BAB III KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENANGGULAN PIDANA
C. Kebijakan Hukum Pidana Berdasarkan Non Penal
Kebijakan penanggulangan kejahatan lewat jalur “non penal” lebih bersifat tindakan pencegahan sebelum terjadinya kejahatan. Oleh karena itu, sasaran utamanya adalah menangani
faktor-faktor kondusif penyebab terjadinya kejahatan yang berpusat pada masalah-masalah
atau kondisi-kondisi sosial yang secara langsung atau tidak langsung dapat menimbulkan atau menumbuhsuburkan kejahatan. Dengan demikian dilihat dari kebijakan penanggulangan kejahatan, maka usaha-usaha non penal ini mempunyai kedudukan yang strategis dan memegang peranan kunci yang harus diintensifkan dan diefektifkan.137
136 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai ……….., Lo.cit, hlm. 29.
137 Mahmud Mulyadi, Criminal Policy: Pendekatan Integral Penal Policy dan Non Penal Policy dalam Penanggulangan Kejahatan Kekerasan, (Medan, Pustaka Bangsa Press, 2008), hlm. 55.
Pernyataan di atas juga didukung oleh berbagai hasil dari Kongres PBB ke-6 Tahun 1980 yang berlangsung di Caracas, Venezuela menyatakan dalam pertimbangan resolusinya mengenai Crime Trends and Crime Prevention Strategies, antara lain:138
1) Bahwa masalah kejahatan merintangi kemajuan untuk pencapaian kualitas kehidupan yang layak bagi semua orang (the crime impedes progress towards the attainment of an acceptable quality of life for all people);
2) Bahwa strategi pencegahan kejahatan harus didasarkan pada penghapusan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan (crime prevention strategies should be based upon the elemination of causes and condition giving rise to crime);
3) Bahwa penyebab utama banyaknya terjadi kejahatan diberbagai negara adalah disebabkan oleh ketimpangan sosial, diskriminasi rasial dan diskriminasi nasional, standar hidup yang rendah, pengangguran dan kebodohan diantara sebagain besar penduduk (the main causes of crime in many countries are social inequality, ratial and national discrimination, low standar of living, unemployment and illiteracy among broad section of the population).
Setelah mempertimbangkan hal-hal di atas, maka dalam resolusi itu dinyatakan bahwa menghimbau semua anggota PBB untuk mengambil tindakan dalam kekuasaan mereka untuk menghapus kondisi-kondisi kehidupan yang menurunkan martabat kemanusiaan dan menyebabkan kejahatan, yang meliputi masalah pengangguran, kemiskinan, kebutahurufan (kebodohan), diskriminasi rasial dan nasional serta bermacam-macam bentuk dari ketimpangan sosial.139
Di dalam Dokumen A/CONF. 121/L/9 mengenai Crime Prevention in the Context Of Development Kongres PBB ke-7 Tahun 1985 di Milan, Italia ditegaskan bahwa upaya penghapusan sebab-sebab dan kondisi yang menimbulkan kejahatan harus merupakan strategi pencegahan kejahatan yang mendasar. Strategi pencegahan kejahatan yang mendasar ini harus dicarikan untuk menghilangkan penyebab dan kondisi-kondisi yang
