BAB IV PERTIMBANGAN HUKUM TERHADAP PUTUSAN
C. Analisis Hukum Terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor:
Legitimaris
Dalam praktik, banyak terjadi pemberi hibah menghibahkan harta kekayaannya kepada penerima hibah melebihi bagian yang tersedia dari harta warisan atau ternyata hibah yang diterima oleh penerima hibah tersebut sebagiannya merupakan bagian mutlak (legitime portie) para ahli waris legitimaris, sehingga timbulah sengketa waris diantara para ahli waris. Salah satu contoh kasus pemberian hibah yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) ahli waris legitimaris adalah dalam sengketa ahli waris almarhum Asan.
Dalam perkara pembatalan hibah karena terlanggarnya legitime portie ahli waris sebagaimana dalam Putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 100/Pdt.G/2001/PN.Plg, yang kemudian di tingkat banding dengan Putusan Pengadilan Tinggi Palembang dengan Nomor 42/Pdt/2002/PT.Plg, dan di tingkat kasasi dengan Putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003. Putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003 yang putusannya antara lain menyatakan bahwa bahwa bagian mutlak (legitime portie) untuk Siti Fatimah dan Erna Mawar sebagai ahli waris legitimaris telah terlanggar, kemudian menyatakan batal karena hukum dan atau tidak mempunyai kekuatan hukum Akta Pembagian Saham dengan Inbreng Nomor 10 tanggal 7 Oktober 1998 dan Akta Pemasukan dalam Perseroan Terbatas Nomor 159 tanggal 21 Oktober 1998, keduanya dibuat dihadapan Notaris Justin Aritonang.
Akibat hukum atas putusan pembatalan hibah yang telah berkekuatan hukum tetap maka objek sengketa yaitu 49 (empat puluh sembilan) lembar saham PT.
Musiana yang telah dihibahkan oleh almarhum Asan kepada Yahya, Frediy, Fendy Wijaya, Herman, dan Johan akan dikurangi (inkorting) kepada ahli waris legitimaris yakni Siti Fatimah dan Erna Mawar sebesar 2/3 dari seluruh saham yang telah dihibahkan.
Pembagian waris berkenaan dengan adanya legitime portie yang dilanggar dari anak-anak sah dari pewaris, maka KUH Perdata melindungi hak mereka terhadap hibah yang telah melanggar hak mereka untuk mewaris, untuk mendapatkan legitime portie karena hubungan yang sedemikian dekat antara ahli waris legitimaris dengan pewaris sehingga hak ahli waris legitimaris perlu dilindungi oleh undang-undang dari perbuatan-perbuatan pewaris dalam membuat hibah, karena berdasarkan ketentuan dalam Pasal 913 KUH Perdata, bagian mutlak adalah suatu bagian dari harta peninggalan yang “harus” diberikan kepada anak-anak sah (garis lurus kebawah).130
Dengan adanya legitime portie tersebut oleh KUH Perdata, maka pewaris dibatasi kehendak terakhirnya terhadap harta peninggalan. Bagi ahli waris legitimaris undang-undang telah menjaminnya, bahwa ahli waris legitimaris akan menerima bagian minimum tertentu, yaitu bagian yang dijamin oleh undang-undang atau legitime portie.131 Legitime portie ini mengalahkan baik wasiat maupun hibah-hibah yang pernah dilakukan oleh pewaris yang mengakibatkan kurangnya bagian mutlak.
