• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi pelaksanaan program bantuan operasional sekolah [BOS] di SMP Kabupaten Klaten - USD Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Evaluasi pelaksanaan program bantuan operasional sekolah [BOS] di SMP Kabupaten Klaten - USD Repository"

Copied!
189
0
0

Teks penuh

(1)

i

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM

BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS)

DI SMP KABUPATEN KLATEN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Ekonomi

Oleh:

Purwaningsih

031324021

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesunguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebabkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 4 Agustus 2007

(5)

v

M OTTO

¼ PAS S IN G GRADE DALAM MEN CAPAI TUJUAN KEHIDUPAN

TERLEBIHN YA DILAN DAS I ATAS KES ADARAN PRIBADI,

DORONGAN S PRITUAL DAN MATERIAL.

¼ PUJIAN S YUKUR BERAS AL DARI HATI DAN KELUAR LEWAT

MULUT ATAS DAS AR S UKA CITA KARENA KEBAIKAN TUHAN

YANG S ELALU MENDAMPINGI LANGKAH HIDUPKU.

¼ ULURAN TAN GAN KAS IH TUHAN MEMBUAT AKU BANGUN

DARI KETIDAKBERDAYAANKU, S ENYUMAN KAS IH TUHAN

MEMBUAT AKU S ELALU TENANG DALAM MENJALANI

KEHIDUPANKU.

¼ S AAT PALING MEMBAHAGIAKAN DALAM KEHIDUPAN ADALAH

BERADA DALAM ALIRAN KAS IH S AYAN G DIAN TARA

(6)

vi

PERSEMBAHAN

Dengan segala kerendahan hati dan rasa syukur yang dalam, kupersembahkan skripsi ini untuk yang kukasihi:

Bapa di S urga

Tuhan Yesus & Bunda Maria

Orang Tuaku Tercinta

Pendamping Hidupku

(7)

vii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan rahmat serta karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar dan baik.

Skripsi ini berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah di SMP Kabupaten Klaten”. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

Dalam penuyusunan skripsi ini banyak pihak yang telah memberikan bantuan baik material maupun spiritual yang sangat berarti bagi penulis, amka dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terima kasih pada:

1. Bapak Drs. T. Sarkim., M. E., Ph. D., selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Drs. Sutarjo Adisusilo JR., selaku ketua Jurusan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

3. Bapak Yohanes Harsoyo, S.Pd., M. Si selaku ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Sanata Dharma.

(8)

viii

5. Yohanes Maria Vianey Mudayen, S.Pd selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan masukan-masukan tentang kesalahan dalam penulisan skripsi ini.

6. Bapak Kepala Sekolah di setiap SMP Klaten yang dijadikan sampel penelitian telah mengijinkan peneliti untuk meneliti dan bersedia untuk diwawancarai di sekolahannya.

7. Bapak & Ibu Guru di SMP yang diteliti dalam penelitian ini yang telah bersedia untuk diwawancarai guna membantu peneliti dalam mengumpulkan data penelitian.

8. Adik-adik SMP yang diteliti dalam penelitian ini yang telah bersedia untuk diwawancarai sehubungan dengan pelaksanaan BOS, sehingga bisa membantu peneliti dalam mengambil data untuk penelitian.

9. Orang tuaku tercinta, terlebih buat almarhum bapak tercinta yang telah memberikan dukungan baik spiritual maupun material, terimakasih atas kasih sayang dan doa yang diberikan.

10.Kakak-kakakku terkasih, simbah, saudara-saudaraku baik di Jakarta, Solo maupun di Klaten yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Dukungan dan semangat yang telah diberikan tidak akan dilupakan.

(9)

ix

12.Teman-teman Pendidikan Ekonomi 2003 (Yuyun, Isnani, Meyta, Asti, Asih, Ian, Riska, Nanik, Pipit, Rini, Nining, Diah, Wayah, Tasya, Yustin, Ratna, Mbak Sandi, Ika, Lius, Istadi, Daur, Bona, Andika, Wisnu, Alex, Koko, Hendra, Rino, Gatot, dan masih banyak lagi yang tidak bisa penulis sebutkan semuanya) keakraban, kekompakkan, canda tawa kalian saat kuliah tidak akan hilang ditelan waktu dan akan aku kenang dalam perjalanan hidupku.

13.Sahabat-sahabatku yang dirumah (Dik Hariyanti, Trimani, Ira, Mbak Dewi) yang telah membuat persahabatan ini terasa kental, kalian memang menjadi bagian dari keluargaku.

14.Penghuni kost trembuku 7 (Yuli, Heni) kita akan ketemu dalam wisuda nanti. Adikku Ita….ayo semangat !!! biar bisa cepat nyusul. Teman-teman mudika Stasi Senden (Tika, Luis, Yanita, Lia, Hendratno, Beti, Kis, Mas Budi, dan lainnya) ayo latihan koor lagi biar menambah semangat hidup. 15.Teman-teman Kunden (Mas Rus, Mbak Pat, Mas Sigit, Mbak Rohmat,

Doni, Sandeng, Budi, Mbak Sulis, Dik Ika, dan lainnya) ayo maen bareng lagi.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, oleh karena itu penulis tetap membuka diri terhadap kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

Penulis

(10)

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN ... ii

LEMBAR PENGESAHAN... iii

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

MOTTO... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL... xiii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I Pendahuluan ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah... 4

C. Batasan Masalah ... 4

D. Tujuan Penelitian... 4

E. Manfaat Penelitian... 5

BAB II Tinjauan Pus taka ... 6

(11)

xi

1. Standar Nasional Pendidikan... 6

2. Standar Pembiayaan dan Praksis Pembiayaan Pendidikan Indonesia ... 7

B. Program Bantuan Operasional Sekolah ... 10

1. Latar Belakang Program BOS dan Pengertiannya ... 10

2. Sasaran Program, Besarnya Bantuan dan Waktu Pelaksanaan ... 11

3. Ketentuan Sekolah Penerima BOS... 12

4. Teknik Penyaluran... 14

5. Pemanfaatan Dana BOS ... 14

6. Pertanggungjawaban Keuangan Dana BOS... 17

C. Kerangka Teoritik ... 18

D. Penelitian Terdahulu ... 21

BAB III Metode Penelitian... 22

A. Jenis Penelitian ... 22

B. Subjek dan Objek Penelitian... 23

C. Lokasi Penelitian dan Alasan Pemilihan Lokasi... 23

D. Populasi Penelitian, Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel ... 24

E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya ... 26

F. Data yang Dicari dan Teknik Pengumpulan Data ... 27

G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data... 30

(12)

xii

BAB IV Gambaran Umum SMP di Kabupaten Klaten ... 33

A. Gambaran Umum Kabupaten Klaten... 33

1. Letak dan Luas Wilayah ... 33

2. Topografi... 34

3. Visi dan Misi Kabupaten Klaten... 35

4. Kondisi Kabupaten Klaten... 36

B. Gambaran Umum SMP yang Menerima BOS ... 39

BAB V Pembahasan... 43

A. Kesesuaian Teknik Penyaluran Dana BOS di SMP Klaten... 44

B. Ketepatan Pemanfaatan Dana BOS... 49

C. Transparansi Pertanggungjawaban Dana BOS ... 65

BAB VI Penutup... 73

A. Kesimpulan... 73

B. Keterbatasan Penelitian... 75

C. Saran... 76

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel III.1 Kisi-Kisi Wawancara Untuk Kepala Sekolah Tentang Penyaluran, Pemanfaatan, dan Pertanggungjawaban

dana BOS... 29 Tabel III.2 Kisi-Kisi Wawancara Untuk Guru Tentang Pemanfaatan

Dana BOS dan Pertanggungjawaban Dana BOS ... 29 Tabel III.3 Kisi-Kisis Wawancara Untuk siswa Tentang Pemanfaatan

Dana BOS... 29 Tabel IV.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Klaten... 34 Tabel IV.2 Jumlah Penduduk Kabupaten Menurut

Angkatan Kerja 2006 ... 37 Tabel IV.3 Banyaknya SMP, Guru, Kelas dan Murid Dirinci

Menurut Kecamatan dan Status Semester II Tahun 2006 ... 39 Tabel IV.4 Nama SMP di Kabupaten Klaten

Sebagai Sampel Penelitian ... 41 Tabel IV.5 Gambaran Umum SMP yang Diteliti

Dalam Menerima Dana BOS... 41 Tabel V.1 Hasil Persentase % Kesesuaian Teknik Penyaluran

Dana BOS... 45 Tabel V.2 Hasil Persentase % Ketepatan Pemanfaatan

Dana BOS... 52 Tabel V.3 Hasil Persentase % Transparansi Pertanggungjawaban

(14)

xiv

DAFTAR BAGAN

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Lampiran Surat Penelitian... 81

2. Lampiran Data SMP di Kabupaten Klaten... 101

3. Lampiran Data RAPBS dan Laporan Keuangan... 130

4. Lampiran Pedoman Wawancara... 136

(16)

xvi

ABSTRAK

EVALUASI PELAKSANAAN PROGRAM BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS)

DI SMP KABUPATEN KLATEN

Purwaningsih

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 03132402

2007

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi: 1) Penyaluran dana BOS di SMP Kabupaten Klaten, 2) Pemanfaatan dana BOS di SMP Kabupaten Klaten dan 3) Pertanggungjawaban dana BOS di SMP Kabupaten Klaten.

