• Tidak ada hasil yang ditemukan

Individu Diadik

3 KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

Kerangka Pemikiran

Pengembangan dan penelitian teknologi produksi jeruk pamelo sudah banyak dilakukan oleh sejumlah ahli dan peneliti. Diseminasi informasi hasil penelitian mengenai produksi jeruk pamelo yang efektif belum diaplikasikan secara optimal kepada petani. Tingkat produksi jeruk pamelo di Kabupaten Magetan yang tergolong tinggi, belum mampu meningkatkan kesejahteraan sebagian besar petani. Hal ini salah satunya dipengaruhi karena tidak terdapat standar kualitas dari produk jeruk pamelo yang dihasilkan (petani melakukan budidaya jeruk pamelo dengan teknologi sederhana). Selain itu, pengetahuan petani akan informasi pemasaran membuat hasil produksi yang melimpah pada saat musim panen, hanya dipasarkan melalui tengkulak lokal dengan harga yang rendah. Soekartawi (2002) menyatakan bahwa ”semakin majunya tingkat pengetahuan produsen (petani), lembaga pemasaran, dan konsumen terhadap penguasaan informasi pasar, maka semakin merata distribusi keuntungan yang diterima”.

Menurut Rogers dan Kincaid (1981) untuk melihat perubahan perilaku individu yang dipengaruhi variabel analisis jaringan komunikasi (termasuk peran peran-peran aktor yang terlibat dalam jaringan) diperlukan variabel non jaringan. Penelitian ini menggunakan dua jenis unit analisis dalam jaringan komunikasi, yaitu unit analisis di tingkat individu (petani jeruk pamelo) dan unit analisis di tingkat kelompok (kelompok tani

Karakteristik individu petani jeruk pamelo diposisikan sebagai variabel independen yang mampu memberikan gambaran perubahan perilaku petani pamelo (dependent variable) setelah terlibat dalam sebuah jaringan komunikasi. Karakteristik individu petani pamelo terdiri dari variabel demografis, yaitu usia, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan. Selain itu, terdapat karakteristik individu terkait bidang usahatani yang digelutinya, yaitu tingkat pengalaman berusaha tani, luas lahan, dan tingkat kekosmopolitan petani terhadap akses informasi.

Pendekatan kelompok dilakukan untuk meningkatkan efektivitas penyuluhan kepada petani jeruk pamelo. Dibentuknya kelompok tani diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperkuat kerjasama, dan sumber pertukaran informasi mengenai teknologi produksi dan pemasaran yang dibutuhkan petani.

Variabel non jaringan, yakni karakteristik individu diduga berhubungan dengan variabel analisis jaringan komunikasi interpersonal. Variabel karakteristik individu diduga berhubungan dengan analisis jaringan komunikasi interpersonal. Indikator pengukuran yang digunakan adalah pengukuran sentralitas yang terdiri dari Indegree centrality, outdegree centrality, dan closeness centrality (Prell 2012). Indegree centrality digunakan untuk mengukur prestige atau popularitas seorang aktor. Outdegree centrality digunakanan untuk menggambarkan tingkat keterluasan seorang aktor untuk menjangkau aktor lainnya dalam jaringan. Sedangkan Closeness centrality mengukur tingkat independensi dari seorang aktor, atau kedekatan seorang aktor dengan aktor lainnya dalam jaringan.

Pengukuran sentralitas dapat mengidentifikasi peran aktor- aktor yang terlibat dalam jaringan.

n Komunikasi

3.2Hipotesis

Gambar 4 Kerangka pemikiran

Variabel analisis jaringan kelompok digunakan untuk melihat struktur komunikasi dan tingkat kepadatan atau densitas pada masing-masing kelompok tani. Densitas merupakan proporsi hubungan pertalian (ties) yang terlihat dalam jaringan, dimana ia menghitung berapa banyak hubungan pertalian yang terdapat dalam jaringan dan mengekspresikan jumlah tersebut sebagai proporsi dari hubungan pertalian (ties) potensial dalam jaringan. Semakin tinggi nilai densitas, maka akan semakin padat jaringan, dan dapat dikatakan jaringan akan semakin kohesif. Prell (2012) menyatakan bahwa densitas (density) dapat digunakan sebagai indikator kohesivitas kelompok.

