BAB IV PERLINDUNGAN HUKUM DALAM PUTUSAN NO
C. Analisis Hukum Terhadap Putusan Pengadilan
Dari pertimbangan hukum yang disebutkan diatas, maka terlebih dahulu dilakukan analisis hukum sebagai berikut:
1. Dapat dilihat bahwa para penggugat telah mengajukan bukti-bukti yang memadai yaitu fotocopy transfer rekening, design bali floor plan, percakapan di Internet, dan bukti-bukti surat tertulis seperti akta pendirian dan berita acara rapat, untuk dapat membuktikan gugatannya sedangkan tergugat tidak mengajukan bukti apapun yang menjadi syarat untuk dapat membuktikan jika dirinya tidak bersalah.
2. Para tergugat hanya menyatakan bahwa tidak ada hubungan hukum apapun antara penggugat dan tergugat karena tidak terjadi transaksi hukum secara legal formal karena kegiatan ini tidak diatur dalam hukum. Berdasarkan pernyataan tersebut, para tergugat tidak menyangkal bahwa terjadi transaksi elektronik antara pihak penggugat dan pihak tergugat. Pihak tergugat hanya mempertanyakan legalitas transaksi elektronik yang tidak dituangkan kedalam akta, walaupun telah ada diatur dalam KUHPerdata bahwa syarat sahnya suatu perjanjian hanya perlu memenuhi 4 syarat dan tidak harus tertuang kedalam akta. Jadi selama pihak penggugat dapat membuktikan bahwa transaksi itu ada melalui bukti-bukti, maka perjanjian itu sah.
3. Para tergugat yang membantah pernyataan para penggugat tidak diperkuat dengan bukti-bukti sangkalan untuk melawan bukti-bukti yang diberikan oleh pihak penggugat.
4. Bukti-bukti yang diberikan oleh pihak penggugat telah diterima oleh majelis hakim, tetapi tidak dipertimbangkan sesuai dengan Pasal 5 UU ITE yang mengatur tentang bukti-bukti elektronik yang sah.
5. Para tergugat kembali mempertanyakan keabsahan suatu transaksi elektronik tanpa adanya akta yang telah secara tegas diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata tentang sahnya perjanjian yang tidak memerlukan perjanjian tersebut dituangkan kedalam akta.
6. Dikarenakan para tergugat tidak dapat membuktikan dalil-dalil bantahannya sama sekali, maka sudah tepat keputusan hakim untuk mempertimbangkan lebih lanjut petitum gugatan dari para penggugat.
Dalam amar putusan diatas, secara keseluruhan sudah tepat, yang menjadi masalah dari putusan tersebut hanya ada satu, yaitu tentang pembuktian. Dapat dilihat bahwa pembuktian ada tidaknya perjanjian jual beli apartemen dan villa menggunakan media elektronik masih bertumpu pada Pasal 1320 KUHPerdata yang telah secara jelas menyatakan bahwa suatu perjanjian adalah sah apabila memenuhi 4 syarat yaitu: “sepakat mereka yang mengikatkan dirinya ; kecakapan untuk membuat suatu perikatan; suatu hal tertentu dan suatu sebab yang halal”.
Penggunaan bukti bukti elektronik yang difotocopy oleh pihak penggugat tidak dijadikan persoalan karena menurut majelis hakim untuk sahnya suatu perjanjian, tidaklah ditentukan dari bentuk perjanjian itu, melainkan sudah atau tidaknya memenuhi syarat-syarat dalam Pasal 1320 KUHPerdata. Walaupun dapat dilihat bahwa ada kepastian hukum dalam putusan ini, tetapi jika dilihat secara
teliti, tidak ada Pasal-Pasal yang digunakan untuk memperkuat bukti-bukti elektronik yang merupakan bentuk bukti yang baru dalam hukum Indonesia.
