BAB IV. PASTORAL PENDAMPINGAN PERKAWINAN KRISTIANI
4.3. Analisis Data Kuantitatif
4.3.2. Analisis Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Analisis yang kedua setelah analisis per tempat pelaksanaan KPP adalah analisis berdasarkan tingkat pendidikan responden. Analisis ini ingin melihat apakah tingkat pendidikan akhir responden mempengaruhi akseptasi responden terhadap proses KPP. Adapun tingkat pendidikan akhir dari para responden dapat dikelompokkan mulai dari SD-SMP, SLTA, Diploma, dan Sarjana. Analisis ini akan dilakukan dalam dua tahap:
a. Tahap pertama, analisi dilihat secara umum dari keseluruhan hasil persentase skor per tingkat pendidikan.
b. Tahap kedua, analisis dilakukan berdasarkan hasil persentase skor per bagian, yaitu bagian sikap, pengetahuan, dan perasaan.
Adapun hasil persentase skor berdasar tingkat pendidikan adalah sebagai berikut:
Tabel 15. Persentase Skor Responden Berdasarkan Pendidikan Akhir Responden275
275 Lampiran 12, Perhitungan Persentase Skor Responden Berdasarkan Pendidikan Akhir Responden.
Hasil perhitungan persentase skor responden berdasar tingkat pendidikan akhir di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:
4.3.2.1. Pendidikan Akhir SD-SMP
Dari penghitungan persentase skor responden yang memiliki pendidikan akhir SD-SMP diketahui bahwa sebelum mengikuti KPP persentase skornya sebesar 75%.
Perolehan persentase skor ini masuk dalam kategori cukup. Sebelum mengikuti KPP, pemahaman responden berpendidikan akhir SD-SMP tentang perkawinan kristiani dikatakan cukup. Setelah mengikuti KPP persentase skor yang didapat menjadi 88%
dan masuk dalam kategori kuat. Setelah mengikuti KPP terdapat kenaikan taraf pemahaman responden pendidikan akhir SD-SMP sebesar 13%. Kenaikan ini menunjukan bahwa KPP sangat signifikan menolong responden berpendidikan akhir SD-SMP untuk semakin memahami perkawinan kristiani.
Tingkat pemahaman responden berpendidikan akhir SD-SMP dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:
a. Berdasarkan persentase skor sikap, responden berpendidikan akhir SD-SMP sebelum mengikuti KPP masuk dalam kateori cukup, yaitu 74.2%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 80%. Ada kenaikan persentase skor sebesar 5.8%. Naiknya skor dari sebelum dan setelah mengikuti KPP
menunjukkan bahwa KPP signifikan menolong responden berpendidikan akhir SD-SMP untuk semakin memahami perkawinan kristiani.
b. Berdasar pengetahuan, persentase skor responden berpendidikan akhir SD-SMP sebelum mengikuti KPP sebesar 71.8%. Perolehan persentase skor ini masuk dalam kategori cukup. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik 23.5%, menjadi 95.3%. Angka kenaikan ini dapat dikatakan tinggi. Responden berpendidikan akhir SD-SMP merasa setelah mengikuti KPP tingkat pengetahuan mereka tentang perkawinan kristiani bertambah. Dengan demikian KPP sangat signifikan bagi pengetahuan responden berependidikan akhir SD-SMP.
c. Berdasar perasaan, persentase skor responden berpendidikan akhir SD-SMP sebelum mengikuti KPP sebesar 86.4%. Setelah mengikuti KPP persentase skor naik 8.3%, menjadi 94.7%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden berpendidikan akhir SD-SMP yang akan menikah secara Katolik hanya sekitar 13.6%. Setelah mengikuti KPP perasaan-perasaan tersebut berkurang menjadi 5.3%. Dapat dikatakan bahwa KPP membantu mengurangi perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden berpendidikan akhir SD-SMP untuk menikah secara Katolik.
4.3.2.2. Pendidikan Akhir SLTA
Persentase skor responden berpendidikan akhir SLTA sebelum mengikuti KPP sebesar 82.1%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 89.1%. Dengan demikian, baik sebelum dan setelah mengikuti KPP, pemahaman responden berpendidikan akhir SLTA tentang perkawinan kristiani ada pada kategori yang kuat.
Secara umum KPP signifikan membantu responden berpendidikan akhir SLTA untuk semakin memahami perkawinan kristiani.
