pembangunan pertanian selayaknya didorong untuk mewujudkan kesejahteraan petani;
disamping tujuan-tujuan lainnya.
Program Peningkatan Kesejahteraan Petani bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan pendapatan petani melalui pemberdayaan, peningkatan akses terhadap
sumberdaya usaha pertanian, pengembangan kelembagaan, dan perlindungan terhadap petani. Sedangkan sasaran yang ingin dicapai adalah: (1) meningkatnya kapasitas dan posisi tawar petani, (2) semakin kokohnya kelembagaan petani, (3) meningkatnya akses petani terhadap sumberdaya produktif; dan (4) meningkatnya pendapatan petani.
Untuk mencapai tujuan dan sasaran di atas, Program Peningkatan Kesejahteraan Petani dijabarkan lebih lanjut ke dalam beberapa subprogram, yaitu: (1) Pemberdayaan Petani, (2) Pengembangan SDM Aparatur, (3) Pengembangan Kelembagaan, (4) Peningkatan Akses Petani terhadap Sumberdaya Produktif, (5) Perlindungan Petani dan Pertanian, (6) Pengembangan diversifikasi usaha rumahtangga, (7) Pengkajian dan Percepatan Diseminasi Inovasi Pertanian, (8) Upaya Khusus Penanggulangan Kemiskinan, dan (9) Pengembangan Manajemen Peningkatan Kesejahteraan Petani.
Rencana tindak program peningkatan kesejahteraan petani antara lain: (1) Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan petani, (2) Peningkatan kewirausahaan petani melalui penyetaraan pendidikan, (3) Pendidikan tingkat menengah untuk generasi muda tani, (4) Penguatan kelembagaan penyuluhan dan pertanian lain di perdesaan, (5) Pengembangan diversifikasi usaha rumahtangga berbasis pertanian, (6) Advokasi penataan hak pemilikan, sertifikasi dan pencegahan konversi lahan, (7) Perumusan kebijakan penataan, pemanfaatan dan pajak progresif lahan, (8) Pemberian insentif usaha dan promosi investasi, (9) Pengembangan tata guna air dan konservasi lahan, (10) Fasilitasi investasi dan kemitraan usaha, (11) Perlindungan usaha pertanian, (12) Perumusan dan advokasi kebijakan perlindungan petani, (13) Pengkajian teknologi spesifik lokasi, (14) Pengembangan model kelembagaan usahatani berbasis inovasi pertanian (15) Peningkatan infrastruktur perdesaan, (16) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam perumusan kebijakan, (17) Penyelasaran kebijakan dan program dalam peningkatan kesejahteraan petani, dan (18) Koordinasi kebijakan nasional penanggulangan kemiskinan.
PENUTUP
Tujuan jangka panjang adalah untuk mewujudkan sistem pertanian industrial berdaya saing, berkeadilan dan berkelanjutan guna menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat pertanian, dimana dalam operasionalnya dibutuhkan serangkaian kebijakan baik dari Departemen pertanian maupun di luar Departemen Pertanian. Oleh karena itu, keberhasilan sasaran revitalisasai pertanian sangat ditentukan oleh formulasi kebijakan yang sinergis antar departemen dan kooordinasi pelaksanaannya.
Revitalisasi pertanian merupakan pekerjaan besar yang harus dilaksanakan secara bertahap. Oleh karena itu, sasaran program revitalisasi jangka panjang perlu dijabarkan ke dalam sasaran program lima tahunan secara konsisten. Dengan pola seperti itu, diharapkan program lima tahunan dari suatu departemen,khususnya Departemen Pertanian harus taat azas agar menjajdi program berkelanjutan.
Sumber makalah ini diambil dari tiga dukomen formal yaitu : (1) Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; (2) Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang – Departemen Pertanian; (3) Rencana Strategis Pembangunan Pertanian, 2005-2009 – Departemen Pertanian.