138 Ibid.
139 Barda Nawawi Arief, Op. Cit., hlm. 41.
menimbulkan suatu kejahatan. Akhirnya di dalam Guiding Principles yang dihasilkan oleh Kongres PBB ke-7 ini, ditegaskan bahwa berbagai kebijakan mengenai pencegahan kejahatan dan peradilan pidana harus mempertimbangkan sebab-sebab struktural, termasuk sebab-sebab ketidakadilan yang bersifat sosio-ekonomi, dimana kejahatan sering merupakan suatu gejala semata (symptom).140
Kongres PBB ke-8 tahun 1990 tentang the Prevention of Crime and the Treatment of Offenders yang berlangsung di Havana, Cuba, menekankan, pentingnya aspek sosial dari kebijakan pembangunan yang merupakan suatu faktor penting dalam pencapaian strategi pencegahan kejahatan dan peradilan pidana. Oleh karena aspek-aspek sosial dalam kontek pembangunan ini harus mendapat prioritas yang utama. Kongres ke-8 ini juga berhasil mengidentifikasi berbagai aspek sosial yang ditengarai sebagai faktor-faktor kondusif penyebab timbulnya kejahatan. Hal ini disebutkan dalam Dokumen A/CONF. 144/L.3, yaitu sebagai berikut:141
1) Kemiskinan, pengangguran, kebutahurufan, ketiadaan perumahan yang layak dan sistem pendidikan serta pelatihan yang tidak cocok;
2) Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai prospek (harapan) karena proses integrasi sosial dan karena memburuknya ketimpanganketimpangan sosial;
3) Mengendornya ikatan sosial dan keluarga;
4) Keadaan-keadaan atau kondisi yang menyulitkan bagi orang yang berimigrasi ke kota-kota atau ke negara-negara lain;
5) Rusaknya atau hancurnya identitas budaya asli, yang bersamaan dengan adanya rasisme dan diskriminasi menyebabkan kelemahan di bidang sosial, kesejahteraan dan lingkungan pekerjaan;
6) Menurunnya atau mundurnya kualitas lingkungan perkotaan yang mendorong peningkatan kejahatan dan tidak cukupnya pelayanan bagi tempat-tempat fasilitas lingkungan kehidupan bertetangga;
7) Kesulitan-kesulitan bagi orang-orang dalam masyarakat modern untuk berintegrasi sebagaimana mestinya di dalam lingkungan masyarakatnya, di lingkungan keluarga, tempat pekerjaannya atau dilingkungan sekolahnya;
140 Mahmud Mulyadi, Criminal Policy, Op.cit, hlm. 56.
141 Ibid, hlm. 56-57.
8) Penyalahgunaan alkohol, obat bius dan lain-lain yang pemakaiannya juga diperluas karena faktor-faktor yang disebut di atas;
9) Meluasnya aktivitas kejahatan yang terorganisir, khususnya perdagangan obat bius dan penadahan barang-barang curian;
10) Dorongan-dorongan (khususnya oleh media massa) mengenai ide-ide dan sikap yang mengarah pada tindakan kekerasan, ketidaksamaan (hak) atau sikap-sikap tidak toleran.
Kondisi sosial yang ditengarai sebagai faktor yang menyebabkan timbulnya kejahatan seperti yang dikemukakan di atas adalah masalah-masalah yang sulit dipecahkan bila hanya mengandalkan pendekatan penal semata. Oleh karena itulah, pemecahan masalah di atas harus didukung dengan pendekatan non penal berupa kebijakan sosial dan pencegahan kejahatan berbasiskan masyarakat.142
Pendekatan non penal menurut Hoefnagels adalah pendekatan pencegahan kejahatan tanpa menggunakan sarana pemidanaan (prevention without punishment), yaitu antara lain perencanaan kesehatan mental masyarakat (community planning mental health), kesehatan mental masyarakat secara nasional (national mental health), social worker and child welfare (kesejahteraan anak dan pekerja social), serta penggunaan hukum civil dan hukum administrasi (administrative & civil law).143
Berkaitan dengan anak Kebijakan hukum pidana yang menggunakan saran non-penal merupakan upaya pencegahan agar anak tidak kembali melakukan kejahatan.
Berdasarkan kongres PBB tentang “the Prevention of Crime and the Treatment of Onffenders”tersebut, memberi kesan bahwa kondisi social, ekonomi, budaya serta structural masyarakat di anggap bertanggung jawab timbulnya kejahatan (kriminogen).Konsekuensi pendekatan yang demikian itu sudah barang tentu mewarnai
142 Ibid.
143 Ibid, hlm. 58.
pula usaha-usaha penanggulangan kejahatan dimasyarakat. Ini berarti bahwa penanggulangan kejahatan yang hanya semata-mata menggunaka hukum pidana yang diwujud-kan oleh sistem peradilan pidana tidak akan mampu, untuk itu perlu diterapkannya tindakan-tindakan yang dapat menjangkau serta mengatasi faktor-faktor kriminogen tersebut.144
Faktor-faktor kriminogen yang pada hakekatnya bersifat kemasyarakatan yaitu dirasakan perlunya untuk mengkaitkan politik kriminal (Criminal Policy) dengan politik social (Social Policy), atau dengan kata lain di dalam politik social perlu dimasukkan pula politik kriminal. Dari jenis-jenis tindakan-tindakan non penal tampaknya perlu lebih dikedepankan guna menunjang tindakan-tindakan penerapan hukum pidana yang diwujudkan melalui sistem peradilan pidana.145
Dalam upaya penanggulangan kejahatan anak, maka diperlukan penanganan yang baik, terutama hubungan kerjasama antara penegak hukum. Penanggulangan tersebut berdasarkan non-penal didasarkan pada kesejahteraan anak yang didasarkan pada faktor sosial anak. Sehingga dalam pembentukan kebijakan hukum pidana melihat kondisi faktor sosial untuk perbaikan masa depan anak.
