• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Jaringan Komunikasi Kelompok Tani Rukun

Individu Diadik

6 KARAKTERISTIK INDIVIDU PETANI JERUK PAMELO

3. Analisis Jaringan Komunikasi Kelompok Tani Rukun

Kelompok Tani Rukun memiliki jumlah anggota sebanyak 74 orang, namun anggota yang aktif sebagai petani jeruk pamelo hanya sebanyak 16 orang. Anggota poktan tani rukun sebagian besar melakukan proses penanaman atau pembibitan dengan teknik cangkok. Namun, petani juga menerima bantuan bibit okulasi dari Dinas Pertanian untuk ditanam dilahan. Bantuan bibit jeruk pamelo didistribusikan melalui ketua poktan, yakni aktor nomor 39.

Ketua poktan akan langsung menghubungi anggota poktan yang membutuhkan bibit jeruk pamelo. Oleh karena itu, aktor nomor 39 berperan sebagai aktor sentral/star dalam jaringan. Namun, proses diskusi atau pertukaran informasi mengenai pembibitan jeruk pamelo jarang terjadi dalam pertemuan rutin poktan. Selain itu, aktor nomor 36 dirujuk oleh beberapa orang untuk berdiskusi mengenai pembibitan karena dikenal mahir dalam membudidayakan bibit jeruk pamelo secara cangkok. Gambar 22 menunjukkan struktur komunikasi yang terbentuk dalam diseminasi informasi mengenai penanaman/pembibitan jeruk pamelo.

Terdapat beberapa anggota poktan yang menjadi isolate dalam jaringan, yakni aktor nomor 40, 41, 44, 45, dan 50. Aktor-aktor tersebut tidak berkomunikasi atau berinteraksi mengenai penanaman jeruk pamelo dengan anggota Poktan Tani Rukun lainnya, karena membudidayakan sendiri bibit jeruk pamelo secara cangkok. Diskusi mengenai pembibitan bagi isolate dirasa tidak perlu, karena proses penanaman secara cangkok sejak dahulu sudah diyakini mampu mengahasilkan pohon jeruk pamelo yang berkualitas, dan tidak memerlukan pembaruan teknik pembibitan. Bentuk struktur jaringan komunikasi pada diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo tidak persis seperti kategorisasi menurut Devito (1997), namun jaringan yang terbentuk seperti perpaduan struktur roda dan rantai. Pada struktur roda, aktor nomor 39 sebagai pusat jaringan dalam mendiseminasikan informasi mengenai bantuan pembibitan secara okulasi. Sedangkan aktor nomor 36, 42, 46, dan 43 membentuk struktur rantai dalam mendiseminasikan informasi pembibitan jeruk pamelo secara cangkok.

Struktur jaringan pada kelompok tani rukun menurut Rogers dan Kincaid (1981) membentuk struktur radial personal network karena pola jaringan cenderung menyebar, dan integrasi antar anggota saat mendiskusikan penanaman jeruk pamelo tidak kuat, bahkan terdapat lima orang isolate yang tidak terlibat dalam proses komunikasi dalam jaringan.

Gambar 22 Analisis jaringan komunikasi Kelompok Tani Rukun dalam diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo

Pemeliharaan jeruk pamelo dianggap petani sebagai proses yang lebih kompleks dibandingkan proses penanaman/pembibitan, sehingga membutuhkan keterbaruan informasi mengenai pemupukan, pengairan, dan penanganan hama. Petani mendiskusikan mengenai pemeliharaan jeruk pamelo pada pertemuan rutin poktan yang difasilitasi oleh ketua poktan, yakni aktor nomor 39. Selain itu, karena rumah anggota berdekatan, diskusi sering terjadi saat di warung kopi milik salah satu anggota poktan atau saat di kebun. Struktur jaringan komunikasi yang terbentuk pada diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo adalah struktur semua saluran (pola bintang). Pada struktur semua saluran (bintang), semua aktor memiliki posisi yang sama, dan berpatisipasi aktif dalam diskusi/pertukaran informasi. Dapat terlihat pada Gambar 23, bahwa dua aktor yang menjadi pusat dalam jaringan sama dengan aktor sentral pada jaringan penanaman jeruk pamelo, yakni aktor nomor 36 dan 39.

