• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

2.2 PenelitianTerdahulu

Adapun beberapa penelitian yang berkaitan dengan financial distress sebagai berikut:

1. Etta dan Wirakusuma (2014)

kondisi keuangan PT. Fast Food Indonesia Tbk dengan menggunakan metode analisis Springate pada tahun 2008 nilai S=2,147 atau nilai S>0,862 sehingga diklasifikasikan dalam keadaan sehat. Peningkatan terjadi pada periode 2009 dan 2010 dimana nilai S pada tahun 2009 sebesar 2,288 dan nilai S tahun 2010 sebesar 2,313sehingga diklasifikasikan kedalam perusahaan sehat. Pada tahun 2011 dan 2012 hasil yang ditunjukkan hampir sama dengan yang ditunjukkan oleh model Altman dimana terjadi penurunan

36

kondisi keuangan tahun 2011 sebesar 1,614 dan tahun 2012 sebesar 1,857 meskipun terjadi penurunan yang signifikan namun perusahaan tetap dalam kondisi sehat atau diklasifikasikan dalam kondisi tidak potensial bangkrut 2. Sinarti dan Sembiring (2015)

Springate menyatakan 73% perusahaan manufaktur sedang mengalami kondisi baik (sehat), sedangkan 27% lainnya dinyatakan berpotensi bangkrut. 3. Hutabarat (2016)

Terdapat dua perusahaan yang menunjukkan kinerja keuangan yang buruk dari empat perusahaan yang diamati dalam penelitian ini dan terdapat satu perusahaan yang menunjukkan kondisi sehat.

4. Suwandani dan Nuzula (2017)

selama 10 tahun berturut-turut terdapat enam perusahaan yang selalu berada pada zona financial distress, Berbeda dengan enam perusahaan lainnya, PT Polychem Indonesia Tbk berada pada zona aman hanya pada tahun 2011, sedangkan pada tahun 2006 hingga tahun 2010 dan tahun 2012 hingga tahun 2015 PT Polychem Indonesia Tbk berada pada zona financial distress. Terdapat delapan perusahaan sampel yang diprediksi sedang dan akan mengalami financial distress di masa yang akan datang yang secara langsung maupun tidak langsung turut dipengaruhi oleh KKG 2008/2009dan industri tekstil dan garmen Indonesia merupakan industri yang terkena dampak krisis yang paling parah.

Universitas Sumatera Utara

5. Sudjiman dan Sudjiman (2019)

Berdasarkan penelitian ini menilai keseluruhan perusahaan lebih dari 0,086 dari total selama 8 tahun. Ini menunjukkan bahwa metode Springate memprediksi bahwa lima perusahaan yaitu Martina, MRAT, TCID, UNLV, dan ADES tidak akan mengalami kesulitan keuangan bahkan sampai mengalami kebangkrutan.perusahaan kosmetik dan kebutuhan rumah tangga berada dalam kondisi sehat yang terlihat dari nilai rata-rata di atas 0,862 berdasarkan analisis kesulitan keuangan dalam metode Springate.

6. Fadrul dan Ridawati (2020)

Berdasarkan perhitungan prediksi menggunakan metode Springate, hasilnya menunjukkan bahwa dari 7 perusahaan yang dinilai kebangkrutan, 1 perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan dan 6 perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Dengan tingkat akurasi yang dihasilkan 14,3% dan tingkat kesalahan 85,7%Berdasarkan perhitungan prediksi menggunakan metode Springate, hasilnya menunjukkan bahwa dari 7 perusahaan yang dinilai kebangkrutan, 1 perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan dan 6 perusahaan mengalami kesulitan keuangan. Dengan tingkat akurasi yang dihasilkan 14,3%.

38 dalam sehat. S pada tahun 2009 sebesar 2,288 dan nilai S tahun 2010 sebesar 2,313 diklasifikasikan

Springate Deskriptif Terdapat dua perusahaan yang menunjukkan

Springate Deskriptif Selama 10 tahun berturut-turut terdapat enam perusahaan yang selalu berada pada zona

Universitas Sumatera Utara

Firdausi

Springate Deskriptif nilai keseluruhan perusahaan lebih dari 0,086 dari total selama 8 tahun. Ini menunjukkan

Springate Deskriptif Berdasarkan perhitungan prediksi menggunakan

40

2.3 Kerangka Konseptual

Berdasarkan dari hasil tinjauan pustaka dan penelian terdahulu dapat diketahui bahwa kondisi perusahaan dan keberlangsungan hidup perusahaan dapat diketahui melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Laporan keuangan merupakan laporan yang berisi informasi mengenai kondisi dan kinerja perusahaan dalam suatu periode tertentu dan menjadi alat komunikasi antara data keuangan dan aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Dengan diketahuianya kondisi keuangan perusahaan maka pihak investor, pemerintah, pihak manajemen dan akuntan dapat mengambil kebijakan dengan menggunakan alat bantu analisis laporan keuangan.

