HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
3) Analisis karakteristik siswa
Analisis karakteristik siswa dilakukan melalui tahapan wawancara terhadap guru matematika kelas VII. Dari tahap ini diperoleh hasil bahwa karakteristik siswa kelas VII pada umumnya adalah secara kognitif masih berada pada tahap peralihan berpikir dari konkrit ke abstrak. Karakteristik siswa SMP kelas VII secara khusus, yaitu karakteristik siswa kelas VII B SMP N 16 Yogyakarta adalah memiliki tingkat kemampuan pemecahan masalah yang beragam dan sebagian siswa masih tergolong kurang aktif dalam mengembangkan pengetahuannya.
Melihat hasil analisis tersebut maka perlu dipilih pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa. Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik tersebut adalah pendekatan problem based learning. Sesuai dengan teori Richard I. Arends (2008: 70), bahwa pendekatan ini akan membantu siswa untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mandiri, serta melatih kemampuan pemecahan masalah siswa.
Dari analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan analisis karakteristik siswa mengindikasikan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran materi segiempat dengan pendekatan problem based learning yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP kelas VII memang perlu dilakukan.
b. Design
Pada tahap ini hal yang dilakukan peneliti adalah mengumpulkan referensi yang relevan dengan materi segiempat dan membuat rancangan perangkat pembelajaran materi segiempat dengan pendekatan problem based learning yang disesuaikan dengan aspek-aspek kemampuan pemecahan masalah. Hasil dari tahap ini diantaranya adalah:
1) Diperoleh referensi berupa 4 buku mata pelajaran matematika kelas VII SMP, diktat kuliah geometri bidang, dan gambar pendukung dari internet.
2) Diperoleh rancangan RPP dan LKS materi segiempat dengan pendekatan problem based learning.
Rancangan RPP dan LKS yang dibuat sebanyak 6 buah. RPP dibuat masing-masing untuk satu kali pertemuan. Alokasi waktu pada setiap RPP adalah 2JP, 1JP, 2JP, 2JP, 1JP, dan 2JP. Masing-masing RPP memuat materi persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium. Kegiatan inti pada RPP yang dikembangkan diwarnai dengan fase-fase problem based learning menurut Richard I. Arends (2008: 70). Kegiatan atau tahapan-tahapan pada RPP didukung oleh aktivitas-aktivitas dalam LKS yang dikembangkan. Rancangan LKS juga memuat materi materi persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium. Setiap kegiatan di LKS disesuaiakan dengan karakteristik problem based learning.
Dalam setiap kegiatan pembelajaran siswa bekerja dalam kelompok diskusi. Berdasarkan hasil analisis karakteristik siswa diketahui bahwa siswa memiliki kemampuan pemecahan masalah yang beragam. Ada siswa yang berkemampuan tinggi, rendah, dan sedang. Kegiatan diskusi memungkinkan untuk siswa dengan kemampuan beragam tersebut saling bertukar informasi dan ilmu pengetahuan, sehingga diharapkan semua siswa dapat memahami materi yang diajarkan dan dapat menerapkannya dalam pemecahan masalah.
Karakteristik dari pendekatan problem based learning adalah bahwa masalah merupakan starting point. Kegiatan awal dari pembelajaran adalah dengan menyajikan suatu permasalahan. Oleh karena itu, di setiap
LKS yang dikembangkan, yaitu dari LKS 1-LKS 6, aktivitas awal siswa adalah membaca, mencermati, dan memahami masalah awal yang disajikan, kemudian menyelesaikannnya. Masalah yang digunakan dalam LKS adalah masalah yang berkaitan dengan dunia nyata siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudarman, bahwa siswa akan tertarik untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan dunia nyata siswa (Sudarman, 2007: 9). Dengan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan dunianya, siswa akan merasa memperoleh manfaat langsung dari mempelajari materi yang diajarkan, dalam hal ini materi segiempat. Berdasarkan hasil analisis kurikulum, materi segiempat yang bersesuaian dengan kegiatan pemecahan masalah adalah materi keliling dan luas bangun segiempat. Oleh karena itu, ketika siswa menyelesaikan masalah keliling persegi panjang yang dikaitkan dengan jarak yang ditempuh seseorang ketika mengelilingi lapangan berbentuk persegi panjang dengan ukuran tertentu misalnya, siswa akan dapat membayangkan/merasakan manfaat mempelajari materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, sehingga siswa termotivasi untuk menyelesaikannya.
