BAB III METODE PENELITIAN
3.8 Teknik Analisis
3.8.3 Analisis Capital Adeqancy Ratio (CAR)
Rasio kecukupan modal diperoleh dari hasil perbandingan modal dengan asset tertimbang menurut risiko (ATMR) yang menggambarkan kemampuan perbankan dalam menyediakan dana yang digunakan sebagai cadangan apabila terjadi risiko kerugian. Penting bagi perusahaan perbankan memperhatikan rasio kecukupan modalnya karena modal merupakan factor utama bank dalam melakukan kegiatan usahanya guna mengembangkan pertumbuhan perusahaan.
Menurut Pasal 2 15/12/PBI/2013 ayat 3, ditetapkan standar dari Penyediaan modal minimum yakni: 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Bank dengan profil risiko peringkat 1 (satu); 9% (sembilan persen) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh persen) dari ATMR untuk Bank dengan
54
profil risiko peringkat 2 (dua); 10% (sepuluh persen) sampai dengan kurang dari 11%
(sebelas persen) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 3 (tiga); atau 11% (sebelas persen) sampai dengan 14% (empat belas persen) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 4. Ketentuan batas minimum Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bertujuan untuk melindungi nasabah dari risiko kerugian yang mungkin dialami oleh perbankan dan menjaga stabilitas keuangan. Nilai rasio kecukupan modal yang semakin tinggi akan menunjukkan tingkat kesehatan bank yang semakin baik.
πΆπ΄π = πππππ π΄πππ
Universitas Sumatera Utara
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Perusahaan Perbankan
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 31 perusahaan perbankan. Profil masing-masing perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2019 yang menjadi sampel dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. PT. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO)
PT. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Tbk didirikan pada 27 September 1989 oleh oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun). Bank AGRO memiliki peranan penting dan strategis dalam perkembangan sektor agribisnis di Indonesia. yang berfokus pada pembiayaan agribisnis, sejak berdiri hingga saat ini, portofolio kredit Bank AGRO sebagian besar (antara 60% β 75%) disalurkan di sektor agribisnis, baik on farm maupun off farm. Bank AGRO didirikan dengan Akta Notaris Rd.Soekarsono, S.H., di Jakarta No. 27 tanggal 27 September 1989 memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan padatanggal 11 Desember 1989 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 8 Februari 1990. Bank AGRO menjadi perusahaan publik berdas persetujuan Bapepam-LK No. S-1565/PM/2003 sejak tanggal 30 Juni 2003 dan nama perusahaan berubah menjadi PT Bank Agroniaga Tbk, pada tahunyang sama perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek
56
Surabaya,sedangkan pada tahun 2007, saham Bank AGRO dengan kode AGRO sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2. Bank MNC Internasional,Tbk (BABP)
Bank MNC Internasional Tbk (MNC Bank) merupakan perusahaan hasil akuisisi dari Bank ICB Bumiputera Tbk yang didirikan dengan nama PT Bank Bumiputera Indonesia tanggal 31 Juli 1989 dan mulai beroperasi secara pada tanggal 12 Januari 1990. Berdasarkan keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan No.18/KDK.03/2014 tanggal 15 Oktober 2014, nama Bank berubah menjadi PT. Bank MNC Internasional Tbk.
3. Bank Central Asia, Tbk (BBCA)
Bank Central Asia Tbk didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955 dengan nama
βN.V. Perseroan Dagang Dan Semarang Knitting Factoryβ dan mulai beroperasi di bidang perbankan sejak tanggal 12 Oktober 1956. BPPN melakukan divestasi 22,5% dari seluruh saham Bank BCA melalui Penawaran Saham Publik Perdana (IPO), sehingga kepemilikan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) berkurang menjadi 70,3% dan dicatat pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 31 Mei 2000.
4. Bank Harda Internasional, Tbk (BBHI)
Bank Harda Internasional, Tbk merupakan bank yang awalnya dibentuk Badan Hukum PT. Bank Arta Griya Tanggal 21 Oktober 1992, lalu berganti nama menjadi PT. Bank Harda Griya pada tanggal 16 Januari 1993 dan resmi
Universitas Sumatera Utara
beroperasi pada tanggal 10 Oktober 1994. Seiring waktu dengan berkembangnya bisnis Bank Harda, pada tanggal 10 Desember 1996 Badan Hukum Bank Harda Griya berubah menjadi PT. Bank Harda lnternasional.
