BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Kedisiplinan Kerja
2.2.3 Jenis – Jenis Kedisplinan Kerja
Pemimpin perusahaan harus mampu mengenal dan mempelajari perilaku dan sifat karyawannya. Hal ini dapat membantu pemimpin dalam memilih jenis motivasi kerja mana yang sesuai dengan karyawannya. Selain itu, perilaku dan
sifat karyawan juga berpengaruh terhadap pemilihan jenis kedisiplinan mana yang dapat diterapkan kepada karyawan.
Terdapat beberapa tipe kegiatan kedisiplinan menurut Handoko (2007), antara lain:
1. Disiplin Preventif adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk mendorong para karyawan agar mengikuti berbagai standar dan aturan, sehingga penyelewengan-penyelewengan dapat dicegah.
2. Disiplin Korektif adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut.
3. Disiplin Progresif adalah memberikan hukuman-hukuman yang lebih berat terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terulang.
Sasaran pokok dari disiplin preventif adalah untuk mendorong disiplin diri diantara para karyawan. Dengan cara ini para karyawan dapat menjaga disiplin diri mereka bukan semata-mata karena dipaksa manajemen. Manajemen harus mempunyai tanggung jawab untuk menciptakan suatu iklim disiplin preventif dimana berbagai standar diketahui dan dipahami. Bila para karyawan tidak mengetahui standar-standar apa yang harus dicapai, mereka cenderung menjadi salah arah. Disamping itu, manajemen hendaknya menetapkan standar-standar secara positif dan bukan secara negatif. Para staf biasanya perlu mengetahui alasan-alasan yang melatarbelakangi suatu standar agar mereka dapat memahami dan menjalankannya. Sedangkan para disiplin korektif kegiatannya biasanya dapat diaplikasikan dalam suatu bentuk hukuman atau disebut juga sebagai tindakan
pendisiplinan. Tindakan pendisiplinan ini dapat berupa peringatan maupun skorsing.
Adapun sasaran tindakan pendisiplinan dapat dibagi menjadi tiga menurut Handoko (2007), antara lain sebagai berikut :
1. Untuk memperbaiki pelanggar
2. Untuk menghalangi para staf yang lain melakukan kegiatan-kegiatan yang serupa.
3. Untuk menjaga berbagai standar kelompok tetap konsisten dan efektif..
Sasaran-sasaran tindakan pendisiplinan hendaknya bersifat positif, bersifat mendidik dan mengoreksi. Sasaran tindakan pendisiplinan bukan merupakan tindakan negatif yang dapat menjatuhkan staf yang berbuat salah. Maksud pendisiplinan itu sendiri adalah bentuk memperbaiki kegiatan di waktu yang akan datang bukannya malah menghukum kegiatan di masa lalu. Pendekatan negatif dalam menerapkan disiplin kerja staf yang bersifat menghukum biasanya mempunyai berbagai pengaruh sampingan yang merugikan, seperti hubungan emosional terganggu, absensi staf meningkat, apati atau kelesuan, dan juga ketakutan yang dapat menggangu kinerja staf.
Disiplin progresif dijalankan dengan tujuan untuk memberikan kesempatan kepada staf untuk mengambil tindakan korektif sebelum hukuman yang lebih serius diberikan. Disiplin progresif memungkinkan manajemen untuk membantu staf memperbaiki kesalahannya. Tindakan pendisiplinan dapat diberikan berurutan misalnya : teguran lisan oleh pimpinan, setelah itu teguran tertulis, dengan catatan dalam file personalia, skorsing dari pekerjaan dalam
jangka waktu tertentu, penurunan jabatan, dan yang terakhir pemecatan. Bentuk tindakan pendisiplinan terakhir yang dapat diambil oleh manajemen perusahaan adalah pemecatan. Tindakan ini sering dikatakan sebagai kegagalan manajemen sumber daya manusia, tetapi pandangan tersebut tidaklah realistik. Tidak ada manajer maupun staf yang sempurna, sehingga hampir pasti ada saja berbagai masalah yang tidak dapat dipecahkan.
Urutan tindakan pendisiplinan tersebut di atas disusun berdasarkan atas dasar tingkat berat atau kerasnya hukuman. Untuk pelanggaran-pelanggaran serius tertentu, dapat dikecualikan dari disiplin progresif, dan staf tersebut dapat langsung dipecat, tanpa harus lagi melalui susunan tindakan pendisiplinan yang ditetapkan perusahaan.