Karakteristik kedua dari problem based learning adalah mendukung kegiatan investigasi/penyelidikan. Oleh karena itu, dalam tahap design, peneliti merancang kegiatan LKS agar memuat kegiatan penyelidikan. Kegiatan ini dalam LKS termuat pada rubrik „Ayo Selidiki‟. Rubrik „Ayo Selidiki‟ mengajak dan mengarahkan siswa untuk dapat
menemukan/membangun sendiri konsep materi yang akan dipelajari melalui pengolahan informasi. Pada rubrik ini, siswa diberikan tugas- tugas dan pertanyaan yang mengarahkan siswa untuk menemukan konsep materi. Hal ini sebagaimana pendapat pendapat Steve Olusegun (2015, 66-70) dan Sardiman (2006: 37), bahwa belajar merukapan suatu kegiatan aktif dimana siswa menerima semua informasi yang diperoleh, kemudian mengolahnya, kemudian membangun sendiri pengetahuannya dan mencari makna dari pengetahuan tersebut.
Dengan terlibat aktif membangun pengetahuan sendiri, siswa akan menjadi pembelajar aktif, siswa akan tahu bagaimana cara belajar. Selain itu, siswa dapat merasakan kebermaknaan dari apa yang sedang mereka pelajari, sehingga materi tersebut akan tersimpan lebih lama dalam diri siswa.
Pembelajaran dengan problem based learning bersifat student centered. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan dalam LKS berpusat pada aktivitas siswa untuk menemukan konsep melalui kegiatan „Ayo Selidiki‟, menuliskan kesimpulan melalui kolom aktivitas „Aha, Sekarang Aku Tahu‟, dan melakukan kegiatan pemecahan masalah pada aktivitas „Ayo Berlatih‟. Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran.
Karakteristik lain dari problem based learning adalah adanya evaluasi dan review pengalaman siswa dalam belajar. Pada RPP, kegiatan ini dituliskan dalam kegiatan inti fase 5, sedangkan pada LKS, kegiatan
review dimunculkan pada rubrik „Aha, Sekarang Aku Tahu‟. Rubrik/kolom aktivitas tersebut disediakan untuk memberikan ruang kepada siswa untuk menuliskan kembali kesimpulan dari apa yang sudah mereka pelajari selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Kegiatan evaluasi pada LKS termuat pada rubrik „Ayo Berlatih‟. Kegiatan ini berfungsi untuk mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang sudah dipelajari. Rubrik „Ayo Berlatih‟ memuat kegiatan pemecahan masalah yang berkaitan dengan materi segiempat yang sedang dipelajari. Kegiatan ini juga berfungsi untuk melatih kemampuan pemecahan masalah siswa, sehingga diharapkan kemampuan pemecahan masalah siswa dapat meningkat.
c. Development
Pada tahap ini peneliti menyusun perangkat pembelajaran sesuai dengan yang dirancang pada tahap design, yang diantaranya adalah menyusun 6 RPP dan 6 LKS materi segiempat dengan pendekatan problem based learning. Setiap 1 RPP dan 1 LKS digunakan untuk satu kali pertemuan. RPP dan LKS masing-masing memuat materi persegi panjang, persegi, jajargenjang, belah ketupat, layang-layang, dan trapesium. Kegiatan inti pada tiap-tiap RPP memuat fase-fase problem based learning, sedangkan aktivitas-aktivitas pada LKS disesuaikan dengan karakteristik problem based learning. Setelah perangkat pembelajaran disusun, selanjutnya perangkat pembelajaran dikonsultasikan kepada dosen pembimbing hingga siap untuk divalidasi.
