TESIS
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada Program
Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh
NURFIKA AFNI 167011008 / M.Kn
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2019
Hukum waris adalah hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang tinggalkan seseorang pewaris kemudian beralih dengan sendirinya kepada ahli warisnya bersama-sama. Pembagian harta warisan biasa dilakukan secara tunai akan tetapi dalam kasus ini dilakukan secara utang Salah satu contoh mengenai pembagian waris yang penyelesaian harta warisannya masih dalam bentuk piutang adalah dalam Putusan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari tahu hak ahli waris terhadap harta warisan dalam bentuk piutang yang belum dibayar berdasarkan hukum Islam penyelesaian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasinya salah satu ahli waris menurut hukum Islam, serta bagaimana pertimbangan hakim dalam memutus perkara ini.
Tesis ini menggunakan jenis penelitian normatif dengan penelitian yang bersifat deskriptif analitis. Data yang dipergunakan adalah data sekunder dengan metode pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan. Metode analisis yang digunakan adalah analisis data kualitatif dengan penarikan kesimpulan secara deduktif.
Hasil dari penelitian ini bahwa Ahli waris berhak terhadap harta warisan dalam keadaan piutang terdapat dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 175 huruf (b) bahwa kewajiban ahli waris terhadap harta warisan Penyelesaian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasinya salah satu ahli waris secara hukum Islam maka dapat ditempuh dengan beberapa cara untuk menyelesaikannya, antara lain : Sulhu, Ibra dan Hajr. Dalam kasus ini sulhu upaya yang sangat cocok untuk menyelesaikan permasalahan dalam kasus ini dengan mencapai kata mufakat kasus dapat diselesaikan agar tidak terjadi perselisihan secara berkepanjangan dan hubungan kekeluargaan antara Tergugat dan Penggugat tetap harmonis. Majelis hakim kemudian memutus dan menyatakan bahwa benar pihak Tergugat mempunyai kewajiban membayarkan utang kepada pihak penggugat berdasarkan surat pengakuan utang dan memerintahkan Tergugat untuk melunasinya dikarenakan pihak Tergugat tidak mempunyai bukti-bukti yang dapat menyatakan sebaliknya. Pihak penggugat yang dirugikan dengan tindakan wanprestasi yang dilakukan Tergugat dapat menuntut ganti rugi atas tindakan Tergugat tersebut.
Kata Kunci : Harta Warisan, Utang Piutang, Wanprestasi, Ahli Waris
Inheritance law states that death causes inheritance. In consequence, all of a deceased person’s property will automatically goes down to the heirs.
Usually, inheritance is distributed in cash; but in this case, the inheritance is in the form of loan as it is stipulated in the Verdict No. 46/Pdt.G/2015/PN.Mdn. The objective of the research is to find out the heirs’ rights on inheritance in the form of unpaid loan due to default by one of the heirs according the Islamic fiqh and how about the judge’s consideration in handing over the verdict.
The thesis used juridical normative and descriptive analytic method.
Secondary data were gathered by conducting library research and analyzed qualitatively, while the conclusion was drawn deductively.
The result of the research shows that debt and credit among heirs toward inheritance collected physically or calculated before it can be distributed to heirs.
Priority is given to zul furudl heir since his right is clearly described in the Koran.
Some methods in settling loan inheritance due to one of the heirs’ default are Sulhu, Ibra, and Hajr. In this case, sulhu is the most appropriate method in settling the dispute by negotiation to avoid prolonged dispute and to make the family tries between defendant and the plaintiff harmonious. The Panel of Judges state that the Deferndant is required to pay off his debts to the Plaintiff based on promissory note ad since the Defendant does not have evidence which will state on reverse. The Plaintiff who is harmed by the default by the Defendant can file compensation from the Defendant.
Keywords: Inheritance, Debt and Credit, Default, Heirs
penyusunan tesis ini dengan judul: “PENYELESAIAN HARTA WARISAN DALAM BENTUK PIUTANG AKIBAT WANPRESTASI SALAH SATU AHLI WARIS (STUDI PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MEDAN NOMOR 46/PDT.G/2015/PN.MDN)”
Ketika melakukan penulisan dan penyusunan tesis ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari isi tulisan maupun cara penulisannya. Hal ini dikarenakan oleh terbatasnya pengetahuan dan pengalaman untuk menuangkannya ke dalam tesis ini, oleh karena itu sangat diharapkan kritikan maupun saran guna memperbaiki kualitas dari penulisan dan bermanfaat pada masa yang akan datang.
Saat penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari tidak akan mampu untuk membalas kebaikan dari berbagai pihak tersebut dan hanya dapat berdo’a agar semua pihak yang sudah terlibat membantu penulis selalu dalam lindungan Allah SWT.
Sebagai ungkapan terima kasih, maka izinkanlah penulis untuk menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. Budiman Ginting, SH., M. Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH., CN., M. Hum selaku Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Hasballah Thaib., MA., PHD selaku dosen pembimbing 1 yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, petunjuk baik berupa saran
penyusunan tesis.
5. Dr. Yefizawati, SH.M.Hum selaku dosen pembimbing 3, yang telah meluangkan waktu membimbing serta memberikan arahan selama penyusunan tesis ini.
6. Dr. Idha Aprilyana Sembiring selaku dosen penguji yang telah banyak memberikan petunjuk, arahan dalam penyusunan tesis ini.
7. Bapak/ Ibu Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan memberikan tambahan wawasan ilmu dan pengetahuan hukum selama menjalankan perkuliahan di Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
8. Seluruh staf dan pegawai Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu selama proses perkuliahan selama ini.
9. memberikan dukungan, semangat, do’a, serta kasih sayang yang tiada batas kepada penulis.
10. Terima kasih kepada para sahabat saya Sonny Kurniawan, Nurlyna Sembiring, Monika slavina, Rindy Santika, Irhamni Tanjung dan semua teman yang tidak dapat dituliskan satu persatu yang selalu menyemangati dan membuat kecerian setiap hari.
11. Seluruh teman-teman seperjuangan angkatan 2016 Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan saran.
Terima kasih dan rasa sayang yang tak terhingga kepada Ayahanda Ermansyah, dan Ibunda Anizar Safni, yang tidak pernah lelah memberikan dukungan, semangat, do’a, serta kasih sayang yang tiada batas kepada penulis.
Terima kasih kepada saudara/ saudariku: Elva Yunita, M. ahda dan semua famili yang tidak dapat dituliskan satu persatu yang telah membantu, menyemangati, mendukung serta mendoakan dalam penyelesaian tesis ini.
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran demi kesempurnaan tesis ini. Akhir kata penulis berharap semoga tesis ini dapat menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang hukum.
