• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja

4.2. Analisis kualitatif

4.2.4 Pemanfaatan Dana Perimbangan di daerah

Perencanaan keuangan dan program di daerah secara umum dilakukan melalui mekanisme bottom up dimana setiap dinas menyusun program/kegiatan dan anggarannya. Selanjutnya, usulan program/kegiatan dari masing-masing dinas diselaraskan dalam sebuah forum yang mengakomodasi visi dan misi daerah yang sebelumnya telah tertuang dalam RPJMD. Hasil dari forum ini antara lain adalah tersusunnya program-program yang masuk dalam skala prioritas daerah sekaligus batasan/plafon anggaran untuk SKPD sesuai dengan ketersediaan dana di daerah.

Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Daerah (DPPKAD) merupakan salah satu SKPD yang bertugas untuk mengelola penerimaan dan mengatur pengalokasian belanja daerah secara keseluruhan. Dalam perencanaan APBD, DPPKAD tersebut melakukan pembagian alokasi anggaran kepada setiap SKPD dengan melalui penyampaian pagu indikatif sebagai dasar penganggaran di SKPD. Setelah seluruh usulan diterima dari SKPD maka dilakukan forum pembahasan untuk menentukan pahgu secara definitif. APBD yang ditetapkan merupakan hasil pembahasan yang telah disetujui oleh DPR.

Program-program yang disusun oleh seluruh SKPD tersebut sebagian besar didanai oleh dana yang berasal dari DAU, PAD, dan DBH. Untuk pemanfaatan dana tersebut, sesuai dengan informasi dari beberapa daerah sampel, Pemda cenderung untuk memprioritaskan belanja wajib yaitu belanja pegawai untuk dialokasikan terlebih dahulu.

Setelah belanja pegawai dialokasikan maka sisa dana akan digunakan untuk membiayai program prioritas yang menjadi mandatory spending seperti untuk bidang pendidikan sebesar 20 persen dari APBD dan bidang kesehatan sebesar 10 persen dari APBD.

Untuk mengoptimalkan anggaran maka sebagian besar daerah melakukan strategi pengganggaran yang berbeda.

Mengingat dana transfer ke daerah jenisnya bervariasi maka strategi pengelolaaan setiap jenis dana transfer juga berbeda. Untuk DAU dan DBH yang penggunaannya fleksibel maka pengalokasiannya digabungkan juga dengan PAD dan Pendapatan lainnya. Setiap SKPD mendapatkan alokasi dana sesuai kebutuhan belanja yang prioritas.

Sementara untuk DAK pengalokasiannya dilakukan secara spesifik dimana seluruh alokasi DAK diberikan pada SKPD teknis terkait yang membidangi jenis DAK tersebut. Dengan alokasi DAK maka beberapa SKPD di daerah memiliki

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

1. Belanja Pendidikan 2. Belanja Kesehatan

Belanja Program/

anggaran yang cukup besar. Oleh karena itu di beberapa daerah jika SKPD sudah mendapatkan alokasi DAK yang besar maka dana dari APBD selain DAK dialokasikan lebih kecil.

Mengingat dana transfer seluruhnya ditampung dalam APBD maka SKPD/dinas-dinas teknis terkait tidak mengetahui jenis sumber dana transfer yang digunakan untuk membiayai kegiatannya kecuali DAK, mengingat kegiatan DAK membutuhkan pelaporan yang lebih detail dan masih mendapatkan supervisi dari K/L. Dengan demikian jika PAD sudah cukup untuk mendanai belanja pegawai maka seluruh dana transfer (diasumsikan) dapat digunakan untuk membiayai belanja pelayaan publik di daerah.

Gambar 4.2. Prioritas Pengalokasian Anggaran oleh Daerah

catatan: angka menunjukkan urutan prioritas pengalokasian belanja.

