BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
5. Analisis Data
Puncak kegiatan pada suatu penelitian ilmiah hukum adalah menganalisis data dari hasil penelitian.40 Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu studi pustaka, dokumen, wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi dan sebagainya. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan melakukan abstraksi. Adapun tahap akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai pada tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data yakni mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.41
Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data di atas, penelitian ini dilakukan dengan analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain yang akan dituangkan dalam penelitia. 42 Selanjutnya ditarik suatu kesimpulan yang bersifat deduktif, yaitu menarik
40 Tampil Anshari Siregar, Op.Cit.,hal. 104.
41 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014, hal. 247.
42 Ibid., hal. 248.
kesimpulan dari premis mayor (pernyataan) yang umum kepada premis minor rumusan yang khusus.43
43Tampil Anshari Siregar, Op.cit.,hal. 16.
A. Hukum Waris Islam (Faraid) di Indonesia
Hukum waris dalam ajaran Islam disebut dengan istilah “Faraidh”. Kata Faraid adalah bentuk jamak dari faridhah yang berasal dari kata fardhu yang berarti ketetapan, pemberian (sedekah).44 Fardhu dalam Al-Qur’an mengandung beberapa pengertian yaitu ketetapan,45 dan kewajiban.46
Secara umum, para ulama Fiqih memberikan definisi Ilmu Faraidh sebagai berikut.47
a. Penentuan bagian bagi ahli waris
b. Ketentuan bagian warisan yang ditetapkan oleh Syariat Islam
c. Ilmu Fiqih yang berkaitan dengan pembagian pusaka serta mengetahui perhitungan dan kadar harta pusaka yang wajib dimiliki oleh orang yang berhak.
Secara singkat Ilmu Faraidh dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ketentuan harta pusaka bagi ahli waris. Menurut istilah hukum di Indonesia, Ilmu Faraidh ini disebut juga hukum waris yaitu hukum yang mengatur tentang apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia. Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa yang
44 Louis makluf, Al Munjid fi al-Lugah wa al I’Lam,, Beirut; Dar al-masyriq, 1986, hal 577
45 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung, Diponegoro: 2010, hal. 197
46 Ibid., hal. 85
47 Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan , PT. Rajagrafindo, Jakarta, 2012, hal . 50.
dimaksud dengan hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur perpindahan hak kepemilikan harta peninggalan pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing masing. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hukum melaksanakan pembagian warisan sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Al-Hadis adalah wajib.48
Demikian juga halnya dengan porsi bagian masing-masing, tidak dapat diubah atau dibatalkan walaupun para ahli waris sendiri merelakannya. Ilmu Faraid yang mengatur pengertian harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, merupakan manifestasi pengakuan Islam terhadap adanya hak milik perorangan. Hak milik perorangan akan berakhir saat seseorang meninggal dunia dan berpindah kepada ahli waris. 49
Dari pengertian rumusan tersebut teranglah bahwa hukum waris itu (dalam presfektif hukum Islam) adalah hukum yang mengatur proses pemindahan kepemilikan atas harta peninggalan (tirkah atau maurust) milik pewaris kepada ahli warisnya sesuai dengan bagiannya masing-masing berdasarkan dengan ketentuan Allah SWT.
Hal yang diatur dalam hukum pewarisan tersebut meliputi :
a. Bagaimana pemindahan kepemilikan harta yang dimiliki pewaris kepada ahli waris dapat dilakukan, baik berupa hukum maupun syarat syarat pewarisan termasuk ke dalam peraturan kewajiban dan tanggung jawab ahli waris terhadap pewaris;
48 Ibid
49 Ibid
b. Penentuan siapa-siapa di antara ahli waris yang berhak menjadi ahli waris dari pewarisnya, yang berasal dari sekian jumlah ahli waris yang ada atau hidup, tetapi tidak semua menjadi ahli waris, kecuali mereka yang menurut hukum Islam mempunyai hak untuk mendapatkan bagian dari harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris;
c. Penentuan berapa besarnya bagian masing-masing yang akan diterima oleh ahli waris yang berhak menerimanya menurut hukum Islam sesuai dengan kedudukan ahli waris dalam struktur dan tingkatan kekeluargaan pewaris yang bersangkutan;
d. Pelaksanaaan pembagian harta peninggalan tersebut kepada ahli waris yang berhak, dengan tidak menutup kemungkinan setelah masing-masing ahli waris yang berhak menyadari bagian dengan mengadakan kesepakatan untuk melakukan perdamaian dalam pembagian harta peninggalan tersebut.
