• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian Terdahulu

Dalam dokumen ANALISIS PENDAPATAN PETANI PENGGARAP PAD (Halaman 46-83)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

H. Penelitian Terdahulu

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Mutia Handayani (2006) tentang Analisis Profitabilitas dan Pendapatan Usahatani Padi Sawah Menurut Luas dan Status Kepemilikan Lahan Di Desa Karacak Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat, tujuan dari penelitian ini (1) Menganalisis biaya-biaya usahatani padi sawah berdasarkan status kepemilikan lahan dan luas garapan usahatani, (2) Menganalisis pendapatan usahatani padi sawah pada usahatani milik dan usahatani bukan milik serta pada usahatani milik luas dengan usahatani milik lahan sempit, (3) Menganalisis profitabilitas usahatani padi sawah menurut status kepemilikan lahan dan luas garapan usahatani. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis biaya, pendapatan dan profitabilitas (R/C rasio). Pada penelitian ini dibandingkan keadaan usahatani padi sawah menurut status kepemilikan lahan dan luas lahan garapan usahatani dengan data usahatani pada Musim Tanam II 2004/2005.

Dari hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan (1) usahatani milik jauh lebih menguntungkan dibandingkan usahatani bukan milik (sakap). Hal ini dapat dilihat dari nilai R/C rasio pada usahatani milik yang lebih besar dari pada usahatani bukan milik (sakap). Kecilnya keuntungan yang diterima dari usahatani bukan milik (sakap) disebabkan karena petani penyakap harus membayar biaya bagi hasil, (2) keuntungan dari usahatani milik lebih besar dari pada usahatani milik

sempit, melalui perhitungan nilai R/C rasio usahatani milik luas lebih besar dari pada usahatani milik sempit dan pendapatan bersih yang lebih tinggi, (3) usahatani padi sawah bukan milik (sakap) sempit lebih efisien dibandingkan usahatani bukan milik (sakap) luas. Hal ini dapat dilihat dari nilai R/C rasio yang diperoleh pada usahatani bukan milik (sakap) sempit lebih besar dibandingkan dengan nilai R/C rasio pada usahatani bukan milik (sakap) luas.

A.Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal. Pemilihan lokasi ini dilakukan secara sengaja (purposive) atas dasar bahwa 93% atau sebanyak 203 petani di desa ini merupakan petani penggarap dari total petani berjumlah 218 petani pada usahatani padi sawah dengan lahan yang digarap relatif kecil <0,5 ha dengan sistem bagi hasil sehingga diharapkan mudah untuk mengetahui dan memahami pelaksanaan bagi hasil pertanian (lampiran 5). Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan mulai dari 26 Februari sampai 26 Maret 2016.

B.Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey. Menurut Nazir (2005:56), metode survey adalah penyelidikan yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual, baik tentang institusi sosial, ekonomi, atau politik dari suatu kelompok ataupun suatu daerah. Metode survey membedah, menguliti dan mengenal masalah-masalah serta mendapatkan pembenaran terhadap keadaan dan praktik-praktik yang sedang berlangsung.

Dalam metode survey juga dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa dan hasilnya dapat digunakan dalam perbuatan rencana dan pengambilan keputusan di masa mendatang. Penelitian survey merupakan suatu penelitian kuantitatif dengan menggunakan pertanyaan terstruktur sistematis yang sama kepada banyak orang, yang diperoleh peneliti dicatat, diolah dan dianalisis (Prasetyo:2005:143).

Dengan metode survey ini dapat memperoleh fakta-fakta di lapangan dan terkait dengan pelaksanaan sistem kerjasama dan bagi hasil antara petani penggarap dengan pemilik lahan di Desa Muara Siambak. Sehingga peneliti dapat

membuat kesimpulan yang didasarkan atas fakta-fakta empiris tentang sampel penelitiannya.

C.Metode Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah petani penggarap yang mengusahakan tanaman padi sawah di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal yang berjumlah 203 orang. Dari populasi penelitian ini, untuk responden dipilih dengan cara simple random sampling. Menurut Sugiyono (2011:82), simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. Karena dalam penelitian ini, responden bersifat homogen, yaitu petani penggarap yang mengusahakan padi sawah dengan luas lahan yang relatif sama, yaitu <0,5 ha, maka peneliti mengambil sampel sebanyak 30 orang petani penggarap. Menurut Soekartawi (2003:198), sampel yang berjumlah paling sedikit 30 sampel dibutuhkan untuk menghindari bias pada perhitungan data dan agar variasi tersebut dapat ditangkap pengaruhnya.

Pihak-pihak terkait sebagai infrman kunci dipilih secara sengaja (purposive). Informan kunci yang digunakan dalam penelitian ini adalah Camat Kecamatan Kotanopan, Kepala Desa Muara Siambak, dan Tokoh Adat (hatobangon).

Tabel 1. Informan Kunci

No. Informan Kunci Jumlah Sampel (Orang)

1. Camat Kecamatan Kotanopan 1

2. Kepala Desa Muara Siambak 1

3. Tokoh Adat (hatobangon) 1

Total 3

D.Metode Pengumpulan Data 1. Data primer

Pengambilan data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan petani penggarap dengan menggunakan daftar panduan wawancara serta pengamatan langsung di lapangan.

Jenis data primer yang dikumpulkan dari petani sampel terdiri dari: sistem kerjasama dan bagi hasil antara petani penggarap dengan pemilik lahan ( latar belakang perjanjian bagi hasil, bentuk perjanjian (tertulis atau tidak tertulis), isi perjanjian yang mencakup hak dan kewajiban pihak-pihak (pengadaan bibit, saprodi), resiko, imbangan atau pembagian dari hasil panen, (penjualan hasil panen, bentuk imbangan atau bagi hasil dalam bentuk padi, beras atau uang), dan lamanya waktu atau berakhirnya perjanjian bagi hasil), teknik budidaya (pembibitan, penanaman, pemeliharaan, panen, dan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam budidaya, biaya selama produksi sampai panen, yaitu pada musim tanam terakhir, yaitu bulan Juni-Oktober 2015 (biaya bibit, biaya pupuk, biaya pestisida, biaya transportasi, biaya panen).

2. Data sekunder

Data sekunder diperoleh dari pihak lain, tidak langsung diperoleh dari subyek penelitian: instansi yang berhubungan dengan penelitian antara lain Dinas Pertanian Peternakan Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Mandailing Natal, literatur serta sumber lain yang terkait dengan judul penelitian. Data sekunder yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi keadaan umum daerah penelitian (letak geografis, luas wilayah, topografi), dan kondisi ekonomi sosial masyarakat daerah penelitian (jumlah penduduk, mata pencaharian penduduk).

E.Variabel dan Data yang Diamati

Variabel yang diamati untuk mencapai tujuan penelitian ini adalah:

1. Variabel tujuan pertama, yaitu mendeskripsikan sistem bagi hasil pada usahatani padi sawah di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, meliputi:

a. Identitas petani responden

Identitas petani yaitu, nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan terakhir, pekerjaan pokok dan pekerjaan sampingan, jumlah tanggungan keluarga, pengalaman berusahatani.

b. Model sistem kerja sama dan bagi hasil

Meliputi latar belakang perjanjian bagi hasil, bentuk perjanjian (tertulis atau tidak tertulis), isi perjanjian yang mencakup hak dan kewajiban pihak-pihak (pengadaan bibit, saprodi), imbangan atau pembagian dari hasil panen, (penjualan

hasil panen, bentuk imbangan atau bagi hasil dalam bentuk padi, beras atau uang), dan lamanya waktu atau berakhirnya perjanjian bagi hasil (Negara, 2013)

2. Variabel tujuan kedua, yaitu menganalisis besarnya pendapatan petani penggarap pada usahatani padi sawah di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, variabel yang diamati adalah:

a. Jumlah produksi, yaitu hasil yang diperoleh petani dari usahatani padi sawah yang dinyatakan dalam satuan per kg (kg/ha/MT)

b. Harga (Hx), adalah harga hasil penjualan gabah yang diperoleh petani yang dinyatakan dalam satuan (Rp/kg).

c. Penerimaan yang terdiri dari jumlah produksi yang diperoleh petani (kg) dan harga jual di tingkat petani (Rp).

d. Biaya yang ditanggung petani penggarap

Biaya yang ditanggung petani penggarap adalah biaya yang dibayarkan meliputi: biaya benih, pupuk, obat-obatan, upah tenaga kerja luar keluarga, panen, biaya irigasi, biaya angkut, dan imbangan bagi hasil (kg/MT)

e. Biaya yang ditanggung pemilik tanah

Biaya yang ditanggung oleh pemilik tanah, meliputi biaya benih, biaya pupuk, obat-obatan, dan biaya irigasi.

f. Pendapatan petani penggarap (Yi), adalah pengurangan dari penerimaan usahatani dengan biaya yang dibayarkan (Rp) (Adelina, 2014).

F. Analisis Data

Analisis data yang dilakukan adalah:

1. Analisis data yang digunakan untuk tujuan pertama, yaitu mendeskripsikan sistem bagi hasil pada usahatani padi sawah di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal. Analisis data yang dipakai adalah analisis secara deskriptif, yaitu prosedur penelitian yang menggambarkan secara keseluruhan dari fenomena sosial yang ada di daerah penelitian. Dimana data yang diperoleh dengan melakukan wawancara, dokumentasi dan observasi. Hal ini ditujukan untuk mengetahui dan memaparkan tentang pelaksanaan kerjasama dan bagi hasil antara petani penggarap dengan pemilik lahan di Desa Muarasiambak Kecamatan Kotanopan kabupaten Mandailing Natal.

2. Besarnya pendapatan usahatani padi sawah dan petani penggarap dengan sistem kerjasama dan bagi hasil di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal, diketahui dengan analisis kuantitatif. a. Penerimaan usahatani

Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penerimaan pada usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:

(Suratiyah, 2011:61) Dimana:

TR = Total Penerimaan (Rp/ha/MT) Py = Jumlah Produksi (Kg/ha/MT) Y = Harga Jual (Rp/kg)

b. Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan biaya yang dibayarkan. Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sebagai berikut:

(Soekartawi, 1995:58) Dimana:

Pd = Pendapatan usahatani (Rp/ha/MT) TR = Total penerimaan (Rp/ha/MT) Bt = Biaya yang dibayarkan (Rp/ha/MT)

TR = (Py.Y)

A.Gambaran Umum Daerah Penelitian

Desa Muara Siambak merupakan bagian dari Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara. Desa Muara Siambak terletak 2 km dari ibukota kecamatan, 42 km dari ibukota kabupaten dan 602 km dari ibukota provinsi. Desa Muara Siambak memiliki luas wilayah 159,23 Ha. Secara administratif Desa Muara Siambak ini mempunyai batas-batas daerah sebagai berikut :

1. Sebelah Utara dengan Desa Muara Pungkut 2. Sebelah Selatan dengan Desa Muara Soro 3. Sebelah Barat dengan Desa Padang Bulan 4. Sebelah Timur dengan Desa Hutarimbaru

Secara geografis, Desa Muara Siambak berada pada ketinggian 589 meter dari permukaan laut, dengan topografi lahan lembah. Desa yang bertopografi lembah adalah desa yang berada diantara dua bukit dan umumnya berada di daerah aliran sungai. Sedangkan suhu udara rata-rata 23˚ C - 32 ˚ C dengan curah hujan 1.772 pertahun. Penduduk Desa Muara Siambak pada tahun 2015 adalah sebanyak 643 jiwa dari total jumlah penduduk ini, penduduk laki-laki ada sebanyak 322 jiwa dan perempuan sebanyak 321 jiwa.

Penggunaan lahan di Desa Muara Siambak sebagian besar digunakan untuk areal persawahan seluas 89,7 Ha (56,33%). Oleh karena di Desa muara Siambak berada di ketinggian 589 mdpl dan lahan beririgasi teknis (berpengairan), maka areal lahan di Desa Muara Siambak cocok untuk ditanami oleh tanaman palawija, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai dan kacang kedelai (PPL Kecamatan Kotanopan). Namun di Desa Muara Siambak areal persawahan tersebut lebih banyak dimanfaatkan untuk usahatani padi sawah oleh masyarakatnya. Luas lahan menurut jenis penggunaannya di Desa Muara Siambak pada tahun 2014 dapat dilihat pada Tabel 2 dibawah ini.

Tabel 2. Luas Lahan Berdasarkan Penggunaannya di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal 2015

No. Penggunaan Lahan Luas Lahan (Ha) Persentase (%)

1. Pemukiman 25 15,70 2. Persawahan 89,7 56,33 3. Hutan Rakyat 24,03 15,09 4. Tegalan 18 11,30 5. Kolam 2,5 1,57 Jumlah 159,23 100,00

Sumber: Kantor Camat Kotanopan 2015

Tanaman pangan yang umumnya diusahakan oleh petani di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal adalah padi sawah, sangat jarang petani menanam jenis tanaman pangan lain dengan alasan tidak terlalu menguntungkan untuk mengusahakan tanaman lain juga kurangnya kemauan petani mengusahakan tanaman lain selain tanaman padi karena usahatani padi sawah diusahakan secara turun-temurun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga.