Medan, 08 Januari 2019 Penulis
Nurfika Afni Nim : 167011008
I. IDENTITAS PRIBADI
Nama : Nurfika Afni
Tempat dan Tanggal Lahir : Gebang, 18 Januari 1992
Alamat : Jalan Karya Kasih No. 63 A Medan Johor
Jenis Kelamin : Perempuan
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Islam
Nama Bapak : Ermansyah
Nama Ibu : Anizar Safni
II. PENDIDIKAN
Sekolah Dasar : SD Negeri 050763 Gebang
Sekolah Menegah Pertama : Madrasah Tsanawiyah Negeri Tanjung Pura Sekolah Menegah Atas : Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura S1 Universitas : Universitas Muhamadiyah Suamatera Utara S2 Univrsitas : Program Studi Magister Kenotariatan FH USU
Tanggal : 01 Februari 2019 jj
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Hasbalah Thaib. MA., PHD
Anggota : 1. Dr. Utary Maharani Barus, SH., M. Hum 2. Dr. Yefrizawati, SH, M.Hum
PERNYATAAN ORISINALITAS PERSETUJUAN PUBLIKASI TESIS ABSTRAK
ABSTRACT
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR ISTILAH ... iv
DAFTAR SINGKATAN ... ix
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Keaslian Penelitian ... 9
F. Kerangka Teori dan Konsepsi ... 10
1. Kerangka Teori ... 10
2. Konsepsi ... 16
G. Metode Penelitian ... 17
1. Sifat dan Jenis Penelitian ... 17
2. Sumber Data ... 18
3. Teknik Pengumpulan Data ... 19
4. Alat Pengumpulan Data ... 20
5. Analisis Data ... 21
BAB II HAK AHLI WARIS TERHADAP HARTA WARISAN DALAM BENTUK PIUTANG YANG BELUM DIBAYAR BERDASARKAN HUKUM ISLAM A. Hukum Waris Islam (Faraid) ... 23
1. Unsur dan Syarat Kewarisan Islam... 25
2. Sebab-Sebab Timbulnya Hak Kewarisan Dalam Islam... 33
3. Kedudukan Ahli Waris Menurut Hukum Islam ... 37
B. Hak Ahli Waris Terhadapharta Warisan Dalam Bentuk Piutang Yang Belum bayar berdasarkan hukum Islam…..……56
A. Pengertian Utang Piutang ... 60 B. Wanprestasi Dalam Perjanjian Utang Piutang ... 67 C. Penyelesaian Wanprestasi Atas Perjanjian Utang Piutang ... 76 BAB IV ANALISIS PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PUTUSAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 652 K/PDT/2016
A. Posisi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor:
46/Pdt.G/2015/Pn.Mdn ... 82 B. Pertimbangan Hakim Dalam Putusan Pengadilan Negeri
Medan Nomor:46/Pdt.G/2015/Pn.Mdn ... 86 C. Analisis Kasus Dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan
Nomor: 46/Pdt.G/2015/Pn.Mdn ... 93 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan ... 98 B. Saran ... 100 DAFTAR PUSTAKA ... 102
A qou : Perkara ini
Ashabah : Yang memperoleh sisa harta warisan
Ash-habul furudh : Orang menerima secara bagian yang ditentukan untuk ahli waris
Dhaman : Suatu ikrar atau lafadz yang disampaikan berupa perkataan atau perbuatan untuk menjamin pelunasan
utang seseorang
Diyat wajibah : Benda wajib
Dzulm : Menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya
Dzul faraid :Ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu dalam
keadaan tertentu
Dzul qarabat : Ahli waris yang mendapatkan warisan yang tidak
ditentukan jumlahnya
Fari’dlah : Bagian
Fardh : Bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris
Fiqih : Salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum mengatur
aspek kehidupan
Force majeure : Keadaan memaksa
Fuqaha : Sebutan untuk sekelompok ahli fiqih Furu’ : Anak turu (cabang) dari si mati
Goede zeden : Melanggar etika pergaulan hidup
Hajr : Cara lain untuk menyelesaikan pembiayaan bermasalah
dalam syariah
Halaka : Membinasakan
Haqiqy : Sejati
Hawasyi : Keluarga yang dihubungkan dengan semeninggal dunia melalui garis menyamping, seperti saudara, paman, bibi dan anak turunya dengan tidak membedakan-membedakan laki-laki atau perempuan
Ijab : Menetapkan sesuatu
Ijtihad : Sebuah usaha yang sunggug-sungguh, yang benar bisa dilaksanakan oleh siapa pun
Illat : Suatu perkara yang karenanya suatu disyariatkannya
Innominaat : Kontrak yang timbul, tumbuh dan hidup dalam masyarakat dan kontrak ini belum dikenal di
KHUPerdata diundangkan
Itifaq : Kesepakatan Ulama
Jumhur fuqaha : Pendapat mayoritas seorang ahli fiqih
Ikhwatun : Saudara
Ingebreke stelling : Peringatan kreditur kepada debitur tidak melalui Pengadilan Negeri
Kalalah : Orang tidak mempunyai anak atau ayah
Khiyar : Hak memilih
Library research : Penelitian kepustakan
Limit : batas waktu perbuatan apabila dikerjakan mendapatkan
Muwarris : Orang yang meninggal hartanya Onrechtmatige daad : Perbuatan melawan hukum
Plurium litis consortium : Gugatan kurang pihak Predictability : Dapat diramalkan
Qabul : Menyatakan persetujuan atas ijab yang telah ditentukan Recthszekerheid : Kepastian hukum
Riba fadl : Riba karena ada penambahan
Rib Nasi’ah : Riba yang terjadi karena ada pembayaran yang tertunda
Sommatie : Peringatan tertulis dari kreditur kepada debitur secara resmi melalui Pengadilan Negeri
Sulhu : Perdamaian
Syariah : Hukum
Ta’addi : Pelanggaran terhadap harta
Ta’awun : Tolong menolong
Talak raj’I : Talak yang jatuhkan kepada istrinya pertama dan kedua
Taqdiry : Menurut dugaan
Ta’sbih : Harta sisa
Tijarah : Sesuatu kegiatan mempertukarkan suatu barang
berharga dengan
Tirkah : Harta peninggalan
Ushul : Leluhur (pokok atau asal) yang menyebabkan adanya si mati
Waarits : Ahli waris
Wala’ : Ketetapan hukum memerdekaan budak
Walad : Anak laki-laki
HIR : Herzien Indonesis Reglement
KHI : Kompilasi Hukum Islam
KUHPerdata : Kitab Undang Undang Hukum Perdata
RBG : Rechtsreglement Buitengewestes
Hukum kewarisan menentukan bahwa terjadinya peristiwa kematian mengakibatkan terbukanya warisan dan sebagai konsekuensinya seluruh kekayaan yang ditinggalkan oleh seseorang yang telah meninggal dunia kemudian beralih dengan sendirinya kepada segenap ahli warisnya secara bersama-sama. Beralihnya seluruh kekayaan dengan sendirinya dari pewaris kepada ahli waris tersebut diatur dalam hukum waris yang dengan terjadinya peristiwa meninggal dunia itu akan menimbulkan hubungan hukum dalam masyarakat yaitu timbulnya kewarisan.
Jadi, hukum kewarisan dapat dikatakan sebagai himpuan peraturan-peraturan yang mengatur bagaimana cara pengurusan hak-hak dan kewajiban seseorang yang meninggal dunia oleh ahli waris atau badan hukum lain 1
Hukum waris adalah hukum yang mengatur tentang peralihan harta kekayaan yang ditinggalkan seseorang yang meninggal dunia serta akibatnya bagi para ahli warisnya.2 Hukum waris ini mengatur perpindahan harta dari orang yang telah meninggal kepada orang yang masih hidup dengan penghitungan dan pembagian yang rinci sehingga tidak serta merta harta yang ditinggalkan berpindah tangan tanpa aturan yang jelas.3
1 Rumulyo Idris, Perbandingan Hukum Kewarisan Islam Dengan Kewarisan Undang- Undnag Hukum Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hal 2.
2Ahmad Rhofiq, Hukum Islam di Indonesia, Raja Grafindi Persada, Jakarta, 2003 hal 355.
