• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

B. Analisis Data

Berdasarkan hasil analisi terhadap kedua responden yang terlibat. Didapat beberapa tema yang menjelaskan jawaban dari pertanyaan penelitian. Analisis penelitian ini dilakukan secara terpisah, dari satu responden kemudian dilanjutkan ke responden ke dua. Hal ini dilakukan agar analisis dapat dilakukan secara terfokus kepada setiap responden.

1. Responden I

A. Pengelolan diri negative

Sebelum mendalami meditasi sumarah, A mudah merespon segala sesuatu dengan emosi dan amarah. Amarah dan emosi yang dialami si A terkadang sering di pendam sendiri dan mengakibatkan mangkel sendiri.

“kalau saya terus terang. Dulu pernah ada masalah dengan RW, saya

dipanggil diwajibkan sholat, pengajian karena saya ber KTP Islam. Trus terang saja saya bahwa memang kalo di kelurahan kan gak boleh nulis agamanya sumarah kan memang harus mengisi yang ada. Saya kan dipaksa

sholat dan pengajian, saya kan gak mau, ya saya bilang saya jelaskan” (A,

34)

“pas itu mangkel tapi cuma beberapa hari gak lama, paling mangkel sendiri

kayaknya itu” (A,35)

Sebelum melakukan meditasi sumarah, subjek A merasa ragu dalam mengambil keputusaan. Tidak merasakan keyakinan pada keputusan- keputusan yang di ambilnya.

“Yang jelas ya beda mas, kalau dulu nggak langsung terasa disini gitu lho,

hati itu kurang luluhnya” (A, 40)

Selain itu subjek A juga merasakan kekosongan dalam hatinya saat subjek sedang merasa marah. Subjek menyadari hal itu harus di cegah dengan melakukan meditasi sumarah

“Kalau jengkel dihati gitu malah rasanya atinya suwung mas, dingin kayak harus direm supaya jangan mengumpat atau bicara jelek” (47)

B. Regulasi emosi

Dalam mempraktikan meditasi sumarah, subjek A belajar mengendalikan emosi yang sering kali menjadi respon saat subjek A mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang lain.

Ya pernah, tapi ingat gitu lho. Sebentar saja itu hilang kok mas dengan zikir gitu. Misanya difitnah teman, ya mangkel tapi ya terus longar longar gitu aja, ketemu orangnya ya biasa.Sehari gitu dirumah ya mangkel gitu, wajar sebagai manusia tapi habis itu yaudah ya gak papa. (A,27)

Pengendalian emosi yang dilakukan subjek A diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya berelasi dengan orang lain. Hal ini dapat dilihat saat subjek A mengendalikan emosinya.

Sepintas sepintas aja mas, tetep ada rasa itu tapi ya gak terus gimana gitu.(A,33)

Kemampuan subjek A dalam mengendalikan emosi diterapkanya dalam lingkungan keluarga. Subjek A lebih dapat mengendalikan emosi dirinya ketika mengambil keputusan.

Ya kalau sekarang gimana baiknya mas, gak emosi. Dibicarakan dengan istri gimana baikanya untuk anak, maunya apa (A,45)

Setelah subjek A melakukan praktik meditasi sumarah, subjek A lebih dapat mengendalikan emosinya dan mengubah perilakunya. Subjek A menyadari perilaku buruk yang diakibatkan emosinya akan menimbulkan konsekuensi yang buruk.

Kalau marah ya marah tapi cuma omongan, dihati malah gak jengkel gak

dendam, ya marah aja dimulut, beda kan rasanya, saya malah takut kalau marah di hati mangkel malah takut ada apa-apa, gak berani sampai mengumpat jelek sampai dihati mangkel gitu nanti kalau kejadian malah

bahaya, ngomong ya ngomong aja tapi dihati enggak” (A, 46)

C. Perubahan sikap menjadi lebih positif

Pengendalian emosi yang dilakukan oleh subjek A, membuat sikap subjek A semakin tenang dalam menghadapi permasalahan yang ada di kehidupan subjek. Subjek menjadi lebih tertata dan mengetahui apa yang harus dilakukannya.