2.2.4 Bentuk dan Pelaksanaan Sanksi Kedisiplinan Kerja
Disiplin yang baik adalah disiplin diri. Kecenderungan orang normal adalah melakukan apa yang menjadi kewajibannya dan menempati aturan permainan. Suatu waktu orang mengerti apa yang dibutuhkan dari mereka, dimana mereka diharapkan untuk selalu melakukan tugasnya secara efektif dan efisien dengan senang hati. Kini banyak orang mengetahui bahwa kemungkinan yang terdapat di balik disiplin adalah meningkatkan diri dari kemalasan.
Pengenaan sanksi kepada para pelanggar disiplin tergantung pada tingkat pelanggar yang telah dilakukan. Pelanggar disiplin berupa sering terlambat tentu lebih ringan sanksinya daripada sanksi yang dikenakan kepada staf yang sering mangkir tidak masuk kerja. Sanksi bagi karyawan yang tidak mau bekerja tentu
lebih berat daripada sanksi bagi pelanggar disiplin yang tidak mau memakai pakaian seragam dengan rapi dan sebagainya.
Dengan demikian, penerapan sanksi itu sebaiknya diatur dengan menampung usulan atau masukan yang berasal dari para karyawan sendiri.
Sehingga bila mereka diikutsertakan dalam menyusun sanksi itu sedikit banyak akan dapat mengurangi ketidakdisiplinan itu sendiri. Sanksi yang paling tepat dan biasa diterapkan adalah sanksi berupa pengurangan hak-hak imbalan karyawan itu sendiri, seperti pengurangan gaji, penurunan gaji, dan sebagainya sehingga bagi mereka benar-benar akan terasa pengaruh sanksi itu bagi dirinya atas pelanggaran yang dilakukannya.
Menurut Sutrisno (2009) dengan adanya bentuk disiplin kerja yang baik akan tergambar pada suasana :
1) Tingginya rasa kepedulian karyawan terhadap pencapaian tujuan
2) Tingginya semangat dan gairah kerja dan inisiatif para karyawan dalam melakukan pekerjaan.
3) Besarnya rasa tanggungjawab para karyawan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
4) Berkembangnya rasa memiliki dan rasa solidaritas yang tinggi di kalangan karyawan.
5) Peningkatnya efisiensi dan produktivitas para staf.
Menurut Sastrohadiwiryo (2003), maksud dan sasaran dari disiplin kerja adalah terpenuhinya beberapa tujuan seperti :
1. Tujuan umum disiplin kerja adalah demi kelangsungan perusahaan sesuai dengan motif perusahaan yang bersangkutan, baik hari ini maupun hari esok.
2. Tujuan khusus disiplin kerja
Agar para tenaga kerja menepati segala peraturan dan kebijakan ketenagakerjaan maupun peraturan dan kebijakan perusahaan yang berlaku, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis, serta melaksanakan perintah manajemen.
Dapat melaksanakan pelaksanaan sebaik-baiknya serta mampu memberikan servis yang maksimum kepada pihak tertentu yang berkepentingan dengan perusahaan sesuai dengan bidang pekerjaan yang diberikan kepadanya. Dapat mengunakan dan memelihara sarana dan prasarana dengan sebaik-baiknya, dapat bertindak dan berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku pada perusahaan. Tenaga kerja mampu memperoleh tingkat produktivitas yang tinggi sesuai dengan harapan perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Menurut Sastrohadiwiryo (2003) bahwa sanksi disiplin kerja terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Sanksi Disiplin Berat misalnya:
a) Demosi jabatan yang setingkat lebih rendah dari jabatan/pekerjaan yang diberikan sebelumnya.
b) Pembebasan dari jabataan/pekerjaan untuk dijadikan sebagai tenaga kerja biasa bagi yang memegang jabatan.
c) Pemutusan hubungan kerja dengan hormat atas permintaan sendiri oleh tenaga kerja yang bersangkutan.
d) Pemutusan hubungan kerja tidak dengan hormat sebagai tenaga kerja di puskesmas
2. Sanksi Disiplin Sedang misalnya:
a) Penundaan pemberian kompensasi yang sebelumnya telah dirancangkan sebagaimana tenaga kerja lainnya.
b) Penurunan upah sebesar satu kali upah yang biasanya diberikan, harian, mingguan atau bulanan.
c) Penundaan program promosi bagi tenaga kerja yang bersangkutan pada jabatan yang lebih tinggi.