144 Jacob Hattu. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Kejahatan Anak. Jurnal Sasi, Vol.
20, Nomor 2, 2014. hlm. 50-51.
145 Ibid, hlm. 51.
BAB IV
DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN NOMOR : 02/PID.SUS.
ANAK/2014/PN.Skt BERDASARKAN ASPEK KEADILAN
A. Kekuasaan Kehakiman
Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia. Amanat ini adalah sebagai pelaksanaan dari Pasal 1 ayat (3) Undang-Undamg Dasar 1945 setelah amandemen ketiga yang berbunyi “Negara Indonesia adalah negara hukum”. 146 Hal tersebut telah diatur dalam pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 setelah amandemen ketiga tahun 2001, berbunyi “kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan”.
K. Wantjik Saleh mengartikan kekuasaan kehakiman yang masih mendasarkan pemikirannya kepada Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen, yakni kekuasaan kehakiman dapat diartikan ada kekuasaan yang terpisah dari kekuasaan pemerintah dan kekuasaan perundang-undangan serta merdeka dari pengaruh kedua kekuasaan itu, ada suatu Mahkamah Agung sebagai badan peradilan tertinggi di Indonesia, badan-badan peradilan yang lain, akan ditentukan oleh Undang-undang, susunan dan kekuasaan Mahkamah Agung maupun badan-badan peradilan yang lainnya yang diatur oleh
146 Lihat pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang ketentuan Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman.
undang, kedudukan yang layak bagi para hakim dijamin syarat untuk pengangkatan serta pemberhentiannya diatur oleh Undang-undang.147
Didalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 hanya di dalam BAB IX yang menyatakan , kekuasaan “merdeka” yang melekat pada suatu lembaga atau badan kekuasaan negara, tidak ditemukan adanya penyebutan kekuasaaan merdeka pada bab-bab yang lainnya. Ini menegaskan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekukasaan yang mulia yang diatur secara tegas di dalam konstitusi, dan sering juga dikatakan jabatan mulia pada hakim sebagai komponen utama pelaksana kekuasaan kehakiman, karena tindakannya dilakukan hanya atas nama Tuhan dan atas nama Negara.
Fungsi kekuasaan kehakiman diatur dalam Pasal 1 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 yang berbunyi :
“Kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya negara Hukum Republik Indonesia.”
Hakim berbeda dengan dengan pejabat-pejabat yang lain, dimana harus benar-benar menguasai hukum, bukan sekedar mengandalkan kejujuran dan kemauan dan kemauan baiknya. Menurut Wirjono Prodjodikoro bahwa :148
“Perbedaan antara pengadilan dan instansi-instansi lain ialah, bahwa pengadilan dalam melakukan tugasnya sehari-hari selalu secara positif dan aktif memperhatikan dan melaksanakan macam-macam peraturan hukum yang berlaku dalam suatu Negara. Di bidang hukum pidana hakim bertugas menerapkan apa in concreto ada oleh seorang terdakwa dilakukan suatu perbuatan melanggar hukum pidana. Untuk menetapkan ini oleh hakim harus dinyatakan secara tepat Hukum Pidana yang mana telah dilanggar.”
147 Rimdan, Kekuasaan Kehakiman Pasca-Amandemen Konstitusi, (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm. 37-38.
148 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, (Bandung : Refika Aditama, 2003), hlm. 26-27.
Hakim dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya harus memiliki kebebasan dalam memutuskan perkara. Masalah kebebasan hakim perlu dihubungkan dengan masalah bagaimana hakim dapat menemukan hukum berdasarkan keyakinannya dalam menangani suatu perkara. Kebebasan hakim dalam menemukan hukum tidaklah berarti ia menciptakan hukum. Tetapi untuk menemukan hukum, hakim dapat bercermin pada yurisprudensi dan pendapat ahli hukum terkenal yang biasa disebut dengan doktrin. Berkaitan hal tersebut, menurut Muchsin bahwa :149
“Berhubungan dengan kebebasan hakim ini, perlu pula dijelaskan mengenai posisi hakim yang tidak memihak (impartial judge). Istilah tidak memihak disini tidak diartikan secara harafiah, karena dalam menjatuhkan putusannya hakim harus memihak kepada yang benar.”
