• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Keberlanjutan

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 78-83)

Analisis keberlanjutan lanskap budaya Rumah Larik Limo Luhah dilakukan terhadap dua faktor yang mempengaruhinya, yaitu faktor internal (budaya dan adat istiadat masyarakat) dan faktor eksternal (pengaruh budaya asing dan kebijakan pemerintah). Kedua faktor tersebut dinilai dapat mempengaruhi keberlanjutan masyarakat adat, budaya dan wilayah adat.

4.11.1. Faktor Internal

Faktor internal yang terkait dengan keberlanjutan lanskap budaya Rumah Larik Limo Luhah salah satunya yaitu, adanya hukum dalam adat yang mengatur tentang hak warisan. Hak warisan adalah hak pusaka yang diturunkan dari nenek moyang kepada keturunannya (ahli waris). Hak warisan dalam masyarakat suku Kerinci ada empat macam, yaitu warisan gelar, warisan rumah, warisan tanah, dan warisan benda ringan. Warisan gelar berupa Depati maupun Ninik Mamak dapat jatuh kepada anak jantan atau anak batino. Gelar ini merupakan warisan budaya dari nenek moyang yang masih bertahan hingga sekarang. Warisan rumah atau pusaka rumah hanya diturunkan pada anak batino dan tidak boleh diperjual belikan. Misalnya, seseorang meninggalkan empat buah rumah, maka dua rumah diserahkan kepada anak batino dan dua rumah lagi boleh dibagi kepada anak jantan, akan tetapi anak batino tetap berhak atas semua rumah tersebut (Zakaria 1973). Hal ini menggambarkan bagaimana rumah dianggap sebagai sesuatu yang sangat berharga sehingga hak kepemilikannya bagi ahli waris diatur dalam adat yang berlaku dalam masyarakat.

Warisan tanah dapat berupa tanah kering (ladang) atau tanah basah (sawah). Warisan berupa ladang diturunkan kepada anak jantan dan anak batino secara adil. Sedangkan sawah, pewarisannya sama dengan hak waris terhadap rumah, yaitu diturunkan kepada anak batino. Sawah warisan ini tidak boleh dijual karena termasuk pusaka, kecuali dengan izin dari Depati dan Ninik Mamak. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa sawah dan ladang juga berfungsi sebagai lahan cadangan untuk mendirikan pemukiman baru. Selain itu, sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian. Warisan lainnya adalah warisan benda ringan, yaitu benda-benda yang dapat dibawa seperti hewan ternak, emas, pakaian, dan lain sebagainya. Warisan ini diturunkan kepada anak jantan, apabila tidak ada anak jantan maka semuanya jatuh pada anak batino (Zakaria 1973).

Selain masalah hak warisan di atas, faktor yang ikut mempengaruhi keberlanjutan lanskap budaya Rumah Larik ini adalah hubungan kekeluargaan dan kekerabatan yang masih dijunjung tinggi oleh semua golongan dalam masyarakat adat Limo Luhah. Pola pemukiman yang berluhah-luhah

memungkinkan masyarakat untuk lebih saling berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Sikap gotong royong masih dapat dilihat dalam kegiatan-kegiatan tertentu, baik yang bersifat kegiatan sosial maupun kegiatan adat. Namun, rasa kekeluargaan dan kebersamaan dalam masyarakat saat ini tidak seperti kehidupan masyarakat pada zaman dahulu yang masih sangat kuat.

Kegiatan-kegiatan adat dan tradisi budaya yang masih sering dilakukan hingga sekarang juga mendukung keberlanjutan dari budaya masyarakat sendiri. Tradisi-tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini antara lain, upacara adat perkawinan, upacara adat kematian, upacara kenduri sko, upacara naik haji, dan lain sebagainya. Sedangkan tradisi yang sudah tidak dilakukan lagi oleh masyarakat antara lain, upacara mendirikan rumah, kenduri setelah menuai padi,

tale, upacara turun mandi anak, dan tari Tauh11.

Suku Kerinci memiliki kemiripan dengan suku Minangkabau, yaitu suka merantau jauh dari daerah asalnya. Menurut Junus (1978, diacu dalam Rasyid 2008), keinginan untuk merantau ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama adalah keinginan mereka untuk mendapatkan kekayaan tanpa menggunakan tanah-tanah yang telah ada. Hal ini dihubungkan dengan keadaan bahwa seorang anak jantan tidak mempunyai hak menggunakan tanah warisan bagi kepentingan dirinya sendiri. Ia hanya dapat menggunakan tanah warisan itu untuk kepentingan keluarga matrilinielnya. Kedua, adalah perselisihan-perselisihan yang dapat menyebabkan orang merasa yang dikalahkan akan meninggalkan kampung dan keluarga untuk menetap di tempat lain. Keadaan ini kemudian ditambah dengan keadaan yang diciptakan oleh perkembangan yang berlaku pada masa akhir-akhir ini, seperti dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang Kerinci dapat dijumpai di beberapa daerah di Indonesia, mereka pada umumnya merantau untuk bekerja, sekolah, dan ada yang merantau karena ikatan perkawinan. Orang Kerinci yang merantau biasanya kembali pulang ke kampung halamannya apabila kehidupan ekonominya sudah menjadi lebih baik. Di kampung halamannya, mereka kembali membantu orang tua maupun saudara- saudaranya. Banyak masyarakat Kerinci yang bekerja menjadi TKI di Malaysia

11

dan membawa sesuatu yang baru seperti budaya luar masuk ke kampung halamannya.

