• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Data Penelitian

Hasil wawancara, observasi dan dokumentasi diperoleh informasi bahwa dalam pengelolaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Burat dilakukan oleh guru semua guru yang mengajar di kelas inklusi. Namun pengelolaan pembelajaran yang dilakukan bersifat umum tidak ada pemisahan untuk siswa ABK di kelas inklusi. Hal ini terlihat dari hasil wawancara dengan guru yang mengajar di kelas inklusi yang memperlihatkan kegiatan pembelajaran masih

dikelola secara umum, baik perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi tanpa ada perbedaan baik siswa normal maupun siswa yang memiliki kebutuhan khusus sehingga semua peserta didik memperoleh pembelajaran yang sama.

Pada waktu penelitian ini dilangsungkan, SD Negeri Burat menggunakan kurikulum 2013 dan kurikulum KTSP. Kurikulum KTSP diberikan kepada kelas III dan VI sedangkan kurikulum 2013 diberikan di kelas I,II, IV dan V. Informasi ini diperoleh dari kepala sekolah dan guru kelas yang dijadikan subyek oleh peneiliti. Penggunaan kurikulum 2013 baru diterapkan di SD ini mulai tahun 2014 semester awal, hingga penelitian ini berakhir sekolah masih menggunakan kurikulum 2013 kemudia sejak semester kedua tahun 2014, SD ini kembali menggunakan KTSP. Berikut ini merupakan pemaparan data yangdiperoleh dari hasil penelitian mengenai pengelolaan pembelajaran di kelas inklusi SD Negeri Burat.

1. Data Pengelolaan Perencanaan Pembelajaran di Kelas Inklusi a. Penyusunan silabus dan RPP di kelas inklusi

Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi dapat disajikan hasil penelitian sebagai berikut yang mencakup kegiatan pengelolaan perencanaan pembelajaran di kelas inklusi. Hasil wawancara tentang pengelolaan perencanaan pembelajaran di kelas inklusi menunjukan bahwa perencanaan pembelajaran di kelas inklusi menyangkut aspek penyusunan silabus dan RPP yang belum dipisahkan antara RPP siswa normal dan ABK di kelas inklusi. Komponen-komponen yang ada dalam RPP seperti kompetesi inti, KD, media, materi di susun oleh guru secara umum tanpa ada perbedaan untuk siswa yang memiliki

kebutuhan khusus. Penyusunan RPP oleh guru yang mengajar kelas inklusi ini dilakukan pada awal semester bersama-sama dengan guru kelas regular pada forum KKG. Berikut hasil wawancara dengan NG tanggal 23 September 2014 yang telah direduksi mengatakan “untuk silabus sudah dipetakan dari pusat sehingga hanya membuat RPP secara bersama di forum KKG mengingat kurikulum 2013 masih baru sehingga masih bingung kalau untuk dikerjakan sendiri dan silabus, RPP siswa berkebutuhan khusus di kelas V saat ini masih disamakan dengan siswa normal”. Penyusunan RPP yang dilakukan NG selaku guru kelas V memperlihatkan bahwa rencana pembelajaran yang dibuat adalah rencana pembelajaran yang berlaku untuk semua siswa di kelas inklusi artinya RPP yang digunakan oleh NG tidak membedakan untuk siswa normal dan ABK.

Penyusunan silabus dan RPP yang tidak membedakan ABK ini, ternyata tidak hanya dilakukan oleh NG saja melainkan juga guru mapel agama. Berikut ini pernyataan NR guru agama terkait penyusunan silabus dan RPP pada tanggal 26 September 2014 mengatakan bahwa “silabus dan RPP agama justru sudah dibuatkan dari kabupaten langsung, saya hanya membuat soal untuk latihan saja”. RPP dan silabus agama sudah dibuatkan dari kabupaten padahal silabus yang berasal dari kabupaten berlaku untuk seluruh SD yang ada kabupaten artinya pihak kabupaten membuat silabus maupun RPP berdasarkan pada standar sekolah pada umumnya. Pihak kabupaten tidak mempertimbangkan dengan adanya lebel sekolah inklusi. Oleh karena itu perbaikan RPP menjadi tugas guru untuk dapat menyesuaikan RPP berdasarkan kondisi siswa dan sekolah. Guru agama perlu merubah komponen yang ada berdasarkan kondisi sekolah baik kondisi siswa

maupun kondisi sumber daya yang dimiliki seperti sarana pembelajaran termasuk media pembelajaran. Namun dari dokumen yang diperoleh terlihat bahwa RPP kegiatan pembelajaran belum disesuiakan dengan kondisi peserta didik yang ada di kelas inklusi

