• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. PEMAHAMAN MAKNA PERKAWINAN KRISTIANI DAN

2.4. Rangkuman

Perkawinan adalah sebuah perjanjian suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dengan Allah. Perjanjian ini suci dan menjadi tanda dan sarana keselamatan Allah di dunia. Perkawinan inilah yang akan membentuk gereja-gereja kecil yang memiliki peranan besar dalam perkembangan Gereja Universal. Oleh karena itu, mereka yang hendak menikah perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, baik dari segi pemahaman mereka tentang perkawinan Gereja Katolik, maupun bagaimana cara menghidupi perkawinan itu sendiri. Dari segi pemahaman, hal yang perlu dipahami adalah pengetahuan minimal tentang perkawinan di zaman sekarang seperti monogam, indisolubilitas, unitas, konsensus, sakramentalitas perkawinan, komunikasi keluarga, kesejahteraan keluarga, prokreasi, pendidikan anak, dan keterlibatan dalam kehidupan Gereja dan masyarakat. Pemahaman ini penting, karena akan menentukan validitas dari perkawinan itu sendiri. Di samping itu, perkawinan merupakan tindakan kehendak manusia. Perkawinan harus dilakukan secara bebas tanpa paksaan. Dengan demikian persiapan perkawinan haruslah menolong mereka untuk dapat memahami perkawinan Katolik dan membantu mereka untuk bisa menghidupinya setelah menikah.

209 Fransiskus, Amoris Laetitia art. 211.

BAB III

PELAKSANAAN PENDAMPINGAN PERKAWINAN KRISTIANI MELALUI KPP DI KEVIKEPAN D.I. YOGYAKARTA

Di dalam Bab III akan disampaikan diskripsi pelaksanaan KPP yang sudah berlangsung di beberapa Paroki Kevikepan D.I.Yogyakarta (D.I.Y). Diskripsi ini bertujuan untuk memberi gambaran bagaimana KPP di Kevikepan D.I.Yogyakarta dilaksanakan. Beberapa hal yang akan dibicarakan adalah latar belakang diadakannya KPP, metode pembelajaran yang digunakan, pengampu dan peserta KPP, waktu dan tempat pelaksanaan, durasi pertemuan, dan isi dari KPP. Kemudian akan dilihat, apakah pelaksanaan sudah sesuai dengan yang diharapkan oleh Gereja.

3.1. Latar Belakang KPP

Pada tahun 1964 Keuskupan Agung Semarang sudah mulai mengadakan pendampingan bagi mereka yang hendak menikah secara Katolik. Pendampingan ini disebut dengan istilah Kursus Persiapan Perkawinan (KPP). Dari buku panduan KPP tahun 1964, diketahui bahwa pada masa itu banyak perkawinan Katolik yang tidak membahagiakan. Hal ini dirasa salah satunya karena kurang matangnya persiapan

sebelum menikah210. Oleh karena itu, Gereja ingin membantu dengan menawarkan suatu pembekalan perkawinan sebelum menikah. Pembekalan ini diadakan dalam bentuk kursus singkat oleh Pastor Paroki. Isi dari kursus singkat tersebut berkenaan tentang, pembinaan iman, kesusilaan, liturgi, kejiwaan, kerumahtanggaan, dan perayaan perkawinan. Di dalam pelaksanaannya, hanya pasangan yang sudah bertunangan atau dalam waktu dekat akan menikah dan para pengantin muda saja yang diperkenankan untuk mengikuti kursus singkat ini.211

Seiring berjalannya waktu, KPP mengalami perkembangan. Perkembangan begitu nampak ketika Kardinal Yustinus Darmojuwono sebagai Uskup Keuskupan Agung Semarang membuat sebuah tulisan berjudul Umat Allah Mawas Diri. Tulisan yang diterbitkan pada tanggal 18 Agustus 1972 tersebut, berbicara tentang bagaimana mempersiapkan pembentukan keluarga Katolik. Bagi Kardinal Yulius Darmojuwono persiapan ini penting, karena masa depan Gereja ditentukan oleh kehidupan keluarga-keluarga kristiani. Sebagai tanggapan atas refleksi Kardinal Yustinus Darmojowono, pada tahun 1972, KPP mulai mengalami perbaruan. KPP mulai dilaksanakan secara

210 Angka 1964 didapat penulis dari buku panduan Kursus Persiapan Perkawinan yang paling tua di Keuskupan Agung Semarang. Tidak ada catatan yang pasti kursus ini diadakan mulai tahun berapa.

Informasi yang didapat penulis dari Penelitian Agus Widodo dalam Tesis berjudul “Peran Keluarga Kristiani dalam Pembangunan Gereja Sebagai Umat Allah yang Mandiri, Misioner dan Terlibat dalam Masyarakat Menurut Kardinal Yustinus Darmojuwono (Tesis S2, Universitas Sanata Dharma 2010, 149-153) kursus pada masa Kardinal Yustinus Darmojowono (tahun 1970) sepenuhnya diserahkan kepada para imam. Ini juga diungkapkan oleh Rm Ig. Joyosewaya bahwa pada masa itu persiapan perkawinan masih berupa katekese sederhana yang diberikan oleh Pastor Paroki kepada calon pengantin. Belum ada kursus yang sudah teratur seperti sekarang ini dengan melibatkan banyak umat (Hasil wawancara dengan Rm. Ig. Joyosewaya pada 07/12/2016 di Wisam Petrus - Seminari Tinggi Yogyakarta). Baru pada tahun 1970an kursus persiapan perkawinan mulai diadakan secara baik dengan melibatkan peran kaum awam dan diserahkan kepada kevikepan-kevikepan.

211 Keuskupan Agung Semarang, Kursus Persiapan Perkawinan, Utusan, Pastoral Kebondalem Semarang 1964, 2.

tertata melalui kevikepan-kevikepan. Pada tahun 1975, Rm Aloysius Budyopranoto Pr mulai merintis KPP di Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta (D.I.Yogyakarta).212

Berkaitan dengan pelaksanaan KPP, Rm. Yusuf Sunarno MSF, selaku koordinator Tim Pendamping Keluarga Kevikepan D.I.Yogyakarta, mengungkapkan bahwa di samping mempersiapkan pasangan yang hendak menikah, KPP juga ingin memastikan kemantapan pasangan untuk menikah.213 Dengan adanya pengetahuan yang memadai tentang perkawinan, pasangan diajak berdiskresi apakah mereka akan tetap menikah atau tidak. Diskresi ini menjadi penting, karena perkawinan Katolik membawa konsekuensi yang tidak mudah. Agar dapat berdiskresi dengan tepat dan matang, pasangan dibekali berbagai macam materi pengetahuan. Materi yang diberikan berkenaan dengan perkawinan kristiani, terutama makna dan nilai dari perkawinan kristiani yang hendak mereka hidupi.

3.2. Proses Pelaksanaan KPP

Proses pelaksaan KPP di sini menyangkut empat hal, yaitu metode pelaksanaan KPP, pengajar dan peserta, waktu dan tempat pelaksanaan, serta durasi pertemuan KPP.

212 Agus Widodo, Peran Keluarga Kristiani dalam Pembangunan Gereja Sebagai Umat Allah yang Mandiri, Misioner dan Terlibat dalam Masyarakat Menurut Kardinal Yustinus Darmojuwono (Tesis Magister, Fakultas Teologi, Universitas Sanata Dharma, 2010, 152).

213 Wawancara dengan Rm Yusuf Sunarno MSF, tanggal 7 Oktober 2016.

3.2.1. Metode Pembelajaran

Setiap kegiatan pembelajaran, apapun bentuknya, pasti menggunakan metode tertentu. Demikian pula dengan KPP, menurut Rm. Yusuf Sunarno MSF pada umumnya KPP menggunakan dua metode, yaitu metode kursus dan katekese214.

3.2.1.1. Metode Kursus

Metode kursus disebut juga dengan metode klasikal. Metode klasikal adalah metode pembelajaran konvensional. Tim KPP yang menggunakan metode klasikal menyebut pembekalan perkawinan ini sebagai kursus (Kursus Persiapan Perkawinan).

Metode ini biasa dilakukan di kelas, dimana peserta mendapat pelajaran secara bersama dan dengan cara yang sama. Pembelajaran klasikal menggunakan pembelajaran langsung. Tingkat keberhasilan metode pembelajaran ini tergantung dari proses interaksi tentor dengan peserta. Penerapan metode ini dikatakan berhasil apabila peserta berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran. Peserta diharapkan tidak sebatas mendengar dan mencatat. Tentor memegang andil besar dalam keberhasilan pembelajaran metode ini. Metode klasikal biasanya menggunakan sistem ceramah. Dengan sistem ini tentor menjelaskan suatu materi atau topik tertentu dengan cara lisan di depan kelas.215

KPP yang menggunakan metode klasikal menggambil pendekatan tematik.

Pendekatan ini bertujuan supaya peserta pada akhir KPP dapat tahu banyak tentang

214 Wawancara dengan Rm Yusuf Sunarno MSF tanggal 7 Oktober 2016.

215 Winarno Surakhmad, Dasar Dan Teknik Interaksi Mengajar Dan Belajar, (Bandung: Tarsito, 1973), 94-96.

kehidupan berkeluarga. Dengan bertambahnya pengetahuan tentang keluarga, peserta semakin mantap untuk menikah secara Katolik. Pengambilan keputusan atau decision making terjadi ketika seseorang yang pada awalnya sudah memiliki motivasi untuk melakukan sesuatu, setelah ia mendapatkan informasi atau pengetahuan yang lebih tentang objek keinginannya, ia akan memastikan kembali untuk tetap mengambil objek itu atau tidak.216

3.2.1.2. Metode Katekese

Metode kedua adalah metode katekese. Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran kristen yang pada umumnya diberikan secara sistematis dengan maksud mengantar umat beriman memasuki kepenuhan hidup kristiani217. Katekese merupakan suatu bentuk komunikasi iman218. Apa yang dikomunikasikan adalah penghayatan iman dan bukan pengetahuan tentang rumusan iman. Katekese sendiri berupa pembinaan iman umat secara teratur dan terencana. Dalam katekese kita bersaksi tentang iman kita akan Yesus Kristus219. Kursus Persiapan Perkawinan yang menggunakan metode katekese mengandaikan bahwa di dalamnya terdapat komunikasi iman dan setiap peserta mau terlibat aktif dalam berkomunikasi tentang

216 Departemen Pendidikan Nasional, Pendekatan, Strategi, Dan Metode Pembelajaran, (Malang:

Departemen Pendidikan Nasional, 2006, 26).

217 Yohanes Paulus II, Cathechesi Tradendae (16 Oktober 1979) art. 18.

218 Yosef Lalu, Katekese Umat, (Jakarta: Komisi Kateketik KWI, 2007), 90.

219 Yosef Lalu, Katekese Umat, 91.

hidup nyata dalam terang iman. Tim KPP yang menggunakan metode ini menyebut KPP bukan sebagai kursus melainkan Katekese Persiapan Perkawinan.

Metode ini tidak sebatas memberi informasi tentang makna dan nilai perkawinan kristiani, tetapi lebih pada refleksi hidup berkeluarga atas dasar iman kristiani. Menurut Rm. Yusuf Sunarno MSF, metode ini lebih memberi porsi pada keterlibatan peserta KPP. Materi metode katekese kurang lebih sama dengan materi yang diberikan dalam metode klasikal. Setelah tentor mempresentasikan materi, peserta mendapat beberapa pertanyaan yang harus didiskusikan dengan pasanganya.

Maka dari itu, dalam metode ini peserta diharapkan datang dengan pasanganya. Hasil diskusi disharingkan kepada pasangan yang lain. Kemudian, didatangkan pasangan suami-istri yang sudah dikenal kesalahenya untuk mensharingkan pengalaman mereka menghidupi perkawinan kristiani. Poin sharing adalah apakah perkawinan mereka sesuai dengan perkawinan yang dulu dibayangkan dan dicita-citakan.