3. Sanksi Disiplin Ringan misalnya:Teguran lisan kepada tenaga kerja yang bersangkutan, Teguran tertulis dan Pernyataan tidak puas secara tertulis.
Menurut Sastrohadiwiryo , 2003 bahwa pelaksanaan sanksi terhadap pelanggar disiplin dengan memberikan yaitu :
1. Pemberian Peringatan
Staf yang melanggar disiplin kerja perlu diberikan surat peringatan agar karyawan yang bersangkutan menyadari pelanggaran yang telah dilakukannya.
2. Pemberian Sanksi Harus Segera
Staf yang melanggar disiplin kerja harus segera diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perusahaan yang berlaku. Kelalaian sanksi akan memperlemah disiplin yang ada.
3. Pemberian Sanksi Harus Konsisten
Pemeberian sanksi kepada karyawan tidak disiplin harus konsisten agar pegawai sadar dan menghargai peraturan-peraturan yang berlaku di perusahaan. Setiap orang yang melakukan pelanggaran yang sama akan dihukum sesuai dengan hukum yang berlaku.
4. Pemberian Sanksi Harus Impersonal
Pemberian sanksi pelanggar disiplin harus tidak membeda - bedakan karyawan, tua-muda,pria-wanita tetap diberlakukan sama sesuai denganperaturan yang berlaku.
2.3 Puskesmas
2.3.1 Pengertian Puskesmas
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014, Puskesmas sebagai salah satu jenis pelayanan kesehatan tingkat pertama memiliki peranan dalam sistem kesehatan nasional,khususnya sistem upaya kesehatan. Bahwa penyelenggaraan puskesmas ditata ulang untuk meningkatkan aksebilitas,keterjangkauan dan kualitas pelayanan dalam rangka meningkatkan derajat masyarakat serta mensukseskan program jaminan sosial nasional.
Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama,dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif,untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerja.
Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan dipuskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang :
a) memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat
b) mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu c) hidup dalam lingkungan sehat,dan
d) memiliki derajat kesehatan yang optimal,baik individu,keluarga,kelompok dan masyarakat.
2.3.2. Susunan Organisasi Puskesmas
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014, Organisasi puskesmas disusun oleh dinas kesehatan kabupaten/kota berdasarkan kategori,upaya kesehatan dan beban kerja puskesmas.
Organisasi puskesmas meliputi :
a) Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas seluruh kegiatan dipuskesmas b) Kepala Sub Bagian Tata Usaha, membawahi beberapa kegiatan diantaranya
sistem informasi puskesmas dan kepegawaian
c) Penanggung jawab UKM dan keperawatan kesehatan masyarakat yang membawahi:
1. Pelayanan promosi kesehatan termasuk UKS 2. Pelayanan kesehatan lingkungan
3. Pelayanan KIA-KB 4. Pelayanan gizi
5. Pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit
d) Penanggung jawab UKP, kefarmasian dan laboratorium, yang membawahi beberapa kegiatan yaitu :
1. Pelayanan pemeriksaan umum 2. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut 3. Pelayanan KIA/KB
4. Pelayanan gawat darurat 5. Pelayanan gizi
6. Pelayanan persalinan 7. Pelayanan kefarmasian 8. Pelayanan laboratorium
e) Penanggung jawab jaringan pelayanan puskesmas dan jejaring fasilitas pelayanan kesehatan yang membawahi : Puskesmas pembantu, Puskesmas keliling dan Bidan desa.
2.3.3 Tujuan dan Tugas Puskesmas
1. Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang :
a) Memiliki prilaku sehat yang meliputi kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat
b) Mampu menjangkau pelayan kesehatan bermutu c) Hidup dalam lingkungan yang sehat,dan
d) Memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.(PMK RI,2014).
