• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja

4.1 Analisis kuantitatif

4.1.3 Analisis dan Hasil Ekonometri

Desentralisasi fiskal memberikan dampak yang cukup positif bagi perkembangan indikator-indikator sosial ekonomi. Namun alokasi dana transfer per kapita daerah tidak seluruhnya mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variabel-variabel outcome pelayanan publik. Hasil dari regresi panel data yang menggunakan metode fixed effect antara indikator sosial ekonomi yang merepresentasikan kondisi pelayanan publik dengan total alokasi dana perimbangan per kapita menunjukkan hasil yang cukup beragam. Total alokasi dana perimbangan per kapita secara keseluruhan (yang mencakup periode pra- dan pasca-desentralisasi) hanya memberikan hasil yang positif dan signifikan terhadap indikator persentase persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih, cakupan imunisasi, dan akses air bersih. Sehingga dapat diketahui bahwa alokasi dana perimbangan ke daerah memberikan pengaruh yang positif bagi perkembangan kesehatan di daerah.

Tabel 4.1. Hasil Regresi Antara Total Dana Perimbangan Dengan Indikator Sosial-Ekonomi (Level)

VARIABLES APM SMP Rata2 lama

sekolah

Imunisasi Air bersih Listrik Sanitasi Gini GRDP per kapita

Angka kemiskinan

decentr==1 0.529 -0.238*** 2.689*** 15.618*** 1.511*** 7.180*** 7.334*** 6.161*** -0.001 4.363* 0.000 (0.956) (0.064) (0.433) (1.232) (0.525) (1.120) (1.257) (1.079) (0.004) (2.380) (0.000) Lag transfer per kapita -0.810 -0.036 -0.149 2.848* 2.320*** 3.837** -1.213 1.037 0.003 4.310 -0.055 (1.078) (0.067) (0.543) (1.575) (0.781) (1.551) (1.608) (1.301) (0.005) (3.733) (0.116) (decentr==1)*Lag transfer per kapita 1.058 0.089 0.087 -3.862*** -2.053*** -3.766*** 2.244 -0.278 -0.003 -4.331 0.000

(1.045) (0.061) (0.527) (1.457) (0.650) (1.451) (1.435) (1.236) (0.005) (3.818) (0.000) Robust standard errors in parentheses

*** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1

Dari hasil regresi dapat disimpulkan bahwa DAU yang diberikan kepada daerah secara riil tidak digunakan sepenuhnya untuk pembiayaan pelayanan publik di daerah. Hal ini terjadi karena sebagian besar DAU digunakan untuk mendanai belanja pegawai sehingga peranan dari DAU dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkurang. Untuk itu analisis regresi selanjutnya, komponen belanja pegawai diperhitungkan sebagai pengurang nilai DAU. Jika dalam regresi sebelumnya total alokasi dana perimbangan menggunakan DAU yang termasuk di dalamnya komponen belanja pegawai (gaji), maka pada regresi berikut ini DAU dihitung tanpa komponen alokasi dasar/gaji.

Dari hasil regresi dalam Tabel 4.1 dapat terlihat bahwa hasil yang positif dan signifikan dari total alokasi dana perimbangan per kapita terjadi pada indikator-indikator pelayanan publik, seperti kelahiran dengan tenaga terlatih, cakupan imunisasi, dan akses air bersih. Hasil ini selaras dengan regresi sebelumnya dimana komponen alokasi dasar tidak dipisahkan dari DAU. Namun demikian, pada regresi kedua nilai koefisien yang dihasilkan lebih besar, artinya pengaruh DAU terhadap pelayanan publik lebih besar. Hal ini membuktikan bahwa semakin besar

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

dana yang digunakan untuk kegiatan langsung pelayanan publik maka perkembangan indikator sosial ekonomi juga akan semakin meningkat.

