• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Analisis Data

Reduksi data. Perencanaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Brat dalam arti sempit adalah penyusunan RPP dan penyiapan materi. Namun perencanaan yang disiapkan bukan hanya penyusunan RPP dan materi namun juga menyangkut metode, media maupun pendekatan yang akan digunakan dalam mengajar di kelas inklusi. Guru kelas maupun guru mata pelajaran tidak mengelola secara khusus perencanaan pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus. Guru perlu memperhatikan kondisi siswa di kelas inklusi dalam merencanakan pembelajaran diantranya mencakup pembuatan RPP, merencanakan materi pembelajaran, media, metode dan pendekatan pembelajaran.

Penyajian data yang dilakukan dalam mengelola perencanaan pembelajaran , guru menyiapakan silabus dan RPP, materi, media dan metode serta pendekatan yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Namun hal tersebut tidak dibedakan antata siswa normal dan ABK.

Pemaknaan. Perencanaan pembelajaran di kelas inklusi tertuang dalam dokumen RPP. Dokumen RPP tersebut berfungsi sebagai skenario dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh karena itu perencanaa perlu di kelola secara tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Guru kelas maupun guru mata pelajaran dalam perencanaan pembelajaran di kelas inklusi perlu membedakan

dalam hal metode, materi maupun pendekatan pembelajarannya. Pembedaan tersebut berfungsi untuk membantu ABK yang tidak bisa mengikuti pembelajaran seperti siswa normal. Dengan adanya perbedaan materi, metode, maupun media berarti guru kelas maupun guru mata pelajaran memperhatikan kondisi siswa sehingga ABK mendapatkan pendidikan yang semestinya sesuai dengan kondisi yang ada. Selama ini perencanaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Burat belum memperhatikan kondisi peserta didik di kelas inklusi sehingga perencanaan yang disiapkan masih secara umum dan tidak memperhatikan keadaan ABK di kelas inklusi. Pembuatan silabus RPP dilakukan secara bersama-sama di forum KKG pada awal semester. Dimana dalam penyusunan RPP guru membuat secara umum untuk pembelajaran siswa normal. RPP berfungsi sebagai pedoman dalam melaksnakan proses pembelajaran hingga evaluasi pembelajaran. Oleh karena itu perbaikan dalam perencanaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Burat harus dilakukan oleh guru yang mengajar di sekolah inklusi terutama perlu melihat hasil pemeriksaan psikologis siswa sehingga perencanaan pembelajarang di kelas inklusi bisa sesuai dan tepat untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi.

2. Pengelolaan pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi

Reduksi. Pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi belum berjalan optimal. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi, metode pembelajaran yang digunkan adalah metode pembelajaran dengan menggunakan ceramah dan bersifat umum untuk semua ssiwa. Penyampaian materi pembelajaran di kelas inklusi disamakan dengan siswa normal sehingga kedalaman dan keluasan materi yang di

pelajari siswa di kelas inklusi memiliki kesamaan. Sedangkan penggunaan media pembelajaran lebih sering berupa media visual seperti buku paket. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan pembelajaran di kelas inklusi sebagian besar pendekatan klasikal. Lebih lanjut dalam pelaksanaan pembelajaran guru tidak mengelola kelas khususnya tempat duduk sehingga ABK mendapatkan tempat duduk paling belakang. Dalam mengelolaan pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi guru kelas melakukan pengelolaan pelaksanaan pembelajaran seperti pelaksanaan pembelajaran kelas regular yang tidak ada peserta didik ABK. Tidak ada perbedaan yang mencolok yang dilakukan oleh guru dalam mengelola pelaksanaan pembelajaran kelas inklusi

Penyajian data. Proses pelaksanaan pembelajaran antara guru dan siswa dilakukan dengan tatap muka dan klasikal. Hal ini karena sebagian besar siswa yang belajar adalah siswa normal. Penyampaian materi diberikan secara sama tanpa ada perbedaan. Demikian juga dalam penggunaan metode yang tidak dibedakan antara siswa normal dan siswa berkebutuhan khusus. ABK di kelas inklusi memiliki kemampuan memahami yang sangat lambat sehingga dalam menyerap materi tidak dapat sepenuhnya.