Validasi dilakukan oleh seorang dosen matematika UNY. Validator menilai RPP dan LKS yang dikembangkan melalui lembar penilaian RPP dan lembar penilaian LKS. RPP dinilai pada aspek identitas, rumusan indikator/tujuan pembelajaran, pemilihan materi, pemilihan pendekatan/model pembelajaran, kegiatan pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, pemilihan sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. Dari hasil penilaian validator diperoleh skor rata-rata RPP 4.38 dengan kriteria sangat baik. Berdasarkan hasil tersebut, RPP dinyatakan valid dan layak diimplementasikan. Meskipun skor rata-rata penilaian RPP menunjukkan kriteria sangat baik, ada salah satu aspek dalam RPP yang mendapatkan skor terendah dibandingkan skor penilaian pada aspek lainnya. Aspek pemilihan pendekatan/model pembelajaran hanya memperoleh skor rata-rata 4.00. Meskipun skor tersebut termasuk kategori baik, namun lebih rendah dibandingkan hasil penilaian pada aspek lainnya. Hal ini disebabkan karena kegiatan inti pada RPP belum secara jelas menuliskan fase-fase problem based learning. Mestinya, peneliti menuliskan secara jelas penerapan fase-fase tersebut, misalnya untuk fase pertama problem based learning yaitu memberikan orientasi tentang permasalahan kepada siswa, di RPP dituliskan „Siswa diminta untuk mencermati permasalahan yang berkaitan dengan konsep persegi panjang, yaitu pada LKS halaman 2 dan 9‟. Penulisan kegiatan yang dilakukan pada fase tertentu harus jelas, langsung merujuk pada masalah yang berkaitan dengan materi apa dan menyebutkan
pada LKS halaman berapa. Dengan demikian akan tampak jelas penerapan dari model/pendekatan yang dipilih.
Selain memberikan skor penilaian, validator juga memberikan komentar dan saran, baik secara lisan maupun tertulis. Beberapa saran yang diberikan validator untuk perbaikan RPP, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Penulisan indikator dan tujuan pembelajaran perlu diperbaiki
Indikator dan tujuan pembelajaran adalah dua hal yang berbeda. Indikator merupakan patokan atau ukuran kemampuan siswa yang dinilai untuk menentukan pencapaian siswa dalam belajar, sedangkan tujuan pembelajaran merupakan harapan yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Oleh karena itu, tidak dibenarkan menuliskan rumusan indikator dan tujuan pembelajaran dengan kalimat yang sama, misalnya, pada rumusan indikator dituliskan „Menggunakan konsep keliling persegi panjang dalam pemecahan masalah‟, kemudian pada tujuan pembelajaran hanya dituliskan „Siswa dapat menggunakan konsep keliling persegi panjang dalam pemecahan masalah‟. Penulisan tersebut kurang tepat, mestinya pada tujuan pembelajaran dituliskan „Setelah melaksanakan proses pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan dalam LKS segiempat dengan pendekatan problem based learning siswa dapat menggunakan konsep keliling persegi panjang dalam pemecahan masalah‟.
2) Definisi bangun segiempat seharusnya ditulis dengan bahasa yang sederhana.
3) Pada kunci jawaban instrumen sebaiknya dituliskan alternatif cara yang digunakan. Hal ini dimaksudkan agar guru dan siswa tidak terpaku pada satu cara saja dalam menyelesaikan masalah, karena tidak menutup kemungkinan suatu masalah dapat diselesaikan melalui berbagai cara. Selain itu, kemampuan siswa yang beragam memungkinkan adanya keberagaman penulisan langkah-langkah penyelesaian masalah.
4) Penulisan lambang sudut dan besar sudut perlu diperbaiki sesuai dengan kelaziman penulisan simbol atau lambang dalam matematika. Dalam perangkat pembelajaran yang dikembangkan, untuk menuliskan nama sudut dituliskan „ABC‟, sedangkan untuk menyatakan besar sudut dituliskan „mABC‟.
