• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Industri : Evaluasi Faktor Eksternal PT.Trimitra Lestari Jaya Evaluasi faktor eksternal Trimitra diperoleh dengan melakukan wawancara

dengan pihak Trimitra untuk mengetahui permasalahan yang terjadi di lingkungan eksternal yang saat ini dihadapi oleh Trimitra yang mencakup sebagai berikut. Faktor eksternal terbagi menjadi dua yang meliputi peluang (opportunity) dan ancaman (threat).

Faktor-faktor yang menjadi peluang bagi Trimitra adalah sebagai berikut:

1. Penggunaan internet untuk komunikasi dengan pelanggan.

Penggunaan internet untuk komunikasi dengan pelanggan dapat dinilai dari jumlah pelanggan yang bersedia menggunakan media internet untuk berkomunikasi dengan Trimitra. Jumlah pelanggan Trimitra yang bersedia mengakses informasi dengan Trimitra melalui media internet yang tinggi mencapai 81.4% dari total pelanggan Trimitra berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan perusahaan terhadap para pelanggannya. Hal ini memberikan peluang bagi Trimitra untuk melakukan komunikasi melalui media internet dengan tujuan membangun hubungan baik antara Trimitra dengan pelanggan. Pelanggan tersebut bersedia menggunakan

media internet karena media internet yang dapat diakses dengan mudah baik melalui komputer maupun handphone. Penggunaan media internet untuk komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk mengurangi biaya penjualan terutama pada biaya kunjungan langsung ke tempat pelanggan yang dilakukan oleh staff penjualan yang meliputi biaya transportasi dan biaya akomodasi.

2. Sulit masuknya pendatang baru dalam industri sejenis.

Hambatan masuk yang tinggi bagi pendatang baru dalam industri manufaktur karpet memberikan peluang bagi Trimitra yang berarti Trimitra dapat meraih jumlah pelanggan yang lebih banyak dengan kuantitas pembelian yang lebih banyak pula.

Pada akhirnya, peluang ini dapat dimanfaatkan Trimitra untuk tetap mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada. Selain itu, peluang ini dapat dimanfaatkan Trimitra untuk memiliki daya tawar yang lebih kuat terhadap pelanggan dan dapat menjadi pemimpin dalam produk karpet di Indonesia.

3. Pasar potensial karpet lantai yang masih luas.

Pasar potensial yang masih luas dalam artian Trimitra masih dapat memanfaatkan peluang pasar terutama di Indonesia bagian Tengah dan Timur. Hal ini dapat dilihat dari tabel persebaran pelanggan Trimitra yang saat ini berkonsentrasi di Pulau Sumatra dan Jawa. Pasar potensial yang masih luas yang ingin digali potensinya oleh Trimitra sebagai target pasar berikutnya adalah pasar yang terdapat di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Indonesia bagian Timur.

Pangsa pasar potensial yang luas ini memberikan peluang bagi Trimitra untuk melakukan pemasaran produknya sehingga mampu meningkatkan pendapatan

Trimitra. Sedangkan untuk pelanggan di daerah Pulau Sumatra dan Jawa, Trimitra tidak ingin melakukan ekspansi pasar di daerah tersebut karena komitmen Trimitra dalam memberikan kesempatan bisnis bagi pelanggan yang merupakan wholesaler di daerahnya. Hal ini dilakukan Trimitra dengan membatasi jumlah pelanggan di Pulau Jawa maksimal lima pelanggan dan di luar Pulau Jawa maksimal tiga pelanggan.

Trimitra berniat untuk memanfaatkan peluang ini dengan melakukan ekspansi pasar ke wilayah Indonesia bagian Timur dengan mencari pelanggan yang dapat menjadi wholesaler dengan intensitas pembelian yang stabil per bulannya.

4. Tingginya tingkat permintaan karpet di Indonesia.

Tingginya tingkat permintaan karpet di Indonesia tampak dari adanya peningkatan permintaaan karpet setiap tahunnya yang mencapai sekitar 30%.

Peningkatan permintaan karpet setiap tahunnya yang tergolong tinggi ini dapat dimanfaatkan oleh Trimitra sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatannya.

