BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.2 Analisis Iklim Mikro pada setiap Land Use
5.2.1 Analisis Iklim Mikro Kawasan Industri
Sektor perindustrian yang akan dikembangkan di Kota Bogor adalah industri non polutan dan ramah lingkungan baik berupa industri kecil, menengah maupun besar. Pengembangan industri yang tidak berwawasan lingkungan seperti menggunakan potensi air yang sangat banyak, berpolusi udara tinggi, sudah tidak mungkin dialokasikan di Kota Bogor. Kawasan industri yang direncanakan pun terbatas pada kawasan yang telah berkembang industri tidak ada penambahan kawasan/lokasi industri baru kecuali untuk kegiatan industri kecil/industri rumah tangga (Bappeda 2011). Salah satu kawasan industri di Bogor adalah PT Unitex. PT Unitex merupakan industri penghasil textil, PT Unitex pada saat ini telah mendapatkan Peringkat Hijau pada penilaian Proper Prokasih yang dilakukan oleh Bapedal. Hal ini menunjukkan bahwa PT Unitex merupakan salah satu industri yang telah berwawasan lingkungan cukup baik.
Pengambilan data iklim mikro pada kawasan PT Unitex dilakukan di depan gedung pabrik (Lampiran 1). Luas keseluruhan dari kawasan ini adalah 13,06 Ha dan memiliki RTH seluas 3,52 Ha atau 26,95 persen dari luas keseluruhan. Pengukuran iklim mikro berupa suhu dan kelembaban udara dilakukan pada pohon meranti kuning (Shorea macrobalanos) dengan tinggi ±6 meter, semak pangkas kuning (Duranta sp.) dengan tinggi ±1,5 meter, dan rumput gajah (Axonopus compressus). Hasil pengukuran iklim mikro dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada Gambar 5.5 dapat dilihat grafik hasil rata-rata dari pengukuran suhu dan kelembaban udara pada struktur vegetasi yang berbeda yaitu pohon, semak, dan rumput pada kawasan industri.
Gambar 5.5 Suhu dan kelembaban udara pada kawasan industri
Selisih suhu udara pohon dengan semak 2,07⁰C, selisih suhu udara semak dengan rumput mencapai 1,41⁰C, dan selisih suhu udara pohon dengan rumput mencapai 3,48⁰C. Suhu udara paling tinggi adalah suhu udara di atas rumput, hal ini disebabkan karena rumput secara langsung menerima sinar matahari tanpa adanya naungan. Suhu udara di bawah naungan semak lebih tinggi daripada pohon dan lebih rendah daripada rumput, hal ini dikarenakan naungan yang diberikan semak lebih sedikit dibandingkan pohon, namun semak lebih mampu mereduksi suhu udara dibandingkan rumput.
Selisih kelembaban udara pohon dengan semak sebesar 5,12 persen, selisih kelembaban udara semak dengan rumput sebesar 1,27 persen, dan selisih kelembaban udara pohon dengan rumput sebesar 6,39 persen. Pohon memiliki kelembaban udara paling tinggi dibandingkan dengan dua struktur vegetasi lainnya dan rumput memiliki kelembaban udara paling rendah. Pohon memiliki kemampuan untuk berevapotranspirasi lebih baik karena tajuknya yang rapat sehingga menyebabkan kandungan uap air yang ada di bawah naungan pohon lebih banyak dibandingkan dengan di semak ataupun rumput. Semak yang memiliki lebar tajuk dan tinggi yang lebih besar dibandingkan rumput menyebabkan kelembaban udara pada naungan semak lebih besar dibandingkan dengan di atas rumput.
32,29 34,36 35,77 55,59 50,47 49,20 - 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70
Pohon Semak Rumput
Struktur Vegetasi
Suhu (°C) RH (%)
Setelah dilakukan uji statistik pada hasil pengukuran iklim mikro, suhu dan kelembaban udara pada pohon, semak, dan rumput berbeda secara signifikan pada taraf nyata 5 persen (Lampiran 10). Hal ini membuktikan bahwa setiap struktur vegetasi mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam ameliorasi iklim. Perbedaan karakteristik struktur vegetasi mempengaruhi adanya perbedaan iklim mikro yang dihasilkan. Pohon memiliki karakteristik struktur vegetasi yang paling efektif untuk mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara dibandingkan dengan ketiga struktur vegetasi lainnya. Semakin tinggi dan semakin luas tajuk suatu vegetasi, keadaan suhu udara yang ada di sekitarnya akan semakin sejuk dan kelembaban udaranya semakin tinggi.