Menurut Andi Hamzah bahwa :150
“Dalam hal ini, hakim tidak memihak diartikan tidak berat sebelah dalam pertimbangan dan penilaiannya. Hakim tidak memihak berarti juga bahwa hakim itu tidak menjalankan perintah dari pemerintah. Bahkan jika harus demikian, menurut hukum hakim dapat memutuskan menghukum pemerintah, misalnya tentang keharusan ganti kerugian yang tercantum dalam KUHAP.”
Pasal 10 Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang kekuasaan kehakiman menekankan :
“Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.”
Hal ini secara tegas tercantum dalam Pasal 5 ayat (1) UndangUndang No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi : “Hakim dan hakim konstitusi wajib
149 Muchsin, Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka dan Kebijakan Asasi, (Jakarta : STIH IBLAM, 2004), hlm. 20.
150 Andi Hamzah, Asas-asas Hukum Pidana, (Bandung : Rineka Cipta, 2008), hlm. 91.
menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.”
Menurut Roeslan Saleh bahwa :151
“Tentu saja menggali dan menemukan nilai-nilai hukum yang baik dan benar yang sesuai dengan Pancasila dan “According to the law of civilizied nations”.
Apabila hakim memutus berdasarkan hukum/undang-undang nasional, maka ia tinggal menerapkan isi hukum/undang-undang tersebut, tanpa harus menggali nilai-nilai hukum dalam masyarakat, karena hukum/undang-undang nasional adalah ikatan pembuat Undang-Undang (DPR bersama Pemerintah) atas nama rakyat Indonesia. Dengan demikian, bahwa penjatuhan hukuman dengan anak juga harus dipertimbangkan dengan baik dengan menggali nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat, sehingga anak tidak dirugikan dan hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang tetao dilindungi.
B. Pengertian Narkotika
Terjemahan narkotika berasal dari bahasa Inggris, narcotics yang artinya obat bius, yang sama pengertiannya dengan kata narcosis dalam bahasa Yunani yang artinya menidurkan atau membius. Perkataan Narkotika berasal dari bahasa Yunani yaitu “narke”
yang berarti terbius sehingga tidak merasakan apa-apa. Sebagian orang berpendapat bahwa narkotika berasal dari kata “narcissus” yang berarti sejenis tumbuha-tumbuhan yang mempunyai bungan yang dapat menyebabkan orang menjadi tidak sadarkan diri.152 Arti narkotika secara umum adalah zat yang dapat menimbulkan suatu perubahan perasaan,
151 Roeslan Saleh, Op.cit, hlm. 45.
152 Hari Sasangka, Narkotika dan Psikotropika Dalam Hukum Pidana, (Bandung : Mandar Maju, 2003), hlm. 35.
suasana pengamatan, atau penglihatan karena zat tersebut mempengaruhi susunan saraf pusat.153
Menurut Soedjono Dirdjosisworo narkotika adalah sejenis zat yang bila dipergunakan (dimasukkan dalam tubuh) akan membawa pengaruh terhadap tubuh si pemakai, pengaruh tersebut berupa menenangkan, merangsang, dan menimbulkan khayalan-khyalan (halusinasi).154
Berdasarkan pasal 1 butir (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika menyatakan “narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintesis maupun semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan.”
Berkaitan dengan pengertian diatas bahwa narkotika dan psitropika memiliki bentuk yang sama berupa zat atau obat alamiah sintesis. Perbedaannya pada narkotika ada yang berasal dari tanaman, sedangkan dalam pengertian narkotika dan psitropika tidak disebutkan demikian. Dengan demikian narkotikan maupun psitropika sama-sama menimbulkan akibat pada ketergantungan.155 Yang termasuk dalam kategori narkotika alam adalah berbagai jenis candu, morphine, heroin, ganja, hashish, codein dan cocaine.
Narkotika ala mini termasuk dalam pengertian narkotika secara sempit sedangkan narkotika
153 Amir Ilyas, Asas-asas Hukum Pidana, (Yogyakarta : Rangkang Education Yogyakarta & PuKAP-Indonesia, 2012), hlm. 53.
154 Satgas Luphen Narkoba Mabes Polri, Penanggulangan Penyalahgunaan Bahaya Narkoba, Plikologis, Medis, Religius, (Jakarta : Dit. Binmas POLRI, 2001), hlm. 3.