3Otje Salman, Hukum Waris , PT. Refika Aditama, Bandung, 2002, hal. 3
Dalam Islam, hukum kewarisan disebut juga dengan hukum Fara’idl, yaitu bentuk jamak dari fari’dlah yang secara harfiah berarti bagian. Dalam istilah syarak, fardh adalah bagian yang telah ditentukan bagi ahli waris dan ilmu mengenai hal itu dinamakan ilmu waris dan hukum Faraidh.4 Menurut Syamsul Rijal Hamid, pengertian waris adalah berpindahnya hak dan kewajiban atas segala sesuatu hak harta maupun tanggungan dari orang yang telah meninggal dunia kepada keluarganya yang masih hidup.5 Pada intinya warisan adalah berpindahnya harta peninggalan dari pewaris kepada ahli waris.
Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau dinyatakan meninggal berdasarkan putusan pengadilan adalah beragama Islam dan meninggalkan pewaris dan harta peninggalan. Harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris ada yang berupa kekayaan berwujud dan dapat dinilai dengan uang serta piutang atau aktiva. Namun warisan dapat pula berupa utang yang belum dibayarkan pada saat meninggal dunia atau passiva. Ahli waris adalah orang yang mempunyai hubungan kerabat ataupun perkawinan dari pewaris dan berhak menerima harta peninggalan yang ditinggalkan oleh pewaris pada saat meninggal dunia.6
Syariat Islam menetapkan aturan warisan dengan bentuk yang sangat teratur dan adil yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist. Di dalamnya ditetapkan hak kepemilikan harta bagi setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan dengan cara yang legal. Syariat juga menetapkan hak pemindahan kepemilikan seseorang
4 Syamsulbahri Salihima, Perkembangan Pemikiran Pembagian Warisan: Dalam Hukum Islam Dan Implementasinya Pada Pengadilan Agama, Prenada Media Group, hal.27
5 Syamsul Rijal Hamid, Buku Pintar Agama Islam, Penebar Salam, Yogyakarta, 1997, hal. 36
6 Ibid, hal. 38
sesudah meninggal dunia baik berupa benda bergerak maupun benda tidak bergerak, termasuk barang/ uang pinjaman dan juga barang yang ada sangkut pautnya dengan hak orang lain, misalnya barang yang digadaikan sebagai jaminan atas utang ketika pewaris masih hidup.7
Jika telah meninggal dunia, seseorang segera terlepas hubungan kepemilikan dengan harta kekayaannya. Harta peninggalan tersebut kemudian beralih kepada orang lain yang mempunyai hak terhadap harta peninggalan, kecuali yang harus dikeluarkan menyangkut biaya penyelenggaraan jenazahnya.
Utang piutang pewaris harus dilunasi terlebih dahulu, kemudian sisa harta warisan tersebut baru dapat menjadi hak para ahli waris.8
Dalam menjaga agar harta warisan tidak jatuh kepemilikannya kepada pihak lain yang bukan anggota keluarga, ahli waris yang sah dari pewaris dapat melakukan peralihan hak milik dari harta pewaris kepada kerabat yang dapat merupakan sesama ahli waris dengan cara jual beli. Dalam mengalihkan harta warisan pewaris yang berupa tanah kepada ahli waris agar tanah tersebut menjadi atas nama ahli waris, maka ahli waris dapat membuat surat keterangan ahli waris yang diketahui atau disahkan oleh pejabat yang berwenang untuk kemudian dilakukan pendaftaran pada Kantor Pertanahan setempat agar dicatatkan dalam buku tanah tentang pemegang hak yang baru yaitu atas nama ahli waris. Ahli waris yang telah menguasai tanah warisan tersebut atas nama dirinya kemudian
7Masjfuk Zuhdi, Studi Islam, Jilid III, PT. Raja Grafindo, Jakakarta, 1993, hal. 57
8Ibid, hal. 141
berhak pula melakukan peralihan secara jual beli kepada pihak lain, yang hasil dari penjualannya tersebut lalu dibagi-bagikan kepada ahli waris yang lain.9
Pada umumnya pembayaran jual beli harta warisan yang dilakukan antara seorang ahli waris dengan ahli waris lain dengan maksud agar harta warisan tersebut tidak jatuh kepada pihak lain sebagaimana telah dijelaskan di atas, pembayarannya dilakukan secara lunas atau kontan. Akan tetapi pada realitanya, pembayaran jual beli harta warisan tidak selalu dilakukan dengan secara lunas tetapi masih dalam keadaan berutang dan ahli waris yang satu meminta jangka waktu untuk melunasi utang pembayaran harta warisan kepada ahli waris lain.
Namun demikian, di kemudian hari terjadi wanprestasi atas perjanjian utang piutang dalam pelunasan pembelian harta warisan tersebut.
Perihal perjanjian untuk melakukan dan untuk tidak melakukan suatu perbuatan sebagaimana diatur dalam Pasal 1240 dan Pasal 1241 B.W ada beberapa ketentuan yaitu apabila suatu pihak tidak melakukan suatu perbuatan yang merupakan kewajibannya untuk mememenuhi hal tersebut, maka pihak yang merasa dirugikan kepentingannya dari perjanjian tersebut berhak memohonkan kepada hakim untuk memaksa pihak yang telah wanprestasi tersebut agar melakukan kewajibannya ataupun membayar kerugian yang ditanggung oleh pihak lainnya tersebut.
Salah satu contoh mengenai pembagian waris yang penyelesaian harta warisannya masih dalam bentuk piutang adalah dalam Putusan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn. Kronologi dari perkara ini dimulai ketika MK meninggal
9 KH Ahmad Azhar Basyir, Hukum Waris, UUI Pres, Yogyakarta, 2001, hal. 140
dunia dan meninggalkan ahli waris yaitu Hj. R/isteri dan empat orang anak kandung yaitu AR, YS, IM dan Zul. Harta warisan yang ditinggalkan yaitu berupa rumah dan juga tanah seluas 61,5M2 (enam puluh satu koma lima meter persegi), yang mana mereka telah sepakat untuk menjual harta warisan berupa tanah saja untuk dibagikan kepada ahli waris yaitu anak anak dari pewaris sedangkan istri pewaris mendapatkan harta warisan berupa rumah. Agar tanah tersebut tidak jatuh kepada pihak lain sebelum dibagikan kepada ahli waris, maka disepakati bahwa tanah tersebut akan dibeli oleh AR, anak tertua dari pewaris, yang dari hasil penjualan tanah tersebut akan dibagi sesuai dengan ketentuan dalam hukum waris. Berdasarkan hal tersebut kemudian disepakati bahwa anak perempuan mendapatkan 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) dan anak laki-laki mendapatkan 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Namun di kemudian hari pada saat melakukan pembayaran, AR menyatakan tidak mampu untuk melakukan pembayaran pada bagian anak laki-laki yaitu bagian dari Zul. Guna mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, maka disepakati kembali bahwa pembayaran akan dibayarkan kemudian hari dengan dibuatkan keterangan dalam Akta Perjanjian Pengakuan Utang Nomor 4 tertanggal 4 Januari 2014 yang dibuat di hadapan Notaris di Medan.
Pada tanggal 22 Agustus tahun 2014 Zul meninggal dunia meninggalkan ahli waris yaitu BA sebagai istrinya dan anak perempuannya bernama NS. Seiring berjalannya waktu, hingga pada akhir Desember 2015 Hj. AR tidak juga melunasi utangnya kepada ahli waris Alm. Zul. Dengan demikian, BA dan NS mengajukan gugatan ke Pengadilan dengan dalil bahwa AR telah melakukan wanprestasi. Dari
jawaban atas gugatan yang ditujukan kepada AR, bahwa AR berdalih bahwa ia bukannya tidak mau melunasi utangnya kepada alm. Zul akan tetapi uangnya tersebut telah digunakan untuk biaya pengobatan Hj. R yaitu ibu kandung AR yang juga merupakan mertua dari BA.
