BAB III. PELAKSANAAN PENDAMPINGAN PERKAWINAN KRISTIANI
3.3. Materi Pertemuan
3.3.1.2. Materi Tambahan
Di samping materi pokok, disampaikan pula beberapa materi tambahan yang kiranya perlu bagi pasangan yang akan menikah, yaitu: Persiapan Teknis Menghadapi Perkawinan, Gender dan Permasalahannya, Pendidikan Nilai Hakiki
dalam Keluarga, Membina Keharmonisan Kehidupan Seksualitas, Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Perawatan Bayi
3.3.2. Buku Bersiap Untuk Menikah
Buku panduan kedua yang dipakai adalah Bersiap Untuk Menikah. Buku ini diterbitkan oleh Komisi Keluarga Kesukupan Agung Semarang pada tahun 2011.
Buku ini berupa modul yang diberikan baik kepada tentor maupun pasangan yang hendak menikah ketika mengikuti KPP. Panduan ini berfokus lebih pada panduan katekese iman. Di dalam buku panduan ini setidaknya terdapat dua belas topik yang akan didalami.
1) Bersiap Untuk Menikah
Topik pembicaraan pertama lebih pada penyambutan dan perkenalan.
Disampaikan pertanyaan yang akan didialogkan oleh peserta, yaitu: Apa yang menjadi pusat perhatian Anda dalam mempersiapkan perkawinan dan apa harapan Anda sebelum Anda menikah dan harapan Anda terhadap Kursus Persiapan Perkawinan ini? Sikap apakah yang menurut Anda penting dalam mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan ini? Topik pembicaraan pertama lebih menekankan motivasi para peserta dalam mengikuti KPP. Hal ini menjadi penting supaya peserta memiliki pemahaman yang benar tentang tujuan mengikuti KPP.
2) Cinta sebagai Pengalaman Unik
Topik pembicaraan kedua mengajak pasangan untuk memahami pengalaman dicintai dan dikasihi. Beberapa hal yang dibicarakan dalam topik pembicaraan ini adalah :
Cinta suami-istri. Ada berbagai macam pengalaman perasaan dicintai dan dikasihi. Dari berbagai macam perasaan cinta itu ada suatu cinta yang special, yaitu pengalaman jatuh cinta dengan lawan jenis. Pengalaman ini adalah pengalaman unik yang terjadi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Berbeda dengan pengalaman cinta dengan orangtua atau saudara, perasaan ini bukan sebatas perasaan cinta agape tetapi juga erotis. Ini terjadi ketika berjalan bersama dalam masa pacaran, kemudian muncul kehendak untuk hidup bersama, lalu menyatakan janji suci, dan pada akhirnya penyerahan diri secara total dalam perkawinan.
Keagungan cinta manusia. Keagungan cinta ini didasarkan pada Himne Cinta Kristiani (1 Kor 13:1-8). Dari situ diketahui bahwa cinta membutuhkan bumbu-bumbu yang memberi rasa. Bumbu-bumbu-bumbu itu seperti kepercayaan, kelembutan, dan hormat. Disampaikan beberapa pertanyaan untuk didialogkan, seperti bumbu cinta apa yang ada dalam hubungan kalian dan coba urutkan bumbu cinta tersebut menurut prioritas kepentingan kalian? Bagaimana sabda itu menjadi visi dan memperkaya cinta kalian?
3) Yesus Datang Menjumpai Kita
Buku ini menunjukkan bahwa sekarang banyak orang Katolik yang tidak lagi aktif dalam kehidupan menggereja. Hal ini nampak dengan adanya beberapa orang Katolik yang mulai menjauh dari Gereja dan mulai berpikir semua agama sama saja.
Untuk memperdalam pernyataan tersebut, buku ini mengajukan beberapa pertanyaan reflektif, seperti “Bagaimana menjawab persoalan ini? Saya beragama, tetapi tidak beriman? Dapatkah iman itu hidup tanpa dihayati?” Di sini disediakan alternative jawaban dari Yohanes Paulus II, yaitu bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa kasih yang begitu nampak dalam diri Yesus Kristus (Redemptor Huminis 10).
Yesus wafat dan bangkit untuk memberi kita hidup baru. Topik ini juga membicarakan tentang wafat dan kebangkita Kristus yang memberikan kita hidup baru. Dibacakan bacaan Injil tentang perkawinan di Kana Galilea (Yoh 2:1-11).