Pada 12 Agustus 2015, Bank Harda Internasional melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO) kepada masyarakat sebanyak 800.000.000.
5. Bank Bukopin, Tbk (BBKP)
Bank Bukopin Tbk didirikan pada tanggal 10 Juli 1970 dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia (disingkat Bukopin) dan mulai melakukan usaha komersial sebagai bank umum koperasi di Indonesia sejak tanggal 16 Maret 1971. Pada tanggal 30 Juni 2006, BBKP memperoleh pernyataan efektif BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBKP (IPO) dan saham-saham tersebut telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2006.
6. Bank Mestika Dharma, Tbk (BBMD)
PT. Bank Mestika Dharma Tbk didirikan pada tahun 1955 yang merupakan Bank Umum Swasta Devisa dan bank daerah yang Go Public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 8 Juli 2013. PT. Bank Mestika Dharma Tbk fokus pada bidang usaha retail banking dengan mengedepankan prinsip prudential banking dan manajemen resiko yang baik dan didukung oleh jasa pelayanan yang profesional dengan meningkatkan service quality.
58
7. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (BBNI)
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk didirikan pada 05 Juli 1946 yang merupakan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Pada tanggal 28 Oktober 1996, BBNI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBNI (IPO) dan saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 25 November 1996.
8. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk (BBRI)
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk didirikan pada 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada tanggal 31 Oktober 2003, BBRI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBRI (IPO) dan masing-masing saham telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2003. Setelah IPO Bank Rakyat Indonesia, opsi pemesanan lebih dan opsi penjatahan lebih dilaksanakan oleh Penjamin Pelaksana Emisi, Negara Republik Indonesia memiliki 59,50% saham di BRI.
9. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BBTN)
Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk didirikan pada 9 Februari 1950.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Bank BTN adalah menjalankan kegiatan umum perbankan, termasuk melakukan kegiatan Bank berdasarkan prinsip syariah. Bank Tabungan Negara mulai melakukan
Universitas Sumatera Utara
kegiatan berdasarkan prinsip syariah sejak 14 Februari 2005. Pada tanggal 08 Desember 2009, BBTN memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBTN (IPO) dan saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 17 Desember 2009.
10. Bank Yudha Bhakti, Tbk (BBYB)
Bank Yudha Bhakti, Tbk merupakan bank yang beroperasi sejak tanggal 9 Januari 1990. Bank Yudha Bhakti memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dan saham-saham bank Yudha Bhakti, tbk mulai dicatatkan pada tanggal 13 Januari 2015 di Bursa Efek Indonesia (BEI).
11. Bank J Trust Indonesia, Tbk (BCIC)
Bank J Trust Indonesia Tbk didirikan pada 30 Mei 1989 dengan nama PT Bank Century Intervest Corporation dan mulai beroperasi pada bulan April 1990. Bank J Trust Indonesia Tbk melakukan penggabungan dengan Bank Danpac Tbk dan Bank Pikko Tbk dalam bulan Oktober 2004. Pada tanggal 03 Juni 1997 Bank J Trust Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) pada 25 Juni 1997.
12. Bank Danamon Indonesia, Tbk (BDMN)
Bank Danamon Indonesia Tbk didirikan pada 16 Juli 1956 dengan nama PT
60
Bank Danamon Indonesia Tbk adalah menjalankan kegiatan usaha di bidang perbankan dan melakukan kegiatan perbankan lainnya berdasarkan prinsip Syariah. BDMN mulai melakukan kegiatan berdasarkan prinsip Syariah tersebut sejak tahun 2002. Pada tanggal 24 Oktober 1989, Bank Danamon Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BDMN (IPO) pada 6 Desember 1989.
13. Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk (BEKS)
Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk didirikan pada 11 September 1992 dengan nama PT Executive International Bank dan mulai beroperasi pada tanggal 9 Agustus 1993. Pada tanggal 22 Juni 2001, Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK atas nama Menteri Keuangan Republik Indonesia untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BEKS (IPO) pada 13 Juli 2001.