Semakin dini kondisi financial distress dapat dideteksi maka akan mempercepat pihak manajemen perusahaan dalam mengambil langkah-langkah perbaikan dan antisipasi terhadap upaya pencegahan kebangkrutan perusahaan.

Alat analisis yang digunakan adalah Springate (S-Score), yang dapat memprediksi potensi terjadinya financial distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Springate (S-Score) merupakan alat analisis yang digunakan untuk memprediksi kondisi kesulitan keuangan perusahaan, yang apabila tidak segera diperbaiki oleh pihak manajemen akan berlanjut pada kebangkrutan pada perusahaan, alat analisis ini dikombinasikan dalam suatu formula persamaan yang terdiri dari empat rasio keuangan dengan pemberian bobot nilai yang berbeda antara satu rasio dengan lainnya. Springate (S-Score) memiliki empat rasio keuangan, yakni: rasio X1 (Modal Kerja terhadap Total Aset), rasio X2 (Laba

Universitas Sumatera Utara

Sebelum Bunga dan Pajak terhadap Total Aset), rasio X3 (Laba Sebelum Pajak terhadap Liabilitas Lancar), dan rasio X4 (Penjualan terhadap Total Aset).

1. Rasio X1 (Modal Kerja/Total Aset)

Rasio ini mengukur likuiditas dengan membandingkan aset lancar terhadap total aset.Nilai rasio yang semakin tinggi menunjukkan semakin besar modal kerja yang diperoleh perusahaan dibanding total aktivanya. Pada kondisi financial distress, modal kerja akan menurun lebih cepat dibanding dengan total asset, sehingga menyebabkan nilai rasio ini rendah.

2. Rasio X2 (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aset)

Rasio ini untuk mengukur profitabilitas perusahaan, yaitu tingkat pengembalian aset dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak dengan total aset perusahaan. Rasio ini menekankan tentang pentingnya efektivitas dan efesiensi pengelolan dalam mencapai laba perusahaan terutama dalam memenuhi kewajiban bunga para investor. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin baik perusahaan dalam mengelola seluruh aset dalam menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak, sehingga rasio ini sesuai digunakan untuk mendeteksi financial distress pada perusahaan.

3. Rasio X3 (Rasio Laba Sebelum Pajak/Total Liabilitas Lancar)

Rasio yang digunakan untuk mengukur profitabilitas perusahaan dengan membagi laba sebelum pajak dengan liabilitas lancar, sehingga dapat

42

mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya. Manajemen perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang telah dipotong dengan beban bunga dapat menutupi hutang lancar yang ada. Rasio ini mengukur apakah laba sebelum pajak setelah dikurangi dengan bunga mampu menutupi liabilitas lancar yang dimiliki perusahaan.

4. Rasio X4 (Penjualan/Total Aset)

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk memperoleh penjualan dan mengahasilkan laba agar dapat menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

Nilai hasil pembagian penjualan dengan total aset yang rendah menunjukkan bahwa perusahaan memiliki aset yang besar daripada kemampuan perusahaan memperoleh penjualan.

Berikut ini gambar kerangka konseptual yang akan menganalisis rasio-rasio keuangan yang terdapat dalam metode Springate (S-Score) terhadap potensi terjadinya financial distress pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber : Hasil Olahan Peneliti

X4 = penjualan/To

tal Aset X3=EBT/

Total Aset X2 =

EBIT/Total Aset X1 = Modal

Kerja/Total Aset

Kondisi Financial Distress / Bank Tidak Sehat

S = 1,03X1 + 3.07X2 + 0.66X3 + 0.4X4

Kondisi Non-Financial Distress / Bank sehat Perusahaan Perbankan Yang

Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2017-2019

X5 = Modal/AT

MR

44

Universitas Sumatera Utara

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (Indepeden) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan atara variabel yang lain (Sugiyono, 2016).

