Analisis finansial merupakan analisis yang dilakukan berdasar harga privat sedangkan analisis ekonomi merupakan analisis yang dilakukan menggunakan harga sosial yang didapatkan dari harga bayangan. Analisis tersebut terdiri dari penerimaan dan biaya untuk mengetahui besarnya keuntungan. Biaya pengusahaan kopi kering terdiri dari biaya produksi dan biaya tata niaga.
Alokasi biaya produksi terdapat dua macam yaitu biaya input asing dan
biaya input domestik. Biaya input asing (produksi tradeable) adalah biaya
perdagangan dunia. Biaya input asing merupakan biaya yang 100% berasal dari komponen asing sedangkan biaya input domestik merupakan biaya untuk membayar input bukan termasuk komoditas perdagangan dunia. Alokasi komponen domestik dan asing dapat diketahui dengan dua pendekatan yaitu pendekatan langsung dan pendekatan total. Pendekatan langsung dapat digunakan bila tambahan input asing dapat dipenuhi dari perdagangan antar negara atau penawaran di pasar internasional. Sedangkan pendekatan total digunakan bila produsen lokal dilindungi sehingga tambahan penawaran input asing dapat diperoleh dari penawaran di pasar internasional jika mengalami kekurangan. Saat ini kebijakan pemerintah terhadap output dan input tidak lagi menonjol seperti pada masa lalu sebagai persiapan menyambut era perdagangan bebas sehingga analisis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan langsung.
Tabel 9. Analisis Finansial dan Ekonomi Pengusahaan Kopi Kering PT Perkebunan Nusantara (IX) Kebun Getas/Assinan (Rp/ha luas lahan tanam kopi)
NO KETERANGAN NILAI
FINANSIAL
NILAI EKONOMI
A Output fisik (kg/ha) 2.038,51 2.038,51
Harga (Rp/kg) 17.468,11 15.194,15 Penerimaan 34.874.911,34 30.974.193,94 B Biaya Produksi 1 Pupuk urea 1.659.260,16 1.420.258,53 Pupuk kandang 2.493.189,72 2.493.189,72 2 Obat-obatan 268.694,86 232.046,57
3 Tenaga Kerja Terdidik 2.442.140,73 2.442.140,73
Tenaga Kerja Tak Terdidik 6.957.902,79 4.252.134,19
4 Bahan Bakar 333.815,58 349.252,30
5 Listrik dan air 1.467.446,92 1.467.446,92
6 Bi. pemeliharaan gedung 70.430,93 70.430,93
Biaya pemeliharaan mesin 240.628,45 240.628,45
Bi. pemeliharaan jalan, saluran
air&teras 40.688,60 40.688,60
7 Alat dan perkakas kecil 179.907,77 179.907,77
8 Biaya Umum 4.419.142,44 4.419.142,44 9 Assuransi 98.400,94 98.400,94 10 Pajak 94.223,71 - 11 Sewa lahan 2.000.000,00 2.000.000,00 12 Penyusutan Gedung 211.491,03 211.491,03 Penyusutan Mesin 377.676,71 377.676,71 Penyusutan Kendaraan 96.034,07 96.034,07 P. Jalan,jembatan,saluran 158.406,67 158.406,67 13 Biaya Amortisasi 625.233,29 625.233,29 14 Bunga Modal 877.491,73 657.939,70
C Biaya tata niaga
Pengepakan 358.218,67 358.218,67 ke pabrik 578.266,87 578.266,87 ke pelabuhan 8.973,51 8.973,51 pengangkutan ke gudang 197.973,69 197.973,69 Total Biaya 26.255.639,84 22.975.882,30 Keuntungan 8.619.271,49 7.998.311,64
PTPN IX Kebun Getas/Assinan dapat menerima harga kopi yang lebih tinggi dari harga sosialnya. Perusahaan menerima Rp 34.874.911,34/ha luas tanam kopi sedangkan nilai analisis sosialnya Rp 30.974.193,94/ ha luas tanam kopi. Setiap hektar luas tanam kopi menghasilkan 2.038,51 kg kopi kering dengan harga kopi rata-rata yang diterima PTPN IX Kebun Getas/Assinan sebesar Rp 17.468,11/kg sedangkan harga sebenarnya Rp 15.194,15/kg. Perbedaan harga tersebut dikarenakan kopi Kebun Getas/Assinan memiliki kualitas kopi yang tinggi untuk ekspor yaitu kualitas 1 dan 4 dengan ukuran L, M dan S yang harganya berbeda-beda. Kualitas 1 merupakan standar mutu paling tinggi yang dimiliki PTPN IX yang harganya cukup tinggi. Harga kopi paling tinggi adalah kopi RWP mutu 1 ukuran M yang harganya mencapai Rp 21.597/kg sedangkan harga paling rendah untuk ekspor adalah kopi RDP kualitas 4 dengan ukuran L dan S yaitu Rp 16.219/kg. Kopi yang tidak layak ekspor dijual di dalam negeri dengan harga rata-rata Rp 12.518,00/kg. Banyaknya produksi kopi dengan kualitas tinggi menyebabkan rata-rata harga jual kopi Kebun Getas/Assinan menjadi lebih tinggi dari harga sebenarnya.
