BAB III METODE PENELITIAN
3.7 Teknik Analisis Data
3.7.2. Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara variable independen dan variable dependen. Dalam hal ini adalah untuk mengetahui hubungan antara peranan kepemimpinan (pengambilan keputusan, perencanaan, pengawasan, kepemimpinan) dengan disiplin kerja (tanggung jawab, ketepatan waktu, ketaatan, keadilan).Uji hubungan yang digunakan adalah uji Chi Square. Uji ini dilakukan dalam rangka menganalisis hubungan dua variable kategorik. Uji signifikan dilihat dengan menggunakan P value <0,05.
Kesimpulan tingkat kemaknaan dapat dilakukan apabila hasil uji sebagai berikut :
1. P > 0,05 menunjukan hasil adalah tidak signifkan.
2. P ≤ 0,05 menunjukan hasil adalah signifikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Namu Ukur
Dalam melaksanakan kegiatannya Puskesmas Namu Ukur melayani 8 desa yang ada di wilayah kecamatan Sei Bingai. Wilayah kerja puskemas Namu Ukur di sebelah Utara berbatasan dengan desa Kw. Mencirim Kec. Sei Bingai. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Namu Tating Kec. Sei Bingai. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kab. Deli Serdang dan Kab. Karo serta sebelah Barat berbatasan dengan desa Raja Tengah Kec. Kuala.
4.2 Karakteristik Responden
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Penelitian
No. Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin
1 Laki-laki 6 14,6
2 Perempuan 35 85,4
Pendidikan
1 Sekolah Menengah 6 14,6
2 Akademi/Perguruan Tinggi 35 85,4
Masa Kerja terbanyak yaitu perempuan sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan laki-laki sebanyak 6 responden (14,6%). Kategori pendidikan terbanyak yaitu
Akademi/Perguruan tinggi sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan sekolah menengah sebanyak 6 responden (14,6%). Masa kerja terbanyak yaitu kategori >5 tahun sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan kategori ≤5 sebanyak 6 responden (14,6%) , dan status terbanyak yaitu ada pada kategori kawin sebanyak 40 responden (97,6%).
4.3 Peranan Kepemimpinan
Peranan kepemimpin dalam suatu organisasi sangatlah penting sebab pimpinan berperan secara langsung dalam suatu organisasi akan berpengaruh dalam pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sebagaimana yang telah ditetapkan pada bab-bab sebelumnya kepemimpinan pada intinya adalah mempengaruhi orang-orang agar mau melaksanakan pekerjaan, sehingga dengan dasar itulah penulis mengungkap peranan kepemimpinan dalam penelitian ini, adapun peranan kepemimpinan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
4.3.1 Distribusi Proporsi Pengambilan Keputusan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan pemimpin sebagai pengambil keputusan dapat dilihat pada tabel beriku t:
Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Pengambilan Keputusan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Pengambilan Keputusan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 25 61
2 Buruk 16 39
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.2 di atas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi pengambilan keputusan pimpinan dalam kategori baik terdapat 25 responden (61%) sedangkan responden yang menganggap fungsi pengambilan keputusan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 16 responden (39%).
4.3.2 Distribusi Proporsi Perencanaan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan pemimpin dalam perencanaan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Proporsi Perencanaan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Perencanaan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 2 4,9
2 Buruk 39 95,1
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.3 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi perencanaan pimpinan dalam kategori baik terdapat 2 responden (4,9%) sedangkan responden yang menganggap fungsi perencanaan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 39 responden (95,1%).
4.3.3 Distribusi Proporsi Pengawasan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Peranan pimpinan sebagai pengawas atau pengendali yang dimaksud adalah mampu mengendalikan segala kegiatan serta jalannya organisasi dengan baik.Peranan pimpinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pimpinan selalu mengecek semua bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Distribusi proporsi pengawasan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Pengawasan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Pengawasan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 4 9,8
2 Buruk 37 90,2
Total 41 100,0
Berdasarkan hasil tabel 4.4 diatas penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi pengawasan pimpinan dalam kategori baik terdapat 4 responden (9,8%) sedangkan responden yang menganggap fungsi pengawasan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 37 responden (90,2%).
4.3.4 Distribusi Proporsi Kepemimpinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan kepemimpinan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Kepemimpinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Kepemimpinan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 30 73,2
2 Buruk 11 26,8
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.5 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi kepemimpinan pimpinan dalam kategori baik terdapat 30 responden (73,2%) sedangkan responden yang menganggap fungsi kepemimpinan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 11 responden (26,8%).
