• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Jaringan Komunikasi Kelompok Tani Mekar Sar

Individu Diadik

6 KARAKTERISTIK INDIVIDU PETANI JERUK PAMELO

6. Analisis Jaringan Komunikasi Kelompok Tani Mekar Sar

Anggota Poktan Mekarsari terdiri dari 60 orang petani. Jumlah petani yang aktif membudidayakan jeruk pamelo sebanyak sebelas orang. Anggota Poktan Mekar Sari cukup sering berdiskusi mengenai budidaya jeruk pamelo karena luas lahan anggota poktan cukup besar. Pada tahap penanaman jeruk pamelo, diskusi tidak dilakukan secara formal dalam pertemuan kelompok tani. Umumnya petani berkumpul di warung atau di rumah ketua poktan untuk mengobrol santai mengenai jeruk pamelo. Struktur jaringan komunikasi yang terbentuk tidak sesuai dengan kategorisasi konsep Devito (1997), namun mendekati pola roda dengan aktor nomor 27 sebagai sentral dalam jaringan. Aktor nomor 27 merupakan ketua poktan yang berperan membantu mendistribusikan bantuan bibit dari Dinas Pertanian, namun selain itu beliau aktif membuat pembibitan sendiri secara cangkok untuk diperjualbelikan secara komersial. Beberapa anggota poktan dan petani dari desa di sekitar Tambak Mas cukup sering membeli bibit dari aktor nomor 27, karena dikenal mampu membuat bibit cangkok yang kuat dan berkualitas.

Terdapat isolate dalam jaringan, yakni aktor nomor 29, 30, 31, dan 33. Aktor tersebut tidak terlibat dalam proses diskusi atau interaksi mengenai penanaman jeruk pamelo dengan sesama anggota poktan. Empat aktor tersebut memilih membuat bibit sendiri, tanpa perlu masukan atau diskusi dengan aktor lain.

Gambar 31 Analisis jaringan komunikasi Kelompok Tani Mekar Sari dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo

Pada proses pemeliharaan jeruk pamelo, anggota poktan lebih aktif dalam berdiskusi atau bertukar informasi mengenai pemupukan, penanganan hama, jenis pestisida yang digunakan, sehingga struktur jaringan komunikasi membentuk pola bintang (struktur semua saluran) dapat dilihat pada Gambar 32. Seluruh petani jeruk pamelo anggota poktan berpartisipasi aktif dalam proses komunikasi, tanpa ada aktor yang menjadi isolate. Sedangkan berdasarkan klasifikasi menurut Rogers dan Kincaid (1981) jaringan membentuk struktur interlocking network

karena jaringan cenderung memusat pada aktor sentral, dan setiap anggota terlibat aktif dalam proses komunikasi sehingga integrasi relati kuat.

Aktor nomor 27 dan aktor nomor 25 berperan sebagai pemimpin atau aktor sentral dalam jaringan. Aktor nomor 27 merupakan ketua poktan dan dikenal sebagi petani berpengalaman yang mampu menghasilkan produksi jeruk pamelo yang berkualitas. Sedangkan aktor nomor 25 merupakan aktor yang “dituakan” atau “sesepuh” dalam poktan mekar sari. Sebelumnya beliau memimpin poktan mekar sari selama sepuluh tahun, dan digantikan oleh aktor nomor 27. Aktor nomor 25 juga dikenal sebagai petani senior yang aktif memberikan penyuluhan atau informasi untuk petani lain disekitarnya. Selain itu, jika aktor nomor 27 berhalangan hadir dalam pertemuan koordinasi di Badan Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Sukomoro maka beliau yang akan mewakili Poktan Mekar Sari.

Pada diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo, masing-masing anggota Poktan Mekar Sari cenderung mencari informasi sendiri dan tidak berkomunikasi dengan sesama anggota poktan sehingga tidak membentuk struktur jaringan komunikasi tertentu.

