HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
2. Kualitas Perangkat Pembelajaran a Kevalidan Perangkat Pembelajaran
Kevalidan RPP ditentukan oleh skor penilaian validator. RPP yang digunakan dalam penelitian ini telah dinilai oleh seorang validator, yaitu
dosen jurusan Pendidikan Matematika UNY. RPP yang dikembangkan sudah sesuai dengan prinsip-prinsip penyusunan RPP menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah (BSNP, 2007: 5). Berdasarkan pada hasil penilaian RPP yang menunjukkan skor rata-rata penilaian sebesar 4.38 dari skor rata-rata maksimum 5.00 dengan kriteria sangat baik. Hampir semua aspek penilaian pada RPP, yaitu aspek identitas, rumusan indikator/tujuan pembelajaran, pemilihan materi, kegiatan pembelajaran dengan pendekatan problem based learning, dan pemilihan sumber belajar memperoleh kriteria nilai sangat baik. Hanya pada aspek pemilihan pendekatan/ model pembelajaran saja yang memperoleh skor rata-rata 4.00. Skor ini sudah menunjukkan kriteria baik, hanya saja lebih rendah diabndingkan hasil penilaian pada aspek lain di RPP yang dikembangkan. Agar RPP lebih baik lagi, maka kegiatan-kegiatan di RPP disesuaiakan dengan karakteristik pendekatan yang digunakan.
LKS yang dikembangkan pada penelitian ini sudah sesuai dengan syarat- syarat penyusunan LKS yang baik sebagaimana dikatakan Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis (1991: 41-46), yaitu memenuhi syarat didaktik, syarat konstruksi, dan syarat teknis. Selain itu, kegiatan-kegiatan yang disajikan dalam LKS disesuaikan dengan karakteristik problem based learning. Hasil penilaian LKS oleh validator memperoleh skor rata-rata 4.32 dengan kriteria sangat baik. Namun, pada aspek kesesuaian dengan syarat didaktik hanya diperoleh skor rata-rata 4.00 dari skor maksimum 5.00. Hasil ini sudah menunjukkan kriteria baik, tetapi lebih rendah dibandingkan hasil penilaian
pada aspek lain. Oleh karena itu, pada aspek tersebut perlu diperbaiki agar LKS yang dikembangkan lebih baik lagi.
Perangkat pembelajaran berupa RPP dan LKS materi segiempat dengan pendekatan problem based learning keduanya mendapatkan kriteria penilaian sangat baik. Sebagaimana kriteria kualitas produk pengembangan yang disampaikan Nienke Nieveen (1999: 127), dapat dikatakan bahwa RPP dan LKS yang dikembangkan valid. Hal ini berarti pula bahwa RPP dan LKS yang dikembanngkan layak untuk diujicobakan dalam pembelajaran di sekolah.
Perangkat pembelajaran materi segiempat dengan pendekatan problem based learning yang dirancang khusus untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa SMP kelas VII yang dikembangkan valid karena penyusunannya mengacu pada prinsip-prinsip pengembangan RPP (BSNP, 2007: 5) dan pada setiap kegiatannya selaras dengan LKS yang dikembangkan berdasarkan syarat-syarat penyusunan LKS yang baik menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E. Kaligis (1991: 41-46). Selain itu, kegiatan pembelajaran dalam RPP maupun LKS disesuaikan dengan karakteristik problem based learning menurut Richard I. Arends (2008: 42) dan Savoie dan Hughes (Made Wena, 2011: 91-92, serta aspek-aspek kemampuan pemecahan masalah menurut George Polya (1985: 6-7). Aspek-aspek kemampuan pemecahan masalah tersebut meliputi aspek memahami masalah, merencanakan penyelesaian, menyelesaikan masalah sesuai rencana, dan mengecek kembali jawaban yang diperoleh. Aspek-aspek kemampuan
pemecahan masalah ini juga selaras dengan pendekatan problem based learning, karena seperti diketahui bahwa pendekatan problem based learning diwarnai dengan aktivitas pemecahan masalah. Oleh karena itu, perangkat pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik keduanya. b. Kepraktisan Perangkat Pembelajaran