PENYEDIAAN DAN DISEMINASI INOVASI TEKNOLOGI PERTANIAN UNTUK PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI DI LAHAN MARGINAL:
PENINGKATAN MUTU PARTISIPASI
Prabowo Tjitropranoto Co Team Leader PFI3P/P4MI Co
PENDAHULUAN
Telah banyak kritik dilontarkan bahwa dalam pembangunan pertanian yang lalu, yang memberi fokus lebih banyak diberikan pada lahan sawah beririgasi. Penyediaan teknologi yang lebih banyak untuk lahan sawah dan lahan yang memperoleh curah hujan yang cukup untuk budidaya tanaman dan pemeliharaan ternak. Inovasi teknologi padi dan palawija juga lebih banyak tersedia untuk lahan sawah. Inovasi teknologi pertanian untuk lahan kering dan tadah hujan, terutama di lahan marginal relatif kurang dibandingkan dengan yang untuk lahan sawah. Berkaitan dengan ini juga kegiatan-kegiatan bimbingan untuk petani, seperti penyuluhan pertanian lebih berorientasi pada petani sawah, mengingat kegiatan sejenis penyuluhan pertanian memang diarahkan sebagai kegiatan penunjang pembangunan pertanian melalui alih teknologi pertanian yang dianjurkan.
Petani (dalam arti luas termasuk peternak, pekebun, dan petani pengelola perikanan air tawar) di luar wilayah persawahan, seperti petani yang berada di lahan marginal, kurang memperoleh perhatian sebesar mereka yang ada di wilayah persawahan. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau upaya meningkatkan pendapatan petani di lahan marginal lebih sulit; bahkan ada kecenderungan bahwa petani dilahan marginal meninggalkan usaha pertanian untuk beralih ke bidang usaha lain seperti jasa, perdagangan dan perburuhan, yang kelihatannya lebih menjanjikan untuk memberikan pendapatan yang lebih baik daripada bidang pertanian.
Potensi bidang pertanian untuk memberikan pendapatan yang cukup tinggi sebenarnya cukup besar, tetapi tergantung pada penyediaan dan diseminasi inovasi teknologi pertanian yang benar-benar sesuai dengan kondisi biofisik, sosial, budaya dan kapasitas petani. Telah banyak inovasi teknologi spesifik lokasi disediakan, termasuk untuk lahan marginal, tetapi baru dengan memperhatikan faktor biofisik dan beberapa faktor demografi, dan pemanfaatan inovasi teknologi masih terbatas. Demikian pula cara diseminasi inovasi teknologi pertanian ataupun penyuluhan pertanian juga masih bersifat
“top-down” dan lebih berorientasi pada peningkatan produksi, dengan asumsi bahwa peningkatan produksi pertanian akan meningkatkan pendapatan petani. Kenyataan menunjukkan bahwa hal demikian tidak selalu benar, peningkatan produktivitas dan produksi tidak selalu dapat meningkatkan pendapatan petani. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhi pendapatan petani. Hal-hal ini juga perlu diketahui dalam penentuan cara pelaksanaan penyediaan dan diseminasi inovasi teknologi pertanian.
KEBUTUHAN INOVASI TEKNOLOGI DI LAHAN MARGINAL
Pada umumnya lahan marginal kurang subur sampai tandus sehingga produktivitasnya rendah, berupa lahan kering dan/atau tadah hujan dengan curah hujan yang rendah, vegetasi yang kurang sehingga suhu udara relatif tinggi dan ketersediaan sumber air sulit. Keadaan alam yang demikian kurang memberi peluang akan usaha pertanian baru.
Usaha pertanian yang dilakukan oleh petani cenderung seperti yang telah dilakukan oleh petani-petani terdahulu. Mengusahakan komoditas yang memang telah beradaptasi di lingkungan yang demikian bertahun-tahun, dan diusahakan secara tradisional. Usaha pembaharuan usaha pertanian di lahan marginal bukan tidak dilakukan, tetapi sulit untuk dilakukan oleh petani yang telah menetap bertahun-tahun di lahan yang demikian. Selain itu,
pada masa yang lalu, fokus pembangunan pertanian lebih pada peningkatan produktivitas dan produksi, maka penyediaan teknologi pertanian untuk lahan marginal relatif kurang dibandingklan dengan lahan yang lebih produktif seperti lahan sawah. Oleh karena itu yang berkembang di daerah marginal lebih banyak teknologi tradisional dengan produktivitas rendah. Dalam tahun-tahun terakhir memang telah diusahakan penyediaan inovasi teknologi pertanian untuk lahan marginal, tetapi belum dapat dimanfaatkan secara maksimal, antara lain karena masalah sarana dan prasarana serta kapasitas diri petani yang berada di lahan marginal.