SU selaku guru kelas III juga mengungkapkan dalam wawancara tanggal 22 September 2013 terkait dengan penyusunan silabus dan RPP yang mengungkapkan bahwa “kalau silabus sudah tinggal copy. Idealnya memang untuk KTSP membuat masing-masing setiap satuan pendidikan. Tapi biasanya disamakan satu kecamatan, kalau tidak ada mencari di internet. Artinya kita membuat tapi copy paste”. Dari paparan di atas dapat diketahui bahwa SU membuat silabus untuk pembelajaran dengan mengkopi silabus dan RPP yang sudah ada sebelumnya.

Dari keterangan yang diperoleh di atas menyatakan bahwa pembuatan silabus dan RPP dilakukan secara bersama-sama dengan guru lain di dalam forum KKG walaupun terkadang juga mengkopi dari silabus dan RPP tahun sebelumnya. Dalam keterangan di atas dapat diperoleh informasi bahwa secara umum silabus maupun RPP yang dibuat berlaku secara umum untuk kegiatan pembelajaran di kelas inklusi. Hasil ini juga dapat dilihat dari dokumen yang diperoleh dan terlampir pada lampiran yang memperlihatkan bahwa RPP yang ada berlaku secara umum untuk semua siswa di kelas inklusi. Komponen-komponen yang ada dalam RPP tidak disusun oleh guru secara khusus untuk pembelajaran ABK di kelas inklusi. Hasil di atas memperlihatkan bahwa pengelolaan silabus dan RPP oleh guru yang mengajar di kelas inklusi belum dilakukan secara khusus untuk

siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Silabus dan RPP untuk pembelajaran di kelas inklusi dikelola oleh guru yang mengajar tanpa membedakan untuk siswa normal dan ABK.

b. Perencanaan materi pembelajaran

Tugas yang juga harus dipersiapkan dalam mengelola perencanaan pembelajaran oleh guru yang mengajar di kelas inklusi adalah merencanakan materi pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru yang mengajar di kelas inklusi SD Negeri Burat mengungkapakan bahwa materi pembelajaran yang direncanakan untuk kegiatan pembelajaran di kelas inklusi sejauh ini tidak dibedakan. Materi pembelajaran dipilih berdasarkan pada SK dan KD. Berikut ini hasil wawancara dari SU terkait dengan pemilihan materi pembelajaran di kelas inklusi sebagai berikut:

“Kalau pemilihan materi sudah ada sesuai dengan KD tetapi nanti kita bisa mencari dari berbagai sumber seperti tadi misal dari erlangga, ada yang dari BSE, dari intan dan dari berbagai sumber. Tapi untuk yang kurikulum 2013 belum begitu jelas, kelas III belum memakai kurikkulum 2013. Materinya sudah ada di buku perlu pengembangan banyak tugas dan banyak prakteknya. Sementara ini pertimbangannya dalam pemilihan materi hanya berdasarkan pada KD, hal ini karena siswa yang berkebutuhan khusus yakni PYR dan WP tidak begitu parah, mereka masih bisa mengikuti sehingga kita samakan dengan materi siswa normal”

Hal serupa juga diungkapkan oleh NG selaku guru kelas V (hasil wawancara terlampir) yang menyatakan bahwa “Pemilihan materi dalam kegiatan pembelajaran di kelas inklusi di sesuaikan dengan kompetensi inti dan KD yang telah ditetapkan sebelumnya”. Materi dipilih dari buku paket yang digunakan siswa. Apabila materi yang akan disampaikan tidak ada dalam buku yang menjadi pegangan maka guru akan mengambilkan dari buku lain sehingga materi yang

diajarkan bisa sesuai dengan yang telah ditetapkan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa materi yang direncanakan dalam pembelajaran di kelas inklusi belum dipersiapkan oleh guru dengan memperhatikan keadaan peserta didik di kelas inklusi