Penelitian ini mengambil 14 sampel SMP di Kabupaten Klaten. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi dan wawancara. Untuk menjawab masalah penelitian ini digunakan teknik analisis data kualitatif dengan melalui 3 alur kegiatan yang terjadi secara bersama-sama, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa:

1. Sebagian besar penyaluran dana BOS di SMP Kabupaten Klaten belum sesuai ketentuan (53,57 % belum sesuai dan 46,43 % sudah sesuai ). 2. Sebagian besar pemanfaatan dana BOS di SMP Kabupaten Klaten belum

tepat sasaran (52,32 % belum tepat sasaran dan 47,68 % sudah tepat sasaran).

(17)

xvii

ABSTRACT

EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF SCHOOL

OPERATIONAL ASSISTANCE PROGRAM IN JUNIOR HIGH SCHOOLS IN KLATEN REGENCY

Purwaningsih

Sanata Dharma University 031324021

2007

The purposes of the research are to evaluate: (1) the distribution; (2) benefit; and responsibility of school operational assistance fund in Junior High Schools in Klaten Regency.

The populations of the research were 14 Junior Schools in Klaten Regency. The techniques of data collection were interview and documentation. The technique of analyzing the data was quantitative by applying three activities done in sequence, namely reducting the data, exposing the data and making conclusion.

The result of this research shows that:

1. The distribution of school operational assistance fund in Junior High Schools in Klaten Regency only reached 46.46%. It is stiil far from the target.

2. The benefit of school operational assistance fund in Junior High Schools in Klaten regency is only 47.68%.

(18)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Untuk memenuhi kebutuhan akan pendidikan itu, dibutuhkan biaya pendidikan yang tidak sedikit. Biaya pendidikan tersebut sebagian besar ditanggung oleh orang tua siswa, maka tidak sedikit orang tua yang mengeluh, karena banyaknya pengeluaran yang harus ditanggung oleh mereka untuk membiayai pendidikan anaknya. Apabila orang tua siswa kurang mampu dalam membiayai pendidikan anaknya, maka salah satu penunjang dalam proses pendidikan anaknya akan terhambat, yang akan mengakibatkan anak putus sekolah.

(19)

setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Konsekuensi dari amanat Undang-Undang tersebut, pemerintah wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP) (http://www.bernas.co.id/eybernas/berita. Php? Newsid=1845).

Sehubungan dengan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, dan dengan adanya pengurangan subsidi bahan bakar minyak pada tahun 2005, pemerintah mengalihkan dana subsidi tersebut untuk mensukseskan pendidikan dasar seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang, diharapkan pengalihan subsidi ini lebih tepat sasaran, dalam artian penikmat subsidi yang paling banyak adalah masyarakat kecil. Pengalihan dana subsidi tersebut digunakan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Melalui BOS, peserta didik tingkat pendidikan dasar akan dibebaskan dari beban biaya pendidikan. Dengan adanya program BOS ini dimaksudkan agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar. (http://www.pikiran-rakyat.cop.id/cetak/2006/0220006/06/0704.htm).

(20)
(21)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Apakah teknik penyaluran program Bantuan Operasional Sekolah di SMP Kabupaten Klaten sudah sesuai dengan ketentuan ?

2. Apakah pemanfaatan dana Bantuan Operasional Sekolah di SMP Kabupaten Klaten sudah tepat sasaran ?

3. Apakah pertanggungjawaban keuangan dana Bantuan Operasional Sekolah di SMP Kabupaten Klaten sudah transparan?

C. Batasan Masalah

Supaya peneliti tidak terlalu luas, maka peneliti memberikan batasan, yaitu sekolah yang akan diteliti adalah SMP di Kabupaten Klaten dan hal- hal yang akan diteliti tentang teknik penyaluran, pemanfaatan dana, dan pertanggungjawaban keuangan dana BOS.

D. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan diambil dari penelitian ini, adalah sebagai berikut: 1. Untuk menganalisis kesesuaian teknik penyaluran dana BOS di SMP

Kabupaten Klaten dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

(22)

3. Untuk menganalisis transparansi pertanggungjawaban keuangan dana BOS di SMP Kabupaten Klaten.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagi Pemerintah

Penelitian ini diharapkan memberi gambaran kepada pemerintah daerah tentang Evaluasi Pelaksanaan Program BOS di SMP Klaten, mulai dari penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS sampai pertanggungjawaban dana BOS di setiap SMP.

2. Bagi Peneliti

Dengan penelitian ini diharapkan penulis mendapatkan tambaha n pengetahuan dan pengalaman serta membandingkan pengetahuan, yang diperoleh di bangku kuliah dengan keadaan nyata

3. Bagi Sekolah

Dari penelitian ini dapat diketahui secara objektif dan nyata pelaksanaan program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMP Kabupaten Klaten, sehingga dapat ditindaklanjuti apabila dalam pelaksanaannya terjadi penyimpangan dana BOS.

4. Bagi Universitas Sana ta Dharma

(23)

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kebijakan Umum Pendidikan Nasional

Pendidikan Nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayan nasional Indonesia dan tanggap terhadap perubahan zaman. Dengan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Demi tercapainya tujuan Pendidikan Nasional itu, maka pemerintah mengeluarkan berbagai macam kebijakan umum tentang Pendidikan Nasional, antara lain kebijakan tentang Wajib Belajar, kebijakan tentang Standar Nasional Pendidikan, kebijakan tentang Kurikulum, kebijakan tentang Pendidik dan Tenaga Pendidikan, kebijakan tentang Pendanaan Pendidikan.

Standar Nasional Pendidikan

(24)

berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermut u.

Standar Nasional Pendidikan terdiri atas Standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga pendidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. Untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan dilakukan evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi. Untuk itu Standar Nasional Pendidikan disempurnakan secara terencana, terarah, dan berkelanjutan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global.

Standar Pembiayaan dan Praksis Pembiayaan Pendidikan di Indonesia

Standar Pembiayaan ini merupakan salah satu dari Standar Nasional Pendidikan yang termuat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005, dimana pembiayaan pendidikan ini terdiri atas biaya investasi, biaya operasi, biaya personalia.

a. Biaya investasi satuan pendidikan ini meliputi biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.

b. Biaya operasi satuan pendidikan meliputi:

1) Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji.

(25)

3) Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya listrik, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.

Standar biaya operasi pendidikan ditetapkan dengan Peraturan Menteri berdasarkan usulan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). c. Biaya operasional meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan

oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.

Secara garis besar pendanaan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah negeri maupun swasta meliputi biaya institusional dan sumbangan baik dari masyarakat maupun orang tua. Biaya institusional sendiri meliputi biaya investasi yang berupa biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap, serta biaya operasional yang terdiri atas biaya personalia (gaji guru dan tenaga kependidikan lain) dan biaya nonpersonalia (buku pelajaran dan bahan atau peralatan habis pakai serta biaya operasi pendidikan tak langsung seperti listrik, air, telepon, pemeliharaan sarana prasarana dan sebagainya). Untuk sekolah negeri, seharusnya biaya institusional ini did anai oleh negara dengan dana publik, sementara untuk sekolah swasta ditanggung sebagian oleh negara (Supratiknya, 2006: 165-166).

(26)

yang berwujud pendanaan pendidikan, seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang No.20 Th 2003 bahwa setiap warga negara yang berusia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pengalihan dana subsidi tersebut digunakan untuk BOS. Melalui BOS peserta didik tingkat dasar akan dibebaskan dari beban biaya pendidikan. Kebijakan itu dimaksudkan untuk menjamin siswa miskin tetap bersekolah dengan membebaskan mereka dari seluruh iuran sekolah dan penyediaan bantuan transportasi, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar pendidikan dasar (Kompas, 18 Juni 2005).

Untuk itu, anggaran pendidikan difokuskan pada program wajib belajar 9 tahun, peningkatan mutu dan profesionalisme guru, serta pengembangan ilmu dan keahlian. Garis besar program tersebut relevan dengan sasaran dari rencana strategi pendidikan nasional, yaitu perluasan akses, peningkatan mutu, dan tata pengelolaan yang baik (Kompas, 26 September 2006).

(27)

yang berwujud program BOS masih belum dilakukan sepenuhnya baik dari pemerintah maupun sekolahan sendiri. Sebenarnya pola dasar kebijakan pendanaan pendidikan yang berlaku saat ini perlu diubah menjadi sebagai berikut: (1) berangsur-angsur dikembangkan kebijakan yang tidak membedakan sekolah negeri dan swasta; (2) bagi sekolah baik negeri maupun swasta yang dana masyarakatnya kecil; (3) perlu cari varian-varian yang dapat dipakai untuk mendinamisasikan pendanaan pendidikan yang mengarah ke satu pola: partisipasi masyarakat lebih didorong dan yang lemah dibantu. Di sisi lain subsidi berkelanjutan tidak diperhitungkan secara pukul rata, melainkan didasarkan atas berbagai macam pertimbangan misalnya jumlah siswa, status sosial-ekonomi, lokasi geografis, bidang yang dibina (yang langka subsidi), besar kecilnya partisipasi masyarakat, dan lain- lain; (4) subsidi parsial dipakai untuk menolong institusi yang lemah, misalnya dengan diberikan bantuan gedung, guru atau bantuan lain yang memberi efek ganda (Jalal, 2001: 75).

B. Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

1. Latar Belakang Program BOS dan Pengertiannya

(28)

Operasional Sekolah (BOS) bagi SD/MI/SDLB/SMP/MTs/SMPLB Negeri/Swasta. Melalui BOS, peserta didik tingkat pendidikan dasar akan dibebaskan dari beban biaya sekolah.

Sejak dikeluarkan Undang-Undang No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pend idikan Nasional telah mendapat perhatian yang cukup besar. Hal ini juga ditandai dengan dicanangkannya wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun (SD dan SMP) pada tahun 1994 oleh presiden RI sebagai gerakan nasional. Sektor pendidikan juga mendapatkan kucuran dana dari pemerintah sebagai akibat dari pengurangan BBM, yaitu dengan dikucurkannya program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPS-BBM), salah satunya adalah Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk tingkat SD sede rajat dan SMP sederajat.

Pengertiannya program BOS ini adalah program yang dibuat oleh pemerintah dalam pengalihan subsidi BBM yang bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan beban siswa yang lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar 9 tahun.

2. Sasaran Program, Besarnya Bantuan dan Waktu Pelaksanaan

Adanya sasaran program, besarnya bantuan dan waktu pelaksanaan dana Bantuan Operasional Sekolah ini sesuai dengan petunjuk pelaksanaan BOS 2006, antara lain:

(29)

yang bersedia menerima BOS harus menandatangani surat perjanjian bantuan dan bersedia mengikuti ketentuan yang berlaku.

b. Besar dana bantuan dihitung berdasarkan jumlah siswa dengan ketentuan:

1) SD/MI/SDLB/Salafiah Rp 235.000,-/siswa/tahun. 2) SMP/MTs/SMPLB/Salafiah Rp 324.500,-/siswa/tahun.

Mulai tahun 2007 siswa SD akan menerima masing- masing Rp 254.000,-/siswa/tahun dan siswa SMP akan menerima masing- masing Rp 354.000,-/siswa/tahun (Bussines News, 30 Januari 2007).

c. Untuk periode Januari-Juni 2006 alokasi BOS dibayarkan berdasarkan jumlah siswa pada tahun pelajaran 2005/2006, sedangkan untuk periode Juli- Desember 2006 dibayarkan berdasarkan jumlah siswa pada tahun pelajaran 2006/2007.

d. Untuk tahun 2006 BOS dibayarkan secara per dua bulan.

3. Ketentuan Sekolah Penerima BOS

a. Bagi sekolah yang telah menyelenggarakan pendidikan gratis untuk siswa miskin pada periode sebelumnya, maka sekolah tersebut membebaskan semua bentuk pungutan/sumbangan/iuran kepada seluruh peserta didik.

b. Bagi sekolah yang memungut pungutan/sumbangan/iuran pada periode sebelumnya, maka sekolah harus mengikuti ketentuan sebagai berikut: 1) Apabila di sekolah tersebut terdapat siswa miskin, maka sekolah

(30)

masih ada sisa dana BOS dapat digunakan untuk mensubsidi siswa lain.

2) Bagi sekolah yang tidak mempunyai siswa miskin, maka dana BOS dapat digunakan untuk mensubsidi seluruh siswa untuk megurangi iuran yang dibebankan kepada orang tua siswa minimum senilai dana BOS yang diterima.

3) Sekolah dilarang memanipulasi data jumlah siswa dengan maksud untuk dapat memperoleh bantuan yang lebih besar.

4) Sekolah dilarang memanipulasi data besar iuran kepada orang tua siswa.

5) Sekolah harus mengelola dana BOS secara transparan dan bertanggungjawab serta bersedia untuk diaudit oleh lembaga yang berwenang terhadap seluruh dana yang dikelola oleh sekolah, baik yang berasal dari dana BOS maupun dari sumber lain.

(31)

4. Teknik Penyaluran

a. Tahap Persiapan

1) Surat perjanjian bantuan dibuat rangkap 3, 1 untuk dikirm ke tim PKPS-BBM Propinsi, 1 untuk Sekolah dan 1 untuk tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota (yang bermaterai Rp6000,-).

2) Membuka rekening atas nama lembaga/sekolah (tidak atas nama pribadi) untuk penyaluran dana BOS di lembaga keuangan pemerintah serta mengirimkan nomor rekening dan fotokopi lembar pertama dari buku tabungan dari rekening yang dimaksud, dikirim ke tim PKPS-BBM/Kota setempat.

b. Penyaluran dan Pengambilan Dana BOS

1) Dana BOS langsung dikirim ke nomor rekening sekolah.

2) Jika terdapat perbedaan antara jumlah dana yang diterima oleh tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota, maka harus segera dilaporkan ke Kantor Pos/Bank yang bersangkutan serta ke tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota dan Propinsi untuk diselesaikan lebih lanjut.

3) Penga mbilan dana BOS dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan diketahui Komite Sekolah dan dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.

5. Pemanfaatan Dana BOS

(32)

a. Pembiayaan seluruh kegiatan dalam rangka penerimaan siswa baru (biaya pendaftaran dan daftar ulang, termasuk di dalamnya pengeluaran untuk penggandaan formulir, pengeluaran untuk alat tulis, uang lelah, transport, dan konsumsi panitia).

b. Pembelian buku teks pelajaran dan buku referensi untuk dikoleksi di perpustakaan.

c. Pembelian bahan-bahan habis pakai (buku tulis untuk guru, kapur tulis, pensil, bahan pratikum, buku induk siswa, buku inventaris, langganan koran, gula, kopi dan teh untuk kebutuhan sehari- hari di sekolahan). d. Pembiayaan kegiatan kesiswaan (program remedial, program pengayaan,

olahraga, kesenian, karya ilmiah remaja, pramuka, palang merah remaja, dll). Dapat digunakan untuk pembiayaan guru yang menyelenggarakan kegiatan ini (pembelian alat tulis, bahan dan penggandaan materi termasuk uang lelah serta uang transport).

e. Pembiayaan ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah, dan laporan hasil belajar siswa seperti pengeluaran untuk uang lelah, pengawas, penulis soal ujian, koreksi hasil ujian, panitia ujian, bahan dan penggandaan soal, uang lelah untuk guru/wali kelas dalam rangka pembuatan laporan evaluasi siswa.

(33)

g. Pembiayaan perawatan ringan sekolah (pengecatan, perbaikan atap bocor, perbaikan pintu dan jendela, pembetulan KM/WC, perbaikan mebeler).

h. Pembiayaan langganan daya dan jasa (listrik, air, telepon, yang ada di sekolahan).

i. Pembiayaan honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah yang tidak dibiayai pemerintah dan /atau pemerintah daerah. Tambahan insentif bagi kesejahteraan guru PNS ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah daerah.

j. Pemberian bantuan biaya transportasi bagi siswa miskin.

k. Pembiayaan pengelolaan BOS, surat- menyurat dan penyusunan laporan. l. Bila seluruh komponen di atas telah terpenuhi pendanaannya dari BOS

dan masih terdapat sisa dana, maka sisa dana BOS tersebut dapat digunakan untuk membeli alat peraga, media pembelajaran.

Dana BOS tidak diperbolehkan untuk:

a. Disimpan dalam jangka waktu lama dengan dibungakan. b. Dipinjamkan kepada pihak lain.

c. Membayar bonus, tranportasi atau pakaian yang tidak berkaitan dengan kepentingan murid.

d. Membangun gedung/ruangan baru.

(34)

g. Membiayai segala jenis kegiatan yang telah dibiayai dari sumber dana pemerintah pusat dan daerah.

6. Pertanggungjawaban Keuangan Dana BOS

Dalam hal pertanggungjawaban keuangan ini dilakukan mulai dari penerimaan sampai pengeluaran, antara lain:

a. Dana BOS yang diterima sekolah harus didaftarkan/ dicatat sebagai salah satu sumber penerimaan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS).

b. Pengeluaran dana harus berdasarkan RAPBS yang telah disepakati oleh Kepala/Dewan Guru, Komite Sekolah dan Ketua Yayasan bagi sekolah swasta.

c. Pengeluaran dana berdasarkan permintaan penanggungjawaban kegiatan diajukan kepada sekolah dengan melampirkan proposal kegiatan.

d. Penerimaan dan pengeluaran dana dicatat dalam buku kas. Pelaporan

Jenis laporan yang harus dibuat/didokumentasikan oleh sekolah: a. Nama- nama siswa penerima bantuan.

b. Lembar pencatatan pertanyaan/kritik/saran.

c. Rencana Anggaran Penerimaan dan Belanja Sekolah. d. Rincian penggunaan dana sejenis anggaran.

e. Buku Kas.