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan perbankan yang terdafatar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini mengambil sampel periode 2017-2019, yang diakses melalui media internet dengan situs www.idx.co.id.

3.3 Batasan Operasional

Batasan operasional dalam penelitian ini adalah:

1. Objek penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019.

2. Analisis potensi financial distress perusahaan perbankan menggunakan metode Springate (S-Score) dengan rasio X1 (Modal Kerja/Total Aset), rasio X2 (Laba Sebelum Bunga dan Pajak/Total Aset), rasio X3 (Laba Sebelum Pajak/Liabilitas Lancar), rasio X4 (Penjualan/Total Aset) dan analisis Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan.

46

3. Data yang digunakan adalah laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan tahun 2017-2019.

3.4 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah menjelaskan karakteristik dari obyek ke elemen - elemen yang dapat diobservasi yang menyebabkan konsep dapat diukur dan dioperasionalkan ke dalam penelitian. Setiap konsep variabel yang digunakan penelitian harus memiliki definisi yang jelas. Dengan definisi operasional, peneliti dapat mengumpulkan, mengukur, atau menghitung informasi, melalui logika empiris. Istilah - istilah dalam definisi operasional harus dapat diuji dan mempunyai rujukan empiris (Erlina, 2008:57-58).

Berdasarkan analisis Springate (S-Score), ada empat rasio yang dikombinasikan untuk mendeteksi perusahaan yang mengalami kondisi financial distress dan non-financial distress. Rasio-rasio tersebut ialah:

1. Modal Kerja Terhadap Total Asset

Rasio modal kerja terhadap total aset menunjukkan rasio antara modal kerja yaitu aktiva lancar dikurangi hutang lancar terhadap total aktiva. Nilai yang semakin tinggi menunjukkan semakin besar modal kerja yang diperoleh perusahaan dibanding total aktivanya.

𝑋1 = Aset Lancar βˆ’ Liabilitas Lancar π‘‘π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘ π‘’π‘‘

Universitas Sumatera Utara

2. Laba Sebelum Bunga dan Pajak Terhadap Total Asset

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Tingkat pengembalian dari aktiva yang dihitung dengan membagi laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) dengan total aktiva pada neraca perusahaan.

𝑋2 = 𝐸𝐡𝐼𝑇 π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘ π‘’π‘‘

3. Laba Sebelum Pajak Terhadap Total Liabilitas Lancar

Rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam melunasi hutang jangka pendeknya. Manajemen perusahaan dapat mengetahui berapa laba yang telah dipotong dengan beban bunga dapat menutupi hutang lancar yang ada.

𝑋3 = πΏπ‘Žπ‘π‘Ž π‘ π‘’π‘π‘’π‘™π‘’π‘š π‘π‘Žπ‘—π‘Žπ‘˜ (𝐸𝐡𝑇) πΏπ‘–π‘Žπ‘π‘–π‘™π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π‘™π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘Ÿ

48

4. Penjualan Terhadap Total Asset

Rasio yang membandingkan antara penjualan bersih dengan total aktiva.

Rasio ini menunjukkan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan. tersebut telah dimanfaatkan untuk memperoleh penghasilan. Semakin tinggi nilainya berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan dalam menghasilkan volume penjualan.

𝑋4 = π‘ƒπ‘’π‘›π‘—π‘’π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ π‘Žπ‘ π‘’π‘‘

5. Modal Terhadap Asset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR)

Rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kemampuan perbankan dalam menyediakan dana yang digunakan sebagai cadangan apabila terjadi risiko kerugian. Penting bagi perusahaan perbankan memperhatikan rasio kecukupan modalnya karena modal merupakan factor utama bank dalam melakukan kegiatan usahanya guna mengembangkan pertumbuhan perusahaan.

𝑋5 = π‘€π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑇𝑀𝑅

Universitas Sumatera Utara

Tabel 3.1 Definisi Operasional Variabel

penelitian

Definisi Operasional Pengukuran Skala Metode menyediakan dana yang digunakan sebagai cadangan apabila terjadi risiko kerugian.

π‘€π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑇𝑀𝑅

Rasio

50

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian 3.5.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2016:90), β€œPopulasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Populasi yang ada pada penelitian ini adalah seluruh perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2017-2019 yang berjumlah 43 perusahaan perbankan.

