V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Analisis Finansial Agroforestry di Lahan Pasca Tambang
Pada lahan yang telah dilakukan reklamasi di kawasan konsesi milik
PT.KPC dilokasi Porodesarood dan lokasi Taman Rusa Surya telah dilakukan
percobaan penanaman tanaman pohon yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Penelitian dan percobaan dilakukan oleh Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman yang bekerja sama dengan PT Kaltim Prima Coal (KPC). Penanaman dilakukan pada tanggal 2 Februari 2003 di Taman Rusa Surya dan
pada tanggal 3 Mei 2003 di lokasi Porodesarood. Jenis dan nama serta spesifikasi
teknis pelaksanaan penanaman di lapangan tertera pada Tabel 17 .
Tabel 17. Jenis Pohon, Ukuran; LubangTanaman, Jarak Tanaman dan Jumlah pohon
No Jenis Pohon Ukuran lubang penanaman (Cm) Jarak Tanam (m) Jumlah pohon per ha 1 Kelapa sawit 50x50x50 8x8 156 2 Kakao 30x30x30 3x3 1.111 3 Kopi 30x30x30 3x3 1.111 4 Durian 50x50x50 7x7 204 5 Durian lai 50x50x50 7x7 204 6 Sukun 50x50x50 12x12 69 7 Jambu mete 50x50x50 6x8 208 8 Melinjo 50x50x50 6x6 277 9 Kemiri 50x50x50 10x10 100 10 Aren 50x50x50 6x6 277
Perlakuan terhadap tanaman percobaan tersebut diatas, diantaranya pemberian kapur 125 gr di tiap lubang, pupuk NPK pada saat tanam dengan komponen (15-15-15 ) sebesar 533 g tiap lubang. Tanaman diamati tiap 1 bulan, 4 bulan dan 7 bulan. Setelah satu tahun tanaman yang berhasil hidup di lahan pasca tambang adalah Kelapa sawit, Aren, Kemiri, Sukun, Jambu mete
Seperti diuraikan pada bab terdahulu,bahwa untuk keperluan analisis
usaha di bidang agroforestri akan digunakan metode arus kas diskonto
(Discounted cash flow), Metode ini pada prinsipnya, mempertimbangkan faktor
waktu yang membuat nilai nominal uang berbeda setiap waktu atau nilai nominal uang akan disesuaikan dengan nilai pasar saat itu, karena mempertimbangkan
faktor tersebut maka dikenal dengan nama Time Value of Money. Dalam
perkembangannya, metode ini telah disempurnakan dengan memperhitungkan
nilai sekarang dalam kondisi bersih atau disebut dengan metode Net Present Value
(NPV).
Pertimbangan lain, agroforestri merupakan sistem pengelolaan lahan terdiri lebih dari satu jenis tanaman yang ditanam, dalam sistem tersebut terdapat perbedaan: umur tanaman, nilai investasi sewaktu menanam dan nilai nominal saat akan memungut hasilnya. Akibat dari itu terdapat selisih nilai nominal uang dari nilai investasi sewaktu menanam sampai dengan memungut hasil. Oleh karena itu dalam metode analisis tersebut selalu dihitung nilai diskonto dalam persen. Dengan demikian pemilihan metode NPV untuk digunakan analisis pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri sangat sesuai, karena terdapat kesamaan dalam perhitungan pengaruh waktu terhadap nilai uang, artinya nilai uang berbeda dalam waktu yang berbeda. Sama halnya saat pohon / tanaman mulai ditanam dengan investasi saat itu akan berbeda nilai nominal uangnya saat memetik hasilnya. Variabel yang dihitung dalam analisis usahatani adalah nilai modal yang dikeluarkan dan nilai perolehan hasil produksi tiap ha dari setiap jenis tanaman dengan memperhitungkan nilai diskonto tiap tahun, dan hitungan berdasarkan harga yang berlaku di pasar pada saat perhitungan dilakukan.
Terkait dengan usaha dilahan pasca tambang batubara, dipilih empat kelompok jenis tanaman campuran. Keempat kelompok tanaman seperti Tabel 18
dikelola secara intensif termasuk tanaman pagar yang diusahakan yaitu Nenas dan Pisang di setiap kelompok.