(35)

Laporan pertanggungjawaban harus memenuhi unsur-unsur: a. Singkat tetapi jelas, lengkap dan tertata rapi.

b. Membuktikan semua transaksi penerimaan dan pengeluaran sesuai dengan ketentuan dan menutup buku pada akhir bulan.

c. Laporan keuangan BOS harus dilampiri dengan: 1) Bukti kuitansi pembayaran.

2) Fotokopi bukti Surat Setoran Pajak (SSP)

d. Seluruh arsip data keuangan, baik yang berupa laporan- laporan keuangan maupun dokumen pendukungnya disimpan dan ditata dengan rapi dalam urutan nomor dan tanggal kejadiannya, serta disimpan di tempat yang aman dan mudah untuk ditemukan setiap saat.

Laporan pertanggungjawaban keuangan disampaikan kepada tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota dan kepada yang berkepentinagn setiap triwulan, semesteran dan tahunan dengan dilampiri bukti pengeluaran dan fotokopi bukti Surat Setoran Pajak (SSP).

C. Kerangka Teoritik

(36)

belajar pendidikan dasar 9 tahun, dimana semua warga nega ra Indonesia yang berusia 7-15 tahun wajib menuntaskan pendidikan dasarnya paling akhir di tingkat SMP. Dengan adanya kebijakan yang dimanatkan dalam Undang-Undang tersebut, pemerintah memberikan konsekuens i dengan wajib memberikan layanan pendidikan bagi seluruh peserta didik pada tingkat pendidikan dasar. Sehubungan dengan penuntasan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, dan dengan adanya pengalihan subsidi bahan bakar minyak pada tahun 2005, pemerintah mengalihkan subsidi tersebut untuk mensukseskan pendidikan dasar yang berwujud pendanaan pendidikan.

Pengalihan dana subsidi tersebut digunakan untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dengan adanya BOS, peserta didik tingkat pendidikan dasar akan dibebaskan dari beban biaya pendidikan. Kebijakan itu dimaksudkan untuk menjamin siswa miskin tetap bersekolah dengan membebaskan mereka memperoleh layanan wajib belajar pendidikan dasar yang lebih bermutu sampai tamat. Program BOS ini adalah program yang dibuat oleh pemerintah dari pengalihan subsidi BBM dengan bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan beban siswa yang lain, agar mereka memperoleh layanan pendidikan dasar yang bermutu sampai tamat dalam rangka penuntasan wajib belajar 9 tahun.

(37)
(38)

dari ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, maka diharapkan dapat membebaskan biaya pendidikan bagi siswa yang tidak mampu dan meringankan beban biaya untuk siswa lainnya.

D. Penelitian Terdahulu

Penelitian sebelumnya dilakukan oleh tim peneliti dari mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP Sanata Dharma Yogyakarta pada bulan Maret-Mei 2006. Tim tersebut meneliti tentang “Efektivitas Program Bantuan Operasional Sekolah” di SMP Kulon Progo. Hasil penelitian mendapatkan bahwa masih belum efektifnya program dana BOS di SMP Negeri Kabupaten Kulon Progo.

(39)

22

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian evaluatif. Penelitian evaluatif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengetahui apakah kegiatan yang dipersoalkan itu telah tepat sasaran. Dalam penelitian ini ingin mengetahui apakah suatu kebijakan yang berupa program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMP Kabupaten Klaten telah sesuaikan dengan petunjuk BOS, baik dilihat dari penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS, maupun pertanggungjawaban dana BOS yang telah diterapkan oleh kepala sekolah, guru dan siswa. Dalam penelitian evaluatif ini diharapkan dapat memberikan keterangan tentang seberapa jauh ketidaksesuaian yang terjadi dalam objek dan subjek penelitian, sehingga dapat digunakan sebagai landasan dalam mengarahkan keberhasilan objek dan subjek penelitian (Muhajir, 2003: 209).

(40)

B. Subjek dan Objek Penelitian

1. Subjek Penelitian

Subjek menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang atau tempat yang diamati untuk kepentingan penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek adalah kepala sekolah, guru dan siswa.

2. Objek Penelitian

Objek me nurut kamus besar bahasa Indonesia adalah orang atau perkara atau benda yang menjadi pokok pembicaraan. Dalam penelitian ini yang menjadi objek adalah penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjawaban dana BOS.

C. Lokasi Penelitian dan Alasan Pemilihan Lokasi

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah SMP di Kabupaten Klaten. Penelitian ini dilakukan di SMP Kabupaten Klaten, karena menurut Undang-Undang Pendidikan, SMP merupakan bagian dari pendidikan dasar yang pembia yaannya ditanggung oleh negara.

2. Alasan Pemilihan Lokasi

(41)

adanya pungutan bermacam- macam dari sekolah. Penelitian ini menarik peneliti untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya di lapangan.

D. Populasi Sampel, Sampel Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi Penelitian

Populasi merupakan sekumpulan subjek yang menjadi pusat perhatian, yang terkandung informasi yang ingin diketahui. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh SMP di Kabupaten Klaten yang menerima dana BOS.

2. Sampel Penelitian

(42)

3.Teknik Pengambilan Sampel

(43)

E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya

1. Variabel Penelitian

Variabel yang dimaksud adalah sebagai segala sesuatu yang dapat menjadi objek pengamatan/faktor- faktor yang berperanan dalam peristiwa atau gejala yang diteliti. Adapun variabel yang diteliti sebagai berikut:

a. Kesesuaian teknik penyaluran dana BOS. b. Ketepatan pemanfaatan dana BOS.

c. Transparansi pertanggungjawaban keuangan dana BOS. 2. Definisi dan Pengukuran Variabel

a. Kesesuaian Teknik Penyaluran Dana BOS

Dapat diartikan sebagai proses penyaluran dana BOS mulai dari tahap persiapan, penyaluran sampai pengambilan dana oleh sekolahan. Peneliti akan membandingkan kesesuaian proses penyaluran dana BOS tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada petunjuk pelaksanaan BOS, dengan teknik penyaluran dana BOS yang terjadi sesungguhnya. Dalam teknik penyaluran dana BOS yang dilakukan setiap sekolahan, bila teknik tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku, berarti teknik penyaluran dana BOS sudah sesuai.

b. Ketepatan Pemanfaatan Dana BOS

(44)

c. Transparansi Pertanggungjawaban Keuangan Dana BOS

Diartikan mulai dari penerimaan dan pengeluaran sampai pelaporannya yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Peneliti akan mengukur transparansi proses penerimaan, pengeluaran dan pelaporannya, yang diukur dari ada tidaknya penyampaian pertanggungjawaban keuanga n kepada pihak yang berkepentingan.

F. Data yang Dicari dan Teknik Pengumpulan Data

1. Data yang Dicari

Berdasarkan variabel-variabel di atas tadi, maka data yang akan dicari sebagai berikut:

a. Data Primer

Data primer yaitu data-data atau keterangan yang diperoleh dari hasil wawancara atau observasi langsung yang sudah terbimbing. Data-data itu, antara lain:

1) Teknik penyaluran dana BOS 2) Pemanfaatan dana BOS

3) Pertanggungjawaban dana BOS b. Data Sekunder

(45)

2. Teknik Pengumpulan Data a. Teknik Dokumentasi

Teknik Dokumentasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari data-data yang telah ada. Data yang termasuk dalam teknik ini adalah RAPBS, laporan keuangan dan jumlah SMP yang menerima dana BOS serta gambaran tentang SMP yang diteliti yang ditinjau dari segi geografis.

b. Wawancara Berpedoman

Wawancara Berpedoman yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara langsung dengan responden berdasarkan pedoman wawancara. Data yang termasuk dalam wawancara adalah teknik penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjawaban dana BOS. Pertanyaan wawancara ditujukan kepada Kepala Sekolah yang berkaitan dengan penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjawaban dana BOS. Wawancara ditujukan kepada 3 Guru setiap sekolahan yang berkaitan dengan pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjawaban dana BOS. Wawancara juga ditujukan kepada jumlah siswa yang sesuai dengan jumlah siswa setiap sekolahan tentang pemanfaatan dana BOS, yaitu 1 kelas diwakili 1 siswa.