3.2.2. Pengajar dan Peserta

Pengadakan program persiapan bagi pasangan yang hendak menikah adalah tanggung jawab dari para imam dan seluruh umat beriman (Kan.1063). Oleh karena itu, peran imam sangat penting dalam keberlangsungan program persiapan pernikahan. Di Kevikepan D.I.Yogyakarta, para Pastor Paroki seharusnya membentuk suatu tim pendampingan keluarga yang disebut dengan Tim Pastoral

Keluarga Paroki (TPKP).220 TPKP terdiri dari umat yang sudah menikah dan memiliki kepedulian terhadap keluarga kristiani, serta mau terlibat untuk mendampinginya. Dari TPKP, dibentuklah Tim KPP yang secara khusus mempersiapkan program pendampingan bagi mereka yang dalam waktu dekat hendak melangsungkan pernikahan secara Katolik. Tim KPP inilah yang akan mencari tentor dalam pelaksanaan KPP. Tentor diusahakan orang-orang yang berkompeten di bidang pengajaranya, seperti dokter, psikolog, katekis umat, dan pasangan suami-istri yang sudah teruji kesalehannya dalam berumah tangga.

Peserta KPP adalah mereka yang dalam waktu dekat hendak melangsungkan perkawinan secara Katolik, baik sakramen maupun non sakramen. Ketika mengikuti KPP, peserta diandaikan sudah memiliki keyakinan akan menikah dan tidak memiliki masalah berkaitan dengan relasi mereka. Diharapkan pesarta datang bersama pasanganya.

3.2.3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

KPP dilaksanakan di masing-masing Paroki, tetapi pasangan yang hendak menikah tidak harus mengikuti KPP di Parokinya sendiri. Mereka dapat memilih untuk ikut KPP di Paroki pihak perempuan atau laki-laki. Apabila Paroki asal tidak menyelenggarakan KPP, mereka diperkenankan mencari KPP di Paroki lain. Ketika mengikuti KPP, idealnya pasangan datang berdua, karena KPP merupakan

220 Disini digunakan kata “saharusnya” karena menurut Rm.Yusuf Sunarno MSF tidak semua Paroki di Kevikepan D.I. Yogyakarta memiliki Tim Pastoral Keluarga Paroki, terutama tim pelaksana KPP.

kesempatan untuk berdiskusi dan berdialog secara mendalam mengenai materi yang diberikan, terlebih bagi pasangan beda agama. Apabila keadaan tidak memungkinkan, KPP dapat diikuti secara terpisah.221

Cara mengikuti KPP: Pasangan mendaftarkan diri ke Sekretariat Paroki, kemudian mengisi formulir pendaftaran, menyertakan foto formal berdua, menunjukkan surat pengantar dari Pastor Paroki masing-masing, dan kutipan surat baptis terbaru bagi yang Katolik. Peserta harus mengikuti KPP secara penuh supaya mendapat sertifikat. Sertifikat ini akan digunakan sebagai salah satu syarat administrasi perkawinan di Gereja. Apabila ada peserta yang tidak penuh mengikuti materi KPP, maka biasanya tidak akan mendapat sertifikat dan harus mengikuti KPP lagi. Sertifikat ini hanya bisa digunakan terhitung enam bulan setelah KPP. Kalau lebih dari enam bulan, sertifikat ini dinilai kadaluarsa dan harus mengikuti KPP lagi.

Dari 10 sekretariat Paroki di Kevikepan D.I.Yogyakarta222 yang sudah dihubungi oleh penulis, diketahuai bahwa sertifikat KPP menjadi syarat wajib untuk menikah di Gereja Katolik. Kesepuluh sekretariat Paroki mengatakan, kalau tidak mengikuti KPP tidak bisa menikah di Gereja. Maka dari itu, KPP dinilai menjadi kewajiban bagi pasangan yang hendak menikah demi mendapatkan sertifikan sebagai salah satu syarat perkawinan di Gereja Katolik.

221 G Kriswanta Pr, 90 Tanya Jawab Tenang Perkawinan Secara Katolik,Kanisius, Yogyakarta 2012, 20-22.

222 Paroki yang telah dihubungi oleh penulis melalui telpon dimana penulis berpura-pura hendak mendaftarkan diri untuk menikah tetapi karena kesibukan kerja tidak bisa mengikuti KPP adalah Paroki Kidol Logi, Paroki Babadan, Paroki Babarsari, Paroki Baciro, Paroki Banteng, Paroki NAndan, Paroki Bandung,Paroki Bantul, Paroki Somohitan, dan Paroki Pakem.