“Ya mungkin saya menilainya mungkin karena sumarah bisa seperti itu. Menghadapi ibu meninggal, bapak sakit ya namanya orang dewasa saja kalau mengahadapi itu, liat orang tua sakit udah bingung to, gimana biaya,

cari uang, bisa ngerawat, saya biasa aja ya dijalani saja “(A, 25)

Dalam menghadapi permasalahan yang di alami oleh subjek A, subjek A mempraktekan cara-cara yang di ajarakan dalam Meditasi sumarah yaitu pasrah dalam hati dan tenang, hal tersebut membuat subjek A lebih siap menghadapi masalah yang ada.

“Gak ada sih, ada tapi ya langsung selesai, nggak pernah lama. Kalau belum selesai ya pasti dengan waktu ya selesai. Semua terselesaikan, tapi nggak menyelesaikan itu bukan masa bodoh ya, kalau sumarah ya dengan pasrah dengan hati, diam, tapi beda sama orang yang diam tapi luweh- luweh kan ada, diam tapi hatinya kemrungsung ya sama aja. Biar saja

masalah tetap berjalan tapi hatinya tetap pasrah gitu aja” (A, 28)

Ketenangan yang dimiliki subjek A dalam menghadapi permasalahan, membuat subjek A semakin iklas dan tidak merasa kecewa dalam menerima konsekuensi dari permasalahan tersebut.

“Tapi di hati saya ya nggak ada perasaan kecewa atau apa. Tapi waktu itu

ya pikiran saya cuma mengurus bapak, trus umur saya bertambah untuk dapat pekerjaan seperti itu kan ya sudah susah ya mas, tapi ya gak papa” (A, 57)

Selain perubahan sikap positif dalam hal ketenangan dan keiklasan dalam menghdapi permasalahan, subjek A juga merasakan perubahan sikap positif dalam kehidupanya. Subjek A merasa lebih dapat menempatkan dirinya didalam lingkungan dengan orang lain.

“Biasa aja sih mas, bisa menyesuaikan diri dimana tempat kita berada mas,

sopan. Gak yang sok nuani, misal melakukan sesuatu ya tau batasnya” (A,

64)

Selain itu selama mengikuti meditasi sumarah subejk A merasakan ketenangan dalam hatinya. Ketenang hati yang dimiliki subjek A membantunya dalam menghadapi permasalahan yang muncul.

Kayak biaya sakit, persalinan anak saya itu ya ada aja mas. Entah gimana

pasti kok nya ada jalannya, saya sampai sekarang itu gak ada utang lho mas, lebih enggak tapi cukup aja. Setiap ada masalah itu ya sujud supaya dilancarkan atau apa ya enggak ya sujud aja dengan hati yang tenang lha

kok ternyata dilancarkan segala sesuatunya” (A, 53)

Dengan meditasi sumarah subjek A menyadari bahwa segala kehidupanya di tuntun oleh Tuhan. Tuntunan tersebut membuat subjek A sadar akan adanya Tuhan.

“Tapi dengan sumarah itu tertuntun gitu lho mas, yang nuntun ya Tuhan.

Tapi dengan kehidupan seperti ini kan kita jadi sadar bahwa Tuhan itu ada”

(A, 63)

D. Hubungan positif dengan orang lain

Penempatan diri yang baik membuat subjek A dapat menjalin hubungan yang baik dengan orang lain. Walaupun subjek menjadi pengikut Sumarahakan tetapi hubungan dengan orang lain tetap berjalan baik.

“SMP gitu udah bisa bedain teman, oo dia itu gini gitu. Tapi kan kalo punya gini kan gak boleh cerita-cerita kalo dulu gitu, yaudah karena dia beda keyakinan ya udah belajar ininya ya temen-temen tau masa-masa labil

gitu, tapi ya tetep berteman seperti anak-anak muda, pacaran..pacaran.”(A,

Hubungan dengan tetangga di sekitar rumah subjek A juga terjalin dengan baik

Nggak ada mas, baik kok. Cuma sama RW tadi aja, selesai itu malah saya

ditunjuk jadi sekretaris.” (A, 39)

E. Proses pengelolan pikiran saat meditasi

Dalam praktif meditasi subjek A belajar untuk lebih dapat berfokus pada pikiranya. Dalam praktiknya subjek A mencoba tenang, tidak memikirkan sesuatu yang mempengaruhi focus pikiarnya saat bermeditasi.

