KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERULANG (RESIDIVIS) DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG
NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor. 02/Pid.Sus.
Anak/2014/PN.Skt.)
TESIS
OLEH :
ERWIN PANGIHUTAN SITUMEANG NIM : 177005029
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA YANG BERULANG (RESIDIVIS) DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG
NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor. 02/Pid.Sus.
Anak/2014/PN.Skt.)
TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum Dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH :
ERWIN PANGIHUTAN SITUMEANG NIM : 177005029
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
ABSTRAK
Sistem pemidanaan bagi anak sampai saat ini masih saja tidak memberikan rasa keadilan bagi anak. Sistem pemidanaan bagi anak berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHPidana), Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak selanjutnya disingkat SPA, dan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak masih belum maksimal penerapannya terhadap jaminan hak dan masa depan anak baik sebagai pelaku kejahatan maupun sebagai korban kejahatan.
Anak yang berhadapan dengan hukum semakin bertambah bahkan menjadi pelaku tindak pidana pengulangan (residivis). Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor 02/PID.Sus. Anak/2014/PN.Skt yang menjatuhkan hukuman terhadap anak dengan pemberatan hukuman sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) dalam kasus narkotika menyebabkan tidak terwujudnya tujuan hukum (kepastian hukum, keadilan, dan kemanfaatan) bagi anak. Berdasarkan hal tersebut, adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini : Bagaimana Sistem Pemidanaan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis). Bagaimana Kebijakan hukum pidana terhadap penanggulangan pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis).
Apakah Pertimbangan Hakim dalam Putusan : Nomor. 02/PID.Sus. Anak/2014/PN.Skt) memberikan rasa keadilan bagi anak.
Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Sifat penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan perundang-undangan (state approach) dan pendekatan analitis (analytical approach) yaitu dengan menganalisis kasus (case study) dengan menggunakan metode kualitatif untuk dapat ditarik kesimpulan secara deduktif.
Hasil Penelitian dapat diketahui, perlindungan hukum bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) berdasarkan KUHpidana dan UU SPA tidak diatur secara jelas. Berdasarkan pasal 7 UU SPA menyatakan bagi anak yang melakukan tindak pidana pengulangan (residivis) tidak diberikan diversi. Jika merujuk pada pasal 488 KUHPidana bahwa pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) hukumannya ditambah sepertiga dari hukuman yang diberikan. Kebijakan hukuman pidana bagi anak untuk penanggulangan pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara penal policy, dan non penal policy. Penal policy, kebijakan hukum pidana yang didasarkan pada formulasi hukum yang terbaik untuk anak, baik dari pembentuk UU, penegak hukum maupun kepatuhan hukum oleh masyarakat.
Sedangkan non penal policy, bahwa kebijakan hukum pidana lebih pada upaya penanggulangan terhadap dampak sosial, hukuman penjara merupakan upaya terakhir bagi anak sebagai pelaku tindak pidana kejahatan. Dalam putusan Nomor. 02/PID.Sus.
Anak/2014/PN.Skt), yang memutuskan hukuman bagi anak dengan pemberatan karena sebagai residivis perlu dikaji lagi. Berdasarkan UU SPA dan UU Perlindungan Anak, penghukuman bagi anak harus lebih bersifat perbaikan (treatment) bukan penderitaaan.
Pemberian hukuman bagi anak seharusnya dilakukan berdasarkan sistem dua jalur (double track system) bahwa sanksi penjara dan sanksi tindakan harus seimbang.
Kata Kunci : Putusan Hakim, Anak Sebagai Residivis, Pemidanaan Anak, Narkotika
PENAL POLICY TO CHILDREN AS RECIDIVISTS REVIEWED FROM LAW NO.
35/2014 ON CHILD PROTECTION
(A Study on Surakarta District Court Ruling No.02/Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt.) ABSTRACT
Penal system for children today still does not provide justice for them. It is grounded on the Penal Code, Law No.11/2012 on Child Criminal Justice System (hereinforth is referred to as UU SPA), and Law No.35/2014 on child protection which implementation is not yet maximum to secure children’s rights and future as either the perpetrators or victims. The number of children dealing with law gets larger, even they have become recidivists. Based on Surakarta District Court Ruling No.
02/PID.Sus.Anak/2014/PN.Skt which sentences the child with the weighting as a recidivist in a case on narcotics, the child is not provided with the purposes of law (legal certainty, justice, and expediency). The research problems are how penal system for children as recidivists is, how the penal policy to prevent children from becoming recidivists, and whether or not the judges’ consideration in the Ruling No. 02/PID.Sus.Anak/2014/PN.Skt provide justice to the children.
This is a normative juridical research. It employs descriptive analysis with statutory approach and analytical approach which analyzes case study by applying qualitative method to draw a conclusion deductively.
The results of the research discovers that legal protection for children as recidivists based on the Penal Code and UU SPA is not clearly regulated. Article 7 of UU SPA states that children who are recidivists are not given diversion. Article 488 of the Penal Code states that the punishment for a recidivist is enhanced with one third of the punishment pronounced. The policy to children to prevent recidivists is made by 2 (two) ways; namely penal policy and non-penal policy. Penal policy is the policy made based on best legal formulation for children, either from the Law maker, law enforcer, or law abiding society.
Non-penal policy that is more preventive to social effects and imprisonment, is the last effort for children as recidivists. The ruling No. 02/PID.Sus.Anak/2014/PN.Skt which punishes the child with the weighting for being a recidivist needs to be reviewed. UU SPA and Law on Child Protection need to revise the punishment for children to be more treating, not torturing. Punishment for children should be made based on double track system stating that imprisonment and treatment sanctions have to be balanced.
Keywords: Judge’s Ruling, Children as Recidivists, Child Protection
KATA PENGANTAR
Dengan segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kemurahan dan rahmatnya yang dikaruniakan kepada penulis, sehingga penulis dapat mengikuti segala perkuliahan dan dapat menyelesaikan penulisan tesis ini tepat pada waktunya.
Tesis ini disusun guna melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk meraih gelar Magister Hukum di Universitas Sumatera Utara, dimana hal tersebut merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa/I yang menyelesaikan perkuliahannya.
Adapun judul tesis yang penulis kaji dan paparkan yaitu “Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana yang Berulang (residivis) ditinjau dari Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta Nomor 02/Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt).” Penulis telah memusatkan segenap hati dan pikiran serta kerja keras dalam penyusunan tesis ini. Namun penulis menyadari bahwa di dalam penulisan tesis ini masih banyak kekurangan, baik dalam hal penulisan, isi, maupun penggunaan kalimat. Oleh sebab itu Tesis ini masih jauh dari kesempurnaan.
Pada penulisan penelitian ini, penulis dengan ketulusan hati mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian penulisan tesis ini. Ucapan terima kasih disampaikan kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH., M.Hum, sebagai Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) yang telah mengelola dan menyelenggarakan Universitas sesuai dengan visi dan misi USU.
2. Prof Dr. Budiman Ginting, SH., M.Hum, sebagai Dekan pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memimpin penyelenggaraan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta membina tenaga pendidik dan mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (USU).
3. Prof. Dr. Sunarmi, SH., M.Hum, sebagai Ketua Program Magister (S2) dan Doktor (S3) Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Prof. Dr. Madiasa Ablisar, SH., M.S, sebagai Dosen Pembimbing I yang telah memberikan dorongan, semangat serta arahan sejak awal penulisan sampai selesainya penulisan ini.
5. Dr. Mahmud Mulyadi, SH., M.Hum, sebagai Dosen Pembimbing II yang telah memberikan dorongan, semangat serta arahan sejak awal penulisan sampai selesainya penulisan ini.