155 Gatot Suparmono, Hukum Narkoba Indonesia, (Jakarta : Djambatan), hlm. 153.
sitetis adalah pengertian narkotika secara luas dan termasuk didalamnya adalah Hallucinogen, Depressant dan Stimulant.156
Selain dari pengertian diatas, narkotika juga dapat digolongkan beberapa hal sebagai berikut :157
1) Narkotika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 digolongkan kedalam : a. Narkotika golongan I ;
b. Narkotika golongan II ; c. Narkotika golongan III.
2) Penggolongan narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk pertama kali ditetapkan sebagaimana tercantum dalam lampiran I dan merupakan bagian yang terpisahkan dari Undang-undang ini.
3) Ketentuan mengenai perubahan penggolongan narkotika sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Menteri.
C. Bentuk-Bentuk Sistem Peradilan a. Sistem Peradilan Pidana
Istilah sistem peradilan pidana (criminal justice system) pertama kali dikemukakan di Amerika Serikat dalam istilah criminal justice science. Criminal justice system muncul seiring dengan ketidakpuasan terhadap mekanisme kerja aparatur penegak hukum dan institusi penegakan hukum yang didasarkan pada pendekatan hukum dan ketertiban yang
156 Hari Sasangka, Op.cit, hlm. 34.
157 Lihat dalam ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika.
sangat menggantungkan keberhasilan penanggulangan kejahatan pada efektivitas dan efisiensi kerja hanya pada organisasi kepolisian (law enforcement).158
Kegagalan ini dikarenakan pada saat itu kepolisian menghadapi berbagai kendala dalam penanggulangan kejahatan, baik yang bersifat operasional maupun prosedur hukum, sehingga kendala tersebut memberikan hasil yang tidak optimal dalam upaya menekan kenaikan angka kriminalitas dan mencegah kejahatan yang terjadi, bahkan pada waktu itu tingkat kejahatan menjadi semakin meningkat, sehingga berdasarkan hal tersebut penanggulangan kejahatan mulai menggunakan pendekatan sistem yakni dengan istilah criminal justice system. Pada umumnya dalam criminal justice system terdapat beberapa komponen didalamnya, yaitu kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan.159
Kegagalan tersebut apabila tidak terwujudnya sistem hukum yang baik di dalam suatu Negara dan pemerintahan. Menurut Lawrence M. Friedman konsep dari sistem hukum ada beberapa aspek (sudut pandang) yakni substansi, struktur dan budaya hukum.160 Atas dasar uraian diatas, munculnya istilah sistem peradilan pidana karena kegagalan sistem hukum disuatu Negara.
Menurut Mardjono Reksodiputro sistem peradilan pidana adalah sistem pengendalian kejahatan yang terdiri dari lembaga-lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan, dan pemsyarakatan terpidana.161 Dikemukakan juga oleh Romli Atmasasmita
158 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) Perspektif Eksistensialisme Dan Abolisionalisme, (Jakarta. Bina Cipta, 1996), hlm. 9.
159 Ibid.
160 Lawrence M. Friedman, American Law an Introduction. Second Edition. Hukum Amerika sebuah pengantar. Penerjemah wisnu basuki, (Jakarta, PT Tata Nusa. 2001), Hlm. 922
161 Mardjono Reksodiputro, Sistem Peradilan Pidana Indonesia (Melihat Kepada Kejahatan Dan Penegakan Hukum Dalam Batas – Batas Toleransi), (Fakultas Hukum Unversitas Indonesia, 1993), hlm. 1.
bahwa criminal justice system adalah suatu sistem yang ada dalam masyarakat yang memiliki fungsi untuk menanggulangi kejahatan.162 Sedangkan menurut Muladi criminal justice system merupakan suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materiil, hukum pidana formil.163
Selain itu, tujuan dari sistem peradilan pidana (criminal justice system) sebagai berikut :164
a) Mencegah masyarakat menjadi objek/ korban.
b) Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang bersalah dipidana.
c) Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Berdasarkan tujuan diatas, komponen yang berperan penting seperti kejaksaan, kepolisian, pengadilan dan lembaga permasyarakatan diharapkan untuk membina kerjasama yang baik. Apabila komponen tersebut tidak terdapat keterpaduan maka tidak terwujudnya tujuan sistem peradilan pidana tersebut. Konsekuensi hukum apabila sistem peradilan pidana tidak dijalankan dengan baik adalah sistem hukum acara pidana yang digunakan hanya berorentasi pada hukuman semata.165
Sistem peradilan pidana di Indonesia pada umunya dasar atau landasan yang digunakan saat ini yakni Undang-undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kita Undang-Undang Hukum Acara Pidana (yang untuk selanjutnya disebut KUHAP). Tahap-tahapan dalam proses peradilan pidana di Indoensia diantaranya :
a) Tahapan Penyidikan dan Penyelidikan ;
162 Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana Kontemporer, (Jakarta, Kencana, 2010), hlm. 15.