Setelah melalui proses pengadilan maka berdasarkan bukti-bukti dan keterangan para saksi, Majelis Hakim memutuskan menyatakan AR telah melakukan perbuatan wanprestasi dan diwajibkan membayar seluruh utangnya sebesar Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah). Berdasarkan uraian di latar belakang di atas, maka isu sentral yang akan diteliti dalam tesis ini berjudul Penyelesaian Harta Warisan Dalam Bentuk Piutang Akibat Wanprestasi Salah Satu Ahli Waris (Studi Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor :46/Pdt.G/2015/PN.Mdn).
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah hak ahli waris terhadap harta warisan dalam bentuk piutang yang belum dibayar berdasarkan hukum Islam ?
2. Bagaimana penyelesaian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasinya salah satu ahli waris menurut hukum Islam ?
3. Bagaimana pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor: 46/Pdt.G/2015/PN Mdn ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang disebut di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis kedudukan ahli waris terhadap harta warisan dalam bentuk piutang yang belum dibayar berdasarkan hukum Islam
2. Untuk mengetahui dan menganalisis penyelesaian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasinya salah satu ahli waris
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Nomor: 46/Pdt.G/2015/PN Mdn.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoretis maupun secara praktis di bidang hukum perikatan dan hukum waris serta bermanfaat bagi masyarakat yang melakukan pembagian harta warisan.
1. Secara Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan bahan-bahan baru untuk dianalisa dan dikembangkan menjadi teori-teori baru untuk kepentingan perkembangan ilmu pengetahuan di bidang ilmu hukum waris. Sehingga dapat melengkapi unsur-unsur pendidikan hukum, khususnya mengenai wansprestasi utang piutang terhadap jual beli harta warisan yang belum dibayarkan di mana harta warisan tersebut digunakan untuk biaya pengobatan salah satu ahli warisnya.
2. Secara praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi lembaga peradilan, khususnya Pengadilan Agama dan bagi masyarakat untuk menghadapi permasalahan utang piutang penjualan harta warisan yang belum dibayarkan khususnya bermanfaat bagi para pihak yang sedang menyelesaikan permasalahan ini agar hubungan antar keluarga tetap harmonis.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan di lingkungan Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Sumatera Utara menunjukkan bahwa belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis Yuridis Perhitungan Atas Pembayaran Biaya Pengobatan Orang Tua Dalam Pelunasan Jual Beli Harta Warisan”. Terutama berkaitan dengan permasalahan yang sama. Akan tetapi ada beberapa penelitian yang berkaitan dengan pembagian warisan yang pernah ditulis sebelumnya, antara lain : 1. Maulana Rialzi, Nomor Induk Mahasiswa 147011042, dengan Judul Analisis Kasus Tentang Jual Beli Tanah Warisan Yang Belum Dibagi (Studi Putusan Mahkamah Syar’iah Sigli Nomor : 291/PDT.G/2013/MS- SGI), rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana pandangan hukum tentang jual beli tanah warisan yang belum bagi ?
b. Bagaimana perlindungan hukum bagi pembeli tanah warisan yang belum bagi ?
c. Mengapa pertimbangan hukum hakim dalam putusan Mahkamah Syar’iah Nomor :291/Pdt-G/2013/Ms-Sgi telah memenuhu keadilan bagi pemilik tanah ?
2. Clara Helmy Sihite, Nomor Induk Mahasiswa 117011013, dengan judul Analisis Kasus Atas Jual Beli Tanah Warisan (Studi Kasus Putusan MA Nomor 680 K/Pdt/209) antara Aston Purba dan kawan kawan Melawan Patar Simamora dan Gomar Purba), rumusan masalahnya adalah :
a. Bagaimana prosedur jual beli tanah warisan yang sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria ?
b. Bagaimana akibat hukum perjanjian jual beli tanah warisan yang di jual oleh salah seorang ahli waris tanpa sepengetahuan ahli waris yang lainnya ?
c. Apakah pertimbangan hakim dalam Putusan Mahkamah Agung No.689/K/Pdt/2009 telah memenuhi rasa keadilan kepada seluruh ahli waris ?
3. Zulfiani, Nomor Induk Mahasiswa 137011116, dengan judul “ Pengingkaran Janji Oleh Penjual Terhadap Jual Beli Tanah Warisan Yang Dibuat Dengan Akta di Bawah Tangan (Studi Putusan Mahkamah Agung Nomor 1944 K/Pdt/2011), rumusan masalah adalah
a. Bagaimanakah kepastian hukum terhadap akta di bawah tangan sebagai alat bukti terhadap jual beli tanah yang bersengketa di pengadilan ?
b. Bagaimana akibat hukum terhadap proses pemecahan dan balik nama sertifikat yang tidak terdapat dalam klausula akta di bawah tangan ? c. Bagaimana pertimbangan hakim dalam Putusan mahkamah Agung
Nomor 1944 K/Pdt/2011 ? F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dengan menggabungkan pendekatan secara rasional dan pengalaman empiris, yang artinya teori merupakan penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskannya dan juga merupakan satu kesatuan penjelasan atas suatu fenomena yang didukung fakta-fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Kerangka teori adalah penyajian bagaimana cara-cara untuk mengorganisir dan menginterpretasikan hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil terdahulu.10
Teori oleh banyak orang sering dianggap sebagai lawan dari praktik. Teori bukanlah lawan daripada praktik, sebab keduanya saling membutuhkan.11 Teori dapat juga digunakan untuk suatu gambaran masa depan. Setiap teori sebagai produk ilmu, tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dan membentuk sistem. Demikian pula ilmu hukum sebagai teori tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum.12 Teori hukum hendak mengejar terus sampai kepada persoalan-persoalan yang bersifat hakiki dari hukum itu, seperti
10Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hal. 19.
11 A’an Efendi, Freddy Poernomo, IG. NG. Indra S. Ranuh, Teori Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal. 86-87.
12 Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, 2012, hal. 5
dikatakan oleh Radbruch, tugas teori hukum adalah membuat jelas nilai-nilai serta postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi.13
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah teori keadilan dan teori kepastian hukum.
a. Teori Keadilan
Berlaku adil sangat berkaitan dengan hak dan kewajiban. Hak yang dimiliki oleh seseorang termasuk hak asasi yang diperlakukan secara adil. Hak dan kewajiban terkait pula dengan adanya amanah, sementara amanah wajib diberikan kepada yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, hukum berdasarkan amanah harus ditetapkan secara adil tanpa dibarengi rasa kebencian dan sifat yang buruk lainnya.
Menurut penelitian M. Quraish Shihab, paling tidak ada empat makna keadilan :14
a. Pertama, ‘adl dalam arti sama. Pengertian ini ditemukan di dalam Al- Qur’an Surah An-Nisa, Asy-Syura, Al-Maidah, An-Nahl, dan Al- Hujurat. Menurut Al-Baidhawi, kata ‘adl bermakna “berada dipertengahan dan mempersamakan”. Pendapat seperti ini dikemukan pula oleh Rasyid Ridha, bahwa keadilan yang diperintahkan di sini dikenal oleh pakar bahasa Arab dan bukan berarti menetapkan hukum (memutuskan perkara) berdasarkan apa yang telah pasti di dalam
13 Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2016, hal. 36.