4.2.4.2. Manfaat dan Dampak Dana Transfer ke Daerah

Berdasarkan hasil studi lapangan dapat dikatakan bahwa pemanfaatan dana transfer sangat dipengaruhi oleh: (1) besaran PAD, (2) besaran belanja pegawai, dan (3) besaran belanja wajib (mandatory spending) yang diamanatkan dalam UU. Dengan demikian maka sebenarnya diskresi Pemerintah Daerah dalam mengalokasikan dana sebenarnya masih terbatas. Hal tersebut berpotensi tertundanya atau bahkan tidak dapat dilaksanakannya pelaksanaan program/kegiatan yang telah direncanakan di daerah. Lebih jauh, berdasarkan kondisi di daerah sampel terlihat bahwa daerah yang telah memiliki PAD cukup besar, kualitas dan kuantitas pelayanan publik relatif sudah cukup baik. Sebagai contoh Kota Denpasar dan Kabupaten Belitung yang sudah memiliki PAD relatif besar lebih mampu memberikan pelayanan yang lebih maksimal kepada masyarakat sehingga mampu mencapai peningkatan IPM yang besar jika dibandingkan daerah lainnya. Kedua daerah tersebut memiliki program dan kegiatan yang bersentuhan langsung kepada masyarakat dan terukur target sasarannya. Program layanan seperti pemberian asuransi kesehatan dan batuan pendidikan kepada masyarakat secara langsung memberikan efek pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Dalam kaitannya dengan dana transfer, dapat dikatakan bahwa dana transfer yang besar ternyata tidak menjamin

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

46

belum optimal. Hal ini terlihat dari kondisi yang diperlihatkan oleh Kota Palangkaraya dan Kabupaten Solok yang memiliki alokasi DAU/kapita cukup besar tetapi memiliki PAD yang kecil, masih belum mencapai peningkatan IPM yang lebih baik dari daerah-daerah pembandingnya. Sejalan dengan hal tersebut, dapat diketahui bahwa dampak langsung dari dana transfer ke daerah terhadap peningkatan pelayanan publik di daerah tidak dapat diketahui secara pasti. Tetapi sesuai dengan karakateristiknya, DAK merupakan instrument transfer yang paling mungkin untuk diukur output dan outcome-nya dibandingkan DBH dan DAU. Namun demikian, jika dilihat dari tren peningkatan indikator sosial ekonomi yang ada maka dapat terlihat bahwa dengan adanya DAU dan DBH, Pemda mendapatkan tambahan pendanaan dana yang siginfikan sehingga mampu memenuhi kebutuhan dasarnya dan dapat mengalokasikan pembiayaan untuk pelayanan publik.

Besar kecilnya peningkatan pelayanan publik di daerah tidak dapat ditentukan secara langsung oleh berapa besaran DAU dan DBH yang diberikan kepada daerah tetapi juga ditentukan oleh kinerja belanja di daerah itu sendiri, yang antara lain meliputi: (1)kemampuan Pemda dalam merencanakan program dan kegiatan yang berkualitas, (2)kemampuan mengalokasikan dana secara efisien, dan (3)kemampuan melaksanakan program/kegiatan secara efektif.

4.2.4.3. Kendala Pemanfaatan Dana Transfer ke Daerah

Dalam kenyataannya peran dana transfer ke daerah dalam usaha peningkatan pelayanan publik ternyata di semua daerah tidak sepenuhnya efektif. Beberapa kendala yang terjadi menyebabkan peran dana transfer ke daerah dalam membantu pendanaan pelayanan publik menjadi berkurang. Sesuai dengan informasi yang didapatkan dari beberap daerah sampel maka dapat diketahui kendala-kendala yang dihadapi daerah dalam memanfaatkan dana transfer ke daerah terjadi dalam 3 tahapan pengelolaan keuangan yaitu: (1) Perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)monitoring dan evaluasi.