4.11.2. Faktor Eksternal

Penetapan Sungai Penuh sebagai Kotamadya dan sekaligus memisahkan diri dari Kabupaten Kerinci berdasarkan UU No.25 Tahun 2008 yang disahkan oleh DPR-RI pada tanggal 21 Juli 2008 merupakan titik awal perubahan dan pembangunan Kota Sungai Penuh sebagai Daerah Otonomi Baru (DOB). Dalam kurun waktu 2 tahun mulai dari 2008 hingga 2010 Kota Sungai Penuh telah banyak mengalami perkembangan sehingga meraih prestasi sebagai DOB terbaik se-Indonesia. Perkembangan pesat terjadi di berbagai aspek, terutama pada aspek teknologi dan informasi. Arus globalisasi dan kemajuan teknologi tidak dapat dicegah sehingga budaya luar dapat dengan mudah masuk ke dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat Suku Kerinci pada khususnya sedang mengalami masa transisi dari masyarakat agraris tradisional yang penuh dengan nuansa spiritualistik menuju masyarakat industri modern yang materialistik. Hal ini menyebabkan masyarakat menjadi lebih konsumtif terhadap budaya-budaya luar yang dominan bersifat kebendaan. Semakin berkembangnya teknologi informasi seperti handphone dan internet semakin menjerumuskan para generasi muda dalam dunia modernisasi. Para generasi muda mulai tidak peduli lagi dengan adat dan budaya yang berlaku dalam kehidupan masyarakat tempat dimana mereka hidup. Padahal, para orang tua membutuhkan para pemuda untuk melanjutkan tradisi dan melestarikan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka dahulu.

Sebagai kota yang baru terbentuk, Sungai Penuh belum memiliki RTRW dan penyusunannya ditargetkan selesai pada tahun 2010. Pemerintah memiliki sasaran pembangunan yang meliputi peningkatan tata pemerintahan, sarana dan prasarana infrastruktur, sumber daya manusia, ekonomi , dan sumber daya alam serta pariwisata. Tatanan lanskap kawasan Rumah Larik Limo Luhah dan lingkungan di sekitarnya saat ini sudah sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 1940-an. Lingkungan di sekitar parit sudut empat yang dahulu terdiri dari ladang dan hutan, saat ini sudah berubah menjadi area

permukiman, pendidikan, dan komersil (Gambar 44). Selain itu, dalam larik tidak dapat ditemui lagi rumah-rumah yang saling terhubung satu dengan lainnya, setiap rumah telah memisah menjadi unit-unit tersendiri. Hal ini menggambarkan kondisi kehidupan sosial masyarakat yang dahulu kekerabatannya sangat erat, akan tetapi saat ini cenderung individualis. Banyak elemen-elemen lanskap yang sudah rusak dan hilang karena termakan usia seperti rumah larik, tabuh larangan, bilik padi, makam nenek moyang, dan sebagainya. jika kondisi ini terus dibiarkan tanpa ada usaha pelestarian, dikhawatirkan lanskap budaya Rumah Larik Limo

Luhah ini akan kehilangan karakternya.

Gambar 44. Perubahan Lanskap di Sekitar Kawasan Rumah Larik Limo Luhah Gambar Kiri (tahun 1940-an) dan Gambar Kanan (tahun 2010)

Pada bidang pariwisata, belum adanya kebijakan-kebijakan pemerintah yang bersifat melindungi warisan sejarah dan budaya Kerinci. Peningkatan pariwisata hanya difokuskan pada objek pemeliharaan objek wisata yang telah ada dan merencanakan objek wisata baru yang hanya memiliki nilai estetika untuk menarik pengunjung. Objek-objek seperti benda-benda bersejarah yang banyak tersebar di Kota Sungai Penuh dan berpotensi sebagai objek daya tarik wisata belum mendapatkan perhatian dari pemerintah. Selain itu, belum adanya peraturan tertulis yang melindungi benda-benda bersejarah seperti masjid keramat, tabuh

larangan, dan makam keramat yang merupakan Benda Cagar Budaya (BCB). Rumah-rumah Larik yang masih tradisional seperti yang terdapat di luhah Mangku Bumi dan Luhah Rio Jayo juga belum mendapatkan perhatian. Padahal rumah-rumah tersebut merupakan aset berharga yang perlu dilestarikan.

4.11.3. Analisis SWOT Terhadap Keberlanjutan Lanskap Budaya Rumah Larik Limo Luhah

Analisis SWOT adalah metode analisis yang paling dasar, analisis ini akan digunakan untuk melihat permasalahan dari empat aspek yang berbeda. Dari analisis faktor internal akan dirumuskan aspek kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses), sedangkan dari faktor eksternal akan dirumuskan aspek peluang (opportunity) dan ancaman (threats). Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:

4.11.3.1. Kekuatan (Strengths)

1. Masyarakat masih mempertahankan tradisi budaya yang ditinggalkan oleh nenek moyang mereka.

2. Masih berlakunya status tanah adat atau tanah ajun arah yang mengatur hak kepemilikan terhadap suatu lahan.

3. Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang masih kuat terjalin dalam masyarakat.

4. Masih terdapatnya beberapa elemen lanskap yang mengandung nilai sejarah dan budaya dalam kawasan Rumah Larik Limo Luhah.

5. Adanya keinginan dari masyarakat untuk melestarikan Rumah Larik sebagai rumah tradisional masyarakat Kerinci dan elemen-elemen pendukungnya.

4.11.3.2. Kelemahan (Weaknesses)

1. Banyaknya orang Kerinci yang merantau ke daerah lain dan membawa

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 78-83)

Dokumen terkait