Kalau doa ya doa aja nggak usah mikir ya ng lain-lain. kalau dulu kan

sumarah itu gak boleh mikir, harus tenang” (A, 32)

Pikiran yang focus saat bemeditasi membuat subjek A dapat menyadari stimulus yang muncul saat subjek A akan marah. Kesadaran tersebut membuat subjek A dapat mengendalikan diri ketika subjek akan marah.

“Rasanya itu kayak ada yang mengendalikan mas. Marah tapi yang gak

bikin orang lain sakit hati. Tapi dengan sumarah lho mas, kalau nggak

sumarah malah nggak bisa niteni seperti itu” (A, 48)

Pengendalian diri yang dilakukan subjek A membuat subjek lebih dapat mengendalikan nafsu yang ada dalam dirinya. Hal tersebut dikarenakan subjek A menyadari permasalahan hanya berada di dalam pikiran saja.

Terkadang kan kita terbelenggu atas nafsu kita sendiri padahal gak

sesulit yang ada dipikran kita kalau dijalani itu mas. Makanya ketika

F. Penerimaan Diri positif

Praktik meditasi Sumarah yang dilakukan oleh A memberi pengaruh juga terhadap penerimaan akan dirinya. Salah satunya perubahan yang dialami adalah A menjadi lebih percaya diri menerima dirinya tanpa keinginan untuk menjadi seperti orang lain.

“ya gak ikut-ikutan orang. Oh yaudah percaya diri gitu aja, ya pas muda gitu misalnya mengidolakan siapa, yaudah gak tertarik, biasa aja,

yaudah saya berjalan biasa gitu aja, “(A,23)

Dengan kepercayaan diri yang dimiliki A terhadap dirinya menjadikan A lebih dapat menerima segala sesuatu yang dimiliki dalam hidupnya. A menjadi pribadi yang tidak iri dengan apapun yang dimiliki orang lain.

”Tapi saya ya memang gak berlebih, pingin kayak orang lain gitu ya enggak kok mas, nanti ada waktunya, ya pokoknya seneng aja, liat orang lain punya apa ya gak papa, gak pengen gak apa, biasa aja. Trus mikir harus punya harus bisa ya enggak juga.(A,69)

Selain A lebih dapat menerima segala sesuatu yang dimiliki dalam hidupnya, A juga memandang permasalahan yang ada dalam hidupnya sebagai suatu sarana untuk meningkatkan kualitas dirinya. A memandang permasalahan yang ada dalam hidupnya sebagai sarana untuk meningkatkan derajat keimanannya terhadap Tuhan

“Kalo contoh universal susah ya, yang penting bisa mengahadapi

aja, dengan sumarah kan ya harus dengan cobaan to biar martabat dan keimanannya meningkat ya bisa menghadapi cobaan itu tadi. Tapi kan

G. Otonomi

Setelah mengikuti meditasi sumarah, A memiliki otonomi yang baik. Hal tersebut nampak ketika A mengambil keputusan dalam hidupnya. A lebih tertata dalam mengambil keputusan, A juga menjadi lebih tenang dalam mengambil keputusan dalam hidupnya.

“Kalau sekarang kira-kira ada masalah gitu, hati itu ya sudah tertata gitu lho.Bahkan untuk bicara aja dengan hati yang tenang itu ya bicaranya bisa pas gitu aja. (A, 41)

Selain itu subjek A dapat menerima segala bentuk resiko dari keputusaan yang di ambilnya. Subjek A tidak meras marah, kecewa dan kawatir dengan keputusannya. Subjek menerima dengan baik.

“Apa ya mas..gak ada kayaknya mas. Kalau saya sih meskipun keputusan

yang saya ambil itu salah ya saya terima mas, resikonya seperti apa ya saya

terima” (A, 42)

“Misalnya, mau pergi kerumah teman keluar kota, tapi gak ketemu ya udah

harusnya gelo tapi yaudah itu resiko saya karna saya sudah milih gak datang kepernikahan teman malah milih pergi kerumah teman, yaudah gak

papa” (A,43)

H. Tujuan Hidup

A memiliki tujuan hidup sebagai usaha untuk membesarkan anak-anak hingga dewasa dan mandiri. Selain itu, si A juga akan tetap mengikuti Sumarah karena A merasa di Sumarah ia menemukan kehadiran Tuhan.