5.2.2 Analisis Iklim Mikro Kawasan Central Bussines District (CBD)
Perkembangan kegiatan perdagangan di Kota Bogor saat ini cukup pesat, karena selain melayani penduduk Kota Bogor juga daerah-daerah sekitarnya diantaranya Kabupaten Bogor. Kota Bogor juga merupakan salah satu kota wisata, baik lokal maupun mancanegara, yang akhirnya akan mempengaruhi kegiatan perdagangan. Kebutuhan fasilitas perdagangan (skala kota dan regional) di Kota Bogor hingga akhir tahun perencanaan dapat dikatakan sudah mencukupi terutama jenis perdagangan besar/sedang (pasar induk, supermarket, plaza, mall dan sejenisnya) (Bappeda 2011).
Salah satu fasilitas kegiatan perdagangan adalah CBD, dimana CBD yang dikembangkan di daerah Bogor rata-rata sangat minim RTH. Begitu pula di CBD Bantarjati, untuk menemukan RTH yang terdapat struktur vegetasi yaitu pohon, semak, dan rumput sangat jarang. RTH di kawasan CBD rata-rata hanya berbentuk RTH linear di depan bangunan CBD, sehingga pengukuran iklim mikro dalam penelitian ini dilakukan pada RTH berbentuk linear.
Peta lokasi pengambilan data iklim mikro pada kawasan CBD dapat dilihat pada Lampiran 2. Kawasan CBD Bantarjati memiliki luas total sebesar 40,23 Ha dengan luas RTH sebesar 8,91 Ha atau 22,15 persen dari luas keseluruhan. Pengukuran iklim mikro (suhu dan kelembaban udara) dilakukan di bawah naungan pohon dan semak dan di atas rumput. Pengukuran iklim mikro pada pohon angsana (Pterocarpus indicus) dengan karakteristik tinggi ±10 meter, pada semak dilakukan pada tanaman bugenvil (Bougainvillea sp.) dengan tinggi ±1,5
meter dan pengukuran iklim mikro pada struktur vegetasi rumput dilakukan pada rumput gajah (Axonopus compressus). Hasil pengukuran iklim mikro dapat dilihat pada Lampiran 7.
Gambar 5.6 Suhu dan kelembaban udara pada kawasan CBD
Grafik di atas menunjukan rata-rata nilai suhu dan kelembaban udara pada kawasan CBD di bawah naungan pohon dan semak dan suhu udara di atas rumput. Selisih suhu udara pohon dengan semak sebesar 2,9⁰C, selisih suhu udara semak dengan rumput sebesar 2,25⁰C, dan selisih suhu udara pohon dengan rumput mencapai 5,15⁰C. Suhu di bawah naungan pohon relatif lebih rendah dibandingkan suhu udara pada semak dan suhu udara di bawah naungan semak lebih rendah dibandingkan suhu udara di atas rumput. Pohon dengan tinggi dan luas tajuk yang besar lebih mampu menaungi area di bawahnya sehingga suhu udara di bawah pohon lebih sejuk dibandingkan struktur vegetasi lainnya. Semak dengan tinggi dan luas tajuk yang lebih kecil dibandingkan pohon memiliki suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan pohon. Suhu udara rumput memiliki nilai paling tinggi dikarenakan rumput secara langsung memantulkan sinar matahari ke area di sekitarnya.
Selisih kelembaban udara pohon dengan semak sebesar 4,21 persen, selisih kelembaban udara semak dengan rumput sebesar 5,48 persen dan selisih kelembaban udara pohon dengan rumput sebesar 9,69 persen. Kelembaban udara pohon memiliki nilai yang paling tinggi dan rumput memiliki nilai yang paling rendah. 32,53 35,66 37,57 55,63 51,14 46,22 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70
Pohon Semak Rumput
Struktur Vegetasi
Suhu (⁰C) RH (%)
Setelah dilakukan uji stastistik, suhu dan kelembaban udara pada pohon, semak, dan rumput berbeda secara signifikan pada taraf nyata 5 persen (Lampiran 11). Hal ini membuktikan bahwa setiap struktur vegetasi memiliki kemampuan yang berbeda dalam mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara. Perbedaan karakteristik vegetasi dari setiap struktur vegetasi menghasilkan iklim mikro yang berbeda-beda. Pohon merupakan struktur vegetasi yang paling efektif dalam mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara. Hal ini disebabkan oleh pohon memiliki area naungan yang luas dan tajuknya lebih padat dibandingkan semak ataupun rumput.
