• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

1. Analisis Data Hasil Tes Tertulis

Data yang diperoleh dari hasil tes diagnostik pilihan ganda beralasan tertutup sangat bervariasi antara persentase siswa yang paham konsep, miskonsepsi dan persentase siswa yang tidak paham konsep. Dari hasil penelitian didapatkan persentase keseluruhan siswa yang paham konsep, miskonsepsi dan tidak paham konsep. Persentase siswa yang paham konsep pada materi gerak dua dimensi (gerak parabola dan gerak melingkar) sebesar 51%, persentase yang mengalami miskonsepi sebesar 44,25% dan persentase siswa yang tidak paham konsep sebesar 4,75%. Dari tabel 4.4 persentase paham konsep, miskonsepsi, dan tidak paham konsep berdasarkan nomor soal sangat beragam. Dari 20 butir soal yang diujikan terdapat 2 butir soal yang paling besar persentase paham konsepnya, yaitu pada soal nomor 8 dan 14 (lihat lampiran 1). Masing-masing 80% siswa paham konsep pada nomor soal tersebut.

Pada soal nomor 8 rata-rata siswa yang paham konsep sebanyak 80% dan 20% siswa mengalami miskonsepsi, itu berarti tidak ada siswa yang tidak paham konsep pada nomor soal ini. Pada soal nomor 8 ini siswa diminta untuk mengamati gambar grafik gerak parabola. Dari jawaban dan alasan yang dipilih dapat disimpulkan bahwa, siswa sudah memahami jika benda bergerak keatas pada gerak parabola maka benda akan mengalami perlambatan, karena dipengaruhi oleh percepatan gravitasi yang nilainya negatif (melawan arah gravitasi).

Soal nomor 14, persentase siswa yang paham konsep sebesar 80%, siswa yang mengalami miskonsepsi 17,5%, dan sisanya 2,5% siswa tidak paham konsep. Pada soal nomor 14 ini siswa diminta untuk mencari besar posisi sudut benda dari persamaan kecepatan sudut. Dari jawaban dan alasan yang dipilih, dapat dilihat bahwa siswa memahami jika fungsi posisi sudut merupakan integral dari fungsi kecepatan sudut. Sehingga sebelum mereka menghitung besar posisi sudutnya, terlebih dahulu mereka mencari persamaan posisi sudut berdasarkan integral dari fungsi kecepatan sudut.

60

Persentase terbesar kedua yang paham konsep terdapat pada soal nomor 1 dan 17 (lihat lampiran 1), dengan persentase masing-masing sebesar 72,5%. Pada soal nomor 1, persentase siswa yang paham konsep sebanyak 72,5% dan sisanya 27,5% siswa mengalami miskonsepsi, itu berarti tidak ada siswa yang tidak paham konsep pada nomor soal ini. Pada soal nomor 1 ini siswa diminta untuk menghitung jarak horizontal benda sampai mencapai tanah pada gerak parabola. Dari alasan yang mereka pilih dapat dilihat bahwa siswa memahami soal tersebut. Mereka paham jika jarak horizontal sampai benda mencapai tanah adalah sama dengan jarak maksimum yang dapat dicapai benda, sehingga mereka

menggunakan rumus .

Soal nomor 17, persentase siswa yang paham konsep sebesar 72,5% dan sisanya 27,5% siswa mengalami miskonsepsi, itu berarti tidak ada siswa yang tidak paham konsep. Pada nomor soal ini siswa diminta untuk mencari tahu penyebab planet-planet tetap berada pada orbitnya. Sebagian besar siswa menjawab dengan benar, yaitu karena adanya percepatan sentripetal. Siswa menjawab demikian karena siswa paham bahwa percepatan sentripetal merupakan percepatan yang arahnya selalu menuju pusat lingkaran, sehingga menyebabkan planet-planet tetap berada pada orbitnya.