Gambar 32 Analisis jaringan komunikasi Kelompok Tani Mekar Sari dalam diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo

Kepadatan jaringan Poktan Mekar Sari dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo terkategori rendah, yakni sebesar 0,073. Dapat terlihat pada Gambar 30 bahwa interaksi dalam kelompok mengenai penanaman tidak banyak terjadi antar anggota poktan. Terdapat empat isolate yang mempengaruhi nilai densitas poktan mekar sari yang rendah. Sedangkan kepadatan jaringan (densitas) pada diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo lebih tinggi, yakni sebesar 0, 3. Nilai densitas tersebut terkategori sedang, dapat terlihat pada Gambar 31 bahwa jaringan lebih padat, dan interaksi antar anggota poktan lebih banyak terjadi.

Struktur jaringan komunikasi yang terbentuk dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo di tingkat kelompok tani, berdasarkan klasifikasi Devito (1997) secara umum membentuk pola bintang (semua saluran), roda, dan rantai. Semakin sering derajat interaksi/komunikasi terjadi antar anggota kelompok dan semakin tinggi tingkat partisipasi aktif dari seluruh anggota, maka struktur jaringan komunikasi cenderung membentuk pola bintang (semua saluran). Kelompok yang memiliki struktur bintang (semua saluran) cenderung terklasifikasi memiliki struktur interlocking network (Rogers dan Kincaid 1981), karena pada strutur interlocking network integrasi antar anggota kelompok lebih kuat dan cenderung memusat pada aktor sentral dalam jaringan. Hal tersebut terlihat pada Kelompok Tani Sekar Mulyo dan Sumber Mas. Pada kelompok Sekar Mulyo terdapat aktor nomor 16 yang bertugas membantu Dinas Pertanian dan ketua gapoktan untuk mendiseminasikan informasi penanaman jeruk pamelo kepada anggota kelompoknya dan kelompok tani lain, sehingga struktur jaringan cenderung memusat kepada beliau. Kelompok Sumber Mas terdapat ketua gapoktan yang bertanggungjawab mendistribusikan dan melakukan penyuluhan mengenai pembibitan jeruk pamelo secara okulasi kepada anggota kelompoknya sendiri dan kelompok tani lainnya di Desa Tambak Mas, sehingga beliau lebih aktif dan sering memfasilitasi diskusi/komunikasi mengenai pembibitan kepada aggota kelompok taninya.

Tabel 12 menunjukkan kelompok yang memiliki tingkat kepadatan jaringan atau densitas yang tinggi, cenderung memiliki struktur jaringan

komunikasi membentuk pola bintang (semua saluran), seperti pada Poktan Sekar Mulyo dan Sumber Mas. Hal ini karena nilai densitas dapat menggambarkan banyaknya interaksi antar anggota dalam kelompok untuk mendiskusikan topik penanaman (pembibitan) jeruk pamelo. Interaksi mengenai penanaman jeruk pamelo pada Poktan Sekar Mulyo dan Sumber Mas cukup intesif dan semua anggota terlibat dalam proses komunikasi dengan sesama anggota kelompok. Hal ini berpengaruh terhadap kohesivitas atau keeratan antar anggota dalam kelompok cukup tinggi dibandingkan poktan lain yang memiliki struktur rantai dan nilai densitas yang lebih rendah.