Dalam tahap perencanaan, beberapa hal yang menjadi kendala dalam memanfaatkan dana transfer ke daerah adalah adanya ketidakpastian besaran alokasi dana dari Pemerintah Pusat pada saat dilaksanakannya perencanaan APBD yang menyebabkan perencanan APBD terhambat dan terkadang terlambat. Hambatan lain yang menyebabkan pemanfaatan dana transfer kurang optimal adalah pengalokasian suatu jenis dana transfer tertentu yang tidak tepat sasaran. Jenis dana transfer tertentu terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan prioritas daerah dan jika dilaksanakan maka hasilnya kurang optimal dan tidak efisien. Sebagai contoh DAK bidang tertentu mungkin masih kurang tepat sasaran tujuan penggunaannya untuk daerah tertentu.

Kendala yang dihadapi daerah dalam tahap pelaksanaan kegiatan cukup bervariasi. Sesuai dengan hasil informasi dari beberapa daerah sampel diketahui bahwa ketidakpastian biaya merupakan kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan. Ketidakpastian biaya menyebabkan daerah tidak berani mengadakan kegiatan pembangunan proyek yang sifatnya multiyear, mengingat sumber pendanaan yang masih terbatas. Selain itu komitmen dari Kepala daerah dan DPRD juga terkadang menjadi penyebab utama dalam pelaksanaan kegiatan. Kendala lain di beberapa daerah adalah keterbatasan waktu pelaksanaaan kegiatan. Hal ini dipicu karena adanya mekanisme lelang/tender yang diatur dalam Perpres Pengadaan Barang dan Jasa yang mengharuskan Pemda melakukan proses pengadaan yang relatif panjang terutama untuk kegiatan yang suplliernya relatif sedikit dan proyeknya kurang diminati. Selain itu untuk pelaksanaan kegiatan DAK, petunjuk teknis yang terlambat diterima daerah menyebabkan tertundanya kegiatan. Juknis DAK tertentu dirasakan juga kurang fleksibel sehingga dalam pelaksanaan kegiatan terkadang menyulitkan daerah karena tidak sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan daerah.

Kendala pelaksanaan kegiatan juga dapat terjadi karena adanya permasalahan dalam pencairan dana transfer ke daerah. Di beberapa daerah keterlambatan penyaluran DBH menyebabkan sisa anggaran di akhir tahun sehingga

Bagian 4 Analisis Empiris Dampak Alokasi Dana Perimbangan dan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan terhadap Kinerja Pelayanan Publik

tidak dapat dioptimalkan untuk kegiatan tahunan anggaran berjalan. Selain itu pencairan DAK terkadang masih terhambat karena syarat pencairannya membutuhkan persyaratan laporan dari SKPD. Untuk beberapa daerah tertentu persyaratan pelaporan dalam pencairan DAK seringkali menimbulkan keterlambatan mengingat tidak seluruh pelaksana kegiatan di daerah memahami mekanisme dan prosedur pelaporan DAK. Formulir pelaporan DAK yang tidak sama dan belum terstandar dari seluruh bidang DAK juga terkadang menjadi kendala bagi Pemda.

Sesuai dengan sistem pengelolaan keuangan negara yang baru yang relatif lebih akuntabel dan transparan, daerah dipacu untuk melakukan transaksi keuangan secara lebih hati-hati. Keharusan pemda untuk menyajikan laporan keuangan yang wajar juga menjadi pemacu SKPD untuk lebih berhati-hati dalam menentukan jenis kegiatan dan belanjanya. Seluruh SKPD cenderung untuk melakukan belanja yang sudah jelas pola pertanggungjawabannya.

Kewajiban SKPD untuk mendapatkan opini pemeriksaan dari BPK menyebabkan pelaksanaan kegiatan cenderung mengedepankan pemenuhan aspek administratif dan menyebabkan aspek substansi dan tujuan kegiatan/program kurang diutamakan.