14. Bank Ina Perdana, Tbk (BINA)
Bank Ina Perdana Tbk didirikan pada 9 Februari 1990 dengan nama PT Bank Ina dan mulai beroperasi pada tahun 1991. Pada tanggal 31 Desember 2013, Bank Ina Perdana Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BINA (IPO) pada 16 januari 2014.
15. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat, Tbk (BJBR)
Universitas Sumatera Utara
Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk didirikan pada tanggal 08 April 1999. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sebelumnya merupakan sebuah perusahaan milik Belanda di Indonesia yang dinasionalisasi pada tahun 1960 yaitu N.V. Denis (De Eerste Nederlandsche Indische Shareholding) dan mulai beroperasi pada tanggal 20 Mei 1961. Pada tanggal 29 Juni 2010, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM & LK untuk melakukan Penawaran Umum Saham Perdana BJBR (IPO) pada 8 Juli 2010.
16. Bank Daerah Jawa Timur, Tbk (BJTM)
Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk didirikan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan nama PT Bank Pembangunan Daerah Djawa Timur dan mulai beroperasi pada tahun 1961. Pada tanggal 29 Juni 2012, Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM & LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BJTM (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Juli 2012.
17. Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW)
Bank QNB Indonesia Tbk awal dibentuk bernama Bank QNB Kesawan Tbk, bank ini didirikan pada 01 April 1913 dengan nama N.V Chungwha Shangyeh Maatschappij (The Chinese Trading Company Limited). Pada tanggal 31 Oktober 2002, Bank QNB Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari
62
BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BKSW (IPO) pada 21 November 2002.
18. Bank Maspion Indonesia, Tbk (BMAS)
Bank Maspion Indonesia Tbk didirikan pada 06 Nopember 1989 dan memulai kegiatan komersial pada tahun 1990. Pada tanggal 27 Juni 2013, Bank Maspion Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BMAS (IPO) dan saham-saham tersebut dicatat pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Juli 2013.
19. Bank Mandiri (Persero), Tbk (BMRI)
Bank Mandiri (Persero) Tbk didirikan pada 02 Oktober 1998 dan mulai beroperasi pada tanggal 1 Agustus 1999. Pada tanggal 23 Juni 2003, Bank Mandiri (Persero) Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BMRI (IPO) saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Juli 2003.
20. Bank Bumi Arta, Tbk (BNBA)
Bank Bumi Arta Tbk didirikan pada 03 Maret 1967 dan beroperasi secara komersial tahun 1967. Pada tanggal 18 Mei 2006, Bank Bumi Arta Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BNBA (IPO) saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 01 Juni 2006.
Universitas Sumatera Utara
21. Bank Maybank Indonesia, Tbk (BNII)
Bank Maybank Indonesia Tbk yang awal pembentukannya bernama Bank Internasional Indonesia Tbk didirikan pada 15 Mei 1959. Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Bank Maybank Indonesia Tbk ialah melakukan usaha di sektor perbankan, dan melakukan kegiatan perbankan lainnya berdasarkan pada prinsip Syariah. Bank Maybank mulai beroperasi berdasarkan prinsip Syariah sejak bulan Mei 2003. Pada tanggal 02 Oktober 1989, Bank Maybank Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BNII (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 21 Nopember 1989.
22. Bank Permata, Tbk (BNLI)
Bank Permata Tbk didirikan 17 Desember 1954 dengan nama "Bank Persatuan Dagang Indonesia" dan bank ini mulai beroperasi pada tanggal 5 Januari 1955. Pada tanggal 02 Desember 1989, Bank Permata Tbk memperoleh izin dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BNLI (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 15 Januari 1990.
23. Bank Sinar Mas, Tbk (BSIM)
Bank Sinarmas Tbk didirikan pada tanggal 18 Agustus 1989 dengan nama PT Bank Shinta Indonesia dan mulai beroperasi pada tanggal 16 Februari 1990.
64
Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BSIM (IPO) saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 13 Desember 2010.