Selain memberikan penilaian pada RPP, validator juga memberikan penilaian pada LKS. Aspek-aspek yang dinilai pada LKS adalah kualitas materi, kesesuaian dengan syarat didaktik, kesesuaian dengan syarat konstruksi, kesesuaian dengan syarat teknis, kesesuaian dengan karakteristik problem based learning, dan kesesuaian dengan kemampuan pemecahan masalah. Dari penilaian validator diperoleh skor rata-rata LKS 4.32 dengan kriteria sangat baik. Dengan demikian, LKS yang dikembangkan dinyatakan valid dan layak untuk diimplementasikan.
Meskipun sudah dinyatakan valid dan skor penilaian menunjukkan kriteria sangat baik, masih ada beberapa bagian dalam LKS yang perlu diperbaiki. Aspek kesesuaian dengan syarat didaktik dan kesesuaian dengan kemampuan pemecahan masalah hanya memperoleh skor rata-rata 4.00. Skor
tersebut sudah menunjukkan kriteria baik, tetapi lebih rendah jika dibandingkan perolehan skor pada aspek lain.
Aspek didaktik berkaitan dengan asas-asas pembelajaran efektif yang diantaranya adalah LKS harus dapat memfasilitasi semua siswa dengan beragam kemampuan dan LKS harus menekankan pada proses penemuan konsep bukan pemberian informasi. Hal ini dipertegas dengan saran yang diberikan validator saat menilai LKS yang dikembangkan agar aktivitas dalam LKS ditambah dan masalah-masalah yang disajikan dibuat lebih beragam tingkat kesulitannya.
Beberapa saran lain yang diberikan validator diantaranya adalah:
1) Gambar dadu dan mainan rubik kubus tidak tepat untuk merepresentasikan persegi, sehingga sebaiknya gambar tersebut diganti. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan konsep pada siswa, karena gambar dadu dan rubik lebih cocok untuk merepresentasikan kubus. Dalam LKS yang dikembangkan, kedua gambar tersebut selanjutnya diganti dengan gambar papan catur dan kertas origami.
2) Warna kolom pada aktivitas-aktivitas di LKS sebaiknya dibedakan. Hal ini dimaksudkan agar siswa lebih mudah untuk mempelajari LKS, terutama pada kolom latihan, berguna untuk mempertegas mana soal dan mana jawaban.
3) Perlu memperhatikan penggunaan istilah yang lazim dalam matematika dan dalam kehidupan sehari-hari.
d. Implementation
Pada tahap ini, perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS materi segiempat dengan pendekatan problem based learning diimplementasikan di kelas VII B SMP N 16 Yogyakarta dengan jumlah siswa sebanyak 34 orang. Implementasi dilakukan sebanyak 6 pertemuan yang meliputi pretes untuk mengetahui kemampuan pemecahan masalah awal siswa, kegiatan pembelajaran dengan RPP dan LKS yang dikembangkan, dan posttest untuk mengukur kemampuan pemecahan masalah siswa setelah menggunakan perangkat pembelajaran. Selama implementasi, kegiatan pembelajaran diamati dan dinilai oleh observer untuk menentukan kepraktisan RPP yang digunakan. Di akhir kegiatan, peneliti memberikan angket respon siswa untuk mengetahui kepraktisan LKS.
Hasil pretest siswa menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa masih kurang, yaitu hanya diperoleh persentase rata-rata kemampuan pemecahan masalah sebesar 63.23%. Pada aspek memahami masalah diperoleh persentase rata-rata sebesar 93.38%, hal ini berarti siswa sudah memiliki kemampuan dalam memahami masalah, yaitu sudah mampu merumuskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. Namun, pada aspek melakukan pengecekan kembali hanya diperoleh persentase rata-rata 44.85%, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih enggan atau salah dalam melakukan pengecekan kembali. Aspek melakukan pengecekan kembali dalam penelitian ini diindikasikan dengan menuliskan kesimpulan akhir jawaban. Dari hasil yang diperoleh, ada beberapa siswa yang salah
dalam menuliskan kesimpulan, ada juga beberapa siswa yang tidak menuliskan kesimpulan.