(46)

Tabel III.1

Kisi-Kisi Wawancara Untuk Kepala Sekolah Tentang Penyaluran, Pemanfaatan dan Pertanggungjawaban Dana BOS

Variabel Penelitian Indikator Butir Wawancara Penyaluran Dana BOS

Pemanfaatan Dana BOS Pertanggungjawaban Dana BOS

§ Tahap persiapan

§ Tahap penyaluran dan pengambilan dana BOS

§ Pengalokasian dana BOS

§ Penerimaan dan Pengeluaran dana BOS

§ Pelaporan dana BOS

1, 2, 3, 4, 5, 6

Kisi-Kisi Wawancara Untuk Guru Tentang Pemanfaatan Dana BOS dan Pertanggungjawaban Dana BOS

Variabel Penelitian Indikator Butir Wawancara Pemanfaatan Dana BOS

Pertanggungjawaban Dana BOS

§ Pemanfaatan dan pengalokasian dana BOS

§ Penerimaan dan pengeluaran dana BOS

1, 2, 3

4

Tabel III.3

Kisi-Kisi Wawancara Untuk Siswa Tentang Pemanfaatan Dana BOS

Variabel Penelitian Indikator Butir Wawancara Pemanfaatan Dana BOS § Pembiayaan penerimaan siswa

baru

§ Pembelian buku teks

§ Pembelian bahan habis pakai

§ Pembiayaan kegiatan siswa

§ Pembiayaan ulangan dan ujian

§ Pembiayaan perawatan ringan sekolah

§ Biaya transportasi untuk siswa miskin

§ Penggunaan sisa dan BOS

(47)

G. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Teknik keabsahan data ditujukan agar penelitian kualitatif tidak bias dan untuk menemukan kriteria keilmiahan. Teknik uji keabsaha n data dalam penelitian ini disesuaikan dengan kriteria dan teknik pemeriksaan, yaitu ketekunan pengamatan dan menguji dengan triangulasi.

Ketekunan pengamatan dilakukan untuk memperoleh data yang lebih akurat, cermat dan terperinci. Dalam hal ini peneliti diharapkan mampu memahami secara lebih mendalam terhadap hal- hal yang berkaitan dengan penelitian, sehingga mampu diuraikan secara lebih rinci.

(48)

kebenaran data saja, akan tetapi berusaha melihat dan menganalisis hubungan antar berbagai data yang lebih mendalam dan rinci dengan tujuan mengurangi atau bahkan mencegah kesalahan dalam hal analasis data.

H. Teknik Analisis Data

Setelah data terkumpul dari lokasi penelitian, maka untuk selanjutnya dilakukan analisis data kualitatif dengan melalui alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman, 1992: 16).

1. Reduksi Data

Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi data dilakukan setelah wawancara kepada Kepala Sekolah, Guru dan Siswa yang berkaitan tentang data penyaluran dana BOS, pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjwaban dana BOS.

2. Penyajian Data

(49)

terpisah-pisah dari data yang telah terkumpul baik data primer maupun data sekunder.

3. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Data yang terkumpul lalu diambil kesimpulan yang terus- menerus selama penelitian berlangsung guna menjamin keabsahan dan objektivitas data sehingga kesimpulan akhir bisa dipertanggungjawabkan. Analisis data saling berkaitan antara reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan. Pengumpulan data dan ketiga kegiatan analisis merupakan proses siklus dan interaktif. Analisis data kualitatif merupakan upaya yang berlanjut berulang dan terus-menerus. Masalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan menjadi secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis data yang saling susul menyusul.

(50)

33

BAB IV

GAMBARAN UMUM SMP DI KABUPATEN KLATEN

A. Gambaran Umum Kabupaten Klaten

1. Letak dan Luas Wilayah

a. Letak Wilayah

Secara geografis Kabupaten Klaten terletak diantara 1100 30’ - 1100 45’ Bujur Timur dan 70 30’ - 70 45’ Lintang Selatan. Batas-batas wilayah Kabupaten Klaten adalah sebagai berikut:

1) Sebelah Timur : Berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo 2) Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kabupaten Gunung Kidul 3) Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kabupaten Sleman

4) Sebelah Utara : Berbatasan dengan Kabupaten Boyolali b. Luas Wilayah

(51)

Tabel IV.1

Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Klaten

NO Kecamatan Banyaknya Desa

Sumber: Pemerintah Kabupaten Klaten 2006

2. Topografi

(52)

a. Ketinggian

Ditinjau dari ketinggiannya, wilayah Kabupaten Klaten terdiri dari dataran dan pegunungan. Wilayahnya berada dalam ketinggian yang bervariasi, antara lain:

1) 9,72 % wilayahnya terletak di ketinggian 0 – 100 meter dari permukaan air laut.

2) 77,52 % wilayahnya terletak di ketinggian 100 – 500 meter dari permukaan air laut.

3) 12,76 % wilayahnya terletak di ketinggian 500 – 1000 meter dari permukaan air laut.

b. Iklim

Keadaan iklim di Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan musim hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun. Temperatur udara rata-rata 28-300 celcius, dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153 mm setiap tahunnya. Curah hujan tertinggi bulan Januari (350 mm) dan hujan terendah bulan Juli (8 mm).

3. Visi dan Misi Kabupaten Klaten

a. Visi Kabupaten Klaten

Visi Kabupaten Klaten yaitu terwujudnya Klaten yang Toto Titi Tentrem Kerto Raharjo.

b. Misi Kabupaten Klaten

(53)

1) Mengupayakan terpenuhnya kebutuhan dasar masyarakat (wareg, wasis, wisma dan wutuh).

2) Mengupayakan rasa aman lahir dan batin serta tercukupinya kebutuhan material dan spiritual serta meningkatkan keimanan, ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

3) Meningkatkan partisipasi masyarakat dan penghargaan serta aktualisasi diri dalam pembangunan.

4) Menumbuhkan kehidupan perekonomian yang dinamis dengan menumbuhkan kehidupan perekonomian rakyat yang berbasis sumber daya lokal, menjaga kelestarian hidup, serta mengurangi kemiskinan. 5) Penerapan pengarusutamaan gender dalam berbagai fungsi

pemerintah.

6) Mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak pelaku pembangunan.

7) Mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan didukung sumber daya yang memadai.

8) Mendorong otonomi desa menjadikan desa sebagai pusat pertumbuhan.

4. Kondisi Kabupaten Klaten

(54)

pengembangannya di masa yang akan datang. Adapun potensi yang dimiliki oleh kota Klaten dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu:

a. Sumber Daya Manusia

Manusia secara kualitas adalah modal utama pelaksanaan pembangunan terutama dilihat dari jumlah penduduk, usia produktifnya maupun, angkatan kerja. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel IV.2

Jumlah Penduduk Kabupaten Klaten Menurut Angkatan KerjaTahun 2006

(55)

Sumber: Pemerintah Kabupaten Klaten 2006

Dengan melihat data di atas maka dapat dinyatakan bahwa manusia sebagai modal utama dalam pembangunan tidak dapat diragukan lagi, karena jumlah penduduk yang besar dan berkualitas merupakan aset yang tidak ternilai. Apalagi bila dilihat dari perbandingan jumlah angkatan kerja perempuan hampir sebanding dengan jumlah angkatan kerja laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pembangunan sekarang ini tidak adanya perbedaan gender. Keadaan itu juga sesuai dengan salah satu misi yang telah dibuat oleh pemerintah Kabupaten Klaten, yaitu mewujudkan tata pemerintahan yang baik dengan didukung sumber daya yang memadai.

b. Sumber Daya Alam

Secara fungsional kedudukan Kota Klaten terletak antara dua pusat kota pertumbuhan yaitu Kota Surakarta dan kota Yogyakarta, sehingga Kota Klaten secara langsung terangkum dalam suatu sistem jaringan jalan antara Surakarta-Yogyakarta. Melihat kedudukan tersebut Kota Klaten sangat dipengaruhi oleh perkembangan perekonomian kota tersebut dan merupakan jalur lalu- lintas ekonomi, perdagangan dan pengaruh dua budaya. Selain itu Kota Klaten juga mempunyai beberapa potensi yang dapat diandalkan, yaitu:

(56)

2) Sebagai pemacu dan pendorong perkembangan wilayah bagi wilayah-wilayah sekitarnya.

B. Gambara n Umum SMP Di Kabupaten Klaten Yang Menerima BOS

SMP merupakan salah satu jenjang pendidikan sekolah dasar yang harus ditempuh oleh anak didik untuk mencapai cita-cita bangsa Indonesia, yang ingin menuntaskan wajib belajar 9 tahun. Untuk itu semua masyarakat diminta untuk berpartisipasi mewujudkan program dari pemerintah yaitu penuntasan wajib belajar 9 tahun. Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintahan Kabupaten Klaten sehubungan dengan penuntasan wajib belajar 9 tahun, dengan menyelenggarakan SMP-SMP baik Negeri maupun Swasta untuk dijadikan tempat belajar dalam penuntasan pendidikan dasar di Kabupaten Klaten. Adapun data jumlah SMP beserta Guru dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel IV.3

Banyaknya SMP, Guru, Kelas dan Murid Dirinci menurut Kecamatan dan Status

Semester II Tahun 2006

(57)

12 NGAWEN 1 18 719 2 7 223 46 33

Sumber: Pemerintah Kabupaten Klaten 2006

Dari hasil survey dan data yang diperoleh dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Klaten, dapat diketahui bahwa jumlah SMP penerima dana BOS di Kabupaten Klaten disesuaikan dengan jumlah SMP yang ada di Klaten adalah 134 SMP yang terdiri dari 65 SMP Negeri, 54 SMP Swasta, dan 25 MTs. Adapun data jumlah SMP di Kabupaten bisa dilihat pada lampiran.

(58)

Sesuai dengan teknik pengambilan sampel yang telah dilakukan dengan menggunakan teknik Random Sampling, maka dapat diperoleh data sejumlah 14 SMP di Kabupaten Klaten yang dijadikan sebagai sampel dalam penelitian tentang evaluasi pelaksanaan bantuan operasional sekolah ini. Adapun datanya dapat diamati pada tabel sebagai berikut:

Tabel IV.4

Nama SMP di Kabupaten Klaten Sebagai Sampel Penelitian

NO Nama SMP

1. SMP Negeri 1 Klaten 2. SMP Negeri 2 Klaten 3. SMP Negeri 3 Klaten 4. SMP Negeri 4 Klaten 5. SMP Negeri 6 Klaten 6. SMP Negeri 7 Klaten 7. SMP PGRI 1 Klaten

8. SMP Muhammadiyah 5 Ngupit 9. SMP Maria Assumpta

10. SMP Pangudi Luhur Bayat 11. SMP Negeri Jatinom 2 12. SMP Negeri 1 Karangnongko 13. SMP 1 Muhammadiyah 1 Klaten 14. MTs Negeri Klaten

Sumber: Depdiknas Klaten 2007

(59)

dengan hal- hal yang berkaitan dengan penelitian. Gambaran umum SMP itu dapat dilihat pada lampiran dan pada tabel di bawah ini:

Tabel IV. 5

Gambaran Umum SMP Yang Diteliti Dalam Menerima BOS

No. Nama Sekolah Jumlah Siswa 2006 / 2007

Jumlah BOS Yang Diterima 2006 / 2007 (Semester II) 1. SMP Pangudi Luhur Bayat 341 Siswa Rp 59. 334. 000 2. SMP Negeri 1 Klaten 745 Siswa Rp 131. 865. 000 3. SMP Negeri 2 Klaten 691 Siswa Rp 122. 307. 000 4. SMP Negeri 3 Klaten 729 Siswa Rp 129. 033. 000 5. SMP Negeri 4 Klaten 719 Siswa Rp 127. 263. 000 6. SMP Negeri 6 Klaten 938 Siswa Rp 151. 308. 000 7. SMP Negeri 7 Klaten 721 Siswa Rp 244. 923. 750 8. SMP PGRI 1 Klaten 77 Siswa Rp 24. 986. 500 9. SMP Muhammadiyah 1 Klaten 96 Siswa Rp 15. 576. 000 10. SMP Maria Assumpta - - 11. SMP Negeri Jatinom 2 713 Siswa Rp 126. 201. 000 12. SMP Negeri 1 Karang Nongko 712 Siswa Rp 126. 909. 000 13. SMP Muhammadiyah 5 Ngupit 949 Siswa Rp 167. 973. 000 14. MTs Negeri 1 Klaten 712 Siswa Rp 126. 909. 000 Sumber: SMP Klaten 2006 / 2007

(60)

43

BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini berisi hasil penelitian dan pembahasan hasil temuan lapangan yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara dan dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada kepala sekolah, guru dan siswa. Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah guna mengetahui tentang ketepatan pelaksanaan program BOS mulai dari penyaluran dana BOS, manfaat dana BOS sampai pertanggungjawaban dana BOS. Wawancara juga dilakukan pada guru tentang pemanfaatan dana BOS dan pertanggungjawaban dana BOS. Sedangkan wawancara pada siswa dilakukan untuk mengetahui ketepatan pemanfaatan dana BOS.

(61)

Assumpta Klaten, SMP PL Bayat, SMP Negeri 4 Klaten, SMP Negeri 6 Klaten, SMP Negeri 3 Klaten, SMP Muhammadiyah 5 Klaten, SMP Muhammadiyah 1 Klaten, SMP PGRI Klaten, MTs Negeri 1 dan SMP Negeri 7 Klaten yang dijadikan sampel dalam penelitian “Evaluasi Pelaksanaan Bantuan Operasional Sekolah“. Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Maret-Mei 2007, peneliti akan membahas beberapa rumusan masalah yang telah diajukan dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:

A. Kesesuaian Teknik Penyaluran Dana BOS di SMP Kabupaten Klaten

Dari hasil wawancara dengan Kepala Sekolah tentang teknik penyaluran dana BOS dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Bagan V.1

Hasil Dari Tahap Penyaluran Dana BOS Dikrim

Sekolah Pembuatan Surat Perjanjian Depdiknas

Membuka Nomer

Rekening Dana BOS

Kepala Sekolah Mengambil Ke Rekening Dan Bendahara Sewaktu- waktu Sekolah Sumber: Hasil Penelitian Evaluasi BOS, 2007

(62)

dana BOS di SMP Kabupaten Klaten belum sesuai dengan petunjuk pelaksanaan BOS. Hal tersebut bisa dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel V.1

Hasil Persentase % Kesesuaian Teknik Penyaluran Dana BOS

Teknik Penyaluran Dana BOS

Dalam Realitanya

1. Membuat surat perjanjian dibuat rangkap 3 (1 untuk dikirim ke tim PKSP-BBM Propinsi, 1 untuk sekolah, 1 untuk tim PKSP-BBM

2. Membuka rekening atas nama sekolah dan mengirimkan ke tim PKSP-BBM kota kepala sekolah saja .

(7,15 %)

3. Dana BOS langsung ke nomer rekening sekolah.

Dana BOS dikirim ke nomer rekening sekolah dengan tepat waktu 3 bulan sekali.

(42,86 %)

Dana BOS dikirim ke nomer rekening sekolah tidak tepat waktu. (57,14 %)

4. Pengambilannya dilakukan kepala sekolah dengan diketahui komite sekolah dan dapat dilakukan

sewaktu-Sumber: Hasil Penelitian Evaluasi BOS, 2007

(63)

dengan Juklak BOS. Hal ini bisa dilihat mulai dari tahap persiapan sekolah dalam penerimaan dana BOS, yang berisikan tentang pembuatan surat perjanjian bantuan dan pengiriman surat perjanjian serta pembukaan nomer rekening di Bank. Sebesar 85,71 % SMP sebelum menerima bantuan dana BOS dari pemerintah membuat surat perjanjian atau yang dikenal dengan istilah MOU hanya dikirim ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Klaten, sampai ada salah satu SMP yang menyatakan bahwa tidak ada perjanjian tetapi langsung mencairkan dana BOS tersebut. Hanya 14,29 % SMP yang membuat MOU kemudian dikirim ke Kabupaten dan Propinsi. Sedangkan dalam Juklak BOS telah disebutkan bahwa surat perjanjian dibuat rangkap 3, 1 harus dikirimkan ke TIM PKPS-BBM Propinsi, 1 untuk sekolah dan 1 untuk tim PKPS-BBM Kabupaten/Kota yang bermaterai Rp 6000,00.

Dalam pembukaan nomer rekening untuk penerimaan dana BOS, sebesar 92,85 % SMP membuka nomer rekening atas nama kepala sekolah dan bendahara, tetapi juga ada beberapa SMP yaitu 7,15 % yang membuka nomer rekening hanya atas nama kepala sekolah saja dan mengirimkannya ke Depdiknas Kabupaten Klaten. Sedangkan dalam Juklak dikatakan bahwa pembukaan nomer rekening atas nama lembaga sekolah dan dikirim ke tim PKPS-BBM kota setempat.

(64)

BOS. Lewat pengambilan data yang hanya dengan melalui wawancara, peneliti menemukan 42,86 % menyatakan bahwa dana BOS dikirim tepat waktu lewat rekening sekolah yaitu setiap 3 bulan sekali, tetapi 57,14 % ada yang menyatakan bahwa dana BOS dikirim ke no mer rekening sekolah tidak tepat waktu.

(65)

BOS dengan baik. Dengan begitu BOS untuk tahun-tahun berikutnya akan turun dengan lancar pula.

Selain itu tahap penyaluran dana BOS juga dapat dilihat dari saat pengambilan dana BOS. Peneliti menemukan 35,71 % menyatakan bahwa dalam pengambilan dana BOS diketahui oleh komite sekolah, tetapi ada juga 64,29 % yang menyatakan bahwa pengambilan dana BOS hanya diketahui oleh kepala sekolah dan bendahara saja. Dalam pengambilan dana BOS oleh setiap SMP memang boleh dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan sekolahannya oleh kepala sekolah dan bendahara, sedangkan komite sekolah dalam hal ini memang tidak berhak mengambil hanya mengetahui saja, tetapi kebanyakan sekolahan yang ditemui dalam pengambilan dana BOS, komite sekolah tidak dilibatkan dalam pengambilan dana BOS dan hal ini terbukti dari beberapa SMP di Klaten yang pada saat mengambil dana BOS tidak lewat komite sekolah atau tidak melibatkan komite sekolah, karena merasa terlalu lama dalam proses pengambilannya, jadi yang tau hanyalah bendahara dan kepala sekolah.

