BAB II AKIBAT HUKUM JIKA HIBAH MERUGIKAN PARA AHLI
A. Hibah Menurut KUH Perdata
1. Pengertian ahli waris legitimaris
Sebelum membahas lebih dalam mengenai ahli waris legitimaris, maka ada baiknya terlebih dahulu membahas mengenai pembagian waris menurut hukum waris perdata barat (KUH Perdata), legitime portie, kemudian masuk kepada pembahasann ahli waris legitimaris. Karena antara pembagian waris menurut hukum waris perdata barat (KUH Perdata), legitime portie, dan ahli waris legitimaris memiliki saling keterkaitan.
Di dalam hukum waris perdata, dikenal ada dua cara untuk memperoleh warisan, yaitu :
1. Ketentuan undang-undang atau wettelijk erfrecht atau ab intestato, yaitu ahli waris yang telah diatur dalam undang-undang untuk mendapatkan bagian dari
warisan, karena hubungan kekeluargaan atau hubungan darah dengan si meninggal.
2. Testament atau wasiat atau testamentair erfrecht, yaitu ahli waris yang mendapatkan bagian dari warisan, karena ditunjuk atau ditetapkan dalam suatu surat wasiat yang ditinggalkan oleh si meninggal.65
Pelaksanaan pengaturan pemindahan kekayaan (warisan) dari orang yang telah meninggal dan akibat pemindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya, baik dalam hubungan antara mereka dengan pihak ketiga berdasarkan hukum waris barat diatur dalam Burgerlijk Wetboek (BW) atau KUH Perdata.66Pada asasnya orang mempunyai kebebasan untuk mengatur mengenai apa yang akan terjadi dengan harta kekayaannya setelah meninggal. Seorang pewaris mempunyai kebebasan untuk mencabut hak waris dari para ahli warisnya, meskipun ada ketentuan-ketentuan di dalam undang-undang yang menentukan siapa-siapa yang akan mewaris harta peninggalannya dan berapa bagian masing- masing. Ketentuan-ketentuan tentang ini bersifat mengatur dan tidak memaksa.67
Unsur paksaan dalam hukum waris perdata, misalnya ketentuan pemberian hak mutlak (legitime portie) kepada ahli waris tertentu atas sejumlah tertentu dari harta warisan atau ketentuan yang melarang pewaris telah membuat ketetapan seperti menghibahkan bagian tertentu dari harta warisannya, maka penerima hibah mempunyai kewajiban untuk mengembalikan harta yang telah dihibahkan ke dalam harta warisan guna memenuhi bagian mutlak (legitime portie) ahli waris yang mempunyai hak mutlak tersebut, dengan memperhatikan Pasal 1086 Kitab
Undang-65A. Pitlo, Op.Cit, hal 112.
66Zainudin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 81.
67HartonoSoerjopratiknjo, Op.Cit., hal. 109.
Undang Hukum Perdata, tentang hibah-hibah yang wajib inbreng (pemasukan).68 Hukum waris perdata Barat didalamnya mengandung unsur paksaan, namun posisi hukum waris perdata, sebagai salah satu cabang hukum perdata yang bersifat mengatur tidak berpengaruh. Konsekwensi dari hukum waris perdata, sebagai salah satu cabang hukum perdata yang bersifat mengatur adalah apa saja yang dibuat oleh pewaris terhadap hartanya semasa ia masih hidup adalah kewenangannya, namun kalau pelaksanaan kewenangan itu melampui batas yang diperkenankan oleh Undang-Undang, maka harus ada risiko hukum yang dikemudian hari akan terjadi terhadap harta warisannya setelah ia meninggal dunia.
Setelah membahas mengenai pembagian waris menurut hukum waris perdata (KUH Perdata) selanjutnya membahas mengenai legitime portie. Pengertian tentang legitime portie dapat ditemukan dalam Pasal 913 KUH Perdata:
“Bagian mutlak atau legitime portie adalah sesuatu bagiam dari harta peninggalan yang harus diberikan kepada waris, dalam garis lurus menurut undang-undang, terhadap mana si yang meninggal tak diperbolehkan menetapkan sesuatu, baik selaku pemberian antara yang masih hidup, maupun selaku wasiat.”