24. Bank Of India Indonesia, Tbk (BSWD)
Bank of India Indonesia Tbk merupakan bank yang dahulu Bank Swadesi Tbk didirikan 28 September 1968 dengan nama PT Bank Pasar Swadesi. Pada tanggal 12 April 2002, Bank of India Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BSWD (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 01 Mei 2002.
25. Bank BTPN, Tbk (BTPN)
Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk didirikan pada 16 Februari 1985.
Pada tanggal 29 Februari 2008, Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BTPN (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 12 Maret 2008.
26. Bank Victoria International, Tbk (BVIC)
Bank Victoria International Tbk didirikan pada 28 Oktober 1992 dan mulai beroperasi pada tanggal 05 Oktober 1994. Pada tanggal 04 Juni 1999, Bank Victoria International Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BVIC (IPO),
Universitas Sumatera Utara
saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 30 Juni 1999.
27. Bank Oke Indonesia, Tbk (DNAR)
Bank Dinar Indonesia Tbk didirikan pada 15 Agustus 1990 dengan nama PT Liman International Bank dan mulai beroperasi pada tahun 1991. Pada tanggal 30 Juni 2014, Bank Dinar Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham DNAR (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 11 Juli 2014.
28. Bank Mayapada International, Tbk (MAYA)
Bank Mayapada Internasional Tbk didirikan pada 07 September 1989 dan mulai beroperasi pada tanggal 16 Maret 1990. Bank Mayapada Internasional Tbk memperoleh izin usaha sebagai bank komersial dari Kementerian Keuangan pada tanggal 16 Maret 1990 dan memperoleh izin kegiatan usaha sebagai bank devisa dari Bank Indonesia pada tanggal 3 Juni 1993. Pada tanggal 07 Agustus 1997, Bank Mayapada Internasional Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MAYA (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 29 Agustus 1997.
29. Bank China Construction Bank Ind., Tbk (MCOR)
Bank China Construction Bank Indonesia Tbk merupakan bank yang dahulu
66
nama PT Multinational Finance Corporation dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1974. Pada tanggal 20 Juni 2007, Bank China Construction Bank Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MCOR (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 03 Juli 2007.
30. Bank Mega, Tbk (MEGA)
Bank Mega Tbk didirikan pada 15 April 1969 dengan nama PT Bank Karman dan mulai beroperasi pada tahun 1969. Bank Mega Tbk memperoleh izin usaha sebagai bank umum dari Menteri Keuangan Republik Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1969. Pada tanggal 2 Agustus 2000, Bank Mega memperoleh izin untuk menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai wali amanat dari BAPEPAM-LK. Kemudian tanggal 31 Januari 2001, memperoleh izin sebagai bank devisa dari Bank Indonesia. Pada tanggal 15 Maret 2000, MEGA memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MEGA (IPO), saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 17 April 2000.
31. Bank OCBC NISP, Tbk (NISP)
Bank OCBC NISP Tbk merupakan bank yang dahulu Bank NISP Tbk, didirikan pada tanggal 04 April 1941 dengan nama NV. Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1941. Pada tanggal 16 September 1994, Bank OCBC NISP Tbk
Universitas Sumatera Utara
memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham NISP (IPO) saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 20 Oktober 1994.
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan analisis yang memberikan gambaran dari suatu fenomena atau karakteristik data yang tujuannya ialah untuk memudahkan dalam membaca dan memahami maksud data. Hasil olahan data dalam bentuk deskriptif statistik akan menggambarkan karakteristik dari sampel yang digunakan dalam penelitian ini, yakni meliputi jumlah sampel (N), rata-rata sampel (mean), nilai minimum dan maksimum, dan standar deviasi untuk masing-masing variabel penelitian. Deskripsi dalam penelitian ini terdiri dari empat rasio yang dapat dikombinasikan dalam suatu persamaan Springate (S-Score) untuk memprediksi terjadinya financial distress pada perusahaan perbankan (S) yaitu: X1, X2, X3 dan X4.
