• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. PASTORAL PENDAMPINGAN PERKAWINAN KRISTIANI

4.3. Analisis Data Kuantitatif

4.3.3. Berdasarkan Motivasi Responden Mengikuti KPP

Analisis ketiga adalah analisis berdasarkan motivasi responden mengikuti KPP.

Analisis ini ingin melihat apakah motivasi responden mempengaruhi akseptasi mereka terhadap proses KPP. Adapun motivasi responden mengikuti KPP dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu ingin memantapkan diri untuk menikah, ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan Katolik, dan demi kelengkapan syarat administrasi Paroki untuk perkawinan. Analisis ini akan dilakukan dalam dua tahap.

a. Tahap pertama, analisi dilihat secara umum dari keseluruhan hasil persentase skor responden.

b. Tahap kedua, analisis dilakukan berdasarkan hasil persentase skor per bagian, yaitu bagian sikap, pengetahuan, dan perasaan.

Adapun hasil persentase skor berdasar motivasi dasar mengikuti KPP adalah sebagai berikut:

Tabel 16. Persentase Skor Responden Berdasarkan Motivasi Responden276

Persentase skor responden yang bermotivasi ingin memantapkan diri, sebelum mengikuti KPP sebesar 81.4%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 88.6%. Ini berarti bahwa pemahaman responden tentang perkawinan kristiani sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori yang sama, yaitu kuat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa KPP cukup signifikan membantu responden untuk semakin memahami perkawinan kristiani, meskipun dirasa belum maksimal karena hasil masih dibawah 90%.

Tingkat pemahaman responden bermotivasi ingin memantapkan diri dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:

276 Lampiran 13, Perhitungan Persentase Skor Responden Berdasarkan Motivasi Responden Mengikuti KPP

a. Perhitungan persentase skor sikap di atas, menunujukan bahwa baik sebelum dan setelah mengikuti KPP sikap responden terhadap perkawinan kristiani ada pada kriteria kuat, yaitu 84.8% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 87.7% setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain KPP tidak terlalu signifikan, atau tidak terlalu berpengaruh terhadap sikap responden yang mengikuti KPP dengan motivasi ingin memantapkan diri untuk menikah, kenaikan hanya sebesar 2.9%.

b. Persentase skor pengetahuan responden sebelum mengikuti KPP sebesar 75.3%.

Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik 16.4%, menjadi 91.7%. Jadi dapat dikatakan bahwa KPP signifikan dalam menambah pengetahuan responden tentang perkawinan kristinai. Pemahaman responden yang awalnya masuk dalam kategori cukup, setelah KPP naik menjadi kuat.

c. Persentase skor perasaan responden sebelum mengikuti KPP sebesar 84.7%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden yang akan menikah secara Katolik sebesar 15.3%.

Setelah mengikuti KPP skor yang diperoleh menjadi 84.9% atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 15.1%. Dengan ini dapat dikatakan, bahwa KPP tidak mempengeruhi perasaan responden. Perbedaannya hanya 0.2% saja.

4.3.3.2. Ingin Mengetahui Apa dan Bagaimana Perkawinan Kristiani

Dari penghitungan persentase skor responden yang mengikuti KPP dengan motivasi ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan Katolik, diketahui bahwa sebelum mengikuti KPP persentase skornya sebesar 81.7%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik menjadi 90%. Ini berarti bahwa pemahaman tentang perkawinan kristiani responden sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori yang sama, yaitu kuat. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa KPP cukup signifikan dan menambah pemahaman responden tentang perkawinan kristiani sebesar 8.3%.

Tingkat pemahaman responden bermotivasi ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan kristiani dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:

a. Perhitungan persentase skor sikap menunujukan, bahwa baik sebelum dan setelah mengikuti KPP, responden yang ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan kristiani ada pada golongan kuat, yaitu 84.8% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 88.3% setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain, KPP tidak terlalu signifikan berpengaruh terhadap sikap responden terhadap perkawinan Katolik, yaitu sebesar 2.9%.

b. Perhitungan persentase skor tingkat tahu tidaknya responden tentang perkawinan kristiani sebelum mengikuti KPP sebesar 75.2%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor naik 18.3%, menjadi 93.9%. Dengan demikian, KPP signifikan

menambah pengetahuan responden tentang apa dan bagaimana perkawinan kristiani. Pemahaman responden yang awalnya cukup menjadi kuat setelah mengikuti KPP.

c. Perolehan skor perasaan responden yang ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan kristiani sebelum mengikuti KPP sebesar 85.4%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden yang akan menikah secara kristiani sebesar 14.6%. Setelah mengikuti KPP, skor yang diperoleh menjadi 87% atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 13%. Dengan ini dapat dikatakan, bahwa KPP tidak terlalu signifikan merubah perasaan responden yang mengikuti KPP dengan motivasi ingin mengetahui apa dan bagaimana perkawinan Katolik. Perbedaannya hanya 1,6% saja.

4.3.3.3.Kelengkapan Syarat Administrasi Paroki untuk Perkawinan

Persentase skor awal responden yang mengikuti KPP demi kelengkapan syarat administrasi sebesar 82.6%. Setelah mengikuti KPP, persentase skor yang didapat naik sebesar 9.3%, menjadi 91.9%. Ini berarti bahwa KPP cukup signifikan menambah pemahaman responden tentang perkawinan kristiani. Perolehan persentase skor responden sebelum dan setelah mengikuti KPP ada pada kategori yang sama, yaitu kuat.

Tingkat pemahaman responden bermotivasi demi kelengkapan syarat administrasi paroki dapat dilihat dari sikap, pengetahuan, dan perasaan responden baik sebelum dan setelah mengikuti KPP. Adapun analisisnya sebagai berikut:

a. Perhitungan persentase skor sikap menunujukan, bahwa baik sebelum dan setelah mengikuti KPP, pemahaman responden tentang perkawinan kristiani ada pada golongan kuat, yaitu 83.8% untuk skor sebelum mengikuti KPP dan 90.7%

setelah mengikuti KPP. Dengan kata lain, KPP cukup signifikan terhadap sikap responden yang mengikuti KPP dengan motivasi kelengkapan syarat administrasi paroki, yaitu sebesar 6.9%.

b. Perhitungan persentase skor tingkat pengetahuan responden yang mengikuti KPP demi kelengkapan syarat administrasi paroki sebelum mengikuti KPP adalah 79.6%. Setelah mengikuti KPP persentase skor yang didapat naik 15.3%, menjadi 94.9%. Jadi dapat dikatakan bahwa KPP sangat signifikan menambah pengetahuan responden. Pengetahuan responden baik sebelum dan setelah KPP ada pada kategori kuat.

c. Persentase skor perasaan responden yang mengikuti KPP demi kelengkapan syarat administrasi sebelum mengikuti KPP sebesar 85.7%. Ini berarti bahwa sebelum mengikuti KPP perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan responden yang akan menikah secara Katolik sebesar 14.3%. Setelah mengikuti KPP, skor yang diperoleh menjadi 89.2% atau perasaan takut, bimbang, khawatir, dan keterpaksaan yang muncul dalam diri responden menjadi 10.8%.

Dengan ini dapat dikatakan bahwa KPP signifikan, tetapi tidak banyak merubah perasaan responden yang mengikuti KPP demi kelengkapan syarat administrasi paroki.