Tabel 12 Struktur jaringan komunikasi kelompok tani dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo

No. Kelompok Tani

Struktur Jaringan Komunikasi dalam Diseminasi Informasi Penanaman Jeruk

Pamelo

Densitas Devito

(1997)

Rogers dan Kinchad (1981)

1. Sekar Mulyo Bintang Interlocking network 0,13 2. Sumber Mas Bintang Interlocking network 0,11 3. Tani Rukun Roda, Rantai Radial personal

network

0,05 4. Gotong

Royong

Rantai Radial personal

network

0,10

5. Tawang Rejo Rantai Radial personal

network

0,16 6. Mekar Sari Roda Interlocking network 0,07

Pada diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo di Poktan Sumber Mas dan Sekar Mulyo, meskipun struktur komunikasi membentuk pola bintang dan memiliki densitas yang cukup tinggi, namun tingkat partisipasi anggota saat berdiskusi masih tergolong partisipasi pasif (passive participation) berdasarkan tipologi partisipasi Tufte dan Mefalopolus (2009). Partisipasi pasif menggambarkan tingkatan partisipasi yang paling rendah, dimana anggota kelompok hadir dalam pertemuan kelompok, dan menerima diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo dari PPL, mantri tani, Dinas Pertanian, atau ketua kelompok, namun jarang memberikan kontribusi berupa umpan balik pertanyaan atau bertukar informasi seputar penanaman jeruk pamelo. Petani anggota poktan menganggap teknik penanaman secara okulasi yang disampaikan tidak akan menghasilkan pohon jeruk pamelo yang kuat sehingga mereka hanya memposisikan diri untuk menerima informasi dan batuan bibit, namun dalam pelaksanaannya informasi yang disampaikan tidak diaplikasikan di lahan karena mereka merasa bantuan bibit okulasi bukan merupakan suatu permasalahan Kheerajit dan Flor (2013) menyatakan “participatory communication means moving from a focus of informing and persuading people to changing their behviout attitudes and focus on facilitating exchanges between different stakeholders to address a common problem”. Sementara proses komunikasi kelompok dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo baru pada tahap

memberikan informasi (informing) dan melakukan pesuasi (persuading) kepada petani.

PPL dan Dinas Pertanian dalam memberikan penyuluhan mengenai penanaman jeruk pamelo tidak menggunakan prinsip komunikasi partisipatif menurut Tufte dan Mefalopolus (2009), yakni dialog, menyuarakan kepentingan kaum marginal (voice), dan aksi-refleksi-aksi (action-reaction-action). Proses komunikasi berjalan satu arah dan petani diposisikan sebagai objek pasif dalam program penyuluhan, yakni sebagai penerima informasi dan bantuan bibit. Petani anggota kelompok tidak terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program ataupun didampingi mengenai penanaman jeruk pamelo di lapangan. Stakeholder terkait pun belum bersama-sama bersinergi untuk mengidentifikasi permasalahan yang dihadapi petani mengenai pembibitan dan menyuarakan kepentingan petani. PPL dan Dinas Pertanian menganggap teknik pembibitan yang didisemiansikan kepada petani merupakan yang cara terbaik tanpa mengetahui kondisi petani di lapangan dan mendampingi secara langsung, sedangkan petani anggota poktan sudah menggunakan teknik cangkok sejak puluhan tahun, sehingga tidak mudah untuk menerima inovasi baru. Terlebih beberapa anggota poktan yang sudah melakukan uji coba bibit di lapangan megalami kegagalan dimana pertumbuhan bibit tidak kuat sehingga tanaman mudah mati.

Kelompok Tani Mekar Sari dan Tani Rukun memiliki densitas yang tergolong rendah jika dibandingkan kelompok lain nya dan cenderung memiliki struktur roda dan rantai. Pada struktur rantai, aktor yang berada di posisi tengah lebih berperan sebagai pemimpin dalam mendiseminasikan informasi mengenai penanaman jeruk pamelo, sedangkan aktor yang memiliki posisi paling ujung hanya dapat berkomunikasi dengan satu orang saja. Hal ini menyebabkan proses diseminasi informasi berjalan lebih lama dan dapat memperbesar kemungkinan distorsi pesan yang disampaikan. Pada kelompok tani yang memiliki struktur roda dan rantai, proses komunikasi partisipatif tidak berlangsung karena tidak semua pihak terlibat berpartisipasi aktif dalam pertukaran informasi mengenai penanaman jeruk pamelo. pada kelompok Tani Mekar Sari dan Tani Rukun hanya ketua kelompok yang berperan aktif dalam mendiseminasikan informasi secara seraah, sehingga tidak terbangun proses dialogis.