6. Dr. Edy Ikhsan, SH.,MA, sebagai Dosen Pembimbing III yang telah memberikan dorongan, semangat serta arahan sejak awal penulisan sampai selesainya penulisan ini.
7. Dr. Marlina, SH., M.Hum, sebagai Dosen Penguji I yang dengan tekun memberikan masukan dan kritikan yang membangun serta menyempurnakan penulisan tesis ini menjadi lebih baik.
8. Dr. Chairul Bariah, SH., M.Hum, sebagai Dosen Penguji II yang dengan tekun memberikan masukan dan kritikan yang membangun serta menyempurnakan penulisan tesis ini menjadi lebih baik.
9. Bapak/i Dosen dan Pegawai Tata Usaha Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan arahan serta memberikan bantuan selama penulis menjalani studi.
10. Secara khusus, penulis juga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua Orangtua Penulis yaitu Rintas Situmeang (Ayah) dan Rosita Hutauruk (Ibu) yang tidak pernah berhenti memberikan dukungan dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
11. Terima kasih juga kepada kakak dan adik Penulis yang selama ini banyak mendukung dan membantu Penulis dalam proses perkuliahan.
12. Terimakasih juga kepada Sulastri Matondang, SE kesayangan Penulis yang selama ini telah banyak membantu dan mewarnai kehidupan Penulis dalam menyelesaikan tulisan ini . For all that we’ve been through, You are the best thing that ever happen in my life!!
13. Kepada seluruh teman-teman di Pasca Sarjana (Magister Hukum) Universitas Sumatera Utara, khususnya bagi Group Paralel A 2017 yang selalu bersama Penulis dalam suka maupun duka pada saat menjalani masa perkuliahan.
Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi kita semua baik bagi sesama mahasiswa ataupun klayak banyak.
Medan, Juli 2019 Penulis
ERWIN PANGIHUTAN SITUMEANG
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DATA PRIBADI
Nama : Erwin Pangihutan Situmeang
NIM : 177005029
Tempat/Tanggal Lahir : Sibolga/17 April 1993
Agama : Kristen Protestan
Program Studi : Magister Ilmu Hukum Kosentrasi Hukum Pidana Nama Bapak : Rintas Situmeang
Nama Ibu : Rosita Hutauruk
Email : [email protected]
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
SD : SD Swasta Santa Melania Sibolga (2000-2006) SMP : SMP Swasta Fatima I Sibolga (2006-2009) SMA : SMA Negeri 1 Sibolga (2009-2012)
Perguruan Tinggi S1 : Universitas HKBP Nommensen Medan (2012-2016) Perguruan Tinggi S2 : Universitas Sumatera Utara (2017-2019)
DAFTAR ISI
ABSTRAK...i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...vi
DAFTAR ISI ...vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 12
D. Manfaat Penelitian ... 13
E. Keaslian Penelitian ... 13
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 14
1. Kerangka Teori ... 14
2. Konseptual ... 29
G. Metode Penelitian ... 31
1. Jenis dan Sifat Penelitian ... 32
2. Sumber Data ... 33
3. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 34
4. Analisis Data ... 35
BAB II SISTEM PEMIDANAAN BAGI ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGULANGAN (RESIDIVIS) ... 37
A. Sistem Pemidanaan ... 37
1. Sistem Pemidanaan Menurut KUHPidana ... 37
2. Sistem Pemidanaan Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak ... 40
B. Sistem Pemidanaan Bagi Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana Pengulangan (Residivis) ... 45
1. Sistem Pemidanaan Anak sebagai Residivis Menurut KUHPidana ... 48
2. Sistem Pemidanaan Anak sebagai Residivis Menurut Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak dan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak ... 51
3. Sistem Pemidanaan Anak sebagai Residivis Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika ... 53
C. Sistem dua jalur (Double Track System) ... 55
BAB III KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENANGGULAN PIDANA BAGI ANAK SEBAGAI PELAKU TINDAK PIDANA PENGULANGAN (Residivis) ... 63
A. Pengertian dan Tujuan Kebijakan Hukum Pidana ... 63
B. Kebijakan Hukum Pidana berdasarkan Penal ... 69
1. Formulasi Pemidanaan Menurut KUHPidana ... 69
2. Formulasi Pemidanaan Menurut UU SPPA dan Perlindungan Anak... 73
3. Formulasi Pemidanaan Bagi Anak Menurut Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika ... 79
C. Kebijakan Hukum Pidana Berdasarkan Non Penal ... 86
BAB IV DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR : 02/PID.SUS. ANAK/2014/PN.Skt BERDASARKAN ASPEK KEADILAN ... 91
A. Kekuasaan Kehakiman ... 91
B. Pengertian Narkotika ... 95
C. Bentuk-Bentuk Sistem Peradilan ... 97
a. Sistem Peradilan Pidana ... 97
b. Sistem Peradilan Pidana Anak ... 103
D. Posisi Kasus ... 111
1. Gambaran Umum Kasus ... 111
a. Kronologi ... 111
b. Pasal yang di Dakwakan ... 112
c. Fakta-fakta Hukum ... 118
d. Pertimbangan Hakim ... 122
e. Putusan Hakim ... 123
2. Analisis Putusan Hakim Nomor 02/Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt ... 124
BAB V PENUTUP ... 129
A. Kesimpulan ... 129
B. Saran ... 131
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kejahatan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia didunia.
Karena kejahatan adalah hasil interaksi yang disebabkan adanya interelasi antara fenomena yang ada dan saling mempengaruhi, fenomena tersebut yang menyebabkan terjadinya kejahatan yang mempunyai hubungan fungsional satu sama lain.1 Kejahatan bukan hanya dilakukan oleh orang dewasa namun anak yang dibawah umur juga melakukan kejahatan.
Anak sebagai salah satu subjek hukum dinegara ini juga harus tunduk dan patuh terhadap aturan hukum yang berlaku, tetapi tentu saja ada perbedaan perlakuan antara orang dewasa dan anak dalam hal berhadapan dengan hukum, hal ini dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap anak sebagai bagian dari generasi muda yang merupakan tumpuan dan harapan masa depan bangsa Indonesia.2
Dinamika kehidupan anak yang terjadi pada dekade terakhir ini cukup memprihatinkan, kasus-kasus hukum yang melibatkan anak kian marak, mulai dari kasus kriminal, ekspoitasi, pelecehan seks, tawuran pelajar, sehingga anak seringkali terjerumus dalam tindak pidana atau anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) dan bahkan anak melakukan pengulangan tindak pidana, yang senyatanya masih berada pada jenjang tumbuh kembang. 3 Peristiwa tersebut disebabkan oleh struktural klasik, desakan ekonomi (kemiskinan), dekadensi moral yang dipicu oleh tereduksinya kasih sayang orang tua
1 Arif Gosita, Masalah Korban Kejahatan, (Jakarta : CV Akademika Pressindo, 1983), hlm. 3.
2 Alvi Syahrin, Mahmud Mulyadi, Marlina. Penjatuhan Sanksi Pidana Terhadap Anak Pelaku Kejahatan. Usu Law Journal , Volume. 3 Nomor 2, 2015. hlm. 168.
3 Maksum Hadi Putra. Sanksi Pidana Terhadap Anak yang melakukan Pengulangan Tindak Pidana (Residivise). Jurnal IUS, Vol IV, Nomor 2, 2016. hlm. 49.