2. Tugas Puskesmas
Puskesmas mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya kecamatan sehat.(PMK RI,2014)
Prinsip penyelenggaraan puskesmas
Prinsip penyelenggaraan puskesmas meliputi:
a. Paradigma sehat
b. Pertanggung jawaban wilayah c. Kemandirian masyarakat d. Pemerataan
e. Teknologi tepat guna
f. Keterpaduan dan kesinambungan(PMK RI,2014) 2.3.4 Fungsi puskesmas
Adapun fungsi puskesmas terdiri dari:
a) Melaksanakan perencanaan berdasaran analisis masalah kesehatan masyarakat dan analisis kebutuhan pelayanan yang diperlukan
b) melaksanakan advokasi dan sosialisasi kebijakan kesehatan
c) melaksanakan komunikasi, informasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan
d) menggerakkan masyarakat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikanmasalah kesehatan pada setiap tingkat perkembangan masyarakat yang bekerjasama dengan sektor lain terkait
e) melaksanakan pembinaan teknis terhadap jaringan pelayanan dan upaya kesehatan berbasis masyarakat
f) melaksanakan peningkatan kompetensi sumber daya manusiaPuskesmas g) memantau pelaksanaan pembangunan agar berwawasan kesehatan
h) melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan evaluasi terhadap akses, mutu, dan cakupan Pelayanan Kesehatan dan
i) memberikan rekomendasi terkait masalah kesehatan masyarakat,termasuk dukungan terhadap sistem kewaspadaan dini dan respon penanggulangan penyakit
2.4. Kerangka Konsep Penelitian
Variabel bebas Variabel Terikat
Peranan Kepemimpinan Kedisiplinan Kerja 1. Tanggung jawab 2. Ketepatan waktu 3. Ketaatan
4. Keadilan 1. Pengambilan keputusan
2. Perencanaan 3. Pengawasan 4. Kepemimpinan
Gambar 2.1 Kerangka konsep penelitian
2.5. Hipotesa penelitian
Berdasarkan kerangka konsep penelitian, maka hipotesis penelitian ini adalah adanya hubungan peranan kepemimpinan dengan kedisplinan kerja staf di puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai tahun 2017.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah survey tipe explanatory research (penelitian penjelasan), yang bertujuan untuk menjelaskan hubungan peranan kepemimpinan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas NamuUkur, Kecamatan Sei Bingai.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
3.2.2 WaktuPenelitian
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari tahun 2017 s/d Januari 2018 3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian yang diteliti.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai yang berjumlah 41 orang
3.3.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti. Sampel diambil berdasarkan teknik sampling. Dimana sampling ini digunakan apabila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh staf Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai yang berjumlah 41 orang.
3.4 Metode Pengambilan Data
1. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan tenaga Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai yang berpedoman pada kuesioner
2. Data sekunder diperoleh dengan cara mengadakan pencatatan data laporan dari staf puskesmas
3.5 Definisi Operasional
Untuk memudahkan penelitian serta memperoleh pandangan yang sama, maka definisi operasional variabel penelitian adalah :
3.5.1 Variabel Bebas
Peranan Kepemimpinan adalah suatu fungsi kegiatan dalam rangka mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuanorganisasi yang dapat diukur dari pengambilan keputusan, perencanaan, pengawasan, kepemimpinan. Dengan definisi sebagai berikut:
1. Pengambilan keputusan adalah kegiatan pimpinan untuk mengambil berbagai keputusan atau kebijakan berupa peraturan untuk menjadi pedoman bagi bawahannya untuk melaksanakan tugas dan fungsinya
2. Perencanaan adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta efesien agar sesuai dengan kebutuhan puskesmas dalam membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan dengan menetapkan program kepegawaian. 3. Pengawasan adalah proses pengamatan dari pelaksanaan seluruh kegiatan
organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan yang sedang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
4. Kepemimpinan adalah kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok
3.5.2 Variabel Terikat
Kedisplinan Kerja adalah sikap kesediaan dan kerelaan seseorang untuk mematuhi dan menaati norma-norma peraturan yang berlaku disekitarnya. Displin staf yang baik akan mempercepat tujuan puskesmas, sedangkan displin yang merosot akan menjadi penghalang dan memperlambat pencapaian tujuan puskesmas. Yang dapat di ukur dari tanggung jawab, ketepatan waktu, ketaatan, keadilan, sebagai berikut :
1. Tanggung jawab adalah perasaan peduli didalam diri individu terhadap tuntutan tugas dan fungsinya selaku petugas
2. Ketepatan waktu adalah yaitu Para staf datang kepuskesmas tepat waktu, tertib dan teratur, dengan begitu dapat dikatakan disiplin kerja yang baik.