1. Unsur dan Syarat Kewarisan Islam a. Unsur-Unsur kewarisan
ada tiga unsur yang perlu diperhatikan dalam waris-mewarisi, tiap-tiap unsur tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan. Unsur-unsur ini dalam kitab fiqh dinamakan rukun dan persyaratannya dinamakan syarat untuk tiap-tiap rukun. Rukun merupakan bagian dari permasalahan yang menjadi pembahasan. Pembahasan ini dianggap tidak sempurna jika salah satu rukun tidak ada, misalnya wali dalam salah satu rukun perkawinan, yang sudah tentu tidak mungkin perkawinan dilangsungkan tanpa wali¸
sebab perkawinan menjadi kurang sempurna, bahkan menurut pendapat Imam Maliki dan Imam Syafi’i perkawinan itu tidak sah.50
Syaratnya adalah sesuatu yang berada di luar substansi dari permasalahan yang dibahas, tetapi harus dipenuhi, seperti suci dari hadas merupakan syarat sahnya shalat. Walaupun bersuci itu kegiatan di luar shalat, tetapi harus dikerjakan oleh orang-orang yang akan shalat, karena jika dia shalat tanpa bersuci maka shalatnya tidak sah. Sehubung pembahasan hukum waris, yang menjadi rukun waris mewarisi ada 3 (tiga) yaitu sebagai berikut:
1) Orang yang meninggalkan harta waris (Muwarri).
Muwarris adalah orang yang mewariskan hartanya. orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta waris. Di dalam kamus Indonesia disebut dengan istilah pewaris sedangkan dalam kitab fiqh disebut Muwarris.51
2) Harta Peninggalan (Maurus)
adalah harta benda yang ditinggalkan oleh si mayit yang akan dipusakakan atau dibagi oleh para ahli waris setelah diambil untuk biaya-biaya perawatan, melunasi utang, dan melaksanakan wasiat.
Harta peninggalan dalam kitab fiqih biasa disebut tirkah, yaitu apa-apa yang ditingalkan oleh orang yang meninggal dunia, berupa harta secara mutlak. Jumhur Fuqaha berpendapat bahwa tirkah ialah segala apa yang menjadi milik seseorang, baik harta benda maupun hak-hak
50 Moh. Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam, Jakarta, Sinar Grafika: 2009, hal. 56.
51 Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada: 1998, hal. .22
kebendaan yang diwariskan oleh ahli warisnya setelah ia meningal dunia. Jadi disamping harta benda juga hak-hak, termasuk hak kebendaan maupun bukan kebendaan yang dapat berpindah kepada ahli warisnya. Seperti hak menarik hasil sumber air, piutang, benda-benda yang digadaikan oleh si mayit, barang-barang yang dibeli oleh si mayit sewaktu masih hidup yang dijadikan maskawin untuk istrerinya yang belum diserahkan sampai ia meningal, dan lain-lain.52
Maurus merupakan harta peninggalan si mayit setalah dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan utang, dan pelaksanaan wasiat. Dalam hal ini yang dimaksud dengan hal tersebut adalah :53
a) Kebendaan yang sifatnya mempunyai nilai kebedaan. Misalnya benda–benda tetap, benda-benda bergerak, piutang-piutang si mayit, diyat wajibah (benda wajib) yang dibayarakan kepadanya.
b) Hak-hak kebendaan, seperti monopoli untuk mendayagunakan dan menarik hasil dari suatu jalan lalu lintas, sumber air minum, irigasi, dan lain sebagainya.
c) Benda-benda yang bukan kebendaan seperti hak khiyar dan hak syuf’ah, hak memanfaatkan barang yang diwasiatkan dan sebagainya.
d) Benda-benda yang bersangkutan dengan hak orang lain.
seperti benda yang sedang digadaikan, benda yang telah dibeli
52 Ibid., hal. 60
53 Ibid.,
oleh si mayit sewaktu masih hidup yang sudah dibayar tetapi barang belum diterima.