3.2.4. Durasi Pertemuan

Durasi pertemuan KPP rata-rata antara 16 sampai 19 jam. Setidaknya terdapat tiga alternatif durasi pelaksanaan KPP yang berlangsung di Kevikepan Yogyakarta:

Jumat, Sabtu, dan Minggu

Hari Sesi Alokasi waktu

Jumat,

Pk 17.00-21.00

Materi 1: Bersiap Untuk Menikah 17.00 – 18.00 Materi 2: Cinta Sebagai Pengalaman Unik 18.00 – 19.00

Break 19.00 – 19.30

Materi Ke 3: Yesus Datang Menjumpai Kita 19.30 – 21.00 Sabtu,

Materi Ke 6: Seksualitas 19.30 – 21.00

Minggu

Pk 08.00 – 15.00

Materi Ke 7: Cinta Kasih Perkawinan, Tanda Cinta Kasih Allah

08.00 – 09.00 Materi 8 : Dipanggil Menjadi Orang Tua 09.00 – 10.00

Break 10.00 – 10.15

Materi 1: Bersiap Untuk Menikah 13.00 – 14.00 Materi 2: Cinta Sebagai Pengalaman Unik 14.00 – 15.00 Materi Ke 3: Yesus Datang Menjumpai Kita 15.00 – 16.00

Break 16.00 – 16.15

Sabtu, Materi 8 : Dipanggil Menjadi Orangtua 08.00 – 09.00 Materi 9 : Bagaimana Menjadi Keluarga

KPP di Paroki-Paroki Kevikepan D.I.Yogyakarta pada umumnya menggunakan dua buku acuan pokok, yaitu Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga yang disusun

oleh Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo dan Bersiap untuk Menikah yang disusun oleh Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang. Buku acuan ini sangat menentukan isi yang disampaikan di dalam KPP. Pada sub bab ini akan disampaikan ringkasan isi dari kedua buku tersebut dan analisisnya.

3.3.1. Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga223

Buku acuan ini terbagi dalam dua bagian, yaitu materi pokok dan materi tambahan. Materi pokok menyangkut pengetahuan yang harus diketahui oleh pasangan, sedangkan materi tambahan diharapkan dapat membantu hidup rumah tangga mereka. Berikut akan dipaparkan ringkasan dari masing-masing materi:

3.3.1.1. Materi Pokok

Ada beberapa materi pokok yang disampaikan melalui buku ini. Materi-materi pokok ini lebih terdiri dari ajaran-ajaran Gereja tentang perkawinan.

1) Ajaran Gereja Katolik Tentang Perkawinan

Materi pertama menjeleskan bagaimana Gereja Katolik melihat perkawinan terutama dari sudut pandang spiritualitas, yuridis, dan pastoralnya. Terdapat delapan poin yang akan dijelaskan di dalam materi ini.

a. Arti, hakikat, tujuan dan sifat perkawinan secara umum

223 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, (Yogyakarta: Kanisius, 2007), 1-135. Buku ini menjadi buku pedoman bagi tentor pemberi kursus.

Perkawinan pada hakikatnya adalah persekutuan hidup antara seorang laki-laki dan seorang wanita. Persekutuan ini bertujuan untuk mencapai kebahagiaan dan melanjutkan keturunan. Pencapaian kebahagiaan dan kesejahteraan merupakan tanggung jawab dari kedua pasangan, sedangkan keturunan merupakan anugerah dan rahmat dari Allah. Anak yang dipercayakan kepada mereka haruslah dicintai, dirawat, dipelihara, dilindungi, dan dididik secara Katolik. Meskipun keturunan menjadi salah satu tujuan dari perkawinan, tetapi kemandulan, tidak membatalkan perkawinan. Di samping itu, perkawinan membawa manusia untuk menghindari dosa perzinahan dan penyimpangan hidup seksual.

b. Kekhasan Perkawinan Katolik

Kekhasan perkawinan Katolik dibandingkan dengan perkawinan lain nampak dalam sifat-sifat perkawinan Katolik, yaitu : unitas, indissolubilitas, dan sakramen. Unitas mengartikan kesatuan antara seorang laki-laki dan seorang wanita di dalam relasi cinta yang eksklusif. Indissolubilitas mengartikan perkawinan yang tidak terputuskan, kecuali karena kematian. Perkawinan sebagai sakramen menjadi tanda kehadiran Allah yang menyelamatkan. Dengan demikian, di dalam perkawinan dituntut adanya cinta yang utuh, total, dan tak terbagi.