Setelah mendengarkan bacaan Injil, pertanyaan reflektif yang ditawarkan oleh buku ini adalah “Siapakah Yesus bagiku? Siapakah Yesus bagi kami berdua? Siapakah Yesus bagi masa depan perkawinan kami?”
4) Bagaimana Mendirikan Rumah yang Lebih Baik?
Ada beberapa aspek penting di dalam perkawinan yang menyangkut anak, hidup bersama, hidup beriman, sesama, dan materi. Selain aspek perkawinan topik ini juga membicarakan dua tema besar, yaitu rencana perkawinan kristiani dan nilai tujuan serta unsur perkawinan. Perkawinan merupakan komunitas yang intim dari cinta dan hidup istri. Komunitas intim adalah komunitas yang disatukan dalam tubuh
dan hati, bersifat eklusif atau hanya untuk dua orang yang tak dapat dipisahkan.
Komunitas ini terdiri dari dua pribadi yang hidup dalam dialog dan hormat, saling memahami dan membantu, serta saling menerima dan mengampuni. Komunitas ini dipanggil untuk berbagi dalam hal jasmani maupun rohani.
Tujuan dari perkawinan adalah kebahagiaan suami-istri, anak-anak, dan masyarakat, sedangkan unsurnya adalah kesatuan (indissolubilitas dan kesuburan cinta yang membawa kehidupan sakramentalitas). Untuk memperdalam penjelasan tersebut, buku ini memberikan alternatif pertanyaan untuk didialogkan antar pasangan, seperti: “Apa kaitan kebahagiaan Anda dengan kelahiran anak-anak?
Bagaimana Injil membantu Anda untuk menemukan makna sejati dari perkawinan dan membantu Anda merencanakan perkawinan dan keluarga Anda?
5) Mereka akan Menjadi Satu Daging
Di topik ini diterangkan persamaan dan perbedaan dari laki-laki dan perempuan. Terdapat tiga hal yang dibicarakan dalam topik ini.
a. Cinta yang menyatukan. Pasangan suami-istri disatukan Allah di dalam perbedaan. Masing-masing memiliki karakter dan sejarah hidup masing-masing.
Tetapi, di dalam perbedaan, mereka saling melengkapi, saling membutuhkan, dan saling membantu. Penyatu perbedaan tersebut adalah cinta (Kol 3:12-19).
b. Menuju kesatuan Hidup suami-istri. Kesatuan suami-istri akan menjadi sempurna dalam sakramen perkawinan. Melalui rahmat sakramen, Yesus menyembuhkan cinta suami-istri dari egoisme. Yesus mencurahkan Roh cinta kasih kepada
suami-istri supaya kesatuan itu menjadi kesatuan otentik. Terdapat beberapa pertanyaan yang ditawarkan buku ini untuk didialogkan bersama, seperti:
“Manakah kesamaan Anda dalam kesenangan, nilai, dan rencani hidup? Apakah perbedaan Anda yang mendasar? Manakah kesulitan terbesar Anda untuk berdialog? Apakah Anda cukup saling mengenal? Apakah yang Anda paling senangi dari pasangan Anda? Apakah Anda kesulitan untuk menerimanya?
Apakah Anda memandang diri cukup matang untuk membangun kesatuan suami-istri?”
6) Seksualitas, Bahasa Cinta
Topik pembicaraan keenam memberikan pemahaman tentang seksualitas perkawinan. Pada dasarnya seksualitas bersifat manusiawi. Seksualitas tidak dipahami sebatas biologis, tetapi lebih dipahami sebagai inti dasar hidup manusia.
Maka dari itu, seksualitas menjangkau seluruh aspek kehidupan pribadi seseorang.
Tindakan intim suami-istri merupakan tindakan yang mulia dan luhur, karena tidak hanya menjadi tindakan penyempurnaan cinta, tetapi juga pengadaan keturunan.
Oleh karena itu, kesatuan suami-istri menjadi gambaran kelembutan dan kekuasaan Allah khususnya dalam karya penciptaan. Seperti yang diungkapkan dalam Amsal 5:18-19 dan 1 Kor 7:3-4, seksualitas itu indah dan baik. Terdapat beberapa pertanyaan yang ditawarkan buku ini untuk didialogkan oleh pasangan, seperti “Apa yang akan terjadi kalau seksualitas itu tidak didasarkan pada cinta?” Apa hubungannya antara seksualitas manusia dengan kelembutan hati Allah?”