3.5.2 Sampel

Menurut sugiyono (2016:91), β€œSampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yan dimiliki oleh populasi tersebut yang diambil agar representative (mewakili).” Sample yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.

Kriteria yang untuk dijadikan sampel adalah sebagai berikut:

1. Perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 – 2019.

2. Perusahaan perbankan yang konsinsten mengeluarkan laporan keuangan selama tahun 2017, 2018, dan 2019 dengan

menggunakan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember.

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan kriteria berikut, maka seleksi sampel dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3.2

Kriteria Pengambilan Sampel

3.6 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang telah dipublikasikan. Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini merupakan laporan keuangan tahunan perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.Jenis data yang digunakan di dalam penelitian ini bersifat data kuantitatif atau berbentuk angka. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan dari setiap perusahaan perbankan yang menjadi sampel penelitian.

3.7 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data sekunder, yang menggunakan teknik pengumpulan data dokumentasi, yaitu dengan mengumpulkan, mencatat, serta mengkaji data sekunder

Kriteria Jumlah

Populasi perusahaan perbankan yang terdaftar di BEI selama periode tahun 2017-2019

41

Perusahaan perbankan yang tidak konsinsten mengeluarkan laporan keuangan selama tahun 2017, 2018, dan 2019 dengan menggunakan tahun buku yang berakhir pada 31 Desember.

(10)

Jumlah sampel yang memenuhi criteria 31

52

Sumber data yang data dalam penelitian ini adalah dengan memperoleh data dan mengunduh dari website Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id dan untuk memperoleh informasi website perusahaan yang menjadi sampel penelitian dan mengunduh dari website perusahaan. Data yang diperoleh berupa laporan keuangan atau Annual Report masing - masing perusahaan.

3.8 Teknik Analisis

3.8.1 Metode Analisis Deskriptif

Penelitian ini menggunakan metode analisis statistik deskriptif menggunakan aplikasi SPSS. Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2016).

3.8.2 Metode Springate S-Score

Model prediksi Springate (S-Score) merupakan metode prediksi potensi adanya kebangkrutan yang dibuat oleh gordon L.V Springate. Model kebangkrutan Springate membedakan antara perusahaan yang mengalami financial distress dan yang non-financial distress dengan menggunakan metode Multi Discriminat Analysis (MDA) yang hampir mirip dengan metode altman model ini menggunakan empat rasio keuangan yang dikombinasikan dalam suatu persamaan.

Springate S-Score = 1.03X1+3.07X2+0.66X3 +0.4X4

Universitas Sumatera Utara

Dimana:

X1 = Modal Kerja/Total Asset

X2 = Laba Sebelum Bunga Dan Pajak/Total Asset X3 = Laba Sebelum Pajak/Liabilitas Lancar X4 = Penjualan/Total Aset

Dengan kriteria penilaian:

1. S > 0,862 perusahaan masuk dalam kategori kondisi perusahaan non-financial distress. Perusahaan tidak berpotensi mengalami kebangkrutan.

2. S < 0,862 perusahaan masuk ke dalam kategori kondisi perusahaan financial distress. Perusahaan berpotensi sebagai perusahaan bangkrut.

3.8.3 Analisis Capital Adeqancy Ratio (CAR)

Rasio kecukupan modal diperoleh dari hasil perbandingan modal dengan asset tertimbang menurut risiko (ATMR) yang menggambarkan kemampuan perbankan dalam menyediakan dana yang digunakan sebagai cadangan apabila terjadi risiko kerugian. Penting bagi perusahaan perbankan memperhatikan rasio kecukupan modalnya karena modal merupakan factor utama bank dalam melakukan kegiatan usahanya guna mengembangkan pertumbuhan perusahaan.

Menurut Pasal 2 15/12/PBI/2013 ayat 3, ditetapkan standar dari Penyediaan modal minimum yakni: 8% (delapan persen) dari Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) untuk Bank dengan profil risiko peringkat 1 (satu); 9% (sembilan persen) sampai dengan kurang dari 10% (sepuluh persen) dari ATMR untuk Bank dengan

54

profil risiko peringkat 2 (dua); 10% (sepuluh persen) sampai dengan kurang dari 11%

(sebelas persen) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 3 (tiga); atau 11% (sebelas persen) sampai dengan 14% (empat belas persen) dari ATMR untuk Bank dengan profil risiko peringkat 4. Ketentuan batas minimum Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) bertujuan untuk melindungi nasabah dari risiko kerugian yang mungkin dialami oleh perbankan dan menjaga stabilitas keuangan. Nilai rasio kecukupan modal yang semakin tinggi akan menunjukkan tingkat kesehatan bank yang semakin baik.