130Benyamin. Asri Thabrani ,Dasar-dasar Hukum Waris Barat (suatupembahasan Teori dan Praktek, (Bandung : Tarsito,1998) hal 112
131Komar Andhasasmitha., Op.Cit., hal 143
Penafsiran KUHPerdata dengan adanya legitime portie terhadap harta peninggalan yang ditinggalkan oleh pewaris, sebenarnya harta peninggalan terbagi dua bagian, yaitu : bagian tersedia dan bagian mutlak (legiime portie). Bagian tersedia adalah bagian yang dapat dikuasai oleh pewaris, dan dapat diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki. Sedangkan bagian mutlak (legitime portie) adalah bagian yang tidak dapat dikuasai oleh pewaris dan tidak dapat diberikan kepada ahli waris lain (pihak ketiga yang mewaris berdasarkan wasiat) selain ahli waris legitimaris, hal ini sudah secara tegas diatur di dalam undang-undang, yang mana legitime portie “harus” dimiliki oleh ahli waris legitimaris, dengan ketentuan apabila ahli waris legitimaris menuntut untuk mendapatkan haknya. Tetapi untuk memperoleh legitime portie itu tentunya harus sesuai dengan KUHPerdata dan hukum acara perdata di Indonesia.132
Sebagai anak-anak sah legitimaris, mereka diberikan hak oleh Undang-Undang terhadap hibah yang telah melanggar hak mereka untuk mewaris. Seperti kita ketahui apabila ketentuan-ketentuan dalam hibah yang melanggar legitime portie anak-anak sah, maka hibah itu menjadi batal demi hukum, karena walaupun ketentuan mengenai legitime portie bersifat hukum pemaksa akan tetapi bukan demi kepetingan umum, karena itu ahli waris legitimaris dapat membiarkan haknya dilanggar. Pelanggaran terhadap legitime portie, mengakibatkan hibah itu dapat dimintakan pembatalannya secara sederhana, dengan kata lain tidak dapat dijalankan.
Apabila ahli waris legitimaris menuntut haknya dalam hibah, dan tidak menerima
132Anisitus Amanat,Op.Cit., hal 68
pelanggaran yang terdapat dalam hibah, maka ketetapan-ketetapan dalam hibah yang melanggar legitime portienya adalah tidak dapat dijalankan.
Perlu dipahami disini bahwa hibah yang dimintakan pembatalan secara sederhana, yaitu hibah tersebut bukannya batal dan bukan kemudian ahli waris legitimaris berhak atas semua harta warisan dan pihak-pihak yang mewaris dalam hibah juga batal, pihak-pihak yang mewaris atas kehendak pewaris tetap berkedudukan sebagai ahli waris, yang batal hanyalah ketetapan-ketetapan terhadap bagian dalam hibah yang telah melanggar bagian mutlak. Setelah ketetapan-ketetapan dalam hibah dibatalkan, ahli waris legitimaris mendapatkan bagian mutlaknya dengan cara melakukan pengurangan/inkorting terhadap bagian yang diberikan kepada pihak-pihak yang mewaris dalam hibah.
Kedudukan ahli waris legitimaris khususnya pada anak kandung pewaris merupakan suatu bentuk perlindungan hukum yang diberikan oleh undang-undang atas tindakan pewaris seluruh atau sebagaian yang telah menghibahkan dan mewasiatkan kepada orang lain.
Putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 100/Pdt.G/2001/PN.Plg yang amarnya sebagaiberikut:
Dalam Eksepsi
- Menerima eksepsi dari Frediy, Fendy Wijaya, Herman, dan Johan.
Dalam Pokok Perkara
- Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima.
- Membebankan biaya perkara kepada para Penggugat yang dilanggar sebesar Rp. 209.000,- (dua ratus sembilan riburupiah).
Putusan Pengadilan Negeri Palembang Nomor 100/Pdt.G/2001/PN.Plg secara jelas tidak mengakui kedudukan dan hak Siti Fatimah dan Erna Mawar sebagai ahli waris legitimaris yang telah terlanggar legitime portie nya akibat hibah yang telah diberikan alm Asan kepada Yahya, Frediy, Fendy Wijaya, Herman, dan Johan
Dalam amar Putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003 telah menguatkan putusan Pengadilan Pengadilan Tinggi Palembang dengan Nomor 42/Pdt/2002/PT.Plg, yang pada intinya menghukum Yahya, Frediy, Fendy Wijaya, Herman, dan Johan mengembalikan kepada Siti Fatimah dan Erna Mawar uang dividen atas nama saham PT. Musiana, yang telah diterimanya pada tanggal 30 Mei 2001 yaitu :
No. Nama Jumlah Uang Dalam Nominal Saham Setelah Dikurangi PPh
Bagian Legitime Portie
Total
1 Yahya Rp.70.926.375,77- Rp.16.205.740,00 Rp.54.720.635,77,-2 Frediy Rp.70.926.375,77 Rp.16.205.740,00
Rp.54.720.635,77,-3 Fendy
Wijaya
Rp.35.463.187,88 Rp.16.205.740,00
Rp.19.257.447,88,-4 Herman Rp.35.463.187,88- Rp.16.205.740,00 Rp.19.257.447,88,-5 Johan Rp.35.463.187,88- Rp.16.205.740,00
Rp.19.257.447,88,-Berdasar putusan hakim yang membatalkan hibah berdasar Akta Hibah tersebut membawa akibat hukum bagi para pihak yang ada dalam akta tersebut, yaitu:
1. Akibat hukum terdiri dari akibat hukum pada akta yang batal demi hukum dan akibat hukum pada akta yang dibatalkan. Perkara 841K/Pdt/2003 merupakan akta hibah yang dibatalkan, sehingga akibatnya perbuatan hukum yang dilakukan tidak mempunyai akibat hukum sejak terjadinya pembatalan dan dimana pembatalan atau pengesahan perbuatan hukum tersebut tergantung pada pihak tertentu, yang menyebabkan perbuatan hukum tersebut dapat dibatalkan. Akta tersebut telah berlaku dan mengikat sejak ada putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap yang membatalkan akta tersebut.
2. Akibat hukum yang terjadi setelah dikeluarkannya putusan mengenai pembatalan akta hibah tersebut maka akta hibah itu sudah tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak dapat menjadi alat bukti yang sempurna bagi para pihak yang membuatnya. Hal ini berakibat sesuatu yang telah dihibahkan ke Tergugat (penerima hibah) yaitu akan kembali menjadi milik ahli waris legitimarisnya.
Putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003 sudah memenuhi rasa keadilan bagi ahli waris legitimaris yakni Siti Fatimah dan Erna Mawar karena telah mengakui keberadaan dan hak dari ahli waris legitimaris. Pengakuan keberadaan dan hak dari ahli waris legiimaris dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor:
841K/Pdt/2003 yakni dengan cara inkorting (pengurangan) terhadap hibah yang telah
diberikan oleh pewaris. Kemudian mengenai akta Pembagian Saham dengan inbreng Nomor 10 tanggal 7 Oktober 1998 dan akta Pemasukan Dalam Perseroan Terbatas Nomor 159 tanggal 21 Oktober 1998 batal karena hukum dan atau tidak mempunyai kekuatan hukum karena telah melanggar legitime portie.
Dengan adanya pembatalan hibah pada akta Pembagian Saham dengan inbreng Nomor 10 tanggal 7 Oktober 1998 dan akta Pemasukan Dalam Perseroan Terbatas Nomor 159 tanggal 21 Oktober 1998 berkenaan dengan adanya legitime portie (bagian mutlak) yang dilanggar dengan cara melakukan inkorting terhadap bagian hibah haruslah diterima dan dilaksanakan oleh penerima hibah. Pembatalan hibah yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) terjadi karena pada esensinya, Karena KUH Perdata sendiri menjamin dan mengakui keberadaan hak dari ahli legitimaris untuk menerima bagian mutlak (legitime portie).
Akibat hukum atas putusan pembatalan hibah yang telah berkekuatan hukum tetap maka objek sengketa yaitu 49 (empat puluh sembilan) lembar saham PT.
Musiana yang telah dihibahkan oleh almarhum Asan kepada Yahya, Frediy, Fendy Wijaya, Herman, dan Johan akan dikurangi (inkorting) kepada ahli waris legitimaris yakni Siti Fatimah dan Erna Mawar sebesar 2/3 dari seluruh saham yang telah dihibahkan. Dengan adanya pembatalan hibah, tidak mengakibatkan seluruh hibah dibatalkan namun hanya dikurangi (inkorting) hibah yang melanggar bagian mutlak (legitime portie). Sehingga Putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003 sudah memenuhi rasa keadilan bagi ahli waris legitimaris dan juga bagi penerima hibah
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
1. Akibat hukum bagi ahli waris legitimaris ketika hibah yang diberikan oleh pewaris kepada pihak ketiga melanggar bagian mutlak (legitime portie) adalah terdapat 2 (dua) jenis tindakan yang keduanya sangat bergantung pada tindakan ahli waris legitimaris.
Jika ahli waris legitimaris tidak mengajukan keberatan, maka tindakan hibah yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) dianggap tetap sah dan dijalankan. Lain halnya jika ahli waris legitimaris menuntut haknya, maka ketetapan dalam hibah yang melanggar bagian mutlak atau legitime portie tidak dapat dijalankan. Tuntuntan hak dari ahli waris legitimaris atas bagian mutlak (legitime portie) terlanggar ke pengadilan negeri merupakan syarat utama untuk menuntut haknya dalam pemenuhan bagian mutlak (legitime portie). Setelah dihitung bagian mutlak (legitime portie) yang terlanggar maka akan dilakukan pengurangan (inkorting) atau pengembalian dari harta yang telah dihibahkan. Kemudian, kedudukan akta hibah yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) dapat dibatalkan oleh ahli waris legitimaris dengan cara mengajukan permohonan pembatalan dapat ke pengadilan dengan alasan telah terjadinya pelanggaran bagian mutlak (legitime portie).
2. Pelaksanaan pembatalan hibah berkenaan dengan adanya bagian mutlak (legitime portie) yang dilanggar dengan cara para ahli waris legitimaris dengan mengajukan tuntutan ke pengadilan negeri agar terpenuhi legitime portie mereka melalui inkorting/pengurangan dari hibah, dengan cara perbandingan diantara ahli waris yang diberikan melalui hibahnya. Setelah didapat hasil perbandingannya maka dihitunglah legitime portie ahli
waris legitimaris dengan cara, bagian yang diberikan dalam akta hibah dikurangi hasil perbandingan dikalikan dengan keseluruhan kekurangan legitime portie. Adapun urutan untuk melakukan inkorting/pengurangan dalam akta hibah adalah, pertama dari ahli waris yang non legitimaris (garis kesamping, janda/duda, saudara-saudara), kedua dari wasiat (hibah wasiat dan erfstelling), dan ketiga di inkorting dari hibah-hibah yang diberikan oleh pewaris semasa ia hidup. Jika setelah di inkorting dari non legitimaris, bagian mutlak belum terpenuhi, maka dilanjutkan dengan inkorting terhadap ahli waris dalam wasiat, jika belum terpenuhi juga bagian mutlak, maka di inkorting dari hibah-hibah (Pasal 916a KUHPerdata).
3. Pertimbangan hukum terhadap putusan Mahkamah Agung Nomor: 841K/Pdt/2003 sudah memenuhi keadilan bagi ahli waris legitimaris yakni Siti Fatimah dan Erna Mawar karena telah mengakui keberadaan dan hak dari ahli waris legitimaris. Pengakuan keberadaan dan hak dari ahli waris legiimaris dalam Putusan Mahkamah Agung Nomor:
841K/Pdt/2003 yakni dengan cara inkorting (pengurangan) terhadap hibah yang telah diberikan oleh pewaris. Kemudian mengenai akta Pembagian Saham dengan inbreng Nomor 10 tanggal 7 Oktober 1998 dan akta Pemasukan Dalam Perseroan Terbatas Nomor 159 tanggal 21 Oktober 1998 dapat dibatalkan dan atau tidak mempunyai kekuatan hukum karena telah melanggar legitime portie.
B. Saran
1. Terkait dengan banyaknya tindakan pewaris yang melakukan pewarisan yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) dari ahli waris legitimaris. Maka sebaiknya, notaris dapat berperan dalam memberikan pemahaman hukum kepada klien yang membuat akta hibah agar dapat kiranya menjelaskan
kedudukan bagian mutlak (legitime portie) dan kedudukan ahli waris legitimaris guna mengurangi munculnya sengketa hukum dalam pewarisan.
2. Pelaksanaan pembatalan hibah berkenaan dengan adanya legitime portie (bagian mutlak) yang dilanggar dengan cara melakukan inkorting terhadap bagian hibah haruslah diterima dan dilaksanakan oleh penerima hibah. Walaupun misalnya objek hibah telah dialihkan/ dijual oleh penerima hibah kepada pihak ketiga, hibah yang melebihi legitime portie dapat diajukan gugatan pengurangan oleh ahli waris legitiemaris kepada pihak
ketiga. Karena pada esensinya, penerima hibah menerima bagian hibah yang telah diberikan oleh pewaris tidak serta merta dan mutlak menjadi milik penerima hibah karena harus melihat adanya bagian mutlak (legitime portie) yang terlanggar. Karena KUH Perdata sendiri menjamin dan mengakui keberadaan hak dari ahli legitimaris untuk menerima bagian mutlak (legitime portie) dengan cara melakukan inkorting (pengurangan) terhadap hibah yang diberikan oleh pewaris kepada penerima hibah ahli waris non legitimaris.
3. Dalam memutus sengketa pewarisan yang melanggar bagian mutlak (legitime portie) dari ahli waris legitimaris, sebaiknya hakim selalu konsisten menerapkan penggunaan pemotongan (inkorting). Hal ini karena pada putusan pengadilan tingkat pertama, majelis hakim tidak menerima gugatan dari penggugat sebagai anak sah pewaris yang telah terlanggar bagian mutlak (legitime portie). Oleh sebab itu diperlukan bagi majelis hakim dalam semua tingkatan agar konsistensi dalam menerapkan pemotongan (inkorting) atas bagian mutlak (legitime portie) yang terlanggar. Karena KUH Perdata menjamin dan melindungi kedudukan ahli waris legitimaris sebagai orang yang paling dekat dengan pewaris.
DAFTAR PUSTAKA
A. BUKU-BUKU
Abdurrahman, Muslan, Sosiologi dan Metode Penelitian Hukum, (Malang: UMM Press, 2009)
Amanat,Anisitus, Membagi Warisan Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata BW. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2001).
Ali, Achmad,Menguak Teori (Legal Theory) dan Teori
Peradilan(Judicialprudence) Termasuk Interprestasi Undang-Undang (Legisprudence), (Predana Media Group, 2009)
Ali, Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga Hukum Pembuktian, (Jakarta :Rineka Cipta,2000)
Ali, Zainudin, Pelaksanaan Hukum Waris Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008)
Andhasasmitha, Komar, Notaris III, Hukum, Harta Perkawinan dan Warismenurut KUH Perdata. (Jawa Barat: Ikatan Notaris Indonesia, 1987)
Anggraeni, Widya, Tanggung Gugat Pemberi Hibah Akibat Pembatalan Hibah, (Surabaya: Universitas Airlangga, 2006)
Apeldoorn, L.J. Van, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Pradnya Paramita1986) Asri, Benyamin dan Thabrani Asri, Dasar – Dasar Hukum Waris Barat (Suatu
Pembahasan Teoritis Dan Praktek). (Bandung: Penerbit Transito, 1988) Budiono, Herlien, Kumpulan Tulisan Hukum Perdata di Bidang Kenotariatan,
(Bandung: Citra Aditya Bakti,2012)
Fayzee, Asaf A.A., Pokok-Pokok Hukum Islam II, (Jakarta: Tintamas, 1961)
Huijbers, Theo, Filsafat Hukum Dalam Lintas Sejarah, (Yogyakarta: Kanisius, 1982)
HS, Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika, 2008)
112
Kie, Tan Thong, Studi Notariat dan Serba Serbi Praktek Notaris, Buku Kesatu, (Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 2000)
Malik,Rusdi, Penemu Agama Dalam Hukum di Indonesia, Jakarta: Universitas Trisakti
Marzuki, Peter Mahmud,Penelitian Hukum, , (Jakarta: Penerbit Kencana, 2005) Mertokusumo, Sudikno,Mengenal Hukum sebagai Suatu Pengantar,
(Yogyakarta: Liberty, 2005).
