BAB I PENDAHULUAN
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Sumatera Utara menunjukkan bahwa belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis Yuridis Perhitungan Atas Pembayaran Biaya Pengobatan Orang Tua Dalam Pelunasan Jual Beli Harta Warisan”. Terutama berkaitan dengan permasalahan yang sama. Akan tetapi ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan pembagian warisan yang pernah ditulis sebelumnya, antara lain : 1. Maulana Rialzi, Nomor Induk Mahasiswa 147011042, dengan Judul Analisis Kasus Tentang Jual Beli Tanah Warisan Yang Belum Dibagi (Studi Putusan Mahkamah Syar’iah Sigli Nomor : 291/PDT.G/2013/MS-SGI), rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana pandangan hukum tentang jual beli tanah warisan yang belum bagi ?
b. Bagaimana perlindungan hukum bagi pembeli tanah warisan yang belum bagi ?
c. Mengapa pertimbangan hukum hakim dalam putusan Mahkamah Syar’iah Nomor :291/Pdt-G/2013/Ms-Sgi telah memenuhu keadilan bagi pemilik tanah ?
2. Clara Helmy Sihite, Nomor Induk Mahasiswa 117011013, dengan judul Analisis Kasus Atas Jual Beli Tanah Warisan (Studi Kasus Putusan MA Nomor 680 K/Pdt/209) antara Aston Purba dan kawan kawan Melawan Patar Simamora dan Gomar Purba), rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana prosedur jual beli tanah warisan yang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria ?
b. Bagaimana akibat hukum perjanjian jual beli tanah warisan yang di jual oleh salah seorang ahli waris tanpa sepengetahuan ahli waris yang lainnya ?
c. Apakah pertimbangan hakim dalam Putusan Mahkamah Agung No.689/K/Pdt/2009 telah memenuhi rasa keadilan kepada seluruh ahli waris ?
3. Zulfiani, Nomor Induk Mahasiswa 137011116, dengan judul “ Pengingkaran Janji Oleh Penjual Terhadap Jual Beli Tanah Warisan Yang Dibuat Dengan Akta di Bawah Tangan (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 1944 K/Pdt/2011), rumusan masalah adalah
a. Bagaimanakah kepastian hukum terhadap akta di bawah tangan sebagai alat bukti terhadap jual beli tanah yang bersengketa di pengadilan ?
b. Bagaimana akibat hukum terhadap proses pemecahan dan balik nama sertifikat yang tidak terdapat dalam klausula akta di bawah tangan ? c. Bagaimana pertimbangan hakim dalam Putusan mahkamah Agung
Nomor 1944 K/Pdt/2011 ? F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dengan menggabungkan pendekatan secara rasional dan pengalaman empiris, yang artinya teori merupakan penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskannya dan juga merupakan satu kesatuan penjelasan atas suatu fenomena yang didukung fakta-fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Kerangka teori adalah penyajian bagaimana cara-cara untuk mengorganisir dan menginterpretasikan hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil terdahulu.10
Teori oleh banyak orang sering dianggap sebagai lawan dari praktik. Teori bukanlah lawan daripada praktik, sebab keduanya saling membutuhkan.11 Teori dapat juga digunakan untuk suatu gambaran masa depan. Setiap teori sebagai produk ilmu, tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dan membentuk sistem. Demikian pula ilmu hukum sebagai teori tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum.12 Teori hukum hendak mengejar terus sampai kepada persoalan-persoalan yang bersifat hakiki dari hukum itu, seperti
10Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hal. 19.
11 A’an Efendi, Freddy Poernomo, IG. NG. Indra S. Ranuh, Teori Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal. 86-87.
12 Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, 2012, hal. 5
dikatakan oleh Radbruch, tugas teori hukum adalah membuat jelas nilai-nilai serta postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi.13
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah teori keadilan dan teori kepastian hukum.
a. Teori Keadilan
Berlaku adil sangat berkaitan dengan hak dan kewajiban. Hak yang dimiliki oleh seseorang termasuk hak asasi yang diperlakukan secara adil. Hak dan kewajiban terkait pula dengan adanya amanah, sementara amanah wajib diberikan kepada yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, hukum berdasarkan amanah harus ditetapkan secara adil tanpa dibarengi rasa kebencian dan sifat yang buruk lainnya.
