URAIAN TEORITIS
2.2. Pembangunan Ekonomi Daerah
Suatu daerah adalah suatu ekonomi ruang yang berada dibawah satu administrasi tertentu seperti satu propinsi, kabupaten, kecamatan, dan sebagainya. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses, yaitu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-industri alternatif, perbaikan kapasitas tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu pengetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru. Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah daerah dan masyarakatnya harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi sumberdaya-sumberdaya-sumberdaya-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerah (Lincolin Arsyad, 2005).
Pembangunan ekonomi daerah juga didefenisikan sebagai semua kegiatan pembangunan baik yang termasuk urusan rumah tangga daerah maupun yang tidak termasuk, yang meliputi berbagai sumber dari pemerintah (APBD dan APBN) maupun yang bersumber dari masyarakat. Dalam hal ini kegiatan pembangunan daerah yang dibiayai oleh pemerintah pusat merupakan pelaksanaan asas dekonsentrasi, sedangkan pembangunan daerah yang dibiayai oleh pemerintah daerah propinsi, pemerintah daerah
kabupaten, dan pemerintah desa merupakan pelaksanaan asas desentralisasi dan tugas pembantuan (medebewind) (www.geocities.com).
Proses pembangunan daerah pada dasarnya bukanlah sekedar fenomena ekonomi semata. Pembangunan tidak sekedar ditujukan oleh prestasi pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara, namun yang lebih luas dari itu pembangunan memiliki perspektif yang luas, terutama perubahan sosial. Dimensi sosial yang sering terabaikan dalam pendekatan pertumbuhan ekonomi, justru mendapat tempat strategis bagi proses pembangunan. Dalam proses pembangunan selain mempertimbangkan pertumbuhan dan pemerataan, juga dampak aktivitas ekonomi terhadap kehidupan sosial masyarakat. Lebih dari itu, dalam proses pembangunan dilakukan upaya yang bertujuan untuk mengubah struktur perekonomian kearah yang lebih baik (Kuncoro, 2003 dalam Safi’i 2007).
Perkembangan akhir-akhir ini, menunjukkan munculnya pemihakan baru terhadap peningkatan peran serta pemerintah regional dalam perumusan kebijakan pembangunan di daerahnya. Dalam konteks ini, kelompok pertama lebih menekankan kepada aspek efisiensi, sementara kelompok kedua selain aspek efisiensi juga aspek distribusi menjadi pertimbangan lain. Tumbuhnya pemikiran kedua ini, ditandai dengan perkembangan yang meyakinkan dalam konsepsi ekonomi regional, serta berkembangnya pemikiran baru mengenai integrasi kebijakan ekonomi dengan politik, dalam mengakomodasi perkembangan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat terhadap pelayanan, kemandirian, serta partisipasi pembangunan. Dengan demikian, kajian mengenai desentralisasi dan otonomi daerah, tidak lagi hanya menjadi konsepsi politik, tetapi juga kajian ekonomi (Sobandi, 2004).
Pembangunan regional pada hakikatnya diadakan berdasarkan pada pemikiran bahwa wilayah secara keseluruhan adalah suatu kesatuan yang utuh dan menyeluruh yang secara integral merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem nasional.
Pembangunan yang dilakukan di wilayah-wilayah pada dasarnya adalah juga pembangunan nasional. Atas dasar pemikiran itu, muncul pendekatan pembangunan atas dasar sektor-sektor kegiatan tanpa memperhatikan lokasinya. Namun, dalam perkembangannya pendekatan tersebut dirasakan kurang lengkap, karena kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua wilayah yang memiliki kondisi dan potensi yang sama, sehingga muncul permasalahan kesenjangan dan inefisiensi dalam pembangunan.
Masih dalam tataran konsep pembangunan nasional, muncul pendekatan yang lebih memperhatikan kondisi dan potensi setiap wilayah dalam suatu negara tertentu, yaitu pendekatan pembangunan regional, yang selanjutnya terus berkembang dan menjadi perhatian baik di kalangan praktisi maupun kalangan akademisi. Dalam perkembangannya, menuntut kualitas dan kuantitas pelayanan publik dari pemerintah serta tuntutan kemandirian dan partisipasi pembangunan bagi masyarakat secara luas. Dewasa ini, masalah kebijakan pembangunan regional, tidak lagi hanya dikaitkan dengan masalah efisiensi dan pemerataan saja, melainkan pula dikaitkan dengan masalah pelayanan kepada masyarakat dan perkembangan aspirasi masyarakat tersebut.
