• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III ANALISIS IDENTITAS KULTURAL

3.3 Analisis Integrasi dan Konflik Budaya

Dalam satu lingkungan terdapat dua budaya atau lebih sudah pasti akan terjadi integrasi antara dua atau lebih budaya dan bisa saja terjadi konflik antara

budaya-budaya tersebut. Demikian pula yang terjadi dalam Novel Rojak ini.

Alangkah baiknya jika hal tersebut di atas juga dibahas dalam penelitian ini sebagai analisis tambahan. Bila seseorang berada dalam dua budaya atau lebih, tanpa ia sadari ia akan mencoba memadukan budaya-budaya tersebut. Seperti halnya dengan Janice, karena ia berlatar belakang budaya Cina dan Melayu maka ia juga terpengaruh oleh kedua budaya tersebut. Analisis integrasi budaya dan konflik udaya dirasa perlu dilakukan karena dalam lingkungan kehidupan Janice terdapat lebih dari satu budaya.

3.3.1 Integrasi Budaya

Integrasi adalah penyatuan supaya menjadi satu kebulatan atau menjadi utuh (Poerwadaminto, 1976). Jadi integrasi budaya adalah usaha untuk

menyatukan dua budaya atau lebih menjadi satu budaya yang utuh. Novel Rojak

ini usaha penyatuan budaya tersebut terdapat dalam pantun-pantun yang ditulis oleh Janice dalam buku harianya. Hal terebut terdapat pada kutipan berikut

(128) Dua sisi tembok berhadapan satu-satu, Saling menatap terus tanpa malu,“Rojak“ Tembok satu bosan dan ingin berseteru, Tembok dua menahan ingin beradu Anak Cina masuk dari pintu, berdiri di tengah tembok berseteru, kamu berdua sperti dia dan aku

“cong rong bu po,” ya sudah tenang dan santai saja dulu.(hlm.10) (129) Kulihat hujan tadi pagi,

menyirami wajah bunga berseri-seri. Tapi hujan tak mau berhenti- henti,

Jatuh bunga terbawa air “luo hua liu shui” (hlm.39) (130) Mabuk daun buahnya tak ada,

Buah dan semak, diramainya indah, Ini tahun rasanya merana,

Hijau berserak, tak terserah. Berserah hujan kepada kemarau Dulu pohon kini abu,

Kemarin tenteram hari ini galau,

“bian huan mo ce,” perubahan terjadi sewaktu-waktu.(hlm.52) (131) Ia dan aku,

harusnya dua jadi satu, mencoba-coba dari dulu,

“bian ben jia li,” begitu me lulu sampai kelu(hlm.73) (132) Terbang melayang tanpa sayap,

“hu si luang xiang,” imajinasi berlari gelap.(hlm.77) (133) Lunak suara layak biduan,

dendang sayang bapa dan nonya, melihat rojak dimakan

jadi teringat siapa saya. Campur-campur ini saya

Merayakan hari raya Melayu dan Cina Rupa-rupa campuran budaya ada Bersatu padu di Singapura Cina peranakan di luar pagar, ambil galah tolong jolokkan,

kalau salah tolong tunjukkan.(hlm.84) (134) Budak peranakan diluar pagar

Ambil galah, jolok kelapa, saya seorang baru belajar, kalau salah, tak kenapa.(hlm.84) (135) Tidak akan sempurna sebuah hati,

jika belum mencari dan menemui si jantung hati pengusir sepi,

apa yang diingini pun puas terjadi.”chen xi ru yi,” (hlm.89) (136) YinYang, air dan api

“chang suo yu yan,” tanpa batas ekspresi bersemi. (hlm.98) (137) Jangan esok lekas datang

Aku tidak ingin melepas

Fearful, fearful, cautious, cautious.

“zhan zhan jing jing,” takut, takut, cemas, cemas. (hlm.104) (138) Pada ibu mintala h restu,

Wajib kita berbudi bahasa, Permintaan saya hanyalah satu, Jangan ibu tinggalkan saya. Mengepak sayap induk terbang Kepala menunduk spirit menghilang. Kehilangan ibu terasa belang.

“chui tou sang qi,” sedih tak terbilang (hlm.128) (139) Pahit pahit si buah pinang,

si daun salam di kerat-kerat, sakit-sakit tanpa menang malam kepala terasa berat. Berat rasa kepala badan,

pikiran jadi terpincang-pincang, bantal pendek tak berkesan,

“Gao Zhen wu you,“ bantal tinggi baru tenang.(hlm 168)

Kutipan 127-139 di atas menunjukan bahwa Janice mencoba menyatukan dua budaya yaitu Cina dan Melayu. Dalam setiap menulis pantun Janice menggunakan bahasa melayu, tetapi Janice juga selalu memasukan unsur atau

istilah- istilah Cina. Misalnya seperti kalimat “cong rong bu po“ pada kutipan 128,

luo hua liu shui“ pada kutipan 129, “bian huan mo ce“ pada kutipan 130, “bian

ben jia li“ pada kutipan 131, “hu si luang xiang“ pada kutipan 132, “chen xi ru yi

pada kutipan 135, “chang suo yu yan“ pada kutipan 136, “zhan zhan jing jing

pada kutipan 137, “chu tou sang qi“ pada kutipan 138, “gao zhen wu you“ pada

kutipan 139.