4.3.5 Distribusi Proporsi Kedisiplinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui distribusi proporsi responden tentang kedisplinan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Kedisiplinan Staff di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Kedisiplinan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 14 34,1
2 Buruk 27 65,9
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.6 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kedisiplinan dalam kategori baik terdapat 14 responden (34,1%) sedangkan responden dengan kedisiplinan dalam kategori buruk terdapat 27 responden (65,9%).
4.4 Hubungan Peranan Kepemimpinan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Peranan pemimpin dalam mengambil keputusan kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pimpinan. Sehingga jika seorang pimpinan tidak mampu untuk membuat keputusan, seharusnya dia tidak menjadi pimpinan. Karena untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Hubungan pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja dapat dilihat pada tabel berikut :
4.4.1 Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Tabel 4.7 Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Variabel Kedisiplinan Kerja
p
Baik Buruk Total
Pengambilan Keputusan N % n % n %
Baik 8 19,5 17 41,5 25 61
0,717
Buruk 6 14,6 10 24,2 16 39
Total 14 34,1 27 65,9 41 100
Berdasarkan table 4.7 di atas hasil tabulasi silang antara pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 25 responden dengan kategori pengambilan keputusan baik sebanyak 8 responden (19,5%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Sedangkan dari 16 responden dengan kategori pengambilan keputusan buruk sebanyak 6 responden (14,6%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 10 responden (24,2%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ>0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara variabel pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
4.4.2 Hubungan Perencanaan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Tabel 4.8 Hubungan Perencanaan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Variabel Kedisiplinan Kerja
p
Baik Buruk Total
Perencanaan N % N % N %
Baik 2 4,9 0 0,0 2 4,9
0,044
Buruk 12 29,3 27 65,9 39 95,1
Total 14 34,1 27 65,9 41 100
Berdasarkan table 4.8 di atas hasil tabulasi silang antara perencanaan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 2 responden dengan kategori perencaan baik sebanyak 2 responden (4,9%) yang kedisiplinan kerjanya baik. Sedangkan dari 39 responden dengan kategori perencaan buruk sebanyak 12 responden (29,3%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 27 responden (65,9%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ<0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa ada hubungan secara signifikan antara variabel perencanaan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
4.4.3 Hubungan Pengawasan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Tabel 4.9 Hubungan Pengawasan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Variabel Kedisiplinan Kerja
p
Baik Buruk Total
Pengawasan N % n % N %
Baik 2 4,9 2 4,9 4 9,8
0,482
Buruk 12 29,3 25 61 37 90,2
Total 14 34,1 27 65,9 41 100
Berdasarkan table 4.9 di atas hasil tabulasi silang antara pengawasan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 4 responden dengan kategori pengawasan baik sebanyak 2 responden (4,9%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 2 responden (4,9%) yang kedisiplinan kerjanya buruk. Sedangkan dari 37 responden dengan kategori pengawasan buruk sebanyak 12 responden (29,3%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 25 responden (61%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ>0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara variabel pengawasan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
4.4.4 Hubungan Kepemimpinan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Tabel 4.10 Hubungan Kepemimpinan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Variabel Kedisiplinan Kerja
p
Baik Buruk Total
Kepemimpinan N % n % N %
Baik 13 31,7 17 41,5 30 73,2
0,042
Buruk 1 2,4 10 24,4 11 26,8
Total 14 34,1 27 65,9 41 100
Berdasarkan table 4.10 di atas hasil tabulasi silang antara kepemimpinan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 30 responden dengan kategori kepemimpinan baik sebanyak 13 responden (31,7%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) yang kedisiplinan kerjanya buruk. Sedangkan dari 11 responden dengan kategori kepemimpinan buruk sebanyak 1 responden (2,4%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 10 responden (24,4%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ<0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa ada hubungan secara signifikan antara variabel kepemimpinan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kategori pengambilan keputusan baik terdapat 8 responden (19,5%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) dengan kedisiplinan kerjanya buruk. Sedangkan responden dengan kategori pengambilan keputusan buruk terdapat 6 responden (14,6%) dengan kedisplinan kerja yang baik dan 10 orang (24,2%) responden dengan disiplin kerja buruk. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai nilai ρ>0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara variabel pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap staf puskesmas diketahui komunikasi pimpinan dengan petugas baik, pimpinan sebagai atasan yang bijak dan sigap dalam mengambil keputusan dan juga pimpinan dengan bawahan sering berkomunikasi dan berkordinasi langsung. Sikap pimpinan yang mengambil keputusan dengan berkordinasi dan mengikutsertakan staf dalam merumuskan tujuan, menurut responden pimpinan dalam merumuskan tujuan program masih menggunakan pemikirannya dengan berkordinasi dan mengikutsertakan staf dalam membicarakan program yang difikirkan bersama sangat baik dan semua staf merasa mereka sangat dibutuhkan.