5.2.3 Analisis Iklim Mikro Kawasan Perumahan
Kebutuhan perumahan di Kota Bogor terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk, namun di sisi lain, luas wilayah kota tidak bertambah. Luas lahan perumahan di Kota Bogor pada tahun 2007 mencapai 26 persen luas kota (termasuk di dalamnya fasilitas perumahan). Kecenderungan perkembangan perumahan/permukiman yang terjadi saat ini adalah ke arah pusat kota dan sepanjang jalan-jalan utama, hal ini dikarenakan tingkat aksesibilitasnya di sepanjang jalan tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi lainnya (Bappeda 2011). Kawasan perumahan sangat membutuhkan RTH untuk mengakomodasi kenyamanan, kegiatan sosial, dan sebagai fasilitas pendukung bagi penghuninya. Semakin banyaknya RTH maka semakin nyaman keadaan iklim di perumahan tersebut. Iklim mikro berperan sangat penting dalam pertimbangan pemilihan dan penempatan material tanaman (Booth NK dan Hiss JE 2004).
Pengukuran iklim mikro pada kawasan perumahan dilakukan di lapangan rumput di tengah-tengah perumahan (Lampiran 3). Kawasan perumahan ini mempunyai luas total sebesar 51,66 Ha dengan luas RTH sebesar 12,87 Ha atau 24,9 persen dari luas keseluruhan. Pengukuran ini dilakukan di bawah naungan pohon kerai payung (Felicium decipiens) dengan tinggi ±6 meter dan tajuk berbentuk bulat. Untuk struktur vegetasi semak, pengukuran dilakukan di bawah naungan semak firebush (Hamelia patens) dengan tinggi ±1,5 meter dan pengukuran juga dilakukan di atas rumput gajah (Axonopus compressus). Hasil pengukuran iklim mikro dapat dilihat pada Lampiran 8. Grafik hasil pengukuran
berupa grafik suhu dan kelembaban udara (rataan dari tiga kali ulangan pengukuran) pada kawasan perumahan dapat dilihat pada gambar.
Gambar 5.7 Suhu dan kelembaban udara pada kawasan perumahan
Grafik di atas menggambarkan suhu udara pada kawasan perumahan. Suhu udara pada pohon dan semak terus meningkat selama pengukuran, sedangkan untuk suhu udara rumput mengalami peningkatan dan penurunan. Selisih suhu udara pohon dengan semak sebesar 0,86⁰C, selisih suhu udara semak dengan rumput sebesar 2,43⁰C, dan selisih suhu udara pohon dengan rumput mencapai 3,29⁰C. Pohon memiliki karakteristik struktural tinggi dan tajuk yang lebar sehingga pohon mampu menaungi area di bawahnya lebih luas sehingga suhu udara disekitarnya lebih sejuk. Semak memiliki suhu udara lebih tinggi dibandingkan pohon karena tinggi dan lebar tajuknya lebih kecil dibandingkan pohon. Rumput memiliki suhu udara yang paling tinggi karena rumput menerima sinar matahari secara langsung tanpa adanya naungan sehingga sinar matahari tersebut langsung dipantulkan dan membuat suhu udara disekitarnya cukup panas. Kelembaban udara di atas rumput sangat rendah dibandingkan dengan pohon dan semak yaitu 43,80 persen. Selisih kelembaban udara pohon dengan semak sebesar 0,62 persen, selisih kelembaban udara semak dengan rumput sebesar 6,02 persen, dan selisih kelembaban udara pohon dengan rumput sebesar 6,64 persen. Kelembaban udara pohon memiliki nilai yang paling tinggi dan kelembaban udara semak memiliki nilai yang paling rendah.