Struktur masyarakat di Indonesia berbeda dengan masyarakat Arab, di mana kitab-kitab fiqih disusun berdasarkan ijtihad ulama yang pada waktu menyusunnya dengan memahami kandungan syariat dan sudah tentu memungkinkan adanya perbedaan dalam menentukan harta peninggalan (tirkah) ini. Dalam beberapa literatur yang berkaitan dengan masalah kewarisan tidak pernah disinggung tentang harta mana saja yang termasuk harta waris dan harta isteri yang akan dibagi-bagi oleh ahli warisnya jika ia meninggal dunia. Karena dalam penerapannya di masyarakat Indonesia, sering menimbulkan kesan bahwa semua harta adalah milik suami dengan alasan, yaitu bertanggung jawab dalam rumah tangga adalah suami maka harta adalah milik suami, dengan dasar Surah An-Nisa ayat 34, yang artinya :
“Laki-laki bertanggung jawab atas perempuan oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain ( wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka”.54
Pada umumnya di Indonesia rumah tangga (keluarga) memiliki 4 (empat) macam harta yaitu sebagai berikut :55
a. Harta yang diperoleh sebelum perkawinan b. Harta yang diperoleh saat mereka menikah
c. Harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung
54Departemen Agama RI, Op,. Cit , hal. 119
55 Ahmad Rofiq, Op,. Cit., hal. .24
d. Harta yang diperoleh selama perkawinan atas usaha bersama atau usaha salah seorang disebut harta pencarian.
4. Ahli Waris (Waarits)
Waarits adalah orang yang akan mewariskan harta peninggalan si Muwarrits lantaran mempunyai sebab-sebab untuk mewarisi.
Pengertian ahli waris disini adalah orang yang mendapatkan harta warisan, karena memang haknya dari lingkungan keluarga pewaris. Namun tidak semua keluarga dari pewaris dinamakan (termasuk) ahli waris. Demikian pula orang yang berhak menerima (mendapatakan) harta warisan mungkin saja di luar ahli waris. Dalam Al- Quran Surat An-Nisa ayat 8 , Allah berfirman artinya :
“Dan apabila sewaktu pemabagian itu hadir beberapa kerabat anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah merka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkan kepada merka perkataan yang baik.”56
b. Rukun Dan Syarat Kewarisan
Pada dasarnya persoalan waris-mewaris selalu indektik dengan perpindahan kepemilikan sebuah benda, hak dan tanggung jawab dari pewaris kepada ahli warisnya. Dan dalam hukum waris Islam penerimaan harta warisan didasarkan pada asas ijbari, yaitu harta warisan berpindah sendirinya menurut ketetapan Allah swt tanpa digantungkan pada kehendak pewaris atas ahli waris.57Pengertian tersebut akan terwujud jika syarat dan rukun mewarisi telah terpenuhi dan tidak
56 Departemen Agama RI, Op,. Cit, hal. 119
57 Muhammad Daut Ali, Asas Hukum Islam, Jakarta, Rajawali Press : 1990, hal. 129.
terhalang mewarisi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian harta warisan. Syarat-syarat tersebut selalu mengikuti rukun, akan tetapi sebagian ada yang berdiri sendiri. Ada tiga syarat warisan yang telah disepakati oleh para ulama, tiga syarat tersebut adalah:58
1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara haqiqy, hukmy (misalnya
dianggap telah meninggal) maupun secara taqdiri.