14 Zamakhsyari,Teori-Teori Hukum Islam Dalam Fiqih dan Ushul Fiqih, Cipta Pustaka Media Perintis, Bandung, 2015, hal. 36.
agama. Sejalan dengan pendapat ini, Sayyid Quthub menyatakan bahwa dasar persamaan itu adalah sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Ini berimplikasi pada persamaan hak karena mereka sama- sama manusia. Dengan begitu keadilan adalah hak setiap manusia dan dengan sebab sifatnya sebagai manusia menjadi dasar keadilan dalam ajaran-ajaran ketuhanan.
b. Kedua, ‘Adl dalam arti seimbang. Ini ditemukan dalam Al-Quran Surah Al-Maidah dan Al-Infithar. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keseimbangan ditemukan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju suatu tujuan tertentu. Selama syarat dan kadar terpenuhi oleh setiap bagian. Keadilan dalam pengertian keseimbangan ini menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui menciptakan secara mengelola segala sesuatu dengan ukuran, kadar dan waktu tertentu guna mencapai tujuan. Keyakinan ini menghantarkan kepada pengertian keadilan Illahi.
c. Ketiga ‘Adl dalam arti perhatian terhadap hak individu dan memberikan hak itu kepada setiap pemiliknya. Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau memberikan pihak lain haknya melalui jalan terdekat”. Lawannya adalah kezaliman, yakni pelanggaran terhadap hak pihak lain. Pengertian ini disebutkan didalam QS. Al-An’am. Pengertian ‘Adl melahirkan keadilan sosial.
d. Keempat, ‘Adl dalam arti yang dinisbahkan kepada Allah, ‘Adl di sini berarti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat saat terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Keadilan Allah mengandung konsekuensi bahwa Rahmat Allah tidak tertahan diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
Makna keadilan berdasarkan iman. Dapat dilihat dari kaitannya dengan amanat kepada manusia kepada sesama. Dalam Islam, persyaratan adil sangat menentukan benar atau tidaknya serta sah atau batalnya sesuatu pelaksanaan hukum misalnya dalam beberapa hal. Seperti dapat dilihat dalam masalah kewarisan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasanain Muhammad Makhluf yaitu seorang ahli Fiqih kontemporer Mesir, beliau mengatakan bahwa Islam mensyariatkan aturan hukum yang adil, karena menyangkut penetapan milik seseorang.15
Maka dari itu setiap orang patutlah berlaku adil dalam hal kewarisan.
Pengertian umum dari berlaku adil dalam masalah kewarisan juga termasuk larangan memakan harta orang lain dengan secara bathil, atau mengajukan kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain (QS Al-Baqarah : 188).16
b. Teori Kepastian Hukum
Hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (recthszekerheid) dalam pergaulan manusia, yakni menjamin keadilan sementara hukum juga tetap ditegakkan dan menjaga agar tidak terjadi main hakim sendiri oleh masyarakat.
15 Fathur Rahman, Ilmu Waris, Al-Ma’arif, Bandung, 1994, hal.32
16 Zamakhsyari, Op Cit, hal. 107.
Berdasarkan teori kepastian hukum, maka tujuan utama hukum adalah untuk menciptakan keadilan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban dan perdamaian.17
Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas untuk menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menertibkan masyarakat.
Tanpa kepastian hukum tidak tahu apa yang harus diperbuat sehingga menimbulkan keresahan.18
Van Apeldoorn memberikan pengertian kepastian hukum sebagai berikut:19
1) Kepastian hukum berarti dapat ditentukan hukum apa yang berlaku untuk masalah-masalah yang konkret. Dengan ditentukannya peraturan hukum untuk masalah-masalah yang konkret, pihak-pihak yang berperkara sudah dapat mengetahui sejak awal ketentuan mana yang akan digunakan dalam perkara tersebut. Roscoe Pound mengatakan bahwa dengan adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predictability. Menurut Van Apeldoorn hakim juga dapat memberi putusan yang lain dari apa yang diduga oleh pencari hukum.
2) Kepastian hukum berarti perlindungan hukum. Dalam hal ini para pihak yang berperkara dapat dihindarkan dari kesewenangan penghakiman. Adanya kepastian hukum membatasi pihak-pihak yang berwenang, misal hakim dan pembuat undang-undang dari kesewenangan penghakiman.
Gustav Radburch memberikan pengetahuan mendasar mengenai kepastian hukum, bahwa hukum itu positif artinya hukum itu adalah peraturan perundang- undangan, kemudian hukum itu didasarkan kepada fakta, di mana fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam
17 Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 22.
18 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999, hal. 136.
19 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2010, hal. 59-60.
pemaknaan dan mudah dilaksanakan. Adapun hukum positif tidak mudah untuk diubah-ubah artinya tidak boleh dengan mudahnya diganti-ganti.20
Teori kepastian hukum menekankan pada penafsiran dan sanksi yang jelas agar suatu perjanjian dapat memberikan kedudukan yang sama dalam membuat perjanjian itu. Memperbaiki kepastian hukum, memang bukan satu-satunya dan juga tidak dapat berdiri sendiri, namun dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing yang diatur dalam hukum sangat dimungkinkan tidak terjadi sengketa,21 artinya bila kepastian hukum yang dijadikan sasaran, maka hukum formal adalah wujud yang dapat diambil sebagai tolak ukurnya, dengan demikian perlu mengkaji hukum formal sebagai basis dalam menganalisa suatu kebijakan yang dapat memberikan suatu kepastian hukum.
Kaitan antara teori kepastian hukum dengan penelitian tesis ini adalah penelitian ini untuk memperjuangkan hak waris yang ditinggalkan alm suaminya kepada ahli waris yang ditinggalnya maka dengan ini perlu menggunakan teori kepastian hukum ini agak ahli waris yang seharusnya mendapatkan hak warisnya dibayarkan oleh ahli waris lain.
2. Konsepsi
Suatu kerangka konsepsionil, merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti. Suatu konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu
20Sulaiman Jajuli, Kepastian Hukum Gadai Tanah Dalam, Deepublish, Yogyakarta, 2015, hal. 51.
21 Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofi Hukum Agraria, Medan: Pustaka Bangsa Pers, 2003, hal. 41-42.
abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu sendiri biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut.22
Namun demikian, suatu kerangka konsepsionil belaka kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak. Sehingga diperlukan definisi-definisi operasionil yang akan dapat menjadi pegangan konkrit didalam proses penelitian. Dengan demikian suatu kerangka konsepsionil dapat pula mencakup definisi-definisi operasionil.23
a. Utang adalah tanggungan yang harus diadakan pelunasannya dalam suatu waktu tertentu24
b. Piutang adalah memberikan sesuatu pinjaman dengan pengembalian di kemudian hari sesuai dengan perjanjian dan jumlah yang dipinjam25 c. Wanprestasi adalah tidak dilaksananya prestasi atau kewajiban
sebagaimana mestinya yang dibebankan oleh kontrak terhadap pihak- pihak yang disebutkan dalam kontrak yang bersangkutan26
d. Ahli waris adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris27
22 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2005, hal. 132
23Ibid., hal. 132-133
24 Suhrawardi K. Lubis dan Komis Simanjuntak, Hukum Waris Islam, Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hal. 48
25Munir Fuady, Hukum Kontrak (Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal 54
26 Djalal Maman Abd, Hukum Mawaaris, CV Pustaka Setia, Bandung, 2006, hlm 43
27 Pasal 171 Butir 3 Kompilasi Hukum Islam
e. Harta warisan adalah harta bawaan ditambah bagian dari harta bersama setelah digunakan untuk keperluan pewaris selama sakit sampai meninggalnya, biaya pengurusan jenazah (tajhiz), pembayaran utang dan pemberian untuk kerabat.28
f. Pewaris adalah orang yang pada saat meninggalnya atau dinyatakan meninggalberdasarkan putusan pengadilan beragama Islam, meninggalkan ahli waris dan harta peninggalan29
G. Metode Penelitian
Metodologi penelitian hukum artinya ilmu tentang cara melakukan penelitian hukum dengan teratur (sistematis)30Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogianya atas isu yang diajukan.31
1. Jenis dan Sifat Penelitian
Jenis dari penelitian ini adalah penelitian hukum normatif, penelitian yang mengkaji dan menganalisis tentang norma-norma hukum yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenang untuk itu.32 Penelitian normatif adalah penelitian yang permasalahan dalam penelitian tersebut dibahas dan diuraikan dalam penyelesaiannya merujuk pada kaidah-kaidah yang diatur dalam Kompilasi
28 Pasal 171 Butir 5 Kompilasi Hukum Islam
29 Pasal 171 Butir 2 Kompilasi Hukum Islam
30Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2004, hal. 57.