Keadaan alam yang kurang mendukung usaha pertanian tersebut diperparah lagi dengan kurangnya sarana dan prasarana. Sumber air yang langka, menyebabkan ketersediaan air yang sangat rendah, jangankan untuk tanaman dan ternak, untuk manusiapun sering sulit.
Jaringan jalan belum dapat menjangkau seluruh tempat, bahkan cenderung hanya tersedia disekitar kota, demikian pula sarana komunikasi, sehingga daerah dengan lahan marginal sering seperti daerah terisolir; yang mengakibatkan informasi tentang daerah tersebut juga kurang tergali dengan cermat, akibatnya penyediaan teknologi pertanian spesifik lokasi juga kurang dipersiapkan secara mendalam karena kurangnya informasi. Demikian pula transportasi dari satu tempat ke tempat lainnya juga kurang sekali, sehingga tidak hanya mempersulit mobilitas orang, tetapi lebih parah lagi ialah sulitnya penyediaan sarana produksi dan memasarkan hasil produksi. Keadaan ini lebih mempersulit upaya usaha pertanian, baik produksi, pengolahan maupun pemasaran hasil pertanian. Hasil produksi dan pengolahan hasil pertanian di suatu daerah sulit untuk dipasarkan ke daerah lain, sehingga hasil pertanian tidak dapat dijual dengan harga yang layak, yang akhirnya berakibat kurangnya usaha untuk mengembangkan usaha pertanian.
Keadaan lahan marginal yang kurang menguntungkan tersebut menyebabkan pula adanya kecenderungan berpindahnya petani dari usaha pertanian ke usaha lain seperti jasa, buruh dan perdagangan. Kecenderungan ini tercermin pada Tabel 1 yang menunjukkan perubahan ketenaga-kerjaan bidang pertanian. Jumlah petani yang mengerjakan usahanya sendiri menurun, sebaliknya petani yang memperkerjakan tenaga keluarga dan tenaga musiman meningkat, tetapi tidak setajam penurunan penggunaan tenaga kerja keluarga dan meningkatnya dengan pesat buruh tani. Hal ini juga mengisyaratkan makin komersialnya usaha pertanian, yang memerlukan modal yang lebih besar. Komersialisasi usaha pertanian ini diperkuat pula oleh makin mahalnya sarana produksi. Akibat mahalnya sarana produksi, maka banyak petani kecil terpaksa kembali menggunakan teknologi tradisional yang kurang memerlukan sarana produksi, walaupun produktivitasnya rendah. Keadaan inilah, yang mungkin menjadi salah satu penyebab utama usaha pertanian lebih tidak menarik lagi, dan kurang menguntungkan dibandingkan dengan usaha lain.