Tingkat pemahaman responden berpendidikan akhir SLTA dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:
a. Perhitungan persentase skor sikap di atas, menunujukan bahwa baik sebelum dan setelah mengikuti KPP responden berpendidikan akhir SLTA ada pada kriteria kuat, yaitu 85.1% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 87.7% setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain, KPP signifikan bagi responden, tetapi tidak terlalu berpengaruh terhadap sikap responden berpendidikan akhir SLTA terhadap perkawinan kristiani, yaitu sebesar 2.6%.
b. Persentase skor tingkat pengetahuan responden berpendidikan akhir SLTA tentang perkawinan kristiani sebelum mengikuti KPP sebesar 78.5%. Setelah mengikuti KPP persentase skor naik 13.4%, menjadi 91.9%. Jadi dapat dikatakan bahwa KPP signifikan menambah pengetahuan responden berpendidikan akhir SLTA.
c. Perolehan skor perasaan sebelum mengikuti KPP adalah 81.4%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden berpendidikan akhir SLTA yang akan menikah secara Katolik sebesar 18.6%. Setelah mengikuti KPP skor yang diperoleh menjadi 87%
atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 13%. Dengan ini dapat dikatakan bahwa rasa takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan dalam diri responden berkurang setelah mengikuti KPP.
4.3.2.3. Pendidikan Akhir Diploma
Persentase skor responden berpendidikan akhir Diploma sebelum mengikuti KPP sebesar 82.8%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 90.1%. Ini berarti bahwa pemahaman responden tentang perkawinan kristiani sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori kuat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa KPP signifikan membantu responden berpendidikan akhir Diploma untuk semakin paham tentang perkawinan kristiani, tetapi tidak cukup besar, yaitu 7.3%.
Tingkat pemahaman responden berpendidikan akhir Diploma dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:
a. Perhitungan persentase skor sikap di atas menunujukan bahwa baik sebelum dan setelah mengikuti KPP responden berpendidikan akhir Diploma ada pada
golongan kuat, yaitu 83.8% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 90.3%
setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain, pengaruh KPP terhadap sikap responden berpendidikan akhir Diploma terhadap perkawinan Katolik sebesar 6.5%.
b. Perhitungan persentase skor tingkat pengetahuan responden berpendidikan Diploma tentang perkawinan kristiani sebelum mengikuti KPP sebesar 78.9%.
Setelah mengikuti KPP persentase skor naik sebesar 11.5%, menjadi 90.4%. Jadi dapat dikatakan bahwa KPP signifikan dan menambah pengetahuan responden berpendidikan akhir Diploma. Baik sebelum dan setelah KPP, pengetahuan responden masuk dalam kategori kuat.
c. Persentase skor perasaan responden berpendidikan Diploma sebelum mengikuti KPP sebesar 88.6%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP, perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden sebesar 11.4%. Setelah mengikuti KPP, skor yang diperoleh menjadi 88.8% atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 11.2%. Dengan ini dapat dikatakan bahwa KPP tidak signifikan dan tidak membantu responden berpendidikan akhir Diploma untuk mengurangi rasa takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan dalam diri mereka.
4.3.2.4. Pendidikan Akhir Sarjana
Persentase skor responden berpendidikan akhir Sarjana sebelum mengikuti KPP sebesar 81.6%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 90%. Ini berarti bahwa pemahaman tentang perkawinan Katolik responden berpendidikan akhir Sarjana sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori yang sama, yaitu kuat.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa KPP signifikan membantu responden berpendidikan akhir sarjana, sebesar 8.4%.
Tingkat pemahaman responden berpendidikan akhir Sarjana dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:
a. Persentase skor sikap responden berpendidikan akhir sarjana sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori kuat, yaitu 84.8% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 88.8% setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain, KPP signifikan, tetapi tidak terlalu berpengaruh terhadap perubahan sikap responden.
Perubahan sikap hanya sebesar 4%.
b. Persentase skor pengetahuan responden berpendidikan akhir Sarjana tentang perkawinan kristiani sebelum mengikuti KPP sebesar 75.2%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik 18.6%, menjadi 93.8%. Jadi dapat dikatakan bahwa KPP sangat signifikan bagi responden, dari kategori cukup menjadi kuat.
c. Persentase skor perasaan responden berpendidikan Sarjana sebelum mengikuti KPP adalah 86%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut,
bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden berpendidikan akhir Diploma yang akan menikah secara Katolik sebesar 14%. Setelah mengikuti KPP skor yang diperoleh menjadi 85.5% atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 14.5%. Dengan ini dapat dikatakan bahwa setelah mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, dan khawatir dalam diri responden bertambah.