31 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum Edisi Revisi 2005, Kencana, Jakarta, 2014, hal. 83.
32 Salim HS, dan Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis dan Disertasi, Rajawali Pers, Jakarta, 2016, hal. 13.
Hukum (KHI), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Putusan Pengadilan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn.
Metode penelitian hukum jenis normatif yang diterapkan pada judul penelitian tesis pembagian harta warisan dalam bentuk piutang akibat wanprestasi dari satu ahli waris ini dilakukan dengan mengkaji harta warisan menurut hukum dan literatur yang bersifat konsep teoretis yang kemudian dihubungkan dengan permasalahan yang menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. Penelitian ini difokuskan dengan menerapkan kaidah-kaidah atau norma-norma yang diatur dalam hukum positif.33
Dari uraian latar belakang dan perumusan masalah penelitian ini bersifat deskriptif analitis. Dikatakan deskriptif analitis karena penelitian ini bersifat pemaparan dan bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskripsi) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku di tempat tertentu dan pada saat tertentu, atau mengenai gejala yuridis yang ada, atau peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat. Adapun pada penelitian peristiwa hukum yang dimaksud adalah wanprestadi yang dilakukan ahli waris terhdapa ahli warisan yang lain.
2. Sumber Data
Sumber data adalah tempat diperolehnya data. Dalam penelitian hukum normatif, sumber data yang utama berasal dari data kepustakaan.34Di dalam kepustakaan hukum, sumber datanya disebut bahan hukum. Bahan hukum adalah segala sesuatu yang dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan menganalisis hukum yang berlaku. Data yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya
33Ibid.,hal. 9.
34 Soerjono Soekanto, Sri Mamudji, Op.Cit., hal. 16.
dinamakan data sekunder.35 Data sekunder yang dikaji dan dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari:
a. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang memiliki kekuatan mengikat. Bahan hukum primer yang digunakan dalam penelitian ini di antaranya KHI, KUHPerdata dan Putusan Nomor : 46/Pdt.G/2015/PN Mdn..
b. Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer. Seperti, misalnya naskah akademis, rancangan undang-undang, hasil penelitian ahli hukum, dan lain-lain.
c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti misalnya kamus, ensiklopedia, dan lain-lain. Kamus yang sering dirujuk oleh peneliti hukum, meliputi Kamus Besar Bahasa Indonesia,36
Selain data sekunder penelitian ini juga menggunakan data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari informan, bukan dari bahan kepustakaan. Data primer dapat dicari dan diperoleh langsung dari informan ataupun dari lapangan.37
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data mempunyai hubungan yang erat dengan sumber bahan hukum, karena dengan pengumpulan data akan diperoleh bahan hukum yang
35Ibid.,hal. 12.
36 Dyah Ochtorina Susanti dan A’an Efendi, op.cit.,hal. 16.
37 Tampil Anshari Siregar, Metode Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2005, hal. 74-75.
diperlukan selanjutnya dianalisis sesuai kehendak yang diharapkan.38 Berkaitan dengan hal tersebut, dalam penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui penelitian kepustakaan (Library research) yang dilakukan dengan cara menginventarisis, mempelajari, dan mendalami bahan hukum berupa peraturan perundang-undangan, buku-buku, tulisan ilmiah, dokumen-dokumen hukum dan karya-karya ilmiah yang terkait dengan penelitian ini. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teknik pengumpulan data melalui penelitian lapangan (field research) dengan wawancara informan.
4. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan ini terdiri dari:
a. Studi Dokumen
Metode ini merupakan suatu alat pengumpulan data yang dilakukan dengan menganalisis isi dokumen yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, yaitu mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam catatan dokumen, menelaah bahan-bahan kepustakaan yang meliputi bahan hukum primer, baru kemudian bahan hukum sekunder dan tersier.39
b. Pedoman Wawancara
Pengumpulan data dengan melakukan tanya jawab secara langsung dengan membuat daftar pertanyaan yang sudah direncanakan dengan narasumber yaitu satu orang Hakim Pengadilan Negeri Medan ,
38 Sri Mamudji, Metode Penelitian Hukum dan Penulisan Hukum, Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta, 2005, h. 22.
39 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Op.Cit.,h.13
Notaris Kota Medan 1 orang, Pengacara dalam kasus ini, Ahli Waris dan anggota Majelis Ulama Indonesia Kota Medan.
5. Analisis Data
Puncak kegiatan pada suatu penelitian ilmiah hukum adalah menganalisis data dari hasil penelitian.40 Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu studi pustaka, dokumen, wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi dan sebagainya. Data tersebut setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan melakukan abstraksi. Adapun tahap akhir dari analisis data ini adalah mengadakan pemeriksaan keabsahan data. Setelah selesai pada tahap ini, mulailah kini tahap penafsiran data yakni mengolah hasil sementara menjadi teori substantif dengan menggunakan beberapa metode tertentu.41
Sehubungan dengan uraian tentang proses analisis dan penafsiran data di atas, penelitian ini dilakukan dengan analisis data kualitatif. Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain yang akan dituangkan dalam penelitia. 42 Selanjutnya ditarik suatu kesimpulan yang bersifat deduktif, yaitu menarik
40 Tampil Anshari Siregar, Op.Cit.,hal. 104.
41 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2014, hal. 247.
42 Ibid., hal. 248.
kesimpulan dari premis mayor (pernyataan) yang umum kepada premis minor rumusan yang khusus.43
43Tampil Anshari Siregar, Op.cit.,hal. 16.
A. Hukum Waris Islam (Faraid) di Indonesia
Hukum waris dalam ajaran Islam disebut dengan istilah “Faraidh”. Kata Faraid adalah bentuk jamak dari faridhah yang berasal dari kata fardhu yang berarti ketetapan, pemberian (sedekah).44 Fardhu dalam Al-Qur’an mengandung beberapa pengertian yaitu ketetapan,45 dan kewajiban.46
Secara umum, para ulama Fiqih memberikan definisi Ilmu Faraidh sebagai berikut.47
a. Penentuan bagian bagi ahli waris
b. Ketentuan bagian warisan yang ditetapkan oleh Syariat Islam
c. Ilmu Fiqih yang berkaitan dengan pembagian pusaka serta mengetahui perhitungan dan kadar harta pusaka yang wajib dimiliki oleh orang yang berhak.