Berdasarkan wawancara dengan pihak Trimitra, Trimitra menganggap hal ini sebagai peluang untuk meningkatkan produksi karpet untuk memenuhi peningkatan karpet yang tinggi. Selain itu, tingginya tingkat permintaan karpet juga didorong adanya jumlah infrastruktur perumahan di Indonesia.

Adapun karpet lantai Trimitra ditargetkan untuk perumahan ataupun tempat tinggal baik yang permanen, semi permanen ataupun tidak permanen. Definisi rumah permanen adalah umah yang dindingnya terbuat dari tembok atau kayu (kualitas tinggi) dan lantainya terbuat dari ubin atau keramik atau kayu berkualitas tinggi.

Rumah semi permanen merupakan rumah yang dindingnya setengah tembok atau bata tanpa plester atau kayu (kualitas rendah) dan lantainya dari ubin atau semen

atau kayu berkualitas rendah. Sedangkan rumah tidak permanen adalah rumah yang dindingnya sangat sederhana (bambu atau papan atau daun) dan lantainya dari tanah.

Jumlah perumahan Berdasarkan hasil perhitungan, pada tahun 2008 terdapat sekitar 54.7 juta rumah (tidak termasuk Ruko, Rukan, Bedeng, & bangunan lain bukan sebagai tempat tinggal). Setengahnya adalah rumah kualitas permanen dan semi permanen dan sekitar 23% rumah tidak permanen (http://andi.stk31.com/data-jumlah-rumah-menurut-kualitasnya.html, 22 November 2009). Banyaknya infrastruktur perumahan tersebut tentunya dapat mengakibatkan peningkatan permintaan karpet. Dengan jumlah rumah yang disebutkan di atas, Trimitra menganggap ini sebagai peluang yang ada dalam pangsa pasar yang ada.

5. Kebijakan impor limbah plastik.

Dibukanya izin untuk mengimpor limbah plastik yang merupakan merupakan plastik sisa yang sudah dipotong-potong dan masuk dalam kondisi bersih serta tidak berbahaya yang merupakan jenis homoplymer polypropylene (PP). Impor sampah plastik biasanya berasal dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Dengan dibukanya izin atas keputusan Nomor 520/M PP/Kep/8/2003 yang melarang impor limbah, memberikan peluang bagi Trimitra untuk memperoleh bahan baku secara langsung dengan mengimpor bahan baku dengan harga yang lebih rendah pula. Peluang ini tentunya akan berakibat pada penurunan biaya produksi Trimitra dan harga jual karpet lantai sehingga Trimitra mampu memberikan penawaran harga yang bersaing bagi pelanggan.

Faktor-faktor yang menjadi ancaman bagi Trimitra adalah sebagai berikut:

1. Kecenderungan masyarakat untuk memilih produk substitusi.

Kecenderungan masyarakat untuk memilih produk substitusi berupa keramik lantai dapat mengakibatkan ancaman bagi Trimitra. Adanya produk substitusi akan mengakibatkan posisi Trimitra sebagai produsen karpet lantai terancam karena masyarakat yang dapat beralih menggunakan keramik sebagai alas lantai perumahan atau gedung dan berakibat pada penurunan jumlah permintaan karpet di Trimitra.

2. Pelanggan dapat dengan mudah berpindah ke pesaing lainnya.

Pelanggan Trimitra adalah seseorang atau organisasi yang kritis terhadap perubahan harga ataupun produk yang ditawarkan. Apabila pelanggan kecewa terhadap pelayanan yang diberikan Trimitra, maka pelanggan dapat dengan mudah berpindah ke pesaing lainnya. Terlebih lagi, transaksi pembelian rata-rata yang dilakukan tiap pelanggan Trimitra mencapai ratusan juta rupiah dengan kuantitas pembelian mencapai ribuan roll karpet. Pelanggan dapat dengan mudah berpindah ke pesaing lainnya karena pelanggan merupakan subyek yang memiliki informasi dan akses yang mudah ke pesaing.

3. Peraturan pemerintah untuk pembatasan produksi produk plastik.

Peraturan pemerintah yang akan dikeluarkan mengenai pembatasan produksi dan penggunaan produk plastik yang akan dikeluarkan dengan membuat peraturan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2008 yang berisi mengenai penekanan jumlah sampah plastik yang mencemari lingkungan hidup dan mengganggu kesehatan. Peraturan pemerintah ini dianggap mengancam Trimitra

karena penekanan jumlah sampah plastik berarti penurunan pada tingkat konsumsi yang dapat berpengaruh pengurangan jumlah produksi karpet yang diproduksi dan permintaan karpet lantai.