PT Perkeunan Nusantara IX (Persero) Kebun Getas/Assinan sangat memperhatikan kualitas dan kuantitas kopi agar tetap memiliki nilai jual yang tinggi dan memenuhi standar ekspor. Kualitas ekspor kopi PTPN IX terdapat empat standar mutu yaitu mutu 1, 2, 3 dan 4. Mutu 5 dan 6 tidak memenuhi standar ekspor sehingga dikonsumsi di pasar dalam negeri. Standar mutu tersebut dilihat dari tingkat kecacatan yang dimiliki biji kopi gelondong. Mutu 1 memiliki tingkat kecacatan paling rendah sedangkan mutu 6 memiliki tingkat kecacatan paling tinggi sehingga mutu 5 dan 6 tidak layak untuk diekspor. Namun, kopi Kebun Getas/Assinan hanya menghasilkan mutu 1 (cacat antara 0%-11%), mutu 4 (cacat antara 11%-80%) dan mutu lokal (cacat >80%). Hal itu dimaksudkan agar lebih mudah dan mempercepat dalam sortasi karena banyaknya tenaga kerja tak terdidik yang digunakan terlalu sulit membedakan apabila dibagi menjadi enam mutu sehingga mutu 2 sudah termasuk dalam
mutu 1 sedangkan mutu 3 termasuk dalam mutu 4. Selain tingkat kecacatan, ukuran biji kopi yang layak ekspor ada tiga tingkatan yaitu dengan diameter 5,5 mm tergolong dalam ukuran S, diameter 6,5 mm tergolong dalam ukuran M dan diameter 7,5 mm tergolong ke dalam ukuran L. Pengepakan biji kopi yang telah disortir menurut ukuran dan standar mutunya dimasukkan ke dalam karung goni berisi 25 kg dengan tinggi maksimal tumpukan karung sebanyak 12 tumpukan. Hal itu dimaksudkan untuk menjaga kualitas kopi agar tidak rusak sehingga kualitas kopi tetap terjaga sampai ke negara tujuan.
Disamping kenampakan fisiknya, keunggulan yang dimiliki kopi Robusta Kebun Getas/Assinan adalah rasanya yang khas. Kopi robusta lebih pahit disbanding arabika sehingga lebih diminati karena memiliki kadar kafein yang lebih tinggi. Biji kopi dengan kadar air 9% merupakan kadar air ideal untuk disimpan agar dapat menjaga kualitas biji kopi sehingga tidak rusak dan berubah rasa saat dikonsumsi meskipun telah disimpan cukup lama. Oleh karena itu, kopi Robusta produksi Kebun Getas/Assinan tetap diminati konsumen luar negeri maupun konsumen dalam negeri.
Biaya produksi kopi terdiri dari pupuk, obat-obatan, tenaga kerja, bahan bakar, listrik dan air, biaya pemeliharaan, alat dan perkakas kecil, biaya umum, asuransi, pajak, sewa lahan, penyusutan, biaya amortisasi dan biaya bunga modal. Biaya-biaya tersebut dialokasikan kembali pada komponen asing dan komponen domestik. Pupuk urea, obat-obatan, bahan bakar, biaya pemeliharaan mesin&peralatan, biaya penyusutan mesin&peralatan dan biaya penyusutan kendaraan dialokasikan pada komponen asing. Biaya yang dialokasikan pada komponen domestik terdiri dari biaya pupuk kandang, biaya tenaga kerja baik terdidik maupun tidak terdidik, biaya listrik&air, biaya pemeliharaan gedung, biaya pemeliharaan jalan, saluran air&teras, alat dan perkakas kecil, biaya umum, asuransi, pajak, sewa lahan, biaya penyusutan alat dan biaya bunga modal.
Biaya pupuk urea dengan analisis finansial Rp 1.659.260,16/ha luas
tanam kopi lebih tinggi dibanding nilai ekonominyanya yaitu
Rp 1.420.258,53/ha luas tanam kopi. Kebun Getas/Assinan membeli pupuk lebih mahal Rp 71,67/kg dari harga yang sebenarnya. Biaya pembelian obat- obatan sebesar Rp 268.694,86/ha luas tanam kopi berdasar analisis finansial yang lebih tinggi Rp 36.648,29/ha luas tanam kopi bila dibandingkan dengan perhitungan ekonomi yang mencapai Rp 232.046,57/ha luas tanam kopi. Hal itu disebabkan oleh ketiadaan subsidi input untuk pupuk urea dan obat-obatan dari pemerintah kepada perusahaan sehingga perusahaan membayar lebih tinggi dari harga yang seharusnya. Kelebihan pembayaran tersebut dapat digunakan pemerintah untuk memberikan subsidi bagi petani kecil. PTPN IX tidak pernah menerima subsidi pupuk maupun obat-obatan sebab sudah dianggap mampu membiayai produksinya dan masih tetap mendapatkan keuntungan yang dapat digunakan untuk menjalankan usahanya.
Pemerintah memberikan subsidi bahan bakar sebesar Rp 265,57/lt sehingga perusahaan hanya membayar biaya bahan bakar sebesar Rp 333.815,58/ha luas tanam kopi sedangkan nilai ekonominya Rp 349.252,30/ha luas tanam kopi. Biaya pemeliharaan mesin dan peralatan Rp 240.628,45/ha luas tanam kopi; biaya penyusutan mesin dan peralatan Rp 377.676,71/ha luas tanam kopi dan biaya penyusutan kendaraan sebesar Rp 96.034,07/ha luas tanam kopi. Pengeluaran biaya ketiga komponen biaya produksi tersebut tidak terdapat campur tangan pemerintah dalam hal subsidi ataupun pembebanan pajak impor.
PTPN IX Kebun Getas/Assinan membayar biaya pembelian pupuk kandang, biaya pemeliharaan gedung, biaya pemeliharaan saluran air, jembatan dan teras, biaya pembelian alat dan perkakas kecil, penyusutan gedung dan penyusutan jembatan dan saluran air sama dengan nilai ekonominya karena tidak terdapat campur tangan pemerintah sehingga sudah mendekati pasar persaingan sempurna. Analisis finansial tenaga kerja terdidik Rp
2.442.140,73/ha luas tanam kopi nilainya sama dengan analisis ekonominya karena sudah mendekati pasar persaingan sempurna sedangkan tenaga kerja tak terdidik analisis ekonominya harus disesuaikan dengan keadaan tenaga kerja daerah tersebut. Nilai finansial biaya tenaga kerja tak terdidik sebesar Rp 6.957.902,79/ha luas tanam kopi sedangkan nilai ekonominya sebesar Rp 4.252.134,19/ha luas tanam kopi sehingga selisihnya Rp 2.705.768,78/ha luas tanam kopi. Hal itu disebabkan karena adanya insentif bagi karyawan lepas Kebun Getas/Assinan yang bekerja lembur sehingga membayar upah tenaga kerjanya lebih tinggi dari harga sebenarnya. Selain itu, adanya tingkat
pengangguran sebesar 38,89% menyebabkan Kebun Getas/Assinan
mengeluarkan biaya tenaga kerja tak terdidik lebih tinggi.
Biaya umum merupakan biaya yang rutin dikeluarkan yang terdiri dari honorarium, juru tulis dan pembantu, pengangkutan, perijinan dan penginapan. Asuransi digunakan untuk mesin dan kendaraan. Pajak yang dikeluarkan perusahaan Rp 94.223,71/ha luas tanam kopi. Pada analisis ekonomi, pajak tidak dihitung sehingga tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk pajak pada analisis ekonomi. Biaya bunga modal berdasar analisis finansial sebesar Rp 877,491.73/ha luas tanam kopi. Biaya bunga modal yang dihitung dalam penelitian ini adalah biaya bunga modal sendiri yaitu lahan, bangunan dan peralatan. Biaya bunga modal yang dihitung berdasarkan analisis eknominya sebesar Rp 657.939,70/ha luas tanam kopi. Hal itu disebabkan perhitungan biaya bunga modal berdasar harga sosial mempertimbangkan tingkat inflasi yang terjadi pada tahun 2009 sebesar 2,78%.
Biaya amortisasi merupakan biaya pengembalian investasi selama umur ekonomis tanaman tahunan. Kopi dapat menghasilkan pada tahun ke lima setelah tanam. Seluruh biaya yang dikeluarkan selama lima tahun tersebut dimasukkan dalam biaya investasi. Dalam penelitian ini komponen biaya domestik sebesar 8,86% dan komponen asing 93,14%. PTPN IX mampu
kopi 40 tahun maka diperoleh biaya amortisasi dengan komponen domestik sebesar Rp 575.837,80/ha luas tanam kopi dan komponen asingnya Rp 42.414,83/ha luas tanam kopi.
Biaya produksi terbesar adalah biaya tenaga kerja tak terdidik sebab PTPN IX Kebun Getas/Assinan menggunakan tenaga kerja lepas dalam sebagian besar kegiatannya seperti penanaman, pemupukan, penyemprotan, pemanenan, penyortiran dan pengemasan. Sedangkan biaya terendah adalah biaya pemeliharaan jalan, saluran air&teras karena perawatannya dilakukan hanya apabila terjadi kerusakan dan kerusakan pun terjadi sangat jarang.
Biaya tata niaga terdiri dari biaya pengepakan Rp 358.218,67/ha luas tanam kopi, biaya pengangkutan ke pabrik Rp 578.266,87/ ha luas tanam kopi, biaya pengangkutan ke pelabuhan Rp 8.973,51/ ha luas tanam kopi dan biaya pengangkutan ke gudang Rp 197.973,69/ ha luas tanam kopi. Biaya tata niaga tertinggi adalah biaya pengangkutan ke pabrik sebab letak kebun ke pabrik cukup jauh dan biji kopi yang diangkut ke pabrik dalam keadaan basah dan dalam keadaan terpisah-pisah antara biji kopi yang baik dan yang cacat agar lebih mudah dalam pemrosesan ke pabrik sehingga kendaraan yang digunakan harus lebih banyak untuk mengangkut biji kopi yang sudah dipisahkan. Biaya terendah adalah biaya pengangkutan ke pelabuhan sebab jarak pelabuhan dengan gudang sangat dekat.
C. Policy Analysis Matrix (PAM)
Keunggulan komparatif dan keunggulan keunggulan kompetitif dapat
ditentukan dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM). Pendekatan
PAM merupakan sistem analisis dengan memasukkan berbagai kebijakan yang mempengaruhi penerimaan dan biaya produksi pertanian. Suatu matriks yang disusun dengan memasukkan komponen-komponen utamanya penerimaan, biaya dan keuntungan. PAM disusun untuk mempelajari masing-masing system produksi pertanian dengan mempergunakan data usahatani dan pemasaran.
Selanjutnya, dapat ditaksir dampak kebijakan komoditas dan ekonomi makro dengan cara membandingkan dengan tanpa adanya kebijakan dari pemerintah.
Matriks PAM Pengusahaan Kopi PTPN IX Kebun Getas/Assinan disusun berdasar data biaya produksi, biaya pengolahan, biaya tata niaga dan harga jual output dalam harga privat dan harga sosial. Harga privat merupakan harga input dan output yang didasarkan atas harga berlaku di pasar yang mencerminkan keadaan pasar yang dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Sedangkan harga sosial merupakan harga input dan output yang merujuk pada harga dimana dalam pasar tidak terdapat kebijakan pemerintah. Selisih analisis yang dihitung atas dasar harga privat dengan harga sosial dihitung sebaai divergensi.
Tabel 10. Matriks PAM Pengusahaan Kopi PTPN IX Kebun Getas/Assinan Tahun 2009 (Rp/ha luas tanam kopi)
Penerimaan Biaya Input Keuntungan
Asing Domestik
Privat 34.874.911,34 3.018.524,66 23.237.115,18 8.619.271,49
Sosial 30.974.193,94 2.758.311,46 20.217.570,84 7.998.311,64
Divergensi 3.900.717,40 260.213,20 3.019.544,34 620.959,86
Sumber: Analisis Data Sekunder
Biaya input asing yang dikeluarkan PTPN IX memperoleh penerimaan Rp 34.874.911,34 /ha luas tanam kopi yang berarti lebih tinggi Rp 3.900.717,40/ha luas tanam kopi dibanding analisis ekonomi berdasar harga sosialnya. Harga kopi tersebut mengikuti perkembangan harga kopi dunia yang tidak stabil sehingga PTPN IX Kebun Getas/Assinan harus dapat meningkatkan mutu kopi agar tetap dapat memiliki harga yang cukup tinggi di pasar internasional. Kebun Getas/Assinan dapat menjaga mutu kopi produksinya sehingga tetap memiliki nilai jual tinggi sehingga dapat memperoleh penerimaan yang lebih tinggi dari harga sebenarnya.
