• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian 3 Analisis Perkembangan Dana Perimbangan dan Pelayanan Dasar

3.2 Perkembangan hasil-hasil pelayanan publik

3.2.2 Kesehatan

Data dalam periode 1999 - 2009 menunjukkan bahwa penduduk yang dilaporkan menderita sakit masih banyak yang belum menggunakan fasilitas kesehatan. Pada tahun 2009, rata-rata persentase orang sakit di kabupaten/kota yang melakukan pengobatan sendiri dilaporkan mencapai 45 persen, menggunakan fasilitas kesehatan 46 persen, dan tidak diobati 9 persen. Apabila dibandingkan dengan tahun 1999, secara rata-rata di tingkat kabupaten/kota terdapat peningkatan penggunaan fasilitas kesehatan walaupun masih relatif kecil. Dalam periode dimaksud secara rata-rata orang sakit yang berobat di dokter klinik meningkat dari 10.7 persen menjadi 13.4 persen; puskesmas meningkat dari 14.2 persen menjadi 15.5 persen; dan praktek tenaga kesehatan meningkat dari 11.1 persen menjadi 12.2 persen.

Gambar 3.16. Penggunaan Layanan Kesehatan di Tingkat Kabupaten/Kota

Sumber: Susenas Kor 1999 dan 2009, diolah.

Terkait dengan fasilitas imunisasi, secara nasional persentase balita yang mendapatkan berbagai jenis imunisasi semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, angka cakupan imunisasi untuk BCG mencapai 91 persen, DPT 89 persen, polio 90 persen, dan campak 77 persen. Data BPS menunjukkan bahwa secara nasional persentase balita yang mendapatkan imunisasi sejak 1996-2009 terus mengalami peningkatan, terutama untuk imunisasi campak.

Gambar 3.17. Tren Nasional Persentase Balita yang Mendapatkan Imunisasi 1996-2009

Persentase balita yang mendapatkan imunisasi campak telah mengalami peningkatan yang signifikan yaitu naik hampir 50 persen apabila dibandingkan dengan tahun 1996.

2,4% 1,5%

Bagian 3 Analisis Perkembangan Dana Perimbangan dan Pelayanan Dasar

20

atas 80 persen, kecuali kabupaten/kota di provinsi Papua. Secara rata-rata, angka persentase balita yang mendapatkan imunisasi di kabupaten/kota di provinsi Papua, baru mencapai 70 persen, bahkan di antaranya masih di bawah 50 persen, yaitu di Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Puncak, Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Mamberamo Raya, dan Kabupaten Boven Digoel. Hal yang paling mencolok adalah Kabupaten Dogiyai, kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Nabire, yang memiliki angka cakupan imunisasi balita sebesar 7 persen. Sedangkan, jika ditinjau pada masing-masing provinsi, masih terdapat kabupaten yang cakupan imunisasinya jauh di bawah rata-rata. Sebagai contoh adalah Kabupaten Bangkalan di provinsi Jawa Timur yang angka cakupan imunisasinya sebesar 72 persen atau jauh dari rata-rata provinsi Jawa Timur yang telah mencapai 96 persen; dan Kabupaten Kupang di Nusa Tenggara Timur yang cakupan imunisasinya baru 74 persen sementara rata-rata provinsinya sudah mencapai 93 persen.

Gambar 3.18. Rata-rata Angka Cakupan Imunisasi Balita per Kabupaten/Kota

Sumber: Susenas Kor 2009, diolah.

Indikator lain yang digunakan untuk sektor kesehatan adalah angka persalinan dengan pertolongan tenaga medis. Sebagaimana disajikan dalam dalam grafik 20, persentase penduduk yang melahirkan menggunakan tenaga kesehatan terlatih telah meningkat dengan tingkat pertumbuhan yang bervariasi antara 8 sampai 90 persen dalam periode 1999 sampai dengan 2009. Bahkan terdapat peningkatan yang cukup signifikan di beberapa daerah seperti Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sampang yaitu dengan persentase sebelumnya masih di bawah 15 persen pada tahun 1999 kemudian naik menjadi di atas 50 persen di tahun 2009.

Jika dilihat berdasarkan tingkat wilayah, persentase persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih masih belum merata. Gambar di bawah ini

menggambarkan tingkat kesenjangan antara kabupaten/kota di masing-masing provinsi. Terlihat bahwa di beberapa daerah, angka persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih masih belum merata terutama di

daerah-0

Gambar 3.19. Perkembangan Persentase Persalinan dengan Tenaga Kesehatan Terlatih

Sumber: Susenas Kor 1999 dan 2009, diolah.

0

Angka persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih, 1999 (Persen)

Angka persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih, 2009 (%)

Bagian 3 Analisis Perkembangan Dana Perimbangan dan Pelayanan Dasar

daerah terpencil/pelosok. Hal ini terjadi karena masyarakat di daerah terpencil masih mengandalkan cara-cara tradisional untuk proses persalinan. Masih sulitnya akses terhadap fasilitas kesehatan modern di daerah, turut mendorong masyarakat di daerah terpencil melakukan persalinan dengan dibantu oleh tenaga kesehatan tradisional (dukun). Secara rata-rata akses terhadap tenaga dukun lebih banyak di daerah terpencil.

Gambar 3.20. Rata-rata Persentase Persalinan dengan Tenaga Kesehatan Terlatih per Kabupaten/Kota

Sumber: Susenas Kor 2009, diolah.

Gambar 3.21. Rata-rata Rasio Dukun Bayi per 10.000 Penduduk di Tingkat Kabupaten/Kota

Sumber: PODES 2008, diolah.

Untuk indikator kesehatan lainnya yaitu akses rumah tangga terhadap air bersih secara rata-rata terus mengalami peningkatan walaupun masih jauh dari target MDG 2015. Susenas mendefinisikan air bersih sebagai air yang layak dikonsumsi seperti air dalam kemasan, air ledeng, air yang berasal dari sumur pompa terlindung, dan mata air yang terlindung yang berjarak lebih dari 10 meter dari tempat penampungan kotoran. Pada tahun 2009, akses

100 2030 4050 6070 8090 100

Rata-rata persalinan dengan tenaga kesehatan terlatih

-5 10 15 20 25 30 35

Dukun bayi per 10.000 penduduk

Bagian 3 Analisis Perkembangan Dana Perimbangan dan Pelayanan Dasar

22

Berdasarkan data pada Gambar 3.22. terlihat bahwa persentase akses rumah tangga terhadap air PAM mengalami penurunan dari tahun ke tahun walaupun relatif kecil. Hal ini dimungkinkan karena rumah tangga lebih banyak menggunakan air dalam kemasan, atau air isi ulang untuk minum sehari-hari.

Sementara itu proporsi akses rumah tangga terhadap sanitasi yang layak secara rata-rata juga mengalami peningkatan. Rumah tangga dengan akses sanitasi yang layak telah meningkat dari 48 persen pada tahun 1996 menjadi hampir 60 persen pada tahun 2009.

Angka ini hampir mendekati target MDGs 2015 yaitu 62.4 persen. Upaya untuk meningkatkan pencapaian target ketersediaan akses air minum dan sanitasi yang layak perlu dilakukan melalui investasi

penyediaan air minum dan sanitasi, terutama untuk melayani jumlah penduduk yang terus meningkat. Selain itu, perlu dilakukan upaya untuk memperjelas peran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam pengelolaan sistem air minum dan sanitasi yang layak.4