Secara umum, kendala terbesar dalam tahap monitoring dan evaluasi adalah masalah pendanaan. Kendala lainnya adalah kondisi geografis. Untuk daerah yang memiliki kondisi geografi cukup luas, pelaksanaan monitoring seringkali sulit dilakukan sehingga efektifitas kegiatan tidak dapat dievaluasi secara cepat. Adapun kendala yang dihadapi oleh beberapa daerah yang relatif belum maju adalah keterbatasan SDM sehingga kegiatan monitoring dan evaluasi cenderung tidak optimal. Berdasarkan kondisi tersebut daerah berpendapat bahwa daerah memerlukan asistensi dan kegiatan capacity buliding dalam rangka melakukan evaluasi yang lebih baik agar dapat melakukan pengelolaan keuangan secara lebih baik.

Bagian 5 Kesimpulan

• Secara statistik, pelayanan publik mengalami peningkatan setelah adanya desentralisasi. Adapun indikator-indikator pelayanan publik yang mengalami perbaikan antara lain adalah indikator rata-rata usia bersekolah SD dan SMP, kelahiran dengan tenaga terlatih, cakupan imunisasi pada balita, akses rumah tangga terhadap air bersih, akses rumah tangga terhadap listrik.

• Beberapa daerah terutama daerah-daerah tertinggal di Indonesia timur (Provinsi Papua dan Papua Barat) secara konsisten berada dalam posisi terendah dalam hal pelayanan publik jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, meskipun kedua daerah tersebut memiliki sumber daya fiskal yang cukup. Papua maupun Papua Barat memiliki alokasi dana perimbangan per kapita yang cukup besar, diluar dari dana-dana tambahan lainnya terutama dana-dana otonomi khusus.

• Beberapa daerah di Pulau Jawa, seperti daerah-daerah yang terdapat di Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, secara konsisten memiliki pencapaian pelayanan publik yang lebih baik dengan sumber daya fiskal per kapita yang lebih sedikit dibandingkan daerah lain. Daerah-daerah seperti ini secara mudah memenuhi target dari standar pelayanan minimum nasional.

• Hasil regresi dalam pendekatan level menunjukkan bahwa alokasi dana perimbangan per kapita sebelum dan sesudah desentralisasi mempengaruhi peningkatan kelahiran dengan tenaga terlatih, imunisasi, dan akses rumah tangga terhadap air bersih. Apabila dipilah berdasarkan periode desentralisasi saja, alokasi dana perimbangan per kapita secara umum memberikan efek menurunkan terhadap indikator-indikator tersebut. Meskipun demikian, secara khusus terdapat jenis dana perimbangan yang paling signifikan mempengaruhi perbaikan pelayanan publik di daerah yaitu Dana Alokasi Khusus (DAK). Hal ini terlihat dari perbaikan indikator akses terhadap listrik, akses sanitasi, dan rata-rata lama sekolah meskipun begitu, alokasi DAK juga menyebabkan bertambahnya kesenjangan antar daerah. Untuk, Dana Alokasi Umum sebagai jenis alokasi dana perimbangan yang terbesar tidak memiliki pengaruh dalam hal peningkatan indikator pelayanan publik, bahkan memiliki efek yang negatif terhadap rata-rata lama bersekolah apabila menggunakan DAU tanpa alokasi dasar.

• Hasil regresi dalam pendekatan perubahan (difference) menunjukkan bahwa penambahan alokasi dana perimbangan per kapita setiap tahun sebelum dan sesudah desentralisasi hanya mempengaruhi peningkatan indikator rata-rata lama sekolah sekaligus meningkatkan koefisein gini. Apabila dipilah berdasarkan periode desentralisasi saja, alokasi dana perimbangan per kapita memberikan efek yang menurunkan terhadap indikator rata-rata lama sekolah tersebut tetapi menurunkan angka koefesien gini.