Menurut penelitian M. Quraish Shihab, paling tidak ada empat makna keadilan :14
a. Pertama, ‘adl dalam arti sama. Pengertian ini ditemukan di dalam Qur’an Surah An-Nisa, Asy-Syura, Maidah, An-Nahl, dan Al-Hujurat. Menurut Al-Baidhawi, kata ‘adl bermakna “berada dipertengahan dan mempersamakan”. Pendapat seperti ini dikemukan pula oleh Rasyid Ridha, bahwa keadilan yang diperintahkan di sini dikenal oleh pakar bahasa Arab dan bukan berarti menetapkan hukum (memutuskan perkara) berdasarkan apa yang telah pasti di dalam
13 Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2016, hal. 36.
14 Zamakhsyari,Teori-Teori Hukum Islam Dalam Fiqih dan Ushul Fiqih, Cipta Pustaka Media Perintis, Bandung, 2015, hal. 36.
agama. Sejalan dengan pendapat ini, Sayyid Quthub menyatakan bahwa dasar persamaan itu adalah sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Ini berimplikasi pada persamaan hak karena mereka sama-sama manusia. Dengan begitu keadilan adalah hak setiap manusia dan dengan sebab sifatnya sebagai manusia menjadi dasar keadilan dalam ajaran-ajaran ketuhanan.
b. Kedua, ‘Adl dalam arti seimbang. Ini ditemukan dalam Al-Quran Surah Al-Maidah dan Al-Infithar. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keseimbangan ditemukan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju suatu tujuan tertentu. Selama syarat dan kadar terpenuhi oleh setiap bagian. Keadilan dalam pengertian keseimbangan ini menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui menciptakan secara mengelola segala sesuatu dengan ukuran, kadar dan waktu tertentu guna mencapai tujuan. Keyakinan ini menghantarkan kepada pengertian keadilan Illahi.
c. Ketiga ‘Adl dalam arti perhatian terhadap hak individu dan memberikan hak itu kepada setiap pemiliknya. Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau memberikan pihak lain haknya melalui jalan terdekat”. Lawannya adalah kezaliman, yakni pelanggaran terhadap hak pihak lain. Pengertian ini disebutkan didalam QS. Al-An’am. Pengertian ‘Adl melahirkan keadilan sosial.
d. Keempat, ‘Adl dalam arti yang dinisbahkan kepada Allah, ‘Adl di sini berarti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat saat terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Keadilan Allah mengandung konsekuensi bahwa Rahmat Allah tidak tertahan diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
Makna keadilan berdasarkan iman. Dapat dilihat dari kaitannya dengan amanat kepada manusia kepada sesama. Dalam Islam, persyaratan adil sangat menentukan benar atau tidaknya serta sah atau batalnya sesuatu pelaksanaan hukum misalnya dalam beberapa hal. Seperti dapat dilihat dalam masalah kewarisan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasanain Muhammad Makhluf yaitu seorang ahli Fiqih kontemporer Mesir, beliau mengatakan bahwa Islam mensyariatkan aturan hukum yang adil, karena menyangkut penetapan milik seseorang.15
Maka dari itu setiap orang patutlah berlaku adil dalam hal kewarisan.
Pengertian umum dari berlaku adil dalam masalah kewarisan juga termasuk larangan memakan harta orang lain dengan secara bathil, atau mengajukan kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain (QS Al-Baqarah : 188).16
b. Teori Kepastian Hukum
Hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (recthszekerheid) dalam pergaulan manusia, yakni menjamin keadilan sementara hukum juga tetap ditegakkan dan menjaga agar tidak terjadi main hakim sendiri oleh masyarakat.