Variabel analisis jaringan komunikasi pada tingkat individu petani dan diduga berhubungan dengan variabel perubahan perilaku individu petani, yaitu efektivitas diseminasi informasi produksi dan pemasaran jeruk pamelo. Efektivitas komunikasi didefinisikan oleh Effendy (2007) sebagai proses

Karakteristik Individu Petani - Usia - Tingkat Pendidikan - Tingkat Pendapatan - Tingkat pengalaman Berusaha tani - Luas Lahan Indeks Jaringan Komunikasi Interpersonal - Indegree centrality - Outdegree centrality - Closeness centrality Efektivitas Diseminasi Informasi Produksi Pemasaran Jeruk Pamelo (Tingkat Kognitif) - Informasi Penanaman - Informasi Pemeliharaan - Informasi pemasaran Indeks Jaringan Komunikasi Kelompok - Densitas Jaringan Penanaman - Densitas Jaringan Pemeliharaan - Densitas Jaringan Pemasaraan

Non-network Variable Network Variable Behavioral Change Variable

penyampaian pesan (komunikasi) yang dapat menimbulkan dampak: (1) kognitif yaitu meningkatnya pengetahuan komunikan, (2) afektif yaitu perubahan sikap dan pandangan komunikan, karena hatinya tergerak akibat komunikasi dan (3) konatif yaitu perubahan perilaku atau tindakan yang terjadi pada komunikan.

Efek pada arah kognitif meliputi peningkatan kesadaran, belajar dan tambahan pengetahuan. Pada afektif meliputi efek yang berhubungan dengan emosi, perasaan dan sikap. Sedangkan efek pada konatif berhubungan dengan perilaku dan niat untuk melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Namun, menurut Prihandoyo (2014) efektivitas penyebaran informasi di bidang pertanian adalah efektivitas komunikasi pada taraf kognitif. Oleh karena itu, indikator yang digunakan dalam variabel efektivitas diseminasi informasi produksi dan pemasaran jeruk pamelo adalah perubahan kognitif petani. Proses pertukaran informasi dan keterlibatan petani dalam kelompok dan jaringan diduga dapat meningkatkan aspek kognitif (pengetahuan).

Hipotesis Penelitian

1. Terdapat hubungan yang nyata antara karakteristik individu petani dengan analisis jaringan komunikasi interpersonal (jaringan diseminasi informasi penanaman, jaringan diseminasi informasi pemeliharaan, dan jaringan diseminasi informasi pemasaran).

2. Terdapat hubungan antara analisis jaringan komunikasi interpersonal dengan efektivitas diseminasi informasi penanaman, pemeliharaan, dan pemasaran jeruk pamelo.

3. Terdapat hubungan antara analisis jaringan komunikasi kelompok tani dengan efektivitas diseminasi informasi penanaman, pemeliharaan, dan pemasaran jeruk pamelo.

4

METODOLOGI PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Tambak Mas, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Lokasi penelitian dilakukan secara

purposive (sengaja) dengan mempertimbangkan lokasi Desa Tambak Mas sebagai salah satu sentra (penghasil terbesar) jeruk pamelo di Jawa Timur. Beberapa penelitian mengenai aspek teknologi budidaya jeruk pamelo pernah dilakukan sebelumnya di Desa Tambak Mas.

Penelitian tahap pertama berupa observasi lapang pada bulan Maret 2015 selama satu minggu. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran lokasi penelitian, melakukan wawancara kepada beberapa informan utama, dan sebagai acuan perumusan kuisioner penelitian. Tahap kedua, penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam menggunakan instrumen kuisioner dan pengamatan (observasi) dilakukan dalam kurun waktu dua bulan, dimulai pada bulan April hingga Mei 2015.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah petani jeruk Pamelo di Kecamatan Sukomoro, Desa Tambak Mas, Kabupaten Magetan yang tergabung dalam gabungan kelompok tani. Jumlah populasi sebanyak 376 petani. Penentuan responden penelitian dilakukan melalui metode Quasi- Sociometry dan Snowball Sampling. Metode Quasi- Sociometry, yakni metode pendekatan analisis jaringan dengan memberikan pertanyaan sosiometri kepada responden/individu, seperti meminta responden menyebutkan lima orang rekan yang sering berinteraksi mengenai teknik produksi jeruk pamelo secara organik, dan frekuensi interaksi yang terjadi diantara mereka. Metode Quasi-Sociometry dapat diterapkan pada unit analisis individu, diadik, dan jaringan komunikasi personal. Sedangkan metode Snowball Sampling menggunakan pendekatan multi tahap dimana responden secara sosiometrik menentukan siapa yang menjadi responden pada tahap selanjutnya (Rogers dan Kincaid 1981). Prosedur teresebut terus berlanjut hingga nama yang disebut responden berrulang, dan peneliti merasa sudah memperoleh data responden yang mencukupi. Prell (2012) menambahkan dalam metode snowball sampling, tidak seluruh peneliti memiliki waktu untuk tersus “menggulingkan bola salju” hingga mencapai data yang lengkap, sehingga peneliti dapat menerapkan batasan atau “zona”. Zona pertama merupakan nama yang ditunjuk oleh responden awalan, zona kedua adalah nama yang ditunjuk oleh responden pada zona pertama, dan begitu seterusnya.