Struktur jaringan komunikasi pada diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo sebagian besar membentuk pola bintang (semua saluran), yakni pada Kelompok Tani Sekar Mulyo, Sumber Mas, Tani Rukun, dan Mekar Sari. Antusiasme anggota poktan untuk berdiskusi/komunikasi mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo relatif lebih tinggi dibandingkan aspek penanaman (pembibitan), karena berhubungan langsung dengan keseharian mereka sebagai petani yang melakukan pemeliharaan jeruk pamelo hingga panen. Sedangkan struktur jaringan komunikasi berdasarkan klasifikasi Rogers dan Kincaid (1981) seluruh poktan cenderung memiliki struktur interlocking network, dimana struktur memusat dan memiliki integrasi yang tinggi karena intensitas proses komunikasi yang cukup sering terjadi.

Tabel 13 menunjukkan kelompok tani yang memiliki nilai kepadatan jaringan atau densitas tinggi dalam diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo adalah Poktan Sekar Mulyo, Mekar Sari, dan Sumber Mas. Kelompok tersebut memiliki struktur bintang (semua saluran), dimana proses komunikasi

berjalan dari semua arah, setiap anggota terlibat dalam proses komunikasi mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo. Partisipasi dan frekuensi interaksi yang tinggi antar anggota kelompok dapat memperkuat kohesivitas kelompok dan meningkatkan nilai densitas kelompok.

Tabel 13 Struktur jaringan komunikasi kelompok tani dalam diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo

No. Kelompok Tani

Struktur Jaringan Komunikasi dalam Diseminasi Informasi

Pemeliharaan Jeruk Pamelo

Densitas De Vito

(1997)

Rogers dan Kinchad (1981)

1. Sekar Mulyo Bintang Interlocking network 0,46 2. Sumber Mas Bintang Interlocking network 0,25 3. Tani Rukun Bintang Interlocking network 0,13 4. Gotong

Royong

Y Interlocking network 0,20

5. Tawang Rejo Y Interlocking network 0,16 6. Mekar Sari Bintang Interlocking network 0,30

Struktur jaringan komunikasi yang membentuk pola bintang (semua saluran) cenderung menggambarkan hadirnya partisipasi aktif dari seluruh anggota dalam jaringan kelompok. Tingkat partisipasi Kelompok Tani Sekar Mulyo, Mekar Sari, dan Sumber Mas dalam diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo berdasarkan klasifikasi Tufte dan Mefalopulos (2009) tergolong dalam partisipasi konsultasi (participation by colsultation) dimana pada beberapa pertemuan kelompok, terdapat stakeholder seperti mantri tani atau peneliti yang ahli di bidang pertanian dan dapat memberikan jawaban dari permasalahan pemeliharaan jeruk pamelo yang dihadapi petani, atau diwakili oleh ketua kelompok yang sudah mengikuti rapat koordinasi di Dinas Pertanian. Petani cukup aktif memberikan umpan balik, seperti bertanya atau berbagi pengalaman mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo dibandingkan pada diseminasi informasi penanaman.

Prinsip komunikasi partisipatif yang diterapkan dalam diseminasi informasi pemeliharaan di kelompok tani baru pada tahap dialog, dimana proses komunikasi tidak berjalan satu arah namun terjadi proses pertukaran informasi yang bersifat dialogis antara petani anggota kelompok dan stakeholder terkait mengenai pemeliharaan jeruk pamelo. Sedangkan prinsip menyuarakan kepentingan petani dan aksi-refleksi-aksi belum diaplikasikan dalam kelompok.