Secara singkat Ilmu Faraidh dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang ketentuan harta pusaka bagi ahli waris. Menurut istilah hukum di Indonesia, Ilmu Faraidh ini disebut juga hukum waris yaitu hukum yang mengatur tentang apa yang harus terjadi dengan harta kekayaan seseorang yang meninggal dunia. Dalam Kompilasi Hukum Islam dijelaskan bahwa yang
44 Louis makluf, Al Munjid fi al-Lugah wa al I’Lam,, Beirut; Dar al-masyriq, 1986, hal 577
45 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Qur’an dan Terjemahnya, Bandung, Diponegoro: 2010, hal. 197
46 Ibid., hal. 85
47 Amin Husein Nasution, Hukum Kewarisan , PT. Rajagrafindo, Jakarta, 2012, hal . 50.
dimaksud dengan hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur perpindahan hak kepemilikan harta peninggalan pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing masing. Dengan demikian dapat dipahami bahwa hukum melaksanakan pembagian warisan sebagaimana tercantum dalam Al-Quran dan Al-Hadis adalah wajib.48
Demikian juga halnya dengan porsi bagian masing-masing, tidak dapat diubah atau dibatalkan walaupun para ahli waris sendiri merelakannya. Ilmu Faraid yang mengatur pengertian harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia, merupakan manifestasi pengakuan Islam terhadap adanya hak milik perorangan. Hak milik perorangan akan berakhir saat seseorang meninggal dunia dan berpindah kepada ahli waris. 49
Dari pengertian rumusan tersebut teranglah bahwa hukum waris itu (dalam presfektif hukum Islam) adalah hukum yang mengatur proses pemindahan kepemilikan atas harta peninggalan (tirkah atau maurust) milik pewaris kepada ahli warisnya sesuai dengan bagiannya masing-masing berdasarkan dengan ketentuan Allah SWT.
Hal yang diatur dalam hukum pewarisan tersebut meliputi :
a. Bagaimana pemindahan kepemilikan harta yang dimiliki pewaris kepada ahli waris dapat dilakukan, baik berupa hukum maupun syarat syarat pewarisan termasuk ke dalam peraturan kewajiban dan tanggung jawab ahli waris terhadap pewaris;
48 Ibid
49 Ibid
b. Penentuan siapa-siapa di antara ahli waris yang berhak menjadi ahli waris dari pewarisnya, yang berasal dari sekian jumlah ahli waris yang ada atau hidup, tetapi tidak semua menjadi ahli waris, kecuali mereka yang menurut hukum Islam mempunyai hak untuk mendapatkan bagian dari harta peninggalan yang ditinggalkan pewaris;
c. Penentuan berapa besarnya bagian masing-masing yang akan diterima oleh ahli waris yang berhak menerimanya menurut hukum Islam sesuai dengan kedudukan ahli waris dalam struktur dan tingkatan kekeluargaan pewaris yang bersangkutan;
d. Pelaksanaaan pembagian harta peninggalan tersebut kepada ahli waris yang berhak, dengan tidak menutup kemungkinan setelah masing-masing ahli waris yang berhak menyadari bagian dengan mengadakan kesepakatan untuk melakukan perdamaian dalam pembagian harta peninggalan tersebut.
1. Unsur dan Syarat Kewarisan Islam a. Unsur-Unsur kewarisan
ada tiga unsur yang perlu diperhatikan dalam waris-mewarisi, tiap-tiap unsur tersebut harus memenuhi berbagai persyaratan. Unsur-unsur ini dalam kitab fiqh dinamakan rukun dan persyaratannya dinamakan syarat untuk tiap-tiap rukun. Rukun merupakan bagian dari permasalahan yang menjadi pembahasan. Pembahasan ini dianggap tidak sempurna jika salah satu rukun tidak ada, misalnya wali dalam salah satu rukun perkawinan, yang sudah tentu tidak mungkin perkawinan dilangsungkan tanpa wali¸
sebab perkawinan menjadi kurang sempurna, bahkan menurut pendapat Imam Maliki dan Imam Syafi’i perkawinan itu tidak sah.50
Syaratnya adalah sesuatu yang berada di luar substansi dari permasalahan yang dibahas, tetapi harus dipenuhi, seperti suci dari hadas merupakan syarat sahnya shalat. Walaupun bersuci itu kegiatan di luar shalat, tetapi harus dikerjakan oleh orang-orang yang akan shalat, karena jika dia shalat tanpa bersuci maka shalatnya tidak sah. Sehubung pembahasan hukum waris, yang menjadi rukun waris mewarisi ada 3 (tiga) yaitu sebagai berikut:
1) Orang yang meninggalkan harta waris (Muwarri).
Muwarris adalah orang yang mewariskan hartanya. orang yang meninggal dunia dan meninggalkan harta waris. Di dalam kamus Indonesia disebut dengan istilah pewaris sedangkan dalam kitab fiqh disebut Muwarris.51
2) Harta Peninggalan (Maurus)
adalah harta benda yang ditinggalkan oleh si mayit yang akan dipusakakan atau dibagi oleh para ahli waris setelah diambil untuk biaya-biaya perawatan, melunasi utang, dan melaksanakan wasiat.
Harta peninggalan dalam kitab fiqih biasa disebut tirkah, yaitu apa-apa yang ditingalkan oleh orang yang meninggal dunia, berupa harta secara mutlak. Jumhur Fuqaha berpendapat bahwa tirkah ialah segala apa yang menjadi milik seseorang, baik harta benda maupun hak-hak
50 Moh. Muhibbin, Hukum Kewarisan Islam, Jakarta, Sinar Grafika: 2009, hal. 56.
51 Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada: 1998, hal. .22
kebendaan yang diwariskan oleh ahli warisnya setelah ia meningal dunia. Jadi disamping harta benda juga hak-hak, termasuk hak kebendaan maupun bukan kebendaan yang dapat berpindah kepada ahli warisnya. Seperti hak menarik hasil sumber air, piutang, benda-benda yang digadaikan oleh si mayit, barang-barang yang dibeli oleh si mayit sewaktu masih hidup yang dijadikan maskawin untuk istrerinya yang belum diserahkan sampai ia meningal, dan lain-lain.52
Maurus merupakan harta peninggalan si mayit setalah dikurangi biaya perawatan jenazah, pelunasan utang, dan pelaksanaan wasiat. Dalam hal ini yang dimaksud dengan hal tersebut adalah :53
a) Kebendaan yang sifatnya mempunyai nilai kebedaan. Misalnya benda–benda tetap, benda-benda bergerak, piutang-piutang si mayit, diyat wajibah (benda wajib) yang dibayarakan kepadanya.
b) Hak-hak kebendaan, seperti monopoli untuk mendayagunakan dan menarik hasil dari suatu jalan lalu lintas, sumber air minum, irigasi, dan lain sebagainya.
c) Benda-benda yang bukan kebendaan seperti hak khiyar dan hak syuf’ah, hak memanfaatkan barang yang diwasiatkan dan sebagainya.
d) Benda-benda yang bersangkutan dengan hak orang lain.
seperti benda yang sedang digadaikan, benda yang telah dibeli
52 Ibid., hal. 60
53 Ibid.,
oleh si mayit sewaktu masih hidup yang sudah dibayar tetapi barang belum diterima.
