• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PELAKSANAAN PEMBATALAN HIBAHBERKENAAN

A. Pembatalan Hibah Menurut KUH Perdata

2. Tata cara pembatalan hibah

Hibah menurut KUHPerdata adalah perjanjian yang dilakukan oleh penghibah ketika masih hidup untuk memberikan suatu barang dengan cuma-cuma kepada penerima hibah. Hibah merupakan perbuatan hukum yang dilakukan atas kehendak ikhlas dari pemberi hibah. Dengan kata lain, inisiatif pemberian hibah berasal dari pemberi hibah dan bukan dari penerima hibah.107

Berdasarkan Pasal 1683 KUHPerdata, hibah harus dilakukan dengan akta notaris.108 Dalam akta hibah, pemberi hibah mungkin mewajibkan penerima hibah untuk memasukkan kembali nilai hibah yang telah diterimanya itu ke dalam harta

105Perhatikan Pasal 1690 KUH Perdata yang berbunyi : “dalam kedua hal terakhir yang disebut dalam Pasal 1688, barang yang telah dihibahkan tidak boleh diganggu gugat jika barang itu hendak atau telah dipindahtangankan, dihipotekkan atau dibebani dengan hak kebendaan lain oleh penerima hibah, kecuali kalau gugatan untuk membatalkan penghibahan itu susah diajukan kepada dan didaftarkan di Pengadilan dan dimasukkan dalam pengumuman tersebut dalam Pasal 616. Semua pemindahtanganan, penghipotekan atau pembebanan lain yang dilakukan oleh penerima hibah sesudah pendaftaran tersebut adalah batal, bila gugatan itu kemudian dimenangkan.”

106Muh. Idris Ramulyo. Op.Cit., hal. 59 - 60.

107Anisitus Amanat, Op.Cit., hal.75.

108Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga (Perspektif Hukum Perdata Barat/ BW, Hukum Islam, dan Hukum Adat), Cet.2, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), hal 91.

peninggalan/warisan pemberi hibah. Ini yang dinamakan wajib inbreng. Mungkin pula dalam akta hibah pemberi hibah tidak mewajibkan atau membebaskan penerima hibah dari kewajiban pemasukan atas nilai hibah yang diterimanya itu. Ini yang dinamakan tidak wajib inbreng. Dalam beberapa hal penarikan kembali pemberian hibah memerlukan persetujuan pihak Penerima Hibah atau atas persetujuan pengadilan.109

Pasal 1666 KUH Perdata menyatakan bahwa suatu hibah tidak dapat ditarik kembali. Penghibahan tidak boleh diperjanjikan sejak semula dan penghibah tidak dapat menarik hibahnya tanpa izin penerima hibah. Penarikan kembali suatu hibah hanya dimungkinkan apabila terdapat persetujuan antara kedua belah pihak, hal ini berbeda dengan hibah wasiat yang sewaktu-waktu dapat

dicabut, atau ditarik kembali selama pewaris masih hidup.

Penarikan suatu hibah dimungkinkan apabila terdapat persetujuan antara kedua belah pihak karena hal ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1338 ayat (2) KUH Perdata yang menyatakan bahwa semua persetujuan yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.

Persetujuan–persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali, selain dengan sepakat kedua belah pihak atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk kemungkinan itu.

109 Eman Suparman, Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam, Adat dan BW, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hal 93.

Kemungkinan itu diberikan dalam Pasal 1688 KUH Perdata berupa tiga hal, yaitu:

a. Apabila penerima hibah tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam penghibahan. Maksud dari ketentuan di atas adalah bahwa ada syarat dalam penghibahan yang tidak terpenuhi oleh penerima hibah, misalnya bahwa si penerima hibah merupakan orang yang tidak cakap hukum untuk dapat menerima suatu penghibahan, atau bahwa si penerima hibah belum/tidak ada pada saat penghibahan dilakukan (telah meninggal dunia/belum dilahirkan).

b. Jika si penerima hibah bersalah atau memberikan bantuan tindak pidana yang mengancam jiwa si pemberi hibah, atau berupa kejahatan lain yang diancam undang-undang dengan hukuman pidana, baik yang berupa kejahatan atau pelanggaran. Maksud dari ketentuan ini adalah suatu hibah dapat ditarik kembali oleh penerima hibah, apabila pihak penerima hibah telah melakukan perbuatan-perbuatan ataupun memberikan bantuan dalam hal perbuatan yang dapat mengancam keselamatan dan jiwa dari si pemberi hibah, atau perbuatan-perbuatan lain yang melanggar undang–undang dan dapat diancam dengan hukuman pidana.