Kebijakan pembangunan, unit pemerintahan pada tingkat manapun yang mengimplementasikannya, secara ekonomis ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu indikator terjadinya peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah meningkatnya pendapatan perkapita, distribusi pendapatan masyarakat, dan peran pemerintah. Kemudian, peningkatan pendapatan perkapita ini bisa dicapai bila terjadi pertumbuhan dalam bidang ekonomi.
Menurut Mudrajad Kuncoro (2004), ada 4 (empat) peran yang dapat diambil oleh pemerintah daerah dalam proses pembangunan ekonomi daerah yaitu sebagai berikut: 1. Entrepreneur
Pemerintah daerah bertanggung jawab untuk menjalankan suatu usaha bisnis, pemerintah daerah bisa mengembangkan suatu usaha sendiri (BUMD). Aset-aset pemerintah daerah harus dapat dikelola dengan lebih baik sehingga lebih menguntungkan.
2. Koordinator
Pemerintah daerah dapat bertindak sebagai koordinator untuk menetapkan kebijakan atau mengusulkan strategi-strategi bagi pembangunan di daerahnya. Perluasan dari peranan ini dalam pembangunan ekonomi bisa melibatkan kelompok-kelompok masyarakat dalam proses pengumpulan dan pengevaluasian informasi ekonomi, misalnya tingkat kesempatan kerja, angkatan kerja, pengangguran dan sebagainya. Dalam perannya sebagai koordinator, pemerintah daerah bisa juga melibatkan lembaga-lembaga pemerintah lainnya, dunia usaha, dan masyarakat dalam penyusunan sasaran-sasaran ekonomi, rencana-rencana, dan strategi-strategi. Pendekatan ini sangat potensial dalam menjaga konsistensi pembangunan daerah dengan nasional (pusat) dan menjamin bahwa perekonomian daerah akan mendapatkan manfaat yang maksimum.
3. Fasilitator
Pemerintah daerah dapat mempercepat pembangunan melalui perbaikan lingkungan
attitudinal (perilaku) atau budaya masyarakat di daerahnya. Hali ini akan
mempercepat proses pembangunan dan prosedur perencanaan serta pengaturan penetapan daerah yang lebih baik.
4. Stimulator
Pemerintah daerah dapat mestimulasi penciptaan dan pengembangan usaha melalui tindakan-tindakan khusus yang akan mempengaruhi perusahaan-perusahaan untuk
masuk ke daerah tersebut dan menjaga agar perusahaan yang telah ada tetap berada di daerah tersebut.
Salah satu faktor utama yang mengakibatkan daerah tidak berkembang adalah tidak diberikannya kesempatan yang memadai bagi daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri. Hal ini didorong oleh kuatnya sentralisasi kekuasaan di bidang politik dan ekonomi. Dalam rangka mendorong pembangunan daerah telah mulai dikembangkan otonomi daerah secara luas, nyata, dan bertanggung jawab, serta peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat. Arah kebijakan pembangunan daerah sesuai dengan GBHN 1999-2004 secara garis besar adalah mengembangkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggungjawab; melakukan pengkajian atas kebijakan tentang berlakunya otonomi daerah bagi propinsi, kabupaten/kota dan desa; mewujudkan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah secara adil dengan mengutamakan kepentingan daerah yang lebih luas melalui desentralisasi perizinan dan investasi serta pengelolaan sumberdaya; serta memberdayakan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam rangka melaksanakan fungsi dan perannya guna penyelenggaraan otonomi daerah yang luas, nyata, dan bertanggung jawab (Propenas 2000-2004).
2.3. Otonomi Daerah dan Pemekaran Wilayah 2.3.1. Konsep dasar otonomi daerah
Pengertian otonomi menyangkut 2 hal pokok yaitu kewenangan untuk membuat hukum sendiri (own laws) dan kebebasan untuk mengatur pemerintahan sendiri (self
government). Berdasarkan pengertian tersebut, maka otonomi daerah pada hakekatnya
adalah hak atau wewenang untuk mengurus rumah tangga sendiri bagi suatu daerah otonom. Hak atau wewenang tersebut meliputi pengaturan pemerintahan dan pengelolaan pembangunan yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada pemerintah daerah (Sjafrizal, 2008).
