BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Teori adalah penjelasan mengenai gejala yang terdapat dalam dunia fisik tersebut, tetapi merupakan suatu abstraksi intelektual dengan menggabungkan pendekatan secara rasional dan pengalaman empiris, yang artinya teori merupakan penjelasan rasional yang berkesesuaian dengan obyek yang dijelaskannya dan juga merupakan satu kesatuan penjelasan atas suatu fenomena yang didukung fakta-fakta empiris untuk dapat dinyatakan benar. Kerangka teori adalah penyajian bagaimana cara-cara untuk mengorganisir dan menginterpretasikan hasil penelitian dan menghubungkannya dengan hasil-hasil terdahulu.10
Teori oleh banyak orang sering dianggap sebagai lawan dari praktik. Teori bukanlah lawan daripada praktik, sebab keduanya saling membutuhkan.11 Teori dapat juga digunakan untuk suatu gambaran masa depan. Setiap teori sebagai produk ilmu, tujuannya adalah untuk memecahkan masalah dan membentuk sistem. Demikian pula ilmu hukum sebagai teori tujuannya adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah hukum.12 Teori hukum hendak mengejar terus sampai kepada persoalan-persoalan yang bersifat hakiki dari hukum itu, seperti
10Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hal. 19.
11 A’an Efendi, Freddy Poernomo, IG. NG. Indra S. Ranuh, Teori Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hal. 86-87.
12 Sudikno Mertokusumo, Teori Hukum, Cahaya Atma Pustaka, Yogyakarta, 2012, hal. 5
dikatakan oleh Radbruch, tugas teori hukum adalah membuat jelas nilai-nilai serta postulat-postulat hukum sampai kepada landasan filosofisnya yang tertinggi.13
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, kerangka teori yang digunakan untuk menganalisis masalah dalam penelitian ini adalah teori keadilan dan teori kepastian hukum.
a. Teori Keadilan
Berlaku adil sangat berkaitan dengan hak dan kewajiban. Hak yang dimiliki oleh seseorang termasuk hak asasi yang diperlakukan secara adil. Hak dan kewajiban terkait pula dengan adanya amanah, sementara amanah wajib diberikan kepada yang berhak menerimanya. Oleh karena itu, hukum berdasarkan amanah harus ditetapkan secara adil tanpa dibarengi rasa kebencian dan sifat yang buruk lainnya.
Menurut penelitian M. Quraish Shihab, paling tidak ada empat makna keadilan :14
a. Pertama, ‘adl dalam arti sama. Pengertian ini ditemukan di dalam Qur’an Surah An-Nisa, Asy-Syura, Maidah, An-Nahl, dan Al-Hujurat. Menurut Al-Baidhawi, kata ‘adl bermakna “berada dipertengahan dan mempersamakan”. Pendapat seperti ini dikemukan pula oleh Rasyid Ridha, bahwa keadilan yang diperintahkan di sini dikenal oleh pakar bahasa Arab dan bukan berarti menetapkan hukum (memutuskan perkara) berdasarkan apa yang telah pasti di dalam
13 Lili Rasjidi dan Liza Sonia Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2016, hal. 36.
14 Zamakhsyari,Teori-Teori Hukum Islam Dalam Fiqih dan Ushul Fiqih, Cipta Pustaka Media Perintis, Bandung, 2015, hal. 36.
agama. Sejalan dengan pendapat ini, Sayyid Quthub menyatakan bahwa dasar persamaan itu adalah sifat kemanusiaan yang dimiliki oleh setiap manusia. Ini berimplikasi pada persamaan hak karena mereka sama-sama manusia. Dengan begitu keadilan adalah hak setiap manusia dan dengan sebab sifatnya sebagai manusia menjadi dasar keadilan dalam ajaran-ajaran ketuhanan.
b. Kedua, ‘Adl dalam arti seimbang. Ini ditemukan dalam Al-Quran Surah Al-Maidah dan Al-Infithar. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa keseimbangan ditemukan pada suatu kelompok yang di dalamnya terdapat beragam bagian yang menuju suatu tujuan tertentu. Selama syarat dan kadar terpenuhi oleh setiap bagian. Keadilan dalam pengertian keseimbangan ini menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui menciptakan secara mengelola segala sesuatu dengan ukuran, kadar dan waktu tertentu guna mencapai tujuan. Keyakinan ini menghantarkan kepada pengertian keadilan Illahi.
c. Ketiga ‘Adl dalam arti perhatian terhadap hak individu dan memberikan hak itu kepada setiap pemiliknya. Pengertian inilah yang didefinisikan dengan “menempatkan sesuatu pada tempatnya” atau memberikan pihak lain haknya melalui jalan terdekat”. Lawannya adalah kezaliman, yakni pelanggaran terhadap hak pihak lain. Pengertian ini disebutkan didalam QS. Al-An’am. Pengertian ‘Adl melahirkan keadilan sosial.
d. Keempat, ‘Adl dalam arti yang dinisbahkan kepada Allah, ‘Adl di sini berarti memelihara kewajaran atas berlanjutnya eksistensi, tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan perolehan rahmat saat terdapat banyak kemungkinan untuk itu. Keadilan Allah mengandung konsekuensi bahwa Rahmat Allah tidak tertahan diperoleh sejauh makhluk itu dapat meraihnya.