Tabel 4.2. Hasil Regresi Antara Total Dana Perimbangan (Tanpa Gaji) Dengan Indikator Sosial-Ekonomi (Level)

VARIABLES APM SMP Rata2 lama

sekolah

Imunisasi Air bersih Listrik Sanitasi Gini GRDP per kapita

Angka kemiskinan

-0.748 -0.135** -0.245 3.541** 2.147*** 4.513*** -1.250 0.095 0.005 4.302 -0.090 (1.101) (0.062) (0.509) (1.497) (0.728) (1.488) (1.402) (1.229) (0.005) (3.897) (0.103) 1.207 0.165*** 0.196 -4.554*** -1.789*** -4.168*** 2.517* 0.605 -0.004 -4.321 0.000 (1.067) (0.062) (0.508) (1.412) (0.585) (1.448) (1.375) (1.183) (0.005) (3.952) (0.000) Robust standard errors in parentheses

*** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 Lag transfer (tanpa gaji) per kapita

(decentr==1)*Lag transfer (tanpa gaji) per kapita

Regresi selanjutnya dilakukan dengan memisahkan masing-masing variabel dana perimbangan. Hasil yang diperoleh cenderung beragam sebagaimana terlihat dalam tabel 8. Secara umum jenis-jenis dana perimbangan tidak memberikan dampak yang signifikan bagi perkembangan indikator sosial dan ekonomi di daerah, kecuali beberapa jenis dana tertentu. Salah satu komponen dana perimbangan yang berpengaruh cukup signifikan dan positif terhadap beberapa indikator sosial ekonomi adalah DAK. Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa setiap satu juta rupiah alokasi DAK per kapita akan memberikan kenaikan secara positif sebesar 4,1 persen untuk akses rumah tangga terhadap listrik; 2,9 persen untuk akses rumah tangga terhadap sanitasi; dan 0,1 tahun bagi peningkatan rata-rata lama bersekolah. Sementara itu alokasi DBH pajak mampu memberikan dampak positif terhadap kelahiran bayi yang dibantu tenaga terlatih, sebaliknya alokasi bagi hasil SDA memberikan hasil yang berlawanan terhadap indikator yang sama.

Terkait dengan alokasi DAU (tanpa gaji), jenis alokasi ini tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap indikator-indikator pelayanan publik. Hal ini terjadi karena komponen DAU yang telah dipisahkan dari alokasi dasar menjadi sangat kecil untuk mampu memberikan dampak positif terhadap pelayanan publik. Sebagai catatan, sekitar satu-per-sepuluh kabupaten/kota tidak mempunyai sisa lebih DAU (DAU negatif) setelah digunakan untuk belanja pegawai. Bagi daerah-daerah yang masih memiliki DAU setelah dikurang belanja pegawai, besarnya hanya kurang dari sepertiga dari alokasi DAU yang diterimanya.

Lebih jauh, untuk melihat adanya pengaruh dari alokasi dana pemerintah yang lain diluar dana perimbangan, maka dana Dekon/TP per kapita juga diikutsertakan dalam perhitungan regresi. Hasil regresi dalam tabel 8 menunjukan terbatasnya hubungan yang signifikan antara dana Dekon/TP per kapita dengan hasil-hasil pencapaian pelayanan publik. Secara terpisah, dana Dekon per kapita mempunyai pengaruh yang signifikan dan positif terhadap PDRB per kapita tetapi juga meningkatkan ketidakmerataan. Sementara dana TP per kapita relatif tidak mempunyai hubungan yang positif dan signifikan dengan pelayanan dasar yang ada. Hal ini mungkin terjadi karena kurang tepatnya sasaran pengalokasian dana TP atau tidak sesuai dengan prioritas-prioritas pelayanan publik yang dibutuhkan di daerah.

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

32

Tabel 4.3. Hasil Regresi Antara Jenis-Jenis Alokasi Dana Dengan Indikator Sosial-Ekonomi (Level)

VARIABLES APM SMP Rata2 lama

sekolah

Imunisasi Air bersih Listrik Sanitasi Gini GRDP per kapita -0.241 -0.035* -0.107 0.38 0.157 -0.335 -1.229*** -0.223 0.005** 0.151*

-0.591 -0.02 -0.09 -0.434 -0.285 -0.613 -0.39 -0.279 -0.002 -0.083

1.687 -0.049 -0.273 -3.093*** -0.257 -0.846 0.373 -0.013 0.007 0.018 -1.805 -0.053 -0.361 -1.045 -0.656 -1.391 -1.936 -0.811 -0.005 -0.164