𝐢𝐴𝑅 = π‘€π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝐴𝑇𝑀𝑅

Universitas Sumatera Utara

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Perusahaan Perbankan

Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 31 perusahaan perbankan. Profil masing-masing perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2017-2019 yang menjadi sampel dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. PT. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO)

PT. Bank Rakyat Indonesia Agroniaga, Tbk didirikan pada 27 September 1989 oleh oleh Dana Pensiun Perkebunan (Dapenbun). Bank AGRO memiliki peranan penting dan strategis dalam perkembangan sektor agribisnis di Indonesia. yang berfokus pada pembiayaan agribisnis, sejak berdiri hingga saat ini, portofolio kredit Bank AGRO sebagian besar (antara 60% – 75%) disalurkan di sektor agribisnis, baik on farm maupun off farm. Bank AGRO didirikan dengan Akta Notaris Rd.Soekarsono, S.H., di Jakarta No. 27 tanggal 27 September 1989 memperoleh izin usaha dari Menteri Keuangan padatanggal 11 Desember 1989 dan mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 8 Februari 1990. Bank AGRO menjadi perusahaan publik berdas persetujuan Bapepam-LK No. S-1565/PM/2003 sejak tanggal 30 Juni 2003 dan nama perusahaan berubah menjadi PT Bank Agroniaga Tbk, pada tahunyang sama perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek

56

Surabaya,sedangkan pada tahun 2007, saham Bank AGRO dengan kode AGRO sudah tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Bank MNC Internasional,Tbk (BABP)

Bank MNC Internasional Tbk (MNC Bank) merupakan perusahaan hasil akuisisi dari Bank ICB Bumiputera Tbk yang didirikan dengan nama PT Bank Bumiputera Indonesia tanggal 31 Juli 1989 dan mulai beroperasi secara pada tanggal 12 Januari 1990. Berdasarkan keputusan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan No.18/KDK.03/2014 tanggal 15 Oktober 2014, nama Bank berubah menjadi PT. Bank MNC Internasional Tbk.

3. Bank Central Asia, Tbk (BBCA)

Bank Central Asia Tbk didirikan pada tanggal 10 Agustus 1955 dengan nama

β€œN.V. Perseroan Dagang Dan Semarang Knitting Factory” dan mulai beroperasi di bidang perbankan sejak tanggal 12 Oktober 1956. BPPN melakukan divestasi 22,5% dari seluruh saham Bank BCA melalui Penawaran Saham Publik Perdana (IPO), sehingga kepemilikan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) berkurang menjadi 70,3% dan dicatat pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 31 Mei 2000.

4. Bank Harda Internasional, Tbk (BBHI)

Bank Harda Internasional, Tbk merupakan bank yang awalnya dibentuk Badan Hukum PT. Bank Arta Griya Tanggal 21 Oktober 1992, lalu berganti nama menjadi PT. Bank Harda Griya pada tanggal 16 Januari 1993 dan resmi

Universitas Sumatera Utara

beroperasi pada tanggal 10 Oktober 1994. Seiring waktu dengan berkembangnya bisnis Bank Harda, pada tanggal 10 Desember 1996 Badan Hukum Bank Harda Griya berubah menjadi PT. Bank Harda lnternasional.

Pada 12 Agustus 2015, Bank Harda Internasional melakukan Penawaran Saham Perdana (IPO) kepada masyarakat sebanyak 800.000.000.

5. Bank Bukopin, Tbk (BBKP)

Bank Bukopin Tbk didirikan pada tanggal 10 Juli 1970 dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia (disingkat Bukopin) dan mulai melakukan usaha komersial sebagai bank umum koperasi di Indonesia sejak tanggal 16 Maret 1971. Pada tanggal 30 Juni 2006, BBKP memperoleh pernyataan efektif BAPEPAM-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBKP (IPO) dan saham-saham tersebut telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Juli 2006.