33,47 34,58 36,64 50,44 49,42 44,20 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70
Pohon Semak Rumput
Struktur Vegetasi
Suhu (°C) RH (%)
Uji statistik suhu dan kelembaban udara pada struktur vegetasi pohon, semak, dan rumput berbeda secara signifikan pada taraf nyata 5 persen (Lampiran 12). Hal ini membuktikan bahwa kemampuan setiap struktur vegetasi pada kawasan perumahan dalam mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara berbeda-beda. Perbedaan karakterisitik struktur vegetasi seperti tinggi, lebar daun, dan luas tajuk dapat berpengaruh pada kemampuan masing-masing vegetasi dalam menciptakan iklim mikro. Pohon memiliki karakteristik vegetasi yang mampu dengan efektif mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara. 5.2.4 Analisis Iklim Mikro Kawasan RTH Kota
Luas RTH di Kota Bogor setiap tahun semakin berkurang, hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi lahan terbangun untuk berbagai keperluan seperti perumahan, industri, perdagangan dan jasa, kantor, dan lain-lain. Semakin sempitnya RTH, khususnya taman dapat menimbulkan munculnya kerawanan dan penyakit sosial sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan yang sering ditemukan di masyarakat perkotaan. Disamping itu, semakin terbatasnya ruang terbuka hijau juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya (Bappeda 2011). Bogor memiliki RTH Kota yang sangat luas yaitu Kebun Raya Bogor (KRB). KRB yang sudah ada sejak tahun 1817 memiliki kontribusi yang cukup besar dalam mempengaruhi iklim, terutama karena letaknya yang berada di tengah-tengah Kota Bogor.
Peta lokasi pengambilan data dapat dilihat pada Lampiran 4. Luas dari kawasan RTH kota adalah 84,87 Ha dengan luas RTH sebesar 72,72 Ha atau 84,87 persen dari luas keseluruhan. Pengukuran iklim mikro dilakukan di bawah naungan pohon anggerit (Nauclea lanceolata) dengan ketinggian ±10, semak dilakukan di bawah naungan semak soka (Ixora sp.) dengan tinggi ±1,5 meter dan pengukuran iklim mikro rumput dilakukan di atas rumput gajah (Axonopus compressus). Hasil pengukuran iklim mikro dapat dilihat pada Lampiran 9.
Gambar 5.8 Suhu dan kelembaban udara pada kawasan RTH kota
Gambar 5.11 menggambarkan rata-rata suhu dan kelembaban udara pada struktur vegetasi pohon, semak, dan rumput yang ada pada kawasan RTH Kota. Rata-rata suhu udara di atas rumput adalah 34,14⁰C, suhu udara pada naungan semak 33,24⁰C, dan suhu udara pada naungan pohon adalah 30,51⁰C. Selisih suhu udara pohon dengan semak sebesar 2,73⁰C, selisih suhu udara semak dengan rumput sebesar 0,9⁰C, dan selisih suhu udara pohon dengan rumput sebesar 3,63⁰C. Suhu udara di bawah naungan pohon lebih sejuk dibandingkan suhu udara semak dan rumput. Hal ini disebabkan oleh tajuk pohon yang padat dan lebar sehingga udara di bawah naungan pohon lebih sejuk. Sedangkan semak memiliki suhu udara lebih tinggi dibandingkan pohon karena tajuk semak lebih kecil dan tingginya lebih rendah dibandingkan pohon. Rumput memiliki suhu paling tinggi karena secara langsung menerima sinar matahari tanpa adanya naungan.
Selisih kelembaban udara pohon dengan semak sebesar 5,93 persen, selisih kelembaban udara semak dengan rumput sebesar 0,81 persen, dan selisih kelembaban udara pohon dengan rumput sebesar 6,74 persen. Kelembaban udara pohon memiliki nilai paling tinggi dibandingkan dengan struktur vegetasi lainnya dan rumput memiliki nilai yang paling rendah.
Setelah dilakukan uji statistik pada data suhu dan kelembaban udara pada struktur pohon, semak, dan rumput berbeda secara signifikan pada taraf nyata 5 persen (Lampiran 13). Hal ini membuktikan bahwa tiap struktur vegetasi memiliki kemampuan yang berbeda dalam mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara. Perbedaan kemampuan setiap struktur vegetasi dalam mereduksi suhu dan
30,51 33,28 34,11 56,86 55,40 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65
Pohon Semak Rumput
Struktur Vegetasi
Suhu (°C) RH (%)
meningkatkan kelembaban udara disebabkan oleh perbedaan karakteristik struktural dari masing-masing vegetasi. Pohon merupakan struktur vegetasi yang paling efektif mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara dibandingkan dengan struktur vegetasi lainnya.