Kepraktisan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini ditentukan oleh hasil keterlaksanaan pembelajaran untuk RPP dan hasil angket respon siswa untuk LKS. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan praktis. Hal ini berarti RPP dan LKS yang dikembangkan dapat diterapkan. Selain itu, respon siswa sebagai pengguna LKS baik.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa skor rata-rata penilaian LKS oleh siswa sebesar 3.83 dari skor maksimum 5.00 dengan kriteria baik. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa merasakan kemudahan dalam penggunaan LKS serta terbantu dalam memahami materi di LKS. Hal ini sangat mungkin terjadi karena penyusunan LKS sudah disesuaikan dengan karakteristik siswa SMP kelas VII yang rata-rata berusia 12-13 tahun. Menurut John Piaget dalam teori kognitifnya (Sugihartono, 2007: 108), siswa pabaru saja beralih dari tahap operasional konkret menuju tahap operasional formal. Dengan kata lain siswa sedang mengalami masa transisi dalam proses berpikir, yaitu dari konkret menuju abstrak. Pada masa ini siswa rentan mengalami kesulitan. Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan guru diperoleh keterangan bahwa siswa masih kesulitan dalam membuat model matematika untuk
menyelesaikan soal berbentuk uraian. Pada LKS yang dikembangkan, siswa diarahkan untuk bisa menyelesaikan masalah dengan menuliskan tahap-tahap pemecahan masalah secara sistematis, sehingga dengan begitu akan lebih mudah untuk menyelesaikannya. Hal ini tentu akan memudahkan siswa.
Pada hasil penilaian keterlaksanaan pembelajaran oleh observer menunjukkan persentase keterlaksanaan pembelajaran sebesar 92.5% dengan kriteria sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa setiap langkah atau kegiatan dalam RPP mudah untuk diterapkan, karena data menunjukkan keterlaksanaannya mencapai kriteria sangat baik.
c. Keefektifan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang dikembangkan dalam penilitian ini efektif. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pretest dan posttest siswa yang menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah, yaitu dari hasil pretest siswa diperoleh menunjukkan rata-rata persentase kemampuan pemecahan masalah sebesar 63.23% meningkat menjadi 79.12% pada hasil posttest-nya. Persentase ketuntasan belajar klasikal pada saat pretest hanya mencapai 23.53% dengan kriteria kurang meningkat pada hasil posttest yang menunjukkan persentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 73.53% dengan kriteria baik. Sebagaimana teori yang disampaikan Jan van den Akker (1999: 10) apabila adanya kesesuaian antara harapan atau tujuan yang diinginkan dengan hasil yang dicapai maka perangkat pembelajaran dikatakan efektif.
Keberhasilan siswa dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah tidak terlepas dari peran RPP sebagai arahan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran yang efektif dan peran LKS sebagai media belajar bagi siswa. Kegiatan pembelajaran pada RPP yang dikembangkan diwarnai dengan langkah-langkah pembelajaran problem based learning. Keunggulan problem based learning seperti yang disampaikan Wina Sanjaya (2009: 220-221), yaitu membantu siswa mentransfer pengetahuannya untuk memahami masalah dan menyelesaikannya. Hal ini sesuai dengan hasil yang ditunjukkan pada penelitian ini, yaitu bahwa kemampuan pemecahan masalah siswa meningkat. Hasil ini juga relevan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Lina Dwi Astuti yang mengatakan bahwa problem based learning efektif untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa.
Selain RPP, hal lain yang tentu saja mendukung tercapainya peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa adalah LKS yang digunakan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Sesuai dengan pendapat Depdiknas (2008: 42-45) bahwa LKS bermanfaat bagi siswa untuk membantu menemukan dan memahami suatu konsep serta menerapkan konsep tersebut dalam menyelesaikan masalah. Dari hasil analisis diketahui kemampuan pemecahan masalah siswa meningkat dan ketuntasan belajar siswa secara klasikal mencapai kriteria baik. Hasil ini menunjukkan bahwa memang penggunaan LKS dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajarnya.