BAB IV DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR :
D. Posisi Kasus
2. Analisis Putusan Hakim Nomor 02/Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt
Berdasarkan putusan tersebut, bahwa ada hal yang perlu dipertimbangkan hakim dalam menjatuhkan hukuman bagi terdakwa. Adapun beberapa unsur yang harus dipenuhi apabila terdakwa dapat dikatakan bersalah sebagai berikut :187
1) Melakukan perbuatan pidana (Sifat melawan hukum)
Berdasarkan pasal 112 ayat (2) Undang-undang Narkotika bahwa anak telah melanggar ketentuan pidana, berdasarkan dakwaaan dan uraian dasar pertimbangan dengan perbuatan yang dilakukan anak. Berdasarkan fakta hukum bahwa anak memenuhi unsur melakukan tindak pidana narkotika.
2) Diatas umur tertentu mampu bertanggungjawab
Seseorang tidak dapat dimintai pertanggungjawaban apabila ia tidak mampu bertanggung jawab. Pertanggungjawaban yang dimaksud diatur di dalam KUHP, yang didasarkan pada faktor akal dan jiwa. Berdasarkan ketentuan pasal 45 KUHPidana bahwa penjatuhan hukuman bagi orang dewasa dan anak berbeda tentunya juga seperti pada tindak pidana narkotika. Berdasarkan tindak pidana narkotika yang dilakukan anak dengan hukuman penjara dengan pemberatan hukuman yang dijatuhkan bahwa anak tidak mampu bertanggungjawab karena dibawah pengaruh dan dijanjikan akan diberi uang senilai Rp.
2.000.000,00.
3) Mempunyai bentuk kesalahan berupa kesengajaan atau kealpaan
Seseorang dipertanggungjawabkan secara pidana adalah karena seseorang itu memiliki kesalahan baik sengaja maupun kelalaian. Secara pidana, anak tidak dapat
187 Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, (Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm.165.
sepenuhnya bertanggungjawab atas kesalahan yang dilakukannya karena dibawah pengaruh orang dewasa pada saat melakukan pengedaran narkotika tersebut.
4) Tidak adanya alasan pemaaf
Ketentuan tentang alasan pemaaf atau alasan penghapus kesalahan terdapat pada pasal 44, pasal 48, pasal 49 ayat (2), dan pasal 51 ayat (2) KUHPidana. Dalam hal ini, terdakwa memenuhi unsur-unsur alasan pemaaf karena mengakui segala kesalahan dan dibawah pengaruh orang dewasa.
Sebagaimana terhadap dakwaan jaksa penuntut umum yaitu pasal 114 ayat (2) atau Pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika. Pasal 114 ayat (2) menyatakan “ Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menerima, menjadi perantara dalam jual beli narkotika golongan I (satu) dalam bentuk bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram”. Pasal 112 ayat (2) menyatakan “Setiap orang tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai atau menyediakan Narkotika golongan I (satu) bukan tanaman beratnya melebihi 5 (lima) gram.
Berdasarkan dakwaan yang dituntut oleh jaksa oleh ketentuan diatas, bahwa dapat dipahami tuntutan jaksa tidak sesuai dengan tujuan hukum dan tujuan sistem peradilan pidana anak. Dimana tuntutan jaksa tidak memasukan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak dan tidak melihat perlindungan anak sesuai dengan Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak, karena posisi anak dalam hal ini dapat dikategorikan sebagai korban karena dijanjikan sejumlah uang apabila mengedarkan narkotika. Selain itu, pasal yang dituntut oleh jaksa menjadi dasar bagi hakim untuk menghukum anak tersebut dimana putusan yang dijatuhkan oleh hakim bersifat memberatkan tanpa melihat Undang-undang Sistem Peradilan Anak.
Berdasarkan tuntutan jaksa bahwa Hakim dalam memutuskan sesuai dengan pasal 112 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun 2 (dua) bulan dan pelatihan kerja selama 3 (tiga) bulan. Berdasarkan putusan hakim tersebut, hakim memutuskan perkara lebih cenderung kepada Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Tindak Pidana Narkotika.
Putusan Hakim yang menyatakan terdakwa untuk dipenjarakan 2 (dua) tahun 2 (dua) bulan menjadikan anak dihukum hanya dipandang dari sisi perbuatannya tetapi tidak melihat faktor lain anak melakukan kejahatan. Hal ini masih pada pandangan klasik yang menghukum hanya untuk pembalasan tetapi bukan untuk merehabilitasi atau merubah anak tersebut., sehingga hakim menyimpulkan bahwa anak yang bersangkutan perlu dijatuhi pidana.
Berdasarkan teori treatment seharusnya anak yang berhadapan dengan hukum bukan dihukum karena perbuatannya saja namun lebih pada pelaku kejahatan yaitu melihat faktor-faktor melakukan kejahatan tersebut. Pemidanaan bagi anak menurut aliran treatment bahwa hukuman yang diberikan kepada anak lebih bersifat perawatan (treatment) dan perbaikan (rehabilitation).
Selain itu, pemidanaan bagi anak secara Sistem Peradilan Anak dikenal dengan istilah sistem dua jalur (double track System), bahwa sanksi bagi anak bukan hanya sanksi penjara tetapi dikenal adanya sanksi tindakan. Dapat dipahami sanksi bagi anak bersifat penanggulangan dan perbaikanl. Jika melihat pada pertimbangan hakim dengan pemberatan bahwa anak dihukum oleh karena pernah melakukan kejahatan sebelumnya (residivis) artinya hukuman penjara tidak memberi efek jera bagi anak namun menjadikan anak semakin jahat dan tidak terwujudnya tujuan hukum.
Dasar pertimbangan hakim yang digunakan pada putusan yang memberatkan hukuman anak dengan alasan residivis, terdapat beberapa kejanggalan :
1. Hukuman yang dijatuhkan kepada anak berdasarkan pemberatan lebih bersifat pada pembalasan tetapi tidak pada rehabilitasi, hal ini tidak sesuai dengan tujuan hukum (nilai-nilai keadilan) dan UU Sistem Peradilan Anak karena pemidanaan bagi anak berdasarkan uraian pertimbangan hakim tidak menguraikan fakta-fakta lain alasan anak melakukan kejahatan.
2. Pemberatan secara UU Sistem Peradilan Anak tidak mengatur bahwa anak sebagai residivis, namun hakim menjatuhkan vonis kepada anak tanpa mempertimbangkan ketentuan yang diatur dalam UU tersebut serta menjatuhkan sanksi pidana perampasan kemerdekaan terhadap pelaku anak.
3. Sanksi yang dijatuhkan terhadap anak hampir seluruhnya sanksi pidana penjara namun sanksi tindakan tidak diterapkan, hal ini mereduksi hak-hak anak untuk diberikan perlindungan hukum.
4. Hakim dalam menjatuhkan hukuman bagi anak hanya asumsi belaka untuk memberantas narkotika tetapi tidak memperhatikan alasan lain dan faktor anak melakukan kejahatan serta hukuman penjara terhadap anak hanya membuat anak semakin pandai berbuat jahat, hal ini terlihat anak sebelumnya beberapa kali melakukan kejahatan dan disebut sebagai residivis, hal ini berdampak pada sistem pemidanaan dan pembinaan di lembaga pemasyarakatan bagi anak tidak mendapatkan keadilan, sehingga anak tidak memiliki masa depan yang jelas.
Berdasarkan analisis putusan Hakim Nomor 02 /Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt, dimana penjatuhan hukum terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis)
hanya melihat dari perspektif UU Narkotika, namun penjatuhan hukuman bagi anak seharusnya melakukan pendekatan UU SPA dan UU Perlindungan Anak karena anak secara pertanggungjawaban hukum tidak sama dengan orang dewasa. Selain itu, dalam kasus tersebut hakim seharusnya mempertimbangkan beberapa fakta hukum bahwa anak dibawah kekuasaan orang dewasa dengan diimingi sejumlah uang serta mempertimbangkan tidak terewujudnya sistem pemidanaan bagi anak selama menjalani hukuman di dalam lembaga pemasyarakata. Untuk itu, penerapan hukuman bagi anak perlu mempertimbangkan secara sistem dua jalur (double track system) karena anak patut untuk dilindungi sekalipun sebagai pelaku residivis.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab-bab sebelumnya di dalam penelitian ini, maka penulis dapat memberikan kesimpulan sebagai berikut :
1. Sistem Pemidanaan bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) memiliki perbedaan setiap pengaturan, baik dalam KUHPidana maupun pengaturan khusus mengenai anak dan narkotika. Dalam KUHPidana sistem pemidanaan diatur secara umum berdasarkan pasal 488 KUHpidana bahwa hukuman ditambah sepertiga, namun tidak ada pengaturan khusus bagi anak sebagai pelaku residivis. Sedangkan dalam Pasal 7 UU SPA bahwa bagi pelaku tindak pidana pengulangan (residvis) oleh anak tidak diberikan diversi, berdasarkan hal tersebut bahwa perlindungan hukum bagi anak sebagai pelaku residivis tidak ada perlindungan, namun pemberatan hukuman bagi anak sebagai residivis tetap didasarkan pada KUHPidana, demikian dengan UU Narkotika bahwa pemberatan hukuman diatur dalam pasal 144 UU Narkotika dan tetap mengacu pada KUHPidana. Sistem Pemidanaan berdasarkan UU SPA lebih bersifat pada upaya perbaikan anak, untuk itu penekanan sistem dua jalur (double track system), pemberian sanksi pidana dan sanksi tindakan harus seimbang.
2. Kebijakan Hukum Pidana terhadap penanggulangan pidana bagi anak sebagai pelaku tindak pidana pengulangan (residivis) dilakukan dengan dua cara, penal policy dan non penal policy. Penal Policy lebih kepada arah pembaharuan hukum pada pembentuk undang-undang, penegak hukum dan aturan hukum yang dibuat untuk masa depan
anak. Hal tersebut dibagi atas 3 (tiga) tahap yaitu tahap formulasi (kebijakan legislative), aplikasi (kebijakan yudikatif), eksekusi (kebijakan eksekutif). Tahapan ini dituangkan dalam KUHPidana dan UU SPA dan dilaksanakan oleh penegak hukum.
Sedangkan upaya non penal policy bahwa kebijakan hukum pidana yang diberikan mengutamakan pada perbaikan sosial anak, melihat faktor sosial dan penyebab anak melakukan kejahatan bahwa hukum penjara merupakan upaya terakhir.
3. Berdasarkan putusan Nomor 02/Pid.Sus.Anak/2014/PN.Skt bahwa adanya kekeliruan dalam menjatuhkan hukuman bagi anak sebagai pelaku residivis. Hakim berpendirian menjatuhkan hukuman telah memenuhi unsur tindak pidana berdasarkan pasal 112 ayat (2) UU Narkotika bahwa hukuman yang dijatuhkan dengan pemberatan karena anak sebagai pelaku residivis. Hal-hal yang diabaikan oleh majelis hakim berdasarkan fakta bahwa anak dijanjikan diberi sejumlah uang Rp. 2.000.000,- dan tidak memasukan UU SPPA dalam memberikan hukuman bagi anak, sehingga putusan tersebut tidak memberikan keadilan bagi anak karena berdasarkan UU SPA bahwa anak wajib dilindungi sebagai pelaku kejahatan, pemidanaan bagi anak bukan bersifat pembalasan tetapi bersifat perbaikan (treatment) dan sanksi yang diberikan juga harus berdasarkan sistem dua jalur (double track system) berdasarkan sanksi penjara dan sanski tindakan.
B. Saran
1. Hendaknya anak tetap dilindungi haknya meskipun sebagai pelaku residivis karena anak tidak memiliki kemampuan bertanggungjawab secara hukum.
2. Diharapkan ketegasan UU SPA terhadap perlindungan anak sebagai pelaku residivis, serta perbaikan pada pembinaan anak dilembaga pemasyarakatan sehingga anak tidak kembali melakukan kejahatan.
3. Hakim dalam memutuskan mempertimbangkan kesejahteraan anak dan mempertimbangkan fakta-fakta bahwa hukuman bagi anak residivis dengan pemberatan bukan tujuan utama untuk memperbaiki anak, hendaklah dijatuhi hukuman untuk perbaikan anak.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ali, Mahrus, Dasar-Dasar Hukum Pidana, Jakarta: Sinar Grafika, , 2011.
Andrisman, Tri, Asas-Asas dan Aturan Umum Hukum Pidana Indonesia, Bandar Lampung : Universitas Lampung, 2009.
Arief, Barda Nawawi, Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan Dengan Pidana Penjara, Semarang : CV. Ananta, 1986.
__________________, Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996.
__________________, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana, Bandung : PT.Citra Aitya Bakti, 1998.
________________, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2003.
__________________, Tindak Pidana Mayantara Perkembangan Kajian Cyber Crime Di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.
__________________, Kebijakan Hukum Pidana Perkembangan Penyusunan Konsep KUHP Baru, Jakarta : Kencana, 2008.
__________________, Masalah Penegakan Hukum Dan Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan, Bandung : Prenada Media Gorup, 2008.
__________________, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010 Cetakan II.
Atmasasmita, Romli, Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) Perspektif Eksistensialisme Dan Abolisionalisme, Jakarta. Bina Cipta, 1996.
______________, Sistem Peradilan Pidana Kontemporer, Jakarta, Kencana, 2010.
Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana, Jakarta :Raja Grafindo, 2008.
Chazawi, Adami, Pelajaran Hukum Pidana I, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2011.
Dirjosisworo, Soedjono, Hukum Narkotika Indonesia, Bandung : Citra Aditya Bhakti, 1990.
Djamil, M. Nasir, Anak Bukan Untuk di Hukum, Cetakan ke-II, Jakarta : Sinar Grafika, 2013.
Farid, Abidin Zainal, Hukum Pidana I, Jakarta : Sinar Grafika, 1995.
________________, Hukum Pidana 1. Jakarta : Sinar Grafika, 2007.
Friedman, Lawrence M. American Law an Introduction. Second Edition. Hukum Amerika sebuah pengantar. Penerjemah wisnu basuki, Jakarta, PT Tata Nusa. 2001.
Gosita, Arif, Masalah Korban Kejahatan, Jakarta : CV Akademika Pressindo, 1983.
__________, Masalah Perlindungan Anak, Jakarta : Akademi Pressindo, 1989.
Gultom, Maidin, Perlindungan Hukum Terhadap Anak, Bandung : Rafika Aditama, 2008.
_____________, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Anak di Indonesia, Bandung : PT Refika Aditama, 2013.
Hadi Setiono, Pemahaman Terhadap Metode Penelitian Hukum, Semarang : PPS UNS, 2002.
Hamdan, H. M, Hukuman dan Pengecualian Hukuman Menurut KUHP dan KUHAP, Medan : USU PRESS, 2010.
Hamzah, Andi, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, Dari Retribusi ke Reformasi, Jakarta : PT Pradnya Paramita, Jakarta, 1986.
Hamzah, Andi, Hukum Acara Pidana Indonesia Edisi Revisi, Jakarta : Sinar Grafika , 2002.
_____________, Asas-asas Hukum Pidana, Bandung : Rineka Cipta, 2008.
_____________, Hukum Acara Pidana Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika, 2010.
Hiariej, Eddy O.S., prinsip-prinsip hukum pidana, Yogyakarta : cahaya Atma Pustaka, 2014.
Ibrahim, Johny, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Surabaya : Bayumedia, 2008.
Ilyas, Amir, Asas-asas Hukum Pidana, Yogyakarta : Rangkang Education Yogyakarta &
PuKAP-Indonesia, 2012.
Joni, Muhammad, Penjara Bukan Tempat Anak, Jakarta : Peran Indonesia, 2012.
Kansil, C.S.T. dan Christine S.T. Kansil, Pokok-pokok Hukum Pidana, Jakarta: Pradnya Paramita, 2004.
Kartanegara Satochid, Hukum Pidana, Balai Lektur Mahasiswa: Kumpulan Kuliah bagian kedua.
Koentjaraningrat, Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1997.
Kusnardi, Moh. dan Harmaily Ibrahim, Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar Bakti, Jakarta 1998.
Lamintang, P.A.F, Dasar Dasar Hukum Pidana Indonesia, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2011.
Marlina, Hukum Penitensiere, Bandung : PT Refika Aditama, 2011.
Moeljatno, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
________, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Jakarta:
Bina Aksara, 2001.
________, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta, Bina Aksara, 2005.
Muchsin, Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Kebijakan Asasi, Jakarta : STIH IBLAM, 2004.
Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat. Bandung : Alumni, 1985.
______ dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana, Cet. II, Bandung Penerbit Alumni, 1998.
Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2001.
Mulyadi, Lilik, Hukum Acara Pidana Indonesia Suatu Tinjauan Khusus Terhadap: Surat Dakwaan, Eksepsi, Dan Putusan Peradilan, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2012.
Mulyadi, Mahmud, Criminal Policy “pendekatan Integral Penal Policy dan Non-Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan”, Medan : Pustaka Bangsa Press, 2008.
Nashriana, Perlindungan Hukum Pidana bagi anak di Indonesia, Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2012.
Nasution, Adnan Buyung, Dalam makalah pokok-pokok pikiran penyusunan hukum acara pidana, pada tanggal 5-7 Juli 2007.
Nawawi, Barda, Perkembangan Sistem Pemidanaan di Indonesia, Semarang : Pustaka Magister, 2007.
Nawawi, Hadari, Metode Penelitian Bidang Sosial, Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press, 2003.
Nandang Sambas, Pembaruan Sistem Pemidanaan Anak di Indonesia, Yogyakarta : Graha Ilmu, 2010.
Poernomo, Bambang, Hukum Pidana Kumpulan karangan Ilmiah, Jakarta : Bina Aksara 1982.
Prinst, Darwan, Hukum Anak Indonesia, Bandung : Citra Aditya Bakti, 1997.
_________________, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1985.
Prakoso, Abintoro Hukum Perlindungan Anak, Yogyakarta : Laksbang Presindo, 2018.
Prasetyo,Teguh, Hukum Pidana ,edisi revisi cet , Jakarta : PT Raja Grafindo Persada , 2012.
Prodjodikoro, Wirjono, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung : Refika Aditama, 2003.
________________, Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Jakarta: PT. Eresco, 2004.
Rimdan, Kekuasaan Kehakiman Pasca-Amandemen Konstitusi, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012.
Raharjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2000.
Rahardjo, Satjipto, Masalah Penegakan Hukum : Suatu Tinjauan Sosiologis, Bandung : Sinar Baru, 2001.
Reksodiputro, Mardjono, Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Melihat Kepada Kejahatan Dan Penegakan Hukum Dalam Batas – Batas Toleransi), Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, 1993.
Salam, Moch Faisal, Hukum Acara Pidana dalam Teori dan Praktek, (Bandung : Mandar Maju, 2001), hlm. 201.
Saleh, Roeslan, Stesel Pidana Indonesia, Jakarta : Aksara Baru, 1987.
___________, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana, Jakarta : Aksara Baru, 1983.
Sasangka,Hari, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, Bandung : Mandar Maju, 2003.
Satgas Luphen Narkoba Mabes Polri, Penanggulangan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba, Plikologis, Medis, Religius, Jakarta : Dit. Binmas POLRI, 2001.
Sasmito, Joko, Konsep Asas Retroaktif dalam Pidana, Malang : Setara Press, 2017.
Setiady, Tolib, Pokok-Pokok Hukum Penintesier, Indonesia : Alfabeta, 2010.
Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, Ide Dasar Double Track System Dan Implementasinya, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2002.
Simorangkir,J.C.T, Kamus Hukum, Jakarta : Sinar Grafika, 2008.
Soejono, Kejahatan dan Penegakan Hukum di Indonesia, Jakarta, Rineka Cipta, 1996.
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : UI Press, 2000.
_______________ dan Purnadi Purbacaraka, Sendi-sendi Ilmu Hukum dan Tata Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2000.
Soemitro Roni Hanitijo, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Jakarta : Balai Aksara, 1990.
Soetodjo, Wigiati, Hukum Pidana Anak, Cetakan Ketiga, Bandung : P.T.Refika Aditama, 2010.
Sofyan, Andi, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, Yogyakarta, Rangkang Education, 2013.
Sunggono Bambang, Metode Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2001.
Subekti dan Tjitrosoedibjo, Kamus Hukum, Jakarta : Pradnya Paramita, 2002.
Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 1981.
______, Hukum Pidana 1, Semarang : Yayasan Sudarto d/a Fakultas Hukum Undip Semarang, 1990.
_______, Hukum Pidana 1 A - 1B, Purwokerto : Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman, 1991.
Suparmono, Gatot, Hukum Narkoba Indonesia, Jakarta : Djambatan.
Tongat, Pidana Seumur Hidup dalam Sistem Hukum Pidana di Indonesia, Malang : Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, 2004.
Utrecht, E, Hukum Pidana II Rangkaian Sari Kuliah, Surabaya : Pustaka Tinta Mas, 2000.
Vold, Geogrge B. dalam M.Sholehuddin, Sistem Sanksi dalam Hukum Pidana (Ide Dasar Double Track System dan Implementasinya), Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Wahyudi, Setya, Implementasi Ide Diversi Dalam Pembaruan Sistem Peradilan Anak di Indonesia, Yogyakarta : Genta Publishing, 2011.
Waluyo, Bambang, Pidana dan Pemidanaan, Jakarta : Sinar Grafika, 2004.
Widnyanya, I Made, Asas-asas Hukum Pidana, Jakarta: Fikahati Aneska, 2010.
Wisnubroto, Aloysius, Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Komputer, (Yogyakarta : Universitas Atmajaya, 1999), hlm. 10.
Wuisman, J.J.J M. Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid I, Jakarta : UI Press, 1996.
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ; Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Anak ; Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak ;
Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990 Tentang Pengesahan Convention On the Rights Of The Child (Konvensi Tentang Hak-Hak Anak) ;
Putusan Nomor. 134/Pid. Sus/2011/PN. Ska Putusan Nomor. 31/Pid. Sus/2013/PN.Ska
Putusan Nomor. 02/Pid.Sus. Anak/2014/PN.Skt
Surat Edaran Jaksa Agung Nomor SE-004/J.A/11/1993 tentang Pembuatan Surat Dakwaan
JURNAL
Alvi Syahrin, Mahmud Mulyadi, Marlina. Penjatuhan Sanksi Pidana Terhadap Anak Pelaku Kejahatan. Usu Law Journal , Volume. 3 Nomor 2, 2015.
Bambang Purnomo, Gunarto, Amin Purnawan. Penegakkan hukum Pidana Anak Sebagai Pelaku Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak (Studi Kasus di Polres Tegal. Jurnal hukum Khairah Ummah, Vol. 13 Nomor 1, 2018.
Heri, Ririn Nurfaathirany. Anak Pelaku Tindak Pidana. Jurnal Office, Volume 2 No.2, 2016.
Jatnika, Dyana C., Nandang Mulyana, dan Santoso Tri Raharjo. Residivis Anak sebagai akibat dari rendahnya kesiapan anak didik lembaga pemasyarakatan dalam menghadapi proses integrasi ke dalam Masyarakat. Share Social Work Jurnal, Volume 5, Nomor 1. hlm 18.
Judge, Zulfikar. Kedudukan Anak yang berhadapan dengan Hukum Selaku Pelaku Tindak Pidana (Studi Kasus :123/PID.SUS.PN.JKT.TIM). Lex Jurnalica, Volume 13, Nomor 3, Desember 2016.
Maksum Hadi Putra. Sanksi Pidana Terhadap Anak yang melakukan Pengulangan Tindak Pidana (Residivise). Jurnal IUS, Vol IV, Nomor 2, 2016.
Satriya, Bambang , Anak Membutuhkan Penegak Hukum Humanis (Analisis Putusan Perkara No.1/PUU-VIII/2010. Jurnal Konstitusi, Volume 8, Nomor 5, Oktober 2011.
MAKALAH
Bismar Nasution, Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, disampaikan pada dialog interaktif tentang penelitian hukum dan hasil penulisan hukum pada majalah akreditasi, (Fakultas Hukum Usu: Medan, 18 Februari 2003.
INTERNET
Erni Dwita Silambi dan Andi Sofyan. Penangaan Anak yang Berkonflik dengan Hukum.
(http://www.hukumonline.com/artikelperlidungananak_html), diakses pada tanggal 26 Juni 2019.
Kompas, Anak dan Problematika bangsa, (Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/satriadinda/anak-dan-problematika-bangsa), di akses pada tanggal 6 Maret 2019.
KPAI, ada 504 kasus anak jadi pelaku pidana, KPAI soroti pengawasan orangtua, https://news.detik.com/berita/d-4128703/ada-504-kasus-anak-jadi-pelaku-pidana-kpai-soroti pengawasan-ortu, diakses tanggal 5 Maret 2019.
KPAI, Kurun Waktu 6 Tahun, ABH (Anak yang berhadapan dengan hukum) Sudah mencapai 9.266 Kasus, (http://www.kpai.go.id/berita/kpai-kurun-waktu-6-tahun-abh-sudah-mencapai-9-266-kasus), diakses pada tanggal 23 April 2019.
Rusman Pattiwael, (Pengaturan Sanksi Double Track System dalam Undang-undang Pemberantasan Korupsi), http://rusman-pattiwael.blogspot.co.id/p/pengaturan-sanksi-double-tracksystem.html, diakses pada tanggal 3 Juni 2019.