(kurangnya pengawasan) hingga tekanan psikologis yang disebabkan manusia dewasa dalam berbagai kasus yang dilakukannya.4
Dalam perkembangan penerapan hukum pidana di Indonesia keberadaan anak yang melakukan kejahatan atau tindak pidana yang biasa dikenal dengan sebutan anak ini tetap diproses hukum. Hal ini terjadi karena kejahatan anak tersebut telah menimbulkan kerugian terhadap pihak lain (korban) baik secara materiil maupun secara nyawa.5 Pengaturan tentang anak diatur dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Juncto Undang-Undang Nomor 35 Tahun Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak. Dalam Undang-Undang Perlindungan Anak menyatakan bahwa anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. 6 Berkaitan dengan perlindungan anak juga diatur mengenai Hak-hak anak di dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia (HAM), dirumuskan sebanyak 15 pasal.7
Selain Pengaturan Undang-Undang Perlindungan Anak, juga diatur mengenai Sistem Peradilan Anak. Hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak Selanjutnya disingkat dengan UU SPA menyatakan “anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut dengan anak adalah anak yang
4 Kompas, Anak dan Problematika bangsa, (Selengkapnya :
http://www.kompasiana.com/satriadinda/anak-dan-problematika-bangsa), di akses pada tanggal 6 Maret 2019.
5 Bambang Purnomo, Gunarto, Amin Purnawan. Penegakkan hukum Pidana Anak Sebagai Pelaku Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Kasus di Polres Tegal). Jurnal hukum Khairah Ummah, Vol. 13 Nomor 1, 2018). hlm. 46.
6 Lihat dalam ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
7 Lihat Ketentuan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang HAM, hak anak terdapat dalam pasal 52-46.
telah berumur berumur 12 Tahun, tetapi belum berumur 18 Tahun yang diduga melakukan tindak pidana.8
Perlindungan hukum serta penerapan hukum bagi anak sudah diatur sedemikian rupa didalam ketentuan tertentu dan akan berlanjut pada sistem pemidanaan. Pemidanaan atau sering disebut dengan pemberian pidana oleh pembentuk Undang-undang adalah hal sanksi penetapan sanksi hukum pidana.9 Sebelum berlakunya Undang-Undang Sistem Peradilan anak, hukum materiil anak yang juga termasuk pemidanaan dirumuskan dalam pasal 45 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana selanjutnya disingkat KUHP.
Penjatuhan sanksi pidana selama ini bagi anak tidak memberikan efek jera, bahkan anak semakin melakukan kejahatan. Hal ini dapat dibuktikan beberapa kasus bahwa anak kembali melakukan tindak pidana secara berulang (residivis). Fungsi dari lembaga permasyarakatan tidak berjalan serta tujuan pemidanaan dalam upaya penegakan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana belum juga memberi perubahan. Seharusnya penjatuhan pidana terhadap anak bukan hanya semata-mata sebagai pembalasan dendam tetapi yang penting adalah pemberian bimbingan dan pengayoman agar anak tidak melakukan lagi kejahatan serupa atau yang lainnya. Pengayoman sekaligus kepada masyarakat dan terpidana sendiri agar menjadi insaf dan dapat menjadi anggota masyarakat yang baik.10
Dalam Pasal 28 B ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 berkaitan dengan hak anak menyatakan “setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang serta berhak
8 Lihat dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak.
9 Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana bagi anak di Indonesia, (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2012), hlm. 91.
10 Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, (Jakarta : Sinar Grafika, 2004), hlm. 3.
atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.” Hal tersebut menjelaskan bahwa anak yang bermasalah dengan hukum juga memiliki hak untuk dilindungi serta tidak mendapat diskriminasi. Anak menjadi pelaku kejahatan disebabkan oleh lemahnya perlindungan hukum bagi anak dan pelaksanaan pemidanaan terhadap anak tersebut lebih mengarah pada penderitaan (nestapa) daripada untuk pembinaan. Selain itu jaminan perlindungan hukum bagi anak dikuatkan melalui ratifikasi konvensi internasional tentang hak anak, yaitu pengesahan konvensi hak anak melalui Keptusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Convention On the Rights Of The Child (Konvensi Tentang Hak-Hak Anak).11
Tindak Pidana yang dilakukan anak secara berulang (residivis) dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Seharusnya hakim dalam penjatuhan sanksi pidana juga memperhatikan kondisi-kondisi tertentu bagi anak agar upaya penegakan hukum bagi anak tidak menyebabkan anak tidak kehilangan hak-haknya dalam tumbuh dan berkembang.
Residivis atau pengulangan tindak pidana adalah dimana seseorang melakukan beberapa perbuatan atau lebih perbuatan telah dijatuhi hukum oleh hakim.12 Residivis dalam kamus hukum diartikan sebagai ulangan kejahatan, kejadian bahwa seseorang yang pernah dihukum karena melakukan suatu kejahatan, melakukan lagi suatu kejahatan.13
Tindak pidana pengulangan atau Residivice itu terjadi apabila seseorang telah melakukan perbuatan pidana dan terhadap perbuatan pidana tersebut telah dijatuhi dengan putusan hakim. Putusan tersebut telah dijalankan akan tetapi setelah ia selesai menjalani pidana dan dikembalikan kepada masyarakat, dalam jangka waktu tertentu setelah
11 Penjelasan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
12 Satochid Kartanegara, Hukum Pidana, (Balai Lektur Mahasiswa: Kumpulan Kuliah bagian kedua), hlm.233.
13 Subekti dan Tjitrosoedibjo, Kamus Hukum, (Jakarta : Pradnya Paramita, 2002), hlm. 94.
pembebasan tersebut ia kembali melakukan perbuatan pidana.14 Jika dikaitkan dengan anak, bahwa pengertian residivis anak adalah mantan narapidana anak yang selepas keluar dari lembaga permasyarakatan melakukan tindak kejahatan kembali serupa atau disebut sebagai penjahat kambuhan.15
Tindak pidana pengulangan residivis tidak dijumpai dalam aturan umum, tetapi dipasal 486-488 KUHP, mengatur tentang penerapan unsur residivis dalam aturan khusus (buku II dan buku III) Bab XXXI KUHP sebagaimana diatur dalam pemidanaan kepada seorang terpidana. Pada prinsipnya batas tenggang waktu menentukan apakah seseorang dapat dikualifikasikan sebagai residivis atau tidak digantungkan pada jangka 5 (lima) tahun antara hukum yang sedang dijalani dalam suatu tindak pidana yang didakwakan kepadanya.
Pengulangan tindak pidana bukanlah hal yang baru dalam dunia hukum, karena dimana ada kejahatan disitu pula ada pengulangan kejahatan dan pengulangan kejahatan dianggap sebagai penerusan dari niat jahat sebagaimana dikemukakan oleh Bartolus seoarang ahli hukum bahwa “Humanum enimest peccare, angilicum, seemendare, diabolicum perseverare“ atau kejahatan dan pengulangan kejahatan dianggap sebagai penerusan dari niat jahat, maka dapat dipastikan bahwa praktik pengulangan kejahatan itu sendiri sama tuanya dengan praktik kejahatan.16
Berdasakan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia selanjutnya disingkat KPAI menyatakan bahwa anak yang berhadapan dengan hukum dari tahun 2011-2018 terjadi peningkatan meskipun 3 (tiga) tahun terakhir terjadi penurunan baik sebagai pelaku
14 I Made Widnyanya, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta: Fikahati Aneska, 2010), hlm. 299.
15 Dyana C. Jatnika, Nandang Mulyana, dan Santoso Tri Raharjo. Residivis Anak sebagai akibat dari rendahnya kesiapan anak didik lembaga pemasyarakatan dalam menghadapi proses integrasi ke dalam Masyarakat. Share Social Work Jurnal, Volume 5, Nomor 1. hlm 18.
16 Abidin Zainal Farid, Hukum Pidana I, (Jakarta : Sinar Grafika, 1995), hlm. 432.
kejahatan maupun sebagai korban dari kejahatan tersebut namun 2018 kembali meningkat.
Pada Tahun 2012-2017 jumlah kasus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) sebanyak 9.266 Kasus.17 Pada tahun 2018 anak yang berhadapan dengan hukum kembali meningkat sebanyak 1885 kasus diantaranya 504 kasus anak sebagai pelaku kejahatan.18 Hal tersebut disebabkan salah satu faktor kurangnya pengawasan orangtua, faktor lingkungan dan sanksi pidana yang dijatuhkan terhadap anak bersifat memberikan penderitaan bukan untuk membina.
Meningkatnya kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak yang mengakibatkan tindak pidana pengulangan (residivis) disebabkan oleh sistem peradilan pidana bagi anak yang tidak memberikan efek jera bahkan pemidanaan bagi anak hanya sebagai penderitaan (nestapa). Selain itu, seseorang melakukan pengulangan tindak pidana disebabkan beberapa faktor diantaranya yaitu ; kurang bekerjanya salah satu sub sistem secara efektif dari salah satu sistem peradilan pidana (Criminal Justice System) di Indonesia, kesalahan penerapan hukum, faktor ekonomi, sosial dan budaya.
Berdasarkan peristiwa hukum diatas berkaitan dengan anak sebagai pelaku tindak pidana residivis, bahwa perlu adanya perlindungan hak-hak anak dalam upaya penegakan hukum. Penerapan hukum bagi anak dan menjadikannya sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) akan mengganggu masa depan anak. Perlindungan hak-hak anak
17 KPAI, Kurun Waktu 6 Tahun, ABH (Anak yang berhadapan dengan hukum) Sudah mencapai 9.266 Kasus, (http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kurun-waktu-6-tahun-abh-sudah-mencapai-9-266-kasus), diakses pada tanggal 23 April 2019.
18 KPAI, ada 504 kasus anak jadi pelaku pidana, KPAI soroti pengawasan orangtua, https://news.detik.com/berita/d-4128703/ada-504-kasus-anak-jadi-pelaku-pidana-kpai-soroti pengawasan- ortu, diakses tanggal 5 Maret 2019.
menyangkut langsung pengaturan dalam peraturan perundang-undangan.19 Hal-hal yang perlu dipertimbangkan adalah adanya golongan anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik rohani, jasmani maupun sosial.
Perlindungan anak bermanfaat bagi anak dan orangtuanya serta pemerintahnya, maka koordinasi kerjasama perlindungan anak perlu diadakan dalam rangka mencegah ketidakseimbangan kegiatan perlindungan anak secara keseluruhan.20 Abdul Hakim menyatakan bahwa :21
“Masalah perlindungan hukum bagi anak-anak merupakan satu sisi pendekatan untuk melindungi anak-anak Indonesia. Masalahnya tidak semata-mata bisa didekati secara yuridis, tetapi perlu pendekatan lebih luas, yaitu ekonomi, sosial, dan budaya.”
Dengan demikian penjatuhan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana (residivis) harus memperhatikan kepentingan anak. Jika dilihat dari sistem peradilan anak, proses peradilan bagi anak seharusnya memperhatikan kepentingan anak karena penanganan anak yang bermasalah dengan hukum harus memperhatikan kesejahteraan anak.22
Berkaitan dengan kejahatan yang dilakukan anak sebagai pelaku residivis ada pun kasus tentang putusan yang akan dikaji mengenai kebijakan hukum pidana terhadap anak yang melakukan kejahatan pengulangan (residivis), yaitu Putusan Nomor. 02/Pid.Sus.
Anak/2014/PN.Skt. Dalam putusan tersebut, ada beberapa persoalan hukum mengenai penerapan sanksi pidana terhadap anak yang melakukan tindak pidana.
19 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Anak di Indonesia, (Bandung : PT Refika Aditama, 2013), hlm. 35.
20 Ibid.
21 Ibid.
22 Ibid, hlm.6
Putusan pengadilan Negeri Surakarta Tahun 2014 tersebut, Anak dihukum dengan pemberatan sebelumnya telah dijatuhkan hukuman pidana sebanyak 4 (empat) kali. Tindak Pidana yang dilakukan anak dalam perkara putusan Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt adalah bahwa anak atas nama Mada Agung Brahmantya Alias Mada telah melakukan perbuatan tindak pidana yaitu “tanpa hak menguasai narkotika golongan I bukan tanaman”
Sehingga dalam kasus ini pelaku dijatuhkan hukuman oleh hakim berdasarkan pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika”23 dengan pemberatan karena pernah menjadi pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) dengan pidana penjara 2 (dua) tahun 2 (dua) bulan dan pelatihan kerja selama 3 (tiga) bulan.
Berdasarkan Putusan Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt. tersebut, bahwa anak yang bermasalah dengan hukum yang dijatuhkan pidana dengan pemberatan tidak memberikan kemanfaatan dan keadilan bagi anak. Hukuman yang dijatuhkan tidak memberikan efek jera bagi anak. Dalam putusan tersebut bahwa anak sudah menyesali kesalahan dan anak melakukan kejahatan tersebut karena dijanjikan diberikan upah untuk melakukan kejahatan.
Pemberatan hukuman yang diberikan terhadap Agung Brahmantya alias Mada dikarenakan terpidana sudah pernah sebelumnya dihukum. Beberapa kejahatan yang dilakukan oleh Agung Brahmantya alias Mada kemudian dihukum berdasarkan putudan pengadilan diantaranya. Berdasarkan putusan 134/Pid. Sus/2011/PN.Ska pada tahun 2011, dalam putusan ini anak atas nama Agung Brahmantya alias Mada dihukum karena
23 Lihat dalam ketentuan Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang unsurnya “1. Setiap Orang ; 2. Tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika Golongan I bukan tanaman ; 3.Beratnya melebihi 5 (lima) gram.
melakukan tindak pidana “percobaan pencurian dalam keadaan memberatkan” dikenakan pasal 363 ayat (1) jo pasal 53 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Hukuman yang dijatuhkan pidana penjara selama 3 (tiga) bulan. Dalam tindak pidana ini anak melakukan tindak pidana karena diajak oleh Dayu Wira Prahardiastira bersama-sama melakukan tindak pidana pencurian. Sebelumnya anak atas nama Agung Bragmantya alias Mada belum pernah melakukan kejahatan namun anak dihukum dengan pidana penjara.
Anak tersebut kemudian melakukan tindak pidana penganiayaan yang menyebabkan korban luka berat berdasarkan putusan Nomor 31/Pid.Sus/2013/PN.Ska pada tahun 2013.
Hakim kemudian menjatuhkan hukuman kepada anak berdasarkan pasal 170 ayat (1) KUHP secara sah melakukan tindak pidana “dimuka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang” dengan pidana penjara selam 6 (enam) bulan. Dalam hal ini penjatuhan hukuman terhadap anak atas nama Mada Agung Brahmantya alias Mada harusnya ditinjau dari aspek Perlindungan Anak.
Menurut Arif Gosita mengatakan bahwa hukum perlindungan hukum adalah hukum (tertulis maupun tidak tertulis) yang menjamin anak benar-benar dapat melaksanakan hak dan kewajibannya. 24 Bismar Siregar mengatakan bahwa aspek hukum perlindungan anak, lebih dipusatkan kepada hak-hak anak yang diatur hukum dan bukan kewajiban, mengingat secara hukum (yuridis) anak belum dibebani kewajiban.25
Berkaitan dengan penjatuhan sanksi pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (resididvis) bukan memberikan efek jera namun dapat mengancam masa depan anak. Untuk itu perlu adanya jaminan hak asasi anak dalam mendapatkan bantuan
24 Arief Gosita, Masalah Perlindungan Anak, (Jakarta : Akademi Pressindo, 1989), hlm. 35.
25 Maidin Gultom, Op.cit. hlm. 43
hukum serta melihat faktor-faktor lain yang menyebabkan anak melakukan kejahatan.
Pembentukan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak tersebut merupakan konsekuensi dari politik hukum perlindungan hak-hak anak. Hal yang penting adalah anak bukanlah untuk dihukum, sehingga jaminan hak anak tersebut merupakan penjelmaan upaya memberikan pendidikan dan bimbingan kepada anak yang berkonflik dengan hukum.26
Hukuman anak bagi anak bukanlah akhir untuk mendidik anak namun membuat anak semakin melakukan tindak pidana kejahatan. Hal ini dapat dilihat dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Surakarta Nomor : 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt, bahwa anak yang dijatuhkan pidana sebelumnya telah dihukum beberapa kali, sehingga kebijakan hukum pidana (penal policy) dalam pengaturan hukuman bagi anak melihat kondisi yang dialami anak.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul sebagai berikut “Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana yang berulang (Residivis) ditinjau dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt.)”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang yang dikemukakan diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini sebagai berikut :
26 M. Nasir Djamil, Anak Bukan untuk dihukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2015), hlm. 150.
1. Bagaimana Sistem Pemidanaan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) ?
2. Bagaimana Kebijakan hukum pidana terhadap penanggulangan pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) ?
3. Apakah Pertimbangan Hakim dalam Putusan : Nomor. 02/PID.Sus. Anak/2014/PN.Skt) memberikan rasa keadilan bagi anak ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang dijabarkan sebelumnya, adapun yang menjadi tujuan penelitian ini sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui Sistem Pemidanaan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis).
2. Untuk menganalisa Kebijakan hukum pidana terhadap penanggulangan pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis).
3. Untuk menganalisa Apakah Pertimbangan Hakim dalam Putusan : Nomor. 02/Pid.Sus.
Anak/2014/PN.Skt) memberikan rasa keadilan bagi anak.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, baik secara teoritis maupun secara praktis :
1. Secara Teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran secara teoritis dalam pengembangan ilmu hukum terutama Pidana pada Umumnya dan Kajian hukum di bidang kebijakan hukum pidana terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana berulang (residivis) berdasarkan Undang-undang perlindungan
Anak pada khususnya. Disamping itu penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk peneltian selanjutnya.
2. Secara Praktis, sebagai aplikasi ilmu yang telah dipelajari dan hasilnya diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu hukum, instansi pemerintah, praktisi, mahasiswa dan masyarakat yang berkaitan dengan Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana yang berulang (Residivis) ditinjau dari Undang- Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt.)
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi dan penelusuran yang telah dilakukan oleh peneliti diperpustakaan Universitas Sumatera Utara secara khusus maka diketahui bahwa belum ada penelitian yang serupa dengan apa yang menjadi bidang dan ruang lingkup penelitian yang diteliti ini yang berjudul “Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Anak sebagai Pelaku Tindak Pidana yang berulang (Residivis) ditinjau dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak (Studi Putusan Pengadilan Negeri Surakarta : Nomor.
02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt.).” Oleh karena itu, penelitian ini adalah asli karena sesuai dengan asas-asas keilmuan yang jujur, rasional, objektif, dan terbuka.
F. Kerangka Teori dan Kerangka Konsep 1. Kerangka Teori
Landasan teori merupakan bagian dari penelitian yang memuat teori-teori yang berasal dari studi kepustakaan yang berfungsi sebagai kerangka teori dalam menyelesaikan
penelitian. Teori adalah pemahaman yang menerangkan atau menjelaskan tentang gejala spesifik atau proses tertentu yang terjadi.27 Kerangka teori merupakan landasan berpikir yang digunakan untuk mencari pemecahan suatu masalah. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari mana masalah tersebut diamati.28
Soerjono Seokanto menyatakan bahwa “perkembangan ilmu hukum selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori”.29 Fungsi teori dalam penelitian ini bertujuan untuk memberi arahan dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati, karena penelitian ini berssifat yuridis normatif sehingga kerangka teori diarahkan secara mendalam berdasarkan ilmu hukum.
Kerangka teoritis bagi penelitian mempunyai kegunaan sebagai berikut : 30
a. Teori tersebut berguna untuk mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.
b. Teori sangat berguna dalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta, membina struktur konsep-konsep serta memperkembangkan defenisi-defenisis.
c. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar dari pada hal-hal yang diteliti.
d. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa yang akan datang.
Dengan demikian setiap penelitian akan memerlukan dukungan teori-teori sebagai pisau analisis, dimana pemeilihan teori yang dipergunakan menjadi strategi permasalahan dalam penelitian dapat terjawab. Adapun teori yang dijadikan landasan teori dalam penelitian ini adalah :
27 J.J.J M. Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, (Jakarta : UI Press, 1996), hlm 203.
28 Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial, (Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press, 2003), hlm. 39-40.
29 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta : UI Press, 2000), hlm. 6.
30 Ibid.
a. Teori Kebijakan Hukum Pidana
Pelaksanaan upaya hukum, termasuk hukum pidana, sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah sosial termasuk dalam bidang kebijakan penegakan hukum.
Disamping itu karena tujuannya adalah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat pada umumnya, maka kebijakan penegakan hukum itupun termasuk dalam bidang kebijakan sosial, yaitu segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat.31
Istilah “kebijakan” berasal dari bahasa Inggris “policy” atau bahasa Belanda
“politiek”. Istilah ini dalam bahasa Indonesia sering diterjemahkan dengan kata “politik”, oleh karena itu kebijakan hukum pidana biasa disebut juga politik hukum pidana.32 Berbicara mengenai politik hukum pidana, maka tidak terlepas dari pembicaraan mengenai politik hukum secara keseluruhan karena hukum pidana adalah salah satu bagian dari ilmu hukum. Oleh karena itu sangat penting untuk dibicarakan tentang politik hukum.
Menurut Sudarto, Kebijakan criminal merupakan “suatu usaha yang rasional dari masyarakat dalam menanggulangi kejahatan. Kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pada hakikatnya merupakan bagian integral dari upaya perlindungan masyarakat (social defense) dan upaya mencapai kesejahteraan masyarakat (social welfare). Tujuan dari politik criminal adalah “perlindungan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan masyarakat“. Dalam upaya penanggulangan kejahatan “penal” dan “non penal”. Pada waktu tertentun (ius contitutum) dan masa mendatang (ius contituendum). Namun kebijakan hukum pidana identik dengan penal reform dalam arti sempit, karena sebagai
31 Sigit Agung Susilo. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Menanggulangi Penyalahgunaan BBM Subsidi di Nusa Tenggara Timur. Masalah-masalah hukum, jilid 45 Nomor 3, 2016. hlm. 193.
32 Mahmud Mulyadi, Criminal Policy “pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan”, (Medan : Pustaka Bangsa Press, 2008), hlm. 65.
suatu sistem hukum pidana terdiri dari budaya (cultural), struktur (Structur), dan substantsia (substansive) hukum. Karena undang – undang merupakan bagian dari substansi hukum, pembaharuan hukum pidana, disamping memperbaharui perundang-undangan juga mencakup ide dasar dan ilmu hukum pidana.
Berdasarkan pengertian tentang politik hukum sebagaimana dikemukakan diatas, maka secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa politik hukum pidana merupakan upaya menentukan kearah mana pemberlakuan hukum pidana Indonesia masa yang akan datang dengan melihat penegakkannya saat ini. Hal ini juga berkaitan dengan konseptualisasi hukum pidana yang paling baik untuk diterapkan.33
Menurut Marc Ancel, penal policy merupakan ilmu sekaligus seni yang bertujuan untuk memungkinkan peraturan hukum positif dirumuskan secara lebih baik. Peraturan hukum positif diartikan sebagai peraturan perundang-undangan hukum pidana. Usaha dan kebijakan membuat peraturan hukum pidana yang baik, pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari tujuan penanggulangan kejahatan. Jadi kebijakan atau politik hukum pidana bagian dari politik kriminal. Dengan kata lain dari sudut politik kriminal, politik hukum pidana identik dengan pengertian kebijakan
penanggulangan kejahatan dengan hukum pidana. Ruang lingkup kebijakan pidana sebenarnya lebih luas daripada pembaharuan hukum pidana. 34
Kebijakan hukum pidana dilaksanakan melalui tahap konkretisasi, operasinal, fungsionalisasi hukum pidana yang terdiri dari :35
33 Ibid. hlm. 66.
34 Barda Nawawi Arief, Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, (Jakarta : Kencana, 2008), hlm 118.
35 Ibid. hlm 119.
1) Tahap formulasi yaitu tahap penegakan hukum in abstracto oleh badan pembuat undang-undang, tahap ini disebut dengan tahap kebijakan legislatif.
2) Tahap aplikasi yaitu tahap penerapan hukum pidana oleh aparat penegak hukum mulai dari kepolisian sampai ke pengadilan. Tahap ini disebut tahap kebijakan yudikatif.
3) Tahap eksekusi yaitu tahap pelaksanaan hukum pidana secara konkret oleh aparat-aparat pelaksanaan pidana. Tahap ini disebut tahap kebijakan eksekutif atau administratif.
Apabila dilihat dari keseluruhan proses tahap penegakan hukum pidana, tahap kebijakan legislative merupakan tahap paling penting atau tahap paling strategis dari keseluruhan kebijakan untuk mengoperasionalisasikan sanksi pidana. Lebih lanjut Sudarto mengungkapkan bahwa melaksanakan politik hukum pidana berarti mengadakan pemilihan dalam rangka mencapai hasil perundang-undangan pidana yang paling baik dengan memenuhi syarat keadilan dan dayaguna.36
Berdasarkan teori kebijakan hukum pidana (penal policy) jika dikaitkan dengan penelitian ini yang berjudul “kebijakan hukum pidana terhadap anak yang melakukan kejahatan pengulangan (residivis) ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan Anak (studi Putusan Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt) memiliki relevansi yaitu bahwa penerapan serta penegakan hukum pidana melalui kebijakan hukum pidana harus memberikan nilai- nilai kebaikan untuk masa yang akan datang, penerapan hukum pidana juga disesuaikan dengan sistem peradilan nya serta adanya upaya pencegahan terhadap kejahatan. Jadi dalam hal ini pemberatan hukuman yang dijatuhkan terhadap anak tidak sesuai dengan tujuan hukum. Sehingga pembaharuan hukum pidana tidak tercapai atau terjadi kemunduran.
Kebijakan hukum pidana harus sejalan dengan penerapan dan penegakan hukum pidana.
b. Teori Sistem Pemidanaan
36 Mahmud Mulyadi, Lo.cit.
Istilah hukuman merupakan istilah umum dan konvensional, istilah ini mempunyai arti yang sangat luas dan berubah-ubah, karena berhubungan dan berkonotasi dengan bidang yang sangat luas. Istilah penghukuman dapat diartikan secara sempit, yaitu penghukuman dalam perkara pidana, yang kerap kali sinonim dengan “pemidanaan” atau
“penjatuhan pidana” yang mempunyai arti yang sama dengan “sentence” atau
“veroordeling”. Istilah pidana merupakan istilah yang mempunyai arti lebih khusus, sehingga perlu ada pembatasan yang dapat menunjukan cirri-ciri serta sifat-sifatnya yang khas.37
Sudarto berpendapat bahwa yang dimaksud dengan pidana adalah penderitaaan yang sengaja dibebankan kepada orang-orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Menurut Roeslan Saleh, pidana adalah rekasi atas delik dan ini bertujuan suatu nestapa dengan sengaja ditimpakan Negara pada pembuat delik itu.38
Secara umum pidana yang berupa pengenaan penderitaan yang sengaja dijatuhkan Negara terhadap setiap pelanggar hukum, di dalamnya terkandung unsur-unsur, sebagai berikut :39
1) Pidana pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat lain yang tidak menyenangkan ;
2) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan/ yang berwenang.
3) Pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut Undang-undang.
Andi Hamzah memberikan arti sistem pidana dan pemidanaan sebagai susunan (pidana) dan cara pemidanan. M. Sholehuddin menyatakan , bahwa masalah sanksi
37 Nandang Sambas, Pembaruan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia, (Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010), hlm. 12.
38 Ibid.
39 Ibid, hlm 13
merupakan hal yang sentral dalam hukum pidana karena seringkali menggambarkan nilai- nilai sosial budaya suatu bangsa. Artinya pidana maengandung tata nilai (value) dalam suatu masyarakat mengenai apa yang baik dan yang tidak baik, apa yang bermoral dan apa yang amoral serta apa yang diperbolehkan dan apa yang dilarang.40
Secara harfiah “sistem pemidanaan” terdiri dari dua kata yaitu “sistem” dan
“pemidanaan”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sistem berarti perangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Sementara pemidanaan berarti proses, cara, perbuatan memidana.41 Jadi, apabila kedua kata tersebut diartikan sistem pemidanaan berarti sistem pemberian atau penjatuhan pidana.
Apabila pengertian pemidanaan diartikan secara luas sebagai suatu proses pemberian atau penjatuhan pidana oleh hakim, maka dapatlah dikatakan bahwa sistem pemidanaan mencakup pengertian:42
Pandangan-pandangan tentang sistem pemidanaan sesungguhnya tidak lepas dan erat kaitannya dengan perkembangan-perkembangan teori pemidanaan. Ada beberapa teori pemidanaan sebagai berikut :43
1. Teori absolute/ pembalasan antara lain :
a. Tujuan pidana adalah semata-mata untuk pembalasan ;
b. Pembalasan adalah tujuan utama dan didalamnya tidak mengandung sarana- sarana untuk tujuan lain seperti tujuan untuk kesejahteraan masyarakat ; c. Kesalahan merupakan satu-satunya syarat untuk adanya pidana ;
d. Pidana harus disesuaikan dengan kesalahan si pelanggar ;
40 Ekaputra, Mohammad dan Abul Khair, Sistem Pidana Di Dalam KUHP Dan Pengaturannya Menurut Konsep KUHP Baru, (Medan : USU Press, 2010), hlm. 13.
41Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, (http://kbbi.web.id) , diakses pada tanggal 27 Mey 2019.
42 Hermanita, Sistem Pemidanaan Dalam Bidang Perbankan, (portalgaruda.org), diakses pada tanggal 27 mey 2019.
43 Nandang Sambas, Op.cit. hlm 15-16.
e. Pidana melihat ke belakang. Merupakan pencelaan yang murni dan tujuannya tidak untuk memperbaiki, mendidik atau memsyarakatkan kembali si pelanggar.
2. Teori Ultilitarian/ Kemanfaatan
a. Tujuan pidana adalah pencegahan (prevention) ;
b. Pencegahan bukan tujuan akhir tetapi hanya sebagai sarana untuk mecapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu kesejahteraan masyarakat ;
c. Hanya pelanggaran-pelanggaran hukum yang dapat sipersalahkan kepada sipelaku saja yang memenuhi syarat untuk adanya pidana ;
d. Pidana harus ditetapkan berdasarkan tujuannya sebagai alat untuk mencegah kejahatan ;
e. Pidana melihat kemuka, dan dapat mengandung unsure-unsur pencelaan.
3. Teori Verenigings theoreen/ gabungan. Penggabungan antara kedua teori diatas.
Penganut teori gabungan yang lebih menitikberatkan perlindungan masyarakat daripidana pembalasan adalah Simons. Menurutnya, prevensi umum terletak pada pidana yang di ancamkan, subside sifat dari pidana terhadap pelaku prevensi khusus menakutkan, memperbaiki dan melenyapkan (de generale preventive, in de strafbedreiging gelegen. En subsidiair waar de strafbedreinging blijkbaar voor de dader niet voldoender was-speciale preventie, bestaande in afschrikking, berbetering en onschdelijmaking).44
Perwujudan tujuan hukum harus sesuai dengan tujuan pemidanaan itu sendiri.
Dalam hal ini adapun yang menjadi tujuan pemidanaan :45 a) Teori Retributif (Pembalasan)
Teori retributif dalam tujuan pemidanaan disandarkan pada alasan bahwa pemidanaan merupakan “morally justified” (pembenaran secara moral) karena pelaku kejahatan dapat dikatakan layak untuk menerimanya atas kejahatannya. Teori retributif melegitimasi pemidanaan sebagai sarana pembalasan atas kejahatan yang telah dilakukan seseorang. Kejahatan dipandang sebagai perbuatan yang amoral dan asusila di dalam
44 Eddy O.S. Hiariej, prinsip-prinsip hukum pidana, (Yogyakarta : cahaya Atma Pustaka, 2014), hlm.
36.
45 Mahmud Mulyadi, Op.Cit, hlm. 68.
masyarakat, oleh karena itu pelaku kejahatan harus dibalas dengan menjatuhkan pidana.
Tujuan pemidanaan dilepaskan dari tujuan apapun, sehingga pemidanaan hanya mempunyai satu tujuan, yaitu pembalasan.
Ciri khas teori retributif ini berdasarkan pandangan Immanuel Kant (1724-1804) dan Hegel (1770-1831) adalah keyakinan mutlak akan keniscayaan pidana, sekalipun sebenarnya pidana tidak berguna. Pandangan diarahkan pada masa lalu dan bukan ke masa depan dan kesalahan hanya bisa ditebus dengan menjalani penderitaan.
Penjatuhan pidana kepada pelaku kejahatan dalam teori ini, menurut Romli Atmasasmita mempunyai sandaran pembenaran sebagai berikut :
1) Penjatuhan hukuman berdasarkan pembalasan, didasarkan pada perasaan balas dendam si korban. Tipe aliran ini disebut vindicative.
2) Menakuti masyarakat agar tidak melakukan kejahatan, karena ada ganjarannya.
Tipe aliran ini disebut fairness.
3) Pidana dimaksudkan untuk menunjukan adanya kesebandingan antara beratnya suatu pelanggaran dengan pidana yang dijatuhkan. Tipe aliran ini disebut proportionality.
b) Teori Deterrence (Pencegahan)
Tujuan yang kedua dari pemidanaan adalah “deterrence”. Terminologi “deterrence”
menurut Zimring dan Hawkins, digunakan lebih terbatas pada penerapan hukum pada suatu kasus, dimana ancaman pemidanaan tersebut membuat seseorang merasa takut dan menahan diri untuk melakukan kejahatan. Nigel Walker menamakan aliran ini sebagai paham reduktif (reductivism) karena dasar pembenaran dijatuhkannya pidana dalam pandangan aliran untuk mengurangi frekuensi kejahatan.
Menurut Fatic deterrence merupakan salah satu dari tujuan yang diperhatikan oleh paham utilitarian dengan melegitimasi tujuan pencegahan terhadap pelaku supaya tidak melakukan kejahatan lagi, melalui pemberian akibat yang tidak menyenangkan kepada pelaku kejahatan. Tujuan alternative lainnya sebagai strategi untuk mencapai tujuan pemidanaan sebagai pencegahan, yaitu disablement, bahwa pelaku dijauhkan dari korban agar mencegah kembali melakukan kejahatan. Selain itu sebagai tujuan reformation, meskipun hukuman yang singkat namun memberikan kesadaran bagi pelaku.
c) Teori Treatment
Treatment sebagai tujuan pemidanaan dikemukakan oleh aliran positif yang berpendapat bahwa pemidanaan sangat pantas diarahkan kepada pelaku kejahatan, bukan pada perbuatannya. Namun pemidanaan yang dimaksudkan oleh aliran ini adalah untuk memberi tindakan perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation) kepada pelaku kejahatan, sebagai pengganti dari penghukuman. Aliran ini merupakan aliran positif yang melihat kejahatan secara empiris dengan menggunakan metode ilmiah.
Aliran ini beralaskan paham determinisme yang menyatakan bahwa seseorang melakukan kejahatan bukan berdasarkan kehendaknya karena manusia tidak mempunyai kehendak bebas dan dibatasi oleh berbagai faktor, baik watak pribadinya, faktor biologis, maupun faktor lingkungan. Oleh karena itu pelaku kejahatan tidak dapat dipersalahkan dan dipidana, melainkan harus diberikan perlakuan (treatment) untuk resosialisasi perbaikan sipelaku.
d) Teori Social Defence
Social defence adalah aliran pemidanaan yang berkembang setelah PD II dengan tokoh terkenalnya adalah Filipo Gramatica, yang pada tahun 1945 mendirikan Pusat Studi
Perlindungan Masyarakat. Menurut Marc Ancel, tiap masyarakat mensyarakatkan adanya tertib sosial, yaitu seperangkat peraturan-peraturan yang tidak hanya sesuai dengan aspirasi warga masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, peranan yang besar dari hukum pidana merupakan kebutuhan yang tidak dapat dielakan bagi suatu sistem hukum. Beberapa konsep pandangan moderat :
1) Pandangan moderat bertujuan mengintegrasikan ide-ide atau konsepsi-konsepsi perlindungan masyarakat ke dalam konsepsi baru hukum pidana.
2) Perlindungan individu dan masyarakat bergantung pada perumusan yang tepat mengenai hukum pidana, dan ini tidak kurang pentingnya dari kehidupan dari masyarakat itu sendiri.
3) Dalam menggunakan sistem hukum pidana, aliran ini menolak penggunaan fiksi-fiksi dab teknis-teknis yuridis yang terlepas dari kenyataan sosial.
Berkaitan dengan kebijakan hukum pidana terhadap anak yang melakukan kejahatan pengulangan (residivis), yaitu Putusan Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt.
Dalam putusan tersebut, ada kesalahan penerapan hukum terhadap anak sebagai residvis.