7) Cinta Kasih Perkawinan Tanda Cinta Kasih Allah
Terdapat tiga hal yang dibicarakan di dalam topik pembicaraan ini, yaitu:
a. Perjanjian cinta perkawinan. Unsur pembentuk perkawinan adalah janji nikah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Perjanjian ini membentuk suatu kesatuan antara seorang laki-laki dan perempuan yang tidak dapat ditarik kembali. Konsekuensi dari perjanjian ini adalah antara suami-istri dituntut untuk saling menyerahkan diri dan saling membantu. Sebagai satu bentuk tindakan yuridis, perjanjian ini juga memiliki makna kontrak, yaitu diatur dalam ketentuan hukum yang berlaku.
b. Allah menyatukan manusia dalam perjanjian kasih. Sebagaimana pada masa lalu Allah mendahului menyatukan umat-Nya melalui perjanjian kasih dan kesetiaan, demikian juga pada saat ini, keluarga kristiani yang berasal dari sakramen perkawinan, merupakan gambar dan partisipasi dari perjanjian kasih antara Yesus dan Gereja (GS 48).
c. Mencintai seperti Kristus (Ef 5:2.25-28.31-32). Kasih Kristus di salib adalah cinta mempelai yang terwujud dalam pemberian diri utuh jiwa dan raga, cinta yang memberi hidup dalam kebangkitan dan kelahiran Gereja, cinta setia sampai mati. Hal ini juga sama dengan perjanjian perkawinan suami-istri, yaitu bahwa perkawinan merupakan tanda yang jelas di mana Allah menyatukan suami-istri untuk selama-lamanya, tanda partisipasi dimana Allah memberi kita rahmat dan kekuatan, serta menjadi tanda sakramental.
8) Dipanggil Menjadi Orang Tua
Topik pembicaraan ini hendak memberi pemahaman tentang peran pasangan sebagai orang tua bagi anak-anaknya. Dalam pengadaan keturunan, suami-istri tidak bertindak seolah-olah mereka dapat menetukan sendiri cara-cara yang halal. Untuk hidup secara bertanggungjawab, haruslah mengenal dan menghormati fungsi dari tubuh sendiri. Budi menangkap bahwa pengadaan keturunan diatur secara biologis yang merupakan bagian dari pribadi yang perlu dihormati.
Penting bagi pasangan untuk mengetahui bahwa hubungan seksual suami-istri haruslah selaras dengan maksud Allah menciptakan manusia. Berkaitan dengan hal ini disampaikan perihal cara pengaturan kelahiran yang diterima oleh Gereja dan yang ditolak oleh Gereja. Program yang diterima oleh Gereja adalah pantang berkala dengan tidak berhubungan seksual di masa subur istri. Ada tiga metode alamiah, yaitu metode pengamatan suhu, metode ovulasi, metode sintotermis. Metode kotrasepsi dan abortif ditolak, karena dirasa tidak bermoral. Kontrasepsi memisahkan aspek unitif dengan aspek prokreasi relasi seksual. Contoh metode ini pembunuh sprema, kondom, metode hormon lelaui pil, suntik, susuk, setrilisasi berupa tubektomi dan basektomi serta IUD.
Beberapa contoh pertanyaan dialog yang diajukan oleh buku panduan ini: Apa maknanya bahwa Anda menghidupi hidup yang Anda terima dari orang tua Anda?
Apa keuntungan dan kerugian metode-metode pengaturan kesuburan? Apakah Anda yakin bahwa Anda dapat hidup dalam pantang berkala?
9) Bagaimana Menjadi Keluarga Kristen?
Topik kesembilan berisi tentang pemahaman akan keluarga kristiani. Keluarga sebagai sel pertama dan harapan masyarakat. Mengutip dari Familiaris Consortio 43,
“keluarga adalah tempat asal-usul dan sarana yang paling efektif untuk memanusiawikan dan mempribadikan masyarakat”. Sebagai keluarga kristiani harus mau terlibat dalam kehidupan bermasyarakat.
Keluarga adalah Gereja domestik dan penerus iman. Pembicaraan yang kedua tentang keluarga sebagai Gereja domestik dan penerusan iman. Mengutip dari KGK 1666 dijelaskan bahwa rumah kristiani adalah rumah dimana anak-anak menerima pewartaan Injil yang pertama. Maka dari itu, rumah keluarga sesungguhnya dipanggil menjadi Gereja domestik, komunitas rahmat dan doa, sekolah keutamaan manusia dan cinta kasih kristiani. Kiranya hal ini sesuai dengan spiritualitas perkawinan, yaitu perkawinan sebagai sarana manusiawi dan rohani. Contoh pertanyaan dialog yang diajukan oleh buku ini adalah “manakah sarana-sarana manusiawi dan rohani yang Anda perlukan untuk mengembangkan cina kasih Anda berdua?”
