BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
4. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif, setelah seluruh bahan hukum yang diperlukan dalam penelitian ini terkumpul, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier maka selanjutnya akan dilakukan analisa.64 Analisis dilakukan dengan memilih peraturan-peraturan hukum berkaitan Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana yang berulang (Residivis) ditinjau dari
63 Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm 195-196.
64 Peter Mahmud Marzuki, Op.cit. hlm. 171.
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt.) Langkah-langkah analisa yang dilakukan dalam penelitian normatif ini adalah sebagai berikut :
a. Mengidentifikasi fakta hukum dan mengeliminasi hal-hal yang tidak relevan dengan masalah dalam penelitian ini ;
b. Mengumpulkan bahan-bahan hukum dan bahan-bahan non hukum yang relevan dengan isu hukum dalam penelitian ;
c. Menelaah isu hukum berdasarkan bahan yang telah dikumpulkan ; d. Menarik kesimpulan terhadap permasalahan dalam penelitian ini ; e. Memberikan preskripsi berdasarkan argumentasi yang telah dibangun.
Penelitian hukum ini merupakan penelitian untuk menemukan hukum bagi suatu perkara in concreto, yaitu usaha untuk menemukan apakah hukumnya yang sesuai untuk diterapkan in concreto guna menyelasaikan suatu perkara tertentu.65 Dalam penelitian hukum ini membuat deskripsi aktual, mencarikan pemecahannya setelah berkonsultasi secara kritis pada seperangkat norma-norma hukum positif yang berlaku merupakan suatu pekerjaan penelitian hukum juga, yaitu yang disebut : penelitian hukum klinis (clinical legal research).66
65 Roni Hanitijo Soemitro, Op.cit. hlm. 22
66 Ibid.
BAB II
SISTEM PEMIDANAAN BAGI ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGULANGAN (RESIDIVIS)
A. Sistem Pemidanaan
1. Sistem Pemidanaan Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Menurut Andi Hamzah pemidanaan adalah “Penghukuman itu berasal dari kata dasar hukum, sehingga dapat dapat diartikan sebagai menetapkan hukum atau memutuskan tentang hukumnya (brechten).67 Jadi dapat dikatakan bahwa sistem pemidanaan merupakan aturan perundang-undangan yang berhubungan dengan sanksi pidana dan pemidanaan.
Sistem pemidanaan dapat diartikan sebagai keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiil untuk pe-midanaan; atau Keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiel untuk pemberian/penjatuhan dan pelaksanaan pidana. Dengan pengertian demikian, maka keseluruhan peraturan perundang-undangan (“statutory rules”) yang ada di dalam KUHP maupun undang-undang khusus di luar KUHP, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sistem pemidanaan, yang terdiri dari “aturan umum” (“general rules”) dan “aturan khusus” (“special rules”). Aturan umum terdapat di dalam Buku I KUHP, dan aturan khusus terdapat di dalam Buku II dan III KUHP maupun dalam undang-undang khusus di luar KUHP, baik yang mengatur hukum pidana khusus maupun yang mengatur hukum pidana umum.68
67 Tolib Setiady, Pokok-Pokok Hukum Penintesier Indonesia, (Alfabeta, 2010), hlm. 21.
68 Barda Nawawi Arief, Sistem Pemidanaan Dalam Konsep RUNDANG-UNDANG KUHP, Bahan Sosialisasi RUNDANG-UNDANG KUHP 2004, diselenggarakan oleh Departemen Hukum dan HAM, tgl. 23-24 Maret 2005, di Hotel Sahid Jakarta.
Secara tradisional perkembangan teori pemidanaan digambarkan suatu perubahan pemikiran yang dimulai dari teori retributive hingga resosialisasi dan restoratif (bila restoratif diterima sebagai bentuk teori pemidanaan yang baru).69 Menurut Roeslan Saleh pemidanaan merupakan suatu upaya terakhir dalam menjatuhkan hukuman.70 Pengenaan pidana harus pada batas-batasnya, harus diusahakan terlebih dahulu menerapkan sanksi-sanksi lain yang bersifat pidana.71 Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam penjatuhan pidana pada seseorang :72
a) Koreksi, dilakukan terhadap orang yang melanggar suatu norma, pidana yang dijatuhkan berlaku sebagai suatu peringatan bahwa hal seperti itu tidak boleh terulang lagi.
b) Resosialisasi, usaha dengan tujuan bahwa terpidana akan kembali ke dalam masyarakat dengan daya tahan, dalam arti bahwa dia dapat hidup dalam masyarakat tanpa melakukan lagi kejahatan.
c) Pengayoman kehidupan masyarakat, meskipun telah melakukan kejahatan berat, namun pemidanaan bagi pelaku harus dilindungi hak-haknya agar untuk tidak mungkin lagi melakukan delik-delik berat yang baru.
Tujuan pemidanaan menurut teori absolute (pembalasan) yang dikemukakan oleh Immanuel Kant menyatakan bahwa pemidanaan merupakan suatu “imperative kategoris”, yaitu tuntutan mutlak dipidananya seseorang karena telah melakukan kejahatan. 73 Sedangkan berdasarkan teori relative (manfaat) dikemukakan oleh Beccaria menyatakan bahwa tujuan pemidanaan adalah mencegah seseorang untuk melakukan kejahatan, dan bukan menjadi sarana balas dendam masyarakat (the purpose of punishment is to deter persons from commission of crime and not to provide social revenge).oleh karena itu
69 Achjani Zulfa, Pergeseran Paradigma Pemidanaan, (Bandung : CV.Lubuk Agung, 2011), hlm.
47.
70 Roeslan Saleh, Stesel Pidana Indonesia, (Jakarta : Aksara Baru, 1987), hlm. 4
71 Ibid.
72 Ibid, hlm. 5.
73 Ibid. hlm. 9.
pidana yang kejam tidak membawa manfaaat bagi keamanan dan ketertiban masyarakat.74 Teori gabungan bahwa tujuan pidana selain membalas kesalahan penjahat juga dimaksud untuk melindungi masyarakat dengan cara mewujudkan ketertiban.75
Muladi memberikan istilah mengenai teori tujuan sebagai teleological theories dan teori gabungan disebut sebagai pandangan integratif di dalam tujuan pemidanaan (theological retributivism) yang beranggapan bahwa pemidanaan mempunyai tujuan yang plural, yang merupakan gabungan dari pandangan utilitarian yang menyatakan bahwa tujuan pemidanaan harus menimbulkan konsekuensi bermanfaat yang dapat dibuktikan, keadilan tidak boleh melalui pembebanan penderitaan yang patut diterima untuk tujuan penderitaan itu sendiri dan pandangan retributivist yang menyatakan bahwa keadilan dapat dicapai apabila tujuan yang theological tersebut dilakukan dengan menggunakan ukuran berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, misalnya bahwa penderitaan pidana tersebut tidak boleh melebihi ganjaran yang selayaknya diperoleh pelaku tindak pidana.76
Seseorang dijatuhkan pidana karena suatu perbuatannya yang diatur di dalam ketentuan hukum sebagai dasar untuk menertibkan manusia. Satjipto Rahardjo menyatakan bahwa membicarakan suatu hukum adalah membicarakan hubungan antara manusia.77 Membicarakan hubungan antara manusia adalah membicarakan keadilan. dengan demikian, setiap pembicaraan mengenai hukum, jelas atau samar-samar, senantiasa merupakan pembicaraan mengenai keadilan pula.78
74 Ibid. hlm. 11.
75 Ibid, hlm. 17.
76 Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat. (Bandung : Alumni, 1985), hlm. 49.
77 Joko Sasmito, Konsep Asas Retroaktif dalam Pidana, (Malang : Setara Press, 2017), hlm. 33.
78 Ibid.
Ketentuan Pemidanaan dalam KUHPidana dilihat dari sudut kajian, yaitu ketentuan hukum pidana dalam buku I KUHPidana dan perumusan ancaman sanksi pidana dalam buku II dan buku III. Perumusan pemidanaan dalam buku I KUHPidana mengacu kepada norma pemidanaan sebagaimana dirumuskan dalam 10 KUHPidana, terdiri dari pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok adalah pidana mati, pidana penjara, pidana kurungan dan denda. Sedangkan pidana tambahan adalah dicabutnya beberapa hak tertentu disitanya barang-barang tertentu, dan diumumkannya putusan hakim.79
2. Sistem Pemidanaan Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
Pemidanaan terhadap Anak dilakukan sebagai upaya terakhir apabila Diversi tidak dapat dilaksanakan atau tindak pidana yang dilakukan oleh anak adalah tindak pidana berat yang ancaman pidananya diatas 7 (tujuh) tahun. Anak tidak dapat dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup, sebagaimana ditentukan dalam Pasal 3 huruf f Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak bahwa Anak tidak dijatuhi pidana mati atau pidana seumur hidup. Secara umum pemidanaan bagi anak dibagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu sanksi pidana (pasal 71 UU SPPA) dan sanksi tindakan (pasal 82 UU SPPA) yaitu :
a. Sanksi Pidana (Pasal 71 UU SPPA) 1) Pidana pokok bagi Anak terdiri atas :
a) Pidana peringatan b) Pidana dengan syarat :
(1) Pembinaan diluar lembaga (2) Pelayanan masyarakat, atau (3) Pengawasan.
79 Roeslan Saleh, Op.cit, hlm. 48.
c) Pelatihan kerja
d) Pembinaan dalam lembaga, dan e) Penjara.
2) Pidana tambahan terdiri atas :
a) Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana, atau b) Pemenuhan kewajiban adat.
3) Apabila dalam hukum materiil diancam pidana komulatif berupa penjara dan denda, pidana denda diganti dengan pelatihan kerja.
4) Pidana yang dijatuhkan kepada Anak dilarang melanggar harkat dan martabat
1) Tindakan yang dapat dikenakan kepada Anak meliputi : a) Pengembalian kepada orang tua / wali
b) Penyerahan kepada seseorang c) Perawatan di rumah sakit jiwa d) Perawatan di LPKS
e) Kewajiban mengikuti pendidikan formal dan/atau pelatihan yang diadakan oleh pemerintah atau badan swasta
f) Pencabutan surat izin mengemudi, dan/atau g) Perbaikan akibat tindak pidana
2) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, huruf e, dan huruf f dikenakan paling lama 1 tahun.
3)Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diajukan oleh Penuntut Umum dalam tuntutannya, kecuali tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling singkat 7 (tujuh) tahun.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Selain ketentuan diatas, beberapa pemidanaan yang diatur di dalam Undang-undang Sistem Peradilan Pidana sebagai berikut :
Pasal 73 :
1) Pidana dengan syarat dapat dijatuhkan oleh Hakim dalam hal pidana penjara yang dijatuhkan paling lama 2 (dua) tahun.
2) Dalam putusan pengadilan mengenai pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan syarat umum dan syarat khusus.
3) Syarat umum sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah Anak tidak akan melakukan tindak pidana lagi selama menjalani masa pidana dengan syarat.
4) Syarat khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah untuk melakukan atau tidak melakukan hal tertentu yang ditetapkan dalam putusan hakim dengan tetap memperhatikan kebebasan Anak.
5) Masa pidana dengan syarat khusus lebih lama daripada masa pidana dengan syarat umum.
6) Jangka waktu masa pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lama 3 (tiga) tahun.
7) Selama menjalani masa pidana dengan syarat, Penuntut Umum melakukan pengawasan dan Pembimbing Kemasyarakatan melakukan pembimbingan agar Anak menempati persyaratan yang telah ditetapkan.
8) Selama Anak menjalani pidana dengan syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (7), Anak harus mengikuti wajib belajar 9 (sembilan) tahun.
Pasal 74 :
Dalam hal Hakim memutuskan bahwa Anak dibina di luar lembaga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf b angka 1, lembaga tempat pendidikan dan pembinaan ditentukan dalam putusannya.
Pasal 75 :
1) Pidana pembinaan di luar lembaga dapat berupa keharusan: a. mengikuti program pembimbingan dan penyuluhan yang dilakukan oleh pejabat pembina; b. mengikuti terapi di rumah sakit jiwa; dan c. mengikuti terapi akibat penyalahgunaan alkohol, narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
2) Jika selama pembinaan anak melanggar syarat khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 73 ayat (4), pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memperpanjang pembinaan yang lamanya tidak melampaui maksimum 2 (dua) kali masa pembinaan yang belum dilaksanakan.
Pasal 76 :
1) Pidana pelayanan masyarakat merupakan pidana yang dimaksudkan untuk mendidik Anak dengan meningkatkan kepeduliannya pada kegiatan kemsyarakatan yang positif.
2) Jika Anak tidak memenuhi seluruh atau sebagian kewajiban dalam menjalankan pidana pelayanan masyarakat tanpa alasan yang sah, pejabat pembina dapat mengusulkan kepada hakim pengawas untuk memerintahkan Anak tersebut mengulangi seluruh atau sebagian pidana pelayanan masyarakat yang dikenakan terhadapnya.
3) Pidana pelayanan masyarakat untuk Anak dijatuhkan paling singkat 7 (tujuh) jam dan paling lama 120 (seratus dua puluh) jam.
Pasal 77 :
1) Pidana pengawasan yang dapat dijatuhkan kepada Anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf b angka 3 paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun.
2) Dalam hal Anak dijatuhi pidana pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Anak ditempatkan di bawah pengawasan Penuntut Umum dan dibimbing oleh Pembimbing Kemasyarakatan.
Pasal 78 :
1) Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (1) huruf c dilaksanakan di lembaga yang melaksanakan pelatihan kerja yang sesuai dengan usia Anak.
2) Pidana pelatihan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu) tahun.
Pasal 79 :
1) Pidana pembatasan kebebasan diberlakukan dalam hal Anak melakukan tindak pidana berat atau tindak pidana yang disertai dengan kekerasan.
2) Pidana pembatasan kebebasan yang dijatuhkan terhadap Anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa.
3) Minimum khusus pidana penjara tidak berlaku terhadap Anak.
4) Ketentuan mengenai pidana penjara dalam KUHP berlaku juga terhadap Anak sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.
Pasal 80 :
1) Pidana pembinaan di dalam lembaga dilakukan di tempat pelatihan kerja atau lembaga pembinaan yang diselenggarakan, baik oleh pemerintah maupun swasta.
2) Pidana pembinaan di dalam lembaga dijatuhkan apabila keadaan dan perbuatan Anak tidak membahayakan masyarakat.
3) Pembinaan dalam lembaga dilaksanakan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.
4) Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di dalam lembaga dan tidak kurang dari 3 (tiga) bulan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.
Pasal 81 :
1) Anak dijatuhi pidana penjara di LPKA apabila keadaan dan perbuatan Anak akan membahayakan masyarakat.
2) Pidana penjara yang dapat dijatuhkan kepada Anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum ancaman penjara bagi orang dewasa.
3) Pembinaan di LPKA dilaksanakan sampai Anak berumur 18 (delapan belas) tahun.
4) Anak yang telah menjalani 1/2 (satu perdua) dari lamanya pembinaan di LPKA dan berkelakuan baik berhak mendapatkan pembebasan bersyarat.
5) Pidana penjara terhadap anak hanya digunakan sebagai upaya terakhir.
6) Jika tindak pidana yang dilakukan Anak merupakan tindak pidana yang diancam dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, pidana yang dijatuhkan adalah pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun.
Pemidanaan terhadap Anak diatur di dalam Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 73 sampai dengan Pasal 81 seperti di atas tersebut. Anak yang belum mencapai umur 12 (dua belas) tahun hanya dapat dikenakan sanksi tindakan. Sedangkan Anak yang telah berumur genap 12 (dua belas) tahun tetapi belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dapat dikenakan pidana. Anak yang melakukan tindak pidana dengan ancaman pidana penjara di atas 7 (tujuh) tahun akan dijatuhi pidana 1/2 (satu per dua) dari maksimum pidana penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa. Apabila tindak pidana yang dilakukan oleh Anak diancam dengan pidana mati atau penjara seumur hidup, maka pidana yang dapat dijatuhkan kepada Anak adalah pidana penjara selama 10 (sepuluh) tahun.
B. Sistem Pemidanaan Bagi Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana Pengulangan (Residivis)
Anak menurut konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak Anak (Convention on the Right of the Child) tahun 1989 yang telah diratifikasi menyatakan anak berarti setiap manusia dibawah umur 18 (delapan belas) tahun, kecuali menurut undang-undang yang berlaku terhadap seorang anak yang kedewasaan dicapai lebih awal. Secara konstitusi kedudukan anak sudah diakui, berdasarkan pasal 28 B ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan “Setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Undang-Undang No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dinyatakan bahwa anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya. Menurut pasal 1 angka (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 atas perubahan Undang-undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak menyatakan
“anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak menyatakan “Anak merupakan anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.”80 Berkaitan dengan kejahatan dalam tindak pidana, bahwa dalam UU SPA istilah anak yang melakukan tindak pidana, korban tindak pidana dan saksi dalam tindak pidana dikatakan sebagai anak yang berkonflik dengan hukum.81
Tindak pidana (stafbaar feit) menurut Pompe Suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) baik sengaja ataupun tidak, dengan sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku, di mana pemberian hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu guna terpeliharanya tertib hukum serta terjaminnya kepentingan umum atau sebagai “de normovertreding (verstoring der rechtsorde), waaran overtreder schuld heft en waarvan de
80 Lihat dalam ketentuan pasal 1 angka (3) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak.
81 Lihat dalam ketentuan pasal 1 angka (2) UU SPA.
bestraffing dienstig is voor de handhaving der rechts orde en de behartiging van het algemeen welzjin”.82 Sedangkan Van Hamel83, menguraikan tindak pidana (straafbaar feit) itu sebagai : Perbuatan manusia yang diuraikan oleh Undang-undang, melawan hukum, strafwaardig (patut atau bernilai untuk dipidana), dan dapat dicela karena kesalahan (en aan schuld te witjen).
Menurut Romli Atmasasmita, “anak adalah seorang yang masih dibawah usia tertentu dan belum dewasa serta belum kawin”. Berdasarkan pengertian anak demikian, maka dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pengertian anak adalah mereka yang masih muda usia dan sedang menentukan identitas, sehingga berakibat mudah kena pengaruh lingkungan skitar.84
Menurut Pasal 45 KUHPidana menyatakan “dalam hal penuntutan pidana terhadap orang yang belum dewasa karena melakukan suatu perbuatan sebelum umur enam belas tahun, hakim dapat menentukan ; memerintahkan supaya yang bersalah dikembalikan kepada orang tuanya, walinya atau pemeliharanya, tanpa pidana apa pun; atau memerintahkan supaya yang bersalah diserahkan kepada pemerintah tanpa pidana apa pun, jika perbuatan merupakan kejahatan atau salah satu pelanggaran berdasar- kan pasal-pasal 489, 490, 492, 496,497, 503 - 505, 514, 517 - 519, 526, 531, 532, 536, dan 540 serta belum lewat dua tahun sejak dinyatakan bersalah karena melakukan kejahatan atau salah satu pelanggaran tersebut di atas, dan putusannya telah menjadi tetap; atau menjatuhkan pidana kepada yang bersalah.
82 P.A.F, Lamintang, Dasar Dasar Hukum Pidana Indonesia, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2011), hlm.182
83 Zainal Abidin Farid, Hukum Pidana 1. (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), hlm.225 .
84 Bambang Satriya, Anak Membutuhkan Penegak Hukum Humanis (Analisis Putusan Perkara No.1/PUU-VIII/2010. Jurnal Konstitusi, Volume 8, Nomor 5, Oktober 2011. hlm.655.
Tindak pidana dapat dilakukan oleh orang dewasa dan anak, dimana pemberlakuan pidananya saja yang berbeda. Berkaitan dengan pemidanaan dalam KUHPidana, adanya perbedaan penjatuhan pidana bagi anak dan orang dewasa. Tujuan pemidanaan dapat terwujud apabila pemberian pidana harus dipisahkan antara orang dewasa dan anak. Dalam KUHPidana, sanksi pidana yang dilakukan oleh orang dewasa dikenal adanya hukuman mati, namun dalam proses pemidanaa anak tidak dikenal hukuman mati. Pemidanaan untuk anak maksimal selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun.85
1. Sistem Pemidanaan Anak Sebagai Residivis menurut KUHPidana
Menurut Andi Hamzah residivis adalah seseorang yang telah berulang-ulang melakukan kejahatan dan berulang-ulang dipidana.86 Menurut Roeslah Saleh dalam bukunya stelsel Pidana Indonesia, mengatakan bahwa :87
“Adanya residivis atau pengulangan apabila satu orang telah melakukan lebih dari satu perbuatan pidana, sedangkan diantara dua perbuatan itu selalu telah dijatuhi pidana karena perbuatan pidana yang terdahulu. Jadi kesamaannya dengan pembarengan perbuatan bahwa satu orang telah melakukan beberapa perbuatan pidana. Perbedaannya adalah bahwa diantara perbuatan-perbuatan pidana itu sudah ada putusan hakim”
Ketentuan mengenai residivis diatur dalam pasal 486-488 KUHP, mengatur tentang penerapan unsur residivis dalam aturan khusus (buku II dan buku III) Bab XXXI KUHP sebagaimana diatur dalam pemidanaan kepada seorang terpidana. Pada prinsipnya batas tenggang waktu menentukan apakah seseorang dapat dikualifikasikan sebagai residivis atau tidak digantungkan pada jangka 5 (lima) tahun antara hukum yang sedang dijalani dalam suatu tindak pidana yang didakwakan kepadanya.
85 Ririn Nurfaathirany Heri. Anak Pelaku Tindak Pidana. Jurnal Office, Volume 2 No.2, 2016. hlm.
117.
86 J.C.T, Simorangkir, Kamus Hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008).
87 Roeslan Saleh, Op.cit, hlm. 15.
Berdasarkan perkembangannya, pengulangan tindak pidana dapat dibagi menjadi beberapa golongan, pengulangan tindak pidana menurut ilmu kriminologi, dibagi dalam penggolongan pelaku tindak pidana sesuai dengan perbuatan- perbuatan yang dilakukan, yaitu :88
1) Pelanggaran hukum bukan residivis yaitu yang melakukannya satu tindak pidana dan hanya sekali saja.
2) Residivis dibagi lagi menjadi :
a) Penjahat yang akut meliputi pelanggaran hukum yang bukan residivis dan mereka yang berkali-kali telah dijatuhi pidana umum namun antara masing-masing putusan pidana jarak waktunya jauh, atau perbuatan pidananya begitu berbeda satu sama lain sehingga tidak dapat dilakukan adanya hubungan kriminalitas atau dengan kata lain dalam jarak waktu tersebut.
b) Penjahat kronis adalah golongan pelanggaran hukum yang telah mengalami penjatuhan pidana yang berlipat ganda dalam waktu singkat diantara masing-masing putusan pidana.
c) Penjahat berat adalah mereka yang paling sedikit setelah dijatuhi pidana 2 kali dan menjalani pidana berbulan bulan dan lagi mereka yang karena kelakuan anti sosial sudah merupakan kebiasaan atau suatu hal yang menetap bagi mereka. Penjahat sejak umur muda tipe ini memulai karirnya dalam kejahatan sejak ia kanak-kanak dan dimulai dengan melakukan kenakalan anak
Selain itu, pengertian mengenai residivis atau tindak pidana pengulangan dapat dipandang dari aspek ilmu pengetahuan hukum pidana, aspek tersebut dibagi atas 3 (tiga) jenis yaitu :89
1) Pengulangan tindak pidana yang dibedakan berdasarkan cakupannya antara lain : a) Pengertian yang lebih luas yaitu bila meliputi orang-orang yang melakukan
suatu rangkaian tanpa di iringi suatu penjatuhan pidana.
b) Pengertian yang lebih sempit yaitu bila si pelaku telah melakukan kejahatan yang sejenis. Artinya ia menjalani suatu pidana tertentu dan ia mengulangi perbuatan sejenis tadi dalam batas waktu tertentu.
2) Pengulangan tindak pidana yang dibedakan berdasarkan sifatnya antara lain:
a) Accidentale recidive yaitu apabila pengulangan tindak pidana yang dilakukan merupakan akibat dari keadaan yang memaksa dan menjepitnya.
88 Moelyatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta : Rineka Cipta, 2000), hlm.117.
89 E. Utrecht , Hukum Pidana II Rangkaian Sari Kuliah, (Surabaya : Pustaka Tinta Mas, 2000), hlm.
200.
b) Habituele recidive yaitu pengulangan tindak pidana yang dilakukan karena si pelaku memang sudah mempunyai Inner Criminal Situasion yaitu tabiat jahat sehingga kejahatan merupakan perbuatan yang biasa baginya.
3) Selain kedua bentuk di atas, pengulangan tindak pidana dapat juga dibedakan atas : a) Residivis umum yaitu apabila seseorang melakukan kejahatan / tindak
pidana yang telah dikenai hukuman dan kemudian dilakukan kejahatan / tindak pidana dalam bentuk apapun maka terhadapnya dikenakan pemberatan hukuman.
b) Residivis khusus yaitu apabila seseorang melakukan perbuatan kejahatan / tindak pidana yang telah dikenai hukuman dan kemudian ia melakukan kejahatan / tindak pidana yang sama ( sejenis ) maka kepadanya dapat
b) Residivis khusus yaitu apabila seseorang melakukan perbuatan kejahatan / tindak pidana yang telah dikenai hukuman dan kemudian ia melakukan kejahatan / tindak pidana yang sama ( sejenis ) maka kepadanya dapat