Mertokusumo, Sudikno,Bunga Rampai Ilmu Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 2010) Muchsin, Perlindungan Dan Kepastian Hukum Bagi Investor Di Indonesia,
Thesis, Magister Ilmu Hukum, Universitas Sebelas Maret, 2003), hal. 14 Moleong, Lexy,Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya
2004)
Nasution, Bahder Johan, Metode Penelitian Ilmu Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 2009)
Nurachmad, Much., Buku Pintar Memahami dan Membuat Surat Perjanjian, (Jakarta: Visimedia, 2010)
Oemarsalim. Dasar-dasar Hukum Waris di Indonesia.(Jakarta:PT Rineka Cipta, 2000).
Perangin, Effendi,Hukum Waris, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2014) Pitlo, A.. Hukum Waris .(Jakarta : Intermasa, 1979)
Pound, Roscoe,Tugas Hukum, terjemahan Moh. Radjab, Bharata, Jakarta:, 1965) Prawirohamodjojo, R. Soetojo, Hukum Waris Kodifikasi, Cetakan Ketiga, (Surabaya,
Airlangga University Press,2011)
Purnamasari, Irma Devita, Panduan Lengkap Hukum Praktis Populer: Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Mengatasi Masalah Hukum Pertanahan, (Bandung: Kaifa, 2010)
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, Cetakan Kelima, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000)
Ramulyo, Muh. Idris, Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Per data Bar at (BW). (Jakarta: Sinar Grafika, 1993)
Satrio, J.,Hukum Waris. (Bandung : Alumni,1992)
Sembiring, M.U, Beberapa Bab Penting Dalam Hukum Waris Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, (Medan: Program Pendidikan Notariat Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1989)
Setiono, Rule Of Law (Supremasi Hukum), Thesis, Magister Ilmu Hukum, Universitas Sebelas Maret, 2004)
Sjarif, Surani Ahlan, Intisari Hukum Waris Menurut Bergerlijk Wetboek, (Jakarta :Ghalia Indoneisa, 1982)
Soekanto, Soerjono, Pengantar Penelitian Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 1986)
Soerjopratiknjo, Hartono, Hukum Waris Testamenter, (Yogyakarta: Seksi Notariat Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1984)
Soimin, Soedharyo,Hukum Orang dan Keluarga (Perspektif Hukum Perdata Barat/ BW, Hukum Islam, dan Hukum Adat), Cet.2, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004)
Subekti, R,Aneka Perjanjian, Jakarta: PT.Citra AdityaBakti, 1995 Sudarsono,Kamus Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1992)
________, Hukum Waris dan Sistem Bilateral. (Jakarta: Rineka Cipta, 1991)
Suparman, Eman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, (Bandung: Refika Aditama, 2005)
______________, Intisari Hukum Waris Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1995)
________, Maman,Hukum Waris Perdata, (Jakarta : Sinar Grafika, 2015)
Syahrani, Ridwan,Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999)
Tamakiran. Asas-Asas Hukum Waris menurut Tiga Sistem Hukum, (Bandung: PT Pionir Java, 2000)
Tanjung, Bahdin Nur dan Ardial, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Proposal, Skripsi dan Tesis) dan Mempersiapkan Diri Menjadi Penulis Artikel Ilmiah, (Jakarta: Prenada Media Group, 2005)
Thabrani, Benyamin. Asri,Dasar-dasar Hukum Waris Barat (suatu pembahasan Teori dan Praktek, (Bandung : Tarsito, 1998)
Waluyo,Bambang,Penelitian Hukum Dalam Praktek, (Jakarta: sinar Grafika, 1996)
Wuisman, J.J.M.,Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: UI Press, 1996) B. Peraturan Perundang-Undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata C. Website Internet
Dunia Anggara, “Hibah”, http://anggara.org/2007/09/18/tentang-hibah/,Diakses tanggal 12 Mei 2017.
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA M A H K A M A H A G U N G
Memeriksa perkara perdata dalam tingkat kasasi telah mengambil putusan sebagai berikut dalam perkara:
1. FREDIY,
2. FENDY WIJAYA, keduanya sama beralamat di Jl. Letnan Jaimas No.809 A Rt/Rw.011/004, Kelurahan Sungai Pengeran Palembang., 3. JOHAN, beralamat di Jl. Papera No.2536
Rt/Rw.37/013, Kel. 20 Ilir D.III Palembang.
Para Pemohon Kasasi I dahulu para Tergugat II, III dan V/para Terbanding
HERMAN, beralamat di Jl. Papera No.2537 Rt/Rw.4/2, Kel. 20 Ilir D.III Palembang.
Pemohon Kasasi II dahulu Tergugat IV/
Terbanding
m e l a w a n
SUSANTO WIDJAYA, SH. berkantor di Jl.Jenderal A. Yani dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 6 Juli , 2001 dari:
1. SITI FATIMAH, alamat Komplek Perumahan Bukit Sejahtera Rt./Rw 68/21 B AG-1 Palembang.
2. ERNA MAWAR…………..
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Universitas Sumatera Utara
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Rt.37 Palembang.
Para Termohon Kasasi dahulu Penggugat I dan II /Pembanding
dan
YAHYA, beralamat Komplek perumahan Bukit Sejahtera Rt/Rw 68/21 B.AC-1 Palembang.
Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat I/
Terbanding
Mahkamah Agung tersebut.
Membaca surat-surat yang bersangkutan.
Menimbang, bahwa dari surat-surat tersebut ternyata bahwa sekarang para Termohon Kasasi sebagai para Penggugat asli I dan II telah menggugat sekarang para Pemohon Kasasi sebagai para Tergugat asli dan Turut Termohon Kasasi dahulu Tergugat I di muka persidangan Pengadilan Negeri Palembang pada pokoknya atas dalil-dalil:
bahwa Penggugat I dan II adalah anak kandung dan juga ahli waris dari almarhum Asan (d/h bernama Tan Tjhoen San) yang meninggal dunia pada 4 Januari 1999 di Palembang sesuai menurut akta keterangan Hak mewaris No.41 tanggal 11-3-1999 yang dibuat dihadapan notaris Robert Tjahjaindra, SH.MBA. di Palembang, fotocopy terlampir diberi tanda P.1.
bahwa semasa hidupnya almrhum Asan (d/h bernama Tan Tjhoen San) ada memiliki 49 (empat puluh sembilan) lembar saham PT. Musiana dan juga sebagai Komisaris utama PT. Musiana.
Bahwa pada tanggal 7-10-1998 dengan akta pembagian saham dengan Inbreng No. 10 yang dibuat dihadapan Justin
Aritonang, SH………….
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Universitas Sumatera Utara
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
telah membagi-bagikan 49 (empat puluh sembilan) lembar saham PT. Musiana miliknya kepada :
1. Tergugat I sebanyak 14 (empat belas) lembar saham.
2. Tergugat II sebanyak 14 (empat belas) lembar saham.
3. Tergugat III sebanyak 7 (tujuh) lembar saham.
4. Tergugat IV sebanyak 7 (tujuh) lembar saham 5. Tergugat V sebanyak 7 (tujuh) lembar saham Foto copy terlampir diberi tanda P.2;
Penggugat I dan II sebagai anak kandung tidak mendapat sehelai saham P.T. Musiana dari almarhum Asan (d/h bernama Tan Tjhoen San) dan saham-saham tersebut diberikan kepada orang lain kecuali Tergugat I sebagai suami Penggugat I dan menantu lelaki alm. Asan (Tan Tjhoeng San), hal ini telah melanggar Hak Legitime Portie (bagian mutlak) sesuai menurut pasal 913 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Bagian mutlak atau Legitime Portie untuk Penggugat I dan II (2 orang anak) adalah masing-masing 2/3 (dua pertiga) dari apa yang sedianya harus diwaris oleh masing-masing Penggu-gat dalam pewarisan sesuai menurut pasal 914 ayat kedua dari
Bagian mutlak atau Legitime Portie untuk Penggugat I dan II (2 orang anak) adalah masing-masing 2/3 (dua pertiga) dari apa yang sedianya harus diwaris oleh masing-masing Penggu-gat dalam pewarisan sesuai menurut pasal 914 ayat kedua dari