• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis dan OLah Statistik

Dalam dokumen PENGARUH PRODUCT DESIGN (Halaman 63-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Analisis dan OLah Statistik

Uji validitas dan uji reabilitas dilakukan untuk menguji item-item pernyataan kuesioner dengan menggunakan SPSS versi 0.20 dengan responden sebanyak 100 orang.

a. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pernyataan pada kuesioner

mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Dari tabel 4.8 menunjukkan bahwa seluruh item pertanyaan memiliki corrected-total correlation (rhitung) >rtabel pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05) dan n = 100. Artinya seluruh item dalam penelitian ini dinyatakan valid karena

lebih besar dari nilai rtabel sebesar 0,196 maka seluruh item dalam pertanyaan kuesioner ini dapat digunakan untuk pengujian selanjutnya.

b. Uji Reliabilitas

Adapun hasil yang telah diolah oleh peneliti adalah sebagai berikut:

Tabel 4.9 Uji Realibilitas

Variabel Cronbach’s Alpha N Of Items

Product Design (X1) 0,727 3

Store Location (X2) 0,790 4

Minat Konsumen (Y) 0,907 6

Brand Image (Z) 0,794 3

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Dari tabel 4.8 menunjukkan bahwa semua variabel dinyatakan reliable karena telah melewati batas koefisien reliabilitas yaitu cronbach alpha semua variabel > 0,60, sehingga untuk selanjutnya setiap item pada masing-masing konsep variabel layak digunakan sebagai alat ukur.

2. Uji Asumis Klasik

Sebelum menggunakan teknik analisis Regresi Linear Berganda untuk uji hipotesis, maka terlebih dahulu dilaksanakan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik dilakukan untuk melihat apakah asumsi-asumsi yang diperlukan dalam analisis regresi linear berganda terpenuhi, uji asumsi klasik dalam penelitian ini menguji normalitas data secara statistik, uji multikolonieritas, dan uji heteroskedastisitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Untuk lebih memastikan apakah data residual terdistribusi secara normal atau tidak, maka uji statistik yang dapat dilakukan yaitu pengujian one sample kolmogorov-smirnov. Uji ini digunakan untuk menghasilkan angka yang lebih detail, apakah suatu persamaan regresi yang akan dipakai lolos normalitas. Suatu persamaan regresi dikatakan lolos normalitas apabila nilai signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05.

Tabel 4.10

Normal Parametersa,b Mean .0000000 Std.

Asymp. Sig. (2-tailed) .708

a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa hasil pengujian normalitas yang dilakukan menunjukkan bahwa data berdistribusi normal. Hal ini ditunjukkan nilai Asymp Sig. (2-tailed) yaitu 0,708 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data terdistribusi normal.

b. Uji Multikolonieritas

Uji multikolonieritas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. Pengujian multikolonieritas dapat dilihat dari Tolerance Value atau Variance Inflation Factor (VIF), sebagai berikut: Jika nilai tolerance > 0,10 dan VIF < 10, maka dapat diartikan bahwa tidak terjadi multikolonieritas pada penelitian tersebut.

Tabel 4.11

Hasil Uji Multikolinearitas Coefficientsa

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1

(Constant) Product

Design .475 2.103

Store

Location .391 2.558 Brand

Image .398 2.513

a. Dependent Variable: Minat Konsumen Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Dari hasil diatas dapat dilihat bahwa nilai Tolerance dari masing-masing variabel ≥ 0,10 atau nilai VIF ≤ 10 maka dapat disimpulkan tidak terjadi multikolinieritas.

c. Uji Heterokedastisitas

Uji Heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Untuk mendeteksi adanya heterokedastisitas dapat dilakukan dengan uji Scatterplot. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas. Berikut tabel hasil uji Scatterplot:

Gambar 4.2 Hasil Uji Scatterplot

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Berdasarkan gambar 4.2 menunjukkan bahwa data tersebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y dan tidak terdapat adanya pola yang jelas pada

penyebaran data tersebut. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi.

d. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model ini terdapat korelasi antara kesalahan pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1.

Model regresi yang baik adalah model regresi yang bebas autokorelasi. Dalam penelitian ini digunakan uji Durbin Watson (DW Test) untuk menguji keberadaan autokorelasi dalam model regresi.

a. Predictors: (Constant), LAG_Z, LAG_X1, LAG_X2 b. Dependent Variable: LAG_Y

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Pada Tabel 4.12 menunjukkan bahwa nilai Durbin-Watson (DW) yang diperoleh sebesar 1,988.

1. Jika DW (1,988) > DU (1,736) maka tidak terdapat autokorelasi positif.

2. Jika 4 – DW (2,012) > DU (1,736) maka tidak terdapat autokorelasi negatif.

Maka dapat disimpulkan, pada analisis regresi tidak terdapat autokorelasi positif dan tidak terdapat autokorelasi negatif sehingga bisa disimpulkan sama sekali tidak terdapat autokorelasi.

E. Hasil Uji Hipotesis

Teknik analisis yang digunakan untuk menguji hipotesis H1 menggunakan analisis regresi berganda dengan meregresikan variabel independen (product design, store location dan brand image) terhadap variabel dependen (Minat Konsumen), sedangkan untuk menguji hipotesis H2 menggunakan analisis moderasi dengan pendekatan uji nilai selisih mutlak. Uji hipotesis ini dibantu dengan menggunakan program SPSS 0.20.

a. Hasil Uji Regresi Linear Berganda dan

Pengujian hipotesis dan dilakukan dengan uji regresi linear berganda pengaruh product design dan store location terhadap Minat Konsumen.

Hasil pengujian tersebut ditampilkan sebagai berikut:

1) Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linear berganda digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh bebas baik persial maupun simultan terhadap variabel terikat. Adapun hasil analisis linear berganda sebagai berikut

Tabel 4.13

Hasil Uji Analisis Regresi Linear Berganda Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

a. Dependent Variable: Minat Konsumen Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Berdasarkan tabel 4.13 diatas maka persamaan regresi linear berganda dapat dirumuskan sebagai berikut:

Minat Beli : -0.570 + 1.080X1 + 0.638X2

a. Nilai konstanta (a) diatas sebesar -0.570 yang artinya apabila seluruh variabel X nilainya 0, maka nilai Y-nya adalah -0.570

b. Koefisien regresi ( ) = 1.080 artinya apabila variabel product design mengalami kenaikan 1% mka Minat Konsumen meningkat sebesar 1.080 c. Koefisien regresi ( ) = 0.638 artinya apabila variabel store location

mengalami kenaikan 1% maka keputusan pembelian meningkat sebesar 0.638.

2) Uji Koefisien Determinasi ( )

Tabel 4.14 Hasil Uji Determinasi

Model Summaryb Mode

l

R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .730a .533 .523 2.859

a. Predictors: (Constant), Store Location, Product Design b. Dependent Variable: Minat Konsumen

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen menjelaskan variabel dependen. Dari tabel 4.14 diketahui bahwa R Square sebesar 0,533 hal ini berarti bahwa 53,3% yang menunjukkan bahwa Minat Konsumen dipengaruhi oleh variabel product design

dan store location. Sisanya sebesar 46,7% dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

3) Uji t (Uji Parsial)

Tabel 4.15 Hasil Uji T (Parsial)

Coefficientsa

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients

a. Dependent Variable: Minat Konsumen Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah pengaruh satu variabel independen secara individual terhadap variabel dependen, dengan kriteria berdasarkan nilai signifikan terhadap variabel independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen dan sebaliknya. Jika nilai signifikan

>0.05 maka variabel independen tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen. Berdasarkan tabel 4.15, dapat dianalisis model estimasi sebagai berikut:

Keputusan Pembelian= -0.570 + 1.080X_1 + 0.638 X_2

Nilai konstanta (a) sebesar -0.570 memiliki arti jika variabel gaya hidup dan kelompok acuan dinyatakan konstan pada angka nol, maka Minat Konsumen sebesar -0.570. Koefisien regresi variabel product design sebesar 1.080. koefisien regresi yang bernilai positif ini memiliki arti jika product design meningkat

sebesar satu satuan, maka Minat Konsumen meningkat sebesar 1.080 satuan dengan asumsi variabel lainnya sama dengan nol. Koefisien regresi variabel store location sebesar 0.638 memiliki arti jika store location meningkat sebesar satu satuan, maka Minat Konsumen meningkat sebesar 0.638 satuan dengan asumsi variabel lainnya sama dengan nol.

a. Product design berpengaruh terhadap Minat Konsumen (H1)

Berdasarkan tabel 4.15 dapat dilihat variabel product design memiliki t hitung sebesar 4,555> t tabel 1,9847 df= n-k, yaitu 100-3=97 t tabel 1,9847 dan tingkat signifikan sebesar 0,000 < 5% (α=0,05). Variabel product design memiliki nilai koefisien regresi yang bernilai positif sebesar 1,080 berarti product design memiliki hubungan positif dengan Minat Konsumen. Hal ini berarti bahwa setiap kenaikan variabel independensi sebesar satu satuan akan menaikan variabel Minat Konsumen sebesar 1,080 satuan. Artinya semakin tinggi nilai product design maka semakin tinggi pula Minat Konsumen. Dengan demikian product design berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen. Maka hipotesis pertama penelitian ini yaitu product design berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen diterima.

b. Store location berpengaruh terhadap Minat Konsumen (H2)

Berdasarkan tabel 4.15 variabel store location memiliki t hitung sebesar 3,861> t tabel 1,9847 dan tingkat signifikan sebesar 0,000 < 5% (α=0,05).

Dengan demikian store location berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen.

Variabel store location memiliki koefisien regresi yang bernilai positif sebesar 0,638 yang berari bahwa setiap kenaikan variabel store location memiliki hubungan positif dengan Minat Konsumen. Artinya semakin tinggi store location

maka semakin tinggi Minat Konsumen. Dengan demikian variabel store location berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen. Maka hipotesis kedua dalam penelitian ini yaitu store location berpengaruh positif terhadap Minat Konsumen diterima.

b. Hasil Uji Regresi Moderasi dengan Pendekatan Nilai Selisih Mutlak Terhadap Hipotesis Penelitian dan

Pembahasan terkait pengujian hipotesis yang melibatkan variabel moderasi dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) Analisis Koefisien Determinasi ( )

Koefisien determinasi ( ) digunakan untuk mengetahui sejauh mana kontribusi variabel independen terhadap variabel dependen dengan adanya regresi linear. Hasil koefisien determinasi dapat dilihat tabel dibawah ini.

Tabel 4.16

Uji Hasil Determinasi Model II Model Summaryb

a. Predictors: (Constant), X2_Z, Zscore: Product Design, X1_Z, Zscore: Brand Image, Zscore: Store Location b. Dependent Variable: Minat Konsumen

Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Berdasarkan tabel 4.16, hasil uji koefisien determinasi, nilai (R Square) dari model regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel bebas (independen) menerangkan variabel terikat (dependen).

Menunjukkan bahwa nilai (R Square) sebesar 0,625 hal ini berarti bahwa

62,5% yang berarti keputusan yang dapat dijelaskan oleh variabel X2_Z, Zscore (store location), X1_Z, Zscore (product design), sisanya sebesar 37,5%

dipengaruhi oleh variabel lain yang belum diteliti dalam penelitian ini.

2) Uji Selisih Mutlak

a. Dependent Variable: Minat Konsumen Sumber: Output SPSS 0.20 (2020)

Berdasarkan tabel 4.17 dapat dianalisis model estimasi sebagai berikut:

Minat Beli = 22.079+ -1.639 X1_Z + 1.534 X2_Z

Nilai konstanta (a) sebesar 22.079 memiliki arti jika nilai variabel product design, store location dan nilai konstan pada angka nol, maka nilai Minat Konsumen adalah 22.079. Koefisien regresi yang bernilai positif ini memiliki arti jika product design dengan store location meningkat satu satuan, maka Minat Konsumen meningkat sebesar -1.639 satuan. Nilai koefisien moderat antara variabel product design dengan pendapatan sebesar -1.639 hal ini menunjukkan jika product design dengan pendapatan meningkat satu satuan, Minat Konsumen

maka meningkat -1.639 satuan. Nilai koefisien moderat antara variabel store location dengan pendapatan 1.534 hal ini menunjukkan bahwa setiap store location dengan pendapatan meningkat satu satuan maka Minat Konsumen meningkat sebesar 1.534 satuan.

a. Pendapatan memoderasi hubungan product design terhadap Minat Konsumen

Tabel 4.17 menunjukkan hasil uji nilai selisih mutlak variabel moderating X1_Z memiliki t hitung -3.270> t tabel 1,9855 df= n-k yaitu 100-3 = 97 t tabel sebesar 1,9855 dan mempunyai tingkat signifikan 0,002 < 5% (α=0,05). Hal ini berarti bahwa brand image merupakan variabel moderasi yang memperkuat atau memperlemah hubungan variabel product design terhadap Minat Konsumen. Jadi hipotesis yang menyatakan pendapatan memoderasi product design terhadap Minat Konsumen diterima.

b. Pendapatan memoderasi hubungan store location terhadap Minat Konsumen (

Tabel 4.17 menunjukkan hasil uji nilai selisih mutlak variabel moderating X2_Z mempunyai t hitung 2.199 > t tabel 1,9855 dan tingkat signifikan sebesar 0,030 > 5% (α=0,05). Hal ini berarti bahwa variabel brand image merupakan variabel moderasi yang memperkuat hubungan variabel store location terhadap Minat Konsumen. Jadi hipotesis kedua yang menyatakan pendapatan memoderasi store location terhadap Minat Konsumen diterima.

F. Pembahasan Penelitian

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, maka akan dilakukan pembahasan mengenai hasil analisis tersebut sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas bagaimana pengaruh yang terjadi antar variabel dalam peelitian. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah Product Design dan Store Location sebagai variabel independen, Minat Konsumen sebagai variabel dependen, dan Brand Image sebagai variabel moderating.

1. Product Design (X1) Berpengaruh Terhadap Minat Konsumen (Y) Dari hasil perhitungan uji hipotesis tersebut dapat dilihat dari nilai signifikan variabel product design lebih kecil dari 0,05. Variabel product design memiliki nilai koefisien regresi yang bernilai positif menunjukkan bahwa product design mempunyai arah hubungan positif terhadap Minat Konsumen. Artinya apabila product design semakin tinggi maka semakin meningkat Minat Konsumen. Hasil tersebut menunjukkan bahwa product design memberikan pengaruh positif terhadap Minat Konsumen.

Berdasarkan deskripsi item pernyataan variabel product design, item pernyataan yang mengatakan bahwa minuman chatime memiliki rasa yang khas dari minuman kekinian lainnya dengan skor yang paling tinggi terdiri dari 77 orang yang mengatakan setuju, 17 orang yang mengatakan kurang setuju, 13 orang yang mengatakan sangat setuju, 3 orang yang menyatakan sangat tidak setuju, dan 2 orang yang mengatakan tidak setuju. Artinya, seseorang sangat senang dengan berbagai pilihan rasa maupun desain yang ditawarkan sehingga konsumen merasa puas akan produk tersebut.

Berdasarkan hasil uji crosstabulation penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok responden, yaitu hasil nilai mean laki-laki dan nilai mean perempuan. Pada hasil uji kelompok laki-laki nilai mean yang diperoleh yaitu 3.86 sedangkan kelompok perempuan memiliki nilai sebesar 3.97, dari data tersebut karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (gender) didominasikan oleh kelompok perempuan. Hal ini menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang jauh antara responden laki-laki maupun reponden perempuan dalam mempersepsikan pengaruh nilai atau manfaat yang mereka rasakan terhadap product design minuman Chatime di kota Makassar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Achidah Nur et.all pada tahun 2016, memperoleh hasil bahwa semua variabel independen (promosi, harga dan desain) mempunyai pengaruh positif terhadap variabel dependen.

Dalam penelitian ini sejalan dengan teori yang digunakan yakni teori pengambilan keputusan pembelian konsumen, ketika pemasar telah mengetahui karakteristik konsumennya yaitu dari kelompok mana, dari kelas sosial apa, dari budaya mana, dan mempunyai gaya hidup seperti apa maka pada saat itu pemasar dapat merancang/menyusun strategi pemasaran dimulai dari apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen, berapa harga yang ditentukan, bagaimana mengomunikasikan produk kepada konsumen dan bagaimana menyampaikan produk tersebut kepada konsumen.

Menurut Kotler (2005) perusahaan dalam memenangkan persaingan harus menampilkan produk terbaik dan dapat memenuhi selera konsumen yang selalu

berkembang dan berubah-ubah. Maka dari itu, sangat penting bagi perusahaan untuk mengetahui perilaku konsumen yang selalu berkembang dengan cara memahami perilaku konsumen tersebut karena hal ini akan menentukan keputusan pembelian dan memunculkan Minat Konsumen (loyalitas).

Desain produk salah satu faktor utama yang menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih suatu produk karena desain dari suatu produk akan mempengaruhi penampilan, seperti yang dikemukakan oleh Kotler bahwa desain merupakan totalitas keistimewaan yang mempengaruhi penampilan dan fungsi suatu produk dari segi kebutuhan konsumen (Kotler, 2005 : 332).

Nilai yang terkandung dalam desain produk menghasilkan suatu tampilan produk yang menjadi ciri khas tersendiri dan pembeda dari banyaknya produk pesaing serta dapat menarik keputusan pembelian konsumen. Dengan semakin ketatnya persaingan dibidang industri, perusahaan harus terus mengembangkan inovasinya terhadap produk terutama dalam hal desain, agar dapat menghasilkan produk yang baik dan sesuai keinginan konsumen. Secara umum desain harus memiliki bentuk atau model yang unik, kualitas yang baik, dan tentunya sesuai dengan psikologi manusia, maka suatu desain perlu memperhatikan kualitas kenyamanan, kepraktisan, dan kemudahan dalam pemeliharaan.

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arinda oktavian (2019) bahwa faktor lingkungan, faktor desain dan faktor sosial berpengaruh secara parsial dan signifikan terhadap Minat Konsumen dalam membeli minuman dan makanan di pit-stop kopi. Dengan demikian penelitian ini

sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan Product Design berpengaruh terhadap minat beli pada minuman kekinian di kota Makassar.

2. Store Location (X2) Berpengaruh Terhadap Minat Konsumen (Y) Berdasarkan hasil output SPSS, diperoleh nilai signifikan variabel store locasion yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan sebesar 0,05.

Hal ini berarti terdapat pengaruh signifikan antara variabel store location dengan variabel Minat Konsumen sehingga hipotesis dalam penelitian ini diterima karena didukung oleh data penelitian dan menunjukkan bahwa store location mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap Minat Konsumen. Dari hasil penelitian ini juga, diperoleh hasil koefisien regresi variabel store location sebesar 0,638.

Kofisien regresi store location bertanda positif sehingga menandakan bahwa semakin tinggi store location maka akan meningkatkan Minat Konsumen.

Berdasarkan hasil uji crosstabulation penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok responden, yaitu hasil nilai mean laki-laki dan nilai mean perempuan. Pada hasil uji kelompok laki-laki nilai mean yang diperoleh yaitu 3.73 sedangkan kelompok perempuan memiliki nilai sebesar 3.93, dari data tersebut karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (gender) didominasikan oleh kelompok perempuan. Hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang jauh antara responden laki-laki maupun reponden perempuan dalam mempersepsikan pengaruh nilai atau manfaat yang mereka rasakan terhadap store location minuman Chatime di kota Makassar.

Hal ini didukung oleh tanggapan responden terhadap pernyataan yang peneliti nyatakan dalam bentuk kuesioner, dimana pada pernyataan tersebut yang

paling dominan menjawab setuju ada pada pernyataan ke tiga dengan jumlah reponden sebesar 65, hal ini menandakan bahwa konsumen di kota Makassar senang menikmati minuman chatime karena bernuangsa modern berbeda dengan minuman yang sebelumnya hadir dikalangan masyarakat (unik). Selain itu, lokasi yang ditargetkan menjadi tempat yang strategis karena berada di pusat kota dan ditempat yang ramai.

Menurut Nugroho dan Paramito (2009), suatu lokasi disebut strategis bila berada dipusat kota, kepadatan populasi, kemudahan mencapainya menyangkut kemudahan transportasi umum, kelancaran lalu lintas dan arahnya tidak membingungkan konsumen. Lokasi yang strategis membuat konsumen lebih mudah dalam menjangkau.