Kelompok tani yang memiliki densitas lebih rendah seperti Kelompok Tani Tawang Rejo dan Gotong Royong cenderung membentuk struktur jaringan komunikasi Y. Pada struktur jaringan komunikasi Y, terdapat seorang aktor sentral/pemimpin yang jelas, tetapi satu anggota lain berperan sebagai pemimpin kedua, sedangkan ketiga orang lain komunikasi terbatas hanya dengan satu orang lainnya. Proses komunikasi tidak berjalan secara partisipatif, dan dapat mempengaruhi efektifitas penyampaian pesan mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo.

Struktur jaringan komunikasi di tingkat kelompok tani dalam diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo sebagian besar membentuk roda, dimana proses komunikasi berjalan satu arah dan terpusat kepada aktor sentral, yakni tengkulak. Sedangkan berdasarkan klasifikasi struktur jaringan menurut Rogers dan Kincaid (1981), struktur jaringan membentuk radial personal network karena integrasi antar anggota poktan lebih lemah dibandingkan pada jaringan pemeliharaan, karena petani sebatas bertanya mengenai harga jual kepada tengkulak yang menjadi angggota kelompok. Pada kelompok yang tidak memiliki anggota sebagai tengkulak, integrasi lebih rendah karena anggota poktan cenderung mencari informasi pemasaran kepada tengkulak di luar kelompok atau Desa Tambak Mas.

Tabel 14 menunjukkan densitas atau kepadatan kelompok yang cukup tinggi dalam diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo dimiliki oleh Kelompok Tani Gotong Royong, dan Tawang Rejo. Densitas kelompok yang tinggi menggambarkan kohesivitas kelompok dan frekuensi komunikasi yang terjadi antar anggota cukup tinggi, jika dibandingkan kelompok lain yang memiliki densitas lebih rendah. Kelompok yang memiliki densitas tinggi membentuk struktur jaringan komunikasi roda. Pada struktur roda, terdapat seorang aktor sentral yang mengendalikan aliran informasi, yakni anggota kelompok yang sekaligus berperan sebagai tengkulak. Pada Poktan Tawang Rejo dan Gotong Royong terdapat tengkulak yang cukup besar di Desa Tambak Mas, sehingga informasi mengenai aspek pemasaran seperti harga, dikendalikan oleh aktor tersebut.

Tabel 14 Struktur jaringan komunikasi kelompok tani dalam diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo

No. Kelompok Tani

Struktur Jaringan Komunikasi dalam Diseminasi Informasi Pemasaran

Jeruk Pamelo

Densitas Devito

(1997)

Rogers dan Kincaid (1981)

1. Sekar Mulyo Y Radial personal

network

0,06

2. Sumber Mas Roda Radial personal

network

0,06

3. Tani Rukun Roda Radial personal

network

0,10 4. Gotong

Royong

Roda Radial personal

network

0,20

5. Tawang Rejo Roda Radial personal

network

0,20

6. Mekar Sari - - -

Komunikasi dalam diseminasi informasi pemasaran di tingkat kelompok tani belum menggambarkan komunikasi partisipatif karena anggota kelompok tidak berpartisipasi aktif untuk membangun dialog atau berkolaborasi mencari penyelesaian permasalahan pemasaran jeruk pamelo di tingkat kelompok. Petani anggota poktan memilih mencari informasi kepada tengkulak yang kebetulan

menjadi anggota kelompok tani. Hal ini karena tengkulak dinilai lebih ahli dan mengetahui aspek pemasaran dibanding petani lainnya. Proses komunikasi mengenai informasi pemasaran dari tengkulak kepada petani umumnya tidak bersifat dialogis atau satu arah, dan posisi tawar petani terhadap harga lebih lemah. Kondisi tersebut menggambarkan belum diterapkannya prinsip komunikasi partisipatif dalam diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo di Desa Tambak Mas, yakni dapat menyuarakan kepentingan kaum marginal (petani).

8 HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN ANALISIS