10) Cinta Kasih Kita Menjadi Tanda Kasih Kristus
Topik pembicaraan ini menjelaskan perihal sakramentalitas perkawinan. Pada umumnya orang berpendapat, bahwa perkawinan adalah hal yang menusiawi. Hal ini membuat orang tidak banyak memberikan penekanan pada aspek rohani dari perkawinan. Perkawinan di dalam Gereja Katolik adalah suatu panggilan hidup dimana di dalamnya terdapat janji untuk saling setia. Janji setia yang diucapkan oleh
pria dan wanita baptis sah secara Katolik di hadapan Tuhan dan Gereja adalah sakramen perkawinan. Janji setia ini tidak hanya diungkapkan terhadap pasangan saja, tetapi juga dengan Allah. Oleh karena itu di dalam janji itu terdapat dua dimensi yaitu janji “Ya” dari diri masing-masing pasangan dan janji “Ya” dari Allah.
Makna perkawinan kristiani adalah perjanjian Allah dengan umat-Nya dan cinta Kristus dengan Gereja. Perkawinan kristiani adalah gambar cinta kasih Kristus kepada Gerejanya yang paling indah. Rahmat sakramen perkawinan adalah kemampuan suami-istri untuk saling mengasihi bersama cinta Kristus. Di bagian ini pasangan diajak untuk mendialogkan tentang, “Apakah Anda mengamini bahwa Allah hadir dalam cinta kasih Anda? Apa bedanya menikah secara gerejawi dan menikah secara sipil dan di luar Gereja? Apakah sakramen itu penting bagi Anda?
Pentingnya dimana?
11) Marilah Mempersiapkan Perkawinan Kita
Upacara perkawinan bukan drama atau pertunjukan atau upacara formal. Hal yang lebih penting adalah bahwa mereka yang hendak menikah akan masuk dalam upacara yang sakral. Upacara ini perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
Langkah pertama adalah pasangan harus membicarakan terlebih dahulu dengan Pastor Paroki untuk mempersiapkan apa saja yang perlu dalam upacara perkawinan Katolik. Pasangan dapat memilih bacaan yang sesuai dan merumuskan beberapa doa non presidensial. Diharapkan pasangan sudah menerima seluruh sakramen inisiasi.
Kalau belum, pasangan harus membicarakanya dengan Pastor Paroki.
3.4. Analisis Kesesuaian dengan Ajaran Gereja
Di sub bab ini akan dipaparkan analisis kesesuaian proses KPP yang sudah terlaksana di Kevikepan D.I.Yogyakarta dengan apa yang diharapkan oleh Gereja.
Analisis menyangkut pelaksanaan dan materi yang disampaikan dalam KPP.
Andapun analisisnya sebagai berikut:
3.4.1. Pelaksanaan
Gereja menyerukan pentingnya persiapan perkawinan bagi mereka yang hendak menikah. Dari segi waktu pelaksanaanya, Gereja tidak terlalu menuntut harus dilaksanakan kapan dan berapa lama. Waktu pelaksanaan KPP tidak dibatasi pada bulan atau minggu tertentu sebelum menikah (CC 117-118). Demikian pula Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa kualitas pertemuan lebih diutamakan dari pada kuantitas pertemuanya (AL 207). Di sisi lain, Paus Yohanes Paulus II melihat bahwa persiapan perkawinan merupakan sebuah bentuk katekese yang memadai seperti dalam proses katekumenat. Tahap persiapan ini mencakup suatu persiapan yang lebih khusus, terutama bagi mereka yang menerima sakramen perkawinan (FC 66).
Katekese224 menjadi perlu supaya sakramen dapat dirayakan dan dihayati dalam keadaan jiwa moril225 serta rohani yang tepat (FC 66).