Selain dari hasil wawancara, hasi dokumentasi yang ada yaitu dokumen RPP memperlihatkan bahwa materi yang ada di dalam RPP tidak menunjukkan perbedaan antara materi untuk pembelajaran siswa normal dan ABK di kelas inklusi.

c. Perencanaan metode pembelajaran

Metode yang direncanakan untuk pembelajaran di kelas inklusi berdasarkan hasil wawancara dengan dengan NG selaku guru kelas V menyatakan bahwa dalam merencanakan metode untuk pembelajaran di kelas inklusi, NG menggunakan metode seperti metode ceramah, diskusi dan pemberian tugas. Metode ini berlaku untuk semua siswa tidak terkecuali ABK. Hal ini juga diungkapkan oleh SU selaku guru kelas III yang menyatakan bahwa metode yang digunakan antara lain diskusi, tanya jawab, penugasan. Berikut ini hasil wawancara dengan SU “metode yang digunakan di kelas sama, hanya ada perhatian yang lebih ketika siswa berkebutuhan khusus mengerjakan matematika dan menulis. Kalau kelompok bisa bersama-sama, hanya membutuhkan perhatian dan bimbingan yang lebih saja”.

Metode yang direncanakan untuk pembelajaran di kelas inklusi dari hasil wawancara di atas pada dasarnya sama dengan metode yang direncanakan untuk

pembelajaran siswa normal. Metode dalam pembelajaran di kelas inklusi hendaknya dapat direncanakan oleh guru dengan mempertimbangkan karakteristik siswa yang belajar pada kelas inklusi.

d. Perencanaan media dan pendekatan pembelajaran.

Tugas guru tidak hanya mengajar tetapi juga memiliki tugas lain seperti merencanakan hal-hal yang mendukung dalam pembelajaran diantaranya merencanakan media dan pendekatan dalam mengajar. Media pembelajaran berperan memberikan kemudahan bagi siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Oleh karena itu agar siswa paham dan mengerti menganai materi yang akan diajarkan guru perlu merencanakan media yang dirasa tepat. Dalam pembelajaran di kelas inklusi, media membantu siswa untuk paham mengani materi. Dari hasil wawancara yang dilakukan dapat diketahui bahwa media yang direncanakan dalam pembelajaran di kelas inklusi berupa media visual. Hal ini berdasarkan penuturan NR selaku guru agama “media yang digunakan sebagian besar berupa media visual yang dapat dilihat seperti buku dan gambar”. Media yang direncanakan dalam kegiatan pembelajaran berlaku untuk semua siswa artinya siswa di kelas inklusi menggunakan media pembelajaran yang sama tidak terkecuali ABK. Sedangkan dalam pendekatan pembelajaran, SU mengungkapkan bahwa pendekatan yang direncanakan dalam mengajar di kelas inklusi bersifat klasikal. Berikut ini hasil wawancara dengan SU sebagai berikut: “untuk pendekatannya tidak secara khusus kita rencanakan untuk ABK, kita memilih yang bervariasi agar anak aktif kita memilih pendekatan yang bisa mengaktifkan anak. Bisa kelompok bisa individu tapi kalau kelompok kita

maunya anak supaya berfikir bersama tapi kadang-kadang malah tidak mengerjakan”. Lebih lanjut NR juga mengungkapkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran berupa pendekatan scientific. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang harus digunakan oleh guru dengan cara menanya, mengamati, mencoba, menalar dan mengkomunikasikan.

Dari hasil di atas dapat diketahui bahwa perencanaan media maupun pendekatan yang akan digunakan dalam pembelajaran direncanakan oleh guru untuk semua siswa tanpa ada membedakan untuk siswa berkebutuhan khusus. Pendekatan pembelajaran di kelas inklusi pada dasarnya memiliki sedikit perbedaan terutama pada siswa berkebutuhan khusus. Siswa yang memiliki keterbatasan dalam mengikuti pembelajaran membutuhkan perlakukan yang berbeda dengan siswa normal dimana mereka perlu dibantu secara individual sehingga mereka bisa lebih memahami apa yang diajarkan guru.