Tabel 1. Perubahan Status Tenaga Kerja dalam Usaha Pertanian, 1986 – 2001
Status Tenaga Kerja Jumlah (persen) Tenaga Kerja Tahun :
1986 1991 1996 2001
1. Bekerja Sendiri 5.880.598
(15,20)
6.157.961 (14,94)
6.226.472 (16,51)
4.514.639 (11,11) 2. Bekerja Sendiri dibantu Tenaga
Kerja Keluarga dan Tenaga Musiman
12.136,42 (32,24)
13,412,142 (32.55)
14,483,416 (38.39)
16.403.393 (40,37) 3. Tenaga Kerja Tetap 112.571 (0,30) 201,402 (0.49) 314,811 (0.83) 952.985 (2,34)
4. Buruh Tani 3.531.262 (9,38) 4,657,550
(11.30)
4,942,282 (13.10)
6.842.476 (16,84) 5. Tenaga Kerja Keluarga 15.932.545
(42,20)
16,775,766 (40.72)
11,753,270 (31.17)
11.920.134 (29,34) Jumlah Tenaga Kerja Pertanian 37.644.472
(100,00)
41,205,791 (100.00)
37,720,251 (100.00)
40.633.627 (100,00) Sumber : Agriculture and Rural Strategy Study Team. Data diolah dari BPS dan Sakernas (1986, 1991, 1996, 2001)
Akibat dari keadaan alam, sarana prasarana yang minim, dan makin tidak menariknya usaha pertanian tersebut, mempengaruhi pula keadaan petani yang berada di lahan marginal. Pada umumnya petani di lahan marginal berpendapatan rendah, sehingga banyak yang mempunyai sifat-sifat yang menghambat kemajuannya, seperti: (i) kapasitas diri petani yang rendah, (ii) pendidikan rendah, sehingga pengetahuan dan wawasannya juga terbatas, yang berakibat pula pada daya inisiatif yang rendah pula, (iii) apatis akibat usaha yang telah dilakukan bertahun-tahun tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, (iv) kemauan usaha rendah, karena keadaan lingkungannya yang tidak mendukung untuk melakukan usaha, (v) kurang percaya diri akibat usahanya yang sering tidak berhasil, sehingga komitmen terhadap usaha pertanian juga rendah, (vi) tidak memiliki modal dan sarana baik untuk produksi maupun pengolahan hasil produksi, dan (vii) kurang terjangkau prasarana dan sarana sehingga tertinggal dari petani lainnya dalam informasi ataupun pembangunan.
Selain itu, telah terjadi perubahan tingkat pendidikan yang berarti terhadap tenaga kerja pertanian, di Indonesia dalam kurun waktu 1986 ke 2002 (Tabel 2). Data tersebut menunjukkan bahwa tenaga kerja pertanian/petani yang tidak pernah sekolah dan tidak tamat SD berkurang dari 64.42 % di tahun 1986 menjadi 36,08 % pada tahun 2002. Sebaliknya, tenaga kerja pertanian/petani dengan pendidikan SD sampai sarjana naik dari tahun ke tahun.
Hal ini menunjukkan pula bahwa pendekatan kepada petani dalam pembangunan pertanian harus berubah pula. Potensi untuk meningkatkan kontribusi petani dalam pembangunan pertanian umumnya dan meningkatkan pendapatannya cukup meningkat. Selain itu, petani di daerah lahan marginal mempunyai potensi yang cukup besar untuk dapat dikembangkan, antara lain, (i) jumlahnya yang cukup banyak, (ii) mempunyai potensi sebagai individu yang masih dapat dikembangkan, terutama kapasitas, pengetahuan, keterampilan, dan sikapnya, (iii) mereka sudah biasa untuk mengatasi masalah yang sulit, dan (iv) berpengalaman dalam memanfaatkan sumberdaya yang minimum. Potensi-potensi ini perlu dimanfaatkan dalam penyediaan inovasi teknologi pertanian sehingga dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya.
Tabel 2. Tingkat Pendidikan Tenaga Kerja Pertanian, 1986 – 2002
Tingkat Pendidikan Jumlah (persen) Tenaga Kerja Tahun :
1986 1991 1996 2002
1. Tidak Sekolah 9.092.263
(24,15)
7.355.725 (17,85)
5.849.953 (15,51)
4.886.213 (12,02)
2. Tidak Tamat SD 13.655.869
(36,27)
12.597.746 (30,57)
10.554.033 (27,98)
9.886.213 (12,02)
3. Tamat SD 12.786.483
(33,97)
16.749.350 (40,65)
16.475.979 (43,68)
18.704.993 (46,03)
4. Tamat SLTP 1.630.209 (4,33) 3.299.535
(8,01)
3.223.366 (8,55)
5.347.385 (13,16)
5. Tamat SLTA 453,171 (1,20) 1.126.576
(2,73)
1.524.128 (4,04)
2.202.702 (5,42) 6. Tamat Akademi/ DIII 17.601 (0,05) 56.549 (0,14) 48.922 (0,13) 44.011 (0,11) 7. Sarjana 8.876 (0,03) 20.310 (0,05) 43.870 (0,12) 75.170 (0,18) Jumlah Tenaga Kerja Pertanian 37.644.472
(100,00)
41,205,791 (100.00)
37,720,251 (100.00)
40.633.627 (100,00) Sumber : Agriculture and Rural Strategy Study Team. Data diolah dari BPS dan Sakernas (1986, 1991, 1996, 2002)
Hal-hal tersebut diatas menunjukkan dengan jelas bahwa kebutuhan teknologi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik fakktor biofisik yang bersifat memberi peluang penerapan teknologi, faktor ekonomi dan keadaan individu petani yang akan menerapkan inovasi teknologi pertanian, yang dapat bersifat mendukung dan dapat pula bersifat menghambat.