Pada komposisi kegiatan perekonomian penduduk, terdapat beberapa mata pencaharian di Desa Muara Siambak, dimana untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

No. Mata Pencaharian Jumlah Persentase (%)

1. Petani 245 78,78 2. PNS 15 4,82 3. Pedagang 26 8,36 4. Sopir 23 7,40 5. Polisi 1 0,32 6. Bidan 1 0,32 Jumlah 311 100

Sumber : Data Monografi Desa Muara Siambak 2016

Masyarakat di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan memiliki mata pencaharian yang relatif beragam. Berdarskan Tabel 3, dapat dilihat bahwa mata pencaharian masyarakat didominasi dengan petani (78,78%), PNS (4,82%),

pedagang (8,36%), sopir (7,40), polisi (0,32%), dan bidan (0,32%). Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa mata pencaharian masyarakat di Desa Muara Siambak terbayak di sektor pertanian. Sehingga dapat dikatakan sektor pertanian merupakan sumber penghasilan utama bagi masyarakat di Desa Muara Siambak. B.Identitas Petani Responden

Populasi dari penelitian ini adalah petani penggarap yang mengusahakan tanaman padi dengan sistem kerjasama dan bagi hasil yang ada di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal yang berjumlah 203 orang. Responden dalam penelitian ini dipilih dengan cara simple random sampling. Menurut Sugiyono (2011:82), simple random sampling adalah teknik pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi tersebut. .pengambilan sampel dilakukan secara undian dengan langkah-langkah (a) membuat daftar populasi petani penggarap, (b) memberi kode berupa angka-angka untuk semua populasi, (c) menulis kode tersebut pada selembar kertas kecil, digulung lalu dimasukkan kedalam kaleng, (d) mengambil satu-persatu gulungan tersebut sejumlah 30 gulungan, sehingga didapatkan petani sampel dalam penelitian ini berjumlah 30 orang (Lampiran 7).

Identitas petani sampel mencakup berbagai aspek, yaitu aspek umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, pekerjaan pokok dan sampingan, jumlah tanggungan dalam keluarga dan luas lahan. Aspek-aspek ini akan mempengaruhi kualitas dari usahatani yang dijalankan karena dalam usahatani, petani tidak hanya bekerja sebagai pekerja namun juga berperan sebagai manajer yang berfungsi dalam pengambilan keputusan.

Dari hasil penelitian didapatkan gambaran mengenai umur, tingkat pendidikan, pengalaman berusahatani, status kepemilikan lahan, jumlah tanggungan keluarga dan luas lahan pada Tabel 4, petani penggarap yang mengusahakan tanaman padi dengan sistem kerjasama dan bagi hasil kebanyakan berumur 15-55 tahun (66,67%) dan sebanyak 33,33% petani berumur >55. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa petani penggarap ini masih berada pada usia yang produktif. Umur produktif menurut Fadholi (1993) adalah 15-55 tahun. Dengan demikian secara umum dari responden berumur produktif. Petani

tergolong usia produktif biasanya memiliki keinginan untuk mencari uang semakin tinggi, sehingga mendorong tingkat keinginan petani untuk berusahatani.

Menurut Hanifah (1985), umur petani akan mempengaruhi kemampuan fisik bekerja dan cara berfikir, petani yang berumur muda dan sehat mempunyai kemampuan fisik yang lebih besar daripada petani yang berumur tua. Petani yang berumur muda lebih cepat menerima hal-hal baru yang dianjurkan, hal ini disebabkan karena petani muda lebih berani menanggung resiko.

Petani muda biasanya masih kurang pengalaman untuk mengimbangi kekurangan ini ia lebih dinamis, sehingga cepat mendapatkan pangalaman-pengalaman baru yang berharga bagi perkembangan hidupnya pada masa-masa yang akan datang. Petani yang relatif tua, mempunyai kapasitas pengelolaan usahatani yang lebih matang dan memiliki banyak pengalaman, karena banyaknya pengalaman-pengalaman yang dirasakannya, ia sangat berhati-hati dalam bertindak dan ia lebih cenderung pada hal yang bersifat tradisional.

Jika dilihat dari tingkat pendidikan petani penggarap 36,67% petani penggarap berpendidikan SD; 30,00% SMP; 30,00% SMA dan 3,33% berpendidikan Perguruan Tinggi. Dengan demikian rata-rata pendidikan petani penggarap di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal adalah tingkat SD yang berjumlah 11 orang.