Perencanaan yang dikelola guru di kelas inklusi SD Negeri Burat pada dasarnya tidak memberikan perbedaan antara siswa normal dan siswa berkebutuhan khusus di kelas inklusi. Aspek silabus, RPP, materi pembelajaran, metode, media pembelajaran, pendekatan dalam pembelajaran direncanakan untuk digunakan secara bersama-sama di kelas inklusi. Adapun alasan mengapa perencanaan pembelajaran masih dibuat sama karena asumsi dari guru yang mengajar bahwa proses perencanaan pembelajaran yang disusun dengan membedakan antara siswa normal dan ABK dibuat oleh GPK (Guru Pembimbing Khusus). Hal ini diungkapkan oleh NG “Karena di SD ini belum ada GPKnya, sehingga silabusnya sama. Iya RPP dan silabus sama dengan yang lain, kalau kita

lihat jumlah siswa kelas V ada 45 dan ABK 5, kalau guru kelas hanya mengutamakan ABK nanti yang 40 malah jadi korban”.

2. Data Pengelolaan Pelaksanaan Pembelajaran di Kelas Inklusi

Berikut ini disajikan data mengenai pengelolaan pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas inklusi ada beberapa perbedaan dengan pembelajaran di kelas regular pada umumnya. Perbedaan tersebut dapat terlihat dari penyampaian materi, metode, media maupun pendekatan yang digunakan dalam mengajar siswa normal dan ABK kelas inklusi. Berikut ini adalah hasil observasi di kelas inklusi dalam pelakasanaan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran terbagi menjadi 3 kegiatan utama yakni kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.

a. Kegiatan Pendahuluan

Dari hasil observasi dalam pengelolaan pelaksanaan pembelajaran diperoleh gambaran bahwa kegiatan pendahuluan yang dilakukan oleh guru di kelas inklusi dilakukan dengan berdoa secara bersama-sama yang dilanjutkan dengan memberikan salam kepada para peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas III, SU selaku guru kelas melakukan kegiatan apersepsi untuk menjajaki kemampuan peserta didik di kelas III. Kegiatan apersepsi dilakukan dangan memberikan pertanyaan mengenai hewan-hewan yang ada di sekitar lingkungan. Apersepsi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak informasi yang telah diketahui oleh guru sehingga guru dapat memperkirakan seberapa luas materi yang akan diberikan. Kegiatan apersepsi di kelas III direspon oleh siswa dengan menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru. Namun dari pertanyaan yang

ditujukan kepada peserta didik di kelas inklusi sebagian besar yang menjawab adalah siswa normal sedangkan siswa ABK terlihat tidak ikut berperpatisipasi.

Kegiatan pendahuluan di kelas V oleh NG pada tanggal 23 September 2014 memperlihatkan bahwa NG melakukan apersepsi dengan materi sebelumnya tentang materi bahasa Indonesia tentang cerita kemudian NG melanjutkan penyampaian materi tentang kata baku dan tidak baku yang ada dalam sebuah cerita. Dalam kegiatan tersebut NG beberapa kali melontarkan pertanyaan kepada semua siswa namun hanya siswa normal yang aktif berpartisipasi menjawab pertanyaan guru. Pengelolaan kegiatan pendahuluan di kelas inklusi dalam pelaksanaannya tidak memberikan perbedaan dengan siswanormal.

b. Kegiatan Inti

1) Penyampaian materi pembelajaran

Dari hasil observasi dalam hal penyampaian materi pembelajaran di kelas inklusi memperlihatkan bahwa tiga guru yang mengajar di kelas inklusi tidak membedakan dalam hal materi pembelajaran. Materi yang diberikan pada pembelajaran di kelas inklusi pada intinya tidak ada perbedaan dalam hal kedalaman dan keluasan materi pembelajaran. Berikut ini hasil obeservasi dalam hal penyampaian materi pembelajaran oleh NG di kelas V pada tanggal 23 September 2014 sebagai berikut