4. Pesaing dalam industri sejenis yang memiliki kekuatan yang hampir setara.

Berdasarkan hasil analisis persaingan model lima kekuatan Porter, jumlah pesaing dalam industri sejenis tergolong sedikit. Tetapi, yang menjadi ancaman bagi Trimitra adalah kekuatan pesaing yang tergolong hampir sama di mana pesaing memiliki sistem pemasaran yang hampir sama dengan Trimitra dan dapat mengakses pelanggan dengan mudah. Sedikitnya pesaing dengan kekuatan pesaing yang hampir sama mengakibatkan setiap kebijakan yang dibuat oleh pesaing maupun Trimitra akan saling berpengaruh secara langsung. Salah satunya adalah kebijakan dalam harga karpet yang ditawarkan. Apabila pesaing menawarkan karpet dengan harga yang lebih murah ke pelanggan yang sama, maka pelanggan akan mulai memikirkan untuk berpindah ke pesaing atau tetap ke Trimitra tetapi dengan meminta penurunan harga agar sama atau bahkan di bawah harga pesaing.

5. Globalisasi yang membebaskan produk impor masuk ke Indonesia.

Adanya penghapusan bea masuk produk impor mengakibatkan ancaman bagi Trimitra. Trimitra harus bersaing dengan karpet-karpet impor di pasar Indonesia.

Terlebih lagi terdapat kecenderungan masyarakat untuk lebih memilih produk impor daripada produk buatan lokal atau dalam negeri karena adanya paradigma bahwa produk impor lebih baik daripada produk lokal. Hal ini menjadi ancaman bagi

Trimitra karena dengan adanya produk impor, pelanggan dapat saja beralih ke produk impor.

Setelah dilakukan analisis terhadap lingkungan eksternal dan mengidentifikasikan peluang dan ancaman yang dihadapi oleh Trimitra, maka akan dilakukan pembobotan dilakukan berdasarkan metode pairwise comparison dan pemberian peringkat yang ditentukan oleh pihak Trimitra. Berikut ini disajikan matriks EFE (External Factor Evaluation) PT.Trimitra Lestari Jaya:

Tabel 3.3 M atriks EFE PT.Trimitra Lestari Jaya

Faktor Eksternal Kunci Bobot Peringkat Nilai Tertimbang Peluang (Opportunities)

O1 Penggunaan internet untuk komunikasi dengan

pelanggan.

0.0226 2 0.0452

O2 Pasar potensial karpet lantai yang masih luas.

0.1401 3 0.4203

O3 Sulit masuknya pendatang baru dalam industri sejenis.

0.0848 3 0.2544

O4 Tingginya tingkat permintaan karpet.

0.1342 4 0.5369

O5 Kebijakan impor limbah plastik.

0.0639 3 0.1916

Ancaman (Threats)

T1 Kecenderungan masyarakat untuk memilih produk substitusi.

0.2463 4 0.9853

T2 Pelanggan dapat dengan mudah berpindah ke pesaing sejenis lainnya.

0.1533 4 0.6131

T3 Peraturan pemerintah untuk pembatasan produksi produk plastik.

0.0377 2 0.0755

T4 Pesaing dalam industri sejenis yang memiliki kekuatan yang hampir setara.

0.0871 3 0.2613

T5 Globalisasi yang membebaskan produk impor masuk ke Indonesia.

0.0300 2 0.0600

Total 1 3.4435

Keterangan: Peringkat 4 = respon luar biasa Peringkat 3 = respon di atas rata-rata Peringkat 2 = respon rata-rata

Peringkat 1= respon jelek

Berdasarkan hasil perhitungan evaluasi faktor eksternal PT.Trimitra Lestari Jaya diperoleh total nilai EFE yaitu 3.4435 yang menggambarkan bahwa Trimitra memiliki respon di atas rata-rata terhadap peluang yang ada saat ini dan dapat mengantisipasi berbagai ancaman yang ada dalam industrinya.

Dokumen terkait