PENYEDIAAN TEKNOLOGI PERTANIAN DI LAHAN MARGINAL
Lahan marginal bukanlah lahan yang tidak berpotensi untuk menghasilkan produk pertanian unggulan, asalkan dengan penerapan teknologi pertanian yang tepat. Sudah banyak contoh dapat dikemukakan tentang keberhasilan teknologi untuk meningkatkan produktivitas lahan marginal. Persoalan yang masih belum terpecahkan ialah bagaimana meningkatkan pendapatan petani dan masyarakat tani di lahan marginal, yang merupakan sebagian besar dari jumlah seluruh petani.
Pada umumnya pendapatan petani di lahan marginal, terutama petani kecil sangat rendah dibandingkan dengan petani di lahan sawah, yang sering lebih di kaitkan dengan kapasitas lahan yang memang kurang menguntungkan. Di lain fihak, dengan teknologi pertanian spesifik lokasi yang tepat, produktivitas lahan marginal pun dapat di tingkatkan, tetapi untuk ini diperlukan sarana produksi yang cukup disertai perlu tersedianya teknologi pengolahan hasil produksi dan pemasaran yang baik. Walaupun semua hal tersebut tersedia, produktivitas lahan marginal masih tergantung dari karakteristik individu dan kapasitas diri masyarakat tani di lahan marginal (Gambar 1). Karakteristik anggota masyarakat tani seperti ini menghambat pengembangan kapasitas diri, ialah daya yang ada pada diri seseorang untuk menetapkan langkah dan tujuan serta usaha yang akan dilakukan untuk menetapkan guna memenuhi kebutuhan diri dan keluarganya, sehingga produktivitas dirinyapun rendah.
Demikian pula pemanfaatan kapasitas sumberdaya pertanian yang ada disekitarnya, termasuk pemanfaatan sumberdaya alam, akses terhadap modal dan kredit untuk usaha pertaniannya, penerapan teknologi dan akses terhadap pasarpun termasuk rendah pula.
Sebagai akibat akhir ialah produktivitasnya yang rendah dan dengan sendirinya pendapatanpun akan rendah pula.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menyediakan teknologi yang tepat untuk lahan marginal. Pada umumnya penyediaan teknologi dilakukan melalui penelitian, pengkajian, dan pengembangan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip agar teknologi tersebut: (i) Secara teknis layak dimanfaatkan, dalam arti mempunyai potensi untuk meningkatkan produktivitas usaha pertanian, (ii) Secara ekonomis menguntungkan, dalam arti memberikan peningkatan keuntungan dengan penerapan teknologi hasil penelitian per satuan luas dan per satuan waktu, umumnya per hektar, dan biasanya diukur dengan ukuran B/C ratio dsb, (iii) Secara sosial diterima oleh masyarakat tani, dalam pengertian bahwa bila teknologi tersebut dianjurkan penerapannya, maka akan diikuti oleh masyarakat tani, dan (iv) Ramah lingkungan, ialah bahwa teknologi pertanian yang disediakan tidak merusak lingkungan, terutama lingkungan alam, sehingga sumberdaya alam yang ada terlestarikan.