Secara khusus, perubahan alokasi DAK per kapita mempengaruhi peningkatan indikator akses terhadap sanitasi, dan menurunkan koefesien gini, meskipun begitu memiliki efek menurunkan pada PDRB per kapita. Sementara, adanya penambahan alokasi DAU memiliki efek yang negatif terhadap APM SMP dan akses air bersih. Efek negatif ini konsisten terjadi pada akses air bersih dalam perubahan alokasi DAU tanpa alokasi dasar.

• Dana Dekon per kapita dengan pendekatan level, hasil analisis menunjukkan bahwa alokasinya memiliki efek negatif terhadap beberapa indikator yaitu rata-rata lama sekolah dan akses listrik, termasuk peningkatan koefisien gini. Meskipun begitu, alokasi dana Dekon mampu meningkatkan PDRB per kapita

Bagian 3 Analisis Perkembangan Dana Perimbangan dan Pelayanan Dasar

Sementara untuk alokasi dana TP mempunyai efek negatif terhadap kelahiran dengan tenaga terlatih.

Sementara untuk indikator-indikator pelayanan publik lainnya alokasi dana Dekon/TP tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

• Dana Dekon per kapita dengan pendekatan perubahan (difference) berpengaruh terhadap peningkatan kelahiran dengan tenaga terlatih. Hasil ini berkebalikan dengan dana TP. Sementara untuk indikator-indikator pelayanan publik lainnya adanya perubahan alokasi dana Dekon/TP tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

• Berdasarkan butir-butir di atas, alokasi dana perimbangan dan dana dekon/TP ke daerah tidak memiliki efek yang konsisten terhadap peningkatan pelayanan publik, sehingga dapat dikatakan perubahan perbaikan pelayanan publik secara umum masih dipengaruhi faktor-faktor di luar alokasi dana tersebut.

• Terdapat sedikit perbedaan hasil regresi dengan fakta di lapangan (field studi). Kenaikan dalam pendapatan terutama dari sisi DAU dan DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja-belanja pembangunan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Temuan ini pada dasarnya menunjukan bahwa daerah telah melaksanakan ‘allocative efficiency’ dalam pengalokasian belanjanya.

Namun demikian, jika dilihat dari pengalokasian dana dan pencapaian pelayanan publik yang beragam dan belum maksimal serta menyeluruh, kemungkinan yang terjadi adalah masih terdapatnya kekurangan dalam hal ‘technical efficiency’. Hal ini menunjukkan perilaku belanja APBD yang belum efesien.

Daftar Pustaka

50

Bagian 6 Rekomendasi

• Mengingat keberagaman kondisi dan struktur daerah, maka mekanisme ‘one size fits all’ saat ini penting untuk ditinjau kembali. Pengalokasian dana perimbangan hendaknya melihat kondisi dan struktur fiskal di daerah. Pengelompokan daerah mungkin diperlukan untuk melihat daerah-daerah yang sudah memiliki sumber fiskal yang cukup tapi masih membutuhkan peningkatan kapasitas dalam hal efisiensi alokasi belanja, dan daerah-daerah yang sudah memiliki kapasitas dalam efisiensi belanja dan memerlukan dana yang lebih untuk mendorong daerah tersebut ke tingkat pembangunan dan pelayanan publik yang lebih tinggi lagi.

• Perlu upaya peningkatan kualitas belanja daerah dengan meningkatkan belanja modal atau belanja-belanja untuk pelayanan publik, dan merasionalisasikan belanja-belanja pegawai. Rasionalisasi belanja-belanja pegawai tidak hanya memerlukan peran dan keterlibatan pemerintah daerah tetapi juga peran dan kerjasama dari pemerintah pusat khususnya dalam hal penetapan formasi pegawai di daerah. Dengan adanya rasionalisasi dari belanja pegawai diharapkan dapat memberikan pengaruh yang lebih nyata dari DAU terhadap pelayanan publik. Selain itu perlu adanya mekanisme dan pengawasan yang lebih baik dalam hal pemanfaatan sumber pendanaan APBD agar penyerapan dana APBD.