3. Ketaatan adalah aturan terhadap puskesmas yaitu Staf memakai seragam puskesmas, menggunakan kartu tanda pengenal/identitas, membuat izin bila tidak masuk puskesmas, juga merupakan cerminan dari disiplin yang tinggi.
4. Keadilan adalah suatu hal yang tidak berat sebelah atau tidak memihak serta tidak sewenang-wenang. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap puskesmas supaya kedispilinan staf puskesmas yang baik.
3.6. Aspek Pengukuran Data
Tabel 3.1 Aspek Pengukuran Variabel Bebas (Peranan Kepemimpinan) dan Terikat (Disiplin Kerja)
Tabel 3.2 Aspek PengukuranVariabel Terikat (Kedisiplinan Kerja) Variabel Kategori Bobot Nilai 1
Variabel = 1
Bentuk penelitian yang digunakan adalah penelitian asosiatif dengan pendekatan analisa kuantitatif. Ada pun tahap analisa data adalah sebagai berikut:
3.7.1 Analisis Univariat
Analisis univariat bertujuan untuk melihat dsitribusi frekuensi dari variable bebas peranan kepemimpinan kepala puskesmas (pengambilan keputusan, perencanaan, pengawasan, kepemimpinan) dari variable terikat disiplin kerja staf (tanggungjawab, ketepatan waktu, ketaatan, keadilan).
3.7.2. Analisis Bivariat
Untuk mengetahui hubungan antara variable independen dan variable dependen. Dalam hal ini adalah untuk mengetahui hubungan antara peranan kepemimpinan (pengambilan keputusan, perencanaan, pengawasan, kepemimpinan) dengan disiplin kerja (tanggung jawab, ketepatan waktu, ketaatan, keadilan).Uji hubungan yang digunakan adalah uji Chi Square. Uji ini dilakukan dalam rangka menganalisis hubungan dua variable kategorik. Uji signifikan dilihat dengan menggunakan P value <0,05.
Kesimpulan tingkat kemaknaan dapat dilakukan apabila hasil uji sebagai berikut :
1. P > 0,05 menunjukan hasil adalah tidak signifkan.
2. P ≤ 0,05 menunjukan hasil adalah signifikan.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Namu Ukur
Dalam melaksanakan kegiatannya Puskesmas Namu Ukur melayani 8 desa yang ada di wilayah kecamatan Sei Bingai. Wilayah kerja puskemas Namu Ukur di sebelah Utara berbatasan dengan desa Kw. Mencirim Kec. Sei Bingai. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Namu Tating Kec. Sei Bingai. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kab. Deli Serdang dan Kab. Karo serta sebelah Barat berbatasan dengan desa Raja Tengah Kec. Kuala.
4.2 Karakteristik Responden
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Penelitian
No. Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Jenis Kelamin
1 Laki-laki 6 14,6
2 Perempuan 35 85,4
Pendidikan
1 Sekolah Menengah 6 14,6
2 Akademi/Perguruan Tinggi 35 85,4
Masa Kerja terbanyak yaitu perempuan sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan laki-laki sebanyak 6 responden (14,6%). Kategori pendidikan terbanyak yaitu
Akademi/Perguruan tinggi sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan sekolah menengah sebanyak 6 responden (14,6%). Masa kerja terbanyak yaitu kategori >5 tahun sebanyak 35 responden (85,4%) sedangkan kategori ≤5 sebanyak 6 responden (14,6%) , dan status terbanyak yaitu ada pada kategori kawin sebanyak 40 responden (97,6%).
4.3 Peranan Kepemimpinan
Peranan kepemimpin dalam suatu organisasi sangatlah penting sebab pimpinan berperan secara langsung dalam suatu organisasi akan berpengaruh dalam pelaksanaan tugas-tugas dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sebagaimana yang telah ditetapkan pada bab-bab sebelumnya kepemimpinan pada intinya adalah mempengaruhi orang-orang agar mau melaksanakan pekerjaan, sehingga dengan dasar itulah penulis mengungkap peranan kepemimpinan dalam penelitian ini, adapun peranan kepemimpinan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
4.3.1 Distribusi Proporsi Pengambilan Keputusan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan pemimpin sebagai pengambil keputusan dapat dilihat pada tabel beriku t:
Tabel 4.2 Distribusi Proporsi Pengambilan Keputusan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Pengambilan Keputusan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 25 61
2 Buruk 16 39
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.2 di atas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi pengambilan keputusan pimpinan dalam kategori baik terdapat 25 responden (61%) sedangkan responden yang menganggap fungsi pengambilan keputusan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 16 responden (39%).