68
Disajikan pada Tabel 4.1 berikut ini:
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif dari X1, X2, X3, X4 dan S
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation X1 93 -.135809 .566049 .24565056 .173194751 X2 93 -.118099 .627213 .18183346 .178169403 X3 93 -.030934 .449188 .03940748 .067467057 X4 93 -.064450 .309748 .05782444 .057078666
S 93 .013943 .994397 .51365972 .357541925
Valid N 93
Berdasarkan pada Tabel 4.1 menggambarkan jumlah data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebanyak 93 observasi data yang diambil dari laporan keuangan perusahaan perbankan pada Bursa Efek Indonesia periode 2017-2019 yang diakses dari situs Bursa Efek Indonesia. Berikut adalah analisis deskriptif yang diperoleh dari Tabel 4.1 yakni:
1. Variabel X1 (Modal Kerja terhadap Total Aset) dengan nilai minimum sebesar -0.135809 yang dimiliki oleh Bank Mega, Tbk (MEGA) pada tahun 2017 dengan nilai S-Score 0,37003 yang dapat dikategorukan pada kondisi financial distress (berada pada kondisi kesulitan keuangan dan beresiko mengalami kebangkrutan). Nilai maksimum sebesar 0.56605 yang dimiliki
Universitas Sumatera Utara
oleh Bank Central Asia, Tbk (BBCA) pada tahun 2019 dengan nilai S-Score yakni 0,88106 yang berarti perusahaan berada di posisi non-financial distress (tidak mengalami kesulitan keuangan dan tidak berpotensi mengalami kebangkrutan). Nilai rata-rata (mean) yakni sebesar 0,24565 dan nilai standar deviasi sebesar 0,173194751.
2. Variabel X2 (Laba sebelum bunga dan pajak terhadap Total Aset) memiliki nilai minimum sebesar -0.118099 yang dimiliki oleh Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW) pada tahun 2017 dengan nilai S-Score sebesar 0,192062 yang berarti perusahaan berada di posisi financial distress (mengalami kesulitan keuangan dan berpotensi terjadinya kebangkrutan pada perusahaan). Nilai maksimum sebesar 0,62721 yang dimiliki oleh Bank Rakyat Indonesia Agro Niaga, Tbk (AGRO) pada tahun 2017 dan memiliki nilai S-Score sebesar 0,96258 yang berarti perusahaan berada di posisi non-financial distress (tidak mengalami kesulitan keuangan dan tidak berpotensi mengalami kebangkrutan). Nilai rata-rata (mean) yakni sebesar 0,18183346 dan nilai standar deviasi sebesar 0,178169403.
3. Variabel X3 (Laba sebelum pajak terhadap liabilitas lancar) memiliki nilai minimum sebesar -0,03093 yang dimiliki oleh Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW) pada tahun 2017 dengan nilai S-Score sebesar 0,192062 yang berarti perusahaan berada di posisi financial distress (mengalami kesulitan keuangan dan berpotensi terjadinya kebangkrutan pada perusahaan). Nilai maksimum
70
(BBRI) pada tahun 2017 dengan nilai S-Score sebesar 0,961306 yang berarti perusahaan berada di posisi non-financial distress (tidak mengalami kesulitan keuangan dan tidak berpotensi mengalami kebangkrutan). Nilai rata-rata (mean) yakni sebesar 0,03940748 dan nilai standar deviasi sebesar 0.067467057.
4. Variabel X4 (Penjualan terhadap total asset) memiliki nilai minimum sebesar -0,06445 yang dimiliki oleh Bank MNC Internasional,Tbk (BABP) pada tahun 2017 dengan nilai S-Score sebesar 0,021489 yang berarti perusahaan berada di posisi financial distress (mengalami kesulitan keuangan dan berpotensi terjadinya kebangkrutan pada perusahaan). Nilai maksimum sebesar 0,30975 yang dimiliki oleh Bank BTPN, Tbk (BTPN) pada tahun 2019 dengan nilai perolehan S-Score sebesar 0,956833 ang berarti perusahaan berada di posisi non-financial distress (tidak mengalami kesulitan keuangan dan tidak berpotensi mengalami kebangkrutan). Nilai rata-rata (mean) yakni sebesar 0,0578244 nilai standar deviasi sebesar 0,05707867.