Menurut Siagian (2009) bahwa dalam pengambilan keputusan pada seorang pemipin harus sebagai entrepreneur artinya seorang pemimpin diharapkan mampu mengkaji terus-menerus situasi yang di hadapi oleh organisasi, untuk mencari dan menemukan peluang yang dapat dimanfaatkan, meskipun kajian ini sering menuntut terjadinya perubahan dalam organisasi. Peran ini dimainkan melalui pertemuan-pertemuan yang dimaksudkan untuk merumuskan tujuan untuk dapat mewujudkan tujuan. Sehingga hal ini sesuai bahwa untuk meningkatkan kedisplinan kerja staf maka seorang pemimpin dalam pengambiilan keputusan harus mengikutsertakan dan menganalisa situasi secara mendalam melalui komunikasi dalam pertemuan-pertemuan.
Pengambilan keputusan ini merupakan satu-satunya hal yang membedakan seorang pemimpin. Oleh sebab itu, keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh keterampilan pengambilan keputusan disaat-saat amat kritis memahami secara lebih mendalami karakter yang dimiliki oleh bawahan dan memahami tata hubungan organisasi yang di pimpinnya dengan lingkungan sekitarnya demi merumuskan tujuan dan memperbaiki serta mewujudkan visi dan misi puskesmas bersama. (Hasibuan,2004).
5.2 Hubungan Perencanaan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kategori perencanaan baik terdapat 2 responden (4,9%) yang disiplin kerjanya baik. Sedangkan responden dengan kategori perencanaan buruk terdapat 12 responden (29,3%) dengan kedisplinan kerja yang baik dan 27 responden (65,9%)
square diperoleh nilai ρ<0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa ada
hubungan secara signifikan antara variabel perencanaan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
Dari hasil wawancara staf puskesmas, pimpinan tidak melakukan perencanaan dalam memberikan tugas kepada staf puskesmas, karena Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efesien agar sesuai dengan kebutuhan puskesmas dalam membantu terwujudnya tujuan.
Perencanaan dilakukan dengan menetapkan program kepegawaian.
(Hasibuan,2010).
5.3 Hubungan Pengawasan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kategori pengawasan baik terdapat 2 responden (4,9%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 2 orang (4,9%) dengan kedisiplinan kerja buruk. Sedangkan responden dengan kategori pengawasan buruk terdapat 12 orang (29,3%) dengan kedisplinan kerja yang baik dan 25 orang (61%) responden dengan disiplin kerja buruk. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ>0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa tidak ada hubungan secara signifikan antara variabel pengawasan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
Berdasarkan hasil wawancara staf puskesmas, pimpinan mengadakan pengawasan langsung dalam setiap pekerjaan karena menurut responden pimpinan slalu ingin stafnya mengerjakan tugasnya sampai selesai dengan memeriksa atau
menilai pekerjaan staf dan pemimpin berjiwa rasa memiliki sehingga dia turut ikut serta dalam mengawasi dan mengoreksi pekerjaan para staf.
Menurut Muninjaya (2004), pengawasan merupakan kegiatan yang amat penting dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Tanpa pengawasan atau pengawasan lemah, berbagai penyalahgunaan wewenang akan terjadi. Menurut Sulaiman (2011) pengawasan merupakan salah satu kegiatan untuk memperoleh kepastian akan kegiatan/ pekerjaan telah dilaksanakan sesuai rencana. Kegiataan pengawasan pada dasarnya membandingkan kondisi yang ada dengan yang seharusnya terjadi. Dengan demikian dapat diartikan bahwa kegiataan pengawasaan memang diperlukan dalam melihat apakah pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang dibuat atau tidak sehingga tujuan suatu organisasi dapat tercapai.
5.4 Hubungan Peranan Kepemimpinan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan kategori kepemimpinan baik terdapat 13 responden (31,7%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) dengan kedisiplinan kerjanya buruk.