4.3.2 Distribusi Proporsi Perencanaan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan pemimpin dalam perencanaan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Distribusi Proporsi Perencanaan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Perencanaan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 2 4,9
2 Buruk 39 95,1
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.3 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi perencanaan pimpinan dalam kategori baik terdapat 2 responden (4,9%) sedangkan responden yang menganggap fungsi perencanaan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 39 responden (95,1%).
4.3.3 Distribusi Proporsi Pengawasan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Peranan pimpinan sebagai pengawas atau pengendali yang dimaksud adalah mampu mengendalikan segala kegiatan serta jalannya organisasi dengan baik.Peranan pimpinan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pimpinan selalu mengecek semua bawahan dalam melaksanakan tugasnya. Distribusi proporsi pengawasan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.4 Distribusi Proporsi Pengawasan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Pengawasan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 4 9,8
2 Buruk 37 90,2
Total 41 100,0
Berdasarkan hasil tabel 4.4 diatas penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi pengawasan pimpinan dalam kategori baik terdapat 4 responden (9,8%) sedangkan responden yang menganggap fungsi pengawasan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 37 responden (90,2%).
4.3.4 Distribusi Proporsi Kepemimpinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui tanggapan responden tentang peranan kepemimpinan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Distribusi Proporsi Kepemimpinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Kepemimpinan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 30 73,2
2 Buruk 11 26,8
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.5 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden yang menganggap fungsi kepemimpinan pimpinan dalam kategori baik terdapat 30 responden (73,2%) sedangkan responden yang menganggap fungsi kepemimpinan pimpinan dalam kategori buruk terdapat 11 responden (26,8%).
4.3.5 Distribusi Proporsi Kedisiplinan di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Untuk mengetahui distribusi proporsi responden tentang kedisplinan dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Distribusi Proporsi Kedisiplinan Staff di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
No Kedisiplinan Frekuensi Persentase (%)
1 Baik 14 34,1
2 Buruk 27 65,9
Total 41 100,0
Berdasarkan tabel 4.6 diatas hasil penelitian diketahui bahwa responden dengan kedisiplinan dalam kategori baik terdapat 14 responden (34,1%) sedangkan responden dengan kedisiplinan dalam kategori buruk terdapat 27 responden (65,9%).
4.4 Hubungan Peranan Kepemimpinan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Peranan pemimpin dalam mengambil keputusan kepemimpinan seseorang dalam sebuah organisasi sangat besar perannya dalam setiap pengambilan keputusan, sehingga membuat keputusan dan mengambil tanggung jawab terhadap hasilnya adalah salah satu tugas pimpinan. Sehingga jika seorang pimpinan tidak mampu untuk membuat keputusan, seharusnya dia tidak menjadi pimpinan. Karena untuk mengetahui baik tidaknya keputusan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Hubungan pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja dapat dilihat pada tabel berikut :
4.4.1 Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Tabel 4.7 Hubungan Pengambilan Keputusan dengan Kedisiplinan Kerja di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai
Variabel Kedisiplinan Kerja
p
Baik Buruk Total
Pengambilan Keputusan N % n % n %
Baik 8 19,5 17 41,5 25 61
0,717
Buruk 6 14,6 10 24,2 16 39
Total 14 34,1 27 65,9 41 100
Berdasarkan table 4.7 di atas hasil tabulasi silang antara pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 25 responden dengan kategori pengambilan keputusan baik sebanyak 8 responden (19,5%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.
Berdasarkan table 4.7 di atas hasil tabulasi silang antara pengambilan keputusan dengan kedisiplinan kerja staf di Puskesmas Namu Ukur Kecamatan Sei Bingai Tahun 2017 diperoleh data dari 25 responden dengan kategori pengambilan keputusan baik sebanyak 8 responden (19,5%) yang kedisiplinan kerjanya baik dan 17 responden (41,5%) yang kedisiplinan kerjanya buruk.