0.615 -0.027 0.114 -2.085** 0.609 0.246 -0.375 -1.288 -0.001 -0.204

-0.762 -0.039 -0.26 -0.979 -0.581 -0.994 -0.932 -0.856 -0.004 -0.48

0.768 0.012 -0.184 2.157* 0.858 1.75 0.409 1.31 -0.003 0.03

-1.108 -0.055 -0.224 -1.132 -0.62 -1.09 -0.83 -0.989 -0.004 -0.559

1.323 0.105* 0.433 -0.796 2.384 -0.83 4.145*** 2.926** 0.016* -0.29

-1.406 -0.059 -0.382 -2.176 -2.037 -1.828 -1.52 -1.23 -0.008 -0.353

-2.024 0.116** 0.176 -0.33 -1.368 0.154 0.419 1.315 0.002 0.559*

-1.247 -0.048 -0.47 -1.276 -1.727 -1.377 -1.453 -1.276 -0.006 -0.33

-0.995 -0.056* -0.175 0.772 0.002 0.748 -0.104 0.999 0.003 0.093

-0.882 -0.033 -0.196 -1.092 -0.637 -0.701 -1.099 -0.8 -0.003 -0.109

Robust standard errors in parentheses

*** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 DAU (tanpa gaji) per kapita, dalam Rp juta, 2007

Dekon per kapita, dalam Rp juta, 2007 TP per kapita, dalam Rp juta, 2007 BHSDA per kapita, dalam Rp juta, 2007 BH Pajak per kapita, dalam Rp juta, 2007

DAK per kapita, dalam Rp juta, 2007 Belanja pegawai per kapita, dalam Rp juta, 2007

Tahapan selanjutnya adalah regresi dengan pendekatan perubahan (difference). Jika sebelumnya regresi dilakukan dalam bentuk level, pada model yang berikut regresi dilihat dari sisi perubahan alokasi antar tahun yang diregresikan dengan perubahan dari variabel-variabel sosial ekonomi. Dampak perubahan dalam bentuk peningkatan alokasi dari tahun ke tahun ini diharapkan dapat memberikan perubahan yang positif atas indikator-indikator pelayanan publik.

Secara garis besar hasil regresi menunjukkan bahwa penambahan alokasi tidak memberikan perubahan yang positif dan signifikan atas perubahan indikator-indikator sosial ekonomi, meskipun ada beberapa indikator yang dipengaruhi secara signifikan. Hasil pada tabel 9 menunjukkan bahwa setiap juta rupiah pertambahan alokasi dana perimbangan per kapita secara keseluruhan akan memberikan perubahan yang positif terhadap rata-rata lama bersekolah sebesar 0.6 tahun. Di lain pihak, hasil perhitungan juga mengindikasikan bahwa penambahan alokasi dana perimbangan per kapita secara keseluruhan menyebabkan peningkatan ketidakmerataan. Namun demikian jika dilihat dengan interaksi dengan periode desentralisasi, alokasi dana memberikan kontribusi yang lebih baik untuk gini per kapita pada masa setelah desentralisasi.

Tabel 4.4. Hasil Regresi Antara Total Dana Perimbangan Dengan Indikator Sosial-Ekonomi (Difference)

VARIABLES APM SMP Rata2 lama

sekolah Angka

Imunisasi Air bersih Listrik Sanitasi Gini GRDP per kapita

2.786 0.605*** 0.582 2.124 0.005 -0.857 2.472 0.222 -0.021** 1.186

-1.886 -0.153 -0.761 -2.346 -1.575 -2.201 -1.757 -1.913 -0.01 -1.014 -3.096 -0.603*** -0.5 -2.823 0.278 0.206 -2.434 0.728 0.023** -1.219 -1.919 -0.155 -0.76 -2.454 -1.663 -2.228 -1.899 -1.952 -0.011 -1.01 -0.199 0.028** 0.003 -0.491 -0.049 -0.380* -0.417 -0.235 -0.003* -0.066 -0.299 -0.011 -0.075 -0.342 -0.261 -0.224 -0.363 -0.241 -0.002 -0.066 Robust standard errors in parentheses

*** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 Lag difference transfer per kapita, (t-2)-(t-1)

(decentr==1)*Lag difference transfer per kapita

Pendapatan per kapita, t0

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

Hasil dari pendekatan sisi perubahan (difference) hampir sama dengan hasil dari pendekatan level. Sesuai dengan tabel 10 terlihat bahwa perubahan alokasi jenis dana yang memberikan peningkatan indikator sosial yang lebih besar adalah DAK. Dengan semakin banyaknya alokasi DAK, maka perubahan yang lebih besar dan signifikan dapat dicapai untuk akses rumah tangga terhadap sanitasi dan gini per kapita. Selanjutnya, jenis alokasi lain yang memberikan perubahan signifikan pada indikator pelayanan dasar publik adalah bagi hasil pajak. Setiap satu juta rupiah pertambahan alokasi DBH pajak dapat meningkatkan persentase persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih sebanyak 2,2 persen dan meningkatkan akses rumah tangga terhadap sanitasi sebesar 2,2 persen.

Sebaliknya, pertambahan alokasi DAU(tanpa gaji) terlihat kurang efisien, hal ini ditunjukkan dari hasil perubahan yang lebih sedikit untuk persentase persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih dan akses untuk air bersih.

Kemungkinan besar alokasi DAU diberikan dengan tidak tepat sasaran ke daerah-daerah yang kondisinya untuk kedua indikator tersebut memang sudah baik. Meskipun begitu, penambahan DAU(tanpa gaji) mampu memberikan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap PDRB per kapita. Untuk bagi hasil SDA, di-satu sisi membawa perubahan yang lebih besar terhadap indikator APM SMP, sementara di sisi lain memberikan perubahan yang lebih sedikit terhadap akses rumah tangga untuk listrik.

Tabel 4.5. Hasil Regresi Antara Jenis-Jenis Dana Perimbangan Dengan Indikator Sosial-Ekonomi (Difference)

VARIABLES APM SMP Rata2 lama

sekolah

Imunisasi Air bersih Listrik Sanitasi Gini GRDP per kapita

0.525 -0.019 0.012 0.653* 0.444 -0.492 0.044 0.073 0.004 -0.084

-0.506 -0.019 -0.074 -0.393 -0.27 -0.641 -0.229 -0.322 -0.003 -0.074

2.031 -0.024 -0.151 -3.526*** -0.454 -0.773 0.688 0.281 -0.004 0.064

-1.387 -0.036 -0.328 -0.993 -0.765 -1.175 -1.03 -0.942 -0.004 -0.106

1.066* -0.027 0.123 -1.186 -0.46 -1.217 -1.501** -0.913 0.006 -0.525*

-0.617 -0.041 -0.164 -0.895 -0.451 -0.838 -0.753 -0.66 -0.008 -0.318

0.971 -0.027 -0.104 2.210** 0.84 0.315 0.111 2.155** -0.011 -0.269

-1.041 -0.062 -0.207 -0.982 -0.559 -1.287 -0.628 -0.869 -0.014 -0.208 -2.525* 0.064 0.069 -1.814 1.898 0.505 2.125 3.648*** 0.029* -0.189**

-1.42 -0.087 -0.413 -1.587 -1.626 -1.171 -2.318 -1.122 -0.016 -0.08

-2.630* 0.065 0.271 -1.406 -2.347 -4.656*** -1.995 -0.858 0 0.123

-1.516 -0.054 -0.611 -1.423 -2.255 -1.447 -1.887 -1.577 -0.01 -0.131

-1.116 -0.024 0.09 -1.960** -0.071 -1.405** -0.402 0.485 -0.005 0.103**

-0.705 -0.026 -0.233 -0.907 -0.474 -0.585 -1.213 -0.687 -0.004 -0.045

0.144 0.001 0.021 -0.114 0.06 0.181 -0.068 0.047 0 -0.139*

-0.154 -0.006 -0.037 -0.113 -0.129 -0.134 -0.148 -0.195 -0.001 -0.072 Robust standard errors in parentheses