Sedangkan responden dengan kategori kepemimpinan buruk terdapat 1 responden (2,4%) dengan kedisplinan kerjanya baik dan 10 responden (24,4%) responden dengan kedisiplinan kerja buruk. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji chi-square diperoleh nilai ρ<0,05 sehingga secara statistik dapat diartikan bahwa ada hubungan secara signifikan antara variabel kepemimpinan dengan kedisiplinan kerja staff di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun
Disiplin memegang peranan penting dalam rangka meningkatkan produktivitas kerja pegawai, peningkatan disiplin kerja akan diikuti dengan peningkatan produktivitas kerja. Salah satu tujuan perusahaan adalah meningkatkan produktivitas kerja pegawai, dengan demikian disiplin akan mempercepat tujuan perusahaan atau organisasi. Disiplin kerja merupakan kegiatan manajemen untuk menjalankan standar-standar organisasional (Handoko, 2001). Disiplin menunjukkan suatu kondisi atau sikap hormat yang ada pada pegawai atau karyawan terhadap peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh perusahaan (Sutrisno, 2009).
Disiplin dalam bekerja sangatlah penting sebab dengan kedisiplinan tersebut diharapkan sebagian besar peraturan ditaati oleh para pegawai, bekerja sesuai dengan prosedur, sehingga pekerjaan terselesaikan secara efektif dan efisien serta dapat meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu bila karyawan tidak menggunakan aturan-aturan yang ditetapkan dalam perusahaan, maka tindakan disiplin merupakan langkah terakhir yang bisa diambil terhadap seorang pegawai yang performa kerjanya dibawah standar. Disiplin kerja dapat dilihat dari, kepatuhan karyawan terhadap tata tertib yang berlaku termasuk tata waktu dan tanggung jawab pada pekerjaannya, bekerja sesuai dengan prosedur yang ada, memelihara pekerjaan dengan baik.
Sastrohadiwiryo (2003) tujuan utama mengadakan sanksi disiplin kerja bagi pegawai yang melanggar norma-norma perusahaan adalah memperbaiki dan mendidik para pegawai yang melakukan pelanggaran disiplin. Sanksi atas pelanggaran disiplin yang dijatuhkan haruslah setimpal dengan pelanggaran
disiplin yang dilakukan sehingga secara adil dapat diterima. Pada umumnya sebagai pegangan manajer meskipun tidak mutlak, tingkat dan jenis sanksi disiplin kerja terdiri atas sanksi disiplin berat, sanksi disiplin sedang, dan sanksi disiplin ringan.
Untuk meningkatkan kedisiplinan staff pemimpin bisa saja memberikan sanksi mulai dari sanksi ringan hingga berat agar staff lebih menjaga kedisiplinan dalam bekerja. Selain itu pemimpin juga harus menjadi dan memberikan contoh kepada para staffnya agar apa yang diinstruksikan pemimpin ikut dijalankan oleh para staff dan muncul rasa hormat kepada pemimpin.
Sebagai pemimpin yang baik akan selalu di contoh oleh pegawainya karena seorang pemimpin merupakan panutan bagi para pegawai di kantor.
Pimpinan selalu memberikan penyuluhan atau komunikasi kepada para pegawainya sehingga pemimpin mengetahui pegawainya yang disiplin atau tidak disiplin. Oleh karena itu pimpinan bisa memberikan pelatihan atau perhatian khusus pada pegawai yang tidak disiplin agar pegawai tersebut bisa melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan disiplin dalam bekerja, secara tidak langsung memberikan contoh keteladanan seorang pemimpin.yang baik, dengan kenyataan ini, para pegawai bergerak untuk melaksanakan disiplin pegawai yang efektif pula.
Berdasarkan pendapat tersebut, peran pemimpin dalam meningkatkan disiplin kerja adalah sikap pada pegawai untuk berperilaku sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan dimana dia bekerja, menunjukkan kedisiplinan yang didukung dengan adanya sumberdaya manusia yang baik, karena pemimpin
mampu melaksanakan perannya dalam meningkatkan disiplin kerja pegawai, peran pemimpin memberikan instruksi dan tugas yang harus dilaksanakan oleh pegawai, memberikan penjelasan dan pengarahan kepada pegawai terhadap suatu tugas yang diberikan, pemimpin memberikan contoh sikap disiplin dalam mematuhi tata tertib. Kepemimpinan tetap penting bagi pencapaian tujuan perusahaan maupun bagi pemeliharaan rasa disiplin kerja karyawan dalam aktifitas sehari-hari.