Metode Quasi Sociometry dan Snowball Sampling dipilih karena dapat menggambarkan struktur komunikasi antar petani jeruk pamelo di Desa Tambak Mas dalam diseminasi informasi produksi dan pemasaran jeruk pamelo. Metode Sampling Intact System yang umumnya digunakan pada penelitian analisis jaringan komunikasi tidak digunakan karena jumlah anggota populasi/ sistem yang cukup besar. Sedangkan metode random sampling kurang tepat diterapkan dalam analisis jaringan karena tidak dapat menggambarkan struktur komunikasi/ aliran informasi sehingga pengambilan hasil analisis menjadi menjadi bias.

Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu petani jeruk Pamelo dan kelompok (kelompok tani) dengan jumlah sampel sebanyak 63 orang petani jeruk pamelo. Unit analisis individu digunakan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik individu petani, dengan analisis jaringan interpersonal, dan perubahan perilaku individu petani. Sedangkan unit analisis kelompok digunakan untuk melihat karakteristik kelompok tani dan hubungannya dengan variabel analisis jaringan. Analisis jaringan kelompok juga dapat digunakan untuk melihat struktur komunikasi kelompok dan tingkat kohesivitas kelompok.

Validitas dan Reliabilitas

Pengujian validitas dan realibilitas dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji kesahihan alat pengumpul data (kuesioner) dan ketepatan variabel yang akan diukur. Ujicoba kuesioner dilakukan terhadap sepuluh orang anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mugi Rahayu yang aktif dalam kegiatan kelompok tani dan melakukan cocok tanam jeruk pamelo di Desa Sukomoro, Kecamatan Sukomoro. Pemilihan responden uji kuesioner didasar karena memiliki karakateristik yang relatif sama dengan anggota kelompok tani jeruk

pamelo yang akan dijadikan sampel pada penelitian ini. Pelaksanaan uji coba kuisioner dilakukan pada tanggal 20 sampai dengan 23 Mei 2015. Guna memperoleh data yang valid, maka butir-butir pertanyaan di dalam kuesioner dianalisis menggunakan rumus korelasi product moment pearson berikut ini:

�= � ∑ �� −(∑ �)(∑ �)

�{� ∑ �2−(∑ �2)}{� ∑ �2 −(∑ �2)}

Keterangan:

rxy = koefisien korelasi product moment n = jumlah responden

X = butir soal ke x

Y = total butir dalam kuesioner

Adapun realiabilitas (keterandalan) sebagaimana dikemukakan oleh (Singarimbun dan Effendy 1995) merupakan suatu istilah yang dipakai untuk menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran relatif konsisten apabila pengukuran diulangi kedua kalinya atau lebih. Reabilitas instrument dilakukan dengan melakukan perhitungan berikut. �11 =� � (� −1)� �1− ∑ �2 ��2� Keterangan: r11 = reliabilitas instrumen

K = banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal

Σ σ 2b = jumlah varians butir σ 2t = variant total

Berdasarkan hasil uji validitas dengan menggunakan SPSS 20, diketahui bahwa instrumen penelitian terbukti valid dengan koefisiensi validitas rata-rata berkisar antara 0,463 sampai dengan 0,97. Adapun hasil uji reliabilitas instrumen pada penelitian ini dilakukan melalui teknik Cronbach’s Alpha dengan menggunakan SPSS 20. Berdasarkan hasil uji tersebut diperoleh nilai cronbach alpha sebesar 0,757. Nilai cronbach alpha yang mendekati nilai satu menunjukkan instrumen yang digunakan dalam penelitian sudah reliabel.

Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan dua bentuk data, yaitu data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan (observasi) dan wawancara mendalam menggunakan instrumen kuisioner. Kuisioner terdiri dari pertanyaan tertutup dan terbuka mengenai karakteristik individu petani, karakteristik kelompok, analisis jaringan komunikasi interpersonal, analisis jaringan komunikasi kelompok, efektivitas diseminasi informasi, dan kinerja kelompok. Prell (2012) berpendapat bahwa terdapat beberapa pilihan dalam merumuskan pertanyaan dalam kuisioner khususnya dalam konteks analisis jaringan komunikasi, yaitu daftar nama (roster), atau free and fixed recall.

Penelitian ini menggunakan metode free recall untuk menganalisis jaringan komunikasi antar petani jeruk pamelo, dimana responden diminta mengingat (recall) dan menyebutkan dengan siapa ia berkomunikasi atau memperoleh informasi mengenai pemasaran jeruk pamelo. Guna memperoleh data analisis jaringan yang akurat dilakukan metode observasi atau pengamatan untuk melihat “siapa berinteraksi dengan siapa”.

Pengumpulan data sekunder berupa dokumen atau data-data pendukung, diperoleh dari pihak- pihak dan lembaga-lembaga yang terkait dengan produksi dan pemasaran jeruk pamelo di Kecamatan Sukomoro Magetan. Pihak dan lembaga terkait antara lain Penyuluh pertanian Lapangan (PPL), Kepala Desa Tambak Mas, Kantor Kecamatan Sukomoro, Dinas Pertanian Kabupaten Magetan, dan pihak-pihak atau lembaga lain.

Pengolahan Data dan Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi kemudian diolah dan dianalisis lebih lanjut berdasarkan kepentingan penelitian. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain:

1. Analisis Sosiometri

“Sociometry is means of obtaining quantitative data about communication pattern among individuals in a system” (Rogers dan Kincaid 1981). Analisis sosiometri digunakan untuk menggambarkan data kuantitatif mengenai pola komunikasi antar individu dalam sistem. Selain itu, menurut Prell (2012) teknik analisis sosiometri dapat digunakan untuk mengidentifikasi struktur kelompok dan posisi individu dalam jaringan. Analisis sosiometri dalam konteks penelitian ini digunakan untuk menggambarkan pola komunikasi antar petani jeruk pamelo dalam jaringan, struktur kelompok tani, dan posisi masing-masing individu petani dalam jaringan.

Setelah diperoleh data yang berasal dari pertanyaan-pertanyaan sosiometrik dalam instrumen kuisioner, dibuat matriks hubungan komunikasi antar petani. Matriks terdiri dari baris yang merepresentasikan sumber hubungan dan kolom yang merepresentasikan target. Ada atau tidak adanya hubungan komunikasi antar petani jeruk pamelo ditandai dengan bilangan biner. Jika terdapat komunikasi antar petani maka direpresentasikan dengan angka 1, sedangkan jika tidak terdapat hubungan komunikasi direpresentasikan dengan angka 0 (Prell 2012). Selain itu, intesitas hubungan komunikasi pun dapat digambarkan dalam skala tertentu (1 sampai 5) dimana semakin tinggi intensitas hubungan natara kedua petani maka nilai yang diberikan semakin tinggi. Pertanyaan sosiometris yang diberikan dalam penelitian ini, terkait dengan siapa yang berperan penting dalam memberikan informasi mengenai pemasaran jeruk pamelo kepada petani, atau aktor yang dijadikan sebagai sumber informasi bagi petani jeruk pamelo lainnya.

Selanjutnya matriks hubungan komunikasi antar petani jeruk pamelo divisualisasikan dalam bentuk sosigram menggunakan software UCINET IV, yaitu software analisis jaringan komunikasi yang dikembangkan oleh Borgatti, et al (2002 dalam Prell 2012). Pada Software UCINET IV pilih kolom Visualize

kemudian Netdraw, hingga diperoleh sosiogram jaringan komunikasi pemasaran Jeruk Pamelo. Berdasarkan sosiogram yang diperoleh dapat terlihat hubungan antar aktor melalui garis (lines) yang terhubung. Aktor yang memiliki hubungan

garis terbanyak dapat menggambarkan sentralitas (centrality) atau perannya sebagai aktor utama dalam jaringan.