Vegetasi dapat menyejukkan lingkungan secara aktif dengan evaporasi dan transpirasi (evapotranspirasi) dan secara pasif dengan melindungi permukaan dengan menaungi area di bawahnya yang dapat mengurangi gelombang pendek dari radiasi matahari (Kleerekoper dkk 2011). Apabila kelembaban udara dihubungkan dengan suhu udara, menurut Handoko (1994) dalam Fandheli dan Muhammad (2009) kelembaban udara akan lebih kecil bila suhu udara meningkat dan sebaliknya jika suhu udara lebih rendah maka kelembaban udaranya akan tinggi.
Hasil interpretasi grafik iklim mikro struktur vegetasi pohon, semak, dan rumput pada empat land use yang berbeda (industri, CBD, perumahan, RTH Kota) di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan suhu udara pada struktur vegetasi (pohon, semak, dan rumput) pada setiap land use berbeda secara signifikan pada taraf nyata 5 persen. Begitu juga dengan kelembaban udara pada struktur vegetasi pohon, semak, dan rumput memiliki perbedaan secara signifikan pada taraf nyata 5 persen, yang diuji dengan analisis statistik. Hasil interpretasi grafik juga menyatakan bahwa pohon lebih efektif mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara dibandingkan semak. Sedangkan semak lebih efektif mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban udara dibandingkan struktur vegetasi rumput.
Kelembaban udara menunjukkan kandungan uap air di atmosfer pada suatu saat dan waktu tertentu. Uap air di atmosfer bertindak sebagai pengatur panas (suhu udara) karena sifatnya yang dapat menyerap energi radiasi matahari gelombang pendek maupun gelombang panjang. Evaporasi dipengaruhi oleh suhu dan merupakan pertukaran antara panas laten dan panas yang terasa (sensibel). Tanaman yang tinggi, laju evapotranspirasinya lebih besar, kehilangan panas karena terjadinya evaporasi akan menyebabkan suhu di sekitar tanaman menjadi lebih sejuk (Irwan 2005). Teori ini sesuai dengan hasil analisis sehingga
membuktikan bahwa pohon lebih efektif mereduksi suhu dan meningkatkan kelembaban dibandingkan dengan struktur vegetasi lainnya adalah benar.
Penanaman sekelompok pepohonan yang berkerapatan tinggi merupakan perlindungan dalam mengurangi temperatur yang tinggi pada siang hari, sedangkan menurut Lakitan (1997) dalam Muhammad dan Chafid 2009, pada malam hari tanaman berperan sebagai penahan panas, sehingga pada malam hari suhu udara di bawah tajuk lebih hangat dibandingkan suhu udara di atas permukaan tanah terbuka (tanpa vegetasi). Daerah yang tertutup tegakan pohon akan mempunyai kelembaban yang relatif tinggi, sedangkan keadaan tanah yang kering (pasir, kerikil, dan sejenisnya) cenderung menimbulkan suhu tinggi dan kelembaban yang rendah (Pudjiharta 1980 dan Laurie 1990 dalam Muhammad dan Chafid 2009). Keberadaan RTH yang terdapat struktur vegetasi pohon, semak, dan rumput sangat penting pada setiap kawasan. Untuk itu, pembangunan dengan tetap memperhatikan keberadaan RTH sangat penting untuk menciptakan kenyamanan pada setiap kawasan di perkotaan.
Menurut Dahlan (2004), untuk kenyamanan suatu kota pada daerah tropis terdapat kategori nilai dari suhu dan kelembaban udara. Untuk memenuhi kategori ideal-sedang dibutuhkan suhu udara sebesar 22,5-27,5°C dan kelembaban udara sebesar 60-90%. Pada hasil pengukuran, hanya kelembaban udara pohon pada RTH kota yang masuk dalam kategori ideal-sedang. Struktur vegetasi pada kawasan lain memiliki nilai di luar kategori ideal-sedang dalam kenyamanan suatu kota. Hal ini membuktikan bahwa RTH yang ada pada setiap kawasan belum optimal fungsinya dalam ameliorasi iklim. Sehingga dibutuhkan analisis untuk mengetahui penyebab perbedaan suhu dan kelembaban udara pada struktur vegetasi yang sama pada land use yang berbeda.