Urutan ketiga persentase terbesar siswa yang paham konsep terdapat pada soal nomor 15 dan 18 (lihat lampiran 1), dengan persentase masing-masing sebesar 65%. Pada soal nomor 15, persentase siswa yang paham konsep sebesar 65% dan sisanya 35% siswa mengalami miskonsepsi, itu berarti tidak ada siswa yang tidak paham konsep. Pada nomor soal ini siswa diminta untuk menghitung besar perubahan kecepatan sudut benda pada detik kedua dan ketiga dari persamaan percepatan sudut. Sebagian besar siswa memahami bahwa fungsi kecepatan sudut merupakan integral dari fungsi percepatan sudut, sehingga sebelum mereka menghitung perubahan kecepatan sudutnya, terlebih dahulu mereka mencari persamaan kecepatan sudut berdasakan integral dari fungsi percepatan sudut.

61

Soal nomor 18, 65% siswa memahami konsep, 32,5 % siswa mengalami miskonsepsi dan sisanya 2,5% siswa tidak paham konsep. Pada nomor soal ini siswa diminta untuk mencari tahu, mengapa pengendara motor pada permainan “tong setan” tetap berada pada lintasannya yang melingkar (tidak terpental/jatuh). Sebagian besar siswa menjawab dengan benar, yaitu karena adanya pengaruh percepatan sentripetal. Siswa memahami bahwa percepatan sentripetal merupakan percepatan yang arahnya selalu menuju pusat lingkaran, sama halnya seperti planet-planet yang tetap berada pada orbitnya (soal nomor 17).

Nomor-nomor soal yang sudah disebutkan diatas, lebih dari sama dengan 65% siswa memahami konsep, sisanya memperoleh kurang dari 65%, yaitu pada soal nomor 2,3,4,5,6,7,9,10,11,12,13,19, dan 20 (lihat lampiran 1). Dari semua nomor soal tersebut soal nomor 2,3,4, dan 10 yang paling banyak mengalami miskonsepsi (hanya sedikit siswa yang paham konsep).

Soal nomor 2, hanya 10% siswa yang paham konsep dan sisanya 90% siswa mengalami miskonsepsi. Pada soal nomor 2, siswa yang mengalami miskonsepsi sudah menjawab soal dengan benar, hanya saja mereka salah dalam memilih alasan. Pada soal ini siswa diminta untuk menghitung ketinggian maksimum yang dicapai peluru pada gerak parabola. Siswa sudah menjawab dengan benar, yaitu 5 meter dengan menggunakan rumus .

Sebagian besar siswa memilih opsi B pada pilihan alasan, yaitu tinggi maksimum dicapai ketika kecepatan benda di puncak maksimum. Alasan yang benar adalah tinggi maksimum dicapai ketika kecepatan benda di puncak sama dengan nol. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa, mereka beranggapan bahwa kecepatan benda saat dipuncak adalah maksimum. Sehingga mereka berfikir bahwa ketinggian maksimum yang dapat dicapai peluru adalah ketika kecepatan benda di puncak maksimum.

Soal nomor 3, hanya 2,5% siswa yang paham konsep, 72,5% siswa mengalami miskonsepsi dan sisanya 25% siswa tidak paham konsep. Siswa yang mengalami miskonsepsi sebagian besar menjawab salah, namun benar dalam memilih alasan. Dan sebagian kecilnya menjawab soal dengan benar, namun salah

62

dalam memilih alasan. Siswa yang salah menjawab soal disebabkan mereka salah menggunakan rumus, namun mereka memahami bahwa kelajuan benda pada sumbu-x selalu tetap, sedangkan pada sumbu-y selalu berubah. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa siswa, mereka menjawab salah dikarenakan pada saat mengerjakan soal tersebut mereka lupa bahkan ada yang tidak tahu harus memakai rumus apa, sehingga mereka mencoba-coba dengan menggunakan rumus yang mereka ingat.