Prinsip-prinsip tersebut telah dan selalu diperhatikan. Guna lebih meningkatkan kelayakan teknis, berbagai upaya telah dilakukan misalnya dengan penggunaan peta AEZ untuk identifikasi kesesuaian komoditas dan teknologi untuk komoditas ybs dengan sumberdaya alam yang tersedia. Telah pula dilakukan pengkajian untuk menguji kesesuaian teknologi yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian pertanian dengan berbagai kondisi lahan dan agroklimat untuk menghasilkan teknologi pertanian unggulan spesifik lokasi;
bahkan untuk menghasilkan teknologi pertanian spesifik lokasi sering pula harus dilakukan uji multilokasi dan uji adaptasi untuk memastikan kesesuaian teknologi dengan lahan dan iklim di lokasi teknologi tersebut akan diterapkan. Dengan kegiatan penelitian dan pengkajian ini telah pula diupayakan agar teknologi pertanian yang dihasilkan bersifat ramah lingkungan.
Guna menjamin bahwa teknologi yang dihasilkan secara ekonomis dapat dipertanggung jawabkan, maka penghitungan untung-rugi dalam penerapan teknologi selalu dilakukan. Walaupun secara teoritis suatu teknologi pertanian akan menguntungkan penggunanya, tetapi belum tentu selalu demikian, terutama untuk petani kecil di lahan marginal. Beberapa hal yang perlu pula diperhatikan antara lain, ialah sebagai berikut:
a. Penghitungan untung-rugi didasarkan pada luasan 1 hektar, sedangkan banyak petani kecil yang kepemilikannya kurang dari 1 ha, bahkan banyak yang hanya memiliki lahan sekitar 0,1 – 0,25 ha. Dengan luasan yang demikian, mungkin keuntungan yang diperoleh menjadi tidak berarti;
b. Untuk menerapkan teknologi dengan produktivitas yang optimal sehingga menguntungkan biasanya diperlukan sarana produksi yang cukup banyak. Kenyataan menunjukkan bahwa petani kecil, terutama di lahan marginal yang kurang terjangkau prasarana dan transportasi, kurang mampu membeli sarana produksi yang diperlukan.
Petani akan mengurangi beberapa sarana produksi yang dirasakan mahal, sehingga produktivitas akan menurun, akibatnya keuntungan dalam penmerapan teknologi yang kurang sempurna tersebut juga akan menurun.
c. Dalam perhitungan untung rugi penerapan teknologi, harga yang dipergunakan adalah harga pasar. Kenyataan juga memperlihatkan bahwa petani kecil terutama di lahan marginal, menjual hasil produksinya tidak dengan harga pasar, tetapi dengan harga di lokasi usaha taninya yang sangat berbeda dengan harga pasar. Kalaupun petani tersebut menjual ke pasar tetap akan menerima harga yang lebih rendah, karena adanya beban biaya transportasi, pengepakan dsb. Dengan demikian keuntungan yang akan diterima tidak akan sesuai dengan hasil perhitungan saat penelitian/pengkajian dilakukan.
KESEJAHTERAAN
Pendapatan
Kapasitas Diri
Pemanfaatan Kapasitas Sumberdaya Pertanian
Petani Kecil di Lahan Marginal Pendidikan
Rendah
Motivasi Rendah
Apatis Kemauan Rendah
Percaya diri Rendah Produktivitas
Pemanfaatan
SDA
Akses
Kredit
Adopsi
Teknologi Akses Pasar KESEJAHTERAAN
Pendapatan
Kapasitas Diri
Pemanfaatan Kapasitas Sumberdaya Pertanian
Petani Kecil di Lahan Marginal Pendidikan
Rendah
Motivasi Rendah
Apatis Kemauan Rendah
Percaya diri Rendah Produktivitas
Pemanfaatan
SDA
Akses
Kredit
Adopsi
Teknologi Akses Pasar KESEJAHTERAAN
Pendapatan
Kapasitas Diri
Pemanfaatan Kapasitas Sumberdaya Pertanian
Petani Kecil di Lahan Marginal Pendidikan
Rendah
Motivasi Rendah
Apatis Kemauan Rendah
Percaya diri Rendah Produktivitas
Pemanfaatan
SDA
Akses
Kredit
Adopsi
Teknologi Akses Pasar Pemanfaatan
SDA
Akses
Kredit
Adopsi
Teknologi Akses Pasar Pemanfaatan
SDA
Akses
Kredit
Adopsi
Teknologi Akses Pasar
Gambar 1. Petani dan Produktivitasnya di Lahan Marginal