Setiap kegiatan usahatani membutuhkan biaya untuk melakukan operasionalnya. Biaya input dalam Matriks PAM dibagi menjadi biaya input asing dan biaya input domestik. Biaya input asing merupakan biaya yang
dikeluarkan untuk input-input yang menjadi komoditas perdagangan dunia. Sedangkan biaya input domestik adalah biaya yang dikeluarkan untuk input- input yang bukan komoditas perdagangan dunia. Pemecahan komponen biaya input menjadi biaya asing dan biaya domestik mendekatan pendekatan langsung (direct approach). Pendekatan langsung mengasumsikan bahwa seluruh biaya input asing baik diimpor maupun produksi domestik dinilai sebagai komponen biaya asing. Pendekatan ini digunakan apabila tambahan permintaan input asing dapat dipenuhi dari perdagangan internasional.
Biaya input asing berdasarkan harga privat yang dikeluarkan PTPN IX Kebun Getas/Assinan sebesar Rp 3.018.524,66 /ha luas tanam kopi sehingga divergensi terhadap biaya input asing berdasarkan harga sosialnya mencapai Rp 260.213,20/ha luas tanam kopi. Hal itu disebabkan karena biaya pembelian pupuk urea, obat-obatan dan bahan bakar berdasarkan harga privat lebih mahal dibanding biaya input tersebut berdasarkan harga sosialnya. Sedangkan biaya input domestik berdasarkan harga privat sebesar Rp 23.237.115,18/ha luas tanam kopi lebih mahal dibanding dengan biaya input domestik berdasar harga sosialnya Rp 20.217.570,84/ha luas tanam kopi. Oleh karena itu divergensinya mencapai Rp 3.019.544,34/ha luas tanam kopi. Hal itu disebabkan oleh perbedaan biaya untuk pajak yang tidak terdapat pada biaya domestik berdasarkan analisis ekonomi. Pajak merupakan ketetapan pemerintah sedangkan analisis ekonomi tidak memasukkan komponen kebijakan pemerintah dalam penetapan harga. Selain itu, biaya bunga modal yang dihitung berdasar harga privat lebih tinggi daripada biaya bunga modal yang dihitung berdasar harga sosialnya sebab perhitungan harga sosial dipengaruhi oleh inflasi sehingga lebih kecil.
Keuntungan merupakan selisih dari penerimaan dengan biaya input. Keuntungan yang dihitung berdasar harga privat sebesar Rp 8.619.271,49/ha luas tanam kopi lebih tinggi dibanding keuntungan yang dihitung berdasar harga sosialnya sebesar Rp 7.998.311,64/ha luas tanam kopi. Divergensi yang
merupakan selisih kentungan PTPN IX Kebun Getas/Assinan yang dihitung berdasar harga privat dengan keuntungan yang dihitung berdasar harga sosialnya sebesar Rp 620.959,86/ha luas tanam kopi. PTPN IX Kebun Getas/Assinan masih menerima keuntungan yang lebih tinggi meskipun membayar biaya input yang lebih mahal dibanding harga sosialnya.
Nilai Keuntungan Privat (Private Profitability) bertanda positif yaitu
8.619.271,49 artinya berdasarkan parameter keuntungan privat maka pengusahaan kopi PTPN IX Kebun Getas/Assinan layak diusahakan. Tingginya harga kopi dianalisis secara financial sebab PTP memiliki posisi tawar yang cukup tinggi karena kualitas kopi PTP yang memang layak ekspor sehingga terus mendapatkan permintaan dari Jepang dan Italia secara kontinyu sesuai dengan kebutuhan mereka. Kopi tersebut memiliki standar yang tinggi sehingga mampu dijual dengan harga yang lebih tinggi dari harga socialnya. Menurut Malik (2003) dalam Nutrisia (2004) perhitungan keuntungan privat menunjukkan persaingan sistem hasil yang dikaji pada tingkat tertentu, nilai hasil tertentu dan dimana berlaku seperangkat kebijakan tertentu. Semakin tinggi nilai keuntungan privat berarti sistem hasil semakin mampu bersaing.
Sedangkan nilai Keuntungan Sosial (Social Profitability)bertanda positif artinya
berdasarkan parameter keuntungan sosial maka pengusahaan kopi PTPN IX Kebun Getas/Assinan layak diusahakan tanpa ada campur tangan pemerintah dengan tingkat keuntungan Rp 7.998.311,64/ha luas tanam kopi.