Bukti-bukti yang diajukan oleh pihak penggugat tidak dapat disangkal oleh pihak tergugat karena pihak tergugat tidak memiliki bukti-bukti yang dapat digunakan untuk itu. Tetapi apabila diteliti lebih lanjut, bukti-bukti elektronik perlu untuk dibuktikan karena tidak ada kepastian bahwa bukti-bukti tersebut adalah benar adanya. Dalam putusan diatas, tidak diteliti lebih lanjut apakah bukti-bukti penggugat merupakan bukti asli atau tidak, seperti apakah benar wanprestasi berupa ketidak sesuaian bentuk bangunan yang disepakati sebelumnya telah diubah secara sepihak oleh pihak tergugat mengingat kesepakatan terjadi hanya melalui email dan ponsel dan bukti kesepakatan tersebut hanya ada secara elektronik berupa brosur dan email.
Dalam Pasal 5 ayat 3 UU ITE, menyatakan bahwa informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dinyatakan sah apabila menggunakan sistem elektronik sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam undang-undang ini.
Sedangkan yang dimaksud dengan sistem elektronik adalah sistem yang dijalankan oleh penyelenggara sistem elektronik yang wajib mengoperasikan sistem elektronik yang memenuhi persyaratan minimum sesuai Pasal 16 UU ITE dan wajib untuk melakukan pendaftaran jika melakukan pelayanan publik sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Serta menurut penjelasan dari Pasal 6 UU ITE, Informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik dianggap sah sepanjang informasi yang tercantum didalamnya dapat diakses,ditampilkan, dijamin
keutuhannya, dan dapat dipertanggung jawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan. Jadi dapat dilihat bahwa untuk lebih mendapatkan kepastian hukum dalam transaksi elektronik, diperlukan pembuktian bahwa bukti elektronik tersebut telah memenuhi syarat berupa bukti tersebut berasal dari sistem elektronik yang memenuhi syarat-syarat UU ITE dan Peraturan Pemerinatah Nomor 82 Tahun 2012.
Dalam gugatannya, penggugat menuntut tergugat untuk dihukum dengan sanksi-sanksi sebagai berikut:
1. Menerima dan mengabulkan gugatan para penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan para tergugat adalah penjual yang beritikad buruk;
3. Menyatakan para tergugat telah melakukan wanprestasi;
4. Menyatakan jual beli yang dilakukan antara kedua belah pihak batal;
5. Menghukum para tergugat untuk mengembalikan seluruh uang yang telah dibayarkan oleh para penggugat;
6. Menghukum para tergugat dengan mewajibkan para tergugat untuk membayar kerugian material berupa kehilangan keuntungan 5% dari investasi yang diharapkan dan 5% kehilangan bunga yang jumlahnya akan bertambah setiap bulannya sampai dengan putusan terlaksana dengan tuntas serta kerugian immaterial berupa beban pikiran yang berkepanjangan sehingga pekerjaan para penggugat terganggu sebesar Rp. 10.000.000.000,-;
7. Menghukum para tergugat untuk membayar uang paksa sebesar Rp.
5.000.000,- per hari setiap keterlambatan yang dapat ditagih dari hari ke hari, terhitung sejak gugatan ini memperoleh kekuatan hukum tetap hingga dipenuhinya segala isi putusan dalam perkara ini;
8. Menyatakan sita jaminan terhadap barang-barang milik para tergugat;
9. Menyatakan putusan ini dapat dijalankan terlebih dahulu walaupun ada upaya hukum Verzet, Banding, dan Kasasi;
10. Menghukum tergugat untuk membayar semua biaya yang timbul dalam perkara ini.
Dari gugatan-gugatan yang diuraikan diatas, gugatan yang dikabulkan oleh majelis hakim adalah gugatan yang merupakan hasil dari apa yang terbukti di pengadilan, yaitu menyatakan penjual beritikad buruk dan telah melakukan wanprestasi, yang berlanjut pada batalnya jual beli dan pengembalian seluruh
uang yang telah dibayarkan kepada penjual, serta ganti rugi materiil berupa kehilangan keuntungan dan bunga selama penjual tidak melaksanakan kewajibannya.