Pemaknaan. Proses pembelajaran yang terjadi antara guru dan siswa adalah secara tatap muka namun penyampaian materi dan penggunaan metode yang sama memperlihatkan bahwa guru masih kurang mengetahui tentang proses pembelajaran di kelas inklusi yang sebenarnya dimana kemampuan anak menjadi pedoman dalam memberikan materi pembelajaran. Mengajar siswa di kelas inklusi memang pekerjaan yang tidak mudah karena kemampuan anak yang

sangat beragam dari yang lambat hingga cepat berada dalam dalam satu kelas. Dalam pembelajaran di kelas guru melakukan secara klasikan sehingga siswa yang berkebutuhan di kelas inklusi belum bisa memperoleh pendidikan berdasarkan kemampuannya serta belum mendapat pengajaran secara individual dari guru. Pembelajaran seperti di SD Negeri Burat ini sangat berbeda dengan konsep pembelajaran inklusi. Pembelajaran inklusi lebih menekankan pada siswa sehingga siswa yang di kelas inklusi terlayani pendidikannya. Berbeda dengan siswa inklusi di SD Negeri Burat dimana ABK yang ada justru tidak diperhatikan atau dilayani dalam pendidikan justru terkesan dibiarkan dan tidak dipedulikan hal ini terbukti dari pelaksanaan pembelajaran yang sama sekali tidak memperhatikan ABK di kelas inklusi. ABK dipaksa menerima materi yang tidak sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, guru kelas dalam pelaksanaan pembelajaran belum melakukan pengaturan tempat duduk yang tepat untuk ABK. ABK justru menempati tempat duduk paling belakang. Oleh karenanya pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Burat dapat diperbaiki kembali sehingga hak ABK tidak terabaikan dalam memperoleh pelayanan pendidikan.

3. Pengelolaan evaluasi pembelajaran di kelas inklusi

Reduksi. Pengelolaan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru di kelas inklusi meliputi penilaian ulangan harian, ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester. Ulangan harian biasanya di kenal dengan evaluasi formatif, sedangkan ulangan tengah semester maupun akhir semester di kenal dengan evaluasi sumatif. Kegiatan evaluasi ini dilakukan dengan tes yang berisi soal pilihan ganda, isian dan essay. Penilaian yang dilakukan di kelas inklusi ini

tidak membedakan soal. Baik siswa normal maupun yang berkebutuhan mendapatka soal dengan taraf kesulitan yang sama. Hasil evaluasi yang ada menunjukkan bahwa kemampuan siswa berkebutuhan khusus di kelas V masih kesulitan dalam hal menulis. Untuk hasil evaluasi pembelajaran dituangkan didalam rapor dimana siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusi memiliki dua macam rapor yakni rapor umum dan rapor khusus.

Penyajian data. Evaluasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis, namun evaluasi yang dilakukan sebagian besar berupa evaluasi dalam bentuk tertulis. Dalam evaluasi ini guru belum mengelola soal evaluasi dengan membedakan untuk siswa berkebutuhan khusus dengan siswa normal di kelas inklusi sehingga hasil evaluasi siswa berkebutuhan tidak memperlihatkan kemampuan yang sebenarnya.

Pemaknaan. Evaluasi hasil belajar yang dilakukan oleh guru terdiri dari evaluasi formatif dan sumatif. Keduanya berfungsi untuk mengukur kemampuan peserta didik yang mengikuti pembelajaran. Evaluasi ini dilakukan secara tertulis dengan menggunakan soal berbentuk pilihan ganda, isisan maupun uraian. Dalam evaluasi ini soal yang diberikan antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa normal tidak dibedakan. Hal ini mengindikasikan bahwa guru belum memperhatikan prinsip-prinsip penilaian dimana guru dalam melakukan penilaian harus memperhatikan kemampuan siswa sehingga kemampuan kognitif yang diukur memperlihatkan hasil yang jelas. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan evaluasi pembelajaran di kelas inklusi belum di kelola dengan baik. Pengelolaan evaluasi pembelajaran di kelas inklusi semestinya harus

memperhatikan kemampuan kognitif siswa selama mengikuti pembelajaranan. Dari kegiatan pembelajaran diketahui capaian siswa di kelas dalam mengikuti pembelajaran. Dari capaian tersebut guru bisa memperkirakan soal yang sesuai untuk ABK dalam evaluasinya. Evaluasi pembelajaran di kelas inklusi perlu diperbaiki oleh guru. Guru perlu mengubah cara evaluasi yang tepat di kelas inklusi terutama untuk siswa ABK. Evaluasi di kelas inklusi pada ABK semestinya dilakukan secara berkelanjutan sehingga terlihat jelas perkembangan belajar siswa. Selain berkelanjutan tentunya alat ukurnya sesuai dengan kondisi peserta didik. Perubahan dalam hal evalusi penting dilakukan agar pembelajaran yang dilakukan bisa memberikan hasil yang sesuai dengan kondisi siswa dan terlihat perkembangan belajarnya sehingga bisa digunakan untuk perbaikan bagi guru dalam mengajar siswa di kelas inklusi.

Dokumen terkait