Kebijakan otonomi daerah berakar dari konsep tentang Desentralisasi, yakni pelimpahan sebagian wewenang yang dimiliki pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Konsep desentralisasi sendiri merupakan kebalikan dari sistem sentralisasi dimana seluruh kewenangan dikuasai oleh pemerintah pusat (Safi’i, 2007).
Kaho (2005) menyatakan bahwa desentralisasi adalah suatu sistem dimana bagian dari tugas-tugas negara diserahkan penyelenggaraannya kepada organ atau institusi yang mandiri. Institusi ini berkewajiban untuk melaksanakan wewenang sesuai dengan kehendak dan inisiatif programnya sendiri.
Menurut Hidayat Syarief (Sjafrizal, 2008) pada dasarnya ada 3 alasan pokok mengapa diperlukan otonomi daerah tersebut. Pertama adalah Political Equality, yaitu guna meningkatkan partisipasi politik masyarakat pada tingkat daerah. Hal ini penting artinya untuk meningkatkan demokratisasi dalam pengelolaan negara. Kedua adalah
Local Accountability yaitu meningkatkan kemampuan dan tanggung jawab pemerintah
daerah dalam mewujudkan hak dan aspirasi masyarakat didaerah. Hal ini sangat penting artinya dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan sosial di masing-masing daerah. Ketiga adalah Local Responsiveness yaitu meningkatkan tanggung jawab pemerintah daerah terhadap masalah-masalah sosial ekonomi yang terjadi di daerahnya. Unsur ini sangat penting bagi peningkatan upaya pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Menurut Kuncoro dalam Safi’i (2007) ada beberapa isu sentral yang mencuat kepermukaan dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1. Bergesernya egoisme sektoral menjadi fanatisme daerah. Egoisme sektoral yang terjadi karena pembangunan yang bertumpu pada asas dekonsentrasi dan bersifat sektoral.
2. Ada tendensi masing-masing daerah mementingkan daerahnya sendiri bahkan bersaing satu sama lain dalam berbagai hal, terutama mengumpulkan PAD (Pendapatan Asli Daerah).
3. Terkait dengan masalah timing dan political will. Saat ini ada tendensi kuat defisit APBD semakin membesar, yang pada gilirannya mengurangi kemampuan pembiayaan dana perimbangan kepada daerah.
4. Dalam tahap awal, masih terasa adanya grey-area kewenangan antara pusat, propinsi, kabupaten/kota. Ini terjadi karena belum tuntasnya penyerahan sarana/prasarana maupun pengalihan pegawai pusat ke daerah.
5. Tujuan dari otonomi daerah adalah meningkatkan pelayanan publik lebih efektif dan efisien.
6. Lemahnya koordinasi antar sektor dan antar daerah.
Paket program otonomi daerah dengan demikian memang diarahkan pada akselerasi pembangunan ekonomi daerah. Hal ini dapat dijadikan dasar motivasi bagaimana agar pemerintah daerah dapat merangsang kreatifitas masyarakat dan dirinya sendiri untuk meningkatkan produktivitas kerjanya. Otonomi daerah akan bermanfaat bagi pembangunan ekonomi daerah jika konsep desentralisasi didalamnya dimaknai sebagai pembuka ruang partisipasi dan emansipasi serta berorientasi pada paradigma pemberdayaan yang memang menempatkan masyarakat sebagai basis materialnya (Safi’i, 2007).
2.3.2. Pemekaran Wilayah
Seiring bergaungnya tuntutan otonomi daerah di Indonesia terutama sejak tahun 1998, saat ini perkembangan otonomi daerah maju sangat pesat. Dimulai dengan pembentukan UU No. 22/1999 tentang pemerintahan daerah sebagai pengganti UU No.
5/1974, isu otonomi daerah terus bergulir tidak saja isu lain seperti pemekaran wilayah, pemilihan kepala daerah serta pembagian keuangan antara pusat dan daerah. Dinamika otonomi daerah terus berlanjut pada gilirannya membutuhkan sebuah aturan yang mampu menampung berbagai tuntutan masyarakat tersebut. Oleh karena itu kemudian lahirlah UU No.32/2004 tentang pemerintahan daerah yang memuat berbagai hal mulai dari pembentukan daerah dan kawasan khusus, pembagian urusan pemerintahan, pemerintahan daerah, perangkat daerah, keuangan daerah, peraturan daerah dan peraturan kepala daerah, kepegawaian daerah, pembinaan dan pengawasan desa serta masalah pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Rachmad, 2007).