Gugatan yang tidak dikabulkan oleh majelis hakim adalah gugatan-gugatan yang tidak beralasan menurut hukum seperti gugatan tentang kerugian immaterial yang menuntut ganti rugi sebesar Rp. 10.000.000.000,- yang merupakan jumlah yang terlalu besar jika ditinjau dari jumlah uang yang ditransaksikan dalam jual beli yang hanya memiliki total Rp. 6.760.000.000,-,begitu pula pada gugatan untuk mengenakan uang paksa dan sita jaminan terhadap harta milik para tergugat yang merupakan tuntutan yang telah keluar dari materi yang disengketakan.
Pada Pasal 1246 KUHPerdata, ganti kerugian terdiri dari biaya, rugi, dan bunga, biaya adalah pengeluaran atau ongkos-ongkos yang nyata/tegas telah dikeluarkan oleh pihak, rugi adalah kerugian atas kerusakan/kehilangan barang dan/atau harta kepunyaan salah satu pihak yang diakibatkan oleh kelalaian pihak lainnya dan bunga adalah keuntungan yang seharusnya diperoleh/diharapkan oleh salah satu pihak apabila pihak lain tidak lalai dalam melaksanakannya173, untuk dapat menuntut ganti rugi, pemohon harus membuktikan dalilnya tersebut yang sangat bergantung kepada subjektifitas hakim dalam memutus perkara berdasarkan prinsip ex aquo et bono.174
Berdasarkan uraian diatas, maka analisis atas putusan pengadilan dapat dijabarkan dalam bentuk matriks, sebagai berikut:
173 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4da27259c45b9/di-mana-pengaturan-kerugian-konsekuensial-dalam-hukum-indonesia , diakses pada tanggal 16 november 2017
174Ibid.
Matriks No.1 1. Menolak eksepsi para tergugat
untuk seluruhnya.
2. Mengabulkan gugatan penggugat
untuk sebagian.
3. Menyatakan tergugat adalah penjual yang beritikad buruk.
4.
5. Jual beli villa dan paket villa
dinyatakan batal.
Sumber: Diolah dari putusan Pengadilan Negeri Denpasar no.
169/PDT.G/2015/PN.DPS
Berdasarkan uraian diatas maka gugatan penggugat dan putusan hakim dapat dijabarkan dalam bentuk matriks sebagai berikut:
Matriks No.2
Putusan Pengadilan Terhadap Gugatan Penggugat No. Gugatan Penggugat
untuk membayar uang paksa
8.
Sumber: Diolah dari putusan Pengadilan Negeri Denpasar no.
169/PDT.G/2015/PN.DPS
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian sebagai berikut:
1. Kepastian hukum atas transaksi jual beli apartemen dan villa dengan menggunakan media elektronik masih belum jelas pengaturannya jika dilihat dari perspektif KUHPerdata, kegiatan transaksi ini dapat dikategorikan sebagai perjanjian biasa, dimana untuk sahnya suatu perjanjian itu, hanya perlu untuk memenuhi 4 syarat dalam Pasal 1320 KUHPerdata yaitu sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu pokok tertentu dan tidak terlarang. UU ITE terkait dengan syarat-syarat adanya perjanjian masih bertumpu pada Pasal 1320 KUHPerdata tersebut. Walaupun UU ITE telah ada mengatur tentang transaksi elektronik seperti bukti-bukti elektronik, penyelenggaraan sertifikasi elektronik dan sistem elektronik, namun masih belum mengatur tentang bagaimana melakukan transaksi benda tidak bergerak seperti apartemen dan villa karena awalnya benda bergerak saja yang ditransaksikan dengan menggunakan media elektronik.