224 Katekese yang dimaksud di sini adalah Katekese adalah pembinaan anak-anak, kaum muda, dan orang dewasa dalam iman, khususnya mencakup penyampaian ajaran kristen yang pada umumnya diberikan secara sistematis dengan maksud mengantar umat beriman memasuki kepenuhan hidup kristiani
225 Jawa moril yang tepat adalah menerima perkawinan secara bebas, penuh, dan sungguh-sungguh dengan mengetahui makna dan nilai perkawinan kristiani lebih dalam sehingga intensi kenapa ia menikah sama dengan intensi Gereja dalam perkawinan
Gereja tidak terlalu mempermasalahkan waktu pelaksanaan KPP. Gereja lebih menyerahkan baik waktu pelaksanaan, durasi pelaksanaan, dan metode yang digunakan pada masing-masing Paroki sesuai dengan kebutuhan dan konteks sosial budaya setempat. Dibandingkan waktu dan durasi pelaksanaan, metode palaksanaan lebih mendapat perhatian. Metode yang diharapkan lebih pada katekse, dan memiliki alokasi cukup banyak waktu bagi pasangan untuk saling berdiskusi dan berdialog.
Hal ini diharapkan membantu mereka untuk dapat merencanakan perkawinan yang hendak mereka bentuk. Oleh karena itu, dari kedua metode yang digunakan di KPP, yang lebih memadai adalah metode yang digunakan oleh Katekese Persiapan Perkawinan. Di sana peserta diajak lebih mendalami iman dan juga memiliki banyak kesempatan untuk terlibat. Peserta diharapkan tidak sekadar menjadi pendengar. Ini nampak dalam buku panduan untuk peserta. Di dalam buku Bersiap Untuk Menikah, dialog dan komunikasi antar pasangan mendapat waktu lebih banyak. Buku ini juga menyediakan alternatif pertanyaan untuk didialogkan bersama.
3.4.2. Materi Pertemuan
Materi yang dibicarakan akan dianalisis dengan membandingkan dua buku yang dipakai dalam pelaksanaan KPP. Analisis lebih pada bagian makna dan nilai perkawinan.
3.4.2.1. Makna Perkawinan
Perkawinan merupakan sebuah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk kebersamaan seluruh hidup. Oleh karena itu, inti pokok makna perkawinan yang harus diketahui dan dipahami oleh pasangan yang hendak menikah adalah perkawinan sebagai perjanjian atau kesepakatan226.
Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga menjelaskan secara lengkap perkawinan sebagai perjanjian. Penjelasan ini ada dalam materi pertama dengan judul ajaran Gereja Katolik tentang perkawinan.227 Penjelasan perkawinan sebagai kesepakatan di materi ini menyangkut beberapa hal seperti arti, hakikat, tujuan, dan sifat-sifat perkawinan. Selain itu buku ini juga menjelaskan tentang kekhasan perkawinan Katolik, spiritualitas perkawinan, syarat-syarat dan halangan perkawinan, panggilan dasar keluarga Katolik, hak dan kewajiban suami istri dan orang tua, dan tentangan hidup berkeluarga dan soulusinya.
Pembahasan tentang perkawinan sebagai perjanjian di buku Bersiap untuk Menikah, ada di dalam dua topik pembicaraan, yaitu pembicaraan ketujuh228 dan kesepeluh229. Topik pembicaraan ketujuh menjelaskan tentang perjanjian cinta perkawinan. Topik ini berbicara tentang : Perjanjian perkawinan suami istri merupakan tanda yang jelas di mana Allah menyatukan mereka, tanda partisipasi Allah yang memberi kita rahmat dan kekuatan, dan tanda sakramental. Topik
226 John F. Kippley, Preparation for Marriage: what couples Have a Need and A Right to Know, Fellowship of Chatolic Scholars 2015 Convention, 1-15.
227 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, 16-27.
228 Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Bersiap Untuk Menikah, 25-28.
229 Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Bersiap Untuk Menikah, 37-40.
pembicaraan kesepuluh berbicara tentang cinta kita, tanda cinta Kasih Kristus. Topik ini lebih menjelaskan tentang sakrementalitas perkawinan.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kedua buku panduan menjelaskan makna perkawinan dengan baik dan lengkap. Materi tentang makna perkawinan, yaitu perkawinan sebagai suatu perjanjian atau kesepakatan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Gereja. Oleh kerena itu, diharapkan peserta KPP dapat semakin memahami makna perkawinan yang akan mereka hidupi.
3.4.2.2. Nilai Perkawinan
a. Cinta kasih dalam kesatuan hidup bersama
Nilai kesatuan dalam buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga dijelaskan pada materi 1 dengan judul ajaran Gereja Katolik tentang perkawinan dan materi empat dengan judul membina keharmonisan kehidupan seksual”.230 Di sana dijelaskan bahwa kesatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan menuntut relasi cinta yang eksklusif. Dengan kata lain, tidak ada hubungan khusus di luar pasutri seperti poligami dan pria maupun wanita idaman lain.231
Buku Bersiap Untuk Menikah, meletakkan topik pembicaraan ini di bagian lima dan enam, dengan judul mereka akan menjadi satu daging. Ditekankan bahwa di dalam perkawinan ada perubahan dari aku menjadi kita. Perubahan ini
230 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, 100-111.