Tabel 18. Kelompok Tanaman Pohon dan Tanaman Palawija.
No Komposisi Tanaman / Jenis Tanaman
1 a.Tanaman Pohon , Mlinjo dan Jambu Mete b.Tanaman palawija, jagung dan kacang tanah 2 a.Tanaman Pohon , Karet
b.Tanaman palawija, padi gogo dan Jagung 3 a.Tanaman Pohon , Kelapa Sawit dan Sukun
b.Tanaman palawija, Jagung, dan Ubi Rambat
4 a. Tanaman pohon Kelapa Sawit
b Taman palawija Jagung dan ubi Rambat
Terdapat 4 (empat ) alasan, dalam memilih empat macam kelompok pilihan tersebut, antara lain :
1). Hasil percobaan penanaman 10 (sepuluh) jenis tanaman pohon seperti pada Tabel 16 oleh PT.KPC (Kaltim Prima Coal) dan Fakultas Pertanian UNMUL (Universitas Mulawarman) di lahan pasca tambang batubara open pit yang telah direklamasi. Jenis tanaman keras yang hidup adalah: Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis), Aren (Arenga pinata), Kemiri (Aleurites moluccan), Sukun
(Artocarpus communis), Jambu mete (Anacardium occidentale) dan Melinjo
(Gnetum gnemon.) sehingga kemungkinan jenis pohon tersebut jika ditanaman di
lahan pasca tambang yang telah direklamasi akan hidup.
2) Tanaman pohon (tanaman keras) yang diusulkan dalam masing- masing kelompok tersebut merupakan tanaman yang menghasilkan nilai ekonomi yang sangat tinggi. Sebagai contoh biji mlinjo sebagai bahan baku utuk membuat emping, saat ini dipasaran satu kilogram emping yang bahan bakunya dari biji mlinjo Rp 20.000 (dua puluh ribu rupiah) per satu kilogram. Proses pembuatan
emping dari biji mlinjo sangat mudah dan dapat dikerjakan sebagai home industri
oleh anggota keluarga. Umur pohon mlinjo dari mulai ditanam sampai dengan berbuah tiga tahun (Trubus, 2003). Pohon jambu mete sejak sepuluh tahun terahir terkenal karena menjadi makanan pendamping pada acara-acara istimewa, saat ini hanya dua propinsi penghasil jambu mete yang sangat populer, yaitu provinsi Sulawesi Tenggara dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Jambu mete termasuk komoditi pertanian yang telah masuk pasar dunia sejak Tahun 1980. Kebutuhan pasar dalam negeri masih sangat besar, sehingga komoditi ini sangat
marketable, dan secara ekonomi sangat menguntungkan. Biji jambu mete tidak memerlukan proses yang terlalu rumit dan dapat dikerjakan dengan mudah oleh anggota keluarga.
3). Pohon karet diusulkan karena pohon karet pada kawasan penelitian merupakan habitat dari sejak dahulu kala.
4). Tanaman semusim atau tanaman pangan yang sangat penting dalam mendukung ketahanan pangan menurut DITJEN BPTP (2005) antara lain padi, (bahan pokok mayoritas penduduk). Selain padi komoditi penting lainnya adalah jagung, kedelai, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, dan kacang hijau. Komoditi tersebut selain berfungsi sebagai bahan konsumsi juga berfungsi dalam mendukung industri pangan, dan jenis tanaman pangan seperti yang disebutkan diatas pada tahun 2003 memberikan kontribusi terhadap PDB pertanian secara nasional sebesar 40.80% atau setara dengan Rp 94.83 trilyun. PDB sektor pertanian Rp 232.44 trilyun. Tetapi kontribusi tanaman pangan tersebut dari Pulau Kalimantan pada urutan nomor lima, dan Kalimantan Timur menempati urutan nomor terahir kedua dari empat Provinsi di Pulau Kalimantan. Dengan memanfaatkan lahan-lahan pasca tambang dan strategi pengelolaan ini, diharapkan dapat merubah urutan dalam memberikan konstribusi dari sektor pertanian secara nasional.
Seperti diuraikan pada pemilihan metode analisis dengan menggunakan NPV yang mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Karena jenis tanaman yang akan ditanam mempunyai perbedaan waktu panen meskipun ditanam pada waktu yang sama. Nilai investasi sewaktu menanan sampai dengan memungut hasil terdapat beda waktu dan terdapat perbedaan nominal nilai uang. Pada Tabel 19 diperlihatkan hubungan masing-masing tanaman yang mempunyai jangka waktu panen yang berbeda, meskipun ditanam pada tahun yang bersamaan. Dasar perbedaan nilai nominal pada waktu penanaman dan nilai nominal pada waktu panen itu yang menjadikan metode perhitungan dengan NPV sangat cocok.
Tabel 19. Hubungan Waktu dan Jenis Tanaman serta Hasil Panen.
Tahun Tanaman Pertumbuhan dan
Pemeliharaan
Hasil Panen 1* Tanaman Pohon : Mlinjo, Jambu
mete, Karet, Kelapa sawit, Sukun .
Mlinjo, Jambu mete, Karet, Kelapa sawit, Sukun. 1** Tanaman palawija:
Jagung, Kacang tanah Padi Gogo , Ubi rambat
Padi gogo, Jagung, Kacang tanah
Padi Gogo, Jagung, Kacang Tanah,Ubi Rambat 1*** Tanaman pagar/ penyekat kontur:
Nenas dan Pisang
Nenas dan Pisang Nenas dan Pisang
2 Padi gogo, Jagung, Kacang
tanah Nenas dan Pisang
3-7 Mlinjo, Sukun, Karet,Kelapa
sawit, Jambu mete, Padi Gogo,Jagung, Kacang tanah, Ubi Rambat, Nenas dan Pisang
Catatan (1*) Tanaman pertama setelah pembersihan
Analisis finansial jenis tanaman menggunakan Net Present Value Method
(NPV) dengan langkah-langkah perhitungan diuraikan sebagai berikut (a)
Menentukan discount rate yang akan digunakan, dalam hal ini dapat dipakai sebagai acuan biaya modal (cost of capital) atau tingkat keuntungan (rate of
return) yang dikehendaki atau dapat juga biaya peluang yang diperkirakan bakal
terjadi (opportunity cost) (b) Menghitung present value (PV) dari net cashflows
dengan discount rate pada butir (a) yang telah ditetapkan. (c) Menghitung present
value (PV) dari investment. (d) Menghitung NPV dengan mengurangkan PV
investment pada PV Net Cash flows. Apabila NPV positif berarti rate of return
proyek lebih tinggi dari discount rate atau usaha tersebut akan dapat memberikan
hasil lebih dari 10% atau dengan kata lain proyek/ usaha dapat dilaksanakan jika NPV > 0. Hasil dari hitungan dengan formula NPV, IRR dan BCR dengan komputer tertera pada Tabel 20.
Tabel 20. Hasil analisis NPV, BCR dan IRR dari Keempat Kelompok jenis Tanaman
No Komposisi Tanaman / Jenis Tanaman BCR NPV IRR
1 a.Tanaman Pohon , Mlinjo dan Jambu Mete b.Tanaman palawija, jagung dan kacang tanah
1.56 5.781.796 21.57 % 2 a.Tanaman Pohon , Karet
b.Tanaman palawija, padi gogo dan Jagung
1.13 2.044.559 14.34% 3 a.Tanaman Pohon , Kelapa Sawit dan Sukun
b.Tanaman palawija, Jagung, dan Ubi Rambat
1.35 3.684.698 17.35% 4 a. Tanaman pohon Kelapa Sawit
b Taman palawija Jagung dan ubi Rambat
1.10 1.153.285 13.84 %
Dari Tabel 21 tersebut diatas, nampak bahwa keempat komposisi tanaman mempunyai nilai NPV positif atau lebih besar dari 1 (satu) yang berarti rate of return proyek lebih tinggi dari discount rate atau usaha tersebut akan dapat memberikan hasil lebih dari 10% atau dengan kata lain proyek/ usaha dapat dilaksanakan.