163 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, (Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2001), hlm. 18 .
164 Romli Atmasmita, Op.cit, hlm. 15.
165 Adnan Buyung Nasution, Dalam makalah pokok-pokok pikiran penyusunan hukum acara pidana, pada tanggal 5-7 Juli 2007. hlm. 1
b) Tahapan Penuntutan ; c) Tahapan Peradilan.
Asas-asas yang terdapat dalam KUHAP untuk mengatur perlindungan terhadap keluhuran harkat dan martabat manusia yang ditegakkan, antara lain sebagai berikut :166
1) Peradilan dilakukan “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”.167
2) Asas persamaan di depan hukum (equality before the law)
“Dalam hukum acara pidana tidak mengenal forum priviligiatum atau perlakuan yang bersifat khusus, karena negara Indonesia sebagai negara hukum mengakui bahwa manusia sama di depan hukum (equality before the law).168 Sebagaimana ditentukan Pasal 4 ayat (1) Undang – Undang nomor 48 tahun 2009 dan penjelasan umum angka 3 huruf a KUHAP yaitu “pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang”.
3) Asas pemeriksaan pengadilan terbuka untuk umum
Pada kepala sub paragraf ini telah tegas tertulis “pemeriksaan pengadilan”, yang berarti pemeriksaan pendahuluan, penyidikan, dan praperadilan terbuka untuk umum. Dalam hal ini dapat diperhatikan pula Pasal 153 ayat (3) dan ayat (4) KUHAP yang berbunyi sebagai berikut :169
a) Ayat (3)
“untuk keperluan pemeriksaan hakim ketua sidang membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum kecuali dalam perkara mengenai kesusilaan atau terdakwanya anak-anak.”
b) Ayat (4)
yaitu “Tidak dipenuhinya ketentuan dalam ayat (2) dan ayat (3) mengakibatkan batalnya putusan demi hukum.” Pada penjelasan ayat (3) dinyatakan cukup jelas, dan untuk ayat (4) lebih dipertegas lagi, yaitu : “Jaminan yang diatur dalam ayat (3) di atas diperkuat berlakunya, terbukti dengan timbulnya akibat hukum jika asas tersebut tidak dipenuhi.”
4) Tidak seorang pun dapat dihadapkan di depan pengadilan selain dari pada yang ditentukan oleh undang-undang (Pasal 6 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009).
5) Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan, karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab, telah bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya (Pasal 6 ayat (2) UU No. 48 Tahun 2009).
6) Asas perintah tertulis dari yang berwenang, artinya segala tindakan mengenai penangkapan, penahanan, penggeladahan, penyitaan hanya dapat dilakukan berdasarkan
166 Lihat dalam ketentuan KUHAP.
167 Lihat ketentuan Pasal 2 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
168 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Indonesia Suatu Tinjauan Khusus Terhadap: Surat Dakwaan, Eksepsi, Dan Putusan Peradilan, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 2012), hlm. 17
169 Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia. (Jakarta : Sinar Grafika, 2010), hlm. 20
perintah tertulis oleh pejabat yang berwenang oleh undang-undang (Pasal 7 UU No. 48 Tahun 2009).
7) Asas praduga tak bersalah (presumption of innocence).
Hakikat asas ini cukup fundamental sifatnya dalam hukum acara pidana. Ketentuan asas
“praduga tak bersalah” eksistensinya tampak pada Pasal 8 ayat (1) Undang – Undang Nomor 48 Tahun 2009 dan penjelasannya umum angka 3 huruf c KUHAP yang menentukan bahwa :170
“Setiap orang yang ditangkap, ditahan dan dituntut dan/atau dihadapkan di depan pengadilan, wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap”.
8) Asas pemberian ganti rugi dan rehabilitasi atas salah tangkap, salah tahan dan salah
8) Asas pemberian ganti rugi dan rehabilitasi atas salah tangkap, salah tahan dan salah