Legitime portie (wettelijk erfdeel), secara harafiah diterjemahkan “sebagai warisan menurut undang-undang”, dikalangan praktisi hukum sejak puluhan tahun dikenal sebagai“bagian mutlak” (legitime portie). Bagian mutlak adalah bagian dari warisan yang diberikan undang-undang kepada ahli waris dalam garis lurus ke bawah dan ke atas. Bagian mutlak tidak boleh ditetapkan atau dicabut dengan cara apapun
68Anisitus Amanat, Op.Cit.,hal. 1.
oleh pewaris, baik secara hibah-hibah yang diberikan semasa pewaris hidup maupun dengan surat wasiat melalui hibah wasiat (legaat) dan erfstelling).69
Menurut Pitlo, bagian yang dijamin oleh undang-undang legitime portie :
“Merupakan hak dia/mereka yang mempunyai kedudukan utama/istimewa dalam warisan. Hanya sanak saudara dalam garis lurus (bloedverwanten in de rechte lzjn) dan merupakan ahli waris ab intestato saja yang berhak atas bagian yang dimaksud”.70
Sedangkan ahli waris legitimaris menurut Pitlo adalah :
“Ahli waris ab intestato yang dijamin oleh undang-undang bahwa ia akan menerima suatu bagian minimum dalam harta peninggalan yang bersangkutan. Baik dengan jalan hibah ataupun secara pemberian sesudah meninggal (making bijdode) pewaris tidak boleh mencabut hak legitimaris ini”.71
Pada asasnya, pewaris mempunyai kebebasan untuk mengatur mengenai apa yang akan terjadi dengan harta kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Seorang pewaris mempunyai kebebasan untuk mencabut hak waris dari para ahli warinya, karena meskipun ada ketentuan-ketentuan di dalam undang-undang yang menentukan siapa-siapa yang akan mewaris harta peninggalannya dan berapa bagian masing-masing, akan tetapi ketentuan-ketentuan tentang pembagian itu bersifat hukum mengatur dan bukan hukum memaksa. Akan tetapi untuk ahli waris ab intestato (tanpa wasiat) oleh Undang-Undang diadakan bagian tertentu yang harus diterima
69R. Subekti dan R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata. (Yogyakarta:
Pradnya Paramita) hal 112
70Komar Andhasasmitha. Notaris III, Hukum, Harta Perkawinan dan Waris menurut KUHPerdata. (Jawa Barat: Ikatan Notaris Indonesia, 1987), hal. 143
71Ibid, hal 145
oleh mereka, bagian yang dilindungi oleh hukum, karena mereka mempunyai hubungan kekeluargaan yang dekat dengan si pewaris sehingga pembuat undang-undang menganggap tidak pantas apabila mereka tidak menerima apa-apa sama sekali dan hal tersebut merupakan ahli waris legitimaris.72
Agar pewaris tidak mudah mengenyampingkan ahli waris legitimaris, maka undang-undang melarang seseorang semasa hidupnya menghibahkan atau mewasiatkan harta kekayaannya kepada orang lain dengan melanggar hak dari para ahli waris ab intestato itu. Ahli waris yang dapat menjalankan haknya atas bagian yang dilindungi undang-undang itu dinamakan “ahli waris legitimaris sedang bagiannya yang dilindungi oleh undang-undang itu dinamakan “legitime portie”. Jadi harta peninggalan dalam hal mana ada ahli waris legitimaris terbagi dua, yaitu
“beschikbaar” (bagian yang tersedia) dan “legitime portie” (bagian mutlak). Bagian yang tersedia ialah bagian yang dapat dikuasai oleh pewaris, ia boleh menghibahkannya sewaktu ia masih hidup atau mewasiatkannya. Hampir dalam perundang-undangan semua negara dikenal lembaga legitime portie. Peraturan di negara satu tidak sama dengan peraturan di negara lain, terutama mengenai siapa-siapa sajalah yang berhak atasnya dan ahli waris legitimaris.73
Bagian yang kedua yaitu bagian mutlak (legitime portie), diperuntukkan bagi para ahli waris legitimaris bersama-sama, bilamana seorang ahli waris legitimaris menolak (vierwerp) atau tidak patut mewaris (onwaardig) untuk memperoleh sesuatu
72J. Satrio, Hukum Waris. (Bandung : Alumni,1992), hal 89.
73Hartono Soerjopratiknjo, Hukum Waris Testamenter, (Yogyakarta: Seksi Notariat Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, 1984), hal. 109
dari warisan itu, sehingga bagiannya menjadi tidak dapat dikuasai (werd niet beschikbaar), maka bagian itu akan diterima oleh ahli waris legitimaris lainnya. Jadi bila masih terdapat ahli waris legitimaris lainnya maka bagian mutlak itu tetap diperuntukkan bagi mereka ini, hanya jika para ahli waris legitimaris menuntutnya, ini berarti bahwa apabila ahli waris legitimaris itu sepanjang tidak menuntutnya, maka pewaris masih mempunyai “beschikkings recht” atas seluruh hartanya.74