Terdapat kelebihan dan kelemahan dari masing-masing komoditi seperti pada Tabel 20. Bagi petani unsur operasional di lapangan dan aspek pemasaran yang menyangkut kecepatan dari produk tersebut untuk mendapatkan nilai rupiah serta kelompok tanaman yang mempunyai resiko lebih rendah adalah pilihan utama. Dari ke 4 (empat) kelompok jenis tanaman seperti pada Tabel 21 ,yang memenuhi syarat tersebut adalah jenis kelompok tanaman keras mlinjo dan jambu mete, sedangkan tanaman palawijanya jagung dan kacang tanah, tanaman pagar pisang dan nenas. Tanaman mlinjo dan jambu mete akan lebih mudah dipasarkan dibandingkan karet,kelapa sawit dan sukun, demikian juga sebaliknya karet, kelapa sawit dan sukun akan mempunyai nilai ekonomis tinggi apabila penanamannya di areal yang luas (lebih besar dari >100 ha). Padahal lahan pasca
tambang letaknya spot-spot (sedikit sekali dijumpai dengan hamparan yang luas).
Hasil panen dari karet, kelapa sawit memerlukan proses yang cukup rumit, begitu pula dengan tata niaga pemasaran yang cukup panjang, jika dibandingkan dengan jambu mete dan mlinjo. Komoditi sukun apabila dijadikan tepung juga memerlukan proses yang rumit.
Pada jenis tanaman kelompok no 1 (satu) adalah yang mempunyai NPV tertinggi sebesar 5.781.796 dibandingkan dengan kelompok tanaman lain. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa kemungkinanan, antara lain : nilai atau harga pasar dengan flutuasi harga yang stabil. Kerapatan antar jenis tanaman yang dapat diatur bersamaan tanaman tumpang sari dengan mudah. Jarak tanam antar jenis tanaman sangat mempengaruhi jumlah / kerapatan dari komoditi yang bersangkutan. Sebagai contoh hitungan pohon seperti pada ilustrasi Gambar 36.
Gambar 36. Penempatan Tiap Jenis Tanaman Berdasarkan Jarak Tanam Pada Pola tanam Jambu Mete, Mlinjo, Tanaman Sela Jagung, Kacang Tanah dan Tanaman pagar Pisang dan Nenas
Pada Gambar 36 jarak tanam antara pohon jambu mete 10 m x 10 m begitu juga hal yang sama dengan pohon mlinjo, sehingga dalam luasan satu hektar, terdapat jumlah yang sama, antara pohon jambu mete dan pohon mlinjo, masing-masing 30 pohon. Apabila jumlah pohon mlinjo atau pohon jambu mete ditambah maka konsekwensinya akan mengurangi komposisi / varian tanaman lainnya, misalnya menghilangkan tanaman penyekat, sehingga luasan yang tesedia dapat ditanami kedua jenis tanaman yang diinginkan untuk menambah jumlah pohon. Selain jumlah kerapatan tiap jenis tanaman, faktor lain yang sangat menentukan adalah harga yang sedang berlaku di pasaran, biasanya terkait dengan kebutuhan konsumen. Sebagai contoh kebutuhan konsumen pada emping yang terbuat dari biji mlinjo sangat besar karena digunakan pendamping berbagai makanan pada acara tertentu, begitu juga kebutuhan konsumen akan biji mete sangat besar dari konsumen. Dengan demikian kedua jenis makanan tersebut merupakan komoditas yang sangat menjajikan keuntungan di tingkat petani,
Jarak Tanam 10 3 5 5 3 10 3 4 5 3 10 3 5 5 3 10 3 10 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 10 Jm P s N M Ps N Jm Ps N M Ps Jm 100 1000 300 500 500 300 1000 300 400 500 300 1000 300 500 500 300 1000 300 1000 M eter Keteran g an : S im b ol Lu as L ah an (Ha) % K 0.300 30% M 0.200 20% Ps 0.120 12% J/Kt 0.290 29% N 0.090 9% 1.000 100% T anam an Pisang Jagung M T 1 dan K . T anah M T 2 T anam an Nenas
Jum lah
Pen gg un aan L aha n T anam an Jam bu M ete M linjo J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt J/Kt
G am bar P ola Tana m J. M ete & Mlinjo dan Tanam a n S ela Kacang Tanah, J agung, P isang dan Nenas
karena proses untuk menjadi makanan dari bahan bakunya tidak terlalu sulit, dan dapat dikerjakan oleh setiap anggota keluarga. Oleh karena itu kedua jenis produk tanaman itu mempunyai banyak keunggulan. Saat ini permintaan pasar yang makin tahun meningkat, karena kebutuhan konsumen dalam negeri jumlahnya bertambah, hampir semua lapisan masyarakat menyukainya, pasar luar negeri juga meningkat sehingga menjadi komoditi ekspor non migas yang sangat potensial. Hasil dari tanaman sela, Jagung dan Kacang Tanah terdapat nilai lebih karena fuktuasi harga kedua komoditi tersebut tidak terlalu tajam antara harga
terendah dan tertinggi dan dapat dikatakan mempunyai nilai harga yang stabil,dan
kedua hasil tanaman tersebut saat sekarang merupakan bahan baku industri makanan yang diekspor ke mancanegara. Oleh karena, itu jenis tanaman mlinjo dan jambu mete serta tanaman sela kacang tanah dan jagung serta tanaman pagar dipilih dalam model reklamasi ini.
Memang dua tanaman pohon (mlinjo dan jambu mete) dan dua tanaman palawija (jagung dan kacang tanah) dan tanaman pagar nenas dan pisang masih merupakan tanaman campuran dalam komposisi tanah luasan satu hektar. Apabila terdapat areal dengan luasan yang besar dan berbagai jenis tanaman dapat ditanam, seperti tanaman pagar diganti dengan tanaman kayu yang dapat dipanen dengan cepat maka penggunaan lahan seperti tersebut sangat menguntungkan.
Penelitian Cifor di Kecamatan Pesisir Tengah, Krui, Lampung dan didesa
Pahmungan Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat, menyebutkan penghasilan dari aktifitas kebun campuran antara pohon damar dan buah-buahan serta kayu merupakan penghasilan dari sistem pengelolaan lahan dengan agroforestri sederhana dapat meningkatkan pendapatan ekonomi khususnya keluarga dan masyarakat. Terdapat arus uang yang masuk ke Desa mencapai 70% dari hasil usaha agroforestry, dengan rincian : dari pendapatan hasil damar 34%, dan dari hasil buah-buahan di tambah dengan hasil dari kayu 24%, sisanya adalah
jasa perdagangan yang menguntungkan pedagang lokal ( Foresta et al., 2000).
Menurut Dupain (1994) dalam Foresta et al. (2000) pada Tahun 1993 nilai kotor penghasilan agroforestri dari tanaman campuran seluruh kawasan pesisir Krui mencapai Rp 14.5 milyar (US$ 7.25 juta) ditambah keuntungan
pedagang lokal sebesar Rp 542 juta ( Nilai kurs Dollar Amerika terhadap Rupiah saat itu US$ 1 lebih kurang sama dengan Rp 2000 ).
Sumber ICRAF Tahun .2000
Gambar 37. Sumber Pendapatan Rumah Tangga di Desa Pahmungan, Kecamatan Pesisir Tengah, Lampung Barat.
Laporan resmi yang dikeluarkan International Centre for Research in
Agroforestry (ICRAF 2000) mengemukakan bahwa sistem pengelolaan lahan
dengan model agroforestri yang intensip menjamin taraf hidup yang lebih baik bagi warga masyarakat. Ekonomi keluarga meningkat tiap tahun termasuk terdapat dana untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya kejenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti ke Universitas. Dengan demikian kebun campuran antara pohon yang sesuai dengan lingkungannya (dengan tingkat ekonomi tinggi) serta tanaman pangan semusim, akan menjadi aset keluarga yang sangat bernilai, karena merupakan komoditas yang sangat potensial secara ekonomi. Kondisi ini perlu diterapkan di daerah lain, dengan memilih komoditas yang sesuai.
5.3. Analisis Keberlanjutan Terhadap Lahan Pasca Tambang Batubara