2. Perlindungan hukum yang diberikan jika terjadi wanprestasi dalam transaksi jual beli apartemen dan villa menggunakan media elektronik adalah merujuk pada KUHPerdata dan UU ITE, dimana perlindungan tersebut dapat diberikan apabila perjanjian tersebut telah memenuhi syarat-syarat dalam
Pasal 1320 KUHPerdata dan dijalankan dengan ketentuan-ketentuan yang telah diatur dalam UU ITE, selain dari perlindungan hukum yang disebutkan diatas, terdapat pula penyelesaian alternatif yang dapat digunakan oleh para pihak apabila para pihak menyetujuinya berupa penyelesaian sengketa diluar pengadilan.
3. Pertimbangan hukum yang ada masih dilakukan hanya berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata, dan tidak dilakukan pertimbangan hukum dengan menggunakan UU ITE seperti Pasal 5 UU ITE mengenai bukti elektronik ataupun tentang Penyelenggaraan sertifikasi dan sistem elektronik sesuai dengan PP nomor 82 Tahun 2012, padahal kasus tersebut terjadi pada tahun 2015 dimana Undang-Undang tersebut diatas sudah berlaku.
B. Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan memunculkan beberapa saran sebagai berikut:
1. Perlu adanya pengaturan tentang bagaimana melakukan transaksi benda tidak bergerak seperti apartemen dan villa dengan mengggunakan media elektronik, hal ini dikarenakan walaupun pada akhirnya kedua belah pihak yang melakukan transaksi hadir dihadapan pejabat yang berwenang untuk membuat perjanjian tertulis, tetapi hal ini dilakukan setelah pembayaran dilakukan, yang dapat memicu ketidakjelasan hubungan hukum dan isi kesepakatan antara kedua belah pihak sebelum mereka membuat perjanjian tertulis.
2. Perlu adanya sosialisasi tentang perlindungan hukum yang telah ada di Indonesia mengingat masyarakat masih belum banyak mengetahui tentang perlindungan hukum yang diberikan untuk transaksi elektronik khususnya tentang transaksi elektronik mengenai apartemen dan villa karena kegiatan ini masih sangat baru.
3. Perlu adanya pertimbangan lebih jauh tentang keabsahan bukti elektronik untuk dapat lebih memenuhi kepastian hukum terhadap transaksi jual beli apartemen dan villa dengan menggunakan media elektronik.
Apeldoorn, L. J. van, 2004 , Pengantar Ilmu Hukum, Pradiya Paramita, Jakarta Ahmad, Ali, 2009, Menguak Teori Hukum dan Teori Peradilan, Kencana, Jakarta Ali, Achmad dan Wiwie Heryani, 2012, Asas-Asas Hukum Pembuktian Perdata,
PrenadaMedia, Group Jakarta
Anhar, 2016, Panduan Bijak Belajar Internet Untuk Anak: Google PlayBook Badrulzaman, Mariam Darus, 1996, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Buku
III Tentang Hukum Perikatan dengan Penjelasan, Alumni, Bandung Badrulzaman, Mariam Darus, et al., 2001, Kompilasi Hukum Perikatan, Citra
Aditya Bakti, Bandung
E. Farnsworth, Allan, 1995, Cases and Materials on Contracts, The Foundation Press, New York
Fuady, Munir, 1999, Hukum Kontrak(Dari Sudut Pandang Hukum Bisnis), Citra Aditya Bakti, Jakarta
___________, Teori-Teori Besar (Grand Theory) Dalam Hukum, 2013, Prenada Media Gorup, Jakarta
Goodpaster, Gary, 1995, Tinjauan Terhadap Penyelesaian Sengketa, Ghalia Indonesia, Jakarta
Guest, A.G, Konrad Zwieght & Hein Kotz, Dalam Ridwan Khairandy, 2003, Itikad Baik dalam Kebebasa Berkontrak, Pascasarjana, , FH UI
Harahap, Yahya M., et. Al., 1991, Arbitrase, Pustaka Kartini, Jakarta