15 Fathur Rahman, Ilmu Waris, Al-Ma’arif, Bandung, 1994, hal.32
16 Zamakhsyari, Op Cit, hal. 107.
Berdasarkan teori kepastian hukum, maka tujuan utama hukum adalah untuk menciptakan keadilan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban dan perdamaian.17
Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas untuk menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menertibkan masyarakat.
Tanpa kepastian hukum tidak tahu apa yang harus diperbuat sehingga menimbulkan keresahan.18
Van Apeldoorn memberikan pengertian kepastian hukum sebagai berikut:19
1) Kepastian hukum berarti dapat ditentukan hukum apa yang berlaku untuk masalah-masalah yang konkret. Dengan ditentukannya peraturan hukum untuk masalah-masalah yang konkret, pihak-pihak yang berperkara sudah dapat mengetahui sejak awal ketentuan mana yang akan digunakan dalam perkara tersebut. Roscoe Pound mengatakan bahwa dengan adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predictability. Menurut Van Apeldoorn hakim juga dapat memberi putusan yang lain dari apa yang diduga oleh pencari hukum.
2) Kepastian hukum berarti perlindungan hukum. Dalam hal ini para pihak yang berperkara dapat dihindarkan dari kesewenangan penghakiman. Adanya kepastian hukum membatasi pihak-pihak yang berwenang, misal hakim dan pembuat undang-undang dari kesewenangan penghakiman.
Gustav Radburch memberikan pengetahuan mendasar mengenai kepastian hukum, bahwa hukum itu positif artinya hukum itu adalah peraturan perundang-undangan, kemudian hukum itu didasarkan kepada fakta, di mana fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam
17 Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 22.
18 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999, hal. 136.
19 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2010, hal. 59-60.
pemaknaan dan mudah dilaksanakan. Adapun hukum positif tidak mudah untuk diubah-ubah artinya tidak boleh dengan mudahnya diganti-ganti.20
Teori kepastian hukum menekankan pada penafsiran dan sanksi yang jelas agar suatu perjanjian dapat memberikan kedudukan yang sama dalam membuat perjanjian itu. Memperbaiki kepastian hukum, memang bukan satu-satunya dan juga tidak dapat berdiri sendiri, namun dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing yang diatur dalam hukum sangat dimungkinkan tidak terjadi sengketa,21 artinya bila kepastian hukum yang dijadikan sasaran, maka hukum formal adalah wujud yang dapat diambil sebagai tolak ukurnya, dengan demikian perlu mengkaji hukum formal sebagai basis dalam menganalisa suatu kebijakan yang dapat memberikan suatu kepastian hukum.
Kaitan antara teori kepastian hukum dengan penelitian tesis ini adalah penelitian ini untuk memperjuangkan hak waris yang ditinggalkan alm suaminya kepada ahli waris yang ditinggalnya maka dengan ini perlu menggunakan teori kepastian hukum ini agak ahli waris yang seharusnya mendapatkan hak warisnya dibayarkan oleh ahli waris lain.
2. Konsepsi
Suatu kerangka konsepsionil, merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti. Suatu konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu
20Sulaiman Jajuli, Kepastian Hukum Gadai Tanah Dalam, Deepublish, Yogyakarta, 2015, hal. 51.
21 Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofi Hukum Agraria, Medan: Pustaka Bangsa Pers, 2003, hal. 41-42.
abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu sendiri biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.22
Namun demikian, suatu kerangka konsepsionil belaka kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak. Sehingga diperlukan definisi-definisi operasionil yang akan dapat menjadi pegangan konkrit didalam proses penelitian. Dengan demikian suatu kerangka konsepsionil dapat pula mencakup definisi-definisi operasionil.23
a. Utang adalah tanggungan yang harus diadakan pelunasannya dalam suatu waktu tertentu24
b. Piutang adalah memberikan sesuatu pinjaman dengan pengembalian di kemudian hari sesuai dengan perjanjian dan jumlah yang dipinjam25 c. Wanprestasi adalah tidak dilaksananya prestasi atau kewajiban
sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak-pihak yang disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan26
d. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris27
22 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2005, hal. 132
23Ibid., hal. 132-133
24 Suhrawardi K. Lubis dan Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 48
25Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal 54
26 Djalal Maman Abd, Hukum Mawaaris, CV Pustaka Setia, Bandung, 2006, hlm 43
27 Pasal 171 Butir 3 Kompilasi Hukum Islam
e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat.28
f. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau dinyatakan meninggalberdasarkan putusan pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan29
G. Metode Penelitian
Metodologi penelitian hukum artinya ilmu tentang cara melakukan penelitian hukum dengan teratur (sistematis)30Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogianya atas isu yang diajukan.31
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, penelitian yang mengkaji dan menganalisis tentang norma-norma hukum yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu.32 Penelitian normatif adalah penelitian yang permasalahan dalam penelitian tersebut dibahas dan diuraikan dalam penyelesaiannya merujuk pada kaidah-kaidah yang diatur dalam Kompilasi
28 Pasal 171 Butir 5 Kompilasi Hukum Islam
29 Pasal 171 Butir 2 Kompilasi Hukum Islam
30Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, hal. 57.
31 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi 2005, Kencana, Jakarta, 2014, hal. 83.
32 Salim HS, dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, hal. 13.
Hukum (KHI), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Putusan Pengadilan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn.
Metode penelitian hukum jenis normatif yang diterapkan pada judul penelitian tesis pembagian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasi dari satu ahli waris ini dilakukan dengan mengkaji harta warisan menurut hukum dan literatur yang bersifat konsep teoretis yang kemudian dihubungkan dengan permasalahan yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. Penelitian ini difokuskan dengan menerapkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang diatur dalam hukum positif.33
Dari uraian latar belakang dan perumusan masalah penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Dikatakan deskriptif analitis karena penelitian ini bersifat pemaparan dan bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku di tempat tertentu dan pada saat tertentu, atau mengenai gejala yuridis yang ada, atau peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat. Adapun pada penelitian peristiwa hukum yang dimaksud adalah wanprestadi yang dilakukan ahli waris terhdapa ahli warisan yang lain.
2. Sumber Data
Sumber data adalah tempat diperolehnya data. Dalam penelitian hukum normatif, sumber data yang utama berasal dari data kepustakaan.34Di dalam kepustakaan hukum, sumber datanya disebut bahan hukum. Bahan hukum adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan menganalisis hukum yang berlaku. Data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya
33Ibid.,hal. 9.
34 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Op.Cit., hal. 16.
dinamakan data sekunder.35 Data sekunder yang dikaji dan dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang memiliki kekuatan mengikat. Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya KHI, KUHPerdata dan Putusan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn..
b. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Seperti, misalnya naskah akademis, rancangan undang-undang, hasil penelitian ahli hukum, dan lain-lain.
c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti misalnya kamus, ensiklopedia, dan lain-lain. Kamus yang sering dirujuk oleh peneliti hukum, meliputi Kamus Besar Bahasa Indonesia,36
Selain data sekunder penelitian ini juga menggunakan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan, bukan dari bahan kepustakaan. Data primer dapat dicari dan diperoleh langsung dari informan ataupun dari lapangan.37
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data mempunyai hubungan yang erat dengan sumber bahan hukum, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh bahan hukum yang
35Ibid.,hal. 12.
36 Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Efendi, op.cit.,hal. 16.
37 Tampil Anshari Siregar, Metode Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2005, hal. 74-75.
diperlukan selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan.38 Berkaitan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan (Library research) yang dilakukan dengan cara menginventarisis, mempelajari, dan mendalami bahan hukum berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, tulisan ilmiah, dokumen-dokumen hukum dan karya-karya ilmiah yang terkait dengan penelitian ini. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui penelitian lapangan (field research) dengan wawancara informan.
4. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini terdiri dari:
a. Studi Dokumen
Metode ini merupakan suatu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen, menelaah bahan-bahan kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer, baru kemudian bahan hukum sekunder dan tersier.39
b. Pedoman Wawancara
Pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan membuat daftar pertanyaan yang sudah direncanakan dengan narasumber yaitu satu orang Hakim Pengadilan Negeri Medan ,
38 Sri Mamudji, Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Hukum, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta, 2005, h. 22.
39 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit.,h.13
Notaris Kota Medan 1 orang, Pengacara dalam kasus ini, Ahli Waris dan anggota Majelis Ulama Indonesia Kota Medan.
5. Analisis Data
Puncak kegiatan pada suatu penelitian ilmiah hukum adalah menganalisis data dari hasil penelitian.40 Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu studi pustaka, dokumen, wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi dan sebagainya. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan melakukan abstraksi. Adapun tahap akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai pada tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data yakni mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.41
Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data di atas, penelitian ini dilakukan dengan analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain yang akan dituangkan dalam penelitia. 42 Selanjutnya ditarik suatu kesimpulan yang bersifat deduktif, yaitu menarik
40 Tampil Anshari Siregar, Op.Cit.,hal. 104.
41 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014, hal. 247.
42 Ibid., hal. 248.
kesimpulan dari premis mayor (pernyataan) yang umum kepada premis minor rumusan yang khusus.43
43Tampil Anshari Siregar, Op.cit.,hal. 16.
A. Hukum Waris Islam (Faraid) di Indonesia
Hukum waris dalam ajaran Islam disebut dengan istilah “Faraidh”. Kata Faraid adalah bentuk jamak dari faridhah yang berasal dari kata fardhu yang berarti ketetapan, pemberian (sedekah).44 Fardhu dalam Al-Qur’an mengandung beberapa pengertian yaitu ketetapan,45 dan kewajiban.46
Secara umum, para ulama Fiqih memberikan definisi Ilmu Faraidh sebagai berikut.47
a. Penentuan bagian bagi ahli waris
b. Ketentuan bagian warisan yang ditetapkan oleh Syariat Islam
c. Ilmu Fiqih yang berkaitan dengan pembagian pusaka serta mengetahui perhitungan dan kadar harta pusaka yang wajib dimiliki oleh orang yang berhak.
Secara singkat Ilmu Faraidh dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ketentuan harta pusaka bagi ahli waris. Menurut istilah hukum di Indonesia, Ilmu Faraidh ini disebut juga hukum waris yaitu hukum yang mengatur tentang apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia. Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa yang
44 Louis makluf, Al Munjid fi al-Lugah wa al I’Lam,, Beirut; Dar al-masyriq, 1986, hal 577
45 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung, Diponegoro: 2010, hal. 197
46 Ibid., hal. 85
47 Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan , PT. Rajagrafindo, Jakarta, 2012, hal . 50.
dimaksud dengan hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur perpindahan hak kepemilikan harta peninggalan pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing masing. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hukum melaksanakan pembagian warisan sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Al-Hadis adalah wajib.48
Demikian juga halnya dengan porsi bagian masing-masing, tidak dapat diubah atau dibatalkan walaupun para ahli waris sendiri merelakannya. Ilmu Faraid yang mengatur pengertian harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, merupakan manifestasi pengakuan Islam terhadap adanya hak milik perorangan. Hak milik perorangan akan berakhir saat seseorang meninggal dunia dan berpindah kepada ahli waris. 49
Dari pengertian rumusan tersebut teranglah bahwa hukum waris itu (dalam presfektif hukum Islam) adalah hukum yang mengatur proses pemindahan kepemilikan atas harta peninggalan (tirkah atau maurust) milik pewaris kepada ahli warisnya sesuai dengan bagiannya masing-masing berdasarkan dengan ketentuan Allah SWT.
Hal yang diatur dalam hukum pewarisan tersebut meliputi :
a. Bagaimana pemindahan kepemilikan harta yang dimiliki pewaris kepada
a. Bagaimana pemindahan kepemilikan harta yang dimiliki pewaris kepada