*** p<0.01, ** p<0.05, * p<0.1 Perubahan DAU (tanpa gaji) per kapita, Rp juta, 2007

Total pendapatan per kapita, 1996 Perubahan dekon per kapita, Rp juta, 2007

Perubahan TP per kapita, Rp juta, 2007

Perubahan BH SDA per kapita, Rp juta, 2007

Perubahan BH Pajak per kapita, Rp juta, 2007

Perubahan DAK per kapita, Rp juta, 2007

Perubahan belanja pegawai per kapita, Rp juta, 2007

Dari keseluruhan hasil regresi sementara dapat disimpulkan bahwa alokasi dana perimbangan maupun dana Dekon/TP secara total maupun secara individual belum memberikan dampak menyeluruh yang positif dan signifikan terhadap variabel-variabel pelayanan publik. Hubungan besaran alokasi dari jenis dana-dana tersebut hanya mempunyai pengaruh terhadap beberapa variabel pelayanan publik. Meskipun demikian, terdapat hasil yang lebih baik ketika alokasi dasar dikeluarkan dalam komponen total alokasi dana perimbangan. Jika dilihat berdasarkan jenisnya, jenis dana yang secara konsisten memberikan pengaruh terhadap beberapa pelayanan publik adalah DAK. Hal ini kemungkinan besar karena peruntukannya bersifat earmarked.

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

34

lebih lanjut akan hal-hal lain yang mempengaruhi hubungan alokasi jenis dana yang sudah dijabarkan sebelumnya secara keseluruhan dengan hasil-hasil pelayanan dasar secara sosial dan ekonomi, maka perlu dipahami juga hubungannya dengan pola pengeluaran atau belanja sektoral kabupaten/kota, serta kemampuan daerah untuk menyerap anggaran6

Terkait dengan pola pengeluaran tersebut, sebuah analisis yang dilakukan oleh Sjahrir dan Kis–Katos (2011) dapat dijadikan sebuah referensi. Analisis ini menunjukkan bahwa pemerintah daerah telah mengikutsertakan kebutuhan masyarakat dalam mengalokasikan anggarannya. Tingkat ketanggapan daerah terhadap kebutuhan juga lebih baik dan meningkat setelah desentralisasi. Hal ini ditunjukkan oleh hubungan yang negatif dan signifikan dari pengeluaran pembangunan terhadap tingkat atau kondisi pelayanan publik tahun sebelumnya, dimana alokasi belanja pembangunan semakin meningkat dengan semakin rendahnya tingkat pelayanan dasar di daerah tersebut.

.

7

Lebih lanjut Sjahrir dan Kis-Katos (2011) juga menemukan adanya elastisitas positif antara sumber-sumber penerimaan dengan alokasi belanja pembangunan. Kenaikan dalam pendapatan terutama dari sisi DAU dan DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja-belanja pembangunan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Temuan ini pada dasarnya menunjukan bahwa daerah telah melaksanakan ‘allocative efficiency’

dalam pengalokasian belanjanya. Namun demikian, jika dilihat dari pengalokasian dana dan pencapaian pelayanan publik yang beragam dan belum maksimal serta menyeluruh, kemungkinan yang terjadi adalah masih terdapatnya kekurangan dalam hal ‘technical efficiency’. Hal ini disebabkan banyak faktor, termasuk salah satunya adalah kurangnya motivasi daerah untuk meningkatkan pelayanan publik ke tingkat yang lebih baik.

Pada saat yang bersamaan juga ditemukan bahwa tingkat ketanggapan akan berkurang apabila sistem politik berubah dengan pemilihan kepala daerah secara langsung. Hal ini dapat mengindikasikan adanya dominasi kepentingan elit politik dan birokrasi dalam proses pemilihan di daerah yang mempengaruhi tingkat ketanggapan pelayanan dasar di daerah.

8 Hasil dari lapangan pada bagian berikut akan memberikan pemaparan lebih lanjut mengenai situasi dan keadaan yang terjadi di daerah.

6 Selain itu, berdasarkan hasil korelasi antara sumber-sumber penerimaan dan pencapaian layanan publik dapat dilihat bahwa daerah-daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih tinggi mempunyai hasil yang positif dan signifikan terhadap indikator-indikator sosial-ekonomi.

7 Dalam papernya Sjahrir dan Kis-Katos (2011) menggunakan APM SMP sebagai indikator pendidikan, rasio dari klinik kesehatan terhadap 10,000 populasi sebagai indikator kesehatan, dan proporsi dari desa dengan jalan yang diaspal sebagai indikator infrastruktur.

8 Faktor-faktor yang menyebabkan ‘technical efficiency’ perlu diteliti dan dianalisa lebih lanjut dalam analisa yang berbeda.

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik