URAIAN TEORITIS
4.4. Analisis Dan Pembahasan
4.4.1. Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Serdang Bedagai
Indeks Pengetahuan
Pembangunan kualitas sumberdaya manusia diarahkan pada upaya pembangunan di bidang pendidikan. Sejak awal tahun 90-an pemerintah telah mencanangkan program Wajib Belajar 6 tahun yang diharapkan dapat meningkatkan partisipasi anak, khususnya anak usia sekolah. Hal ini sesuai dengan salah satu amanat yang diemban pemerintah sesuai dengan UUD 1945 yaitu upaya untuk mencerdaskan bangsa, sehingga telah banyak upaya pemerintah dalam melaksanakan amanat ini, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah termasuk pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai.
Salah satu indikator pendidikan yang digunakan untuk menghitung IPM adalah angka melek huruf yang menunjukkan persentase penduduk 15 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis baik huruf latin maupun huruf lainnya.
Angka melek huruf di Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2009 sebesar 97,44 persen. Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lain yang ada di Sumatera Utara, angka melek huruf di Kabupaten Serdang Bedagai berada pada peringkat 21. Hal ini berarti masih terdapat sekitar 3 persen penduduk 15 tahun keatas di Kabupaten Serdang Bedagai yang buta huruf. Angka melek huruf pada tahun 2009 sedikit mengalami kenaikan jika dibanding tahun 2008 (97,39 menjadi 97,44). Salah satu faktor yang menyebabkan kenaikan ini adalah mulai dibangunnya sarana pendidikan, adanya program-program kerja dalam bidang pendidikan dan fasilitas pendidikan yang lebih baik. Misalnya, bahwa tiap-tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai telah memiliki sekolah dari SD sampai SMA negeri yang sebelum pemekaran belum ada. Selain itu terdapat program kerja pendidikan baru dari
pemerintah daerah seperti PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), yang menambahi program kerja pemerintah pusat yaitu Bantuan Operasional Sekolah.
Indikator pendidikan selain melek huruf yang digunakan untuk menghitung Indeks Pembangunan Manusia adalah rata-rata lama sekolah. Secara umum indikator ini menunjukkan jenjang pendidikan yang telah dicapai oleh penduduk dewasa.
Pada tahun 2009, rata-rata lama sekolah penduduk dewasa di Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 8,63 tahun. Berarti secara umum penduduk berusia 15 tahun keatas di Kabupaten Serdang Bedagai duduk di kelas 2 SLTP. Pencapaian ini menempatkan Kabupaten Serdang Bedagai berada pada posisi ke 17 dari 33 kabupaten/kota di Sumatera Utara.
Indeks Kelangsungan Hidup
Kualitas Sumber Daya Manusia secara keseluruhan dapat dipandang dari aspek fisik dan nonfisik yang saling berkaitan. Kualitas fisik penduduk dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk. Salah satu indikator utama dalam mengukur derajat kesehatan penduduk secara makro adalah angka harapan hidup waktu lahir. Angka harapan hidup ini memperlihatkan keadaan dan sistem pelayanan kesehatan yang ada dalam suatu masyarakat, karena dapat dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari hasil upaya peningkatan taraf kesehatan secara makro. Kebijakan peningkatan kesehatan antara lain bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat dalam membiasakan diri untuk hidup sehat, dan diharapkan dapat meningkatkan angka harapan hidup penduduk. Semakin tinggi angka harapan hidup menunjukkan bahwa derajat kesehatan secara makro semakin baik.
Angka Harapan Hidup di Kabupaten Serdang Bedagai dari tahun ke tahun semakin meningkat. Berdasarkan data statistik, pada tahun 2009 angka harapan hidup penduduk Kabupaten Serdang Bedagai sebesar 68,89 tahun yang berarti penduduk Kabupaten Serdang Bedagai yang baru lahir pada tahun 2009 mempunyai harapan yang besar untuk mencapai umur 68,89 tahun. Angka harapan hidup tersebut meningkat dari 68,79 tahun pada tahun 2008. Hal ini menempatkan Kabupaten Serdang Bedagai berada pada urutan ke 22 dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.
Indeks Daya Beli
Indeks daya beli digunakan untuk mengukur standar hidup layak. Indikator ini dipengaruhi pengetahuan yang dimiliki serta peluang yang ada untuk merealisasikan pengetahuan dalam memproduksi berbagai barang dan jasa sebagai pendapatan, sehingga dengan pendapatan yang ada manusia dapat menciptakan daya beli untuk memenuhi berbagai kebutuhannya.
Dalam penghitungan Indeks Daya Beli digunakan pendekatan pengeluaran perkapita. Pengeluaran riil perkapita yang disesuaikan atau daya beli Kabupaten Serdang Bedagai terus mengalami peningkatan dari 618,04 ribu pada tahun 2007, naik menjadi 622,90 ribu pada tahun 2008 dan pada tahun 2009 naik menjadi 626,30 ribu. Hal ini menempatkan Kabupaten Serdang Bedagai berada pada urutan ke 18 dari seluruh kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.
Pengeluaran rata-rata perkapita sebulan penduduk Kabupaten Serdang Bedagai, dimana selama periode pada tahun 2009 yang terbesar, yaitu sebesar lebih dari Rp 500.000 sebanyak 32,70 persen yang meningkat dari tahun 2008 yaitu 31,90 persen. Rp 300.000 - Rp 399.999 sebanyak 24,29 persen. Kemudian sebesar Rp
400.000 - Rp 499.999 sebanyak 23,48 persen, Rp 200.000 – Rp 299.000 sebesar 16,88 persen, dan sebesar 2,45 persen golongan pengeluaran rumah tangga perkapita di bawah Rp 200.000.
Golongan pengeluaran rata-rata perkapita tersebut banyak dihabiskan untuk konsumsi makanan dengan rata-rata sebesar 62,29 persen dan bukan makanan sebesar 37,71 persen. Persentase pengeluaran untuk makanan masih jauh lebih besar daripada pengeluaran bukan makanan, yang berarti pula tingkat kesejahteraan masyaraat di daerah ini masih belum merata. Sebagaimana halnya dengan indikator pendidikan, indikator ini juga menempati peringkat ke 15 diantara kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara.
Tabel 4.15
Rata-rata Pengeluaran/Kapita/Bulan dan Persentase Rata-rata Pengeluaran/Kapita Menurut Jenis di Kabupaten Serdang Bedagai
2009
Uraian Persentase Jumlah
(Rp) Makanan Bukan Makanan
(Rp) (Rp) Pengeluaran/kapita/bulan % Pengeluaran/kapita/bulan 273.144 62,29 165.383 37,71 438.527 100,00
Sumber : Susenas 2009 Kabupaten Serdang Bedagai, 2010
4.4.2. Hasil Analisis Data
Hasil pengamatan yang dilakukan Penulis dengan jumlah responden sebanyak 51 orang responden laki-laki dan 49 orang responden perempuan. Dalam hal ini, jenjang pendidikan juga berbeda sesuai karakteristik pekerjaannya yang bervariasi yaitu pegawai negeri sipil, petani, ibu rumah tangga, wiraswasta, dan pelajar serta pekerjaan lainnya. Melalui hasil kuisioner yang telah disebar, dilakukan perhitungan
responden. Sehingga, dapat dilihat peningkatan setelah pemekaran wilayah pada tingkat kesejahteraan masyarakat melalui indikator pendidikan, kesehatan, dan pengeluaran perkapita.
Hasil Analisis
Dari 100 orang responden dapat diketahui bahwa tingkat pendidikan mengalami peningkatan sebesar 6 poin diatas rata-rata setelah adanya pemekaran wilayah, demikian juga dengan tingkat kesehatan yang mengalami peningkatan sebesar 6 poin diatas rata-rata dan pengeluaran perkapita mengalami peningkatan sebesar 6 poin. Oleh karena itu dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan pada tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur melalui indikator-indikator pendidikan, kesehatan dan pengeluaran perkapita masyarakat atau dengan kata lain mengalami peningkatan setelah adanya pemekaran wilayah.
Melalui standar deviasi dapat dilihat dampak pemekaran wilayah Kabupaten Serdang Bedagai lebih berpengaruh pada sektor pendidikan, kemudian sektor pengeluaran perkapita masyarakat, dan terakhir tingkat kesehatan.
Tabel 4.16 Paired Sample Test
Paired Differences t df sig (2- tailed) 95% Confidence Interval of the Difference Mean Std. Deviation Std.
Error Mean Lower Upper
Pair 1 Pendidikan - Pendidikan_Sesudah -2.84000 2.32995 .23300 -3.30231 -2.37769 12.189 99 .000 Pair 2 Kesehatan - Kesehatan_Sesudah -4.22000 1.98265 .19827 -4.61340 -3.82660 21.285 99 .000 Pair 3 Pengeluaran/Kapita - Pengeluran_Sesudah -4.68000 2.06403 .20640 -5.08955 -4.27045 22.674 99 .000
1. Indikator Pendidikan