“Ya membesarkan anak sampai dewasa mas, sampai madiri lah. Saya akan

tetap di sumarah, cekelan saya ya tetap sumarah, percaya pada Tuhan. Ya pokonya menjalani hidup sebagai manusia seutuhnya. (A,77)

I. Pemaknaan Hidup

Melalui meditasi sumarah, A memaknai hidup sebagai hal yang harus dijalani dan mengalir.

“kalau saya kehidupan ya menjalani kehidupan itu aja mas, dari kecil saya hidup hingga sekarang sudah berkeluarga ya saya jalani saja. Menjalani

hidup itu, semuanya ya berjalan itu aja.” (A, 55)

“..tapi sekarang ya dijalani aja. Dulu pernah selesai saya lulus dari kuliah

pertanian saya ada panggilan kerja di luar jawa tapi waktu itu kan ayah saya juga sakit. Saya milih mengurus bapak saya dari pada kerja disana, padahal kalau dipikir kerja kan buat masa depan ya mas tapi saya milih mengurus bapak saya yang gak sehari dua hari, tapi sayaya menjalani aja,

ini tanggung jawab saya sebagai anak.”(A, 56)

J. Makna Kebahagiaan

Makna kebahagiaan bagi subjek A ialah ketika dia dapat menerima segala hal dengan tidak berlebihan atau sewajarnya. Penerimaan yang sewajarnya tersebut membuat subjek A merasa lebih tenang dalam kehidupanya.

“Ya kalau di sumarah itu ya tenang itu aja mas, perasaan tenang, sedih ya

gak sedih, senang ya ra banget-banget. Nerima sumarah itu ya gitu misal

dapat sesuatu yang membahagiakan ya gak bahagia banget-banget”(A, 71)

Selain itu subjek A memaknai kebahagiaan dalam hidupnya sebagai sesuatu yang berjalan dengan lancar, dipermudah dan terpenuhi kebutuhan dalam kehidupanya. Kebahagiaan itu didapat subjek selama mengikuti sumarah.

“Ya iya mas,apa apa lancar, dipermudah, terpenuhi ya bahagia. Kalau di wewarah kan ada ikut sumarah itu terjamin hidupnya, dan saya

merasakannya. Saya selalu merasa dipermudah dalam hidup mas, ngurus apa apa gitu kayak dipermudah aja. Kebetulan dipermudah sampai urusan

yang kadang malah bukan urusan pribadi”. (A,65)

II. Responden II

A. Pengelolaan diri negatif

Sebelum mengenal dan mendalami Meditasi Sumarah Subjek Y sulit mengontrol stimulus eksternal yang membuat subjek Y mengalami emosi tinggi dan marah. Gejolak emosi dan amarah yang di alami subjek Y pada saat itu sangat luar biasa.

“Misalnya ngadepi anak-anak seperti ini, dulu itu mas saya itu

gejolak emosinya itu awal-awal ya luar biasa” (Y, 13).

Emosi yang tinggi tersebut membuat subjek Y sulit untuk menyadari dan mengontrol emosi dirinya yang ada. Terkadang saat marah subjek Y ngedumel sendiri dan ngomong sendiri

“Kalo saya sih emosi masih mas, seperti yang sudah saya

sampaikan tadi, tapi kalo marah sudah tidak seperti dulu, kalo dulu itu,

ini tu ee...ngomong sendiri, ngedumel sendiri” (Y, 35)

B. Regulasi Emosi

Setelah subjek Y mengikuti Meditasi Sumarah, subjek Y merasa lebih dapat mengontrol emosinya. Walaupun emosi tersebut terkadang masih ada, namun saat ini subjek Y lebih dapat mengendalikannya.

Emosi ,masih ada mas karena kan...ada batesannya tapi kalo sekarang, kalo yang saya rasakan ya udah jauh beda banget dulu dan sekarang,

sekarangitu bisa lebih ngontrol” (Y, 36”)

Cara subjek dalam mengontrol emosi yang muncul membuat subjek Y lebih dapat aware terhadap kondisi emosinya. Subjek Y dapat menyadari jika subjek akan marah, aware terhadap emosi yang dimilik subjek Y membuat subjek dapat mengontrol emosinya dengan cara mendekatkan diri pada Tuhan.