Dalam penelitian ini sejalan dengan teori yang digunakan yakni teori pengambilan keputusan pembelian konsumen, ketika pemasar telah mengetahui karakteristik konsumennya yaitu dari kelompok mana, dari kelas sosial apa, dari budaya mana, dan mempunyai gaya hidup seperti apa maka pada saat itu pemasar dapat merancang/menyusun strategi pemasaran dimulai dari apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen, berapa harga yang ditentukan, penentuan lokasi yang ditetapkan, bagaimana mengomunikasikan produk kepada konsumen dan bagaimana menyampaikan produk tersebut kepada konsumen.

Lokasi merupakan tempat melayani konsumen, dapat pula diartikan sebagai tempat untuk memajangkan barang - barang dagangannya. Definisi lokasi adalah tempat perusahaan beroperasi atau tempat perusahaan melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang mementingkan segi ekonominya. Jika

perusahaan berhasil memperoleh dan mempertahankan lokasi yang strategis, maka itu dapat menjadi rintangan yang efektif bagi para pesaing untuk mendapatkan akses ke pasar.

Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Stefanus mahesa martawandana (2017) bahwa store location dan store atmosphere berpengaruh postif terhadap keputusan investasi.. Selain itu juga didukung oleh penelitian Muhammad nurhadi alfath (2018), yang mengungkapkan bahwa Store location memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian konsumen. Dengan demikian penelitian ini sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan Store Location berpengaruh terhadap minat beli pada minuman kekinian di kota Makassar.

3. Brand Image (Z) Dalam Memoderasi Pengaruh Product Design (X1) terhadap Minat Konsumen (Y)

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini pendapatan memoderasi pengaruh product design terhadap Minat Konsumen. Pembuktian hipotesis ini tersebut dapat dilihat dari nilai signifikansi variabel X1_Z product design yang lebih kecil dari 0,05 dan kofisien regresi (B) bernilai negatif artinya pendapatan variabel moderasi yang cukup memperkuat hubungan product design terhadap Minat Konsumen. Hal ini bahwa hipotesis ke 3 mengatakan brand image dalam memoderasi hubungan product design terhadap Minat Konsumen terbukti berpengaruh namun memiliki nilai negatif sehingga pada hipotesis ini atau diterima. Semakin tinggi pendapatan artinya semakin tinggi tingkat gaya hidup dan keputusan pembelian konsumen juga akan semakin meningkat.

Berdasarkan hasil uji crosstabulation penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok responden, yaitu hasil nilai mean laki-laki dan nilai mean perempuan. Pada hasil uji kelompok laki-laki nilai mean yang diperoleh yaitu 3.75 sedangkan kelompok perempuan memiliki nilai sebesar 4,01 dari data tersebut karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin (gender) didominasikan oleh kelompok perempuan. Hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang jauh antara responden laki-laki maupun reponden perempuan dalam mempersepsikan pengaruh nilai atau manfaat yang mereka rasakan terhadap product design dalam memoderasi brand image.

Hal ini dilihat dari karakteristik responden berdasarkan tingkatan umur pada tabel 4.2, di lihat bahwa responden yang mengkonsumsi minuman chatime di kota Makassar berkisar umur 21 – 30 tahun sebanyak 85 orang dan di umur 17 – 20 tahun sebanyak 14 orang. Artinya konsumen yang mengkonsumsi minuman chamite pada umur 21 – 30 tahun menjadi proporsi pada tingkatan ini, konsumen merasa pusa akan desain kemasan pada produknya sehingga Chatime dianggap merek minuman yang terkenal. Namun pada penelitian ini, nilai pada pengujian moderating menghasilkan nilai yang negatif tetapi memiliki nilai pengaruh langsung terhadap Minat Konsumen konsumen pada chamite di kota Makassar.

Deskriptif data penelitian menunjukan bahwa item pernyataan ketiga pada variabel design product dan brand image memiliki nilai mean paling rendah.

variabel design product dengan jawaban sebanyak 17 responden kurang setuju

variabel design product dengan jawaban sebanyak 17 responden kurang setuju

Dalam dokumen PENGARUH PRODUCT DESIGN (Halaman 63-0)

Dokumen terkait