Hanitiji Soemitro, Rony, 1998 Metode Penelitian hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta
Halim Barkatullah, Abdul dan Teguh Prasetyo, 2005, Bisnis E-Commerce Studi Sistem Keamanan dan Hukum di Indonesia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta Hernoko, Agus Yudha, 2014, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam
Kontrak Komersial, Prenada Media Group, Jakarta
Heriyanto, Andri, Puspo, 2016, Mobile Phone Forensics:Theory Mobile Phone Forensics dan Security Series, Andi Offset, Yogyakarta
Isnaen, M., 1996, Hipotek Pesawat Udara di Indonesia, Dharma Muda, Surabaya J Moeleong, Lexy, 1994, Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya,
Bandung
Kansil, 1989, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta
Kamello, Tan, 2004, Hukum Jaminan Fidusia, Alumni, Bandung
Kartini, Muljadi, Gunawan Widjaja, 2003, Perikatan Yang Lahir Dari Undang-Undang, RajaGrafindo Persada, Jakarta
______________________________, 2013, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, RajaGrafindo Persada, Jakarta
Lubis, Solly, 1994, Filasafat Ilmu dan Penelitian, Mandarmaju, Bandung
Margono, Suyud, 2000, ADR dan Arbitrase, Proses Pelembagaan dan Aspek Hukum, Ghalia Indonesia, Jakarta
Marzuki, Peter Mahmud, 2003, Penelitian Hukum, Prenada Media, Jakarta
Mansur, M. Arief dan Elisatris Gultom, 2005, Cyberlaw Aspek Hukum Teknologi Informasi , Refika Aditama, Bandung
Makarim, Edmon, 2005, Pengantar Hukum Telematika, RajaGrafindo Persada, Jakarta
_______________, 2012, Notaris & Transaksi Elekrtonik: Kajian Hukum Tentang Cybernotary dan Electronic Notary, Rajawali Pers, Jakarta
M.Wantu Fence dkk., 2010, Cara Cepat Belajar Hukum Acara Perdata, Reviva Cendekia, Jakarta
M. Khozim, 2010, Konsep Hukum, Nusamedia, Bandung
Marzuki, Peter Mahmud, 2009, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana, Jakarta Mohd Nazir, 1998, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta
Onno, W. Purbo dan Aang Arif Wahyudi, 2001, Mengenal E-commerce, Elex Media Komputindo, Jakarta
Prawirohamidjojo, Soetojo dan Marthalena Pohan, 1984, Bab-bab tentang Hukum Benda, Bina Ilmu, Surabaya
Patrik, Purwahid, 1994, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Mandar Maju, Bandung Partodihardjo, Soemarno, 2008, Tanya Jawab Sekitar Undang-Undang No.11
Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Prinst, Darwin, 1996, Strategi Menyusun Dan Menangani Gugatan Perdata, Citra Aditya Bakti , Bandung
Philipus, M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya
Prasetyo, Teguh dan Barkatullah, 2006, Abdul, Hakim, Ilmu Hukum dan Filsafat Hukum Studi Pemikiran Ahli Hukum Sepanjang Zaman, Yogyakarta
Rahardjo, Satjipto, 1983, Permasalahan Hukum di Indonesia, Alumni, Bandung _______________, Ilmu Hukum, 2000, Citra Aditya Bakti, Bandung
_______________, 2003, Sisi-Sisi Lain Dari Hukum Di Indonesia, Kompas, Jakarta
Rasjidi, Lili dan I.B Putra, Wyasan, 1993, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Remaja Rosdakarya: Bandung
Setiadi Edi dan Yulia Rena, 2010, Hukum Pidana Ekonomi, Graha Ilmu, Yogyakarta
Shidarta, 2006 Moralitas Profesi Hukum Suatu Tawaran Kerangka Berfikir, Revika Aditama, Bandung
Soekanto, Soerjono, 1981, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta
Salman, H.R Otje, 2010, Filsafat Hukum(Perkembangan dan Dinamika Masalah), Refika Asitama, Bandung