“tapi ternyata di sumarah bisa lho nglerem, dan kita tahu kalo kita sebetulnya mau marah nah tapi kalo kita mendekatkan diri ke Tuhan ya

harapannya semuanya lebih baik”. (Y, 15).

Selain perasaan tenang saat dapat mengendalikan emosi yang ada. Subjek Y juga merasakan kesejukan dan kenikmatan saat bisa mengatur emosinya.

“Terus rasanya itu ya sejuk ya nikmat. Kalau bisa kayak gitu mas isoh ngatur emosine” (Y, 50)

C. Proses pengelolaan pikiran saat meditasi

Perubahan yang mempengaruhi aspek emosi juga mempengaruhi aspek pikiran. Karena emosi yang dapat dikontrol dengan baik, pikiran subjek menjadi lebih positif. Subjek Y menanggapi stimulus eksternal dengan pikiran positif, dengan tidak memikirkanya banget-banget dan menanggapinya biasa saja.

“Semuanya pasti ada mas, kalo dipikir banget-banget nanti malah kita sendiri yang rugi yang penting kita tidak seperti itu, kadang itu mikirnya kita klenik kita punya ritual yang melenceng dianggap beda tapi meskipun kita terangkan ke yang melakukan diskriminasi itu udah seperti itu, weslah sing pentingaku raseperti itu, tapi tempat kami memang percaya

ada seperti itu, monggo saja setiap orang kan punya pilihan tapi saya

tidak seperti itu” (Y, 19)

Selain itu, setelah ikut sumarah subjek merasa lebih tahu harus bersikap seperti apa ketika sedang menghadapi permasalahan, fokus terhadap masalah sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. Sebelum ikut sumarah, subjek sering grusa-grusu, tidak fokus ketika menghadapi masalah.

tapi terus lepas kendali, kita jadi bisa mikir oh dadi besok kalo ngene

aku kudu ngene lho hehhe.. enaknya disitu lainnya itu kalo kayak gitu, lha

aku kudu ngene kudu ngono wah jan spontanitas mesti gitu,, enaknya

disitu, jadi nek menghadapi sesuatu wes ngerti kudu ngene. (Y,26) D. Perubahan sikap menjadi lebih positif

Pikiran positif yang dimiliki oleh subjek Y, membuat subjek Y lebih tenang dan lebih santai dalam menghadapi berbagai hal yang ada. Yang dulunya serba kemrungsung (tergesa-gesa) dalam menyikapi berbagai hal yang ada, sekarang lebih dapat mengontrolnya.

“Kalo yang baik ya semuanya jadi lebih santai, misalnya dapat tugas

besok harus mengerjakan ini, kalo dulu kan pasti wes kemrungsung wah piye iki gitu gitu to mas, tapi kalo sekarang yaudah santai, karena ya gimana ya, bukan berarti kita tidak terus tidak melakukan itu tidak, tapi

menerimanya jauh lebih santai “ (Y, 24)

Setelah ikut sumarah, subjek merasa bahwa tidak ada lagi perasaan “sumelang” dalam dirinya karena segala sesuatu sudah dipasrahkan kepada Tuhan. Subjek merasa hatinya merasa lebih tenang merasa “ayem” dan “enteng” setelah ikut sumarah.

“Ohh... alasannya itu di hati itu enak e mas, yang ada hanya rasa tenang

dan tentram di hati gak takut apa-apa. Jadinya gak ada pemikiran sumelang itu gak ada jadinya yang ada pasrahin aja dengan gusti Allah

adinya lebih enteng gimana ya yang ada rasa ayem.” (Y, 1)

Perubahan dalam aspek pikiran juga mempengaruhi sikap positif dari subjek Y, dahulu ketika ada respon yang memunculkan reaksi negative pada diri Y, sikap yang ditunjukan adalah sikap negative. Sesudah mengikuti meditasi Sumarah sikap yang dulunya negative berubah menjadi lebih positif. Perubahan sikap ini ditandai dengan kecenderungan A menyikapi permasalahan dengan santai dan tenang.