Peran kepemimpinan dalam meningkatkan kedisiplinan pegawai yang berdasarkan prinsip-prinsip penyelesaian pekerjaannya dengan proses untuk memberikan contoh yang baik kepada para pegawai atau bawahan, memberikan pelatihan atau perhatian khusus, memberikan penyuluhan atau sering melakukan komunikasi kepada pegawai yang disiplin atau tidak disiplin, sehingga bagi para pegawai yang tidak disiplin tersebut bisa melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan disiplin dalam bekerja secara tidak langsung memberikan contoh keteladanan yang baik bagi para staf.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai “Hubungan Peranan Kepemimpinan dengan Kedisplinan Kerja Staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai” dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Tidak ada hubungan antara pengambilan keputusan dan pengawasan deangan kedisiplinan kerja staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
2. Ada hubungan antara perencanaan dan kepemimpinan dengan kedisiplinan staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
6.2 Saran
1. Pemimpin hendaknya memperhatikan perannya dalam meningkatkan kedisiplinan kerja staf pada Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai guna mencapai keberhasilan kerja sebagaimana tujuan awal instansi.
2. Pemimpin harus lebih menunjukkan sikap kepemimpinannya dalam meningkatkan kedisiplinan kerja staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai dengan cara berwibawa, tegas, bersikap adil, jujur, terbuka dan mau mendengar pendapat bawahannya karena pimpinan harus menjadi panutan dan contoh sikap sebagai seorang pemimpin untuk para staf.
3. Pemimpin harus lebih tanggap dalam menganalisa kondisi, situasi dan inerja staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai, kemudian menentukan perencanaan kegiatan.
DAFTAR PUSTAKA
Ferdian, 2013. Hubungan Peranan Kepemimpinan Terhadap Peningkatan Disiplin Kerja Karyawan PT. Indah Jaya (Skripsi). Jakarta : Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Bina Nusantara.
Handoko, T H. 2001. Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Edisi.
Kedua. Jakarta : BPFE.
. 2007 Manajemen Edisi Keempat. Jakarta : PT. Bumi Aksara Hasibuan H. M. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Edisi Revisi.
Jakarta : PT.Bumi Aksara.
. 2010. Manajemen (Dasar, Pengertian, dan Masalah). Edisi Revisi. Jakarta : PT. Bumi Aksara
Horoepoetri. 2003. Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan.
Jakarta : Walhi.
Kartono, K. 2010. Pemimpin dan Kepemimpinan, Edisi Pertama. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 857 tahun 2009 tentang Pedoman Penilaian Kinerja Sumber Daya Manusia Kesehatan Di Puskesmas. Jakarta : Kemenkes RI.
Muninjaya, G.A.A. 2004. Manajemen Kesehatan, Cetakan Pertama. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Kemenkes RI.
Purba, W. A. 2011. Peranan Kepemimpinan dalam Meningkatkan Disiplin Kerja Staf dan Karyawan pada Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (Skripsi). Medan : Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
Sastrohadiwiryo, S. B. 2003. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administrative dan Operasional. Jakarta : Bumi Aksara.
Siagian, P.S,. 2009. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.
Soekarso, I.P. 2015. Kepemimpinan Kajian Teoritis dan Praktis. Jakarta : Penerbit buku kedokteran EGC.
Sulaiman. 2011. Manajemen Kesehatan, Cetakan Kedua. Yogyakarta : PT.Gajah Mada University Press.
Sutrisno, Edy. 2009, Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta, Kencana.
Pernada Media Group.
Lampiran 1
KUISIONER PENELITIAN
Nomor Kuisioner : Hari/tanggal :
HUBUNGAN PERANAN KEPEMIMPINAN DENGAN KEDISIPLINAN KERJA STAF PUSKESMAS NAMU UKUR KECAMATAN SEI BINGAI
Petunjuk Pengisian
a. Mohon perhatikan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan seksama b. Berikan jawaban anda dengan memberikan tanda ( ) pada kotak jawaban
yang di maksud.
Ya, jika kegiatan yang di tanyakan, dilakukan oleh pimpinan Bapak/Ibu.
Tidak, jika kegiatan yang ditanyakan tidak pernah dilakukan oleh pimpinan Bapak/Ibu.
c. Mohon dijawab sesuai dengan keadaan yang sebenarnya demi kebenaran penelitian.
d. Jawaban anda kami jamin kerahasiaannya dan tidak akan mempengaruhi karir atau jabatan Bapak/Ibu.
e. Terima kasih atas kesediaan bapak/ibu menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.