• Dana alokasi khusus sebagai salah satu jenis transfer yang mempunyai pengaruh langsung terhadap peningkatan pelayanan publik perlu ditingkatkan kualitas, kuantitas, dan prosedur pengalokasiannya sesuai kewenangan daerah dan pusat. Pengalokasian dana alokasi khusus hendaknya dikaitkan dengan suatu sistem penghargaan dan sanksi untuk lebih meningkatkan hasil dari pengalokasian DAK tersebut.

Satu unit khusus mungkin perlu dibentuk untuk memonitor pelaksanaan dari DAK untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

• Tingkat kewenangan dan keleluasaan (diskresi) daerah dalam mengelola dan mengalokasikan belanjanya hendaknya dibedakan sesuai dengan pengelompokan dan kapasitas daerah. Beberapa daerah yang telah mempunyai kapasitas lebih baik, mungkin dapat diberikan diskresi yang lebih besar dalam pengalokasian anggarannya, sementara daerah-daerah lain yang masih mempunyai keterbatasan kapasitas mungkin diberikan diskresi yang lebih rendah dalam mengelola keuangannya.

Bagian 6 Rekomendasi

Daftar Pustaka

Brodjonegoro, Bambang. 2004. Three Years of Fiscal Decentralization in Indonesia: Its Impact on Regional Economic and Fiscal Sustainability, Depatrment of Economics, University of Indonesia.

Dillinger, William (1994), “Decentralization and Its Implication for Urban Service Delivery,” Urban Management Program Discussion Paper 16, Washington DC: World Bank, Transportation, Water and Urban Development Department, Urban Development Division.

Martinaz-Vazquez, Joerge. dan Robert, McNab. 1997. Fiscal Decentralization, Economic Growth, and Democratic Governance. USAID Conference on Economic Growth and Democratic Governance. Washington D.C.

Hirawan, Susiyati B. 2007. Desentralisasi Fiskal Sebagai Suatu Upaya Meningkatkan Penyediaan Layanan Publik (Bagi Orang Miskin) di Indonesia. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Bardhan, Pranab. 1997. The Role of Governance in Economic Development, A Political Economy Approach, OECD Development Center. Paris.

Suhendra, Maman. dan Amir, Hidayat. 2006. Fiscal Decentralization in Indonesia: Current Status and Future Challenges. Jurnal Keuangan Publik. Indonesian Ministry of Finance.

Chu, Ke-young, S. Gupta, B. Clements and D. Hewitt, (1995), Unproductive Public Expenditures: A Pragmatic Approach to Policy Analysis, Fiscal Affairs Department, Washington DC: International Monetary Fund.

Bardhan, Pranab and Christopher Udry (1999), Development Microeconomics, Oxford: Oxford University Press.

Galasso, E. And M. Ravallion (2000), “Distributional Outcomes of A Decentralized Welfare Program,” Policy Research Working Paper No. 2316, Washington DC: World Bank.

von Braun, J. And Ulrike Grote, (2002), “Does Decentralization Serve the Poor?” in Ehtisham Ahmad and vito Tanzi (eds.), Managing Fiscal Decentralization, London and New York: Routledge.

Musgrave dan Musgrave. 1989. Public Finance in Theory and Practice. Fifth Edition. McGrawhill.

Badan Pusat Statistik Kementerian Keuangan

Lampiran

1. Growth Incidence Curve (GIC) untuk variabel-variabel sosial-ekonomi

GIC digunakan dalam ekonomi pembangunan untuk mendokumentasikan kelompok-kelompok mana dari individual-individual yang mendapatkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi (Ravaillon, 2005). Awalnya kurva-kurva GIC didesain berdasarkan pendapatan dan konsumsi individu, namun sejalan dengan waktu methodologi tersebut diperluas untuk mengikutsertakan variabel-variabel lain di luar pendapatan (McKay, 2005). Metodologi ini diadopsi terhadap indikator-indikator sosial-ekonomi yang dipakai dalam analisis ini dan menggunakan kabupaten/kota sebagai satuan observasi.