Hasil posttest menunjukkan bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa meningkat dari hasil sebelumnya (pretest), yaitu sudah mencapai kriteria baik. Persentase rata-rata kemampuan siswa mencapai 79.12%. Hasil ini lebih baik dari pencapaian sebelumnya yang hanya mencapai 63.23% dan masuk kriteria kurang. Jika sebelumnya persentase rata-rata kemampuan siswa dalam memahami masalah mencapai 93.38%, pada hasil posttest kemampuan siswa dalam aspek ini meningkat menjadi 98.90%. Kemampuan memahami masalah merupakan kemampuan awal yang penting untuk dikuasai siswa agar dapat menyelesaikan masalah. Dengan mengetahui apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan, selanjutnya siswa dapat membuat rencana untuk menjawab atau menemukan solusi dari permasalahan tersebut. Selanjutnya, aspek merencanakan penyelesaian menjadi bagian penting dalam menentukan hasil atau solusi permasalahan. Dengan perencanaan yang tepat, maka kemungkinan untuk mendapatkan solusi yang tepat juga tinggi. Pada hasil posttest, kemampuan merencanakan penyelesaian masalah siswa mencapai 83.46%. Hasil ini menunjukkan peningkatan dari hasil sebelumnya yang hanya mencapai 66.91%. Tahap ini sering diabaikan oleh siswa. Seringkali siswa enggan menuliskan rencana penyelesaian yang bisa berupa menuliskan rumus, menuliskan model, membuat sketsa gambar, dll. Siswa hanya langsung melakukan perhitungan atau menuliskan jawaban saja. Secara sistematis tentu ini kurang tepat, meskipun jawaban yang dituliskan siswa
benar. Oleh karena itu, guru atau peneliti perlu mengingatkan siswa agar menuliskan langkah-langkah pemecahan masalah secara sistematis seperti yang sudah diajarkan, atau siswa dijelaskan bahwa setiap langkah yang ditulis memperoleh skor tersendiri, sehingga apabila ada langkah yang terlewat maka akan mengurangi perolehan skor.
Tahap selanjutnya adalah menyelesaikan masalah. Dari hasil posttest menunjukkan bahwa kemampuan siswa pada tahap ini juga meningkat, yaitu dari semula mencapai 47.79% menjadi 71.62%. Kesalahan yang paling sering dilakukan siswa pada tahap ini adalah siswa kurang teliti dalam perhitungan. Selain itu ada juga siswa yang lebih dulu melakukan kesalahan pada tahap perencanaan sehingga pada tahap ini siswa juga melakukan kesalahan.
Tahap akhir pada langkah pemecahan masalah adalah melakukan pengecekan kembali. Pada tahap sebelumnya, kemampuan siswa dalam melakukan pengecekan kembali mencapai persentase terendah dibandingkan pada tahap lain, yaitu hanya mencapai 44.85%. Namun pada hasil posttest, kemampuan ini meningkat menjadi 62.50%.
Selain menunjukkan peningkatan pada kemampuan pemecahan masalah, hasil pretest-posttest juga menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar siswa secara klasikal. Pada hasil pretest dipeoreh ketuntasan belajar klasikal 23.53% dengan kriteria kurang, sedangkan pada hasil posttest menunjukkan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 73.53% dengan kriteria baik. Karena terjadi peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal mencapai kriteria baik,
maka dapat dikatakan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif. Keefektifan perangkat pembelajaran selanjutnya akan dibahas pada poin kualitas perangkat pembelajaran.