Sudarsono, 2007, Kamus Hukum, Asdi Mahasatya, Jakarta
Sunggono, Bambang, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002
Syahrani, Riduan, 1999 Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Cirtra Aditya Bakti, Bandung
Toar, Agnes M., 1995, Uraian Singkat Tentang Arbitrase Dagang di Indonesia, artikel dalam Arbitrase di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta
Usman, Rachmadi, 2012, Mediasi Di Pengadilan Dalam Teori dan Praktek, Sinar Grafika ,Jakarta
Vollmar, H.F.A, 1995, Pengantar Studi hukum Perdata Jilid II, Cet. II, RajaGrafindo Persada, 1995, Jakarta
Widjaja, Gunawan, 2006 Memahami Prinsip Keterbukaan dalam Hukum Perdata, Grafindo Prenada , Jakarta
Saragih, Djasadin, 1993, Sekilas Perbandingan Hukum Kontrak Civil Law dan Common Law, Lokakarya ELIPS Projects-Materi Perbandingan Hukum Perjanjian, Kerjasama FH Unair dengan FH UI, 1993, Hotel Sahid Surabaya
Satrio, J., 1995, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Citra Aditya Bakti, 1995, Bandung
Subekti, 1995, Aneka Perjanjian, Alumni, Bandung
B. Peraturan
Republik Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem Dan Transaksi Elektronik
Republik Indonesia, Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pendaftaran Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik
C. Putusan Mahkamah
Putusan Mahkamah Agung Nomor 169/Pdt.G/2015/ PN.Dps.
D. Jurnal
Mariam Darius Badrulzaman, “E-commerce Tinjauan dari Hukum Kontrak Indonesia”, Hukum Bisnis XII ,(2001): 33.
E. Makalah
Setiawan, “Elektronic Commerce: Tinjauan dari segi Hukum Kontrak,”( Makalah disampaikan pada Seminar Legal Aspects of E-Commerce, Jakarta, Agustus 2000), hal.4
Mariam Darius Badrulzaman, “(E-commerce Tinjauan dari Hukum Kontrak Indonesia”, Hukum Bisnis XII ,2001), hal. 33.
F. Internet
Pengertian Perlindungan Hukum Menurut Para Ahli,
http://tesishukum.com/pengertian-perlindungan-hukum-menurut-para-ahli/, diakses pada tanggal 14 Juli 2017.
Apdilasyifa, Pengertian Prestasi dan Wanprestasi Dalam Hukum Kontrak,
https://sciencebooth.com/2013/05/27/pengertian-prestasi-dan-wanprestasi-dalam-hukum-kontrak/, diakses pada tanggal 10 Maret 2017.
Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Secara Kualitatif, http://www.pengertianpakar.com/ 2015/05 /teknik-pengumpulan-dan-analisis-data-kualitatif.html, diakses pada tanggal 14 Juli.
Josua Sitompul, “Kewajiban Hukum Penyelenggara Sistem Elektronik”, http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt51b9577055ca8/kewajiban-hukum-penyelenggara-sistem-elektronik sistem-elektronik, diakses pada tanggal 18 Agustus 2017
Pendaftaran Penyelenggara Sistem Elektronik, https://www.kominfo.go.id/content/
detail/6791/pendaftaran-penyelenggara-sistem-elektronik/0/layanan_kominfo, diakses pada tanggal 18 Agustus 2017 http://www.hukumonline.com/klinik/ detail /lt57f2f9bce942f/
perbedaan-pokok-hukum-pidana-dan-hukum-perdata, diakses pada tanggal 21 Juli 2017 Hwian Cristianto, Kristen Petra Surabaya, “Kontrak Elektronik Menurut UU ITE
dan BW”, https://gagasanhukum.wordpress.com/2008/09/15/kontrak-elektronik-menurut-uu-ite-dan-bw/, diakses 27 Juli 2017.
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt4da27259c45b9/di-mana-pengaturan-kerugian-konsekuensial-dalam-hukum-indonesia , diakses pada tanggal 16 november 2017