Metodologi ini menentukan pertumbuhan, di antara dua periode waktu, pada masing-masing persentil dari distribusi variabel sosial ekonomi. Untuk melakukan hal tersebut, pertama-tama distribusi dari indikator sosial ekonomi ditentukan untuk masing-masing periode waktu. Kemudian, rata-rata pertumbuhan dari indikator tersebut dihitung untuk masing-masing persentil. Semua segmen dari kurva yang berada diatas nol mengindikasikan peningkatan dari variabel sosial ekonomi dalam segmen distribusi tersebut. Negatif slop mengindikasikan bahwa pertumbuhan dalam kuintil yang bawah lebih besar dari pertumbuhan dari kuintil yang atas. Sementara positif slop mengindikasikan sebaliknya atau dalam kata lain mereka yang berada dalam kelompok-kelompok yang lebih baik tumbuh lebih cepat dan ketidakseimbangan dalam distribusi meningkat.

Penting untuk diketahui bawah untuk setiap tahun terdapat set individual/observasi yang berbeda dari setiap kelompok kuintil, atau dalam kasus ini kabupaten/kota yang berbeda. Meskipun ini merupakan salah satu keunggulan dalam hal tidak diperlukannya satu set panel data (individu yang sama diukur pada dua periode waktu), ini juga berarti bahwa metode ini tidak memungkinkan untuk mengikuti perkembangan/pergerakan dari masing-masing individu yang sama. Fakta bahwa GIC hanya membandingkan distribusi (bukan pergerakan individu) adalah berguna dalam kasus ini dikarenakan jumlah kabupaten/kota yang baru setelah desentralisasi.

Berikut adalah GIC untuk variabel-variabel sosial ekonomi yang digunakan dalam analisis sini. GIC digunakan untuk membandingkan distribusi variabel pada tahun sebelum desentralisasi (1999 atau 2000) dengan tahun setelah desentralisasi (2008 atau 2009). Yang terlihat jelas dalam GIC adalah bentuk dari GIC curve yang berbeda antara masing-masing variabel. Sebagai contoh untuk APM SMP, kurva menunjukan slop yang negative mengidikasikan perbedaan yang semakin mengecil antara yang kelompok dengan partisipasi rendah dan partisipasi tinggi. Contoh lain dari rata-rata lama bersekolah menunjukkan positif slop yang mengindikasikan bawah rata-rata lama bersekolah kabupaten/kota menjadi semakin tidak seimbang.

Lampiran

Tabel 19. Kurva-Kurva GIC untuk Variabel-Variabel Sosial-Ekonomi

2. Matriks Transisi untuk variabel-variabel sosial-ekonomi

Pendekatan lain untuk melihat bagaimana pergerakan dari hasil-hasil pelayanan dasar di Indonesia adalah dengan membuat matriks transisi terhadap variabel-variabel sosial-ekonomi tersebut. Matriks transisi ini telah digunakan, sebagai contohnya oleh Quah (1995) untuk menentukan konvergensi dari tingkat pertumbuhan Negara.

Metodologi ini melengkapi kurva GIC sebelumnya, dengan menggunakan informasi bagaimana pencapaian suatu daerah bergerak dari satu periode waktu ke periode waktu berikutnya.

Langkah awal dari metodologi ini adalah dengan menentukan jumlah dari kategori yang dipakai dan batas atas dari setiap kategori. Salah satu cara adalah dengan menggunakan partisi dari distribusi variabel untuk menentukan

Langkah awal dari metodologi ini adalah dengan menentukan jumlah dari kategori yang dipakai dan batas atas dari setiap kategori. Salah satu cara adalah dengan menggunakan partisi dari distribusi variabel untuk menentukan