c. Apabila si pemberi hibah jatuh miskin, dan si penerima hibah enggan memberi bantuan nafkah kepadanya. Pemberian nafkah ini bukan merupakan kewajiban dan jumlahnya tidak ditentukan, akan tetapi adalah patut memberi nafkah sebagai balas budi yang didasarkan pada kelayakan sebagai ucapan terima kasih kepada si pemberi hibah. Pemberi hibah berhak dan dapat

menarik kembali hibahnya dari si penerima hibah, apabila di kemudian hari pemberi hibah menghadapi penurunan di dalam kondisi perekonomiannya dan penerima hibah enggan/menolak untuk memberikan bantuan nafkah kepadanya, walaupun sebenarnya pemberian bantuan nafkah kepada pemberi hibah bukanlah suatu hal yang diwajibkan di dalam penghibahan, tetapi hal yang menyangkut rasa kemanusiaan dan sebagai bentuk balas budi serta rasa terima kasih dari penerima hibah kepada pemberi hibah.

Akibat pembatalan hibah ada dua macam:110

a. Akibat pembatalan hibah karena penerima hibah tidak memenuhi syarat yang ditentukan dalam perjanjian hibah, adalah :

1) Barang yang dihibahkan harus dikembalikan

2) Pada pengembalian barang tadi, harus bebas dari segala beban yang telah diletakkan penerima hibah atas barang tersebut;

3) Penerima hibah wajib menyerahkan kepada si pemberi hibah semua hasil yang diperoleh dari barang yang dihibahkan itu, sejak penerima hibah lalai memenuhi persyaratan yang ditentukan.

b. Akibat pembatalan yang didasarkan atas kesalahan kejahatan atau pelanggaran atau oleh karena tidak memberi nafkah kepada pemberi hibah, adalah:

1) Barang yang dihibahkan harus dikembalikan kepada si pemberi hibah;

110Soedharyo Soimin, Op.Cit., hal 110

2) Penerima hibah wajib menyerahkan kepada si pemberi hibah semua hasil yang diperoleh dari barang yang dihibahkan itu, sejak gugatan diajukan ke Pengadilan;

3) Beban yang telah terletak pada barang itu sebelum gugatan diajukan, tetap melekat pada barang tersebut. Sedangkan beban-beban yang diletakkan sesudah gugatan pembatalan didaftarkan di Pengadilan adalah batal.

Dalam hal ini untuk menghindari pembebasan yang tidak diinginkan, pemberi hibah dapat mendaftarkan gugatannya di kantor pendaftaran tanah, jika barang hibah itu adalah barang yang tidak bergerak;

Tuntutan pembatalan hibah karena sebab ini, hanya dapat diajukan maksimal 1 tahun ke pengadilan setelah penerima hibah melakukan kesalahan yang menjadi alasan pembatalan. Kembali pada persoalan penarikan kembali hibah, bahwa terbukanya kemungkinan bagi penghibah menarik kembali hibah maka hal ini akan berakibat kurang baik, kesan yang akan terbangun sebagai berikut:111

a. Si penghibah masih mempunyai kewenangan yang besar untuk mencabut kembali hibah

b. Kewenangan seorang penerima hibah tidak bersifat permanen karena sewaktu-waktu hibah itu bisa dicabut;

c. Kurang memberi kepastian hukum tentang penerimaan hibah bagi si penerima hibah. Seakan-akan penyerahan hibah itu tidak memberi kewenangan mutlak.

111Ibid., hal 120

Adanya peluang penarikan kembali hibah menjadikan fungsi hibah tidak jelas hal ini menjadi tidak adanya kepastian hukum. Selain juga bertentangan dengan fungsi hak milik. Adanya pembolehan penarikan kembali hibah hanya akan menunjukkan bahwa si penerima hibah tidak mempunyai kekuasaan penuh. Hak mutlak seakan masih digenggam oleh si pemberi hibah. Kekuasaan pemberi hibah tidak terbatas, sedangkan kekuasaan penerima hibah sewaktu-waktu dapat dicabut.

Berdasarkan ketentuan mengenai penarikan kembali hibah dalam pasal 1688 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tersebut, dapat dilihat bahwa suatu hibah dapat ditarik kembali dengan hal–hal tertentu yang lebih difokuskan kepada pelanggaran ketentuan hibah yang dilakukan oleh penerima hibah, dan si pemberi hibah diberi kekuasaan untuk dapat menarik kembali atau menghapus hibahnya terhadap penerima hibah.