Selain diperoleh data nilai pretest-posttet siswa, pada tahap implementasi peneliti juga mendapatkan data angket respon siswa dan data observasi keterlaksanaan pembelajaran. Angket respon siswa berisi penilaian siswa terhadap LKS segiempat dengan pendekatan problem based learning yang digunakan selama proses pembelajaran segiempat berlangsung. Dari perhitungan skor penilaian pada angket rsepon siswa diperoleh rata-rata penilaian sebesar 3.83 dengan kriteria baik. Aspek motivasi memperoleh skor tertinggi dibandingkan penilaian pada aspek lainnya, yaitu rata-rata 4.12. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa merasa LKS yang dikembangkan dapat membangkitkan minat siswa untuk belajar materi segiempat. Hal ini sesuai dengan manfaat dikembangkannya LKS menurut Depdiknas (2008: 123), yaitu dapat memotivasi siswa untuk belajar. Berdasarkan hasil tersebut, maka LKS yang dikembangkan dapat dikatakan memenuhi kualitas praktis. Aspek kepraktisan selanjutnya akan dibahas pada poin tentang kualitas perangkat pembelajaran.
Selain LKS, kriteria praktis juga diperoleh pada RPP yang dikembangkan. Hal ini terlihat dari hasil penilaian observer pada lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran yang menunjukkan persentase rata- rata keterlaksanaan pembelajaran mencapai 92.5% dengan kriteria sangat
baik. Persentase keterlaksanaan ini menunjukkan bahwa setiap tahapan pembelajaran dalam RPP dapat dilaksanakan dengan baik.
e. Evaluation
Tahap evaluasi dilakukan di setiap tahapan pengembangan, yaitu bertujuan agar perangkat pembelajaran yang dikembangkan sesuai harapan. Evaluasi akhir dilakukan setelah implementasi. Dari tahap implementasi diperoleh data nilai pretest-posttest siswa, lembar penilaian keterlaksanaan pembelajaran oleh observer, dan angket respon siswa. Setelah dilakukan analisis pada data pretest-posttest diperoleh hasil bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan efektif. Dari data nilai pembelajaran oleh observer dan angket respon siswa diperoleh hasil bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan praktis.
Meskipun demikian, pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran ditemui beberapa kendala,diantaranya adalah pelaksanaan beberapa kegiatan yang tidak sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan, fase ke-4 problem based learning, yaitu menyajikan dan mempresentasikan produk (hasil karya) tidak selalu dapat dilaksanakan dengan maksimal pada setiap pertemuan, beberapa lsiswa lupa untuk membawa busur dan penggaris. Oleh karena itu, guru/peneliti perlu perencanaan matang dalam mendesain pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, terutama kesesuaian antara kegiatan dan alokasi waktu, serta kedisiplinan dalam implementasinya di kelas. Di akhir pembelajaran, guru perlu mengingatkan siswa untuk mempersiapkan alat atau bahan yang diperlukan pada pertemuan berikutnya,
bila perlu guru menyediakan beberapa alat dan bahan yang diperlukan untuk mengantisipasi apabila ada siswa yang lupa, sehingga tidak mengganngu siswa lain dan tidak menimbulkan keributan di kelas.
Pada tahap ini peneliti menyempurnakan RPP dan LKS yang dikembangkan sesuai dengan saran atau kekurangan yang dirasakan pada saat implementasi perangkat pembelajaran, sehingga pada tahap ini, sudah diperoleh produk akhir pengembangan berupa “perangkat pembelajaran materi segiempat dengan pendekatan problem based learning untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas VII” yang valid, praktis, dan efektif sesuai yang diharapkan.
Dari hasil yang diperoleh pada setiap tahapan ADDIE di atas, maka dapat dikatakan bahwa pengembangan perangkat pembelajaran materi segiempat dengan pendekatan problem based learning melalui model pengembangan ADDIE dapat menghasilkan perangkat pembelajara yang valid, praktis, dan efektif. Hasil ini relevan dengan hasil penelitian Felisitas Sayekti Purnama Utami (2013) dan Rina Yuliana (2017) yang mengembangkan perangkat pembelajaran apada materi dan pendekatan yang berbeda melalui model pengembangan ADDIE juga dapat menghasilkan perangkat pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif.
2. Kualitas Perangkat Pembelajaran