3.3.2 Konflik Budaya

Konflik budaya dapat timbul di sebuah tempat atau dalam satu lingkungan yang terdapat dua budaya atau lebih. Hal itu disebabkan setiap budaya memiliki aturan, hukum, pemikiran, dan ideologi yang tidak selalu sama. Walaupun tidak menutup kemungkinan ada persamaan dalam berbagai hal. Dalam novel, ini budaya yang berada dalam satu lingkungan adalah budaya Cina dan Jawa. Budaya Cina dibawa oleh Janice Wong sedangkan budaya Jawa dibawa Setyo dan ibunya. Dua budaya tersebut menempati lingkungan yang kecil yaitu keluarga. Karena perbedaan tidak dapat dihindari bahwa konflik budaya itu akan muncul. Misaalnya ketika Nami membawa ranting-ranting kering ke dalam apartemen Janice. Dalam budaya Jawa, menurut ilmu primbon tidak disebutkan bahwa ranting kering tidak boleh di masukkan rumah, namun dalam ilmu Feng Shui hal tersebut jelas dilarang karena ranting kering hanya akan membawa pengaruh negatif ke dalam rumah. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(140) Misalnya, ia membawa ranting- ranting kering. Kutanya. Mengapa? Jawabnya ranting- ranting itu tadinya adalah bunga-bunga mawar, dan berbagai macam bunga lain yang diberikan suaminya ketika

menurut Feng Shui Cina, bunga atau rantinr-ranting kering tidak boleh dipajang atau di dalam rumah karena akan membawa energi buruk. Benda-benda mati yang tidak memiliki energi hidup Cuma akan mengundang vibrasi buruk ke dalam rumah. Namun ketika Mas Set bersikeras bahwa orang Jawa juga mempunyai primbon dan sepertinya tidak menyinggung hal ranting-ranting kering sebagai pajangan aku diam saja. (hlm 21)

Dari kutipan di atas, sudah mulai tampak terjadinya konflik budaya. Dalam budaya Cina tidak diperbolehkan menyimpan atau memajang benda-benda mati karena akan membawa energi buruk, tetapi dalam budaya Jawa hal tersebut tidak menjadi masalah dan orang Jawa memiliki primbon dan tidak menyinggung tentang ranting kering.

Konflik budaya juga terlihat pada saat Nami bersenandung dan mengobrol dengan Mei-Mei dengan bahasa Jawa. Janice merasa Nami ingin cucunya menjadi lebih Jawa. Hal tersebut terlihat pada kutipan berikut

(141) “ E, dayohe teka, e beberna klasa, e klasane bedah, e tambalen

jadah, e jadahe mamu, e pakakna asu, e asune mati, e buang neng kali, e kaline banjir,e buang neng pinggir,….

( E, tamunya datang, e segera beberkan tikar, e tikarnya robek, e ditambal pake nasi, e nasinya bau, e beri makan anjing, e anjingnya mati, e buang ke kali, e kalinya banjir, e buang di pinggir,….) Kubiarkan saja perempuan berjarik itu bersenandung bersama Mei-Mei. Ia selalu saja berbicara dan mengobrol dengan bahasa Jawa entah sengaja agar aku tidak mengerti (karena aku mengerti bahasa Indonesia yang mirip Melayu, berhubung dulu di sekolah aku mengambil mata pelajaran ini dan ibuku seorang Cina malaka), entah ingin agar cucunya lebih Jawa daripada Cina, atau entau entah agar aku tersindir.( hlm 14)

Kutipan di atas sedikit menggambarkan rasa kekhawatiran Janice terhadap tindakan Nami yang selalu mengobrol dengan Mei-Mei dalam bahasa Jawa. Kekhawatiran Janice cukup beralasan, karena ia takut nantinya Mei-Mei menjadi

lebih Jawa daripada Cina dan menjadi lupa bahwa dalam tubuhnya juga mengalir darah Cina.

Konflik budaya juga terlihat ketika Janice juga mengajarka Mei-Mei lagu-lagu Cina. Secara tidak langsug tindakan tersebut adalah upaya Janice untuk menyaingi tindakan Nami hal tersebut terlihat pada kutipan berikut:

(142) “Mei mei bei xhe wa wal zou dao hua yuan lai kah hua wa wa ku le jiao ma mal shu shang de xiao niao xiao ha ha,…

(Adik perempuan mwmbawa boneka asing/ ke taman untuk melihat bunga/ boneka menagis mencari ibunya/ di atas pohon seekor burung tertawa…)

Mei-Mei kuajari lagu- lagu Cina, agar ia menyadari tubuhnya dialiri darah ini pula. Sering ku dengar Ibu menyanyikan dan mengajari Mei-Mei lagu- lagu Jawa. Aku berusaha mengimbangi aksinya. ( hlm 68 )

Kutipan di atas mengambarkan konflik budaya yang terjadi wala upun hanya sebatas persaingan dalam mengajarkan atau mewariskan suatu hasil budaya. Antara Nami dan Janice sama-sama ingin mewariskan budaya masing-masing yaitu Jawa dan Cina kepada Mei-Mei.

Dokumen terkait