Makna keadilan berdasarkan iman. Dapat dilihat dari kaitannya dengan amanat kepada manusia kepada sesama. Dalam Islam, persyaratan adil sangat menentukan benar atau tidaknya serta sah atau batalnya sesuatu pelaksanaan hukum misalnya dalam beberapa hal. Seperti dapat dilihat dalam masalah kewarisan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hasanain Muhammad Makhluf yaitu seorang ahli Fiqih kontemporer Mesir, beliau mengatakan bahwa Islam mensyariatkan aturan hukum yang adil, karena menyangkut penetapan milik seseorang.15
Maka dari itu setiap orang patutlah berlaku adil dalam hal kewarisan.
Pengertian umum dari berlaku adil dalam masalah kewarisan juga termasuk larangan memakan harta orang lain dengan secara bathil, atau mengajukan kepada hakim untuk memakan sebagian harta orang lain (QS Al-Baqarah : 188).16
b. Teori Kepastian Hukum
Hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (recthszekerheid) dalam pergaulan manusia, yakni menjamin keadilan sementara hukum juga tetap ditegakkan dan menjaga agar tidak terjadi main hakim sendiri oleh masyarakat.
15 Fathur Rahman, Ilmu Waris, Al-Ma’arif, Bandung, 1994, hal.32
16 Zamakhsyari, Op Cit, hal. 107.
Berdasarkan teori kepastian hukum, maka tujuan utama hukum adalah untuk menciptakan keadilan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban dan perdamaian.17
Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas untuk menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menertibkan masyarakat.
Tanpa kepastian hukum tidak tahu apa yang harus diperbuat sehingga menimbulkan keresahan.18
Van Apeldoorn memberikan pengertian kepastian hukum sebagai berikut:19
1) Kepastian hukum berarti dapat ditentukan hukum apa yang berlaku untuk masalah-masalah yang konkret. Dengan ditentukannya peraturan hukum untuk masalah-masalah yang konkret, pihak-pihak yang berperkara sudah dapat mengetahui sejak awal ketentuan mana yang akan digunakan dalam perkara tersebut. Roscoe Pound mengatakan bahwa dengan adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predictability. Menurut Van Apeldoorn hakim juga dapat memberi putusan yang lain dari apa yang diduga oleh pencari hukum.
2) Kepastian hukum berarti perlindungan hukum. Dalam hal ini para pihak yang berperkara dapat dihindarkan dari kesewenangan penghakiman. Adanya kepastian hukum membatasi pihak-pihak yang berwenang, misal hakim dan pembuat undang-undang dari kesewenangan penghakiman.
Gustav Radburch memberikan pengetahuan mendasar mengenai kepastian hukum, bahwa hukum itu positif artinya hukum itu adalah peraturan perundang-undangan, kemudian hukum itu didasarkan kepada fakta, di mana fakta harus dirumuskan dengan cara yang jelas sehingga menghindari kekeliruan dalam
17 Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 22.
18 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 1999, hal. 136.
19 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, Kencana, Jakarta, 2010, hal. 59-60.
pemaknaan dan mudah dilaksanakan. Adapun hukum positif tidak mudah untuk diubah-ubah artinya tidak boleh dengan mudahnya diganti-ganti.20
Teori kepastian hukum menekankan pada penafsiran dan sanksi yang jelas agar suatu perjanjian dapat memberikan kedudukan yang sama dalam membuat perjanjian itu. Memperbaiki kepastian hukum, memang bukan satu-satunya dan juga tidak dapat berdiri sendiri, namun dengan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing yang diatur dalam hukum sangat dimungkinkan tidak terjadi sengketa,21 artinya bila kepastian hukum yang dijadikan sasaran, maka hukum formal adalah wujud yang dapat diambil sebagai tolak ukurnya, dengan demikian perlu mengkaji hukum formal sebagai basis dalam menganalisa suatu kebijakan yang dapat memberikan suatu kepastian hukum.
Kaitan antara teori kepastian hukum dengan penelitian tesis ini adalah penelitian ini untuk memperjuangkan hak waris yang ditinggalkan alm suaminya kepada ahli waris yang ditinggalnya maka dengan ini perlu menggunakan teori kepastian hukum ini agak ahli waris yang seharusnya mendapatkan hak warisnya dibayarkan oleh ahli waris lain.