• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Industri

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-59)

C. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)

4.3. Analisis Fundamental

4.3.2. Analisis Industri

Industri pertambangan di Indonesia selama ini memegang peranan yang cukup penting, yaitu sebagai penghasil devisa negara dan daerah. Hal tersebut dikarenakan tingkat penjualan perusahaan-peruahan tambang cukup besar. Faktor yang menyebabkan meningkatnya penjualan tersebut adalah karena permintaan akan barang tambang oleh negara-negara maju semakin meningkat, terkait dengan kebutuhan sumber energi bagi

negara tersebut dalam meningkatkan kegiatan produksi. Namun industri pertambangan termasuk kedalam kelompok industri yang sensitif terhadap perekonomian. Salah satu contoh konkrit yang dapat menunjukkan kondisi tersebut adalah melemahnya perekonomian global mengakibatkan permintaan terhadap barang tambang pun juga mengalami penurunan. IMF pada tahun 2009 memprediksikan pertumbuhan perekonomian dunia minus 1.1%, rendahnya pertumbuhan perekonomian global terbukti mempengaruhi permintaan barang tambang (bataviase.co.id, 25 Maret 2010). Periode Januari-Desember 2009 PTBA mengalami penurunan penjualan sebesar 2%, yaitu dari 12.8 juta ton menjadi 12.5 juta ton pada tahun 2009. Akibat melemahnya permintaan batubara, volume penjualan di pasar domestik turun sebesar 3%

dan pasar ekspor turun sebesar 1%. Meskipun mengalami perlambatan perekonomian, namun industri pertambangan diprediksi akan tetap tumbuh karena permintaan terhadap produk pertambangan tetap kuat .

Tahun 2010 diperkirakan bisnis pertambangan akan mengalami peningkatan investasi. Nilai investasi bahkan mencapai U$$ 8 miliar hingga U$$ 10 miliar (kontan.co.id, 16 April 2010). Investasi terebut berasal dari perusahan-perusahaan yang ingin memperluas wilayah eksplorasi. Perluasan wilayah eksplorasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi, hal tersebut dilakukan karena industri pertambangan berupaya untuk memenuhi permintaan barang tambang yang diperkirakan meningkat pada tahun 2010. Pada kuartal I 2010, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjual sebanyak 16 juta ton batubara atau naik sebanyak 41.59% jika dibandingkan dengan realisasi penjualan pada kuartal I 2009 sebanyak 11.3 juta ton.

Serta angka penjualan BUMI pun mengalami kenaikan sebesar 12.81% untuk tahun 2009. Proyeksi kenaikan harga batubara dan meningkatnya permintaan mendorong BUMI berupaya untuk

meningkatkan kapasitas produksi pada tahun 2010 (economy.okezone.com, 4 April 2010). Maka berdasarkan sistem klasifikasi industri oleh Peter Lynch, industri pertambangan berada pada kelompok bersiklus. Perusahaan-perusahaan pada kelompok ini adalah perusahaan dengan penjualan dan laba yang berkembang dan melemah secara teratur sejalan dengan siklus bisnis.

Industri pertambangan saat ini berada pada tahap pertumbuhan, hal ini ditandai dengan baiknya inisiatif pemerintah untuk mendorong industri pertambangan. Salah satunya adalah melalui terbitnya UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (UU Minerba), yaitu memberikan arah baru kebijakan pertambangan mineral dan batubara Indonesia ke depan, termasuk dalam hal pengaturan Domestic Market Obligation (DMO), kebijakan produksi mineral dan batubara, peningkatan nilai tambah pertambangan, serta pertambangan yang baik dan benar. Melalui Undang-Undang tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengoptimalan manfaat pertambangan bagi pertumbuhan ekonomi (kabarbisnis.com, 17 April 2010).

Matangnya suatu industri melibatkan perubahan lingkungan persaingan secara terus menerus. Michael Porter menyoroti lima faktor penentu persaingan, berikut merupakan hasil analisis faktor penentu persaingan dalam industri pertambangan.

1. Ancaman pendatang baru

Dalam lingkup skala besar (makro), besarnya modal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha pertambangan merupakan salah satu bentuk hambatan bagi pemain baru untuk masuk kedalam industri pertambangan. Hal ini terkait dengan kemampuan perusahaan dalam melakukan kegiatan eksplorasi barang tambang, kemampuan pengolahan (teknologi), serta kemampuan perusahaan dalam memenuhi

permintaan domestik maupun luar negeri (sesuai standar kualitas internasional). Sedangkan secara mikro atau skala kecil, pemain baru cenderung lebih mudah untuk memasuki industri ini. Perusahaan-perusahaan tambang tersebut beroperasi di wilayah yang memiliki potensi sumberdaya berupa bahan tambang, dan pada umumnya mereka beroperasi di wilayah terpencil. Meskipun lingkup operasi yang kecil serta produksi perusahaan tersebut cenderung terbatas jumlahnya, namun perusahaan-perusahaan tambang tersebut telah memberikan kontribusi besar dalam pengembangan daerah-daerah terpencil. Yaitu membantu meningkatkan kegiatan perekonomian masyarakat dan membawa kemajuan yang signifikan pada wilayah yang sebelumnya tidak tersentuh.

Maka, hambatan bagi pemain baru dalam industri pertambangan cukup besar apabila ingin memasuki pasar secara luas.