2. Adanya ahli waris yang hidup secara haqiqy pada waktu pewaris meninggal dunia.
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti baik bagian masing-masing.
Adapun rukun waris harus terpenuhi pada saat pembagian harta warisan.
Rukun waris dalam hukum kewarisan Islam, diketahui ada tiga macam, yaitu:
1. Muwaris, yaitu orang yang diwarisi harta peninggalannya atau orang yang mewariskan hartanya. Syaratnya adalah muwaris benar-benar telah meninggal dunia. Kematian seorang muwaris itu, menurut ulama dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Mati haqiqi (sejati) adalah hilangnya nyawa sesorang yang semula nyawa yaitu sudah berwujud padanya. Kematian ini dapat disaksikan oleh panca indera dan dapat dibuktikan dengan alat pembuktian.59 Sebagai akibat dari kematian seluru harta yang ditinggalkan setelah dikurangi untuk memenuhi hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalannya, beralih dengan sendirinya kepada ahli waris yang
58 Addys Aldizar, Faturraman, Hukum Waris, Jakarta, Senayan Abadi Publisbing: 2004, Hal. 14.
59 Ibid.,.
masih hidup di saat kematian muwarrist, dengan syarat tidak terdapat salah satu halangan mempusakai.60
b. Mati hukmy (berdasarkan keputusan hakim) adalah suatu kematian yang didasarkan oleh adanya vonis hakim, baik pada hakekatnya, seseorang benar-benar masih hidup, namun dalam kemungkinan antara hidup dan mati. Sebagai contoh orang yang telah divonis mati, padahal di suatu tempat ia benar-benar masih hidup.
Vonis ini dijatuhkan terhadap orang murtad yang melarikan diri dan bergabung dengan musuh.
c. Mati taqdiry (menurut dugaan) adalah suatu kematian yang bukan haqiqy dan bukan hukmy, tetapi semata-mata hanya berdasarkan dugaan keras. Misalnya dugaan kematian seseorang bayi yang baru dilahirkan akibat terjadi pemukulan terhadap perut ibunya atau pemaksaan agar ibunya minum racun. Kematian tersebut hanya semata-mata berdasarkan dugaan keras, dapat juga disebabkan oleh yang lain, namun kuatnya perkiraan atas akibat perbuatan semacam itu.
2. Orang menerima warisan (ahli waris)
Pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Sebagai contoh jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi menginggal dalam satu peristiwa atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu
60 Moh. Muhibbin, Op.Cit., hal. 60.
meninggal maka diantara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang meraka miliki ketika masih hidup.
Adapun masalah-masalah yang muncul berkaitan dengan syarat hidupnya ahli waris adalah mengenai mafqud, anak dalam kandungan, dan keadaan mati secara bersama. Masalah mafqud terjadi dalam hal keberadaan seseorang waris tidak diketahui secara pasti apakah masih hidup atau sudah mati ketika muwarrist meninggal dunia. Jika terjadi kasus seperti ini maka pembagian warisan dilakukan dengan cara memandang si mafqud tersebut masih hidup. Hal ini dilakukan untuk menjadi hak si mafqud jika ternyata dia masih hidup. Bila di kemudian hari sebelum habis waktu maksimal untuk menanggung ternyata si mafqud datang atau hadir dalam keadaan hidup maka bagian warisan yang telah disediakan untuk si mafqud tersebut diberikan kepadanya. Jika dalam tenggang waktu yang telah ditentukan ternyata tidak datang sehingga dia dapat diduga telah mati, maka bagiannya tersebut di antara para ahli waris lainya sesuai dengan perbandingan furudh mereka masing-masing.61
Masalah anak dalam kandungan terjadi dalam hal ini istri muwarrits dalam keadaan mengandung ketika muwaritts meninggal dunia. Dalam kasus seperti ini maka penetapan keberadaan anak tersebut dilakukan pada saat kelahiran anak tersebut. Oleh sebab itu maka pembagian waris dapat ditangguhkan sampai anak tersebut dilahirkan.62 Mati secara bersamaan adalah jika dua orang atau lebih yang saling mewarisi mati secara bersama. Misalnya seorang bapak dan anaknya tenggelam atau terbakar bersama sehingga tidak diketahui secara pasti siapa yang
61 Moh. Muhibbin, Op.Cit., hal. 64
62 Ibid., hal. 65
meninggal terlebih dahulu dalam kasus ini mereka tidak boleh saling mewarisi dan salah seorang dari mereka tidak boleh memiliki tirkah yang lainya.