“tapi Tuhan berikan banyak cara, kita kadang ... yawes jalan aja

nanti juga pasti ada, entah itu seperti apa ha rus apa pasti ada jalannya. Punya uang dari ini ya gak tau yowespokok e santai wae,

nanti pasti adajalannya, entah dari mana” (Y, 41)

Selain lebih tenang dan santai, subjek Y juga lebih dapat bertanggung jawab saat di berikan kepercayaan oleh orang lain.

“karena kita itu dikasih tanggung jawab itu banyak e nah kalo kita

udah tau itu tu hidup dadi ora sekarep e dewe gitu lho..kalo saya

pribadi lho” (Y, 33).

Selain tanggung jawab subjek Y sebagai seorang istri dan seorang ibu tetap dijalaninya. Walaupun subjek Y mempunyai kewajiban lain yaitu bekerja. Tanggung jawab yang dilakukan oleh subjek Y dilakukan dengan cara menghindari dan tidak melakukan sesuatu yang tidak ada gunanya.

“Kalo saya dengan keluarga yaudah saya bekerja tapi ya keluarga

tetap nomor satu,nah kalo disekolah piye carane tidak melepas dari tanggung jawb, artinya jangan sampai kita melakukan hal-hal yang

Selain itu subjek Y juga melakukan refleksi dan intropeksi pada dirinya. Refleksi dan intropeksi yang dilakukan subjek Y membuat subjek lebih dapat mengontrol stimulus yang memunculkan reaksi negative

“disatu sisi kalo kita cerita keteman-teman ya kembali kekita juga, yasudah capek kalo disana mau seperti apa ya tetap aja, ini kaitannya sama keyakinan, tapi saya cuek aja sih mas, saya kadang

nganggep gojek” (Y, 43)

Subjek juga tidak lagi merasa was-was dan khawatir dengan dirinya, tidak merasa takut bila tidak diterima oleh orang lain. Subjek selalu percaya bahwa setiap permasalahan yang ada dalam hidupnya sudah ada jalanya, sudah ada yang menentukan yaitu Tuhan.

“Apa yo mass, yang pertama itu ya santai, yang kedua itu kita itu

berteman juga enak, tidak ada apa yaa, jadi berteman dengan semua itu sama tidak ada rasa was-was, tidak ada rasa duh klambimu kok

koyo ngono yo, wedi aku ra diterima atau gimana itu gak ada,” (Y,

9)

yawes jalan aja nanti juga pasti ada, entah itu seperti apa harus apa pasti ada jalannya. Punya uang dari ini ya gak tau yowespokok e santai wae, nanti pasti ada jalannya, entah dari mana. tapi Tuhan

berikan banyak cara,(Y, 40)

Selain itu selama mengikuti meditasi sumarah, subjek Y lebih dapat mengenali dirinya sendiri (aware)

Wah haa lucu itu mas, sujudtan itu sebenernya kita bisa mengenal

E. Hubungan Positif dengan Orang Lain

Walaupun subjek Y mempunyai kepercayaan yang berbeda dengan teman-temanya, tetapi subjek tetap menjaga hubungan yang baik. Hal tersebut ditunjukan subjek dengan mengantarkan sahabatnya pergi ke sendangsono. Walapun subjek Y tahu sendangsono merupakan tempat beribadah umat nasrani.

“saya islam tapi temen-teman yang katholik juga banyak, kadang

nganter ke Sendang sono, maksudnya adalah tidak terus fanatik, jadi tetep ke sendang sono, padahal kan jauh kan ya mas. Pas motonya, dulu kan motornya yang hitam itu, saya juga kenal frater, frater kan juga nganterin ke rumah, dan bapak saya juga tau kalo itu frater karena kan gak bisa dibohongi kan facenya, pembawaannya juga

beda, pasti beda, kok ngertos pak? yo bedolah hehhe” (Y. 7)

Hubungan positif dengan sahabat-sahabatnya nampaknya diterapkan subjek pada kehidupan bermasyarakat di desanya. Subjek sebisa mungkin ikut berkontribusi pada kegiatan sosial di desanya misalnya menyediakan snack saat

Dokumen terkait