“materi pembelajaran yang diberikan oleh guru di kelas inklusi memiliki kesamaan antara siswa normal dengan ABK. Materi yang diberikan pada mata pelajaran bahasa Indonesia mengenai kata baku dan tidak baku. NG menerangkan materi secara umum kepada semua siswa di kelas. Setelah penjelasan materi selesai NG langsung mengukur pemahaman siswa guru memberikan soal bahasa Indonesia untuk para siswa dengan cara mendikte. Setelah soal yang diberikan telah selesai dikerjakan, NG menyuruh untuk dicocokkan secara bersama-sama dengan cara ditukar. Dari 10 soal yang

diberikan, FY dan RW memperoleh nilai 0. Sedangkan FA memperoleh nilai 2”

Penyampaian materi pembelajaran di kelas III pada tanggal 22 September 2014 yang dilakukan SU yakni sebagai berikut:

SU mengajar di kelas III, SU menyampaikan dan menjelaskan materi tentang ciri-ciri makhluk hidup dan jenis hewan berdasakan makanannya. Materi ini berlaku untuk semua siswa. Siswa ABK juga ikut menyimak materi yang disampaiakan. Beberapa kali SU mencoba menyampaikan materi dengan melontarkan pertanyaan namun pertanyaan tersebut sebagaian besar direspon oleh siswa normal. Kegiatan dilanjutkan dengan memberikan tugas kepada siswa di kelas untuk mengerjakan soal di buku paket tentang hewan berdasarkan jenis makanan. Dari aktivitas tersebut semua anak mengerjakan tugas kemudian setelah selesai, di bahas secara bersama. SU menawarkan kepada semua siswa untuk menuliskan jawaban di papan tulis karena tidak ada yang berkenan, maka SU langsung menunjuk siswa. Namun sebagian besar yang ditunjuk maju adalah siswa normal.

Hasil observasi di atas menunjukkan bahwa materi yang diberikan oleh guru di kelas inklusi tidak mempertimbangkan pada kondisi dan karakteristik siswa yang ada. SU selaku guru kelas III menyatakan bahwa pemberian materi pembelajaran di kelas tidak dibedakan untuk ABK karena SU beranggapan bahwa ABK yang ada di kelas inklusi masih mampu untuk mengikuti pembelajaran seperti siswa normal pada umumnya. Namun kondisi berbeda terjadi di kelas V dimana siswa ABK di kelas inklusi memiliki kesulitan untuk mengikuti pembelajaran hal ini karena ABK yang ada di kelas V terutama FY belum bisa menulis dan membaca. Dengan demikian karena FY belum bisa menulis dan membaca, FY hanya mendengarkan materi yang disampaikan. Untuk menulis maupun membaca saja FY belum bisa apalagi untuk memahami materi pelajaran. Kondisi FY sedari awal sudah diketahui oleh NG bahwa FY belum bisa untuk menulis dan membaca

namun NG kurang mempedulikan FY sehingga dalam kegiatan pembelajaran FY hanya diam.

2) Penggunaan metode pembelajaran

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada guru kelas dan mata pelajaran diketahui bahwa metode yang digunakan dalam pembelajaran di kelas inklusi adalah metode ceramah, penugasan, diskusi. Berikut ini hasil wawancara dengan guru terkait dengan metode digunakan dalam kegiatan pembelajaran

NG : “Metode yang digunakan ceramah, penugasan, tanya jawab, diskusi

SU :“Metode kami menyesuaikan dengan materi, mencoba untuk menggunakan metode yang bisa mengaktifkan siswa. Namun kalau diskusi masih sulit dilakukan untuk kelas III

NR : “saya biasanya menggunakan metode ceramah dan penugasan”

Metode yang digunakan oleh guru dalam menyampaikan materi pembelajaran di kelas inklusi tidak ada perbedaan metode yang digunakan baik untuk siswa normal maupun ABK. Dalam metode penugasan di kelas inklusi siswa juga ikut berpatisipasi mengerjakan tugas walaupun guru sudah mengetahui bagaimana kondisi kemampuan siswa di kelas inklusi, guru kelas tidak memberikan perbedaan tugas sehingga siswa normal maupun siswa berkebutuhan khusus mengerjakan tugas yang sama.