Maka yang berhak memiliki tirkah tersebut adalah ahli waris masing-masing yang masih hidup. Hal ini sesuai dengan isyarat fuqaha bahwa tidak saling waris antara dua orang yang mati tenggelam atau terbakar atau sama sama tertimpa reruntuhan. Demikianlah ketentuan dari hukum Islam63
3). Tidak adanya penghalang-penghalang mewarisi
Meskipun dua syarat waris telah ada pada Muwarrists dan Warits, namun salah seorang dari mereka tidak dapat mewarisi harta peninggalanya kepada yang lain atau mewariskan harta peninggalannya kepada yang lain, selama masih terdapat salah satu dari empat penghalang mewarisi, yaitu perbudakan, pembunuhan, perbedaan agama (kafir) dan perbedaan Negara.
2. Sebab-Sebab Timbulnya Kewarisan Dalam Islam.
Seseorang dapat mewarisi harta peninggalan karena 3 (tiga) hal yaitu sebab hubungan kerabat atau nasab, perkawinan dan wala’ (pemerdekaan budak).
Adapun pada literatur hukum Islam lainnya disebutkan ada 4 sebab hubungan seseorang dapat menerima harta warisan dari seseorang yang telah meninggal dunia yaitu:64
a. Hubungan Kekerabatan/ Nasab
Salah satu sebab beralihnya harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup adalah adanya hubungan silaturrahim atau kekerabatan antara keduanya yaitu hubungan nasab yang disebabkan oleh kelahiran. Ditinjau
63 Ibid.
64 Mohammad Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam (Sebagai Prmbaharuan Hukum Positif di Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika: 2009, hal.74
dari garis yang menghubungkan nasab antara yang mewariskan dengan yang mewarisi, dapat digolongkan dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut:65
1) Furu’, yaitu anak turun (cabang) dari si mati.
2) Ushul, yaitu leluhur (pokok atau asal) yang menyebabkan adanya si mati.
3) Hawasyi, yaitu keluarga yang dihubungkan dengan simeninggal dunia melalui garis menyamping, seperti saudara, paman, bibi, dan anak turunnya dengan tidak membeda-bedakan laki-laki atau perempuan.
b. Hubungan Perkawinan
Sebab yang kedua adalah hubungan perkawinan atau ikatan perkawinan, yaitu sebagai konsekuensi hukum karena adanya akad nikah seorang laki-laki dengan seorang perempuan, ikatan ini berlangsung selama masa berlakunya dalam arti ada saat mulai ketika akad tersebut dibangun dengan ijab kabul sampai dengan saat diputuskan bilamana dilakukan pemutusan atau bahkan tidak pernah ada saat berakhirnya sama sekali kalau tidak diikuti oleh peristiwa kematian salah seorang dari mereka berdua. Perkawinan yang menjadi sebab timbulnya hubungan kewarisan antara suami dengan istri didasarkan pada dua syarat berikut:66
Perkawinan itu sah menurut syariat Islam di Undang-Undang No.1 Tahun 1974 artinya syarat dan rukun perkawinan itu terpenuhi, atau antara keduanya telah berlangsung akad nikah yang sah, yaitu nikah yang telah dilaksanakan dan telah memenuhi rukun dan syarat pernikahan serta terlepas dari semua halangan
65 Amir syarifudin. Hukum kewarisan Islam, Jakarta, Kencana Pranada Media: 2004, hal 175.
66 Faturrahman, Ilmu Waris, Bandung : Al-ma’arif: 1975, hal. 116.
pernikahan walaupun belum kumpul (hubungan kelamin) dan sejalan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
Ketentuan ini berlandaskan pada keumuman ayat tentang mewaris dan tindakan Rasulullah SAW yang telah memberikan keputusan hukum tentang kewarisan terhadap seorang suami yang sudah melakukan akad nikah, tetapi belum melakukan persetubuhan dan belum menetapkan mas kawinnya.