Untuk siswa yang menjawab benar namun alasan salah, sebagian besar siswa memilih opsi B pada pilihan alasan, yaitu kelajuan benda pada sumbu-x selalu berubah, sedangkan pada sumbu-y selalu tetap. Alasan yang benar adalah kelajuan benda pada sumbu-x selalu tetap, sedangkan pada sumbu-y selalu berubah. Mereka masih belum memahami perbedaan antara kecepatan pada sumbu-x dengan kecepatan pada sumbu-y.

Soal nomor 4, hanya 20% siswa yang paham konsep, 77,5% siswa mengalami miskonsepsi, dan 2,5% siswa tidak paham konsep. Siswa yang mengalami miskonsepsi sudah menjawab soal dengan benar, namun mereka salah dalam memilih alasan. Sebagian besar siswa memilih opsi B pada pilihan alasan, yaitu tinggi maksimum dicapai ketika kecepatan benda di puncak maksimum. Seperti halnya pada soal nomor 2, mereka beranggapan bahwa kecepatan benda pada saat di puncak adalah maksimum. Sehingga mereka berfikir bahwa ketinggian maksimum adalah ketinggian yang dicapai ketika kecepatan benda di puncak maksimum. Padahal yang seharusnya adalah ketinggian maksimum dicapai ketika kecepatan benda di puncak sama dengan nol. Karena kecepatan benda ketika di puncak pada gerak parabola adalah sama dengan nol.

Soal nomor 10, hanya 22,5% siswa paham konsep dan sisanya 77,5% siswa mengalami miskonsepsi. Siswa yang mengalami miskonsepsi sudah menjawab soal dengan benar, hanya saja mereka salah dalam memilih alasan. Pada soal ini siswa diminta untuk menghitung perbandingan kecepatan benda berdasarkan gambar grafik gerak parabola, yaitu pada saat benda berada pada posisi no. 2 (ketika benda naik) dan no. 4 (ketika benda turun) jika ditinjau pada

63

sumbu-x. Jawaban mereka sudah benar, yaitu 1:1, namun alasan mereka masih salah.

Sebagian besar siswa memilih opsi A pada pilihan alasan, yaitu posisi no. 2 dan 4 berada pada ketinggian yang sama. Alasan yang benar adalah kecepatan benda pada sumbu-x selalu tetap. Mereka memilih alasan tersebut karena mereka melihat bahwa posisi benda pada no. 2 maupun no. 4 berada pada ketinggian yang sama, sehingga kecepatannya pun akan sama. Mereka tidak memperhatikan gerak yang berlaku pada sumbu-x. Pada sumbu-x pada gerak parabola berlaku gerak lurus beraturan, sehingga pada saat di posisi manapun kecepatannya selalu sama,

yaitu .

Jika dilihat dari indikator konsep yang diujikan seperti pada tabel 4.5, soal nomor 2,3 dan 4 terdapat pada indikator yang sama, yaitu menganalisis vektor posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola. Sedangkan soal nomor 10 terdapat pada indikator merumuskan hubungan posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola.

Berdasarkan tabel 4.5 perhitungan persentase miskonsepsi berdasarkan indikator atau sub pokok bahasan, rata-rata terbesar siswa yang mengalami miskonsepsi terdapat pada indikator menganalisis vektor pisisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola dengan besar persenatse rata-rata 66%. Dan persentase miskonsepsi terbesar kedua dengan persentase rata-rata 46,5% terdapat pada indkator merumuskan hubungan posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola.

Sedangkan untuk indikator menganalisis vektor kecepatan pada gerak melingkar dan indikator merumuskan hubungan posisi sudut, kecepatan dan percepatan pada gerak melingkar persentase rata-rata yang mengalami miskonsepsi di bawah 40%. Untuk indikator menganalisis vektor kecepatan pada gerak melingkar yang mengalami miskonsepsi persentase rata-ratanya sebesar 30,83%. Dan untuk indikator merumuskan hubungan posisi sudut, kecepatan dan percepatan pada gerak melingkar persentase rata-rata miskonsepsinya sebesar 34,375%.