(66)

sendiri yang ma sih belum menjalankan kegiatan penyalurannya dengan sepenuhnya, seperti salah satunya kegiatan dalam penyaluran dana BOS yaitu saat melakukan pengambilan dana BOS yang tidak harus diketahui oleh komite sekolah. Hal ini akan mencerminkan bahwa komite sekola h hanyalah dijadikan formalitas saja dalam penyaluran dana BOS tersebut. Sedangkan komite sekolah merupakan perwakilan dari orang tua siswa saat sekolah melakukan pengambilan dana BOS, sehingga bisa mengetahui berapa besar dana BOS yang diperoleh sekolahannya. Memang ada salah satu sekolahan yang memberikan tempat khusus untuk komite sekolah di sekolahannya, seperti kantor komite sekolah dan ini bisa dijumpai di SMP Negeri 2 Klaten, hal ini akan menjadikan komite terlibat langsung dalam kegiatan penyaluran dana BOS tersebut, karena setiap saat sekolahan bisa langsung bertemu dengan komite sekolah. Apabila setiap sekolahan SMP memberikan tempat atau dikenal dengan kantor komite sekolah, kemungkinan bisa menjadikan komite sekolah aktif terlibat dalam penyaluran dana BOS tersebut, jadi komite sekolah tidak hanya ada saat dibutuhkan saja karena dengan begitu akan dianggap sebagai formalitas saja.

B. Ketepatan Pemanfaatan Dana BOS

(67)

Bagan V.2

Sumber: Hasil Penelitian Evaluasi BOS, 2007

(68)

untuk kepentingan kegiatan sekolahan, hal ini bisa dilihat dari adanya RAPBS yang telah didapat oleh peneliti dari setiap sekolahan meskipun tidak mendapatkan RAPBS semuanya, dimana dalam RAPBS dana yang telah diterima oleh sekolahan termasuk dana BOS sudah dialokasikan untuk pembelanjaan yang telah dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu belanja pegawai, belanja barang, belanja pemeliharaan dan belanja lain- lain.

(69)

Tabel V.2

Hasil Persentase % Ketepatan Pemanfaatan Dana BOS

Pemanfaatan Dana BOS

Dalam Realitanya NO.

Dalam Juklak BOS

Sesuai Dengan Juklak (%) Belum Sesuai Dengan Juklak (%)

1. Penggunaan dana BOS untuk pendaftaran dan

Adanya koleksi buku baru dan siswa tidak dikenakan iuran pembelian buku perpustakaan. 3. Penggunaan dana BOS

untuk pembelian bahan-bahan habis pakai (bahan pratikum).

Siswa tidak dikenakan iuran untuk beli bahan pratikum. (27,14 % )

Siswa dikenakan iuran untuk pratikum dan ada yang disuruh bawa bahan pratikum dari rumah.

(72,86 % ) 4. Penggunaan dana BOS

untuk pembiayaan kegiatan kesiswaan.

Kegiatan siswa dibiayai oleh sekolahan. (31,43 %)

Siswa masih dikenakan iuran kegiatan seperti pramuka, olah raga. (68,57 %)

5. Penggunaan dana BOS untuk ulangan maupun ujian.

Ulangan maupun ujian sudah dibiayai oleh sekolahan. (71,43 % )

Siswa masih ada yang ditarik biaya untuk ulangan maupun ujian. (28,57 % )

6. Penggunaan dana BOS untuk pembiayaan perawatan ringan sekolah.

Sekolah sudah menggunakan dana BOS untuk perawatan ringan sekolah. (37,15 %) 7. Penggunaan dana BOS

untuk bantuan transportasi siswa miskin.

Ada bantuan transportasi untuk siswa miskin tapi hanya beberapa bulan saja. (17,14 %)

Tidak ada bantuan transportasi untuk siswa miskin. (82,86%) 8. Penggunaan dana BOS

untuk perlengkapan sarana-prasarana pembelajaran.

Dana BOS kebanyakan sudah digunakan untuk pembelian komputer baru. (85,71 %)

Ada yang membeli perlengkapan diluar sarana pembelajaran, seperti TV dan dispenser di ruang TU, Laptop untuk guru dan AC.

(70)

Dari tabel tersebut bisa dilihat bahwa 52,32 % sekolahan belum memanfaatkan dana BOS sesuai dengan Juklak BOS, tetapi 47,68 % ada yang sudah memanfaatkan dana BOS sesuai dengan Juklak BOS. Data yang didapat dari hasil wawancara pada siswa akan diuraikan satu persatu untuk dapat diketahui dengan jelas tentang realitanya penggunaan dana BOS di SMP-SMP. Adapun hasil data mengenai pemanfaatan dana BOS yang belum sesuai telah didapat oleh peneliti, antara lain:

1. Penggunaan Dana BOS Untuk Pendaftaran dan Daftar Ulang

(71)

sekolahan dan jumlahnya juga bervariasi mulai dari Rp 5.000, Rp 10.000, Rp 15.000, Rp 45.000, bahkan sampai ada yang ratusan ribu rupiah sama halnya dengan biaya pendaftaran siswa baru.

Dalam hal ini yang menjadikan bervariasinya jumlah biaya pendaftaran itu bisa dinilai dari keadaan orang tua siswa, tetapi bila dibandingkan dengan siswa kelas tiga SMP yang sebelum adanya program BOS, penarikannya sama malahan ada yang lebih dari jumlah biaya pendaftaran untuk siswa kelas tiga SMP. Ini menandakan bahwa sekolahan masih kurang dalam pembiayaan untuk kegiatan baik pendaftaran maupun daftar ulang, sehingga sekolahan masih tetap menarik biaya pendaftaran dari orang tua siswa. Padahal dalam kegiatan pendaftaran maupun daftar ulang siswa baru, sekolahan dapat bantuan dari pemerintah yang berupa dana BOS tersebut.

2. Penggunaan Dana BOS Untuk Pembelian Buku Perpustakaan

(72)

a. Iuran untuk menyewa buku

Iuran untuk menyewa buku yang ada di perpustakaan dengan sejumlah uang bervariasi sesuai dengan sekolahan masing- masing, meskipun sekolahannya dengan status negeri tapi tetap saja menarik iuran sebesar Rp 1000, Rp 2000, hal itu tentunya juga berbeda dengan swasta yang menarik lebih dari negeri, karena kondisi sekolahan swasta yang kebanyakan biaya operasi sekolahan tidak sepenuhnya ditanggung oleh negara, maka swasta tetap menarik biaya sebesar Rp 45.000.

b. Iuran untuk anggota baru

Apabila akan menjadi anggota baru di perpustakaan akan dikenakan iuran, salah satunya ada yang sebesar Rp 15.000 setiap siswa.

c. Iuran untuk peminjaman buku paket dari perpustakaan

Iuran untuk peminjaman buku paket dari perpustakaan dimaksudkan apabila yang membawa buku paket dikenakan iuran sebesar Rp 500 setiap buku paket, padahal siswa meminjam tidak hanya satu melainkan lebih dari satu buku paket dan itu tinggal dikalikan saja berapa yang harus dibayar oleh siswa. Hal itu bisa didapatkan dari sekolahan Negeri. Padahal buku paket termasuk sudah didanai oleh pemerintah khususnya bagi sekolahan negeri, tetapi sekolahan tetap saja menarik iuran pada siswa.

(73)

tersebut sudah diprioritaskan untuk setiap sekolahan dalam menghadapi Ujian Akhir Nasional, jadi tidak ada buku baru selain buku-buku paket tersebut. Lebih ironisnya lagi bahwa masih ada sekolahan yang sama sekali tidak dijumpai koleksi buku baru di perpustakaannya, hanyalah buku-buku yang masih lama dan hal ini nantinya akan menghambat siswa dalam kegiatan pembelajaranya, karena tidak ada buku yang nantinya bisa menunjang siswa dalam mendapatkan pengetahuan yang baru dari buku tersebut.

Kurangnya upaya pengkoleksian buku-buku baru di perpustakaan oleh setiap sekolahan ini bisa juga disebabkan dari pihak sekolahan sendiri, dimana sekolahan tidak bisa mengalokasikan dana BOS tersebut, dengan alasan bahwa dana yang diberikan kurang untuk pembelian buku-buku baru apalagi penambahan buku-buku di perpustakaan. Padahal kalau dilihat dari RAPBSnya, sekolah-sekolahan mendapatkan dana BOS buku sebesar Rp 22.000 / siswa / buku, meskipun tidak mengetahui tepatnya kegunaan dana BOS buku, apakah untuk membantu membeli buku baru di perpustkaan ataukah untuk membeli buku khusus siswa. Tetap masih saja yang ditemukan di perpustakaan hanyalah ketiga buku untuk menghadapi Ujian Akhir Nasional itu, tidak ada tambahan buku baru.

3. Penggunaan Dana BOS Untuk Pembelian Bahan-Bahan Habis pakai

(74)

tetapi pada kenyataanya telah ditemui bahwa ternyata 72,86 % siswa yang ingin pratikum di sekolahan kebanyakan disuruh membawa bahan-bahan pratikum sendiri dari rumahnya, bahkan ada yang harus ditarik iuran untuk pratikum. Keadaan itu dapat diketahui dari data hasil wawancara kepada siswa, antara lain:

a. Siswa disuruh untuk membawa bahan-bahan pratikum dari rumah sendiri-sendiri, seperti bahan pratikum untuk pelajaran PKK yaitu telur asin, telur lukis, bahan untuk pembuatan bingkai foto, selain itu juga ada yang disuruh untuk membawa bahan pratikum untuk pelajaran Biologi, Fisika seperti silet, pelengkap sandal, telur ayam, tepung, bawang merah.

b. Selain disuruh bawa bahan sendiri dari rumah, siswa masih juga ditarik iuran untuk pratikum di sekolahan, dan iurannya bervariasi tergantung dari guru masing- masing SMP yang menarik iuran tersebut. Setiap siswa ada yang Rp 5000 untuk praktek Fisika dan Biologi, ada yang Rp 5000 untuk pembuatan telur asin dan manisan di sekolahan, ada yang Rp 3000 untuk pratikum Fisika, ada yang Rp 5000 untuk praktek Elektro dan PKK, ada ya ng Rp 10.000 untuk pratikum PKK, ada juga yang membayar secara kelompok.