Sebagaimana hadits nabi saw yang diriwayatkan Sunan Nasa’I, yang artinya “ Telah mengabarkan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata; telah
menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubab berkata; telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Ibrahim dari
‘Alqamah dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia ditanya mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang wanita, ia belum menentukan mahar dan belum menggaulinya hingga meninggal. Ibnu Mas’ud berkata, ‚Wanita tersebut berhak mendapatkan mahar sebagai seorang wanita, tidak ada pengurangan dan kezhaliman, ia wajib ber’iddah dan mendapatkan warisan.‛ Kemudian Ma’qil bin Sinan Al Asyja’i berdiri dan berkata,
‚Rasulull-oh shallallohu ‘alaihi wasallam telah memberikan keputusan pada kami terhadap Barwa’ binti Wasyiq, seorang wanita di antara kami seperti apa yang telah engkau putuskan.‛ Maka Ibnu Mas’ud merasa senang”.67
Hadist Rasulullah ini menunjukkan bahwa pernikahan antara Barwa’
dengan suaminya adalah sah dan menjadi sebab timbulnya kewarisan. Suatu perkawinan dihukumi sah secara hukum tidak semata-mata digantungkan pada telah terlaksanakannya hubungan kelamin antara suami istri dan telah dilunasinya pembayaran maskawin oleh suami, tetapi tergantung pada terpenuhinya syarat dan rukun perkawinannya.68
Perkawinan masih utuh artinya, suami istri masih terikat dalam tali perkawinan saat salah satu pihak meninggal dunia. Termasuk dalam ketentuan ini,
67 Shidqi Jamil Al-‘Attor, Sunan Nasa’i, Beirut, Darul Fiqri: 2005, hal 199
68 Mohammad Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam (Sebagai Prmbaharuan Hukum Positif di Indonesia), Jakarta: Sinar Grafika, 2009, hal. 73.
apabila salah satu pihak meninggal dunia sedangkan ikatan perkawinan telah putus dalam bentuk talak raj’i dan perempuan masih dalam masa iddah. Seorang perempuan yang sedang menjalani iddah talak raj’i masih berstatus sebagai istri dengan segala akibat hukumnya, kecuali hubungan kelamin, karena halalnya hubungan kelamin telah berakhir dengan adanya perceraian.
c. Hubungan Sebab Al-wala’
Hubungan sebab Al-wala’ adalah hubungan yang tercipta dari tindakan seorang pemilik budak yang memerdekakan budaknya itu. Kemudian setelah bekas budak tersebut mampu bertindak hukum dan mempunyai milik sejumlah harta benda. Bila bekas budak ini meninggal bekas tuannya menjadi ahli waris tapi tidak untuk sebaliknya.69
Berangkat dari pengertian tersebut, maka unsur-unsur terjadinya wala’
adalah masih hidupnya bekas tuan, telah wafat budak setelah dimerdekakan, dan ada harta yang ditinggalkan oleh bekas budak itu. Dasar yang digunakan sehingga hubungan wala’ dapat menjadi ukuran terjadinya kewarisan adalah Surah An-Nisa ayat 33, yang artinya yaitu :
“bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”70 Kata mawali dalam ayat di atas adalah jamak dari kata wala’ yang mengandung makna kekuasaan, seperti kekuasaan tuan kepada hambanya. Ini
“bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya. dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu”70 Kata mawali dalam ayat di atas adalah jamak dari kata wala’ yang mengandung makna kekuasaan, seperti kekuasaan tuan kepada hambanya. Ini