2. Analisis Jaringan Komunikasi

Variabel analisis jaringan yang digunakan dalam penelitian ini adalah in- degree centrality, closeness centrality, dan betweeness centrality. Indegree centrality adalah jumlah pertalian (ties) yang diterima seseorang dari aktor lain, sedangkan Pengukuran indegree dan outdegree centrality dapat menggunakan software UCINET dengan tahap Network> Centrality> Degree.

Closeness centrality menggambarkan kedekatan antar aktor. Semakin dekat jarak antar aktor, semakin tinggi derajat kedekatannya (closeness centrality). Tahapan pengukuran closeness centrality menggunakan UCINET yaitu Network> Centrality> Closeness, hingga diperoleh nilai derajat kedekatan antar petani..

Diperolehnya nilai derajat sentralitas dalam jaringan komunikasi petani Jeruk Pamelo dapat mengidentifikasi siapa aktor yang berperan penting dalam difusi inovasi atau penyampaian informasi dalam jaringan.

3. Analisis Hubungan (Statistik)

Analisis hubungan dilakukukan menggunakan software SPSS 20.0 dengan menggunakan metode analisis Rank Spearman untuk menguji hubungan antar variabel, karena jenis data merupakan data ordinal.

Definisi Operasional 1. Karakteristik Individu Petani

Karakteristik individu petani merupakan atribut seorang petani yang diukur berdasarkan usia, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, tingkat pengalaman usahatani, kepemilikan lahan, dan tingkat kekosmopolitan.

Tabel 5 Definisi operasional karakteristik individu petani No Indikator

variabel

Definisi operasional

pengukuran Kategori

1. Umur Lama hidup

responden dihitung sejak yang dilahirkan hingga wawancara berlangsung Ordinal 1) Muda: 0-14 tahun 2) Dewasa: 15-55 tahun 3) Tua: >56 tahun 2. Tingkat Pendidikan Lama belajar secara formal yang pernah ditempuh oleh responden

Ordinal 1) Rendah: lama menempuh pendidikan formal < 6 tahun 2) Sedang: lama menempuh pendidikan formal 9 tahun

Tabel 5 Definisi operasional karakteristik individu petani (lanjutan) No Indikator variabel Definisi operasional Skala pengukuran Kategori 3. Tingkat Pendapatan Jumlah pendapatan (rupiah) yang diperoleh petani dari usahatani jeruk pamelo selama satu tahun Ordinal 1) Rendah: Pendapatan yang diperoleh dari hasil usahatani jeruk pamelo sebesar 0-15 juta/ tahun. 2) Sedang: Pendapatan yang diperoleh dari hasil usahatani jeruk pamelo sebesar 16-40 juta/ tahun. 3) Tinggi: Pendapatan yang diperoleh dari hasil usahatani jeruk pamelo lebih dari 40 juta 4. Tingkat Pengalaman berusaha tani Pamelo Lamanya responden mengelola usaha tani jeruk Pamelo sampai dengan wawancara dilakukan (tahun)

Ordinal 1) Rendah : lama berusahatani 1- 10 tahun 2) Sedang: lama berusaha tani 11- 25 tahun 3) Tinggi: lama berusahatani lebih dari 25 tahun 5. Luas lahan Luas lahan

yang dimiliki petani untuk melakukan

budidaya jeruk pamelo

Ordinal 1) Rendah : luas lahan usahatani kurang dari 0,5 ha. 2) Sedang: luas lahan usahatani 0,5 ha- 1 ha. 3) Tinggi: luas lahan usahatani lebih dari 1 ha.

Tabel 5 Definisi operasional karakterisktik individu petani (lanjutan) No Indikator variabel Definisi operasional Skala pengukuran Kategori 6. Tingkat kekosmopolitan Frekuensi petani untuk mencari informasi berusahatani ke luar lingkungannya

Ordinal 1) Rendah: Petani tidak pernah mencari informasi mengenai budidaya jeruk pamelo ke luar desa. 2) Sedang: Petani jarang mencari informasi mengenai budidaya jeruk pamelo ke luar desa. 3) Tinggi: petani sering mencari informasi mengenai budidaya jeruk pamelo ke luar desa.