Gambar 23 Analisis jaringan komunikasi Kelompok Tani Rukun dalam diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo

Struktur jaringan berdasarkan klasifikasi Rogers dan Kincaid (1981) membentuk struktur interlocking personal network, dimana struktur jaringan lebih terpusat, dan integrasi antar anggota lebih kuat karena setiap anggota berpatisipasi aktif dalam diskusi/proses komunikasi mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo.

Pada proses pemasaran, hampir seluruh petani anggota poktan tani rukun menjual hasil panennya kepada tengkulak. Diseminasi informasi mengenai pemasaran jeruk pamelo tidak berlangsung dalam pertemuan rutin poktan, diskusi mengenai pemasaran terjadi dalam pertemuan informal di warung kopi, kebun, atau salah satu rumah anggota poktan. Struktur jaringan komunikasi yang terbentuk seperti pola roda, dimana aktor nomor 36 dan 43 sebagai pusat atau aktor sentral dalam jaringan. Tidak seluruh anggota poktan berkomunikasi satu sama lain/berpatisipasi aktif dalam diskusi mengenai pemasaran jeruk pamelo.

Aktor nomor 36 merupakan petani berpengalaman sekaligus tengkulak besar yang membeli dan mendistribusikan hasil panen jeruk petani ke pedagang besar di Jakarta. Sebagian besar anggota poktan tani rukun memilih mencari informasi mengenai harga pasar, jenis jeruk pamelo yang diinginkan pasar, dan menawarkan hasil panen kepada aktor nomor 36. Hal ini karena harga beli jeruk cukup tinggi jika dibandingkan tengkulak lain, dan membayar hasil panen petani sesuai kesepakatan harga. Selain itu, anggota poktan tani rukun memilih berdiskusi dan memasarkan hasil panen melalui aktor nomor 36 karena sudah mengenal dekat (tempat tinggal berdekatan) dan terbangun kepercayaan (trust), sehingga hampir setiap panen tahunan mereka menjual kepada beliau.

Aktor nomor 43 sebelumnya merupakan tengkulak besar yang cukup dikenal di Desa Tambak Mas, namun skala usahanya menurun drastis sehingga saat ini hanya mendistribusikan hasil panen petani dalam skala kecil. Namun, sebagian petani tetap sering menjadikannya sebagai rujukan informasi mengenai pemasaran.

Gambar 24 Analisis jaringan komunikasi Kelompok Tani Rukun dalam diseminasi informasi pemasaran jeruk pamelo

Struktur jaringan dalam diseminasi informasi pemasaran menurut Rogers dan Kincaid (1981) membentuk pola interlocking personal network, karena

struktur jaringan cenderung memusat pada aktor sentral, integrasi dalam kelompok cukup kuat, dan latar belakang anggota cenderung homofili.

Densitas pada jaringan diseminasi informasi penanaman jeruk pamelo di Poktan Tani Rukun, yaitu sebesar 0,05. Nilai tersebut menunjukkan rendahnya kepadatan jaringan poktan dalam mendiseminasikan informasi mengenai penanaman jeruk pamelo. Struktur jaringan pada Gambar 21 menunjukkan interaksi yang umumnya berjalan satu arah, terpusat pada aktor nomor 39. Interaksi tersebut umumnya hanya terkait distribusi bantuan bibit jeruk pamelo kepada anggota yang membutuhkan. Terdapat lima petani anggota poktan yang menjadi isolate dalam jaringan.

Densitas pada jaringan diseminasi informasi pemeliharaan jeruk pamelo lebih tinggi, yaitu 0,129. Dapat terlihat pada Gambar 22 bahwa jaringan lebih membentuk struktur semua saluran (pola bintang), dimana hampir seluruh anggota aktif berinteraksi mengenai aspek pemeliharaan jeruk pamelo. Hal ini karena teknik pemeliharaan jeruk pamelo terus berkembang dari waktu ke waktu, jenis pupuk, pestisida, teknik pengairan, dapat berubah dan berkembang untuk menghasilkan produksi yang optimal.

Densitas pada jaringan diseminasi informasi pemasaran bernilai 0,104. Nilai tersebut tergolong rendah, namun relatif lebih tinggi dibandingkan densitas pemasaran pada poktan lainnya. Hal ini karena di Poktan Tani Rukun terdapat tiga orang tengkulak yang menjadi sumber informan mengenai informasi pemasaran sehingga struktur yang terbentuk memusat kepada aktor nomor 36, 38, dan 43.

4. Analisis Jaringan Komunikasi Kelompok Tani Gotong Royong