Struktur masyarakat di Indonesia berbeda dengan masyarakat Arab, di mana kitab-kitab fiqih disusun berdasarkan ijtihad ulama yang pada waktu menyusunnya dengan memahami kandungan syariat dan sudah tentu memungkinkan adanya perbedaan dalam menentukan harta peninggalan (tirkah) ini. Dalam beberapa literatur yang berkaitan dengan masalah kewarisan tidak pernah disinggung tentang harta mana saja yang termasuk harta waris dan harta isteri yang akan dibagi-bagi oleh ahli warisnya jika ia meninggal dunia. Karena dalam penerapannya di masyarakat Indonesia, sering menimbulkan kesan bahwa semua harta adalah milik suami dengan alasan, yaitu bertanggung jawab dalam rumah tangga adalah suami maka harta adalah milik suami, dengan dasar Surah An-Nisa ayat 34, yang artinya :
“Laki-laki bertanggung jawab atas perempuan oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain ( wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka”.54
Pada umumnya di Indonesia rumah tangga (keluarga) memiliki 4 (empat) macam harta yaitu sebagai berikut :55
a. Harta yang diperoleh sebelum perkawinan b. Harta yang diperoleh saat mereka menikah
c. Harta yang diperoleh selama perkawinan berlangsung
54Departemen Agama RI, Op,. Cit , hal. 119
55 Ahmad Rofiq, Op,. Cit., hal. .24
d. Harta yang diperoleh selama perkawinan atas usaha bersama atau usaha salah seorang disebut harta pencarian.
4. Ahli Waris (Waarits)
Waarits adalah orang yang akan mewariskan harta peninggalan si Muwarrits lantaran mempunyai sebab-sebab untuk mewarisi.
Pengertian ahli waris disini adalah orang yang mendapatkan harta warisan, karena memang haknya dari lingkungan keluarga pewaris. Namun tidak semua keluarga dari pewaris dinamakan (termasuk) ahli waris. Demikian pula orang yang berhak menerima (mendapatakan) harta warisan mungkin saja di luar ahli waris. Dalam Al- Quran Surat An-Nisa ayat 8 , Allah berfirman artinya :
“Dan apabila sewaktu pemabagian itu hadir beberapa kerabat anak- anak yatim, dan orang-orang miskin, maka berilah merka dari harta itu (sekadarnya) dan ucapkan kepada merka perkataan yang baik.”56
b. Rukun Dan Syarat Kewarisan
Pada dasarnya persoalan waris-mewaris selalu indektik dengan perpindahan kepemilikan sebuah benda, hak dan tanggung jawab dari pewaris kepada ahli warisnya. Dan dalam hukum waris Islam penerimaan harta warisan didasarkan pada asas ijbari, yaitu harta warisan berpindah sendirinya menurut ketetapan Allah swt tanpa digantungkan pada kehendak pewaris atas ahli waris.57Pengertian tersebut akan terwujud jika syarat dan rukun mewarisi telah terpenuhi dan tidak
56 Departemen Agama RI, Op,. Cit, hal. 119
57 Muhammad Daut Ali, Asas Hukum Islam, Jakarta, Rajawali Press : 1990, hal. 129.
terhalang mewarisi. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam pembagian harta warisan. Syarat-syarat tersebut selalu mengikuti rukun, akan tetapi sebagian ada yang berdiri sendiri. Ada tiga syarat warisan yang telah disepakati oleh para ulama, tiga syarat tersebut adalah:58
1. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara haqiqy, hukmy (misalnya
dianggap telah meninggal) maupun secara taqdiri.
2. Adanya ahli waris yang hidup secara haqiqy pada waktu pewaris meninggal dunia.
3. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti baik bagian masing-masing.
Adapun rukun waris harus terpenuhi pada saat pembagian harta warisan.
Rukun waris dalam hukum kewarisan Islam, diketahui ada tiga macam, yaitu:
1. Muwaris, yaitu orang yang diwarisi harta peninggalannya atau orang yang mewariskan hartanya. Syaratnya adalah muwaris benar-benar telah meninggal dunia. Kematian seorang muwaris itu, menurut ulama dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Mati haqiqi (sejati) adalah hilangnya nyawa sesorang yang semula nyawa yaitu sudah berwujud padanya. Kematian ini dapat disaksikan oleh panca indera dan dapat dibuktikan dengan alat pembuktian.59 Sebagai akibat dari kematian seluru harta yang ditinggalkan setelah dikurangi untuk memenuhi hak-hak yang bersangkutan dengan harta peninggalannya, beralih dengan sendirinya kepada ahli waris yang
58 Addys Aldizar, Faturraman, Hukum Waris, Jakarta, Senayan Abadi Publisbing: 2004, Hal. 14.
59 Ibid.,.
masih hidup di saat kematian muwarrist, dengan syarat tidak terdapat salah satu halangan mempusakai.60
b. Mati hukmy (berdasarkan keputusan hakim) adalah suatu kematian yang didasarkan oleh adanya vonis hakim, baik pada hakekatnya, seseorang benar-benar masih hidup, namun dalam kemungkinan antara hidup dan mati. Sebagai contoh orang yang telah divonis mati, padahal di suatu tempat ia benar-benar masih hidup.
Vonis ini dijatuhkan terhadap orang murtad yang melarikan diri dan bergabung dengan musuh.
c. Mati taqdiry (menurut dugaan) adalah suatu kematian yang bukan haqiqy dan bukan hukmy, tetapi semata-mata hanya berdasarkan dugaan keras. Misalnya dugaan kematian seseorang bayi yang baru dilahirkan akibat terjadi pemukulan terhadap perut ibunya atau pemaksaan agar ibunya minum racun. Kematian tersebut hanya semata- mata berdasarkan dugaan keras, dapat juga disebabkan oleh yang lain, namun kuatnya perkiraan atas akibat perbuatan semacam itu.
2. Orang menerima warisan (ahli waris)
Pemindahan hak kepemilikan dari pewaris harus kepada ahli waris yang secara syariat benar-benar masih hidup, sebab orang yang sudah mati tidak memiliki hak untuk mewarisi. Sebagai contoh jika dua orang atau lebih dari golongan yang berhak saling mewarisi menginggal dalam satu peristiwa atau dalam keadaan yang berlainan tetapi tidak diketahui mana yang lebih dahulu
60 Moh. Muhibbin, Op.Cit., hal. 60.
meninggal maka diantara mereka tidak dapat saling mewarisi harta yang meraka miliki ketika masih hidup.
Adapun masalah-masalah yang muncul berkaitan dengan syarat hidupnya ahli waris adalah mengenai mafqud, anak dalam kandungan, dan keadaan mati secara bersama. Masalah mafqud terjadi dalam hal keberadaan seseorang waris tidak diketahui secara pasti apakah masih hidup atau sudah mati ketika muwarrist meninggal dunia. Jika terjadi kasus seperti ini maka pembagian warisan dilakukan dengan cara memandang si mafqud tersebut masih hidup. Hal ini dilakukan untuk menjadi hak si mafqud jika ternyata dia masih hidup. Bila di kemudian hari sebelum habis waktu maksimal untuk menanggung ternyata si mafqud datang atau hadir dalam keadaan hidup maka bagian warisan yang telah disediakan untuk si mafqud tersebut diberikan kepadanya. Jika dalam tenggang waktu yang telah ditentukan ternyata tidak datang sehingga dia dapat diduga telah mati, maka bagiannya tersebut di antara para ahli waris lainya sesuai dengan perbandingan furudh mereka masing-masing.61
Masalah anak dalam kandungan terjadi dalam hal ini istri muwarrits dalam keadaan mengandung ketika muwaritts meninggal dunia. Dalam kasus seperti ini maka penetapan keberadaan anak tersebut dilakukan pada saat kelahiran anak tersebut. Oleh sebab itu maka pembagian waris dapat ditangguhkan sampai anak tersebut dilahirkan.62 Mati secara bersamaan adalah jika dua orang atau lebih yang saling mewarisi mati secara bersama. Misalnya seorang bapak dan anaknya tenggelam atau terbakar bersama sehingga tidak diketahui secara pasti siapa yang
61 Moh. Muhibbin, Op.Cit., hal. 64
62 Ibid., hal. 65