6. Bank Mestika Dharma, Tbk (BBMD)

PT. Bank Mestika Dharma Tbk didirikan pada tahun 1955 yang merupakan Bank Umum Swasta Devisa dan bank daerah yang Go Public dan terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 8 Juli 2013. PT. Bank Mestika Dharma Tbk fokus pada bidang usaha retail banking dengan mengedepankan prinsip prudential banking dan manajemen resiko yang baik dan didukung oleh jasa pelayanan yang profesional dengan meningkatkan service quality.

58

7. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk (BBNI)

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk didirikan pada 05 Juli 1946 yang merupakan Bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) pertama yang menjadi perusahaan publik setelah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada tahun 1996. Pada tanggal 28 Oktober 1996, BBNI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBNI (IPO) dan saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 25 November 1996.

8. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk (BBRI)

Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk didirikan pada 16 Desember 1895 di Purwokerto, Jawa Tengah. Pada tanggal 31 Oktober 2003, BBRI memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBRI (IPO) dan masing-masing saham telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 November 2003. Setelah IPO Bank Rakyat Indonesia, opsi pemesanan lebih dan opsi penjatahan lebih dilaksanakan oleh Penjamin Pelaksana Emisi, Negara Republik Indonesia memiliki 59,50% saham di BRI.

9. Bank Tabungan Negara (Persero), Tbk (BBTN)

Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk didirikan pada 9 Februari 1950.

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Bank BTN adalah menjalankan kegiatan umum perbankan, termasuk melakukan kegiatan Bank berdasarkan prinsip syariah. Bank Tabungan Negara mulai melakukan

Universitas Sumatera Utara

kegiatan berdasarkan prinsip syariah sejak 14 Februari 2005. Pada tanggal 08 Desember 2009, BBTN memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BBTN (IPO) dan saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 17 Desember 2009.

10. Bank Yudha Bhakti, Tbk (BBYB)

Bank Yudha Bhakti, Tbk merupakan bank yang beroperasi sejak tanggal 9 Januari 1990. Bank Yudha Bhakti memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dan saham-saham bank Yudha Bhakti, tbk mulai dicatatkan pada tanggal 13 Januari 2015 di Bursa Efek Indonesia (BEI).

11. Bank J Trust Indonesia, Tbk (BCIC)

Bank J Trust Indonesia Tbk didirikan pada 30 Mei 1989 dengan nama PT Bank Century Intervest Corporation dan mulai beroperasi pada bulan April 1990. Bank J Trust Indonesia Tbk melakukan penggabungan dengan Bank Danpac Tbk dan Bank Pikko Tbk dalam bulan Oktober 2004. Pada tanggal 03 Juni 1997 Bank J Trust Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari BAPEPAM untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) pada 25 Juni 1997.

12. Bank Danamon Indonesia, Tbk (BDMN)

Bank Danamon Indonesia Tbk didirikan pada 16 Juli 1956 dengan nama PT

60

Bank Danamon Indonesia Tbk adalah menjalankan kegiatan usaha di bidang perbankan dan melakukan kegiatan perbankan lainnya berdasarkan prinsip Syariah. BDMN mulai melakukan kegiatan berdasarkan prinsip Syariah tersebut sejak tahun 2002. Pada tanggal 24 Oktober 1989, Bank Danamon Indonesia Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Menteri Keuangan untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BDMN (IPO) pada 6 Desember 1989.

13. Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk (BEKS)

Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk didirikan pada 11 September 1992 dengan nama PT Executive International Bank dan mulai beroperasi pada tanggal 9 Agustus 1993. Pada tanggal 22 Juni 2001, Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK atas nama Menteri Keuangan Republik Indonesia untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BEKS (IPO) pada 13 Juli 2001.

14. Bank Ina Perdana, Tbk (BINA)

Bank Ina Perdana Tbk didirikan pada 9 Februari 1990 dengan nama PT Bank Ina dan mulai beroperasi pada tahun 1991. Pada tanggal 31 Desember 2013, Bank Ina Perdana Tbk memperoleh pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham BINA (IPO) pada 16 januari 2014.

15. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat, Tbk (BJBR)

Universitas Sumatera Utara

Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk didirikan pada tanggal 08 April 1999. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sebelumnya merupakan sebuah perusahaan milik Belanda di Indonesia

Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk didirikan pada tanggal 08 April 1999. Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk sebelumnya merupakan sebuah perusahaan milik Belanda di Indonesia

Dokumen terkait