2. Persaingan antar pesaing yang ada

Persaingan yang ada dalam industri pertambangan cenderung lemah, hal ini dikarenakan masing-masing perusahaan tambang fokus terhadap eksplorasi serta penjualan produk tambang unggulan masing-masing perusahaan dan cenderung kurang melakukan diversifikasi produk. Serta volume penjualan mengikuti pertumbuhan ekonomi, maka tidak terjadi strategi pemotongan harga dalam meningkatakan volume penjualan. Yaitu ketika laju pertumbuhan ekonomi meningkat, maka permintaan terhadap produk pertambangan cenderung meningkat. Hal ini dibuktikan ketika laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4.9% tahun 2007, kinerja ekspor sektor pertambangan mencapai USD 21,6 miliar atau tumbuh 17,2%

dengan pangsa 23,2%. Pertumbuhan nilai ekspor pertambangan ini didukung oleh ekspor nikel (tumbuh 76,8%), batubara (12,8%) dan tembaga (11,4%). Tingginya harga

komoditas tambang telah menjadi pendorong meningkatnya ekspor sektor pertambangan. Dari sisi volume, ekspor pertambangan pada tahun 2007 juga mengalami kenaikan 7,8%

atau mencapai 245 juta ton. Kenaikan volume ekspor pertambangan ini terjadi pada komoditas nikel (tumbuh 103,7%), aluminium (65,5%) dan batubara (7,9%). Namun ketika terjadi krisis global pada tahun 2008, dan Indonesia mulai terkena dampak krisis tersebut pada akhir tahun 2008 dan berlanjut sampai dengan tahun 2009. Oleh karena itu pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 pun mengalami penurunan menjadi 3,8% dibandingkan tahun 2007 yaitu sebesar 4,9%. Ekspor minyak mentah yang mencapai 9,2 miliar dollar AS pada tahun 2007 turun menjadi 7,8 miliar dollar AS pada tahun 2009 (berkontraksi 15,2%). Sementara ekspor gas alam nilainya turun dari 9,7 miliar dollar AS menjadi 8,7 miliar dollar AS atau melemah 10,3%. Komoditas batu bara masih lebih beruntung karena mampu tumbuh dari 6,7 miliar dollar AS menjadi 13,8 miliar dollar AS (naik 106 persen) (danareksaresearch.com).

3. Tekanan dari produk subtitusi

Tersedianya produk substitusi di pasar membuat pembeli membandingkan kualitas, performa dan harga produk dengan produk substitusinya. Namun karena perusahaan dalam industri pertambangan memiliki produk unggulan untuk masing-masing perusahaan, maka tekanan dari produk subtitusi cenderung lemah. ANTM (nikel), BUMI (batubara), RUIS (migas), PTBA (batubara), TINS (timah), INCO (nikel), BIPI (minyak dan gas alam), ITMG (batubara), ENRG (migas), ARTI (migas), APEX (minyak dan gas bumi), ATPK (nikel dan timah), GTBO (batubara), KKGI (manufatur laminasi), MEDC (minyak dan gas bumi), CITA (bauksit), CTTH (marmer dan granit), ADRO (batubara), MITI (granit),

ELSA (migas), PTRO (migas), BAYN (batubara), PKPK (migas).

4. Daya tawar pembeli

Dalam industri pertambangan tidak terdapat perantara antara industri dengan pemakai atau konsumen akhir. Sehingga konsumen produk perusahaan pertambangan mempunyai posisi tawar yang cenderung rendah. Jumlah konsumen produk pertambangan pun cenderung banyak, hal ini dikarenakan kebutuhan barang tambang sebagai bahan baku industri dan kebutuhan bahan bakar dalam proses produksi. Banyak negara yang berminat terhadap produk pertambangan asal Indonesia, diantaranya Cina, India, Amerika Serikat, dan Jepang. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya Ekspor produk pertambangan di Indonesia dari 14 persen pada tahun 2008, menjadi 20 persen pada tahun 2009. Ekspor batubara meningkat dengan pesat dalam enam tahun terakhir, seiring dengan permintaan dunia akan energi. dan kenaikan harga di pasar internasional. Pada tahun 2004 nilai ekspor batubara hanya USD 2,9 milyar dan melesat menjadi USD 13,9 milyar pada tahun 2009. Barang tambang lain yang menunjukkan peingkatan permintaan adalah tembaga dan timah yang pada tahun 2004 nilai ekspornya masing-masing USD 798 juta dan USD 617 juta, meningkat tahun 2009 menjadi USD 2,3 milyar dan USD 1,3 milyar (beritabisnis.com, 17 Juni 2010).

5. Daya tawar penjual (pemasok)

Barang pertambangan merupakan barang yang tidak dapat diperbaharui (berasal dari alam), sehingga permasalahan yang mungkin dihadapi dari pemasok adalah rendahnya jumlah produksi akibat cuaca (banjir), kemampuan teknologi dalam kegiatan penggalian (eksplorasi), serta ketersediaan bahan tambang di wilayah eksplorasi. Namun dalam industri pertambangan, bahan baku tambang diperoleh dari wilayah

eksplorasi tambang yang dikuasai oleh masing-masing perusahaan tambang melalui kegiatan investasi. Oleh karena itu, kekuatan tawar dari pemasok cenderung cukup lemah.

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 53-59)

Dokumen terkait