3) Pengunaan media pembelajaran dan pendekatan

Dari hasil wawancara yang dilakukan diketahui bahwa guru menggunakan media pembelajaran di kelas inklusi, akan tetapi media yang digunakan antara siswa normal dan ABK di kelas inklusi tidak ada perbedaan. Dari hasil observasi terlihat bahwa guru menggunakan media pembelajaran pada dan bukan media

yang dipersiapkan secara khusus dalam kegiatan pembelajaran di kelas inklusi. Hasil observasi di kelas inklusi memperlihatkan bahwa media yang digunakan sebagian besar berupa media visual yakni buku paket dan LKS. Semua siswa menggunakan buku paket sebagai media pembelajaran. Tidak ada media khusus yang disiapkan oleh guru dalam melaksanaakan pembelajaran. Dengan demikian dapat diartikan media pembelajaran di kelas inklusi berlaku penggunaannya untuk semua siswa yang ada di kelas inklusi. Sedangkan untuk pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran terlihat bahwa guru kelas maupun guru mata pelajaran menggunakan pendekatan secara umum atau klasikal untuk semua siswa di kelas inklusi. Hal tersebut terlihat dari hasil observasi bagaimana guru memberikan kesempatan untuk bertanya maupun menjawab, menyampaikan materi dan menggunakan metode kepada semua siswa secara sama tanpa ada perbedaan. Dari perlakuan seperti di atas dapat diketahui bahwa guru tidak membedakan siswa di kelas inklusi. Padahal dikelas V sudah diketahui bahwa ABK yang ada sangat lambat dalam menerima materi bahkan belum bisa menulis dan membaca. Kondisi seperti ini idealnya guru yang mengajar membantu siswa ABK dengan memberikan pendekatan individu namun yang terlihat justru ABK terabaikan oleh guru.

4) Mengelola kelas

Tugas lain yang diemban guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas inklusi adalah selain meyampaikan materi adalah mengelola kelas untuk menciptakan kondisi kelas yang mendukung kegiatan pembelajaran, menciptakan kenyamanan, untuk semua warga kelas. Hasil observasi di kelas V

memperlihatkan bahwa hubungan guru dan peserta didik terutama siswa ABK kurang hangat, ABK tidak diberi dorongan motivasi dan justru diabaikan oleh guru. Hal serupa juga terlihat dari interaksi antara siswa normal dan siswa ABK di kelas V. Interaksi yang terjalin antara siswa normal dan siswa ABK tidak sehangat interaksi sesama siswa normal, hanya beberapa teman yang mengajak diskusi maupun bermain dengan ABK. Dalam pengamatan juga terlihat adanya ketidakharmonisan siswa normal dan ABK. Dalam salah satu observasi pernah terjadi perkelahian antara siswa normal dan ABK. Kondisi tersebut terjadi pada saat guru meninggalkan kelas untuk rapat. Ketua kelas yang harusnya melerai justru tidak bisa berbuat apa-apa. Hal tersebut menunjukkan kondisi kelas yang kurang ramah dan hangat sebagai kelas inklusi. Selain kondisi kelas yang kurang ramah, pengaturan tempat duduk di kelas inklusi juga belum diperhatikan oleh guru yang mengajar. Dari hasil wawancara dengan NG tanggal 23 September 2014 mengenai pengaturan tempat duduk di kelas inklusi “saya membebaskan siswa untuk duduk, tidak ada pengaturan tempat duduk dan apabila akan dirubah terkendala juga dengan banyaknya jumlah siswa jika akan diatur”. Hal serupa juga dinyatakan oleh SU dan NR bahwa mereka tidak mengatur tempat duduk siswa.

Tempat duduk yang tidak diatur oleh guru menyebabkan siswa ABK menjadi tersisihkan. Dari hasil observasi terlihat bahwa tempat duduk untuk ABK di kelas inklusi justru berada di tempat paling belakang dan beberapa justru duduk

Dokumen terkait