Maka penerapan hukum oleh hakim bagi anak harus melihat dari aspek perlindungan hukumnya, sebab anak melakukan kejahatan bukan karena kehendaknya. Bismar Siregar, menyatakan “dalam pemberian pidana harus diperhatikan keseimbangan terhadap pelaku kejahatan, karena tujuan hukum tidak lain untuk mewujudkan kedamaian dalam kehidupan manusia. Demikan halnya dengan anak, penjatuhan hukuman harus melihat kedudukan dia sebagai anak dengan memberikan perlakuan khusus serta memperhatikan aspek lain mengapa anak melakukan kejahatan. Perangkat tujuan pemidanaan yang dimaksud adalah :
a. Pencegahan (Umum dan khusus) b. Perlindungan masyarakat
c. Memelihara solidaritas masyarakat d. Pengimbalan/ pengimbangan.
Berdasarkan teori tujuan pemidanaan, perkembangan mengenai kajian tujuan pemidanaan cenderung beranjak dari prinsip menghukum yang berorientasi kebelakang kea rah gagasan/ide membina yang berorientasi kedepan. Menurut Roeslan Saleh46, pergeseran orientasi pemidanaan disebabkan oleh karena hukum pidana berfungsi dalam masyarakat.
Lebih memahami pergeseran orientasi pemidanaan yang terjadi dalam hukum pidana, berikut ini akan dikemukakan secara singkat berbagai aliran yang berkembang dalam hukum pidana yang melandasi adanya pergeseran tersebut:
a) Aliran Klasik
Aliran ini muncul sebagai reaksi atas kesewenang-wenangan penguasa pada abad ke-18 di Perancis dan Inggris, yang banyak menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan.47 Aliran ini menghendaki hukum pidana yang tersusun secara sistematis dan menitikberatkan pada perbuatan dan tidak kepada orang yang melakukan tindak pidana.
Dengan orientasi pada perbuatan yang dilakukan, aliran ini menghendaki pidana yang dijatuhkan itu seimbang dengan perbuatan tersebut.Secara ekstrim dapat dikatakan, bahwa aliran klasik dalam pemberian pidana lebih melihat kebelakang.
46 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, (Jakarta : Aksara Baru, 1983), hlm.2.
47 Tri Andrisman, Asas-Asas dan Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, (Bandar Lampung : Universitas Lampung, 2009), hlm. 25.
Beberapa tokoh aliran ini dapat disebut misalnya, Cesare Beccaria, yang lahir di Italia pada tanggal 15 Maret 1738 dengan karyanya yang sangat terkenal yaitu Dei Delicti e delle pene (1764) yang diterbitkannya pertama di Inggris tahun 1767 dengan judul On Crimes And Punishment. Bertolak dari filsafat kebebasan kehendak, Cesare Beccaria melalui karyanya memberikan sumbangan pemikiran yang sangat besar dalam pembaharuan peradilan pidana dengan doktrin pidana harus sesuai dengan kejahatan.
Tokoh lain aliran ini adalah Jeremy Bentham (1748-1832), seorang filosof Inggris.
b) Aliran Modern
Aliran ini timbul pada abad ke-19 dengan tokoh-tokohnya Lambroso, Lacassagne, Ferri, Von List, A. Prins Dan Van Hamel. Berbeda dengan aliran klasik, aliran ini berorientasi pada pelaku tindak pidana dan menghendakinya adanya individualisme dari pidana, artinya dalam pemidanaan harus diperhatikan sifat-sifat dan keadaan pelaku tindak pidana.48 Aliran ini disebut juga aliran positif karena dalam mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu alam dan bermaksud untuk langsung mendekati dan mempengaruhi penjahat secara positif (mempengaruhi pelaku tindak pidana kearah yang positif/ke arah yang lebih baik) sejauh ia masih dapat diperbaiki. Dengan orientasi yang demikian maka aliran modern sering dikatakan mempunyai orientasi ke masa depan.
c) Aliran Neo Klasik
Di samping beberapa aliran tersebut di atas, perlu dikemukakan disini adanya suatu aliran yang berasal dari aliran klasik yaitu aliran neo klasik.49 Menurut aliran ini, pidana yang dihasilkan oleh aliran klasik terlalu berat dan merusak semangat kemanusiaan yang
48 Ibid. hlm. 27.
49 Ibid. hlm. 29.
berkembang saat itu. Untuk itu aliran ini merumuskan pidana minimum dan mengakui apa yang dinamakan asas-asas tentang keadaan yang meringankan (principle of extenuating circumstances).
Sesuai dengan teori tujuan pemidanaan berkaitan dengan penelitian ini, bahwa memiliki relevansi berkaitan dengan pemberatan hukuman anak sebagai residivis harus melihat faktor anak yang melakukan kejahatan, pemidanaan terhadap anak harus memberikan pebaikan untuk mencegah terjadinya kejahatan. Untuk itu hukuman yang dijatuhkan terhadap anak harus memberikan rasa keadilan serta kemanfaatan. Penjatuhan hukuman bagi anak harus memperhatikan tujuan pemidanaan yaitu berdasarkan teori treatment “memberikan perawatan atau dan perbaikan (rehabilitation) yang bersifat pembinaan.
2. Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual merupakan gambaran antara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dalam arti yang berkaitan, dengan istilah yang diteliti dan/atau diuraikan dalam karya ilmiah.50 Pada penelitian hukum kerangka konseptual diperoleh dari peraturan perundang-undangan atau melalui usaha untuk membentuk pengertian-pengertian hukum.
Kerangka konseptual dalam merumuskan atau membentuk pengertian-pengertian hukum yang kegunaannya tidak hanya terbatas pada penyusunan kerangka konsepsional saja, bahkan pada usaha merumuskan defenisi-defenisi operasional diluar peraturan perundang-undangan. Dengan demikian, konsep merupakan unsure pokok dari suatu
50 Zainudin Ali, Metode Penelitian hukum, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hlm 96.
penelitian.51 Konsep operasional dari judul penelitian ini akan dijabarkan secara sederhana sebagaimana diuraikan dibawah ini, agar mempermudah pemahaman terhadap penelitian ini :
a. Anak
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Hukum menyatakan bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya.
b. Residivis
Residivis atau pengulangan tindak pidana adalah dimana seseorang melakukan beberapa perbuatan atau lebih perbuatan telah dijatuhi hukum oleh hakim.
Residivis dalam kamus hukum diartikan sebagai ulangan kejahatan, kejadian bahwa seseorang yang pernah dihukum karena melakukan suatu kejahatan, melakukan lagi suatu kejahatan.
c. Tindak Pidana
Menurut Simons, menyatakan tindak pidana ialah suatu tindakan atau perbuatan yang diancam dengan pidana oleh Undang-undang Hukum Pidana, bertentangan dengan hukum pidana dan dilakukan dengan kesalahan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab.52
d. Kebijakan Hukum Pidana
51 Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1997), hlm 24.
52 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta, Bina Aksara, 2005), hlm.20.
Kebijakan hukum pidana dapat diartikan dengan cara bertindak atau kebijakan dari negara (pemerintah) untuk menggunakan hukum pidana dalam mencapai tujuan tertentu, terutama dalam menanggulangi kejahatan, memang perlu diakui bahwa banyak cara maupun usaha yang dapat dilakukan oleh setiap negara (pemerintah) dalam menanggulangi kejahatan. Salah satu upaya untuk dapat menanggulangi kejahatan, diantaranya melalui suatu kebijakan hukum pidana atau politik hukum pidana.53
e. Perlindungan Hukum
Dalam Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 menyatakan bahwa “Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpatisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
G. Metode Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika atau pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganlisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahak suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul didalam gejala yang
53 Aloysius Wisnubroto, Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Komputer, (Yogyakarta : Universitas Atmajaya, 1999), hlm. 10.