Menurut Soeharjo dan Patong (1983) cit Ilhami (2013:33), tingkat pendidikan juga akan mempengaruhi pola berfikir petani. Tingkat pendidikan yang relatif tinggi dan umur muda menyebabkan petani lebih dinamis, dan tingkat pendidikan petani dapat mempengaruhi petani dalam mengintroduksi dan mengadopsi teknologi baru.

Tingkat pendidikan juga sangat mempengaruhi cara berfikir petani dalam mengelola usahataninya, baik dalam pengambilan keputusan maupun adopsi teknologi. Pendidikan formal yang dilalui petani akan sangat berpengaruh salam usahatani yang dilakukannya, semakin tinggi pendidikan petani maka petani tersebut akan teliti dan hati-hati dalam usahataninya.

Tabel 4. Identitas Petani Penggarap di Desa Muara Siambak Kecamatan Kotanopan Kabupaten Mandailing Natal Musim Tanam Juni – Oktober 2015

No. Keterangan Jumlah Persentase (100%)

1. Umur a. 15-55 Tahun 20 66,67 b. > 55 Tahun 10 33,33 2. Tingkat Pendidikan a. SD 11 36,67 b. SMP 9 30 c. SMA 9 30 d. PT 1 3,33 3. Pekerjaan Pokok a. Petani Penggarap

sebagai Pekerjaan Pokok 9 30 a. Petani Penggarap sebagai Pekerjaan Sampingan 21 70 4. Pengalaman Berusahatani a. 1-9 Tahun 10 33,33 b. 10-19 Tahun 11 36,67 c. > 20 Tahun 9 30

5. Jumlah Tanggungan Keluarga

a. 1-3 orang 9 30 b. 4 - 6 orang 11 36,67 c. > 7 orang 10 33,33 6. Luas Lahan a. < 0,5 Ha 30 100 b. 0,5 - 1 Ha 0 0

Sebanyak 4 orang (13,33%) dari petani penggarap, menyatakan bahwa usahatani padi merupakan usaha pokok, sedangkan 26 orang (86,67%) yang lain menyatakan bahwa usahatani padi merupakan pekerjaan sampingan. Umumnya masyarakat di Desa Muara Siambak memiliki mata pencaharian sebagai petani, baik sebagai usaha pokok maupun sebagai usaha sampingan. Kondisi ini berkaitan dengan karakteristik Desa Muara Siambak sebagai salah satu wilayah pertanian di Kecamatan Kotanopan, dimana 56,33% dari total luas wilayahnya merupakan areal persawahan. Adapaun alasan masyarakat menjadi petani umumnya

disebabkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan usahatani padi sawah merupakan kebiasaan turun-temurun.

Berdasarkan hasil wawancara, petani penggarap yang merupakan pekerjaan sampingan mereka adalah petani penggarap memiliki pekerjaan pokok antara lain sebagai penderes getah karet 53,85%, sopir (15,38%), guru (7,69%), dan wiraswasta (23,08%). Oleh karena itu, di sektor pertanian, pendapatan utama masyarakat didominasi oleh usahatani karet. Menurut petani penggarap, alasan mereka menjadi petani penggarap adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari mereka, sehingga pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan pokok (diluar penggarap) untuk membiaya keluarganya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebanyak 42,86% petani penggarap bekerja sebagai petani penderes getah karet. Dimana Laki-laki sebagai kepala keluarga bekerja di kebun miliknya sendiri untuk menderes getah karet, sedangkan istri lebih banyak bekerja untuk mengelola usahatani padi sawah.

Sebanyak 33,33 % telah berpengalaman usahatani antara 1-9 tahun, sebanyak 33,67 % berusahatani 10-19 tahun, dan sebanyak 30 % berusahatani lebih dari 20 tahun. Selain pendidikan formal yang dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan, pengalaman berusahatani juga menentukan aktifitas petani, dapat memperhitungkan resiko yang mungkin timbul, juga lebih cakap dan hati-hati dalam mengerjakan usahataninya. Menurut Hernanto (1989:89), keterbatasan pendidikan dan pengalaman petani dalam berusahatani, petani akan lemah dalam bersaing, lemah dalam penguasaan faktor produksi, terutama modal dan pengelolaan itu sendiri.