Berbeda dengan perkawinan lainya, cinta Kristus menjadi dasar perkawinan Katolik (Yoh 15:19-17, EF 5: 22-33).

c. Sakramentalitas Perkawinan

Perkawinan sebagai sakramen terjadi pada perkawinan antara dua orang yang dibaptis sah secara Katolik. Perkawinan sakramen membawa empat konsekuensi, yaitu: (1) Semua perkawinan sah yang diselenggarakan antara dua orang yang dibaptis, dengan sendirinya merupakan sakramen; (2) Sakramentalitas perkawinan tidak terletak pada pemberkatan imam, karena pelayan sakramen perkawinan adalah kedua mempelai sendiri; (3) Orang-orang yang dibaptis tidak bisa menikah dengan sah jika dengan maksud positif dan jelas mengecualikan sakramentalitas perkawinan; dan (4) Perkawinan sakramen ini, setelah disempurnakan dengan persetubuhan yang dilakukan secara manusiawi tidak dapat putuskan secara absolut.

d. Spiritualitas Perkawinan

Dijelaskan bahwa dalam membangun hidup berkeluarga, pasangan suami-istri harus bersungguh-sungguh memberi kesaksian hidup, menjadi sakramen, tanda keselamatan dan menghadirkan Kerajaan Allah. Berkat sakramen perkawinan, istri menunaikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai suami-istri dalam keluarga, mereka diresapi oleh Roh Kudus yang memenuhi mereka dengan iman, harapan, dan cinta kasih.

e. Syarat-Sayarat dan Halangan Perkawinan

Ada dua syarat perkawinan Katolik, yaitu tidak mendapat halangan nikah dan menyatakan kesepakatan nikah secara bebas tanpa paksaan dari luar.

Kesepakatan ini dilakukan secara sadar. Artinya, tahu apa yang ia sepakati.

Kesepakatan ini harus dinyatakan secara lisan atau dengan isyarat yang senilai.

Kedua pasangan harus hadir pada saat perayaan perkawinan berlangsung.

Disebutkan ada dua halangan nikah, yaitu halangan hukum ilahi dan halangan hukum gerejawi. Halangan nikah dikatakan berasal dari hukum ilahi jika halangan itu bersumber dari hukum kodrat yang dibuat dan diatur oleh Allah sendiri. Halangan ini menyangkut impotensi seksual yang bersifat tetap, ikatan perkawinan sebelumnya, dan halangan darah garis lurus, baik ke atas maupun ke bawah, dan usia.

Halangan nikah hukum gerejawi ditentukan sendiri oleh otoritas Gereja, bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan khasnya secara lebih efektif, yakni menegakkan dan mempromosikan kesejahteraan umum komunitas gerejawi yang bersangkutan. Halangan gerejawi meliputi halangan umur (kan 1083), beda agama (kan 1086), tahbisan suci (kan 1087), kaul kemurnian (Kan 1088), penculikan (kan 1089), kriminal (kan 1090), hubungan dara garis menyamping sampai tingkat keempat (kan 1091 §2), hubungan semenda (Kan 1092), kelayakan publik (Kan 1093), pertalian hukum dari adobsi dalam garis lurus atau menyamping tingkat dua (kan 1094).

Pembedaan kedua jenis halangan ini membawa konsekuensi hukum yang sangat besar. Halangan-halangan yang bersifat ilahi mengikat semua orang, baik yang dibaptis maupun yang tidak dibaptis, sedangkan halangan yang bersumber dari hukum gerejawi mengikat mereka yang dibaptis dalam Gereja Katolik, atau

yang diterima di dalamnya (Kan 1059). Tetapi untuk halangan nikah dari hukum grejawi masih dimungkinkan untuk mendapatkan dispensasi.

f. Panggilan dasar keluarga Katolik

Ada empat panggilan dasar keluarga Katolik. (1) Keluarga Katolik menyambut dan mencintai kehidupan. Keluarga kristiani dipanggil untuk menjadi pencinta, pewarta, penjaga, dan pembela kehidupan, mulai dari konsepsi sampai pada kematian alamiah. (2) Orangtua menjadi pendidik utama dan pertama. (3) Keluarga terlibat dalam misi pewartaan. (4) Keluarga terlibat aktif dalam hidup bermasyarakat.

g. Tantangan hidup berkeluarga dan solusinya.