(75)

kondisi yang mampu tidak akan menjadi masalah, berbeda dengan kondisi orang tua siswa yang kurang mampu akan terbebani.

Padahal kepala sekolah sudah memberikan pernyataan bahwa yang diutamakan dalam pengalokasian dana BOS adalah kegiatan yang menyangkut kegiatan pembelajaran siswa di sekolahan, tetapi lain dari kenyataanya yang menunjukkan kalau sekolahan masih menarik iuran pada siswa. Ini menandakan bahwa sekolahan belum tepat dalam pengalokasian dana BOS untuk kegiatan siswa salah satunya kegiatan pratikum siswa. Hal ini bisa disebabkan dari pihak sekolahan pada waktu menyusun RAPBS yang tidak memberikan kesempatan pada guru untuk mengajukan proposal dalam membutuhkan dana untuk kegiatan siswa di sekolahan, sehingga guru langsung menarik iuran pada siswa, karena merasa tidak ada dana untuk kegiatan pratikum.

4. Penggunaan Dana BOS Untuk Pembiayaan Kegiatan Kesiswaan

(76)

sebesar Rp 10.000 untuk membeli bola voli dan raket, juga ada yang Rp 20.000 setiap bulannya.

Dengan adanya penarikan untuk kegiatan kesiswaan tersebut, menandakan bahwa penggunaan dana BOS masih belum direalisirkan dengan baik. Hal ini akan membuat tersendatnya proses kegiatan siswa di sekolahan, apabila siswa tidak bisa membayar iuran setiap ada kegiatan di sekolahan. Hal ini juga akan membebani ekonomi keluarga yang kurang mampu, apabila orang tua siswa tidak bisa membayar, bukannya membantu tetapi malah memberikan beban pada orang tua siswa.

5. Penggunaan Dana BOS Untuk Pembiayaan Ulangan Maupun Ujian

(77)

sekolah dikenakan mulai dari yang Rp 30.000, ada yang Rp 72.000, ada yang Rp 75.000, ada juga yang Rp 150.000, dan ada yang Rp 200.000. Akan tetapi yang lebih ironisnya lagi ada salah satu SMP Negeri yang menarik biaya untuk ulangan harian sebesar Rp 20.000.

Padahal kebanyakan SMP Negeri dalam pembiayaan ulangan harian jarang sekali menarik biaya dari siswanya, karena sudah sepenuhnya ditanggung oleh negara apalagi dengan adanya dana BOS, berarti sangat membantu salah satunya untuk digunakan biaya ulangan harian. Akan tetapi pelaksanaanya tidaklah demikian, sekolah negeri masih saja menarik biaya dari siswa yang nantinya juga ditanggung oleh orang tua siswa.

(78)

Apabila sekolahan sudah mendapatkan dana dari BOS untuk salah satunya perawatan ringan sekolah maupun untuk perbaikan gedung sekolah, juga sekolah mendapatkan sumbangan uang gedung dari orang tua siswa, semestinya uang itu juga digunakan sesuai dengan keperluannya. Akan tetapi masih ada sekolahan yang meskipun mendapatkan sumbangan yang banyak untuk perawatan sekolahannya, tetapi masih belum menampakan adanya perbaikan maupun perawatan ringan sekolahannya, ini ditemui saat peneliti mewawancarai siswa salah satu SMP. Dimana SMP itu menarik iuran uang pembangunan seperti yang tertera dalam salah satu lampiran RAPBS sebesar 240 siswa x Rp 220.000 = Rp 53020000, tetapi tidak ditemukan adanya perawatan ringan sekolah maupun perbaikan gedung sekolah.

Selain itu apabila telah dikatakan bahwa di dalam Juklak BOS bahwa dana BOS salah satunya untuk perawatan ringan sekolah. Akan tetapi yang dikatakan perawatan ringan sekolah bukan berarti pembangunan fisik seperti membangun gedung baru maupun membangun ruangan baru, seperti yang telah ditemukan adanya beberapa sekolahan yang malah membangun gedung dan ruangan baru seperti pembangunan gedung perpustakaan, kamar mandi dan WC baru, pembuatan pagar sekolah dengan tembok yang semula dari pagar, perbaikan mushola juga ada yang membangun mushola.

(79)

akan membutuhkan dana yang lebih besar bahkan bisa melebihi dana BOS yang diterima dari pemerintah untuk perbaikan maupun perawatan sekolahanya, dan hal ini pada akhirnya sekolahan meminta bantuan dana lagi dari orang tua siswa, sehingga akan menjadikan beban orang tua siswa. 7. Penggunaan Dana BOS Untuk Bantuan Transportasi Siswa Miskin

Dana BOS juga bisa digunakan untuk pemberian bantuan transportasi siswa miskin, tetapi selama dalam melakukan wawancara baik itu dengan kepala sekolah maupun siswa setiap sekolahan, peneliti tidak menemukan adanya pemberian bantuan transportasi siswa miskin. Banyak sekolahan yaitu 82,86 % yang ditemui bahwa tidak perlu memberikan bantuan tersebut, dikarenakan siswanya bertempat tinggal dekat dengan sekolahan, meskipun begitu ada juga yang memberikan bantuan transportasi untuk siswa miskin hanya 17,14 % saja yang pemberiannya hanyalah beberapa bulan.

Bahkan ada juga yang tidak sama sekali memberikan bantuan transportasi kepada siswa, tetapi bantuan tersebut diberikan pada guru yang sedang menghadiri upacara di luar sekolahan, selain itu juga ada transportasi untuk guru dalam melaksanakan rapat pembinaan di luar sekolahan. Bantuan transportasi untuk siswa miskin apabila benar-benar diberikan sesuai dengan Juklak BOS maupun dilihat dari keadaan siswa tersebut, hal ini akan membantu meringankan beban orang tua siswa.

(80)

Apabila terdapat sisa dana BOS, maka dana BOS tersebut bisa digunakan untuk alat peraga, media pembelajaran. Memang ada 85,71 % sekolahan yang menambahkan sarana pembelajaran seperti penambahan 8 komputer baru, penambahan program komputer seperti adanya internet, perlengkapan laboratorium seperti pipet, mikroskop baru. Akan tetapi masih ada 14,29 % sekolahan yang ditemui membeli peralatan seperti TV baru + CD dan itupun diletakkan ada yang di rua ng TU, di ruang Guru, di ruang perpustakaan bahkan ada salah satu sekolahan yang membelikan 5 Laptop baru untuk gurunya dan juga ada peralatan baru yang ditemukan tetapi tidak berkaitan dengan sarana pembelajaran baru seperti dispenser baru yang diletakkan di ruang TU.

Selain itu ironisnya lagi ada sekolahan yang peralatan atau sarana pembelajarannya masih lama seperti komputernya masih lama dan tidak ada penambahan komputer, tetapi ditemukan adanya TV baru di ruang TU dan ruang Guru. Keadaan seperti itu tidaklah sesuai dengan yang telah dicantumkan dalam Petunjuk Pelaksanaan BOS dari pemerintah, karena ada sekolahan yang membeli peralatan yang tidak mendukung proses pembelajaran dan hal ini akan memberikan penilaian sendiri dari orang tua siswa yang memperhatikan keadaan sekolahannya.

Gambar

Tabel III. 2
Tabel IV.1
Tabel IV.2
tabel di bawah ini:
+6

Referensi

Dokumen terkait

DANA BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH (BOS)..

(2) Hambatan dalam pengelolaan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yaitu besarnya dana BOS kurang mencukupi kebutuhan sekolah, terjadi keterlambatan dan kesulitan dalam

Kegiatan evaluasi dilaksanakan pada seluruh aspek tahapan pelaksanaan program Bantuan Operasional Sekolah yang diterapkan di SMP Negeri 2 Sukorejo Kendal, dari penetapan tujuan

Tesis ini berjudul "Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Sekolah (BOS) di SMP Negeri 2 Sukorejo Kendal”. Perumusan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah

Untuk mengetahui apakah Evaluasi Pelaksanaan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Pada Sekolah Menengah Atas di Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong sudah

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dalam Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) masih memiliki kesenjangan antara

Berdasarkan analisis data spasial, makalah ini dikonstruk dari model ekonometrika spasial tentang pendanaan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mengkaji lebih lanjut

Pemerintah Indonesia berupaya mewujudkan pendidikan 9 tahun dengan menyediakan Program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mengurangi biaya pendidikan