Dapat dilihat bahwa petani penggarap yang memiliki tanggungan keluarga 1-3 orang sebanyak 63,33 %; 4-6 orang sebanyak 30 % dan 6,67 % petani memiliki jumlah tanggungan keluarga lebih dari 7 orang. Jumlah tanggungan keluarga disamping mempengaruhi kreatifitas alam mengelola usahataninya, juga akan berpengaruh dimungkinkan terutama bila jumlah tanggungan keluarga tersebut berada dalam golongan usia produktif, sehingga akan memungkinkan tersedianya tenaga kerja yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan usahatani.

Berdasarkan hasil penelitian yang lebih banyak bekerja dalam mengelola usahatani adalah istri. Sehingga mulai dari kegiatan budidaya sampai panen yang

berkontribusi besar adalah istri. Sebanyak 36,67% petani penggarap memiliki jumlah tanggungan 4-6 orang, tetapi anak tidak ikut dalam pengelolaan usahatani padi sawah dikarenakan : (a) usia anak <15 tahun, (b) anak sedang duduk dibangku sekolah, (c) anak bekerja diluar usahatani, seperti sebagi pedagang atau wiraswasta.

Luas lahan petani sampel dikategorikan pada golongan sempit. Sebanyak 100 % luas lahan petani sampel kurang dari 0,5 Ha. Menurut Hernanto (1989:46), pada dasarnya terdapat empat golongan petani berdasarkan tanahnya: 1. Golongan petani luas (lebih 2 Ha), 2. Golongan petani sedang (0,5-2 Ha), 3. Golongan petani sempit (kurang dari 0,5 Ha) dan 4. Golongan buruh tani tidak bertanah. Menurut Soeharjo dan Patong cit Ilhami (2013:34), luas lahan yang diusahakan menentukan pendapatan, taraf hidup, dan derajat kesejahteraan rumah tangga petani.

C.Gambaran Umum dan Kultur Teknis Petani Responden a. Gambaran Padi Varietas Ciherang

Padi varietas Ciherang merupakan salah satu varietas unggul yang diperkenalkan oleh Deptan pada tahun 2000. Di Desa Muara Siambak padi varietas Ciherang mulai dibudidayakan pada tahun 2005. Berdasarkan hasil waawancara dengan petani sampel yang menanam padi varietas Ciherang, mereka menanam padi varietas Ciherang dengan berbagai alasan diantaranya varietas Ciherang tahan terhadap serangan hama dan penyakit, tahan terhadap perubahan iklim, kesukaan rasa nasi, dan harga gabah yang tidak terlalu rendah. Menurut petani harga gabah kering Rp. 4.500/kg.

Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2011 memperkenalkan padi varietas Inpari Sidenuk. Varietas Inpari Sidenuk merupakan hasil rekayasa Litbangyasa Iptek Nuklir Bidang Pertanian dan Peternakan yang dilaksanakan di Sumatera Utara berkerja sama dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Mandailing Natal. Namun, berdasarkan hasil wawancara, petani penggarap tidak mau menggunakan varietas tersebut karena tidak berani mengambil resiko untuk mengganti varietas padi yang selama ini ditanam oleh petani sampel, yaitu Ciherang. Petani penggarap mengatakan jika

nantinya hasil panen dari varietas Inpari Sidenuk lebih rendah dibandingkan dengan varietas Ciherang.

Tabel 5. Kelemahan dan Kelebihan Padi Varietas Ciherang Menurut Petani Penggarap

No. Varietas Kelebihan Kekurangan

1. Ciherang a. Tahan akan perubahan cuaca

a. Umur panen lama (116-125 hari) b. Harga jual gabah tidak terlalu tinggi

b. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit

c. Rasa nasi enak

Berdasarkan Tabel 5, dapat dilihat bahwa petani penggarap memilki pengetahuan tentang kelebihan dan kekurangan padi varietas Ciherang. Pengetahuan petani tersebut akan mempengaruhi petani dalam pengambilan keputusan terhadap padi varietas yang akan ditanam dan pengetahuan petani juga mempengaruhi tingkat pendapatan dan keuntungan dalam usahatani padi.

b. Kultur Teknis Padi Varietas Ciherang 1. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah merupakan langkah awal dalam melaksanakan budidaya tanaman padi. Dengan demikian pengolahan tanah ini diharapkan dapat dilakukan sebaik mungkin agar proses penyerapan nutrisi atau zat hara dan air dapat dilakukan secara maksimal sehingga memungkinkan tanaman untuk dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Adapun komponen yang diamati dalam proses

Dalam dokumen ANALISIS PENDAPATAN PETANI PENGGARAP PAD (Halaman 46-83)

Dokumen terkait