Tantangan dalam membangun keluarga zaman sekarang dapat dikelompokkan ke dalam dua jenis, yaitu internal dan eskternal. Tantangan internal adalah apa yang berkaitan dengan pribadi pasangan suami-istri, yakni menyangkut kedewasaan pasangan baik, secara intelktual, psikologis, spiritual, maupun moral. Sedangkan tantangan eksternal dapat merupakan keadaan masyarakat dan intervensi pihak ketiga seperti mertua dan perselingkuhan. Secara konkret, tantangan dapat berupa mentalitas materiali, hedonisme, konsumerisme, utiliarisme, individualisme, relativisme moral, kesibukan mengejar karier, dan ketidaksetiaan.

2) Komunikasi Keluarga

Komunikasi sangatlah penting dalam perkawinan. Komunikasi akan membantu pasangan untuk menyelesaikan setiap permasalahan keluarga, terutama ketika terjadi pertengkaran. Pertengkaran ini muncul dengan berbagai macam persoalan, seperti perbedaan karakter dan masalah ekonomi yang mengecewakan. Komunikasi adalah proses dimana antara dua orang yang seorang memberi pendapat dan yang lain menerima pendapat tersebut, sehingga terjadi kesatuan pemahaman. Terdapat empat unsur komunikasi yang disebutkan di sini, yaitu komunikasi dari kepala ke kepala atau diskusi, komunikasi dari hati ke hati atau dialog, komunikasi badan yang merupakan ungkapan cinta seperti pelukan, komunikasi seks yang merupakan komunikasi paling intim dan puncak dalam relasi suami-istri.

3) Psikologi Pria dan Wanita

Setiap pribadi manusia baik laki-laki maupun perempuan akan mengalami perkembangan. Perkembangan dalam diri laki-laki dan perempuan mengalami perbedaan baik dalam hal psikis maupun fisik. Secara psikis pria dapat dikatakan dewasa apabila ia dapat mengontrol dorongan seksualnya. Laki-laki dewasa harus menyadari beberapa hal: alat seksual hanya sekadar sebagian dari sekian banyak alat tubuh, terhadap lawan jenis perlu ditanamkan sikap hormat dan pengertian, dan seks untuk pasangan suami-istri yang disucikan dalam perkawinan. Sikap dewasa perempuan terletak pada pengenalan dirinya terhadap situasi fisiknya yang seringkali

mempengaruhi situsi psikis. Bagi wanita, kehidupan seksualnya berbeda dengan laki-laki. Kepuasan wanita lebih berkaitan erat dengan kehidupan perasaannya.

4) Reproduksi Manusia dan Pengaturannya

Salah satu tujuan dari perkawinan adalah prokreasi. Untuk dapat melakukan prokreasi, pasangan suami-istri harus memiliki alat reproduksi yang normal dan sehat. Alat reproduksi yang dimiliki laki-laki berbeda dengan yang dimiliki perempuan. Alat reproduksi laki-laki terdiri dari buah pelir dan penis. Hubungan seks terjadi ketika penis masuk ke dalam liang vagina. Penis yang dapat digunakan untuk berhubungan sek adalah penis yang mampu ereksi. Ketika sudah mencapai klimaks, penis akan mengeluarkan cairan sperma.

Alat reproduksi perempuan terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan luar.

Bagian luar berguna untuk berhubungan sek dan bagian dalam berfungsi untuk mengandung dan melahirkan anak. Bagian terpenting dari alat reproduksi wanita adalah ovarium (indung telur). Pada perempuan yang sehat akan mengalami masa siklus haid setiap bulannya. Haid terjadi ketika telur matang yang dihasilkan oleh

Bagian luar berguna untuk berhubungan sek dan bagian dalam berfungsi untuk mengandung dan melahirkan anak. Bagian terpenting dari alat reproduksi wanita adalah ovarium (indung telur). Pada perempuan yang sehat akan mengalami masa siklus haid setiap bulannya. Haid terjadi ketika telur matang yang dihasilkan oleh