Berdasarkan tabel 4.5, rata-rata persentase miskonsepsi secara keseluruhan pada konsep gerak dua dimensi yang terdiri dari gerak parabola dan gerak

64

melingkar sebesar 44,25%. Indikator yang paling banyak mengalami miskonsepsi terdapat pada indikator pertama, yaitu menganalisis vektor posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola. Dan pada indikator kedua, yaitu merumuskan hubungan posisi, kecepatan dan percepatan gerak parabola. Jika dilihat dari tingkat kognitifnya, miskonsepsi terjadi pada jenjang kognitif C2, C3 dan C4. Hal ini berarti siswa mengalami miskonsepsi pada tingkat memahami, mengaplikasi dan menganalisis.

Miskonsepsi terjadi karena banyak hal. Secara garis besar penyebab miskonsepsi pada siswa dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut ini, yaitu kesalahan dari siswa sendiri, kesalahan dari guru ketika menjelaskan pelajaran, kesalahan dari buku teks yang digunakan, kesalahan konteks, dan kesalahan dari metode mengajar yang digunakan oleh guru saat pembelajaran. Miskonsepsi dalam bidang fisika paling banyak berasal dari diri siswa sendiri. Miskonsepsi yang berasal dari siswa dapat dikelompokkan dalam beberapa hal, antara lain: prakonsepsi atau konsep awal siswa, pemikiran asosiatif, pemikiran humanistik, reasioning yang tidak lengkap/salah, intuisi yang salah, tahap perkembangan kognitif siswa, kemampuan siswa, dan minat belajar siswa.57

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Fakhruddin, dkk. didapatkan bahwa, pada umumnya siswa mengalami miskonsepsi pada pelajaran fisika disebabkan oleh pemikiran asosiatif rata-rata berkontribusi sebesar 80%, pemikiran humanistik 83%, alasan yang tidak lengkap 12%, intuisi yang salah 86%, tahap perkembangan kognitif 85% dan kemampuan siswa 70% sedangkan minat belajar siswa tidak memberikan kontribusi atau memicu terhadap terjadinya miskonsepsi siswa.58

Miskonsepsi yang terjadi tidak dapat dibiarkan terlalu lama, karena akan menghambat siswa dalam mempelajari pelajaran selanjutnya. Setelah diketahui letak miskonsepsi yang terjadi, guru dapat dengan segera memberikan perbaikan

57 Paul Suparno,

Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan Fisika, (Jakarta: Grasindo, 2005), h. 34.

58 Fakhruddin, Azizahwati dan Yelfi Rahmi, Analisis Penyebab Miskonsepsi Siswa pada

Pelajaran Fisika di Kelas XII SMA/MA Kota Duri, Jurnal Pendidikan Matematika volume 3 nomor 1, 2012, hal. 87.

65

untuk mengatasi miskonsepsi tersebut. Guru dapat mengelompokkan siswa yang mengalami kesulitan yang sama dalam satu kelompok untuk diberi perlakuan yang sama pula, sedangkan untuk yang sudah tuntas guru juga dapat memilih perlakuan yang sesuai dengan meneruskan pembelajaran ketingkat selanjutnya. Hal ini sesuai dengan teori Nana Sukmadinata dan Thomas tentang kegiatan perbaikan yang dapat dilakukan dengan berbagai metode dan perlakuan yang berbeda tergantung dari analisis kesulitan dan perkembangan belajar siswa, antara lain pengajaran konsep ulang, penyederhanaan kosep, studi kasus, atau aplikasi ke tingkat yang lebih tinggi baik dengan cara diskusi kelompok, pemberian PR, atau pemanfaatan media pengajaran lainnya.59

Dokumen terkait