231 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, 18.
menandakan adanya kesatuan. Kesatuan sempurna ada di dalam perkawinan kristiani.232 Dibicarakan pula seksualitas sebagai bahasa cinta. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa nilai kesatuan dalam perkawinan Katolik dijelaskan baik di dalam buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga maupun buku Siap Untuk Menikah.
b. Kesetiaan dan Keterbukaan
Kesetiaan tidak hanya menjadi unsur hakiki perkawinan Katolik, tetapi juga nilai yang harus dihidupi oleh pasangan suami-istri. Kesetiaan berarti tidak terceraikan. Perkawinan bukan lah suatu relasi yang hanya akan bertahan satu atau dua tahun saja, tetapi seumur hidup. Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga menjelaskan nilai kesetiaan dalam tema pembicaraan yang pertama.
Di sana tidak terlalu diulas banyak tentang ketidakceraian ini. Buku tersebut menjelaskan bahwa kesetiaan berarti ikatan perkawinan hanya diputuskan oleh kematian. Untuk itu dituntut adanya kesetiaan dalam untung dan malang dalam suka dan duka.233 Buku Bersiap Unuk Menikah tidak banyak menyinggung nilai ketidakceraian ini. Buku ini hanya mengungkapkan bahwa salah satu unsur perkawinan adalah indissolubilitas atau ketidakterceraian.234 Maka, nilai kesetiaan tidak terlalu mendapat perhatian dalam kedua buku.
232 Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Bersiap Untuk Menikah, 17-20.
233 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, 18.
234 Komisi Keluarga Keuskupan Agung Semarang, Bersiap Untuk Menikah, 16.
c. Penyerahan diri secara bebas, penuh, dan sungguh
Ada tiga nilai penting yang dituntut harus ada dalam diri seseorang ketika hendak menikah, yaitu bebas, penuh, dan sungguh. Orang harus dengan sungguh-sungguh mencintai pasanganya dan menyerahkan diri secara total kepadanya.
Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga cukup memberi penjelasan atas keharusan adanya kebebasan, kepenuhan, dan kesungguhan dalam diri seseorang yang hendak menikah. Pembahasan ini nampak dengan adanya penjelasan apa dan bagaimana syarat-syarat serta halangan-halangan perkawinan Katolik.235 Buku Bersiap Untuk Menikah sama sekali tidak disinggung tentang syarat-syarat dan halangan perkawinan Katolik. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman dan pengetahuan tentang syarat-syarat dan halangan-halangan nikah tidak terlalu mendapat perhatian, padahal ini sangat penting bagi pasangan untuk mengetahui apakah dirinya atau pasanganya bisa menikah secara Katolik dengan sah.
d. Kesucian
Salah satu nilai perkawinan Katolik adalah kesucian. Perkawinan bagi Gereja Katolik memiliki nilai kesucian yang harus dihidupi oleh pasanan suami-istri. Perkawinan itu suci, karena menjadi salah satu sarana keselamatan Allah dalam hidup manusia. Kesucian perkawinan mendapat kepenuhannya dalam karya penebusan Yesus Kristus. Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga menjelaskan bahwa perkawinan adalah sakramen, yaitu menjadi tanda kehadiran
235 Tim Pusat Pendampingan Keluarga Brayat Minulyo, Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga, 20.
Allah yang menyelamatkan. Untuk itu, dalam diri pasangan suami-istri dituntut adanya cinta yang utuh, total, dan radikal, tak terbagi sebagaimana cinta Yesus kepada GerejaNya.236
Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga membahas topik sakramentalitas perkawinan dalam topik pembicaraan kesepuluh dengan judul cinta kasih, tanda cinta kasih Kristus”. Di bagian ini dijelaskan tentang makna rahmat sakramen.237 Pembahasan sakramentalitas perkawinan dalam buku ini
Buku Kursus Persiapan Hidup Berkeluarga membahas topik sakramentalitas perkawinan dalam topik pembicaraan kesepuluh dengan judul cinta kasih, tanda cinta kasih Kristus”. Di bagian ini dijelaskan tentang makna rahmat sakramen.237 Pembahasan sakramentalitas perkawinan dalam buku ini