Lahirnya UU No.22 tahun 1999 yang direvisi menjadi UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mendorong desentralisasi dan otonomi daerah telah menghadirkan pergeseran dan perubahan paradigma baru (New Paradigma Shifting) dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Undang-undang ini juga telah memberikan peluang dalam pemekaran daerah baru sepanjang didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial politik, sosial budaya, jumlah penduduk, luas daerah dan pertimbangan lain yang memungkinkan untuk terselenggaranya otonomi daerah (pasal 5 ayat 1). Syarat-syarat teknis pembentukan daerah telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 129 tahun 2000 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran, Penghapusan dan Penggabungan Daerah.
Pemekaran wilayah sama halnya dengan pemekaran daerah. Dalam PP RI No.129 tahun 2000 pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa pemekaran daerah adalah pemecahan daerah propinsi, daerah kabupaten, dan daerah kota menjadi lebih dari satu daerah. Menurut Sjafrizal (2008), pemekaran wilayah adalah pemisahan suatu wilayah dari daerah administratif lama untuk membentuk daerah suatu administratif baru. Perluasan biasanya terjadi pada daerah perkotaan bila perkembangan pembangunan sudah meluas sehingga
daerah yang semula (rural area) mulai berubah struktur perekonomiannya menjadi daerah perkotaan (urban area).
Ada berbagai alasan yang mendorong meningkatnya keinginan untuk melakukan pemekaran wilayah. Secara formal keinginan itu dipicu guna meningkatkan jangkauan pelayanan publik, terutama untuk daerah dengan luas cukup besar. Akan tetapi, tidak dapat pula dipungkiri bahwa keinginan untuk melakukan pemekaran daerah tersebut juga dipicu oleh aspek keuangan daerah dan politis. Aspek keuangan muncul sebagai akibat dari perubahan sistem alokasi keuangan negara untuk daerah diberlakukan seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah (Blane, 2001; Sjafrizal, 2008). Dalam hal ini masing-masing pemerintah daerah, termasuk daerah pemekaran baru berhak mendapatkan alokasi dana perimbangan, baik dalam bentuk Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK). Sedangakan aspek politis yang sering muncul adalah dalam bentuk beberapa tokoh politik untuk mendapatkan jabatan baru, baik sebagai kepala dan wakil kepala daerah maupun anggota DPRD pada daerah pemekaran.
Pada tataran normatif, kebijakan pemekaran wilayah seharusnya ditujukan untuk meningkatkan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Dalam PP RI No.129 tahun 2000 pasal 2 disebutkan pembentukan daerah bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan melalui :
a.Peningkatan pelayanan terhadap masyarakat b.Percepatan pertumbuhan demokrasi
c.Percepatan pelaksanaan pembangunan perekonomian daerah d.Percepatan pengelolaan potensi daerah
e.Peningkatan keamanan dan ketertiban
Menurut Sjafrizal (2008) ada beberapa faktor yang dapat memicu terjadinya pemekaran wilayah, antara lain :
1. Perbedaan agama
Kenyataan yang terjadi dalam masyarakat menunjukkan bahwa perbedaan agama merupakan salah satu unsur yang dapat menyebabkan timbulnya keinginan masyarakat untuk memisahkan diri dari suatu negara atau daerah yang telah ada menjadi suatu negara atau daerah baru.
2. Perbedaan etnis dan budaya
Sama halnya dengan perbedaan agama, perbedaan etnis (suku bangsa) dan budaya juga merupakan unsur penting lainnya yang dapat memicu terjadinya keinginan untuk melakukan pemekaran wilayah. Kenyataan menunjukkan bahwa masyarakat merasa kurang nyaman bila hidup dalam suatu masyarakat dengan etnis, adat istiadat dan kebiasaan yang berbeda. Bila kesatuan budaya ini terganggu karena kehadiran warga masyarakat lain dengan budaya yang berbeda, maka seringkali terjadi ketegangan sosial dalam masyarakat. Dengan demikian terlihat bahwa adanya ketidaksamaan (heterogenitas) etnis dan sosial budaya merupakan unsur penting yang dapat memicu terjadinya pemekaran wilayah.
3. Ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah
Aspek berikutnya yang cenderung menjadi faktor pemicu terjadinya keinginan untuk pemekaran wilayah adalah ketimpangan pembangunan ekonomi antar daerah. Termasuk juga kedalam aspek ini adalah ketimpangan dalam ketersediaan sumber daya alam bernilai tinggi, seperti minyak bumi, gas alam dan batubara yang selanjutnya akan mendorong terjadinya ketimpangan kemakmuran antar daerah. Ketimpangan ini selanjutnya akan cenderung pula mendorong terjadinya kecemburuan sosial dan merasa dianaktirikan oleh pemerintah pusat yang akhirnya keinginan untuk melakukan
pemekaran wilayah. Indikasi terjadinya ketimpangan pembangunan antar daerah dapat diketahui dengan menghitung Indeks Williamson menggunakan data PDRB perkapita dan jumlah penduduk sebagai indikator utama.
4. Luas daerah
Luas daerah dapat pula memicu timbulnya keinginan untuk melakukan pemekaran wilayah. Alasannya adalah karena wilayah yang besar akan cenderung menyebabkan pelayanan publik tidak dapat dilakukan secara efektif dan merata keseluruh pelosok daerah. Sementara tugas pokok pemerintah daerah adalah memberikan pelayanan publik kepada seluruh masyarakat didaerahnya. Dalam rangka memperbaiki pelayanan kepada masyarakat, maka salah satu cara yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan pemekaran daerah sehingga luas daerah menjadi lebih kecil dan jangkauan pelayanan publik menjadi lebih efektif.
Pemekaran daerah dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut : 1. Kemampuan ekonomi
Kemampuan ekonomi merupakan cermin hasil kegiatan usaha perekonomian yang berlangsung di suatu daerah propinsi, kabupaten/kota, yang dapat diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan penerimaan daerah sendiri.
2. Potensi daerah
Potensi daerah merupakan cermin tersedianya sumber daya yang dapat dimanfaatkan dan kesejahteraan masyarakat yang dapat diukur dari lembaga keuangan, sarana ekonomi, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana transportasi dan komunikasi, sarana pariwisata dan ketenagakerjaan.
Sosial budaya merupakan cerminan yang berkaitan dengan strukur sosial dan pola budaya masyarakat, kondisi sosial masyarakat yang dapat diukur dari tempat peribadatan, tempat kegiatan institusi sosial dan budaya dan sarana olah raga.
4. Sosial politik
Sosial politik merupakan cerminan kondisi sosial politik masyarakat yang dapat diukur dari partisipasi masyarakat dalam politik dan organisasi kemasyarakatan.
5. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk merupakan jumlah penduduk suatu daerah. 6. Luas daerah
Luas daerah merupakan luas tertentu suatu daerah. 7. Pertimbangan lain
Pertimbangan lain merupakan pertimbangan untuk terselenggaranya otonomi daerah yang dapat diukur dari keamanan dan ketertiban, ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan, rentang kendali, propinsi yang akan dibentuk minimal terdiri dari 3 kabupaten/kota, kabupaten/kota yang akan dibentuk minimal telah terdiri dari 3 kecamatan.
Upaya pemekaran wilayah dipandang sebagai sebuah terobosan untuk mempercepat pembangunan melalui peningkatan kualitas dan kemudahan memperoleh pelayanan bagi masyarakat. Pemekaran wilayah juga merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pemerintah daerah dalam memperpendek rentang kendali pemerintah sehingga meningkatkan efektifitas penyelenggaraan pemerintah dan pengelolaan pembangunan. Dengan pemberian pemekaran wilayah tersebut diharapkan pemerintah daerah akan dapat lebih memanfaatkan dan mengelola peluang dan potensi yang dimiliki daerah untuk kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan daerah dengan melibatkan aspirasi dan partisipasi rakyat daerah.
2. 4. Kesejahteraan Masyarakat
Tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, baik kesejahteraan yang bersifat absolut yang dinikmati oleh setiap individu dan kelompok masyarakat, maupun kesejahteraan yang bersifat relatif dalam arti pemerataan kesejahteraan atau keadilan. Secara teoritis, kesejahteraan absolut dapat dipercepat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui efisiensi sebagaimana kaidah pareto-optimal. Sementara itu, kesejahteraan relatif atau keadilan dapat diakselerasi melalui pendistribusian pendapatan yang lebih merata.
Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai kebijakan dilakukan oleh pemerintah, sebagai akselerator proses pembangunan tersebut, baik kebijakan bersifat langsung dalam bidang ekonomi, maupun kebijakan yang bersifat tidak langsung dalam bidang lainnya seperti bidang pemerintahan dan politik. Salah satu upaya mempercepat proses pencapaian tujuan pembangunan tersebut dalam bidang pemerintahan dan politik adalah kebijakan pembagian kewenangan penyelenggaraan pembangunan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, yang lazim disebut sebagai kebijakan sentralisasi dan atau desentralisasi. Kebijakan sentralisasi lebih menekankan pada peningkatan kesejahteraan absolut. Sedangkan kebijakan desentralisasi lebih memprioritaskan dimensi keadilan atau kesejahteraan relatif. (Sobandi, 2004).
Dalam konteks ini, kebijakan desentralisasi bertujuan agar semua potensi yang dimiliki oleh daerah dapat bergerak dan dimanfaatkan menjadi suatu sinergi yang dinamis dalam memberdayakan ekonomi masyarakat di daerah, sehingga tujuan peningkatan kesejahteraan absolut dan kesejahteraan relative dapat segera diwujudkan.
Atas dasar hal tersebut, maka dari sudut pandang ekonomi, otonomi daerah harus benar-benar diarahkan pada optimalisasi manfaat yang akan diterima oleh masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Jika otonomi tidak
dilaksanakan dengan pertimbangan-pertimbangan tadi, atau rendahnya komitment serta kesiapan daerah dalam melaksanakan otonomi tersebut, bukannya akan menimbulkan efek positif dalam pemberdayaan ekonomi daerah, malah justru mengancam kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Beberapa sumber kebocoran ekonomi tatkala otonomi daerah dilaksanakan tidak sungguh-sungguh atau kesiapan daerah dan pusat tidak memadai, dapat diidentifikasi antara lain dalam Prud’ Homme (1995) yaitu :
Pertama, makin tingginya disparitas antar daerah. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa potensi dan kemampuan setiap daerah berbeda-beda, terutama dalam pemilikan sumber daya. Sementara itu, desentralisasi berarti memberikan kewenangan luas kepada daerah dalam mengurusi aktivitasnya termasuk aktivitas ekonomi. Daerah bebas dalam mengelola sumber daya, menerapkan kebijakan fiskal (memungut pajak, retribusi, dan melakukan belanja), serta menentukan arah pembangunan ekonominya demi kesejahteraan rakyat dalam daerah yang bersangkutan. Akibatnya, karena potensi dan kemampuan daerah berbeda-beda, maka disparitas antar daerah semakin tinggi. Daerah yang kaya dan memiliki struktur yang lebih seimbang akan melaju cepat, sedangkan daerah yang miskin akan ketinggalan.
Kedua, inefisiensi produksi dan alokasi sebagai akibat desentralisasi murni disebabkan karena daerah akan memaksakan diri dalam suatu komoditas tertentu meskipun secara ekonomis tidak terlalu menguntungkan. Selain itu, terdapat kemungkinan suatu komoditas hanya akan efisien jika diproduksi dalam skala besar, tetapi karena daerah memaksakan diri untuk memproduksinya, maka akan banyak perusahaan sejenis dalam skala yang relatif kecil. Masih dalam konteks pemaksaan diri dalam memproduksi suatu komoditas, maka secara nasional dapat dinilai juga sebagai inefisiensi dalam alokasi sumber daya.
Sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk komoditas lain, karena motivasi kemandirian, akhirnya dialokasikan kepada komoditas tertentu yang kurang efisien.
Ketiga, instabilitas yang berpangkal dari luasnya kewenangan daerah dalam menetapkan kebijakan fiskal. Dengan keleluasaan pemerintah daerah dalam menetapkan kebijakan tersebut, maka efektivitas kebijakan fiskal yang digulirkan oleh pemerintah pusat akan berkurang. Dengan demikian, apabila terjadi suatu goncangan dalam perekonomian, sulit bagi pemerintahan nasional untuk meredamnya, dan efek dari kebijakan fiskal bagi setiap