5. Variabel S (Model prediksi financial distress) dengan nilai minimum sebesar 0,01394 yang dimiliki oleh Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW) pada tahun 2018. Nilai maksimum yakni sebesar 0,99440 yang dimiliki oleh Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (BBNI) pada tahun 2017. Nilai perolehan rata-rata (mean) sebesar 0,51365972. Standar deviasi 0.357541925.
Universitas Sumatera Utara
4.2.2 Metode Springate (S-Score)
Metode Springate S-Score adalah metode analisis yang digunakan untuk memprediksi kelangsungan hidup (kebangkrutan) suatu perusahaan yang dikombinasikan dengan beberapa rasio keuangan dan pemberian bobot nilai yang berbeda satu dengan yang lainnya. Empat rasio keuangan yang digunakan untuk memprediksi potensi terjadinya financial distress perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara lain: (1) Modal kerja terhadap total asset, (2) laba sebelum bunga dan pajak terhadap total asset, (3) laba sebelum pajak terhadap liabilitas lancar, dan (4) penjualan terhadap total asset.
1. Modal Kerja terhadap Total Aset
Rasio ini mengukur likuiditas dengan membandingkan aset lancar terhadap total aset. Nilai rasio yang semakin tinggi menunjukkan semakin besar modal kerja yang diperoleh perusahaan dibanding total aktivanya. Pada kondisi financial distress, modal kerja akan menurun lebih cepat dibanding dengan total asset, sehingga menyebabkan nilai rasio ini rendah.
72
Tabel 4.2
Hasil Perhitungan Modal Kerja/Total Aset
No Nama Bank 2017 2018 2019
Menurut Tabel 4.2 diatas dapat menggambarkan seberapa besar kemampuan perusahaan perbankan dalam membayar utang jangka pendeknya. Pada tabel dapat dilihat seberapa besar kemampuan tiap perusahaan perbankan dalam memenuhi kewajiban atau utang jangka pendeknya, namun pada perusahan Bank Mega, Tbk
Universitas Sumatera Utara
(MEGA) memiliki nilai yang negatif, hal ini dikarenakan utang lancar perusahaan lebih besar jumlahnya daripada aset lancar perusahaan sehingga menyebabkan modal kerja negative, maka berarti perusahaan mempunyai masalah likuiditas atau tidak mampu membayar kewajiban jangka pendeknya pada tahun 2017 dan 2018. Nilai yang negatif juga terdapat pada Bank Of India Indonesia, Tbk (BSWD) pada tahun 2019, Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW) pada tahun 2018 dan Bank J Trust Indonesia, Tbk (BCIC) pada tahun 2019.
2. Laba Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aset
Rasio ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan perbankan, yaitu tingkat pengembalian aset dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aset perusahaan. Rasio ini menekankan tentang pentingnya efektivitas dan efesiensi pengelolan dalam mencapai laba perusahaan terutama dalam memenuhi kewajiban bunga para investor. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik perusahaan dalam mengelola seluruh aset dalam menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak, sehingga rasio ini sesuai digunakan untuk mendeteksi financial distress pada perusahaan.
74
Tabel 4.3
Hasil Perhitungan EBIT terhadap Total Aset (X2)
No Nama Bank 2017 2018 2019
Menurut Tabel 4.3 diatas dapat menggambarkan tingkat pengembalian aset dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aset perusahaan. Menurut hasil perhitungan diatas dapat dilihat ada beberapa perusahaan yang mengalami kerugian sehingga nilai X2 perusahaan minus.
Universitas Sumatera Utara
Perusahaan perbankan tersebut antara lain Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk (BEKS) pada tahun 2017, Bank ONB Indonesia, Tbk (BKSW) pada tahun 2017, Bank Of India Indonesia, Tbk (BSWD) pada tahun 2017, Bank Victoria International, Tbk (BVIC) pada tahun 2019, dan Bank Oke Indonesia, Tbk (DNAR) pada tahun 2019.
3. Laba Sebelum Pajak terhadap Total Liabilitas Lancar
Rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan dengan membagi laba sebelum pajak dengan liabilitas lancar, sehingga dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka
Rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan dengan membagi laba sebelum pajak dengan liabilitas lancar, sehingga dapat mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka